Different things
Sabtu, 05 September 2015
@9/05/2015 02:51:00 PM
“Jadi, gue sama lo sekelas? Ampun deh.”
“Dan,
bangku lo sama bangku gue, sebelahan.” Aku menekankan kata
‘sebelahan’ dengan nada kesal dan malas. Seharusnya dunia tahu, kalau tidak
semua anak kembar selalu ingin ditakdirkan untuk bersama. Maksudku, hei,
bayangkan jadi aku! Di rumah ketemu Reja, di sekolah, dan sekarang
juga di bangku kuliah! Lebih dramatisir lagi—ya ampun, dari sekian
banyak kelas dan kursi, kenapa kita harus sebelahan, sih? Saat sekolah dulu,
kata Papa dan Mama, kami disekolahkan di sekolah yang sama agar mudah untuk
diawasi. Untungnya, saat itu kita tidak pernah sekelas apalagi sebangku.
Oh—hai,
aku belum memperkenalkan diri ya? Namaku Sena, lengkapnya Anantasena Atmajaya.
Usiaku baru tujuh belas tahun, dan aku memiliki saudara kembar—laki-laki—yang
super menyebalkan di dunia, Anantareja Atmajaya. Kami baru masuk universitas di
Bandung dan mengambil jurusan desain dan seni rupa. Baik aku mau pun Reja
sama-sama menyukai seni, bedanya Reja sudah memantapkan hati ingin masuk desain
komunikasi visual karena dia menyukai fotografi, sedangkan aku masih belum tahu
mau masuk jurusan mana—ya bisa dilihat nanti.
Setelah
melalui masa ospek, akhirnya tibalah hari perkuliahan kami dimulai. Angkatan
kami terdiri dari 220 orang, dan satu angkatan ini dibagi menjadi empat kelas
yang diurut berdasarkan angka ganjil atau genap dari nomor induk mahasiswa
(NIM). Aku dan Reja ditempatkan di kelas yang sama karena NIM kami sama-sama
berangka ganjil. Awalnya sih, oke-oke saja. Tapi begitu melihat kalau tempat
duduk kami di urut berdasarkan NIM juga—beginilah reaksi kami, saling mengumpat
dan menunjukkan rasa tidak suka secara terang-terangan. NIM-ku 95, dan NIM Reja
99.
Aku
sendiri tidak terlalu mengerti (dan sejujurnya juga tidak mau mengerti, sih)
bagaimana sistem penempatan meja di sini. Akan tetapi, kalau aku perhatikan,
NIM 1 berada di kelas 1, NIM 2 berada di kelas 2, NIM 3 berada di kelas 3, dan
NIM 4 berada di kelas 4. Lalu NIM 5 di kelas 1, NIM 6 di kelas 2, dan begitu
seterusnya sampai NIM terakhir. Oh entah itu benar atau tidak, yang pasti saat
ini aku benar-benar merasa kalau duduk sebelahan dengan Reja adalah mimpi
buruk.
Apa?
Kalian masih bertanya bagaimana cara menentukan tempat duduk dari NIM?
Coba
tanya saja pada rumput yang bergoyang.
Meski
sudah satu minggu menjalani masa perkuliahan, aku dan Reja masih enggan
menerima kenyataan kalau kami duduk bersebelahan. Sensi pribadi masing-masing
saja sih sebenarnya. Tapi terlepas dari itu, selama seminggu ini bagiku belum
ada yang berbeda dari masa-masa sekolah kemarin. Perbedaan yang paling mencolok
(selain tempat duduk kami) adalah tidak adanya seragam putih abu sejauh mata
memandang. Tidak ada lagi seragam—semuanya kini berpakaian bebas, warna-warni,
dan fashionable. Tidak mencolok, memang, tapi setidaknya perubahan
inilah yang paling terasa.
Kak Ali
pernah bercerita, selain terlepas dari atribut seragam selama masa perkuliahan,
jam-jam kuliah pun menjadi ciri khas khusus pembeda masa sekolah dan masa kuliah.
Jam perkuliahan terkenal lebih random ketimbang jam sekolah.
