<body>
-
Selasa, 19 Februari 2013 @2/19/2013 07:38:00 PM



Hari ini dalam perjalanan cari bahan-bahan buat keperluan TA, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, seekor kucing sedang mengalami sakaratul maut di pinggir jalan. Tubuh kucing itu kering kerontang, kurus tinggal tulang belulang, padahal kalau usianya bisa diperkirakan, mungkin dia baru berusia satu sampai lima tahun, yang kalau diibaratkan usia manusia, dia baru berusia remaja. Kucing itu memiliki 3 warna, hitam-putih-oranye dan belang-belang. Dia tergeletak tak berdaya di samping roda mobil belakang sebelah kanan, dan mobil itu parkir di jalanan sebelah kiri. Singkatnya, kucing itu menghadap ke jalan, tanpa di tutupi apapun.

Pada awalnya aku melihat segerombolan laki-laki tengah mengamen dengan menggunakan speaker dan bernyanyi seperti sedang karaoke, memakai blankon dan menyanyikan lagu dalam bahasa jawa. Di jalanan ABC hari ini tampak sangat ramai, makanya ketika mataku melihat ada seekor kucing tiduran di pinggir jalan, tepat di samping roda mobil dan menghadap ke jalanan, aku heran bukan kepalang. Maksudku, kucing jalan tidak menyukai manusia, mereka selalu menghindar apabila ada manusia yang dekat-dekat (atau memang berada dekat dengannya) atau mendekatinya. Dan melihat seekor kucing tidur di tempat sermai itu, tentu itu adalah hal yang aneh.

Tapi ketika Yello, motor beat kepunyaan J melaju sedikit, melewati si kucing, aku menyadari kalau kucing itu tengah sakaratul maut. Matanya tampak sayu, setengah terbuka, dengan nafas tak beraturan; pendek-pendek dan tampak sesak. Aku memekik pelan, menyadari bahwa mungkin malaikat Izrail tengah menghampiri si kucing, mengusap-ngusap bulunya penuh kasih sayang dan menjemputnya agar terbebas dari kelaparan. Tanganku refleks mencengkram jaket milik J, menariknya kencang dan meminta dia untuk berhenti sejenak. Kukatakan padanya "J! Ada kucing mau mati di dekat mobil barusan!" Namun sayang, prioritas dan waktu jauh lebih mendesak, lelaki berbadan tegap itu berkata pelan, "Dil, fokus, kita harus cari toko Diva sekarang".

Aku marah saat itu juga. J mungkin tidak menyukai kucing sebagaimana aku menyukai hewan berbulu itu. Tapi bayangkan kalau kucing itu ibarat seekor anjing sebagaimana hewan kesukaannya, dalam posisi itu? Apa dia akan secemas aku? Tapi aku tidak mau berdebat, aku hanya bisa menahan nafas, memaksa diri untuk mengiyakan ucapan J, meyakini bahwa itu memang benar, kita--atau tepatnya aku, sedang di buru waktu.

Sepanjang perjalanan tidak bisa dipungkiri kalau aku masih memikirkan si kucing, memikirkan bagaimana dia menghadapi maut sendirian, tidak seperti geboy atau mano atau hara, atau luna kecil, atau kucing-kucing peliharaanku lainnya yang kini beristirahat dengan damai di halaman belakang. Aku berharap, semoga ada manusia yang menyadari keadaan si kucing. Kalau kucing itu masih hidup, semoga dia di bawa ke dokter dan mendapat perawatan yang semestinya dia dapatkan, atau kalau malaikat Izrail sudah menggendongnya dan membawanya pergi, semoga ada yang mengubur tubuhnya dengan layak--tidak sekedar di buang di tempat sampah dan di biarkan membusuk.

Tapi sekelilingku, selain aku, tidak ada yang menyadari keadaan kucing itu, bahkan menyadari bahwa kucing itu berada di situ pun sepertinya tidak. Manusia memang makhluk yang kejam--begitu pun aku.

Kucing kecil, maafkan aku ya...

Label:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next