Unbirthday Party - 7 (part 1)
Sabtu, 29 Oktober 2011
@10/29/2011 08:22:00 PM
Disclaimer :
- Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
- Kyoshiro Kitazawa punya gue as co-PM
- Fuji Amamiya punya Anna
- Dan beberapa chara yang di sebut punya PMnya masing-masing.
oOo
"Omong-omong, kau ini memang susah bicara, ya?"
"―umm... Maaf."
"Kalau kau kesulitan bicara―katakanlah lewat tulisan. Pernah mencoba?"
oOo
Gelap.
Adalah hal terakhir yang aku ingat dalam masa hidupku.
Kematian yang tragis aku alami ketika aku masih menjadi murid di sekolah sihir Ryokushoku o Obita, yang mengharuskanku menjadi sosok hantu karena sesuatu hal, dan kemudian terjebak di dalam badan kastil sekolah sihir ini. Menjadi hantu bukan hal yang jelek, bahkan menyenangkan. Aku tak akan mengalami apa yang namanya masa penuaan, tak ada perubahan wujud, tak ada pula pertumbuhan. Aku akan tetap seperti ini, berambut hitam legam dengan tubuh pendek mungil. Namun tidak semuanya menyenangkan, karena terhitung sejak aku mati, maka hanya ada keabadian membosankan yang akan menemaniku. Aku tidak bisa berkembang menjadi tua dan menyeruput teh sembari berujar bagaimana menyedihkannya anak muda generasi setelahnya, bersama kawan-kawanku yang lain. Penyesalan terbesar bagiku adalah kematian, karena kematian menghentikan waktuku.
Setidaknya aku masih menyimpan beberapa hal yang dibawanya semenjak mati, wujudku, pengetahuan, tamagotchi, dan rasa manusiawi yang aku miliki, singkatnya aku masih memiliki perasaan. Tidak berubah menjadi setan yang tak berperasaan juga nampak sudah oke.
“Kyoshiro-san?”
Aku terhentak kaget dan buru-buru menoleh saat gadis sakura itu memanggil nama kecilku dengan suaranya yang pelan seperti biasa. Fuji-chan tengah menatapku—meski malu-malu—dengan ekspresi khawatir yang terang-terangan. Alisnya saling berpautan, wajahnya mengkerut bingung, matanya menyorotiku dengan tatapan cemas yang tak luput memperhatikan tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku hanya tersenyum melihatnya, bahkan nyaris terkikik geli. “Kenapa Fuji-chan?”
“Uumm, sepertinya justru… yang kenapa itu Kyoshiro-san…” sahutnya terus terang dengan suaranya yang pelan. Fuji langsung menunduk mengalihkan tatapannya saat mataku memandang mata hitamnya, enggan melihat ekspresi bingungku yang kentara. “Maksudku, rasanya Kyoshiro-san seperti sedang tidak fokus… Eemm, maksudku bukan itu.. seperti ada yang Kyoshiro-san pikirkan…”
“Oh?”
Dia mengangguk kecil sambil melirikku, dengan tangan sibuk memilin-milin ujung seragam sekolahnya sesekali. Melihat sekaligus mendengar ucapannya barusan, aku hanya bisa mendengus kecil; tersenyum tipis menimpalinya—kemudian menggeleng, lalu menghendikkan bahu. “Masa? Sepertinya sih tidak…” jawabku sekenanya. Meski pun mulutku barusan berujar seperti itu, pada kenyataannya ucapan gadis itu benar adanya dan tidak bisa dipungkiri.
Aku memang sedang tidak fokus sedari tadi, atau lebih tepatnya sejak awal ajaran baru tahun ini, sejak Fuji-chan lebih sering menyisihkan waktunya untuk bertemu denganku sekali pun dia sedang sibuk. Aku merasa tidak enak hati—jelas, padahal sebenarnya akulah yang bisa mengunjunginya karena aku hantu, yang tidak punya keterkaitan lagi dengan waktu entah itu sibuk atau tidak. Tetapi faktanya, belakangan ini justru dialah yang melakukan semua itu, setiap waktu.
Pikiranku semakin sering melayang kesana kemari, memikirkan banyak hal yang terus terang saja, benar-benar menggangguku, mengganggu sebuah fakta kalau aku ini hantu yang hidup dengan keadaan yang lepas, tanpa pikiran. Tapi dengan pikiran yang terus bergelayut di otakku, rasanya sekarang aku seperti hidup lagi, seperti menjadi seorang manusia yang memikirkan ini dan itu—memikirkan Fuji Amamiya lebih tepatnya.
“Sepertinya Kyoshiro-san bohong…”
“Eeh? Begitukah?"
“Eeh—maksudku sebenarnya hanya… emm, gimana ya.. rasanya Kyoshiro-san tidak seperti biasanya, rasanya Kyoshiro-san hari ini lebih banyak diam…” tutur Fuji-chan pelan. Mendengar hal itu sekali lagi aku hanya bisa terkekeh geli; menghela nafas berat sesudahnya, mencoba untuk mengusir gelisah yang sedari tadi bergelayut di dada—meski yah, memang pada kenyataannya tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Aku kan sudah mati, oksigen dan karbon dioksida yang terdapat pada setiap hembusan nafas manusia sudah tidak berlaku lagi untukku.
“Uumm, a-apakah aku salah bicara?”
“Yah— tidak sih. Bisa saja itu hanya perasaanmu saja kok. Kau lupa? Aku kan hantu, dan hantu apa coba yang dipikirkan sampai sebegitunya? Tidak ada kan? Jadi tidak mungkin aku galau. Lagi pula, aku tidak apa-apa kok.” Sahutku setengah bercanda. Gadis berambut hitam itu hanya tersenyum simpul mendengarnya, dan mengangguk kecil meski bibirnya masih terkatup rapat, tidak berbicara. “Hee, memangnya kau enggak percaya ya?”
Fuji menengadahkan kepalanya, mulutnya terbuka sedikit sambil menggeleng-geleng cepat, menyangkal ucapanku barusan dengan isyarat meski dia sama sekali tidak berkata ‘tidak’ sebagai jawaban. Seperti sebelum-sebelumnya aku hanya tersenyum tipis, dan Fuji masih diam.
“Be-begitukah?”
“Iya.”
“Ka-kalau Kyoshiro-san sudah berkata begitu… yah—t-tapi…”
“Itu hanya perasaanmu saja, Fuji-chan. Aku baik-baik saja—“
—dan akan selalu baik-baik saja.
Mengangguk kecil sambil terus meyakinkan Fuji, aku terus menerus berujar kalau aku baik-baik saja, berusaha membuat gadis berambut hitam itu percaya akan ucapanku. Sesekali aku mengalihkan pembicaraan, menceritakan tentang tamagotchi merah milikku, atau menceritakan tentang kehidupan Ryokubita waktu dulu sampai sekarang. Aku juga sesekali bertanya dengan nada santai tentang kehidupan Fuji selama liburan kemarin, tentang apa-apa saja yang dia lakukan selama dia tidak di Ryokubita.
Bahkan, aku pun sempat memintanya untuk menceritakan tentang dunia di luar sana—luar Ryokubita, tidak hanya di daerahnya tinggal, tetapi di tempat yang lain. Bertanya seperti apakah Tokyo sekarang, seperti apa Yokohama sekarang, atau Hokkaido, atau yang lainnya. Memang, Fuji tidak bisa mendeskripsikan dengan baik kota-kota yang aku tanyakan, dia menjawab sesuai dengan apa yang dia dengar dari mulut teman-temannya, atau dari yang pernah dia baca. Akan tetapi, setidaknya gadis itu sudah bisa menjelaskan bahwa semua kota itu sudah berubah dari sejak aku terakhir kali melihatnya—sejak aku mati.
“Apakah… umm—apakah Kyoshiro-san ingin keluar dari… Ryokubita?”
Aku tersentak mendengar pertanyaan retoris Fuji barusan. Kalimat sederhana itu membuatku langsung menoleh ke arahnya, memandangnya dengan tatapan kosong dan dengan ekspresi yang nyaris tidak bisa di terka. Jelas, aku tertegun sekaligus sedih, atau mungkin marah, bahkan bisa di bilang menyesal. Fuji juga ikut tersentak kaget melihat ekspresiku, dia langsung menunduk, rona pipinya berubah merah seketika. “Eh? A-anu, apakah a-aku salah bicara lagi ya… Kyoshiro-san?” tanya Fuji dengan suaranya yang jauh lebih pelan dan lirih.
Aku hanya memandangnya, lama.
“Ryokubita ini rumahku. Aku sudah bilang, kan?”
“Uum… ta-tapi bukankah ada kalanya, orang ingin keluar dari rumah?”
Aku tidak menjawab.
Menengadahkan kepalaku memandang langit yang sudah berangsur-angsur gelap, aku hanya bisa menghela nafas sekali lagi. Entah kenapa, untuk pertama kalinya selama tujuh tahun mengenal dan berbicara banyak hal dengan Fuji, aku ingin hari ini cepat berakhir, aku ingin menghilang, atau meminta Fuji untuk kembali ke asramanya dan membiarkan aku sendirian. Untuk pertama kalinya, aku ingin menangis karena Fuji, menangis dalam arti sebenarnya. Menangis karena sedih, bukan karena terharu seperti tahun-tahun kemarin.
“Aku sudah mati, Fuji.”
Gadis itu terhentak lagi, merasa aneh sekaligus kaget karena mendengar namanya di sebut tanpa kata `–chan` seperti biasanya. Jelas, dia pasti menangkap maksud dari ucapanku, entah dari kata-kata atau dari itonasi nada suara. Aku marah sekaligus kecewa, atau mungkin juga sedih. Entahlah, campur aduk. “Aku bukan manusia lagi, perbedaannya sudah terlihat jelas,” sahutku pelan tanpa memandang Fuji. “Jangan samakan aku dengan kalian.”
Munafik.
Tidak ada respon dari Fuji dan membuat sekitarku justru menjadi lebih hening setelah aku berujar seperti itu. Hanya ada suara angin dan gesekan dari dedaunan yang seolah mengejekku, atau memarahiku karena sikapku barusan. Aku menyesal, tentu saja, tapi entah kenapa aku tidak bisa menahan mulutku untuk tidak berbicara seperti itu.
Sedih.
“Ma-maafkan aku, Kyoshiro-san…” ujar Fuji pada akhirnya. Aku tidak menjawab lagi, hanya terdiam dengan helaan nafas berkali-kali. Sesekali pula aku memejamkan mata, antara ingin mengusir rasa sakit di dada, sekaligus menahan air mata. Lagi, aku dikejutkan oleh Fuji ketika dia dengan sangat malu-malu menarik tangan kananku, membalikkan telapak tangan dan mulai menggerakkan telunjuknya—menulis.
`Bagiku, kau sama`
`bagiku kau manusia. Setidaknya untukku, dan mungkin hanya untukku, Kyoshiro-san.`
Aku tidak tahu harus berbuat apa dan gadis itu sama sekali tidak memandangku; hanya bisa tertegun lama.
“A-apa aku salah bicara?—”
“—Bohong kok.”
“Eh?”
“Aku bohong padamu. Maafkan aku.”
“Bo-bohong? Bohong tentang… apa?” Fuji menengadahkan kepalanya, memandangku dengan ekspresi cemas sekaligus tidak mengerti yang sangat kentara. Aku sendiri malah tidak balas memandangnya. Aku hanya memandang telapak tanganku seolah tulisan itu terukir abadi di sana, permanen seperti sebuah tatto.
“Sebenarnya, aku memang ingin pergi meski cuma satu kali. Ya. Satu kali pun tak apa, tapi sayangnya aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa. Padahal aku ingin keluar, aku ingin pergi, aku ingin melihat dunia sekali lagi—“
—aku ingin hidup.
Tidak ada suara atau reaksi kecil setelahnya. Baik aku mau pun Fuji tidak ada yang bergerak, tidak ada sebuah pelukan, atau belaian yang menenangkan seperti yang biasanya orang lakukan satu sama lain. Aku sadar, aku sudah mati dan sudah menjadi hantu. Ada kalanya hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh manusia tidak bisa dilakukan oleh hantu sekali pun sosok Fuji Amamiya ini tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis yang memang terbiasa menyentuh lelaki.
“Adakah… yang bisa aku lakukan?”
Aku menggeleng sebagai jawaban, sebagai isyarat kalau aku sendiri tidak tahu. Atau mungkin bisa diartikan sebagai jawaban tidak ada yang bisa dia lakukan sama sekali. Entahlah, biarkan Fuji sendiri yang memutuskan jawaban mana yang akan dia ambil. Suasana seketika kembali hening, bahkan sekarang tidak ada suara dedaunan yang bergesek karena angin. Sepi seperti biasa.
“Sebenarnya ada kok cara yang bisa kau lakukan untukku—“ untuk tetaplah berada di sini denganku, selamanya. “—bisakah kau ceritakan semua yang kau lihat padaku?”
“Apakah itu akan membuatmu senang?”
Aku mengangguk.
“Dan teruslah tersenyum, Fuji-chan. seperti yang aku pinta dulu, seperti apa yang aku ajukan tujuh tahun yang lalu.”
oOo
Rabu, 7Juli 2010
Fuji Amamiya, 22 tahun - Kyoshiro Kitazawa, 16 tahun.
oOo
Label: Fanfiction, Fuji Amamiya, Kyoshiro Kitazawa, Ryokubita
❝ You were never there. We never met ❞
Hello, my name is Dila! I'm from Indonesia. I love writing, I love reading, I love travelling, and all my story-archives blog, journal-day, portofolio and review-book is random things. This post belongs to me (Contains all sort of stories, drabbles, and roleplays).
I'm introvert who is proud of his personality. Getting energy from being alone or just talk with one or two close friends. Shy who do not like crowds. The quiet that nagging in writing. Anw, judging from the title lagging behind the long name, should I work in design or creative industries. In fact, yes, I did——but, life is not merely a rod straight as a stick to sweep the yard. While still young, I do not want to shut my self behind the counter. Eits, again is a matter of choice.