Kalau dulu, jam rutinmu dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 2 siang. Namun
sekarang, jam rutinmu bisa dimulai dari jam 9 pagi dan selesai di jam 12 siang,
lalu dilanjut jam 4 sore sampai jam 6 malam. Bahkan kadang-kadang, jam kuliahmu
juga tidak pasti karena dosen-dosen di kampus mana pun, entah mengapa memiliki
hobi yang sama—mengganti jam kuliah seenak jidat.
Omong-omong
soal dosen, kak Ali menegaskan padaku untuk tidak menyamakan dosen dengan guru.
Maksudnya, mereka sama-sama seorang guru yang mengajar murid-muridnya, tapi
yang dimaksud kak Ali adalah lebih ke sikap dan cara mereka mengajar. Satu
petuah dari kak Ali yang harus kuingat: dosen adalah makhluk Tuhan paling
misterius bin ajaib.
Kok bisa?
Dimulai
dari yang jam kuliahnya super disiplin tapi ada juga yang longgar banget. Ada
juga dosen yang bisa diajak ‘kerjasama’ soal absensi dan ada pula yang ketatnya
amit-amit. Bahkan perihal nilai pun bisa beragam. Ada dosen yang mudah
memberikan nilai A meski pun kita jarang masuk atau jarang mengumpulkan tugas,
ada pula yang menilai berdasarkan absen si mahasiswa penuh atau tidaknya, bukan
dari tugas (“hanya Tuhan dan dosen itu yang tahu alasan kenapa mahasiswa yang
sering bolos dan tidak pernah mengumpulkan tugas juga dapat nilai A” kata kak
Ali menegaskan). Dan jangan lupa, yang paling ditakuti dan dikutuk seantero
mahasiswa adalah dosen yang killer plus pelit nilai.
“Jelas
masa kuliah, dong! Pokoknya ya Na, kalau kebanyakan orang-orang bilang masa SMA
itu yang paling berkesan, menurut gue justru masa-masa sekolah enggak ada
apa-apanya sama masa kuliah!” aku mengingat ucapan kak Ali saat aku tanya
perihal lebih enak mana masa sekolah atau masa kuliah.
Lalu,
selama seminggu ini, sudah ada cerita apa? Aku menggeleng menjawab pertanyaanku
sendiri—belum ada cerita yang menarik, bahkan cenderung membosankan. Selama
satu minggu ini, buatku sama sekali tidak ada bedanya dengan masa SMA. Jam
kuliahku sama sekali tidak ajaib. Kuliah dimulai jam 9 pagi dan selesai jam 3
sore. Seperti jam sekolah dulu, hanya saja lebih siang sedikit.
Memang
sih, pelajaran-pelajaran berhitung yang membuat otakku ngebul seperti
matematika, fisika, kimia, atau pelajaran lainnya tidak akan pernah aku temui
lagi karena fakultasku tidak lagi berhubungan dengan itu (hei, memangnya rumus
apa yang kau gunakan saat menggambar binatang?!).
Dan
selama tahun pertama belajar, fakultasku memiliki kelas khusus atau yang
disebut studio untuk kami mempelajari lebih dalam apa itu seni dan desain. Jadi
selama setahun ke depan, tidak akan ada tuh dosen yang suka mengganti jadwal
seenaknya, atau lari-lari heboh dari satu kelas ke kelas yang lain karena
terlambat—tidak ada yang aneh, bahkan mata kuliah umum yang aku ambil pun
memiliki jadwal yang tetap.
Mungkin kau saja yang terlalu muluk, Sena. Ini baru satu
minggu!
Ya, ya,
ya. Mungkin memang aku yang terlalu muluk mengharapkan semua yang kak Ali
ceritakan langsung terjadi selama satu minggu. Lagi pula, duduk bersebelahan
dengan Reja di kelas setelah sekian lama terhitung
kejadian-paling-hebat-masa-kuliah juga, kok.
