<body>
Nobody Knows - Chapter 7
Senin, 28 November 2011 @11/28/2011 03:36:00 AM



Disclaimer :

Timeline : di mulai dari musim Semi , awal tahun ajaran 2006/2007
A/N : Semua ini murni karena imajinasi gue karena sering banget RC sama Bia as Kazusa via twitter, nyolot-nyolotan cuma karena akademis. Terus gue berpikir, kayaknya oke kalau mereka kayak tetsukasa (you-know-me-so-well) tapi jelas, semua FF ini tidak sepenuhnya ada sangkut paut dengan plot asli semua chara yang terlibat di sini. Murni pikiran gue. Settingnya saat Rei, Yukiko, sama Kazusa kelas dua belas, Tetsu kelas tiga belas, dan mereka semua sorcier (wow). Sebetulnya gue pengen banget post ini di Ryoku, tapi mungkin nunggu beberapa lama karena gue sendiri masih bingung. Dan gue rasa bakal bikin ber-chap-chap karena ini kan di luar plot, jadi beneran harus jelas konflik-dan-segala-macemnya. Well, kritik dan sarannya diterima.

Anw, gue beneran menulis FF ini loh alias ga gue ketik sebelumnya. hahahahah.







- Chapter 7 -











Musim gugur, dan entah sudah berapa bulan Rei tidak bertegur sapa dengan Araide.

Sejak musim panas kemarin, sejak si Bara membentaknya dan menceramahinya panjang lebar, Rei tidak pernah lagi beradu mulut seperti dulu dengan Araide meski pun di beberapa kejadian mengharuskan mereka bersama-sama. Rei jelas memilih diam, berbicara seadanya, dan bertindak seperlunya. Tidak ada lagi cemooh-cemooh kecil di saat Araide melakukan kesalahan saat kelas sains berselang, atau kelas mantra. Tidak ada lagi bentakan-bentakan Rei saat gadis itu bertanya-tanya pada Yukiko perihal alasan mengapa mereka putus. Bahkan di saat gadis itu melakukan kecerobohan yang fatal, Rei hanya membantunya secara refleks dan diam. Kemudian pergi. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Meski sebenarnya, terus terang saja rasanya menjadi sepi ketimbang biasanya.

Tetsu menceramahinya panjang lebar saat mengetahui apa yang terjadi dan menyudutkannya bahwa Rei-lah yang salah. Tentu saja, di tengah-tengah segala macam dumelannya itu, Tetsu menyuruh Rei untuk meminta maaf karena tingkahnya yang kekanak-kanakkan. Yah, Rei tahu itu, dia jelas salah, tapi sayangnya Rei tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf dan harus seperti apa.

Tidak banyak orang yang menyadaribahwa Rei menjadi merasa asing dengan sekelilingnya sekarang ini. Merasa berbeda, bahkan kemarin-kemarin Yukiko juga pernah bilang padanya bahwa dia menjadi jauh lebih pendiam, nyaris seperti murid-murid Sakura. Tidak tahu juga sih apakah Rei memang tidak menyadari itu atau tidak mau mengakuinya yang jelas dia merasa aneh. Atau mungkin dia kehilangan Araide? Hah. Lebih baik dia memikirkan tentang kebenaran dongeng ketimbang memikirkan si Bara.

Selama liburan musim panas kemarin, Rei benar-benar mengejutkan hampir semua orang di asrama Kiku karena dia, yang notabenenya tahun lalu menjabat sebagai Anzen harus di detensi berkali-kali karena keluar asrama di atas jam sepuluh malam. Kedua adiknya tidak berkomentar apa-apa meski Hikari Journal pernah menjadikannya berita yang buruk, kritikus, dan pedas. Kou-kun pun sempat menyemprotnya habis-habisan, begitu juga Miichan. Tapi pada akhirnya mereka bersikap biasa saja seolah-olah hal itu adalah hal yang biasa, tidak seperti murid-murid lain yang menganggapnya kurang ajar.

Tapi dia ini Kiku, dan dia cuek.

Tiap malam, sejak pembicaraannya dengan Tetsu di kantin saat musim panas kemarin, tentang tempat dan cara bertemu peri serta kurcaci, Rei menjadi rutin mengunjungi tempat itu tiap akhir pekan. Dia keluar asrama sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Selalu saja seperti itu sebelum akhirnya dia ketahuan dan di detensi sebanyak dua kali karena tindakannya. Setelahnya, Rei hanya keluar setiap satu minggu sekali dengan sangat hati-hati, di tiap hari yang berbeda. Namun seperti apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, dia mendapatkan detensi lagi, satu kali—total menjadi tiga catatan merah di Raport-nya nanti.

Meski begitu, Rei tetap melakukannya—memanfaatkan jabatannya sebagai mantan Anzen, Rei bertanya pada anggota Himawari Seitokai tahun ini dengan alasan mau meminta maaf, atau ini dan itu, dia bertanya tentang jadwal patroli malam: kelas berapa dan di sekitar mana, serta bertanya yang mana orangnya. Hal ini dia lakukan jelas untuk mencari tahu hari dimana dia bisa keluar malam di saat Anzen yang bertugas adalah kelas sembilan. Dan kebetulan, malam ini adalah giliran Anzen kelas sembilan yang bertugas patroli di area taman.

Melirik jam arloji perak di tangan kanan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit, Rei bergerak mengendap-ngendap keluar dari asrama, mengambil jaket jeansnya terlebih dahulu kemudian berlari kecil menuju pelosok utara taman besar Ryokubita. Tetapi begitu Rei sampai di tempat, dia justru tertegun lama dengan apa yang dia lihat—terkejut, sekaligus takjub.

Kazusa Araide.



—oOo—




Terkadang, saat kita sedang marah, se-marah-marahnya, kita tidak bisa membedakan mana yang namanya kesal, dendam, bahkan cinta. Sejak Kazusa membentak Shibasaki habis-habisan, dia sama sekali tidak pernah bisa merasa tenang seperti biasanya. Ya, tentu saja Kazusa merasa bersalah—Shibasaki membentaknya bukan karena marah, tapi karena Kazusa duluan lah yang meninggikan nada suaranya sendiri; itu pun karena dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencampuri urusan si Kiku.

Akan tetapi, meski tidak bertegur sapa, Kazusa semakin merasa tidak enak hati karena Shibasaki—entah mengapa, ajaibnya—selalu menolongnya di saat-saat yang tidak terduga. Entah itu di sengaja, atau tidak, Kazusa tidak tahu. Yang jelas si Kiku memang selalu menolongnya entah saat dia jatuh di kantin, lupa membawa buku, tentang pelajaran, dan hal-hal kecil lainnya. Namun ketika mendengar bahwa Shibasaki mendapatkan detensi berkali-kali, dia tidak bisa berbuat apa-apa—bahkan mencegah artikel Hikari Journal pun tidak.

Rasanya, semua berubah dalam sekejap.

