<body>
Butuh hiburan? Yuk mari.
Minggu, 04 Maret 2012 @3/04/2012 11:02:00 PM




Clara Eustacia Eileithya.
fanart.





Post ini adalah fanart Clara di IH yaitu Clara's Art yang sebenernya gue pernah ngepost ini di tumblr sebagai back-up, tapi sayangnya koneksi gue gak memungkinkan buat buka tumblr, dan gue lagi ada tugas komik yang gue butuh inspirasi dari komik-komik Clara. Terus baca-baca lagi, ketawa-ketawa lagi, aduh nostalgia banget, apalagi bagian komik =)) =)) well, gak perlu banyak bacot deh ya, pokoknya ini gambar gue dulu :


fanart Clara Eileithyia (merah) sama Caeli Camelopardalis (kanan)








© to Y!M and Plurk for RC dadakan =)) dan juga para PM yang bersangkutan, maaf seenak jidat pasang gambar ini. Oke,sekian dulu post hari ini >DDD *gapaigapaifeelkomik*

Label: , ,



Hello, Collins.
Sabtu, 11 Februari 2012 @2/11/2012 02:17:00 AM




June 1997; 11:36.






"Nah, ada rekomendasi teh yang enak, Tuan-tanpa-nama?" Clara mengulangi pertanyaannya, masih tersenyum dengan tangan kanan sibuk menjadi penyangga dagu supaya bisa memandang pria berparas Asia dihadapannya itu yang sekarang baru saja duduk dihadapannya. "Clara tidak harus terus-terusan memanggil dengan sapaan "anda" setiap kali, kan? Kecuali kalau memang Anda mau seperti itu," dia terkikik kecil, rasa-rasanya aneh juga menggunakan bahasa formal seperti ini. Mungkin yang namanya dewasa itu begini ya?

"Kau tidak mau aku traktir?—tidak apa, aku yang bilang akan mentraktir, kan?" jawab pria dihadapannya dengan santai. Clara hanya tersenyum, mengedikkan bahunya sekilas, dan mengangguk mengiyakan permintaannya. Terserah saja sih sebenarnya, toh Clara tidak mendapatkan kerugian atau bahkan keuntungan apa pun. Tapi sejurus kemudian, lelaki itu tertawa; membuat alis Eileithyia muda ini mengernyit. "Kok tertawa?" tanyanya spontan.

Jawaban pertama yang Clara dapat hanya gelengan kepala dan lengkung bibir yang membentuk senyum sempurna dari lelaki di hadapannya itu, membuat tanda tanya besar tergambar jelas di benak gadis berusia delapan belas tahun ini secara nyata. Namun setelahnya, lelaki berparas Asia itu kemudian menatapnya, memandangnya dengan ekspresi antara geli bercampur kasihan. "Kau polos." komentarnya datar, "Sudahlah, pokoknya aku yang traktir—kau sudah pernah mencoba minum ocha? Di sini terhitung enak loh."

Clara mengangguk-ngangguk dan menunduk untuk kembali memandang deretan menu di tangannya.  Sebenarnya dia tidak mengerti apa itu ocha, dan malahan untuk nama-nama teh saja Clara tidak tahu sama sekali. Dia hanya tahu minuman teh itu seperti apa, sedangkan jenisnya gadis Cornwall ini lebih baik angkat tangan. Mungkin, ocha itu sejenis teh yang kaya akan manfaatnya, makanya tuan-tanpa-nama dihadapannya itu berani merekomendasikan minuman itu padanya. "Namaku Collins—Astericott Collins. Kau sendiri, siapa namamu gadis-penyuka-hujan?" Pria itu menyebutkan namanya dengan embel-embel yang sama seperti Clara barusan. 

Tertegun lama. Collins ya.

"Gadis penyuka hujan ini bernama Clara, tuan Collins—dan hanya Clara." tersenyum kecil, Clara menunduk membaca menu lagi, sekedar untuk menghindari tatapan Collins. Antara ingin menyebut Camelopardalis sebagai marga sementaranya selama peperangan Hogwarts tapi Clara tidak mau, atau ingin menyebut marga aslinya tetapi dia tidak bisa. "Nah, kau belum menjawab pertanyaanku barusan, kalau udah dewasa itu, senang-senangnya kayak apa sih?"





Disclaimer :
  • Hogwarts beserta penghuninya hak mutlak milik JK. Rowling
  • Indohogwarts sebagai sarana penyalur ide untuk tempat bernaung Clara, mutlak milik Staff IndoHogwarts.
  • Clara Eileithyia karakter original Hogwarts mutlak milik saya.
  • Astericott R. Collins  karakter original Hogwarts mutlak milik Miru.
  • Dan beberapa chara yang di sebut punya PMnya masing-masing.
Sepatah kata : hanya iseng melanjutkan thread  katakan aku oke! di IH : | drabbles tentunya. Lelelelel~

Label: , , ,



Testimonial : Indohogwarts
Sabtu, 03 Desember 2011 @12/03/2011 02:17:00 AM



"Stand up for your final choice! Now the time of fate has come!
Fly away beyond the clouds!
Will you still be in your dreams?" 

New World - Larc en ciel    



Sebagai penghargaan dan rasa terima kasih karena Clara udah lulus, gue mau ngisi testi. #apahubungannya.

Apa ya? Epilog dulu deh ya biar afdol dan—well guys, gue ngomong ini as PM bukan as Clara, jadi kalau bahasanya agak gahoel dikit dengan ber-gue-eloh dan enggak ada polos-polosnya sama sekali, maklum aja ya #krik. Nah, kalau ngeliat dari tanggal regis akun ini (dan mengingat salah satu karakter `percobaan` gue) berarti gue udah nemplok di IH itu sekitar... setahun lebih? Dikit sih lebihnya, tapi tetep aja lebih. Hahahah—yah, epilognya ngalor ngidul tapi ya udah lah ya. Hmmm ini testimonial gue yang pertama jadi gue mau nulis secara lengkap dan terperinci.  

Sedikit peringatan : gue adalah tipe orang yang daya ingatnya enggak panjang (enggak tau kenapa #curhat) jadi kalau sering kali ada kata "enggak tau kapan" atau "sekitaran itu" maklumin aja ya Well, dan semua yang gue tulis ini no offense loh guys : ]

  • Potter's World 

Jelas, pertama kali sebelum memulai semuanya gue mau ngucapin makasih banget buat JKR atas segala macam dunia Hogwartsnya. Imajinasi lo emang oke pisan. Makasih buat dunia sihir-nya yang udah ga bisa gue agung-agungkan atau apalah itu namanya lagi karena semua kalimat WAH udah ga bisa gue lontarin saking WAH-nya, mulai dari nama yang unik, mantra yang oke, sihir yang memukau, dan cerita yang luar biasa. #lebay #bodoamat. 

Nah, sekarang gue mulai dari mana yak? 

Kenal Harry Potter itu—enggak tau kapan tepatnya, entah SD atau SMP yang pasti gue tau HP bukunya dulu alias belum saat keluar film-nya sama sekali. Yang gue inget sih waktu itu kakak gue yang kedua bawa-bawa buku HP ke satu sama ke dua gitu, sambil cengar-cengir sama bilang ke gue kalau 'ini buku tuh keren banget!' dan dudulala dudulala lainnya. Reaksi gue? Karena gue masih kecil jelas gue cuma komentar 'Hah' dengan suara tinggi dan mimik muka minta di gerus meski ujung-ujungnya gue baca juga.

Komentar gue? "Wah, gambar di cover-nya keren ya." #krik. 

Tapi gue justru makasih buat yang nge-ilus itu cover buku, kalau covernya ga keren mungkin gue ga bakal baca. Dan akhirnya yaaa gue baca tuh dua buku dengan wajah datar, dan penuh pertanyaan ke kakak gue. Wajar, namanya juga anak kecil masih enggak ngerti sama cerita-cerita apalagi bukunya setebel dosa. Untungnya gue punya kakak yang sabar jadi waktu itu gue ngerti-ngerti dikit. Dan begitu Movie-nya muncul baru deh komentar gue berubah dari yang asalnya ke cover jadi "Oh." 

Iya, sebatas 'Oh'. 

Kenapa cuma oh? Yah sebenernya sih ya, gue ini enggak fanatik amat, bahkan kalau emang harus ada rasa tertarik, gue akui gue lebih suka sama Draco Malfoy—HAHAHAHAAH—ketimbang ketiga tokoh utamanya. Di tambah lagi, sejak film ke tiga muncul dan Prof. Albus Dumbledore pemerannya ganti (karena meninggal huhuhu) komentar gue langsung berubah jadi 'Yaah' dan berlanjut deh jadi kecewa ditambah lagi karena film-nya begini, ga sesuai sama apa yang gue baca dan bayangin, pemerannya kenapa aktingnya begitu, atau ini atau itu dudulala dudulala. Karena kecewa jadinya gue lebih serius baca buku-bukunya aja meski tetep gue ikutin film-nya karena nemenin kakak gue. #eh. 

  • Hello IndoHogwarts!! 

Gue lupa di majalah apa gitu waktu gue SMA kelas tiga ada artikel tentang komunitas Harry Potter Indonesia (bukan forum secara net-world, tapi forum secara real-world alias di kota mana gitu lupa) yang ngejelasin kalau di situ tempatnya orang pecinta HP ngumpul-ngumpul, ngobrol, dan sebagainya. Di artikel itu juga di tulis kalau komunitas HP itu juga bikin barang-barang kecil-kecilan yang di jual beli baik via online atau via mulut ke mulut. Lagi-lagi, kalau bukan karena kakak gue, gue ga bakal tau tuh komunitas (bahkan beli majalahnya aja enggak). 

Nah, karena jaman-jaman SMA gue baru tau apa yang namanya internet (udik ya? Ah bodo amat) iseng tuh gue tuju link yang di tulis di majalah itu tapi dapetnya malah search via google. Entah karena gue yang terlalu udik karena baru nemu internet, atau karena gue emang gaptek, link yang ada di google gue jepret satu-satu ampe ber-tab-tab sampe akhirnya gue nemu Indohogwarts. Dan tab IH adalah tab yang paling menyita perhatian gue.

Katanya, yang namanya anak SMA adalah masa dimana segala sesuatu yang baru pasti ingin di coba, entah atas dasar penasaran atau labil atau lebay, gue ga peduli itu bener apa kagak, tapi yang jelas sekarang ini gue mau meng-iya-kan kalimat barusan bahwa 'kalau dulu gue enggak penasaran, gak bakal gue stalk IH'

Hei kalian makhluk seperjuangan gue di kampus, kaget? Muahahahah #PEDEJAYA.  Karena penasaran, gue baca tuh semua tetek-bengek IH kayak apaan, mulai dari rules, IGBHI, dan lain-lainnya. Terus gue coba regis (waktu itu gue ga tau kalau opreg-nya cuma berapa bulan sekali) tapi karena enggak bisa dan enggak bisa melulu, gue jadi males dan gue gak pernah nengok-nengok IH lagi saat itu plus karena gue kelas tiga SMA mau UN saat itu jadi ya gue cuekin.

Tapi percaya ga lo kalau dunia itu sempit? Gue enggak, yang gue percaya adalah 

Kita terlalu gaul, makanya kita bisa tau dan kenal banyak hal.