“Bangku
belakang lo, kosong?” pertanyaan Reja membuyarkan lamunanku seketika. Saudara
kembarku itu ternyata dari tadi sedang menghadap ke arahku, tapi pandangannya
tidak. Aku menoleh mengikuti tatapan Reja dan mendapati bangku di belakangku
ternyata memang kosong.
“Udah
seminggu ga masuk.”
“Menurut
lo, dia kemana?”
“Ealah
Ja, kepo banget sih jadi orang?!”
Reja
mengangkat bahunya sekilas. “Penasaran aja Na,” jawabnya malas. Aku mendengus
mendengar ucapannya. Sifat Reja yang paling bertolak belakang denganku adalah
rasa penasaran dia yang tinggi, sedangkan aku lebih cenderung cuek. Sebenarnya,
Reja itu hanya menunjukkan perhatiannya saja. Namun karena sering kali
berlebihan, kebanyakan orang menganggapnya terlalu ingin ikut campur—atau
istilah gaulnya sekarang ini adalah kepo.
“Belum
dateng aja kali.” kataku acuh tak acuh.
“Omong-omong
Na, lo belum cerita ke gue soal hukuman lo?” Reja bertanya dengan tampang
datar, sedangkan aku langsung meresponnya dengan melototi laki-laki berambut
acak-acakan itu dengan galak. “Eits—gue udah minta maaf loh, jangan galak gitu
dong!” sahut Reja buru-buru. Bagaimana bisa aku tidak marah sampai
sekarang kalau Reja meminta maaf padaku dengan derai tawa dan wajah tanpa dosa?
“Gara-gara
elo tuh, gue disuruh bersihin satu ruangan panitia! Parah banget tuh ruangan,
lebih ancur dari kapal pecah!” jawabku sewot dan Reja malah terbahak-bahak.
Kurang ajar, memang. “Untung cuma di suruh gitu doang.”
“Lo ga
dapat hukuman tambahan? Ga di suruh senior lain ngapain, gitu?”
Aku
menggeleng. “Waktu gue masuk ruangan, enggak ada siapa-siapa kok. Tapi gak
lama, segerombolan senior masuk ke ruangan dan gue cuma ditanya lagi ngapain
aja,” mendengar ceritaku, Reja melongo. “Mereka lagi asyik sama mainan
baru, Ja.” Aku membuat gerakan tanda kutip di kata ‘mainan baru’ dengan
menekuk-nekuk kedua jari telunjuk dan jari tengahku, memberi Reja sebuah
isyarat kalau tidak hanya aku yang dihukum saat itu. Mulut Reja membentuk
bulatan sempurna dan ber-O panjang.
“Terus
gue sempet jatuh gegara kepeleset pas mau keluar—“ Reja tertawa “—dan biasalah,
senior-senior itu ketawa-ketawa nyebelin gitu, kayak lo sekarang,” aku meremas
jari, mengutuk Reja yang masih tertawa tanpa dosa. “Tapi maba laki-laki itu
sempet-sempetnya nolongin gue, loh!” Kali ini, giliranku yang tertawa.
“Abis
itu ya lo bisa bayangin, senior-senior yang ada di ruangan itu langsung keluar
tanduknya—ya menurut lo aja gimana! Lagi marahin orang, eh orang yang
dimarahinnya malah nyelonong gitu aja cuek. Kan kesel.” Kataku “tapi sayangnya,
gue ga melihat kelanjutan nasib si maba itu, soalnya keburu diusir.”
“Yah,
buat apa lo tau juga soal itu. Bukan urusan lo juga, kan?”
Aku
tidak berkomentar apa-apa saat Reja berkata seperti itu. Ucapannya tentu saja
benar—itu bukan urusanku, buat apa aku tahu? Tapi setiap kali aku
mengingat-ngingat hari itu, ada semacam perasaan bersalah yang menyelimuti
hatiku. Hmm bukan perasaan bersalah sih, tapi semacam merasa berhutang budi
pada si ‘pahlawan’ itu. Apa mungkin karena aku tidak mengucapkan kata ‘terima
kasih’?
Selain
pakaian-pakaian yang fashionable, hal yang paling menarik dan
mencolok lainnya di kampus adalah rambut. Saat sekolah dulu, peraturan yang paling
utama untuk-tidak-di-langgar tapi juga hukuman yang paling top dilanggar selama
tiga tahun berturut-turut pastilah soal rambut. Rambutmu tidak boleh diwarnai,
tidak boleh mengenakan aksesoris yang mencolok mata, jangan terlalu pendek,
kalau panjang harus diikat biar tidak mengganggu yang lain, lalu untuk
laki-laki tidak boleh melebihi tengkuk leher dan menyentuh telinga, dan
sebagainya.
Tapi
sekarang? Banyak anak perempuan yang mulai bebas mewarnai
rambut mereka, apalagi trend fashion sekarang—yang didominasi
oleh artis-artis Korea—mulai berani bereksperimen dengan warna rambut. Mulai
dari merah, toska, hingga pink. Laki-laki pun tidak mau kalah karena kebanyakan
teman-teman baruku, termasuk Reja, juga mulai membiarkan rambutnya gondrong.
Aku?
Tidak, aku tidak terlalu suka mewarnai rambut.
Rambutku yang panjang dan hitam
sudah cukup bagus, kok. Memang sih tidak sebagus rambut-rambut model iklan
shampoo yang sering kali muncul di televisi, tapi toh tidak masalah buatku.
Namun jujur saja, sejak peraturan-rambut-masa-sekolah tidak lagi melekat, aku
suka memakai aksesoris-aksesoris rambut yang lucu-lucu—dan yaah dibandingkan
saat masih sekolah dulu, mungkin sekarang ini warna-warna yang aku pakai
sedikit mencolok.
Karena
matahari sedang galak dan cuaca mulai panas meski jarum jam masih menunjukkan
pukul setengah sembilan pagi, akhirnya aku memutuskan untuk mengikat rambutku
dan menguncirnya seperti ekor kuda. Dan karena masih terlalu pagi untuk masuk
kelas, aku memutuskan untuk mengisi waktu setengah jam ini dengan sarapan.
Untungnya, kelasku dekat dengan kantin jadi tak perlu tergesa-gesa kalau nanti
terlambat atau apa.
By the way. Meski sedari tadi aku
bercerita kalau masa kuliah itu menyenangkan, perlu dicatat kalau hal yang
paling menyebalkan dan paling fatal bagiku adalah uang jajan. Semua jajanan di
kampus itu tidak ada yang murah, semuanya mahal, dan artinya uang jajanmu mulai
terbatas.
Kalau
dulu saat sekolah, uang sepuluh ribu bisa aku gunakan untuk jajan makan berat
dan segelas minuman. Kalau sekarang? Bisa membeli makan beratnya saja sudah
bersyukur. Boro-boro cemilan, minuman pun enggak kebeli—malah
tak jarang, makanan seharga sepuluh ribu pun sebenarnya masih kurang.
Benar-benar harus pintar-pintar mengatur pengeluaran, deh!
“Maaf,
kalau ruangan seni rupa kelas tiga, dimana ya?”
Aku
hampir saja menjatuhkan gelas es teh manis yang baru saja dipesan ketika
seseorang muncul tiba-tiba dihadapanku, nafasnya terengah-engah seperti habis
berlari dari ujung gerbang depan sampai ke sini. Laki-laki berambut keriting
(atau bergelombang, ya?) dan sedikit gondrong itu mengingatkanku akan pemain
biola Indonesia yang terkenal—Iskandar Widjaja—kalau saja bajunya tidak kucel.
“Maaf, kalau ruangan seni rupa kelas tiga, di mana ya?” dia mengulang
pertanyaannya.
“Oh, di
gedung 12, lantai empat ruangan sebelah kiri,” tanganku menunjuk sebuah gedung
tak jauh dari tempatku duduk, barangkali lelaki itu tidak tahu gedung yang
dimaksud itu yang mana. Namun entah kenapa, mataku tak luput dari wajah
laki-laki itu—oke, selain karena ganteng, rasa-rasanya aku pernah melihatnya.
“Oh, terima
kasih!” laki-laki itu tersenyum penuh terima kasih dan berlalu begitu saja. Dia
tampak terburu-buru padahal kalau anak seni rupa kelas baru dimulai setengah
jam lagi—eh tunggu, apa tadi? Anak seni rupa? Apakah dia si anak
123?
Ingat
meja kosong yang ada di belakang mejaku? Yang beberapa hari lalu aku dan Reja
bicarakan? Kami menyebutnya dengan ‘si anak 123’ karena berdasarkan sistem
penempatan meja di kelasku (yang diurut berdasarkan NIM), meja kosong itu
bernomor 123. Tapi sebenarnya, bukan itu yang mengganggu pikiranku—sedikit
sih—melainkan wajahnya yang tampak familiar.
Dia maba
yang berani menolongku.
Buru-buru
kuhabiskan sarapanku dan langsung kuseret kakiku melangkah ke gedung 12. Aku
lupa-lupa-ingat sebenarnya, apakah dia maba yang menolongku atau bukan, tapi
setidaknya, harus dipastikan terlebih dahulu—aku belum sempat mengucapkan
terima kasih.
Dan
begitu sampai di depan kelas, kulihat ternyata benar kalau laki-laki
itu ‘si anak 123’. Dia tengah membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya
yang dilipat di atas meja, mengabaikan ruangan yang sudah mulai dipenuhi
mahasiswa lainnya, dann membiarkan rambutnya yang keriting terlihat semakin
acak-acakan.
Seolah
menyadari ada yang sedang menatapnya, laki-laki itu terbangun, menoleh ke arah
pintu, dan menatapku. Aku menunduk, menghindari tatapannya dan dengan canggung
melangkah ke mejaku. “Anak senirupa juga?” itu sapaan pertamanya sebagai teman
sekelas begitu aku duduk di depannya—di mejaku.
Lalu dia
tidak berbicara apa-apa lagi, dan aku bingung harus bagaimana menanggapinya.
Jadi aku hanya terdiam, menunggunya kembali berbicara. Namun ia tidak kunjung
bersuara, maka kuberanikan diri untuk berbalik. Si anak 123 itu ternyata masih
menatapku (atau punggungku) dengan dagu yang bertumpu pada tangan kanannya.
Seulas senyum ramah menyapaku.
“Kaki kamu
baik-baik aja, kan? Kayaknya waktu itu jatuhnya ampe bunyi gedebuk.”
“Oh,
iya, ga apa-apa kok,” jawabku pendek, lalu terkekeh sendiri, “Lo si
maba-pemberani-itu, toh? Pantesan rasanya pernah liat gitu,” lanjutku. Lawan
bicaraku tertawa renyah. “Ya, habisnya, lo berani aja gitu ngelawan senior…”
Dia
cengengesan. “Masa ada perempuan jatuh saya biarin, sih.”
Kali
ini, aku tidak bisa menahan tawa. “Omong-omong, makasih ya waktu itu,” dia
mengangguk sekilas dan tersenyum ramah. “Lo gak ikut ospek ya?” mencoba untuk
mencegah suasana canggung, aku mencoba membuka percakapan meski sedetik
kemudian, topik yang aku angkat sepertinya salah.
Tapi si anak 123 itu malah
tetap tersenyum ramah, seakan-akan itu bukan hal yang buruk.
“Males,”
dia tertawa. “Menurut saya sih, guna dari ospek dengan perkuliahan kita sekarang
ini, gak ada,” ucapnya santai. “Karena saya rasa, yang namanya ospek ini enggak
ada gunanya, ya ngapain ikut? Yang namanya dunia baru, atau kenalan baru, teman
baru—bahkan ibaratnya jumlahnya sekali pun, kan enggak ditentukan dengan
ospek.” Aku mengangguk memahami ucapannya.
“Ucapan
lo ada benarnya, sih, tapi pandangan orang tentang hal itu kan, berbeda-beda.
Gue juga merasa kegiatan itu enggak ada gunanya, tapi setelah dipikir-pikir ada
juga kok manfaatnya. Kalau bukan karena ospek, gue ga bakal ketemu sama lo!
Hahaha!” ucapku riang.
“Tapi
kan, ternyata kita teman sekelas?” jawabnya kalem.
“Oh iya,
kita belum kenalan. Nama saya Shena. Kamu?”
Pemuda
itu tersenyum ramah sambil menjabat tanganku. Dia menyebutkan namanya dengan
santai seolah-olah ekspresi bego di wajahku yang jelas-jelas terpampang
dihadapannya ini hanya sebuah topeng badut. Aku menganga lebar, dengan kedua
mata sedikit membulat karena kaget.
Label: Anantareja, Anantasena, Bratashena, Drabbles, Eshajori
Beggining
Rabu, 25 Maret 2015
@3/25/2015 03:24:00 PM
Sampai sekarang,
aku enggak pernah ngerti apa kegunaan dari sederet acara bertemakan Masa
Orientasi Siswa atau ospek. Berbeda dengan masa sekolah dulu, saat
perkenalan sekolah baru seperti ini, biasanya murid-murid baru akan diberikan
berbagai macam atribut yang membuatmu menyerupai badut dalam hitungan menit.
Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Contohnya?
Rambutmu harus rela dihiasi berbagai pita warna-warni dan setiap hari ikatan
rambutmu pasti bertambah. Bajumu akan ditambahi aksesoris yang aneh-aneh mulai
dari karung beras sebagai pengganti tas, serta sebuah papan besar bertuliskan
namamu yang dikalungkan ke leher dengan pita warna-warni pula. Lalu
kaus kaki sepak bola berbeda warna pun tak luput dari kakimu—dengan tambahan
tali sepatu yang akan diganti dengan pita berbeda warna. Setidaknya, selama
tiga hari kamu akan ditertawakan orang-orang sekitarmu bahkan tak jarang akan
ada yang iseng memanggil namamu karena papan nama sialan.
Itu saat
sekolah dulu. Bedanya apa dengan kuliah?
Kalau dari segi penampilan, setidaknya kini aku
tampak jauh lebih ‘normal’ dibandingkan saat aku baru masuk SMA. Enggak ada atribut aneh, malah sebaliknya, aku merasa lebih
bangga karena baju almamater kampusku terus aku pakai—yah sebenarnya karena
wajib juga, sih—meski beberapa ‘benda-aneh-wajib-di-bawa’ tetap ada. Dan
seperti yang sudah aku bilang diawal, sampai sekarang aku enggak pernah ngerti
apa kegunaan dari acara seperti ini.
Sejak
SMP lalu SMA, acara seperti ini layaknya acara ajang kemampuan. Maksudku,
kemampuan para senior—sejauh apa mereka bisa tegas (atau kalau aku katakan sih,
galak) pada junior mereka, sejauh apa
mereka bisa berlagak sok berkuasa, dan bisa jadi menjadikan acara itu sebagai
ajang cari jodoh. Selain itu, bukankah acara ini sia-sia? Memang ada hubungannya
apa dengan perkuliahan nanti? Apakah berpengaruh besar? Huh. Kalau
saja kegiatan ini tidak wajib bagi mahasiswa baru, mungkin sekarang aku sedang
berleha-leha di dalam rumah.
Tahan Sena, sebentar lagi semua ini selesai.
Hari ini
adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Kenapa? karena sebentar lagi semua acara
enggak jelas ini akan selesai. Yap, ini adalah hari terakhir
ospek—tapi tahu kah kamu kalau ternyata aku justru mendapatkan kesialan dihari
terakhir? Notes putih yang menjadi teman baikku selama ospek berlangsung alias
benda wajib yang hampir setiap hari aku bawa-bawa seperti dua sejoli, kini
terpisahkan.
Tsk, pastilah semua ini
karena si tolol Reja. Kakak kembarku yang rese itu semalam mengubrak-abrik isi
tasku untuk meminjam powerbank dan—berani taruhan, dia pasti
memasukkan barangku kembali dengan asal.
“Kenapa,
Na?” Rena, teman satu kelompokku berbisik ketika melihatku sibuk (sekaligus
panik) membongkar isi tas.
“Duh,
buku gue ga ke bawa!”
“Kayaknya
si Reja enggak masukin semua barang-barang gue Ren,” jawabku. Rena
tidak menanggapi lagi, tapi sesekali dia menyikutku pelan. “Apa sih Ren?
Sebentar gue masih mau nyari nih,” gerutuku tidak membuat Rena berhenti
menyikutku. Dan sebut saja kalau hari ini benar-benar hari sialku—karena begitu
aku menengadahkan kepala, wajah kak Andra tepat dihadapanku. Aku menganga.
“Nyari
apa kamu?” tanya kak Andra.
“E-eh,
saya mencari notes saya, kak…”
“Kamu ga
bawa notes?” Aku menggeleng panik. “Kamu tahu artinya apa?” aku menunduk, lalu
menggangguk pelan. “Siapa nama kamu?”
Dan
tanpa disuruh, aku sudah mengerti ketika kak Andra yang sedari tadi jongkok
dihadapanku kini berdiri, menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor, lalu
berlalu menjauhi kelompokku. Aku menghela nafas pasrah. Yah, sekali pun sudah
berhati-hati dari setiap kemungkinan mendapatkan hukuman, tetap saja ada
celahnya. Aku berdiri, melambaikan tangan dengan lesu ke arah Rena dan berjalan
pelan menyusul kak Andra.
Seperti
yang sudah digossipkan, kalau ada maba—mahasiswa baru, disingkat maba—yang
mendapatkan hukuman, biasanya akan langsung dibawa ke ruang panitia. Dan
tahukah kamu, kalau itu bisa diibaratkan kamu terjerumus ke dalam kandang
harimau. Kenapa? Ya karena semua senior berkumpul di situ.
Setiap
aku melangkah, aku merutuki Reja karena perbuatannya ini. Mulutku tak
henti-hentinya bergumam, mengumpat sepelan mungkin agar kak Andra tidak
mendengarnya. Senior di hadapanku ini sebenarnya baik, tetapi yang namanya
senior tetaplah senior apalagi di acara kayak begini.
Menurutku,
kak Andra satu-satunya senior yang bisa bersikap bijaksana. Dia selalu bertanya
alasan dari setiap kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh maba. Sungguh
berbeda dengan senior-senior lainnya yang langsung menyemprotmu dengan berbagai
nasihat mengatasnamakan ‘mahasiswa’ atau ‘sudah dewasa’ atau ‘kalian bukan anak
SMA lagi, kenapa kesalahan kayak gitu masih aja dilakuin, sih?’ dan lain-lain.
“Hukumanmu
adalah membersihkan ruangan panitia. Cukup dirapikan saja, sapu-sapu dikit juga
boleh, asal jangan ada yang hilang.”
“Hah?”
aku mendongkak kaget begitu mendengar kak Andra berbicara. Barusan aku sedang
melamun (dan sibuk mengutuk Reja dalam hati) sehingga aku tidak sadar kalau aku
sudah berada di ruang panitia. “Ma-maaf kak,” ucapku buru-buru. Kulirik ruangan
di balik punggung kak Andra dan menahan nafas beberapa detik. Apakah yang
namanya mahasiswa itu selalu identik dengan kata jorok?
Aku
sering mendengar tetanggaku—kak Ali—bercerita kalau mahasiswa adalah makhluk
Tuhan paling jorok yang pernah ada. Mulai dari jarang mandi berminggu-minggu,
rambut gimbal tak terurus (bahkan katanya, kau bisa menyembunyikan contekan
untuk ujian tanpa ketahuan pengawas!), bau, dekil, dan sebagainya. Kupikir,
saat itu kak Ali hanya bercanda dan melebih-lebihkan. Tapi kini aku benar-benar
membuktikannya sendiri.
Melihat
ekspresiku, kak Andra tertawa pelan. “Semangat, ya!” katanya sembari menepuk
pundakku sebagai isyarat bahwa hukumanku sudah dimulai. Aku melangkah gontai
memasuki ruangan, menjalankan hukumanku dengan malas-malasan, tetap dengan
mulut terus bergumam tanpa suara—mengutuk Reja si biang keladi.
Sambil
membereskan ruangan yang sudah seperti kapal pecah ini, kepalaku dipenuhi
ide-ide cerdas untuk membalas perbuatan Reja. Yah, bukan maksudku mau
menyalahkan Reja, tapi memang kalau bukan karena dia yang sudah mengubrak-abrik
isi tasku dan tidak bertanggung jawab dengan cara membereskannya, hukuman ini
tidak akan pernah terjadi. Hanya karena sebuah buku, aku harus mengurusi sejuta
barang tak jelas punya siapa.
“Eh?!
Siapa lo?!” aku terkejut dengan suara bentakan dari arah pintu. Begitu
berbalik, segerombolan orang-orang berbaju almamater dengan muka galak
tahu-tahu masuk dan laki-laki yang paling depan pastilah orang yang
membentakku. Hah! Terlalu sibuk mengumpat dan sibuk membereskan barang-barang,
aku tidak sadar kapan mereka masuk dan tahu-tahu saja ruangan panitia jadi
penuh sesak begini.
“Saya
sedang menjalankan hukuman dari kak Andra, kak,” jawabku takut-takut.
“Si
Andra nyuruh lo ngapain?”
“Membersihkan
ruangan panitia, kak.”
Laki-laki
yang barusan membentakku sepertinya tidak percaya, tapi dia tidak berkata
apa-apa. “Ya udah, lanjutin sana,” katanya sambil lalu. Aku mengangguk dan
buru-buru melanjutkan hukumanku lagi. Tapi aku sempat melihat ditengah-tengah
gerombolan panitia itu, ada satu anak laki-laki berpakaian anak SMA—pastilah
dia juga maba sepertiku, namun tidak dengan atribut norak.
Jangan Sena, itu bukan urusanmu.
Tapi,
ada satu hal yang menggelitik pikiranku—kenapa para senior itu cuek padaku, ya?
Sepenglihatanku, kalau ada yang di hukum, sekali pun sudah mendapat hukuman
dari senior, pasti senior yang lain ikut-ikutan memberi hukuman tambahan. Ya
mungkin mereka saja yang emang lagi apes dan aku sedang beruntung. “Jadi
menurut lo, ini enggak penting?!” Oke. Sepertinya aku sudah
mendapatkan jawabannya kenapa mereka tidak terlalu peduli padaku.
Anak
laki-laki itu jauh lebih bermasalah.
Sena, jangan ikut campur.
Tidak!
Suara mereka saja yang terlalu keras!
Selesaikan saja hukumanmu dan cepat pergi dari sini!
Tapi
mungkin memang hari ini sang dewi keberuntungan benar-benar sedang tidak
berpihak padaku. Begitu aku menyelesaikan tugasku dan hendak berbalik untuk
keluar dari ruangan ini, aku tersandung. Bunyi nyaring gedubrak membuat
empat kepala senior dan satu kepala maba sukses menoleh ke arahku, diiringi
derai tawa memenuhi satu ruangan. Ampun deh, ini bukan sekedar sudah jatuh
ketiban tangga, tapi ketiban godzila!!
“Makanya!
Jalan tuh, pake mata!” kata salah satu senior perempuan dengan nada super rese.
“Woi! Gimana sih jadi senior, tunjukin dong kalau lo tuh pinter! Jalan tuh
pake kaki, bukan pake mata!” seorang senior lain
menyahut ucapan senior perempuan itu. Entah kenapa, aku merasa posisiku
sekarang miris sekali, antara ingin tertawa tapi juga sedang super malu karena
jatuh—mungkin akan lebih baik kalau aku buru-buru pergi dari sini.
Tapi
ketika hendak berdiri, aku melihat tangan besar terulur dihadapanku.
Aku
menganga lebar, menatap tak percaya.
Maba
laki-laki itu sempat-sempatnya menolongku.
Label: Anantareja, Anantasena, Bratashena, Drabbles, Eshajori