Begitu mendengar si Kiku mendapatkan detensi untuk yang ketiga kalinya, barulah Kazusa kembali penasaran dengan apa yang di lakukan oleh lelaki itu; mencabut janjinya sendiri untuk tidak mencampuri urusan Shibasaki. Mau tidak mau, Kazusa memang harus mencari tahu. Entah ide macam apa yang terlintas di benak Kazusa, saat pelajaran mantra minggu lalu tepat di sela-sela kelas praktek, Kazusa memberi mantra pendeteksi pada Shibasaki diam-diam, dam menyihir sebuah kertas kosong untuk dijadikan peta—seperti apa yang ada dalam cerita Harry Potter. Oh ya, Kazusa suka sekali buku itu, inspiratif. Dan karena peta itu lah, Kazusa mengetahui apa yang dilakukan Shibasaki setiap malam—berdiam diri di tengah-tengah pelosok taman Ryokubita, sendirian, sampai pagi.

Hingga pada akhirnya, Kazusa memutuskan untuk menghampiri tempat yang biasa Shibasaki singgahi dan mengintrogasi lelaki itu bagaimana pun caranya. Dia berada di sini sudah sejak setengah jam yang lalu—mewanti-wanti, menoleh kesana kemari, dan menghela nafas panjang berkali-kali tapi si Kiku tak jua muncul. Apa hari ini dia tidak datang? Kazusa memang tidak tahu sih hari apa biasanya Shibasaki datang ke sini, selalu berubah-rubah. Hari ini saja Kazusa iseng-iseng kemari. Namun ternyata Kazusa tidak perlu menunggu lebih lama lagi karena beberapa menit kemudian Shibasaki datang dengan wajah terkejut yang kentara, memandang Kazusa dengan tatapan heran yang sudah dia perkirakan sejak awal.

"Kenapa bisa ada di sini?" tanya Shibasaki pelan.

"Majou bisa melakukan apa saja loh." Kazusa menjawab kalem sembari melambai-lambaikan kertas putih kucel dengan sketsa kasar berbentuk seperti sebuah peta—Shibasaki terkejut lagi dan buru-buru menunduk; memperhatikan tubuhnya. Dia baru sadar kalau dia telah dimantrai. "Aku kok yang menyihirmu, bukan yang lain. Bukan Hikari Journal atau bahkan Himawari Seitokai," lanjut Kazusa kalem meski si Kiku sudah langsung merafalkan mantra pelepas; kertas peta di tangan Kazusa terbakar dengan sendirinya. Gadis berambut hitam ini terkikik. "Ngapain sih, di sini?"

"Bukan urusanmu—pulang sana, nanti kau di detensi."

"Kalau aku pulang, aku bisa melaporkan pada Himawari Seitokai loh kalau kau di sini."

"Apa sih maumu?"

"Setiap malam kau berada di sini, duduk sendirian—"

"Hah? Kau memata-mataiku sudah lama??"

"—atau kadang-kadang mondar-mandir—"

"KAZUSA!!!" Shibasaki membentak lagi, dan Kazusa jelas di buat terkejut entah untuk keberapa kalinya. Tapi kali ini, gadis Bara ini terkejut bukan karena si Kiku membentaknya keras, tapi karena lelaki itu menyebutkan namanya—nama kecilnya. "Aku tahu kau ini anggota Hikari Journal, aku juga tahu kalau kau punya rasa ingin tahu yang besar. Aku juga tahu kalau kau tipe orang yang kalau sudah ada keinginan pasti tidak akan mundur kalau belum terpenuhi, entah dengan alasan apa, atau alasan kalau kau ini Bara, Bara, dan Bara—persetan dengan itu, persetan dengan asrama!! Tapi kalau memang kau Bara, tidak bisakah kau tahu sedikit saja tentang etika? Ini privasiku, berhentilah mengikuti dan mencoba mengorek semuanya!!"

Shibasaki terengah-engah, dia baru saja selesai mencerocos panjang lebar dengan suara yang cepat dan g usar. Kazusa mengerenyit, mulutnya bergerak 'kau ini kenapa' tanpa suara saat mata hitamnya mendapati lelaki itu sekarang duduk di tanah, bersandar pada batang pohon dengan nafas berat yang berkali-kali dihembuskannya.

"Kau..." Kazusa bersuara kecil, memandang Shibasaki sesekali meski pada akhirnya tidak melanjutkan kata-katanya lagi. "Kau kemari untuk apa?" tanya Kazusa pada akhirnya. Namun Shibasaki tidak menjawab, hanya menghela nafas. "Mencari kebenaran dongeng? Di sini?" tebak Kazusa yang di luar dugaan lelaki itu menjawab meski sebatas 'hmmm' kecil. Mungkin artinya iya. "... kenapa sih kau ngotot mencari dongeng atau sebangsanya itu sampai seperti ini?"

"Tempat ini adalah salah satu tempat yang sering kali menjadi area kesukaan para Peri—begitulah apa yang Tetchan ceritakan padaku. Dan seperti apa yang di kelas Character Building jelaskan beberapa saat yang lalu, memang disinilah tempatnya. Yah—aku rasa kau pasti pernah melihatnya. Weast selalu melihat peri dan kurcaci." jawab Shibasaki panjang lebar meski matanya sama sekali tidak memandang Kazusa.

"Tapi aku Eastern, Shibasaki." Dilihatnya, si Kiku menoleh cepat dengan alis terangkat tinggi dan dengan mata menyipit; mengerjap berkali-kali. Dia terlihat kaget, sekaligus tidak percaya. Mau tidak mau, Kazusa jadi geli sendiri melihatnya. "Eastern—tangan kosong, roh, dan siluman." lanjutnya.

"Tapi kau percaya dongeng?"

"Astaga Shibasaki-kun!! Kau ini memang masa kecil kurang bahagia ya? Dimana-mana, anak-anak pada dasarnya pasti pernah tahu tentang dongeng, dan soal percaya atau tidak percaya itu tergantung dari mereka. Dan aku, adalah salah satu yang percaya kalau mereka itu ada. Yah, tidak pernah lihat sih, tapi setidaknya mengetahui mereka ada itu penghiburan tersendiri buatku. Lagi pula kita majou!! Aliran sihir apa pun bisa kok melihat peri dan kurcaci, atau siluman dan roh, atau apa. Cuma hubungannya saja yang berbeda kok!" Si Kiku tampak gelisah, dia menggaruk-garukkan rambutnya dan terkekeh sendiri setelah Kazusa selesai mencerocos panjang lebar.

"Kenapa sih, kau ngotot banget belajar soal dongeng? Mau nembak cewek?" Shibasaki mengerlingkan mata, dan ber-hmm kecil. Tebakannya benar, mungkin insting seperti ini terlatih dengan sempurna di Hikari Journal. "Siapa sih gadis itu?" tanya Kazusa, penasaran.

"Masa kau tidak bisa menebaknya? Dia asrama Bara."

"Bara ada yang percaya do—Miho?"

"Kok dia?"