Seriously, gue ga percaya kalau dunia itu sempit—ya kali mas kalau dunia sempit gue mau nyebrang ke London atau ke Jepang sekalian idup di sana. Back to topic: begitu gue masuk kuliah, gue ketemu banyak orang yang... wah, ternyata mereka anak RP. Gak perlu gue sebutin satu-satu yang jelas gue cuma bisa ber-wah dan terus wah. Begonya lagi gue ga ngeh kalau IH itu IndoHogwarts.

Singkat cerita, pas bulan February tanggal 14 tahun 2010 sahabat-sahabat gue di kost-sebelah-sana *wave* seru banget ngomongin kalau ntar IH mau opreg. Gue sih cuma adem anyem aja karena waktu itu gue ga tertarik—bohong ding, sebenernya gue tertarik, tapi dikit—dan gue cuma manggut-manggut aja sambil jadi pendengar yang baik dan ber-hmmm ria saat mereka bilang kalau IH itu repp-an udah tingkat dewa.

Tapi ternyata, salah satu sahabat gue seolah-olah bisa baca pikiran gue.

Dia nawarin gue buat main IH dengan tetek bengek dia yang regisin, dia yang nyari visu, dia yang bikin plot, dan dudulala dudulala lainnya. Sayangnya karena gue anak baik yang ga mau nyusahin—CUH—jadi gue tolak tawarannya. Selain ga mau nyusahin, gue juga masih takut-takut gitu RP di IH mendengar segala macam komentar dari sahabat gue yang lain. Tapi lagi-lagi ini anak ngerti apa yang ada di pikiran gue atau apa, dia malah nawarin gue buat `latihan` dulu atau bahasa kasarnya 'udah lu main di forum yang ini aja dulu baru kalau udah kuat mental ke IH lagian lu pasti suka sama ini forum' jadilah gue nyebrang ke lapak sebelah.

Meski sebenernya gue regis IH atas nama Zeny G. Kiryl bareng sama temen gue yang regis atas nama Subagio Adhiyatmaraja. Tapi ternyata kata sahabat gue ada benernya, gue ga kuat sama IH waktu itu. Ajegile gue masih bau kencur udah terjun ke IH mau jadi apaan—pake kejer post segala, di kira gue 24/7 diem di depan komputer apa?! Jadi gue delete tuh Zen terus gue beneran latihan dulu di forum sebelah ampe ketagihan bener-bener ketagihan #eh =)) dan begitu gue ngerasa udah cukup bekal, gue regis deh di IH lagi—ditambah pas gue regis buat kedua kalinya, Haley Bennett belum ada yang pake <3 <3

Gue regis atas nama Cora Llewellyn yang lagi-lagi hasutan sahabat gue (selain ngajak gue, dia ngebawa satu temen lagi yang dulu PM asli-nya akun Caeli Camelopardalis sebelum di re-regis : Aubrianna J. ArundelGod, I really miss this part a lot!!!). Pas regis juga seru, rame-rame ngelawak, saling ngata-ngatain sama Cora (yang di panggil Miss Cora Cora Ninja -___- ) terus main bareng-bareng deh berempat (sama canna). Tapi karena waktu itu PM nya Aubrie juga Subang berangsur-angsur mulai gak pernah main lagi, gue juga ikut-ikutan ga main.

Pending deh, lama.

  • Hei Ho, Connections!!

Waktu gue pake Cora, gue bener-bener obsesi setengah mati sama Slytherin. Begitu dia berhasil masuk Slyth, gue girangnya udah kayak girangnya giring nidji, seneng. Tapi gak tahan lama sih soalnya setiap kali gue mau main Cora (waktu itu ada event miss Slytherin gitu deh kalau ga salah) gue gak bisa repp apa-apa—alias WB mampus. Jadi itulah alasan kenapa gue pending Cora super lama.

Dan komen gue adalah : Gila, kenapa ini orang bisa asyik banget main di IH.

Tapi lagi-lagi, entah semua sahabat-sahabat gue bisa baca pikiran gue, atau emang muka gue yang emang nunjukin kayak begitu, Canna ngajak gue buat nge-regis Cora. Dia bilang dia sekarang yang pegang akun Aubrie soalnya dia suka visunya terus gue iya-iya aja karena dalam hati gue juga mau main IH lagi. Then, kita ngeplot deh jadi temenan deket, side-kick, harus banget ravenclaw, temen dari kecil, lahir dimana, kayak apa, lalalala. 

Awalnya, Canna ngira gue bakal bikin Cora kedua tapi—TADAA!!! Hello Clara!!!

Oktober 2010; gue inget banget ide alasan gue bikin karakter kayak Clara adalah kayaknya lucu. Simpel ya? Hahahaha enggak tau. Pengen aja. Dan beda sama Cora yang bertolak belakang, gue enjoy banget sama Clara. Nyasar ke sana kesini, masuk thread sana sini, pasang muka cengos, dialog sepanjang rel kereta, polos, bego, pokoknya reaksi anak kecil 11 tahun tuh bener-bener nampak banget di Clara dan yeah, i love you Clara!!

Saking banyaknya thread Clara yang gue masukin, gue ga bisa jabarin nama-nama yang udah pernah main sama Clara, but gue harus ngucapin makasih buat kalian yang udah main sama Clara soalnya kalau bukan karena kalian, term pertama gue di IH ga mungkin langsung dapet BC dan ga pernah dapet surcin dan setelahnya, gue regis lagi deh atas nama Darrell K. Ervanthe.

Terus, sekalian gue juga mau ngucapin makasih dan I LOVE YOU, A LOT buat Liana M. Champagne, Eveline Q. Willanders, Lunna Winters—gila gue kangeeen banget sama kalian, maaf ya gue jarang banget main. Terus buat Caeli Camelopardalis, Shoichi L. Wayland, juga Nicholas C. King buat RC dan Rancauan ga jelasnya baik di plurk, Y!M, atau twitter sampe-sampe gue bisa bikin doujin di Clara's Art, God, thank you!! (Terutama buat Sho alias BATMAN alias mijuh, makasih udah bikin gue galau =))) terus buat Cheryl A. Candle juga Argentum Mond Athenios udah mau jadi kakak Clara, love you :"> dan buat para MUSHROOM RANGER JUGA!!! MUAHAHAHA #digiling semua yang udah main sama Clara, sekali lagi gue ucapin makasih, makasih, makasih, dan makasih.

Aduh kenapa pas bagian ini gue nangis v v—Hingga pada akhirnya, begitu Clara kelas tiga, semuanya ga bisa lagi gue pegang baik di sini mau pun di sana. Hello real-world, nice to meet you, again.

  • Indohogwarts, for me

Terserah deh ya kalau gue di bilang copas tapi seperti apa yang di atas dan di atas dan di page-page sebelumnya bilang, buat gue IH itu tempat gue belajar nulis—anjir bahasa dewa-nya itu loh nambah diksi, kata, ungkapan, kalimat, dan segala macem yang baru buat gue tanpa harus buka KBBI yang tebelnya udah kayak apaan tau—HAHAHAHA.

IH juga selain tempat bermain sambil belajar, juga menyelam sambil minum air (?) alias gue nemu banyak kenalan baru di sini—hai hai semua—baik yang udah sesepuh, atau yang masih baru-baru kayak gue.

Gue ga bakal komentar kalau IH berubah atau apa—perubahan itu perlu, entah dalam hal yang baik atau justru buruk—yang jelas, gue tetep asyik asyik aja buka IH, baca satu-satu PM yang masuk entah-dari-jaman-kapan-udah-jamuran, terus jadi silent-reader di FF (hihihihi #plak) dan mungkin karena kegiatan gue di Clara cuma nge-stalk kayak gini, wajar kali ya kalau dia ga punya pair—HAHAHAHAH#ditendang—but over all, gue suka IH, gue suka Clara, gue suka member-membernya, gue suka cerita-ceritanya, gue suka uhukgossipnyauhuk semuanya.

Akhir kata, gue mau ucapin makasih banyak buat IH, buat semuanya dari A sampe Z. 


oOo


HAHAHAHAHAHANJIR ini panjangnya kebangetan =)) #dibuang. Enggak tau deh dari kapan ini gue nulis yang jelas GUE PUAS!!! Nyahahahaha. Panjang ya? Maaf ya abis gimana lagi, kebablasan. Seru juga nulis beginian kalau lagi galau (?). Hmmm udah ah. Akhir kata Good luck ya staff, ntar gue pasti regis lagi kalau nemu visu yang bagus dan kalau ada waktu (meratapi tugas akhir, uas, dan uts menanti).


Yuk ah mari.

Salam cantik, ganteng, imut, dan gaul.



 —Kodel.

Label: , , ,



The last fairytale
Kamis, 08 September 2011 @9/08/2011 01:44:00 AM



Disclaimer :
  • Hogwarts beserta penghuninya punya JK. Rowling dan segenap Staff IH.
  • Clara Eileithyia punya @deeladiladhila
  • Shoichi L. Wayland punya @bluerning
  • Yuji M. Wayland punya @mafiajahe
  • Lagu dari Richard Marx – Right Here Waiting buat sesi galaunya.
  • Beberapa fanfiction yang ga bisa di sebutin satu-satu, makasih karena udah jadi referensi.
  • Dan beberapa chara yang disebut punya PMnya masing-masing.
Timeline : Winter, 1996-1997. Last year.


Cuma fanfic biasa, setelah hampir empat jam galau mau post apa enggak. Terima kasih buat segala kritik dan sarannya, terima kasih karena menjadi pembaca, dan terima kasih karena kalian memaklum bahwa saya masih seorang newbie. :]







“Wherever you go, whatever you do, I will be right here waiting for you.
Whatever it takes or how my heart breaks,
I will be right here waiting for you”




 Richard Marx – Right Here Waiting











Faktanya, bagi Clara, Shoichi Leonard Wayland akan tetap menjadi Batman, dan adiknya, Yuji Myron Wayland, akan menjadi Robin Hood. Sedangkan dia, Clara Eustacia Eileithya akan menjadi Catwoman. Iya, Catwoman, bukan Andromeda, bukan Dawn, bahkan dia bukan Wonder Woman, apalagi superheroine lainnya. Clara juga bukan tokoh manis dari fairytale karena semua tokoh yang ada di dongeng-dongeng klasik itu sama sekali tidak masuk dalam list, tidak sesuai dengan sifatnya. Dia Catwoman, cukup Catwoman.

Dan akan selalu begitu, selalu seperti itu.

Karena Clara tahu, Catwoman sama sekali bukan pilihan Batman.


— o —



"Mana marshmallow milikku?" Clara menoleh sambil menghentikan pena bulu ditangannya yang sedari tadi lincah menyusun kata-kata di atas kertas essay ramuannya, menguraikan beberapa formulasi dengan sederet angka sebagai perhitungannya, menuliskan resep demi resep yang di pinta sang professor. Tapi kemudian tangannya berhenti, mengalihkan fokusnya pada sosok laki-laki berparas Asia yang tiba-tiba datang dihadapannya. Clara menganga, tidak menjawab apa-apa. Si gadis pun memutuskan untuk menunggu pertanyaan selanjutnya dari si lelaki selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan bahwa mungkin telah terjadi sedikit kesalahan pada telinganya, kesalahan pada sistem inderanya, karena si lelaki bermarga Wayland itu sama sekali tidak melanjutkan kata-katanya. Dan Clara memutuskan untuk kembali melanjutkan tugasnya, berkutat pada tumpukkan essay yang nyaris seperti neraka.

"Kau tuli, Eileithyia?" Marganya disebut, dan artinya Clara tidak tuli sama sekali.

Menengadahkan kepalanya sekali lagi, memandang sosok Shoichi Wayland dengan kedua mata hitamnya, Clara hanya memasang wajah polos tidak mengerti. Iya. Dia memang tidak mengerti ucapan lelaki gagak itu, tidak mengerti kenapa Sho bertanya tentang marshmallow padanya. Mungkin, lelaki itu hanya menjahilinya seperti biasa, mengajaknya beradu mulut.

"Apa?" tanya gadis berambut kecoklatan ini dengan sangat kalem sambil memandang Sho. Alisnya terangkat, merelakan pandangannya teralihkan dari tugasnya sejenak dan berujar setenang mungkin: sesuatu yang sama sekali bukan Clara Eileithyia. Diperhatikannya Sho berdecak malas, menyibukkan diri dengan menggaruk-garukkan kepalanya yang Clara yakin, tidak gatal sama sekali, hanya untuk menghilangkan kegugupannya, atau kecewa, atau apa hingga pada akhirnya dia tidak menjawab, lagi. Dan Clara kembali menulis di saat Sho bergerak duduk di salah satu kursi dihadapannya, memandang ke arah luar jendela ruangan rekreasi asrama dan seolah tak terjadi apa-apa.

Meski sedetik kemudian, tangan Clara berhenti bergerak; menatap ke arah Sho yang masih sibuk memandang ke luar jendela, memperhatikan awan tipis yang bergerak perlahan di angkasa—di tengah musim dingin. Clara mendesah pelan.

"Sok rajin." Sho bersuara secara tiba-tiba tanpa menoleh.

"Lebih baik pura-pura rajin dari pada tidak mengerjakan sama sekali, Batman." Clara mengangkat wajahnya, memandang Sho sambil menjulurkan lidah sebelum akhirnya kembali pada essaynya. Namun pada akhirnya keduanya kembali terdiam, Sho kembali menikmati pemandangan di luar sana, memperhatikan awan-awan yang bergerak. Sedangkan Clara kembali melakukan aktifitasnya—bukan pada tugasnya, tapi aktifitasnya yang lain: merasakan detik demi detik yang berlangsung sangat lama, merasakan waktu seakan enggan berlalu dengan cepat, seakan ada sesuatu hal yang berharga untuk dilewatkan. "Kau curang, kau menyebalkan."

Sho menoleh, mengerenyit bingung. Sedangkan Clara hanya mendesah pelan, memandang Wayland dengan tatapan teduh—sesuatu hal yang belum pernah dia tunjukkan pada lelaki pembela kebenaran itu, sesuatu yang membuat Sho tersentak bingung. "Apa?" dia mengulang pertanyaan yang sama dengan Clara, dan Clara hanya menggeleng pelan sebagai isyarat untuk mengabaikannya, mengabaikan fakta bahwa dia sudah mengibarkan bendera putih. Ya. Bendera putih telah dia kibarkan, tetapi harap di catat bahwa bendera putih ini bukan dikibarkannya untuk yang pertama kali.

"Kau ngomong apa sih?"

Clara mengangkat lagi wajahnya dan memandang Sho lama.

Baginya, meski pun telat menyadari, Clara masih merasa bahwa pemuda dihadapannya itu masih tampan seperti biasa, apalagi sekarang usianya tujuh belas tahun. Meski pun tubuhnya terhitung pendek jika dibandingkan anak lelaki lain di sekolah, Clara tidak peduli, toh itu pun karena karena dia berdarah Asia, dan hal itu sama sekali tidak menghalangi dirinya untuk berdebar kencang saat Sho memarahinya, menjahilinya, atau saat-saat bersamanya, atau bahkan saat bersama dengan Robin Hood. Rambut hitamnya jatuh menutupi sedikit dahinya dan terlihat sangat halus untuk ukuran seorang lelaki. Ia juga memiliki senyum tertahan yang bisa menyebabkan histeria yang lebih gila lagi, membuat dirinya, atau bahkan gadis lain menahan nafas sampai mati.

Sebagai nilai tambahan, menurut Clara pribadi, pemuda itu pastilah cocok mengenakan pakaian apa saja.

Sejak mereka kelas lima, Clara sering kali mendengar murid-murid perempuan berseru histeris dibelakangnya, entah itu teman seangkatan, adik kelas, atau senior sekali pun dengan harapan mereka dapat menyapa lelaki itu—minimal berharap dia menoleh pada mereka. Anna, Lunlun, dan Caeli pun berpendapat demikian meski saat itu Clara merasa mereka cukup gila karena menyukai Wayland, menyukai lelaki brengsek yang tidak mengerti perempuan. Tapi itu dulu. Dulu saat Clara tidak tahu betapa Shoichi Wayland terlihat menarik. Siapa yang bisa menyangka bahwa secara perlahan, usia remaja mengharuskan dirinya untuk menemukan seorang pangeran dalam dunia nyata, secara perlahan menyadarkan si kecil Eileithyia bahwa dia harus melupakan keajaiban Fairytale.

Menyadarkan bahwa bertepuk sebelah tangan tidak pernah ada dalam mitologi dongeng.

Dan dia sungguh kesal.

"Kalau ngomong jangan setengah-setengah," Sho berujar kalem, "Aneh sekali, kemana seorang Eileithyia yang cerewet luar biasa? Mulutmu rapat karena diolesi perekat super?" lelaki itu mengatainya seperti biasa, dan Clara hanya manyun. "Kalau ada masalah, cerita. Jangan di pendam sendirian." sahutnya bijak meski untuk Clara, ucapan itu seperti dialog pembuka pada sebuah pidato yang berujung wacana yang membuat gadis Ravenclaw ini hanya bergumam pelan menanggapinya, nyaris berbisik. "Clara selalu bertanya-tanya, kenapa Batman harus menjadi laki-laki yang tidak punya hati?" Pemuda itu menaikkan sebelah alis, kemudian menopangkan dagu dengan sebelah tangan, menatap Clara lekat-lekat. "Karena?" tanya Sho.

Clara melengos kesal, "Semuanya, Wayland."

"Jangan main tebak-tebakan. Kenapa tidak langsung saja sih kau jelaskan padaku?"

Clara memicingkan matanya. Sebal. "Karena kau sama-sama tujuh belas tahun, tapi kau menyebalkan."


— o —



Faktanya adalah, mereka tidak pernah berkenalan secara resmi. Mereka kenal hanya dari sebungkus marshmallow di tengah musim dingin di ruang rekreasi. Bahkan, percaya atau tidak, mereka tidak pernah bersalaman secara langsung untuk berkenalan, atau sekedar menanyakan nama masing-masing dari mulut orang lain pun tidak.

Mereka hanya mengandalkan memori otak saat pemilihan asrama di Aula Besar.

Saat keduanya sama-sama menjadi penghuni asrama Ravenclaw.


— o —



"Kalau suka, kenapa tidak kau utarakan saja?"

Clara menggeleng, menunduk dalam-dalam dan memeluk kedua tiang penyangga. Lelaki singa disebelahnya hanya bisa duduk menemani, sesekali menepuk-nepuk pucuk kepala neechan-nya atau kakak perempuannya itu. Yuji menemani Clara di sore hari, di atas jembatan yang menjadi tempat paling favorit untuknya kalau sedang ada masalah. Iya. Jembatan. Disinilah tempatnya yang paling nyaman untuknya, tempat dimana setiap dia sedih dia akan ke sini, duduk-duduk lama di pinggir jembatan seperti orang nyaris hendak bunuh diri. Tempat dimana dia bertemu kedua kakak angkatnya yang luar biasa sabar menghadapinya—dan sebenarnya Clara berharap Argentum dan Cheryl berada di sini untuk menemaninya.

"Clara enggak lagi ngomongin Batman kok, Robin—enggak usah sok tahu begitu."

"Bohong ah. Terus mikirin apa?"

"Kak Argent sama kak Cheryl. Mereka sedang apa ya?"

"Jangan bohong, tadi pagi kau baru saja menerima surat dari mereka, bukan? Mereka sudah lulus, biarkan mereka menikmati kehidupan barunya sebagai orang dewasa." Yuji berujar bijak, kakinya berayun-ayun menendang-nendang udara. "Clara-chan selalu seperti ini. Dulu kau juga pernah bercerita kalau kau suka dengan senior—errr siapa itu? Yang anak Ravenclaw juga? Ya itulah—tapi tidak kau utarakan sampai akhirnya dia berpacaran dengan orang lain. Kau bilang kau sakit hati, blablablabla. Sekarang, kau mau mengulangi hal yang sama?"

Menghela nafas berat, Clara agak sedikit merasa menyesal meminta Yuji menemaninya. Dia lupa, kalau adik dari Wayland-satu-nya-lagi-itu memiliki hobi untuk mengamati segala sesuatu, bahkan hal yang terkecil yang tidak pernah Clara duga pun tak pernah luput dari perhatiannya. Tidak sulit baginya untuk mengetahui kepribadian, perilaku, kebiasaan hingga latar belakang seseorang hanya dalam beberapa hari saja, bahkan hal itu bukanlah hal asing bagi Yuji. Tapi karena itu juga, Clara sering bercerita banyak dengannya, bahkan Yuji adalah satu-satunya laki-laki yang mau mendengarkan semua cerita dongeng muggle yang pernah Clara baca, tidak seperti kebanyakan lelaki yang mencemooh dirinya—atau perempuan lain karena itu. Clara sering kali berpikir, apakah Yuji juga bisa menyimpulkan seperti apa Clara?

Clara Eileithyia sebenarnya bukan gadis yang populer, tidak ada hal yang sangat luar biasa dalam diri gadis itu. Dia hanyalah seorang murid kelas tujuh dari asrama Ravenclaw, Hogwarts, yang sedang menuju usia tujuh belas tahun. Gadis pembenci pelajaran ramuan, hitung-hitungan, dan ramalan. Suka mengobrol obrolan gadis dengan teman-temannya di kelas, cerewet, manja, kekanak-kanakan, dan juga muggle. Selain semua itu, Clara hanyalah gadis biasa saja—atau kecuali memang sejak kelas enam, beberapa pendapat mengatakan bahwa kecantikan gadis ini tergolong di atas rata-rata, setidaknya menurut semua murid lelaki yang pernah Yuji kenal.

"Clara lagi enggak mau diceramahin, Yuji."

"Kalian ini pemain drama yang paling hebat." Clara menoleh, memandang Yuji yang masih sibuk mengayun-ayunkan kakinya. "Tanpa kalian sadari—menurut pendapatku—bahwa kalian ini sudah sering kali menumbuhkan bibit-bibit romansa, cinta, sayang, atau apalah itu namanya di tengah penyangkalan atas perasaan kalian masing-masing. Tapi dengan sangat bodohnya, kalian saling menunggu satu sama lain—kau menunggu Aniki, dan—mungkin—begitu juga sebaliknya. Kalian juga sama-sama menyangkal dengan cara yang sama, bahwa semakin sering adu mulut, kalian akan jadi benar-benar membenci satu sama lain. Tapi kenyataanya?" dia tetap mencerocos meski Clara sudah menggeleng. "Berkali-kali orang mencoba menyadari kalian berdua—aku, senior Anna, senior Caeli, atau yang lainnya—tetapi kalian malah berjengit ngeri dan pura-pura memasang ekspresi jijik. Kalian munafik, atau mungkin Clara-chan yang munafik."

Tertegun lama, Clara mendesah.

"Clara-chan selalu baca dongeng kan? Nah, apakah ada dongeng yang seperti kisah hidup Clara-chan? Kisah yang selalu seperti ini: diam, menunggu, dan berakhir dengan tangisan karena menyesal. Adakah dongeng seperti itu?" si gadis tidak menjawab, membiarkan Yuji mencerocos lebih lanjut. "Tidakkah kau menyadari bahwa hidupmu ini nyata? Kau bukan seorang Snow White yang di jemput pangerannya secara tiba-tiba loh, bukan juga Cinderella yang di jemput hanya karena sepatu—paham tidak maksudku?"

Tentang kenyataan bahwa hidupmu bukanlah sebuah cerita dongeng?

Ada beberapa hal yang paling dibenci Clara dari Yuji, yakni ketika pemuda disampingnya itu mengumbar semua fakta yang ada, membeberkan segala rahasia yang susah payah dia tutup rapat-rapat dengan wajah polosnya dengan berpura-pura memandang langit dengan tatapan menerawang, kemudian terdiam seolah mempersilahkan Yuji mengumbar semua rahasia lainnya. Menguak misteri. Dan Clara, dengan sangat jujur membenci sesuatu kejujuran yang menyakitkan—meski pada akhirnya gadis Ravenclaw ini tertegun mendengarnya.

Selalu.

Selalu seperti itu, dan akan selalu seperti itu.

Mau tidak mau, Clara harus mengakui kebenaran ucapan Yuji itu benar adanya dan mulai mencoba untuk melupakan ego tentang pikirannya yang terus menerus mencari kalimat sangkalan apa lagi untuk menolaknya—namun hal itu tidak pernah berhasil. Setiap kali mencoba, dia selalu saja gagal; selalu membuat ia merasa seperti orang bodoh sekaligus pengecut. "Jadi..." Clara bersuara pelan, mengerlingkan matanya sekilas; mencoba mencari-cari kalimat, atau kata, atau bahkan huruf yang cocok untuk mengutarakan pikirannya. "...apa yang harus Clara lakukan?"

Angin berhembus lagi.

Tidak ada jawaban.


— o —



"Aku menyebalkan bagaimana, sih?" Sho bertanya lagi, kali ini di nada suaranya tidak ada lagi ketenangan—gusar, seolah tidak terima Clara membisu, tidak menjawab pertanyaannya meski berkali-kali, bibir merah lelaki itu bertanya hal yang sama. Tapi Clara tahu, Batman dari asrama Ravenclaw ini memang sangat membenci kalau diacuhkan. Arogan. "Yeah, kita sama-sama tujuh belas tahun, sama-sama Ravenclaw, sama-sama kelas tujuh, dan—apa sih yang bisa membuatmu bilang aku ini menyebalkan, Eileithyia? Apanya yang semuanya??"

"Lupakan, Clara tadi hanya asal cuap saja kok." Clara menggeleng dan kembali memulai mengerjakan tugasnya lagi meski sebenarnya dia sudah selesai. Mungkin Yuji benar, Eileithyia sangatlah munafik. Tapi belum saja tinta hitam tertoreh di atas perkamennya, Clara memekik kaget saat kertas penuh tulisan itu sekejap hilang dari pandangannya, di ambil secara paksa oleh Sho tanpa permisi. Clara kaget. "—HEI!!!" ujarnya protes.

"Maumu apa sih? Bicara jangan setengah-setengah!! Sudah sering aku katakan kalau aku tidak suka itu?"

"Kan Clara sudah bilang tadi, lupakan, Sho!! Clara cuma asal cuap!!"

"Bohong—"

"Kembalikan-perkamen-Clara-sekarang-juga!!"

"Tidak mau sebelum kau bilang kenapa—kau membawa-bawa namaku tapi kau tidak menjelaskan alasannya."

"Tidak cukupkah alasan yang tadi?"

"Kau sudah tujuh belas tahun, Clara. Jangan bersikap manja terus menerus, dan jangan seperti anak-anak!! Bangun!! Kau ini sudah dewasa!! Kau hidup di dunia nyata—bukan dongeng antah berantah!!" Dan waktu seolah berputar, menghantarkan mereka kembali ke tahun-tahun sebelumnya ketika kedua remaja Ravenclaw ini sering adu mulut, dimana si lelaki selalu menggunakan nada ketus, dan si perempuan menggunakan nada manja. Tapi kali ini berbeda, keduanya menggunakan nada tidak mengerti yang kentara, dimana si perempuan lebih condong ke arah tidak tahu harus berkata apa.

Refleks, Clara melemparkan satu bungkus marshmallow ke arah Sho, marah. "Clara memang anak-anak!! Clara memang manja!! Clara masih kecil dan Clara belum dewasa!! Sho pikir Sho siapa mengomentari bahkan mengatur-ngatur semua hidup Clara sampai seperti ini? Sho bukan Mum!! Sho bukan Dad!! Sho juga bukan Cyrilla!! SHO BUKAN SIAPA-SIAPA!!"

"Kau—" Sho berdecak, melemparkan perkamen Clara ke sembarang arah. "Kau bicara apa sih?? Kenapa kau jadi ngelantur seperti ini—HEI!! AKU TIDAK MENGATURMU, TOLOL!! AKU HANYA BERTANYA KAU INI KENAPA!!!"

"JANGAN BENTAK-BENTAK CLARA!!"

"AKU TIDAK AKAN MEMBENTAK KALAU BUKAN KAU YANG MULAI!!!"

Hening. Lagi.

Detik demi detik semakin enggan berlalu dengan cepat, seakan mengejek Clara atas kemunafikannya yang sudah kentara. Tidak ada suara, kedua Ravenclaw remaja itu masih tetap membisu, membiarkan kehangatan yang berasal dari perapian menghilang begitu saja, membiarkan api hangat itu mati seketika namun tidak membiarkan api kemarahan mereka hilang sedikit pun. "Haah…" Akhirnya Clara pun mendesah, menjadikannya yang pertama kali memecah kesunyian ini. Sekali lagi, bukan karena disebabkan oleh karakternya yang memang tidak bisa diam, tetapi kali ini karena sikap Sho yang membuatnya terbujuk untuk segera menyudahi semuanya, karena perkataan Yuji seketika terlintas di benaknya. Dan sebagai pihak yang kalah sekaligus penyebab semua ini, ia harus bertanggung jawab.

"Clara capek bertengkar terus dengan Sho—jangan potong, Clara benar-benar capek aduk mulut. Clara capek terus menerus bertengkar, dan Clara akui kalau Clara kalah dalam perang dingin selama tujuh tahun ini—tidak bisa menyaingi sikap tenang di segala situasi seperti Sho." Ngelantur, itulah yang ada di benak Sho saat Clara berujar panjang seperti itu. "Yang Clara pinta adalah—tolong, jawab dengan sejujur-jujurnya apa pun yang Clara tanyakan, jangan protes dan jangan mengelak. Untuk pertama kalinya—dan terakhir kali mungkin—Sho bisa menjawab dengan kepala dingin. Maksud Clara, tetaplah menjawab dengan kepala dingin, seperti biasa."

"Oke." jawab Sho simple. Dan Clara, sekali pun sudah terjadi kesepakatan gadis itu tetap diam, tidak bersuara apa-apa. Jelas, Sho kesal karena sikap Clara, tapi mengingat ucapan gadis itu barusan, sebisa mungkin dia mencoba sabar, mencoba menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu padanya, apa pun bentuknya. Bisa saja, ucapan gadis itu benar-benar serius kali ini.

"Kau Batman, dan Yuji Robin Hood."

"Lalu?"

"Lalu Clara apa, Sho?"

"Kau kebanyakan membaca dongeng—buku yang tidak berguna." Sho mengerenyit, lagi. Tidak mengerti apa yang diucapkan teman seasramanya itu. Oh, bagus. Sungguh sangat bagus karena gadis kecil pecinta dongeng ini malah memasukkan unsur lain, atau kalimat lain, atau topik lain dalam pembicaraan mereka yang bahkan sama sekali belum selesai. Curang karena Sho: Batman, Yuji: Robin Hood, dan bertanya Clara adalah apa sangatlah menggelikan.

Tapi sekali pun ini adalah hal yang lucu, tidak ada yang tertawa.

"Sho tahu siapa itu Batman dan Wonderwoman, kan??" Sho mengangguk canggung, memandang Clara dengan tanda tanya besar dibenaknya. "Clara tanya sekali lagi. Sho ini Batman, Yuji ini Robin Hood, lalu Clara ini apa, Sho?" gadis itu mengulang pertanyaannya, dan lelaki dihadapannya tertegun sejenak, entah berpikir, entah terkejut.

"Kau—errr... Catwoman?"

Tidak ada respon dan Sho menjadi salah tingkah sendiri. Sedangkan Clara hanya berdiri mematung.

"... tidak bisakah Clara menjadi Wonder Woman?"

"Err—" Sho mengerenyit, berpikir serius. "Sepertinya tidak—errr.... menurutku kau cocok jadi Catwoman, dan yah, kau ini Catwoman. Cukup Catwoman."

Seketika, Clara langsung menghela nafas berat sambil memejamkan mata, membiarkan memorinya terus-menerus memutar ulang kalimat si sulung Wayland barusan, dan berpikir bahwa semuanya sudah berakhir, semuanya sudah terbayar penuh. Perasaan tenang seketika meluap, pikirannya terasa ringan ke udara. Ringan, seperti bulu-bulu bertebaran, seperti saat ia melepas kelulusan kedua kakaknya, seperti saat dia mengikhlaskan kematian Evie, bahkan ringan seperti saat dia menangis sejadi-jadinya ketika di caci mudblood.

Darah lumpur.

Kotor.

"Aku benci padamu, Shoichi..." Clara berujar pelan, sedikit bergetar menahan tangis. "aku membencimu teramat sangat, membencimu dengan segenap hatiku sampai aku tidak menyadari kalau ternyata aku menyukaimu—aku mencintaimu."


— o —



Fakta lainnya adalah, setelah semua kejadian itu berlalu, Shoichi Wayland memutuskan untuk membuat kesimpulan sederhana di saat itu juga bahwa Clara hanya sedang emosional sehingga gadis itu marah-marah, berbasa-basi dengan kalimat-kalimat aneh yang tidak bisa dia mengerti, menyangkutpautkan dengan imajinasi yang melekat padanya sedari dulu, memberikan substitusi yang sopan untuk kata 'aneh' sehingga dia hanya bisa tertawa ringan sambil menoyor kening Clara dan kemudian berlalu begitu saja.

Meninggalkan Eileithyia menangis di tengah ruangan rekreasi asrama yang dingin.

Meninggalkan satu kisah dongeng yang lagi-lagi tidak bisa dia percayai sekali pun ini adalah kisah nyata.



— o —

Label: , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //