<body>
Moon and Sun
Sabtu, 26 Juli 2014 @7/26/2014 01:15:00 AM





---------- ★ ----------

@Firenationforum universe; Avatar: The Last Airbenders 
© Michael Dante DiMartino and Bryan Konietzko
Crescendo - Fire Nation RPF

---------- ★ ----------





You rise with the moon




Bulannya indah, Katara.”

Dari ekor matanya, Zuko tahu, gadis dari suku Air mengangguk dan sama-sama memandang bulan yang seolah menyapa lembut dua anak manusia di bumi. Baik Zuko mau pun Katara tidak ada yang berniat turun dari tempat duduknya—atap rumah keluarga Morishita seolah menjadi pengganti bantal duduk yang empuk hanya dalam satu malam. Sekali pun sebenarnya bagi Zuko mudah mengutarakan alasan kenapa dia masih duduk manis di atas atap: adalah karena dia bergantung pada Katara. Gadis itu yang membantunya untuk naik, berarti gadis itu pula yang nantinya membantu Zuko untuk turun.

Meski pun beberapa tahun silam, ketinggian seperti apa pun seolah bukan masalah bagi Zuko.

Hanya malam ini, Zuko takluk pada tinggi yang tidak seberapa.

Yeah, menenangkan.” Gadis itu menimpali ucapan Zuko dengan lembut. Sang raja api menarik nafas panjang, menenangkan hatinya karena entah kenapa suara Katara seolah seperti udara yang berdesir nyaman di gendang telinganya. Senyum terukir tipis di wajahnya yang kaku, sembunyi-sembunyi agar Katara tidak melihatnya. 

“Memang seperti itulah bulan, Katara, kalau kau menyadari.”

“Aku menyadari, Zuko,” Katara terkekeh pelan. “Ah iya. Apa kabar Mai?” pertanyaan sang pengendali air membuat Zuko terkejut, dia langsung menoleh menandang Katara yang masih menatap bulan.

Bola mata kuning—atau sebut saja emas—milik Zuko menatap Katara dengan seksama; memandangi paras gadis manis di sebelahnya. Zuko baru menyadari, Katara memiliki hidung yang sedikit mancung untuk ukuran sukunya—dibandingkan dengan Sokka—dan tulang pipinya tampak menonjol sedikit sehingga membuatnya terlihat agak tirus. Bibir Katara lebih mungil dan lebih pucat dari pada bibir merah Mai yang ranum.

Manis, adalah kesan Zuko untuk Katara.

Zuko tersenyum.

“Baik,” Zuko menggantungkan ucapannya, diam untuk beberapa lama. “Beberapa hari yang lalu saat mengunjungi paman Iroh di Ba Sing Se, kami sempat berjalan-jalan di taman kota—tak jauh dari kedai,” Zuko tidak melanjutkan apa-apa lagi, dan entah kenapa Katara seolah mengerti, sang Raja sedang tidak ingin membicarakan Mai. Namun hati gadis itu tergelitik, entah karena apa.

“Ada apa?” tanya Katara lembut.

“Tidak, tidak ada apa-apa, Katara.” Namun gadis itu bersikeras, kebiasaannya untuk perhatian pada semua orang mulai berlaku juga pada Zuko, dan Zuko hanya tersenyum tipis. “Kau sendiri bagaimana dengan Aang akhir-akhir ini? Masih oogies, kah?” dilihatnya Katara cemberut. “Kenapa cemberut? Kupikir kau tidak bermasalah dengan keluhan-keluhan Sokka selama ini, sweetie?”

I don’t know…” Katara mengangkat tangan kanannya, menggaruk belakang telinga kanannya sebentar, lalu perlahan menurunkan tangannya sembari memilin kecil ujung rambutnya yang bergelombang. “Semuanya tampak indah bagiku dan bagi Aang, Zuko, hanya saja belakangan ini aku merasa ada satu hal yang tidak akan pernah bisa aku pahami—maksudku, mungkin aku bisa memahaminya, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa membantunya.” Katara menunduk, tangannya masih sibuk memilin rambutnya sendiri. Tidak ada tanggapan dari Zuko, namun ketika Katara melirik, pemuda itu masih menatapnya dengan lembut, sorot matanya yang hangat mencerminkan kepeduliannya—dan entah kenapa, hati Katara terasa hangat.

“Aku hanya merasa iri dengan klub-fans-Aang,” Katara berucap pelan, suaranya bergetar. Dan entah atas dasar apa, Zuko kembali menggeser posisi duduknya, menghadap gadis pengendali air itu dan menyentuh tangan kirinya yang bebas. Perlahan dan dengan penuh kelembutan, Zuko mengusap-usap punggung tangan kiri Katara. Menenangkannya—dan itu berhasil. Katara menghela nafas. “Aang merasa seperti berada di rumah—Air Nomads—hanya karena mereka berpenampilan seperti para pengendali udara. Awalnya Aang tampak marah, namun sekarang, dia tampak senang,” Zuko mengamati Katara yang kini tampak ringkih, mata birunya terlihat sendu. “Apakah aku harus berpenampilan seperti itu agar aku bisa menjadi rumah bagi Aang?”

“Kurasa, Aang memerlukan sebuah rumah baru, Katara.”

Zuko menunduk, memandang tangan kiri Katara yang kini menggenggam erat tangannya. Senyum terpatri di wajah Zuko. “Bagi Aang, para klub fans itu bukanlah rumahnya yang sebenarnya. Dia hanya menjadi teringat tempat tinggalnya—dan itu tidaklah bagus karena dia akan teringat dengan kenangan masa lalu yang buruk,” Zuko menghela nafas, enggan mengucapkan kalimat ‘saat Negara api menyerang tempat tinggal Aang’, namun sepertinya Katara dapat mengerti. “Yang dibutuhkan oleh Aang, adalah sebuah rumah baru—masa depan, Katara. Dan kau tidak perlu berpenampilan seperti para fans kalau kau mau membuat masa depan baginya, membuat rumah untuknya. Percayalah.”

“Oh, Zuko!”

Katara secara spontan langsung memeluk Zuko dengan erat—membuat sang Raja terkejut bukan main. Zuko menahan nafasnya untuk beberapa saat, menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang tak karuan. Lalu perlahan dia menghela nafas, dan menikmati aroma khas Katara yang mulai menguasai pikirannya. Zuko membalas pelukan Katara dengan lembut; matanya terpejam.

Dan setelah beberapa lama, Katara menarik diri, wajahnya merona merah—seperti Zuko.

“Kuharap Mai juga bisa menjadi rumah baru untukmu, Zuko.”

Senyum pahit tergambar jelas di wajah Zuko. “Kuharap demikian.” Ucap pemuda itu dengan lemah. Katara mengernyit, kebingungan. Suara lembutnya kembali melontarkan pertanyaan, dan Zuko masih enggan menjawab. Namun Katara mendesak, memaksa Zuko untuk berucap jujur padanya sebagaimana Katara juga berbicara jujur perihal Aang pada Zuko. Akhirnya Zuko menyerah, ditatapnya Katara dengan lembut tepat di kedua matanya yang sebiru laut.

“Terlalu banyak kemiripan antara aku dan Mai, Katara. Aku seperti melihat sebuah cermin—melihat diriku yang lain. Sungguh, Mai adalah gadis paling cantik yang pernah kutemui, yang paling pengertian dan dapat memahamiku luar-dalam,” Zuko tersenyum pahit, namun mata kuning—emas—nya tetap memandang mata Katara. “Dan karena mirip, justru tidak ada tempat yang nyaman bagiku, serta untuk Mai sendiri. Tak jarang kami adu mulut, terlebih lagi hubungan kami yang tak semulus dulu—ya, well, dulu juga tidak mulus, tapi setidaknya dulu jauh lebih harmonis—dan suatu hari, Mai muak padaku. Pada rahasia-rahasiaku.”

Katara menahan nafasnya. Seperti dugaan Zuko, gadis itu bisa menebak kemana akhir kisahnya.

Namun mungkin hanya sebagian, karena Zuko masih menyimpan rahasianya yang lain.

Hatinya.

“Katara,” suara berat Zuko terdengar pelan dan sangat lembut. Kedua tangannya kini memegang tangan Katara dan secara tidak langsung menarik gadis itu untuk duduk berhadap-hadapan dengannya. “Rumah yang kubutuhkan adalah rumah yang kecil dan hangat—tak perlu besar untuk berbagi menyimpan rahasia denganku, tak perlu luas untuk bisa kujelajahi. Aku tak perlu semua itu, aku hanya perlu tempat untuk bernaung.” Genggaman Katara menguat, sedikitnya Zuko merasa telapak tangannya basah—entah siapa yang berkeringat.

“Dan kupikir… kupikir…” Zuko menatap Katara dengan lekat, lama, dan dalam. “Kaulah rumah yang pantas untuk menjadi tempatku bernaung, Katara.” Katara tidak berkomentar, namun matanya menyiratkan keterkejutan dan kebingungan yang kentara. Gadis itu menahan nafasnya, mungkin ia sedang menahan amarahnya.

“Kau mengatakan itu—tapi kau menyarankan jalan yang baik untuk hubunganku dan Aang?”

Zuko tersenyum. “Aku tidak memintamu untuk menjadi rumahku, Katara,” ucapnya telak, dan Katara membisu. “Aku hanya mengatakan—kaulah rumah yang pantas bagiku, namun aku tidak memintamu,” pemuda itu mengelus punggung tangan Katara dengan jemarinya, pelan dan lembut penuh kasih. “Bagiku, kau dan Aang adalah orang-orang yang paling berharga—Sokka, Toph, Appa, dan Momo juga—dan atas dasar apa aku mengganggu kebahagiaan kalian? Keegoisanku tidak sebanding dengan apa yang kalian berikan padaku, dan itu cukup ampuh untuk membuatku menahan diri. Akan tetapi, tak tahan rasanya melihatmu sendu, Katara.”

Gadis dihadapan Zuko menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah, entah malu, entah marah. “Katara,” Zuko menyebut namanya, namun sang gadis enggan mengangkat wajahnya lagi. Zuko tersenyum. “Berbahagialah, Katara,” tangan kanan Zuko terangkat, dengan lembut ia mengangkat dagu Katara dengan pelan, menginginkan gadis itu menatapnya—menginginkan Zuko melihat mata biru lautnya sekali lagi.

Bulannya indah, Katara.” Zuko berucap lagi. “Selalu indah.”

Katara tersenyum tipis mendengarnya.

Sedih.



—I rise with the sun.


Label: , , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next