"Terus siapa?"

"Kau ini anggota Hikari Journal gadungan."

"Kau meragukanku?!"

"Buktinya indra-gossip-mu tidak berguna."

"Enak saja!! Berita-berita yang ada di Hikari Journal itu adalah tulisanku semua, tahu!!"

"Berarti berita tentangku juga tulisanmu?" tanya Shibasaki gamblang. Kazusa terkejut, matanya mengerjap sesekali dan mulutnya terbuka cepat namun di katupnya kembali. Dia tidak bisa menjawab apa-apa meski bisa saja dia langsung menjawab kalau itu bukan dia yang menulisnya, tapi rasanya tidak bisa juga karena dia selaku anggota Hikari Journal ikut andil dalam berita tersebut meski hanya sebatas garis besarnya saja. "Tidak apa-apa, aku tahu kok." lanjut Shibasaki sembari berdiri tegak dan berjalan ke arah Kazusa; menepuk-nepuk pucuk kepalanya dengan pelan.

Memaklumi.

Dan Kazusa merasa pipinya panas.

"Kau ini—sok tahu. Sok polos—" Shibasaki tertawa renyah. "—omong-omong... " Kenapa kau panggil aku Kazusa? "...mana peri-nya? Kenapa tidak muncul-muncul?"



—oOo—

Label: , , ,



Nobody Knows - Chapter 6
@11/28/2011 01:33:00 AM



Disclaimer :

Timeline : di mulai dari musim Semi , awal tahun ajaran 2006/2007
A/N : Semua ini murni karena imajinasi gue karena sering banget RC sama Bia as Kazusa via twitter, nyolot-nyolotan cuma karena akademis. Terus gue berpikir, kayaknya oke kalau mereka kayak tetsukasa (you-know-me-so-well) tapi jelas, semua FF ini tidak sepenuhnya ada sangkut paut dengan plot asli semua chara yang terlibat di sini. Murni pikiran gue. Settingnya saat Rei, Yukiko, sama Kazusa kelas dua belas, Tetsu kelas tiga belas, dan mereka semua sorcier (wow). Sebetulnya gue pengen banget post ini di Ryoku, tapi mungkin nunggu beberapa lama karena gue sendiri masih bingung. Dan gue rasa bakal bikin ber-chap-chap karena ini kan di luar plot, jadi beneran harus jelas konflik-dan-segala-macemnya. Well, kritik dan sarannya diterima.

Anw, gue beneran menulis FF ini loh alias ga gue ketik sebelumnya. hahahahah.







- Chapter 6 -











Saat Rei terbangun dari tidurnya, dia seketika sadar bahwa dirinya masih berada diperpustakaan, masih menggunakan bajunya yang kemarin—sendirian. Kepalanya refleks celingukan, mencari-cari sosok gadis Bara yang sudah tidak lagi nampak batang hidungnya, sudah kembali entah ke asrama, atau kemana. Beragam pertanyaan segera terlintas dibenaknya. Apakah gadis itu di detensi? Keluar jam berapa dia? Apakah dia ketahuan Anzen? Dimana jaketnya?

Rei jelas panik, tapi tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa, entah kenapa terlalu lemas untuk berdiri, atau masih belum seratus persen sadar, lelaki Kiku ini hanya bisa duduk di tempat; tidak bergeming. Di tambah lagi kepalanya terasa sangat sakit. Mungkin, karena semalam cuaca tidak begitu bersahabat sehingga Rei jadi agak flu. Mungkin begitu.

Begitu merasa sedikit lebih baik, Rei buru-buru jalan keluar, meninggalkan perpustakaan dan pergi menuju kantin—sudah jam sepuluh, jelas Rei tidak mau bersusah payah memasuki kelasnya hanya untuk di semprot dan di usir keluar kelas. Jelas sudah telat, lebih baik bolos. Lagi pula, dia lapar dan dia sangat butuh makanan. Meski begitu, Kiku muda ini masih memikirkan soal dongeng dan janjinya—memikirkan cara bagaimana dia membuktikan kalau dia percaya semua itu.

"Kenapa tidak masuk kelas? Bukankah hari ini jadwal kelasmu pagi tadi?" Rei terperangah saat suara adik laki-lakinya mengejutkannya secara tiba-tiba. Tetsu tengah duduk sendirian di salah satu meja kantin, memandangnya dan memandang arloji perak di tangan kanannya. "Bolos?" ujarnya santai. Rei tidak menjawab, masih sibuk memesan makanan ini dan itu, baru dia duduk di tempat yang sama dengan adiknya. Tangan kanannya bergerak lincah, melambaikan Baswood-nya dengan cepat: mengambil kopi, cemilan, air mineral, dan menyerahkan uang secara berturut-turut dan cepat. Tetsu hanya memandangnya dengan alis terangkat tinggi, kemudian berujar "waw" kecil.

"Aku kesiangan." Rei menjawab pelan sambil melahap sarapannya, sedangkan si Sakura tidak merespon selain "Hmm" pelan, tetap sibuk dengan ocha panasnya dan koran pagi Hikari Journal, sambil bergumam kecil soal beberapa universitas yang tertera di daftar koran tersebut. Rei mendengarnya sekilas kalau Tetsu terus menerus berseru `wow` pada setiap universitas yang mencantumkan fakultas kedokteran. "Kau benar-benar ingin mengambil kedokteran, Tetchan? Kau kan Sorcier, bukan Genezer." Rei celetuk, tidak tahan untuk tidak berkomentar.

Tetsu tersenyum tipis, meletakkan ocha dan korannya dengan hati-hati; memandang kakaknya dengan santai. Ciri khas anak Sakura, Rei tahu itu. "Okaasan dan Otousan tidak keberatan, mereka setuju, Nao juga tidak keberatan aku mengambil pendidikan lagi setelah lulus tahun depan." tangannya bergerak menopang dagunya. "Aku ingin membantu orang-orang, tidak hanya sekedar melindungi mereka, tapi menyelamatkan mereka juga." Rei mengangguk sebagai isyarat bahwa alasan Tetsu sudah cukup membuatnya paham.

Dua kali adiknya menghadapi NOH selama dia di Ryokubita bukanlah hal yang mudah menghadapinya. Mungkin, Tetsu terlihat santai-santai saja, tapi Rei tahu, dia memiliki beban tersendiri. Fisik boleh sembuh—psikologis belum tentu. Tetsu memiliki sifat solidaritas yang tinggi, jadi mungkin benar adanya kalau dia terpukul dengan kematian teman-temannya waktu itu, terpukul karena luka-lukanya yang tidak kunjung sembuh. Rei mengangguk setuju.

"Lagi pula, pengobatan secara sihir dan medis itu berbeda loh—omong-omong Reichi, kau punya sesuatu benda yang mengkilap tidak? Bukan uang, tapi apa pun, tidak harus perhiasan, asalkan benda itu bisa mengkilap, entah kaleng, seng, atau apalah itu namanya, nanti aku minta dong."

"Buat apa?"

"Para kurcaci brengsek itu memintanya sebagai transaksi—pengganti uang." Rei melongo, tidak percaya. Tangannya refleks menurunkan sumpit dan bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, terkejut dengan jawaban Tetsu. "Aku meminta mutiara bulan pada mereka—semacam, errr, yah, mutiara biasa, tapi warnanya emas api—emas kemerahan, maksudku. Mutiara itu akan terbentuk satu di tiap bulan purnama dan langka. Bagus untuk penguat ramuan-ramuan tertentu dan ini tugas sainsku." Tetsu mencerocos, menjelaskan pada kakaknya dengan santai.

"Kau—kurcaci?"

"Iya. Memang kenapa?"

"Kok?"

"Kau sudah pikun apa? Aku Western, ingat? Peri dan Kurcaci, berhubungan baik, dengan tongkat, serta penciptaan benda-benda magis?"

"Bukan itu—maksudku, mereka itu nyata?"

"Apanya?"

"KURCACI, TOLOL!!!"

"Eeeehh??" Tetsu mengerutkan alisnya, bingung dengan pertanyaan Reichi barusan. "Kau sakit jiwa? Jelaslah mereka ada, benda-benda magis mereka pun demikian, hanya saja bentuk dan sifatnya berbeda dengan apa yang dijelaskan di cerita-cerita dongeng. Tapi aku rasa wajar sih kalau kau merasa aneh—kau Eastern, kan? Wajar saja."

Rei bingung. "Jadi—mereka itu nyata?" Tetsu mengangguk, masih merasa aneh dengan reaksi kakaknya. "Dan kau—West—bisa melihatnya? Berbincang-bincang?" Pertanyaannya terlontar lagi, masih memastikan bahwa apa yang diucapkan adiknya itu benar, di luar konteks east dan west. "Mereka itu nyata? Sungguhan?" Pemuda Sakura itu tampak bingung, alisnya mengkerut kesal, memandang Rei dengan ekspresi aneh bercampur geli.

"Kau tidak percaya?" Rei tidak menjawab. "Kau tinggal di dunia sihir, Aniki. Mereka nyata, tiap West pasti akan melihatnya, terbukti dengan setiap penulis mitologi beraliran sihir Western meski tidak semuanya sih, tapi rata-rata mereka aliran West. Aku sebenarnya sih tidak yakin kalau hanya West yang bisa melihatnya, menurutku East, Shaman, dan Sage bisa melihat Kurcaci dan Peri, hanya saja mungkin tidak bisa berbicara banyak hal—seperti aku yang tidak bisa sepenuhnya mengerti pembicaraan Roh dan Siluman sepertimu, bahkan berhubungan baik pun sangat langka. Kebetulan saja, Kitazawa orangnya baik."

"Jadi aku bisa melihatnya?"

"Oh—tentu, tapi aku rasa kau tidak menemui Kurcaci itu—Peri jauh lebih baik, dan ya Rei. Mereka itu nyata." tambah Tetsu saat melihat mimik wajah kakaknya yang penuh dengan pertanyaan. "Para cebol itu—kurcaci maksudku—memiliki sifat yang beragam, ada yang konyol, bego, dan semacamnya. Tapi mereka memiliki kesamaan yang menyebalkan, mereka tempramental, dan itu jauh lebih susah diatasi ketimbang saat mereka mabuk. Sedangkan kalau Peri, mereka jauh lebih baik—tidak semua, memang, tapi setidaknya mereka masih bisa diajak berkomunikasi dengan baik—dan mudah ditemui. Mereka menetap."

Tetsu berhenti mencerocos saat dia menyadari kalau Rei sama sekali tidak bersuara, memilih untuk diam dan menjadi pendengar yang baik secara ajaib, secara langka. Tetsu tahu, bagi Rei yang hidup di tengah keluarga realistis seperti Shibasaki pastilah tidak akan percaya dengan mudah, bahkan Tetsu merasa tidak yakin apakah paman dan bibinya itu percaya sihir sekali pun darah Bibinya mengalir darah yang sama dengan keluarganya—Rei menjadi majou pun pastilah setelah mengalami beragam pilihan yang berat.

"Dimana?"

"Apa?"

"Tempat aku bisa bertemu si Peri?"


—oOo—


Mantra Kurogami-sensei memang keren.

Kazusa merasa puas karena pelajaran mantranya kali ini benar-benar sukses, bahkan secara ajaib Kurogami-sensei memujinya. Kemarin, Nekoyanagi-sensei juga memberinya ucapan selamat karena Shikigami miliknya berkembang dengan pesat melebihi murid-murid yang lain—bahkan mengalahkan si Play Boy Kelinci Kiku itu. Tapi rasanya aneh dia tidak ada di kelas, kalau pun ada pastilah ekspresi si Kiku itu akan menjadi sebuah hadiah yang tidak terlupakan bagi Kazusa, melihat ekspresi kagetnya yang kentara karena telah Kazusa kalahkan.

Tapi Shibasaki bolos, dan Kazusa tahu itu.

Tadi pagi sebenarnya Kazusa ingin sekali membangunkan Shibasaki yang tertidur pulas di meja perpustakaan, membangunkannya atas nama keadilan dan kebaikan hati—karena kalau bukan karena dua hal itu, Kazusa memilih untuk tidak peduli—namun dia tidak tega, terus terang saja, melihat wajah Shibasaki yang teduh membuatnya merasa kasihan. Kazusa memang tidak tahu apa-apa, tapi membayangkan salah satu beban yang dipikul lelaki Kiku itu pastilah berat, dan terkadang membuat dia merinding.

Iya. Kazusa tahu satu hal—mengandalkan posisinya sebagai bagian Hikari Journal, tentu saja—bahwa menjadi tulang pungung dua keluarga sekaligus pastilah berat. Menjadi anak tunggal Shibasaki dan menjadi anak sulung Ikuya dengan tanggung jawab yang sama, pastilah membuatnya bingung. Ini Jepang, bukan Amerika, dan peraturan warisan di Negeri Sakura ini tidaklah mudah. Kazusa merasa kasihan pada si Kiku, iya. Kasihan. Titik.

Hingga pada akhirnya Kazusa membiarkan pemuda itu lebih lama di perpustakaan, membiarkannya tertidur lebih lama. Yukiko sempat bertanya padanya mengapa Shibasaki tidak masuk, dan gadis Bara ini hanya bisa menghendikkan bahu sekilas, menjawab bahwa dia tidak tahu. Kazusa memang tidak tahu kenapa, tapi dia tahu mengapa. Dan Kazusa juga tidak tahu apakah Shibasaki sudah ada di kamarnya atau belum, atau sudah makan, atau dia ketahuan dan di detensi, atau apa pun.

"Makan yuk, Kazusa-chan?" Yukiko berujar pelan membuyarkan lamunan Kazusa dengan celetukkan polosnya seperti biasa. "Kau lapar tidak?" Dia mengangguk dan berdiri, menjawab dengan pelan sambil terus melangkah keluar kelas. Yukiko terus bertanya kenapa dengan dirinya, kenapa seorang Kazusa Araide tiba-tiba menjadi diam tak bersuara. Lesu. "Apakah kau sakit?"

"Tidak kok! Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Hee? Masa sih? Atau kau lagi PMS? Eh tapi kalau kau PMS biasanya kau makin brutal, kau akan berteriak—GRAAA!! GRAAA!!—dengan tanduk keluar dari kepalamu, mengamuk tak jelas." Yukiko mencerocos, mengomentari ini dan itu. "Atau kau memikirkan Reichi-kun?"

"Kenapa kau berpikir seperti itu??"

Tapi gadis Hakamadote itu hanya menghendikkan bahunya dan berjalan terus ke depan, sesekali menyikutnya dan menggodanya dengan ini dan itu. Menjelaskan bahwa sedari tadi Yukiko memperhatikannya, saat Kazusa berhasil merafalkan mantra, dia terlihat senang, tapi saat menoleh pada kelompok lelaki, dia terlihat lesu. Sayangnya, Kazusa tidak percaya itu, tidak terpengaruh. Tapi yang namanya Yukiko, dia terus mencerocos meski Kazusa sama sekali tidak menanggapinya. Mereka melangkah semakin pelan saat menghadapi anak tangga, saat Yukiko masih terus mencerocos soal Shibasaki.

"Mungkin ya, kau ini merasa kesal karena tidak bisa menunjukkan keberhasilanmu pada Reichi-kun." Kazusa terdiam lama dan tetap berjalan menelusuri anak tangga dengan sangat lambat meski teman seangkatannya itu masih terus mencerocos ini dan itu. Sebenarnya saja, Kazusa memang memikirkan Shibasaki, memikirkan tentang kemungkinan apa saja yang bisa dia dapatkan. "—sepertinya makan Kare enak, tapi aku ingin makan ramen. Tapi kalau aku makan ramen biasanya Reichi-kun akan memarahiku dan—ADAOW!!!"

Menoleh cepat saat Yukiko memekik, Kazusa melihat seorang gadis berambut hitam panjang menubruk gadis Kiku itu; tidak sengaja tentu saja, tapi yang menarik perhatian Kazusa bukan hal itu melainkan gadis berambut panjang adalah Shiki Aoyama, adik kelasnya yang juga asrama Bara. "Go-gomen Senpai!!" kata Aoyama-chan panik. Gadis kecil itu buru-buru berbalik dan membantu Yukiko sambil terus meminta maaf tak henti-henti. "A-aku tidak melihat kalian karena aku terburu-buru jadi—Doraemon-senpai." Mengerenyit, Kazusa menoleh memandang Aoyama-chan yang tampak semakin panik, dan berbalik mengikuti arah pandang gadis itu.

Reichi Shibasaki.

Laki-laki Kiku itu berdiri tak jauh dari tempat ketiga gadis ini berdiri; mungkin hanya berjarak lima sampai tujuh anak tangga. Ekspresinya datar—namun Kazusa jelas tidak buta. Meski sekilas, dia melihat lelaki terkejut sebelum akhirnya, dengan sangat hebatnya, dia bersikap tenang dalam hitungan detik. Yukiko mengaduh, Aoyama-chan menunduk, Shibasaki menatap mereka dan Kazusa menatap Shibasaki. "Gomen, aku harus per—"

"Tetap di tempatmu."

Kazusa, sebagai Anggota Hikari Journal jelas merasa ada yang aneh di sini. Antena-radar-berita yang ada di kepalanya secara fiktif mulai berbunyi; terlebih lagi saat Shibasaki perlahan mendekat, Aoyama-chan justru bergerak mundur. Dan lagi, entah karena Shibasaki yang bergerak cepat, atau Aoyama yang tidak bisa kemana-mana, lelaki Kiku itu berjalan mendekat dan langsung menyambar tangan kanan si Bara kecil. Jelas, Kazusa dan Yukiko sama sekali tidak di gubris kehadirannya.

"Kita harus bicara, Doraemon," Kazusa tersentak saat Shibasaki membentak Aoyama yang hanya bisa menutup mata karena takut, sedangkan Yukiko hanya membuang muka, menutupi raut wajahnya yang tidak bisa Kazusa lihat. "Tidak di sini, di tempat lain." Aoyama menggeleng, tidak mau. "Aku tidak peduli dan aku minta kau untuk tidak me—"

"Dia tidak mau, jangan dipaksa!" Semua menoleh memandang kazusa yang dengan tololnya berkomentar, membentak si serigala Ikuya meski suaranya berusaha terdengar tenang. Mata hitam gadis Bara ini pun langsung memandang mata kelam Shibasaki saat lelaki itu menoleh; menatapnya tajam bercampur muak. Kazusa yakin, Shibasaki pasti kesal karena berkali-kali secara tidak langsung Kazusa ikut campur dan jelas, Kazusa merasa takut. Tapi dia tidak bisa mundur—tidak boleh mundur. "Kau tidak bisa mengerti itu? Dan apa kau tidak bisa memperlakukan perempuan dengan baik dan sopan, hah?!" Semuanya terdiam, Kazusa canggung. "Lepaskan Aoyama, kau menyakitinya."

"Aku lelah mengulang kata-kataku, Kazusa Araide. Cukup, jangan campuri urusanku." gertak Shibasaki.

"Kali ini ada urusannya—dia adik kelasku."

"Dia kouhai-mu, dia kouhai-ku."

"Kau tidak bisa memperlakukan dia seperti itu."

"Lalu? Apa kau mau menjadi senpai yang budiman?"

"Dia Bara"

"Persetan dengan itu."

"TIDAK BISAKAH KAU MELIHAT AOYAMA KETAKUTAN MELIHATMU?! DIA TIDAK MAU BICARA DENGANMU, BUTA!!"

"DAN TIDAK BISAKAH KAU BERHENTI MENCAMPURI URUSANKU?!" Shibasaki berteriak marah dan mau tidak mau membuat Kazusa shock. Belum ada hitungan hari dia melihat wajah teduh dan mencium aroma kopi dari lelaki di hadapannya ini, sekarang semuanya sudah buyar lagi: mereka sudah kembali bertengkar seperti biasa—lebih ekstrim, tepatnya. Tidak ada yang berbicara setelahnya, Yukiko dan Aoyama-chan hanya bisa memandang kejadian di hadapannya dengan nafas tertahan, panik sekaligus penasaran.

"Aku akan berhenti mencampuri urusanmu kalau kau sudah berhenti mengganggu perempuan itu," sahut Kazusa, tegas. Tapi Shibasaki tidak menjawab sama sekali, hanya ada gerakan samar-samar dari Yukiko dan Aoyama-chan yang berjalan mundur menjauhi mereka, menghindari pertengkaran hebat. Namun ternyata Shibasaki hanya berbalik dan melangkah menjauhi kerumunan, pergi sebelum Kazusa sempat bertanya bagaimana keadaannya dan apakah dia di detensi atau tidak.

Selebihnya tidak ada yang bersuara. Hening.




—oOo—

Label: , , , ,



Nobody Knows - Chapter 3
Senin, 05 September 2011 @9/05/2011 02:04:00 AM



Disclaimer :

Timeline : di mulai dari musim Semi , awal tahun ajaran 2006/2007
A/N : Semua ini murni karena imajinasi gue karena sering banget RC sama Bia as Kazusa via twitter, nyolot-nyolotan cuma karena akademis. Terus gue berpikir, kayaknya oke kalau mereka kayak tetsukasa (you-know-me-so-well) tapi jelas, semua FF ini tidak sepenuhnya ada sangkut paut dengan plot asli semua chara yang terlibat di sini. Murni pikiran gue. Settingnya saat Rei, Yukiko, sama Kazusa kelas dua belas, Tetsu kelas tiga belas, dan mereka semua sorcier (wow). Sebetulnya gue pengen banget post ini di Ryoku, tapi mungkin nunggu beberapa lama karena gue sendiri masih bingung. Dan gue rasa bakal bikin ber-chap-chap karena ini kan di luar plot, jadi beneran harus jelas konflik-dan-segala-macemnya. Well, kritik dan sarannya diterima.

Anw, gue beneran menulis FF ini loh alias ga gue ketik sebelumnya. hahahahah.







- Chapter 3 -











"Ngapain ada di depan asrama cewek?" Rei tersentak kaget saat Araide-cewek memanggilnya, atau lebih tepatnya menudingnya. Dilihatnya, Araide berkacak pinggang dengan mata menyipit curiga, berdiri tegak tepat dihadapannya yang tengah duduk di anak tangga menuju asrama perempuan. Rei mengacuhkannya. "Memata-mataiku, ya?" mendengus sebal sembari bersikap cuek dan tidak menjawab apa-apa, Rei memandang Araide dengan alis terangkat, bertanya dengan ekspresi wajahnya yang seolah-olah berkata untuk apa dia memata-matai Araide. Tidak berguna. Tapi kemudian dia berdiri, bersandar pada tembok.

"Kau ini sepertinya salah asrama," Rei berujar pelan. "Narsis tingkat tinggi. Seperti Kiku."

"Sayangnya Kiku itu tidak seperti Bara!! Jujur!!"

"Sayangnya kau Bara yang bodoh."

"Apa?! Situ oke?! Hah!! Mimpi!!!"

"Slogan." Mengibaskan tangan kanannya, jelas sudah bahwa Rei tidak ingin berdebat di jam-jam malam seperti ini, memilih untuk menghindari detensi dengan cara mengacuhkan Araide adalah keputusan yang baik. Namun sayangnya, Rei lupa kalau lawan bicaranya ini adalah Kazusa Araide, si biang gosip Hikari Journal yang artinya akan ada banyak pertayaan mencerocos dari bibir kecilnya itu.

"Lalu? Kau menunggu siapa?" pertanyaannya yang pertama.

"Yukiko-chan" Rei asal jawab.

"Hah?! Mau apa lagi kau?!"

"Kencan."

"APA??!!—tidak tahu diri!! Kau kan sudah putus dengannya!!" Rei menoleh memandang Araide sekilas dengan risih dan merogoh sakunya; mengeluarkan handphone, menuliskan pesan singkat tanpa mempedulikan ucapan Araide yang terus menghujaninya dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Oh tentu, kata-kata makian juga termasuk di dalamnya. "Shibasaki-baka!! Aku benci padamu!!" ujarnya sambil terengah-engah. Dan kemudian terdiam lama.

Rei tersenyum. "Sudah, pidatonya?" dilihatnya Araide langsung memicingkan matanya dengan curiga, memandang sinis manusia Kiku dihadapannya. "Aku sudah bilang padamu, jauh-jauh hari, bahwa kau tidak perlu mencampuri urusanku—ingat, kau punya urusanmu sendiri, bukankah lebih bermakna kalau waktumu kau habiskan untuk belajar agar bisa mengalahkanku? Jangan buang sia-sia dengan cara menceramahiku terus menerus seperti ini." Rei memandang Araide dengan senyuman tipis diwajahnya. "Dan aku tidak memata-mataimu, aku menunggumu."

Sekilas, kalau saja Araide menyadari, Rei melirik ke arah pintu asrama perempuan dan mengerutkan alisnya, berharap bahwa gadis yang benar-benar dia tunggu akan turun sehingga semuanya selesai, namun sayangnya Araide datang, dan entah pesan singkatnya itu sampai atau tidak, Rei tidak tahu, dia hanya berharap-harap cemas dan sekarang dengan sangat bodohnya dia mulai bersikap gombal seperti dulu—berkata bahwa dia menunggu Araide padahal dia sendiri tidak tahu menunggu karena apa.

Dan kemudian dia teringat—tangannya buru-buru merogoh saku kemejanya dan menyerahkan beberapa foto pada Araide, menyodorkannya dengan santai sekali pun tatapan gadis Bara itu masih tetap sinis, bahkan curiga. "Hanya foto. Candid." ujar Rei santai yang sebenarnya dalam hati merasa bersyukur dia membawa beberapa foto candid disakunya yang kebanyakan adalah foto Miho dan adik perempuannya. "Tolong berikan pada orang-orang yang ada di foto ini—" ada beberapa, banyak "—atau cukup simpan saja di meja ruang rekreasi asrama."

Araide mengernyit, mengambil foto-foto itu dengan berat hati, dan melihat-lihatnya sekilas. Tapi kemudian gadis itu terdiam lama, membeku. Rei tersenyum tipis; berbalik selagi Araide mengamati foto-foto itu, meninggalkan si Bara secepat dia bisa—namun berhenti sejenak. "Oh iya, satu lagi—" si Bara menoleh "—kau manis kalau tersenyum."




—oOo—




Sent : Doraemon-chan
Subject : untitle

Aku di bawah. Sampai jam 10, mungkin. Dimana?



Sent : Doraemon-senpai
Subject : Gomenasai.

Aku tidak mau bertemu sebelum semua selesai.
Aku benci padamu.




—oOo—




"Eh eh, Kazusa-chan, kau sadar tidak sih Reichi-kun jadi sering ada di depan asrama putri?" Yukiko-chan mengerling dengan senyum misterus "Kenapa ya?" Yukiko-chan bertanya polos, matanya memandang Kazusa sesekali, berusaha untuk menutupi rasa ingin taunya meski hal itu sama sekali tidak berhasil. "Jangan-jangan..."

"Apa—HEI!!! apa kau akan bilang kalau `benci itu mendekati cinta` seperti yang lainnya? Hah?" Kazusa berujar spontan, tangannya secara refleks sibuk memotong-motong kentang goreng dengan brutal. Kentara sekali kalau gadis ini sebal. "Aku tidak tahu apa-apa soal kenapa si Shibasaki mendadak jadi satpam, tapi toh mungkin dia masih menjiwai jabatannya tahun lalu menjadi Anzen. Atau mungkin dia mau menemui adiknya, atau memang sedang melakukan—err, ritual? Atau bahkan di usir dari asramanya? Atau—"

"—atau bisa jadi menunggumu!! Cieee!!!"

"NO WAY!! Itu sama sekali enggak mungkin!! Kami—eh, maksudnya aku dan Shibasaki hanya berurusan soal persaingan akademis ini!! Dan kau harus tahu, aku melakukan ini karenamu!! Karena Rei-chan!! Karena dia berani-beraninya menyakiti kalian!!" Kazusa berbicara dengan berapi-api, kesal.

"Tapi memangnya kau gak sadar ya?" Yukiko berujar lagi, masih senyam-senyum. "Biasanya itu tanda-tanda barring in rabu, tahu!!" dan gadis Ryokuemon mencerocos, tangannya melambai-lambaikan tusuk bekas ringoame-nya. Tapi tiba-tiba dia mengangguk ke arah pintu kantin dan cengar-cengir jahil, mengarahkan pandangan Kazusa untuk melihat ke belakang—melihat sosok lelaki Kiku yang masuk ke dalam kantin dengan tampang berantakan. "Sepertinya dia ada masalah, hibur dong."

Kazusa mengernyit "Apa sih?! Apa hubungannya denganku!?" dan seperti biasa, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, bergumam dengan memaki-maki kecil. Mengacuhkan Yukiko-chan yang masih cengar-cengir. "Kau aneh, cowok seperti itu masih saja kau perhatikan! Kau ini benar-benar sudah putus atau belum sih??"

"Yah, sebenarnya sih bukan itu. Maksudku, apa kau akan puas menerima kemenangan secara sepihak? Reichi-kun seperti sedang tidak semangat, dan bisa saja dia mengabaikan persaingan kalian berdua sehingga nantinya kau menang dengan mudah, apa kamu mau begitu? Katanya Bara, masa mau menang dengan cara begitu? Kalau Bara, ya menang dong secara Bara!! Katanya oke?!" Ryokuemon itu mencerocos, mengepalkan tangan kanannya dan bergerak-gerak seolah menyemangati Kazusa bak pemain taiko.

Sebagai Bara, perempuan tertua di keluarga Araide ini jelas tertohok.

Dia menoleh secara refleks, memandang Shibasaki yang sekarang sedang duduk bersama ketua asramanya, dan juga dengan ketua asrama Sakura. Bahkan dari ekor matanya, Kazusa menyadari bahwa mantan ketua asrama Kiku dan mantan ketua Himawari Seitokai dua tahun yang lalu juga mulai berjalan menghampiri kerumunan itu—berbincang-bincang sembari tertawa. Kazusa jadi mengernyit. Benarkan lelaki itu sedang ada masalah? Sebenarnya sih, mau tidak mau Kazusa menyadari bahwa sejak pelajaran mantra di awal musim panas kemarin, Shibasaki seperti tidak bersemangat lagi bersaing dengannya, sering kali dia membiarkan Kazusa menjawab pertanyaan demi pertanyaan dan lainnya—meski yah, tentu saja, nilainya masih berada di atasnya meski perbedaannya sangat tipis.

Dan tiba-tiba Shibasaki menoleh—memandangnya.

Kazusa membuang muka seketika, menatap kentang goreng dihadapannya dan menggeleng, mengernyit sembari menghela nafas berat; menyesali tingkahnya barusan. Dia sebal, sekaligus malu. "Omong-omong Kazusa-chan," Yukiko berbicara lagi, kali ini tidak ada cengiran jahil atau suara `ciee` panjang yang menggodanya. "Kalau kau jadian, traktir ya!!"

"—apa?!"

Tapi sebenarnya semua itu benar. Kazusa tidak mau mengakui kalau ucapan Yukiko yang mau tidak mau membuatnya memperhatikan Shibasaki dengan seksama, membuatnya tidak bisa lepas memandang lelaki itu, mengeceknya hampir tiap menit seolah ada kemungkinan si Kiku itu akan ambruk, jatuh karena sakit, atau kelelahan, atau stress. Atau bahkan tiba-tiba berdiri dan kemudian menari perut secara tiba-tiba pun jadi. Tidak ada kata lain atau bahkan niatan lain kenapa Kazusa memperhatikan Shibasaki, hal itu hanya karena duel. Akademis. Keadilan. Atau cemas. Meski tentu saja, argumennya yang terakhir ia sanggah terang-terangan.

Dia ini Bara, dan dia adil.




—oOo—


Hari ini adalah hari yang paling membosankan bagi Reichi. Character Building di siang hari. Yah, memang, sebenarnya pelajaran ini memang sering kali membosankan. Selain karena sensei-nya, Goro Yamakawa, sudah sangat tua, biasanya pembahasan atau cerita-cerita di pelajaran ini tidaklah menarik. Misalnya hari ini. Yamakawa-sensei bercerita tentang legenda peri-peri yang tersebar luas di Dunia, bahkan katanya di Ryokubita pun ada beberapa peri, di salah satu pelosok garden, katanya. Yamakawa-sensei menjelaskan bahwa majou atau penyihir biasanya bisa melihat peri-peri itu, hanya tinggal mengandalkan keberuntungan karena si peri sangatlah pemalu. Setiap majou bisa melihatnya, namun hanya beberapa saja yang dapat berbincang-bincang dengan mereka. Peri itu berwujud wanita cantik, dengan aura biru laut yang kentara. Katanya, apabila ada pasangan yang melihatnya, maka mereka akan menjadi jodoh dan setia sepanjang masa. Sedangkan apabila yang melihatnya adalah sahabat karib, berapa pun jumlahnya, maka mereka akan mendapatkan tiga pertanyaan untuk diuji kesetiannya sebagai sahabat.

Yamakawa-sensei pun bercerita soal legenda pesta hantu yang ada di Ryokubita, yang biasanya terjadi satu tahun sekali, tepatnya sehari setelah badai salju terjadi. Katanya, apabila hari ini terjadi badai salju, maka keesokan harinya, tepat pada pukul dua belas malam, di area pemakaman akan bergentayangan semua setan-setan Ryokubita. Mereka akan berpesta, dan menari-nari, dan bernyanyi entah dalam rangka merayakan apa. Meski pun demikian, Yamakawa-sensei juga tidak bisa memastikan dengan benar. Katanya tidak pernah ada yang melihat dua kejadian itu setelah angkatannya lulus, dan itu terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan baik setan mau pun peri, mereka dapat mengabulkan satu permintaan, secara sihir, tentu, namun tetap tidak bisa memenuhi permintaan yang berkaitan dengan nyawa.

Itu takhayul. Rei tidak percaya.



Dia memang tidak percaya dongeng. Bukan karena dia seorang laki-laki atau bahkan bukan karena sekarang ini dia sudah berusia di atas dua puluh, usia yang dikatakan dewasa menurut undang-undang Jepang pada umumnya, melainkan karena memang dia tidak pernah bisa mengerti dimana bagusnya dongeng-dongeng itu. Tidak logis. Dan bukankah semua itu kebohongan? Mana ada yang namanya Peri merubah seseorang, apalagi wanita, menjadi cantik hanya dalam hitungan jam? Kenapa tidak sekalian saja menjadi cantik selamanya? Dan kenapa bisa-bisanya seorang pangeran jatuh cinta hanya karena sebuah sepatu—bagaimana kalau sepatu itu bau? Astaga. Aneh dan akan terus aneh. Semakin dipikirkan, semakin Rei tidak mengerti.

Yukiko pernah bercerita tentang dongeng-dongeng sihir, bahkan sering. Namun karena Rei tidak tertarik, bahkan tidak percaya, dia memilih untuk cuek dan tidak mendengarnya. Yukiko tidak marah, dia hanya menggembungkan pipinya dan manyun seperti biasa, kemudian berceloteh riang sesudahnya. Atau memintanya mengajari bahasa Inggris. Dan lain-lain yang menjadi rutinitas biasa tiap hari.

Sihir memang bisa menjadikan segalanya bisa terjadi dengan mudah, sekali pun hal itu di luar logika dan sama sekali tidak logis. Dan dongeng tetaplah dongeng, tidak bisa dijadikan kenyataan. Lagi pula, apa menariknya dunia dongeng seperti itu? Dunia yang segala kebaikan pasti akan mendapatkan imbalan, dan kejahatan akan mendapatkan hukuman. Dunia yang apabila kita tetap melangkah di jalan yang lurus, maka kita aman, tidak akan tersesat di dalam hutan apabila kita melangkah menyimpang. Dan dunia yang apabila ada seorang ayah atau raja yang sakit, maka tinggal meminta kepada anak-anaknya mencarikan obat, yang tulus dan pemberani akan mendapatkannya, dan yang licik serta picik akan kalah. Kemudian, semuanya berakhir bahagia. Selalu bahagia. Tidak seru.

"Reichi-kun!!" Rei menoleh saat namanya disebut, dan berbalik memandang Yukiko. "Tuh, kan!! Bukan cuma kakekku saja yang pernah melihatnya!! Kau sih, tidak percaya!! Tidak asik!!" Rei tersenyum.


"Memang tidak percaya, itu cuma buat anak-anak," jeda, si Kiku mengernyit sebentar "kau kan anak-anak, wajar kalau percaya." dan Ryokuemon itu refleks melemparkan buku karena sebal. Pipinya mengembung seperti biasa, dan manyun.

"Hei Kazusa-chan, kau kenapa melihatku begitu?" Yukiko bersuara, memanggil Araide dengan berbisik pelan; Rei mau tidak mau menoleh memandang lagi ke belakang, mendapati gadis itu bertanya pada si Bara dengan tangan kanan melambai-lambai tepat di hadapan wajah si Bara. Matanya menyipit, bibirnya tersenyum jahil. "Cemburu, ya?—Iiih!! Jangan cemburu begitu, Reichi-kun tidak ada yang punya kok!! Kalau suka, bilang saja!! Enggak usah pakai acara duel segala."

"Enak saja!!" Si Bara memprotes, manyun. Tapi kemudian berwajah normal lagi, malah menunjukkan mimik penasaran memandang Yukiko dan berbicara pelan. "Eh, kau kan sudah putus, kok masih bisa akrab begitu sih? Kalau aku jadi kau, dan mendapati dia selingkuh dengan gadis lain, bukan cuma putus, aku pun pasti akan pura-pura tidak mengenalnya, sama sekali. Kok aku tidak tahu sih kalian putus kenapa, cerita dong!!" Tapi Yukiko tidak menjawab, dia hanya nyengir sambil menghendikkan bahu saat Rei, yang masih memandangnya, memandang gadis itu dengan isyarat memintanya diam. Dia menurut. "Eh?! Kenapa kau malah melotot ke arah Ko sih?!" Araide menyadari, dan langsung memencak.


"Tidak bisakah kau untuk tidak bergosip?" Rei bertanya kalem.

"Memang kenapa? Mulutku ini, bukan mulutmu!!"

"Tidak masalah, sebenarnya. Terserah kalau kalian mau bergosip. Tapi bukankah sudah aku katakan, jangan campuri urusanku." Araide mengerenyit, tangannya meremas kertas dengan sangat kesal, jelas dia merasa kesal. "Lagi pula, kalau kau memang seorang anggota Hikari Journal, yang katanya bisa mendapatkan berita dengan sangat mudah serta akurat, terpercaya, atau apalah itu namanya, kenapa tidak kau cari tahu sendiri saja?" Rei tersenyum meremehkan.

"Kau benar-benar cowok yang enggak punya hati—" Araide celetuk, memulai untuk memprotes dirinya entah untuk keberapa kali. "Aku jamin, pasti tidak ada yang akan menyukaimu setelah semua ini!! Hanya keajaiban saja yang bisa—"

"Aku tidak percaya keajaiban. Aku percaya kenyataan."

"—kau tidak percaya keajaiban? Kau tidak percaya mimpi?" si Bara mangap, kaget. "Kau—apakah kau tidak percaya dongeng yang barusan?" Rei terdiam, tidak menjawab dan memilih hanya menghendikkan bahunya seraya mengerlingkan matanya, mencoba sabar dengan pertanyaan Araide lainnya. "Ya ampun?? Kau tidak percaya??? Kasihan!!" tapi kali ini, Rei menahan nafas, memandang gadis Bara itu dengan ekspresi sedikit bingung, bercampur kesal. "Kau tahu? Aku menang satu point darimu"

"Harus ya, semua anak di dunia ini percaya dongeng?" tanya Rei kalem.

"Kau dulu percaya sihir tidak? Buktinya sekarang ada kau mempelajari sihir, bukan? Nah, dongeng pun begitu!! Jangan bilang tidak ada dongeng kalau ternyata suatu hari nanti kau harus menelan bulat-bulat perkataanmu barusan!! Lihat saja!!"

"Apa untungnya bagiku percaya dongeng?" Araide tidak menjawab. "Tidak ada, kan?"

"—sungguh, kau ini masa kecil kurang bahagia."

Tidak ada suara, Rei hanya memandang Araide sebentar, kemudian berbalik. Entah kenapa. rasanya benar-benar menyakitkan.


—oOo—


"Kau percaya semua dongeng itu?"

"Percaya."

"Aku sama sekali tidak, menurutku aneh."

"Sayang sekali, padahal kalau kau percaya, pasti akan seru jadinya."

"Yah, aku tidak akan percaya kalau belum melihatnya."

"Kalau begitu, kenapa senpai tidak melihatnya saja?"

"Apa kalau aku sudah lihat, dan aku percaya, kau mau menerimaku?"

"...."



—oOo—

Label: , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //