<body>
I want to spend my life time, loving you
Rabu, 24 Juni 2015 @6/24/2015 05:48:00 AM



"Kyoshiro-san? Kamu disana, kan?"
Hening, tak ada jawaban, dan Fuji Amamiya pun terlihat menghela nafas berat. Aku hanya bisa menatap gadis Sakura dihadapanku dalam diam, membiarkan sunyi menyelimuti malam ini sebagaimana malam-malam lainnya.
"Kyoshiro-san... apa kabar?" Kudengar suaramu lagi, lembut seperti biasa, lirih sebagai mana hatimu berbicara. Aku tersenyum menjawabnya meski itu sia-sia. "Selamat tahun baru. Sudah nyaris satu tahun, tidak terasa, ya?" Katamu lagi. Aku mengangguk. "Tapi tahun ini, sebelum festival Tanabata itu datang, aku... um, sepertinya sudah tidak ada di sini..." jeda "um, upacara kelulusanku akan diadakan di bulan maret, jadi, um..."
Gadis itu menggantungkan kalimatnya, memilih untuk mempersilahkan sunyi menguasai sekelilingnya, membiarkan aku yang sudah mati penasaran ini semakin penasaran. Fuji-chan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang perlahan merona kemerahan, membuat pipi mulusnya tampak manis dengan semburat warna merah tipis yang perlahan-lahan merambat sampai ke telingga.
Aku menguatkan kepalan tanganku, menahan diri untuk tidak berbicara apa-apa. Untuk tidak menampakkan diri padanya. Lagi, dan lagi.
Lalu, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya, dengan nafas pelan namun panjang sebagaimana kebiasaannya kalau sedang berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Ah, maafkan aku karena tak lagi meminjamkan telapak tanganku untukmu menulis, Fuji-chan...
"Kyoshiro-san, um... aku..."
Hening.
Lama.
"Kyoshiro-san, aku... aku senang sekali dan bersyukur bisa ada di sini, bertemu denganmu, dan... um, merayakan tahun-tahun yang menyenangkan bersamamu..." matamu kini tampak memerah, dan kedipan matamu mulai tak beraturan--kadang cepat, kadang pelan. Aku masih terpaku, dengan isi perut bergejolak tak tahu mengapa. "Kyoshiro-san..." tangan kananmu terulur ke depan, menggapai udara kosong dengan sia-sia.
Kali ini, aku sudah tak tahan lagi.
Ku raih tanganmu, meski aku yakin, gadis itu tidak akan merasakan sentuhan apapun. Matamu semakin memerah, dengan air mata menggunung terhalang oleh pertahananmu--meski sedetik kemudian, tak kuasa lagi kau tahan sehingga ia jatuh membasahi pipimu.
Jangan menangis.
"Kyoshiro-san..."
Aku disini, Fuji-chan.
"Kyo..."
Jangan menangis...
"Aku menyukaimu."

Label: , , , ,



北沢 京 : Day 4
Sabtu, 19 Mei 2012 @5/19/2012 03:22:00 AM






DAY 4




Halo, aku Kyoshiro Kitazawa !


Bukan bermaksud untuk menguping sih sebenarnya, tapi sewaktu tadi aku melintasi ruang rekreasi asrama, aku mendengar cerita anak perempuan yang tengah menangis tersedu-sedu sambil bercerita histeris bahwa dia baru saja bertengkar dengan ayahnya dan dari nada suaranya sepertinya anak itu menangis sambil marah-marah (atau marah-marah sambil menangis, tak tahu lah). Dia bercerita heboh sekali ke temannya dan hebatnya temannya terlihat sangat sabar mendengarnya. Kalau kata Terry, hal itu wajar untuk anak perempuan—maksudnya semacam histeria berlebihan meski anehnya aku tidak pernah melihat Fuji histeris—karena mereka menggunakan perasaan ketimbang logika seperti anak laki-laki. Aku tidak yakin sih, dulu aku juga pernah bertengkar hebat dengan Ayahku dan aku juga sampai menangis heboh seperti itu, jadi apa aku anak perempuan? 

Kejadian ini sudah sangat lama. Kira-kira saat aku berumur tujuh tahun dan Megumi berusia dua tahun. Masalah sepele, seperti biasa, tentang aku dan adikku yang harus pergi ke Rumah Penitipan Anak setiap harinya karena Ayah dan Ibu harus bekerja. Biasanya yang mengantar kami ke Rumah Penitipan Anak itu Ibu atau Hinishi-san, tapi karena Hinishi-san sedang libur dan Ibu sudah pergi kerja lebih dulu, jadilah Ayah yang mengantar kami, dan Ayah sangat menjunjung tinggi kesehatan keluarga, maka kami pergi ke Rumah Penitipan Anak dengan jalan kaki, bukan dengan sepeda seperti biasa. Aku ingat, aku berjalan di sebelah kiri Ayah sedangkan Megumi berada di sebelah kanan. Kami menggandeng tangan Ayah satu-satu dan berjalan sambil melangkahkan kaki besar-besar karena kaki Ayah panjang sekali dan karena panjang langkahnya lebih besar ketimbang langkahku atau langkah Megumi. Ayah tidak banyak berbicara sewaktu mengantar kami, padahal bagiku berjalan-jalan (meski hanya menuju Rumah Penitipan Anak) dengan Ayah sangatlah jarang jadi sebisa mungkin waktu itu aku benar-benar menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan beliau. Megumi sebenarnya juga berpikiran sama denganku, tapi dia lebih takut dengan Ayah jadi dia memilih diam. Dan mungkin karena aku laki-laki jadi mungkin aku lebih berani. 

Yang aku ingat adalah saat itu aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Ayah yang meski pertanyaanku panjang dan banyak sekali, Ayah hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala, atau hanya melirikku dan menatapku lama, atau bahkan hanya mengeluarkan suara seperti ‘hmmm’ pelan seakan-akan pertanyaanku tidaklah penting. Tapi saat itu aku tidak menyerah, aku terus melontarkan pertanyaan pada Ayah, dan aku ingat, pertanyaan pertama yang aku ajukan adalah tentang nama “Ayah, kenapa ayah menamaiku Kyoshiro?” tanyaku saat itu. Ayah hanya melirikku lalu kembali menatap jalanan setapak di depan. Tapi akhirnya Ayah menjawab, katanya Ibuku-lah yang memberiku nama itu. Lalu aku tanya, kalau Ayah dulu ingin aku bernama siapa, dan Ayah menjawab “Hiromi” yang maksudnya adalah cantik—aku langsung menggembungkan pipiku tentu saja, sebal mendengarnya. Lalu aku bertanya, bagaimana reaksi Ayah saat pertama kali aku lahir. 

Ayah hanya tersenyum tipis—aku menyadarinya karena mata Ayah menjadi lebih sipit dibandingkan biasanya!—meski tidak ada jawaban apa-apa sekali pun aku memaksanya. Aku terus menerus menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi tentang Ibu, tentang Megumi, tentang Hinishi-san atau tentang tetangga-tetangga sebelah yang tidak sekali pun Ayah menjawabnya dengan pasti. Lalu karena kesal, aku bertanya apakah Ayah benci padaku sampai-sampai Ayah tidak pernah berbicara padaku. Yang kudapat adalah raut wajah Ayah yang sedih langsung menatapku. Aku dulu tidak mengerti tentu saja, jadi aku terus memaksanya menjawab, aku bertanya “kenapa?” terus-menerus. Tapi itu malah membuat Ayahku marah, dia membentakku keras sekali. Dia bilang “DIAM!” dengan suara lantang yang belum pernah aku mendengarnya secara langsung. Aku sontak terkejut saat itu, Megumi juga, tapi mungkin karena aku memang anak bandel, aku kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan egois seperti “Ayah benar-benar tidak menyayangiku!” lalu “Kenapa Ayah membentakku? Aku kan cuma bertanya!” atau “Ayah lebih sayang Megumi-chan ya!?"

Tentu, jeritan-jeritanku tidak digubris oleh Ayah sehingga aku kesal sekali. Aku lalu langsung lari ke Rumah Penitipan Anak dan menangis di situ. Megumi-chan yang melihat juga ikut menangis tapi aku mengabaikannya. Sampai sore hari ketika aku harus pulang, aku merengek untuk tidak pulang sampai berteriak-teriak "Pokoknya aku tidak mau! Tidak mau! Aku benci Ayah!" begitu. Ternyata yang menjemputku bukan Ayah, tapi Ibu, dan begitu melihatku menangis, Ibu hanya memelukku dan membiarkanku menangis meraung-raung seperti orang gila. Katanya aku harus menangis sampai aku tenang, karena dengan begitu aku bisa merasa lega. Megumi juga begitu, dia menangis sampai merasa lega.

Setelah puas menangis, Ibu berkata padaku kalau Ayah sayang sekali padaku dan Megumi-chan. Ayah adalah orang yang adil, dia tidak pilih kasih dalam membagi kasih sayangnya sebagai seorang Ayah. Meski Ayah tidak pernah berkata apa-apa, bukan berarti Ayah tidak peduli. Kalau Ayah tidak sayang padaku dan Megumi, Ayah pasti sudah membiarkan aku dan adikku berada di rumah terus menerus ketimbang mengantarku ke tempat yang aman (Rumah Penitipan Anak). Tapi buktinya, Ayah meluangkan waktunya untuk mengantar kami dan membiarkan dia pergi bekerja dengan waktu yang sudah terbuang untuk kami di sini. Aku mendengarnya jadi merasa malu, dan saking malunya aku tidak bisa meminta maaf pada Ayah.

Yang aku lakukan hanya memeluk Ayah lama setelah pulang dari Rumah Penitipan Anak, berdua dengan Megumi. Kami tidak berkata apa-apa pada Ayah, tidak ada kata 'Ayah maafkan aku' atau 'Ayah aku salah' atau apa. Kami hanya memeluknya erat dan lama sekali sampai-sampai Ayah keheranan saat itu. Tapi aku senang, Ayah membalas pelukan kami sama eratnya lalu membiarkan kami pergi ke kamar setelah itu. Hubunganku dengan Ayah memang aneh, tapi aku sayang pada Ayah. Mungkin ucapan Terry benar, Ayah menggunakan logika ketimbang perasaan, makanya saat bertengkar denganku dia tidak menangis. Mungkin Ayah berpikir kalau aku harus di didik seperti itu? Tidak tahu juga sih.

Tapi bukan berarti aku perempuan! Anak-anak kan, suka menangis.

Label: , , , , , , ,



北沢 京 : Day 3
Rabu, 16 Mei 2012 @5/16/2012 01:57:00 AM






DAY 3




Halo, aku Kyoshiro Kitazawa ( ´ ▽ ` )ノ

Lucu tidak kalau aku bawa-bawa emot seperti itu? Katanya jaman sekarang sedang marak sekali dimana-mana, bukan? Aku hanya ingin menyesuaikannya saja, lagian tidak ada salahnya. Kali ini aku ingin menceritakan tentang masa kecilku. Tidak tahu kenapa tiba-tiba ke pikiran saja. Yah, sebenarnya sih hal ini ke pikiran sewaktu aku bergentayangan melintasi asrama Bara, tidak sengaja aku mendengar cerita-cerita tentang keluarga mereka yang berujung bercerita tentang masa kecil mereka. Tahu-tahu saja, aku jadi kangen masa kecilku. Sebenarnya sih tidak ada yang spesial dengan masa kecilku, tapi aku mendadak kangen saja, lagi pula tidak ada salahnya kan kalau kalian tahu tentang masa kecilku?

Aku lahir tanggal 15 Juli tahun 1980. Kata orang tuaku, aku lahir sekitar tengah malam, tidak tahu tepatnya tanggal berapa, dan katanya juga golongan darahku adalah O. Tidak begitu yakin sih sebenarnya, aku sudah sedikit lupa tentang ini tapi untuk tanggal lahirku sih tentu saja aku ingat. Tanggal matiku sendiri kalau di nisan tertulis 25 Juli 1996 tapi aku tidak yakin apakah sehari sebelumnya aku memang sudah mati atau memang tepat di hari itu, yang jelas aku mati ketika usiaku genap enam belas tahun. Mungkin tanggal itu benar adanya, setidaknya ucapan Andou-san—Daitokuji Andou si penjaga kuburan, dia sudah seperti keluargaku sendiri karena kalau bukan karenanya, mungkin kuburan-kuburan di Ryokubita tidak akan terawat seperti sekarang—meyakiniku bahwa memang aku mati tanggal 25 Juli. Yah aku percaya padanya.

Megumi sendiri lahir lima tahun di bawahku, aku terus terang saja tidak ingat lagi kapan tepatnya dia lahir, yang aku ingat hanya usianya berbeda lima tahun di bawahku. Dia adik perempuan yang sangat manis, saking manisnya aku terlalu protektif terhadapnya. Kata Ibu, tindakanku keterlaluan, katanya bagaimana kalau sampai Megumi-chan tidak bisa tumbuh kembang menjadi anak perempuan yang kuat karena terus menerus dikekang oleh kakaknya, tapi kata Megumi-chan justru dia menyukainya, jadi akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengikuti saran Ibu meski aku katakan pada Megumi-chan bahwa kalau dia butuh aku, dengan sekuat tenaga aku pasti membantunya.

Sebenarnya untuk masuk ke kawasan rumahku itu harus melalui jalanan setapak yang kecil, yang kata Ayah itu adalah jalan paling aman dari orang-orang yang iseng dan jahat. Aku tidak percaya sebenarnya, tapi kalau malam sekitar rumahku sepi sekali, sepertinya kemungkinan terjadinya tindak kriminal pastilah besar. Dan karena masuk ke kawasan rumahku sangatlah kecil, aku tidak begitu kenal dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah, aku hanya mengenal Takahasi-sensei yang sebenarnya dia itu guru lesku setiap sore, tapi dia juga seorang dokter hewan (aku sering kali main ke tempatnya karena di sana banyak sekali kucing dan anjing!). Lalu aku juga mengenal Bibi Matsumoto yang jualan banyak barang di toko kelontongnya yang tepat berada di depan jalanan rumahku. Bibi orangnya galak tapi anehnya barang-barangnya selalu habis setiap hari. Kata Ayah, itu karena Bibi Matsumoto orangnya tegas sekali, makanya disegani (aku dulu tidak tahu artinya disegani apa.)

Selain itu aku juga kenal Hinishi-san, kakak perempuan yang menjadi pengasuhku dan Megumi-chan kalau Ayah dan Ibu pergi keluar rumah untuk waktu yang lama. Hinishi-san tinggal tak jauh dari rumah kami, dia adalah anak sulung dari lima bersaudara dan adik-adiknya katanya sama nakalnya sepertiku, tapi aku sih tidak peduli, yang jelas begitu aku bertemu dengan adik-adik Hinishi-san, aku masih jauh lebih keren dari pada mereka.

Kenangan masa kecilku kurang lebih sama seperti anak-anak lain pada umumnya. Kami bermain ke lapangan rumput luas tak jauh dari perumahan kami dan bermain baseball saat itu. Aku tidak jago olah raga, tapi aku lumayan mahir bermain itu meski aku akui aku malas sekali bergerak. Waktu kecil juga aku dan teman-temanku bermain kumbang dan saling adu kuat. Megumi-chan sering kali mengomeli kami karena katanya kasihan kumbang itu pasti kesakitan, tapi yang ada Megumi-chan dan teman-teman perempuannya-lah yang akhirnya kami kejar-kejar dengan kumbang. Di pikir-pikir aku dan teman-temanku memang jahat sih. Selain bermain kumbang, aku ingat dulu aku sering sekali bermain pesawat kertas dengan teman-temanku yang lain, membuat camp rahasia, bermain macam-macam mainan. Rasanya menyenangkan.

Waktu kecil aku dan Megumi-chan sering kali berada di Rumah Penitipan Anak ketimbang di rumah karena kedua orang tua kami bekerja. Aku tidak begitu kesepian meski Ibu atau Hinishi-san selalu paling akhir menjemput kami karena orang-orang di Rumah Penitipan Anak sangatlah baik hati. Apalagi ada banyak anak di Rumah Penitipan Anak itu meski yah, ketika menjelang sore teman-temanku mulai pulang satu persatu dan akhirnya aku selalu tinggal berdua dengan Megumi-chan untuk menunggu dijemput. Pada waktu di Rumah Penitipan Anak, Megumi-chan pernah bilang katanya aku anak yang introvert dan cengeng, bahkan lebih cengeng dari pada dia. Aku sih hanya tertawa kalau mengingatnya.

Aku dan Megumi-chan sebenarnya sebal sekali kalau harus pergi ke Rumah Penitipan Anak. Kami sering kali memberontak dan merengek-rengek ketika Ibu atau Ayah mulai menarik kami ke luar rumah. Kami selalu berteriak "tidak mau! Tidak mau!" keras sekali sampai menangis. Tapi Ibu dan Ayahku sama-sama orang yang tegas—apalagi Ayahku—makanya pada akhirnya selalu kami-lah yang kalah, bisa karena ancaman palsu, atau benar-benar di paksa naik sepeda dengan sepatu dan tas di masukkan ke keranjang sepeda.

Di Rumah Penitipan Anak kami diajari banyak hal, salah satunya yang paling aku ingat adalah ketika kami ditanya tentang cita-cita. Sampai sekarang sebenarnya aku percaya kalau aku ini adalah Kamen Rider! Sedangkan Megumi-chan selalu menjawab dia ingin menjadi seperti aku! Aku juga pernah bilang aku ingin menjadi Santa Claus karena aku sangat percaya kalau Santa Claus benar-benar ada. Aku menyukai Santa Claus karena dia memberiku hadiah dan suatu hari aku ingin seperti dia yang bisa memberi banyak hadiah pada anak-anak sepertiku dulu. Meski setelah masuk tingkat pertama, aku tahu sih sebenarnya Santa Claus itu tidak ada, tapi aku dan Megumi-chan masih terus percaya sebenarnya dia ada, makanya kalau di tanya, kami tetap bilang “dia ada”. Orang-orang di Rumah Penitipan Anak hanya bisa menggeleng-geleng mendengar cerita kami saat itu.

Tapi ketika aku berusia sepuluh tahun, atau mungkin sekitar kelas lima atau enam SD, aku tidak lagi berada di Rumah Penitipan Anak, hanya Megumi-chan yang itu pun tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian dia meminta pada Ibu dan Ayah untuk tinggal di rumah karena katanya ada aku yang bisa menjaga. Aku menyanggupinya, dan seolah-olah hanya tinggal berdua dengan Megumi-chan, aku hampir melakukan semuanya sendiri seperti memasak nasi, buat ramen pun, mencuci baju, dan segala hal lainnya (meski tetap masih di bantu Hinishi-san!). Saat itu aku benar-benar merasakan hal-hal seperti, “Aduduh, panas!” atau “Yahh, jatuh~” saat memasak alias tidak bohongan seperti ketika aku bermain masak-masakan dengan Megumi-chan.

Sebenarnya aku tidak yakin apa yang aku ceritakan ini apakah benar-benar kenanganku sendiri atau kisah yang diceritakan orang padaku. Tapi aku percaya, kalau aku bisa menceritakan sampai sedetail ini tandanya ini memang aku alami. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang masa kecilku, namun sepertinya aku harus petapa di kuil untuk beberapa saat agar ingatanku benar-benar jernih sehingga aku bisa menceritakan banyak hal tentang Kyoshiro Kecil itu seperti apa (haha). Dan jujur saja, aku ingin sekali bercerita tentang Megumi-chan dan keluargaku tapi entah kenapa sulit sekali mengingat mereka.

Mungkin karena saking kangennya justru hal-hal yang ingin di ingat tidak keluar.

Pernah tidak kalian mengalami itu?

Label: , , , , , , ,



北沢 京 : Day 2
Senin, 14 Mei 2012 @5/14/2012 08:58:00 PM





DAY 2




Kau pikir siapa lagi yang menulis semua ini selain Kyoshiro Kitazawa?

Tahun 1993, tanggal 17 April di Musim Semi, kalau aku tidak salah ingat itu adalah hari sabtu, hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah ini setelah sebelumnya selama dua minggu ke belakang aku mengurus segala macam keperluanku untuk sekolah yang—sungguh itu sangat merepotkan!! Apakah sekarang juga? Wah, sepertinya dari dulu tidak berubah ya jaman ke jaman, tapi saranku sih nikmati saja! Menyenangkan kok karena di tengah-tengah repotnya kalian, kalian bisa menemukan teman baru sepertiku! Yep, aku ingat pertama kali aku mengenal Kei Yamazaki saat aku kelimpungan menggiring banyak buku yang baru aku beli. Waktu itu buku-bukuku tiba-tiba terjatuh karena kakiku tersandung batu kecil di jalan setapak. Alhasil tentu saja, buku itu berserakan kemana-mana. Lalu tahu-tahu saja, Kei datang dan membantuku. Itulah perkenalanku dengan Kei untuk pertama kalinya.

Kei orang yang arogan, sama sepertiku, tapi dia masih bisa menahan diri.

Tidak tahu sih, yang jelas aku lebih keren.

Keren sekali.

Oh lanjut. Mungkin karena kita sama-sama memiliki sifat arogan, makanya aku masih ke asrama Bara. Asrama itu dilambangkan dengan bunga mawar yang berwarna merah pekat. Kata Mori-sensei (waktu itu kepala Asrama Bara itu Nagataki Mori, sekarang berubah-ubah ya?) asrama Bara itu diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memiliki jiwa ambisius—bersemangat hingga terkadang akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Aku tidak yakin sih dulu aku ambisius karena apa, apakah sekolah ini tahu aku begitu ingin keluar dari rumah sehingga aku berada dalam kategori 'melakukan apapun agar tujuannya tercapai'? Tidak tahu sih, yang jelas aku cukup senang karena aku masuk asrama Bara. Warnanya merah soalnya, dan merah itu keren.

Selain Kei, aku juga bertemu banyak-banyak orang dari berbagai asrama dengan karakteristik yang berbeda-beda. Seperti misalnya aku bertemu dengan Touya Morimoto yang sama-sama dari Bara tapi dia orangnya tekun sekali! Bayangkan! Setiap hari belajar! Aku sih muntah duluan kali ya kalau melihat buku setiap hari, bahkan lebih dari semenit aku pun meragukannya. Lalu bertemu dengan Takumi Ogawa dari asrama Kiku yang sumpah deh berisik! Setiap kali bertemu dengan Ogawa-kun, astaga rasa-rasanya gendang telingaku mau pecah mendengar dumelannya dan ceramahnya yang luar biasa menyiksa. Aku sering kali menyumpal mulut Ogawa-kun dengan onigiri kalau aku sudah muak dengan ceramahnya, ihihihi. Tapi sekarang aku kangen sih dengannya, habis kalau tidak ada yang bawel, rasanya sepi sekali. Ah! Aku juga kenal Sakura Yabe dari asrama Sakura yang luar biasa kalem dan kalau ngomong benar-benar pelan sekali. Aku ingat tuh pertama kali berbicara dengan Yabe-san, mungkin lebih dari sepuluh kali aku bertanya 'Apa?' atau 'Apa Yabe-san? Aku tidak dengar?' sampai-sampai Kei bilang padaku mungkin telingaku-lah yang bermasalah.

Aku benar-benar sangat merindukan teman-temanku sekarang ini. Mereka semua pastilah sudah lulus dan sudah memiliki keluarga sendiri, punya istri atau suami dan anak-anak yang lucu. Sayangnya karena aku mati di usia muda, aku tidak bisa merasakan hal yang sama dan hanya bisa merajut rindu yang tidak pernah bisa di tebus apa pun. Yang bisa aku temui hanyalah Kei, dia sudah seperti sahabat karibku yang juga seperti saudaraku. Kei meninggal karena tertabrak mobil di Hakamadote (mentang-mentang Hakamadote jarang ada mobil, sekalinya ada mobil bawanya ngebut! Dasar bego!) dan tidak sempat mendapatkan pertolongan sehingga saat itu juga Kei meninggal. Karena merasa dendam, dia enggan pergi ke Nirwana sebelum menemukan siapa pelakunya, setidaknya itulah janji Kei yang terucap sebelum nafas terakhirnya berhembus.

Sedangkan aku?

Aku bergentayangan di sekolah ini karena apa?

Label: , , , , , , ,



北沢 京 : Day 1
@5/14/2012 08:19:00 PM




DAY 1




Kenalkan, namaku Kyoshiro Kitazawa.  

Umurku? Umurku 16 tahun meski sudah 32 tahun aku berada dalam tubuhku yang berusia 16 tahun ini. Sudah selama itu pula aku berada di sini, di tempat yang tidak bisa aku tinggalkan meski aku ingin sekali keluar dan berjalan-jalan seperti biasa, melihat kehidupan di dunia yang kini aku sebut antah berantah. Tapi sayangnya aku tidak akan pernah bisa—yah, aku lebih suka di sini karena bagiku tempat ini sudah seperti rumahku, setidaknya di sinilah aku tumbuh, aku hidup, dan aku dikuburkan.

Entah sudah berapa banyak anak laki-laki atau perempuan atau bahkan binatang-binatang yang datang dan pergi di depan kedua mataku, hilir-mudik bergantian tak pernah henti setiap harinya, aku tidak ingat, tapi itu bukan masalah bagiku karena jika meski sulit aku masih bisa berinteraksi dengan mereka secara nyata. Itulah mengapa aku suka sekali berada di sini karena aku beruntung masih bisa merasa hidup meski hanya sebatas obrolan belaka.

Dulu aku tinggal di Okinawa bersama keluargaku. Aku punya Ayah, Ibu, dan adik perempuanku satu-satunya yang bernama Megumi. Ayahku adalah orang yang sangat keras bahkan kalau boleh jujur, aku sering kali merasa sebal karena sifatnya itu. Kalau aku tidak mau, Ayah biasanya memaksa agar aku mau. Begitulah sifat kerasnya. Tapi kata Ibu, Ayah juga orang yang sangat penyayang. Diam-diam ayah memperhatikanku dan adikku meski di depan kami dia justru terlihat dingin dan cuek. Ayahku juga sangat jarang berbicara, dia hanya akan berbicara kalau ada perlunya, mungkin karena inilah orang tuaku jarang terlihat berbicara satu sama lain.

Sedangkan Ibuku adalah orang yang sangat anggun dan penuh kasih karena kelembutannya. Ibu juga salah satu orang yang sangat bijaksana yang pernah aku lihat. Ibu tidak pernah marah di depanku atau di depan adikku, bahkan kalau ada yang kesal di rumah, Ibu-lah yang mendinginkan suasana. Yah, meski pun secara terang-terangan Ibu terlihat lebih menyayangi Megumi, itu tidak masalah, mereka kan sama-sama perempuan, wajar kalau ada ikatan batin secara berlebihan ketimbang aku yang berjenis kelamin laki-laki. Oh iya, banyak yang bilang kalau wajah ku lebih mirip Ibu ketimbang Ayah, sedangkan Megumi kebalikannya. Aku tidak tahu sih kenapa bisa begitu.

Adikku bernama Megumi, dia anak yang cantik dan manis sekali. Aku ingat dulu kalau aku berjalan-jalan sekali pun itu di dalam rumahku yang luas sekali, Megu mengekorku kemana pun aku pergi. Lucu sekali. Dia juga sering kali meminta bantuanku kalau-kalau pelajaran di sekolahnya terasa sulit baginya. Aku menyayangi Megumi lebih dari apa pun, mungkin karena aku seorang kakak juga jadinya aku bersikap protektif terhadapnya.

Aku pergi dari rumah ketika aku sudah merasa tidak betah dengan perlakuan keras Ayahku. Ada sebuah sekolah yang mengatakan bahwa aku di terima di situ dengan sistem perasrama yang intinya, selama setahun selain liburan kenaikan kelas, aku akan berada jauh-jauh di rumah. Aku ingat, untuk pertama kalinya aku masuk sekolah jauh dari rumah, dan kalau tidak salah itu adalah tahun 1993. Megumi tampak sedih sekali, tapi aku berjanji padanya aku akan terus-menerus mengirimnya surat agar dia tidak kesepian di rumah.

Tapi kehidupanku ternyata tidak bertahan lama. Maksudku, hidup sendirian di tempat yang sebelumnya tidak pernah kau tinggali apalagi kau tahu bukanlah hal yang mudah. Banyak hal-hal yang aku lalui dan sungguh hal itu sangat beragam, ada yang menyenangkan, menyebalkan, bahkan membuat marah. Seharusnya aku menyusukuri semua itu, tapi selama aku hidup aku malah merecoki dan mengkeluh-kesahkan semuanya seolah-olah apa yang aku hadapi waktu itu salah. Tapi sekarang, begitu aku mati, aku menyesalinya. Seharusnya selagi aku masih hidup, aku harus mensyukuri semua itu apa pun bentuknya, karena sekarang justru aku tidak lagi merasakan apa yang aku rasakan waktu aku hidup. Meski begitu, aku tetap menyesali sih kenapa aku mati di saat usia enam belas tahun, dan hanya tiga tahun di sekolah itu. Semua gara-gara kejadian di kamar mandi, dan aku menyesalinya teramat sangat. Andaikan semua itu tidak terjadi.

Ya ya ya, lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh—ya namanya juga hantu.

Hmm hmmm, aku sedang ingin mengulas alasan kenapa aku masih bergentayangan sampai sekarang omong-omong. Berbicara terus kepada Fuji rasanya kasihan, dia juga punya kehidupan, aku tidak mau kehidupannya berubah menjadi suram hanya karenaku, makanya sebisa mungkin apa yang aku ingat ingin sekali aku curahkan di sini, setidaknya semua kehidupanku, bukan cuma seputar sekolah dan keluargaku saja, mungkin rahasia Megumi juga akan aku ceritakan di sini. Ahahahaha!

Baiklah, sekian ceritaku, mungkin akan aku lanjutkan nanti.

Aku mau kencan dengan Fuji! Fufufufu!






北沢 京
ya ampun aku masih ingat kanji namaku! 

Label: , , , , , , ,



Galau itu bisa macem-macem.
@5/14/2012 07:42:00 PM





Kemarin sekitaran hari sabtu mepet minggu, setelah menggalau menjerumus menugas di PVJ, dan setelah menggalau ke kopi waddaddah (gila ini oke banget warung kopinya! Cuma tempatnya aja jauh, orz), ada sebuah perbincangan seru antara gue dan sahabat gue di doppio, si onye, tentang "mereka" yang menempati kost-kost sahabat-sahabat gue itu. Meski gue pribadi emang udah nekanin bahwa gue enggak mau turut campur, atau malah kasarnya mau menolak mentah-mentah untuk berhubungan, belakangan ini gue jadi kepikiran (apalagi setelah baca danur) gue jahat juga ya ga mau berbaur tapi gue sering cerita ini dan itu ke temen-temen gue. Ibaratnya kayak 'lo ngomongin gue tapi lo ga mau dengerin omongan gue' dan gue jadi ga enak hati aja. Mungkin sebaiknya gue tutup mulut kali ya?

Terus gue mulai kepikiran karakter Kyoshiro Kitazawa. Dia karakter hantu yang gue kalau ngegerakin sangat menjiwai dia meski bermodalkan 'gue masih ingin hidup' dan—yah, okelah, kabar burung yang gue denger dan gue liat langsung dari indera tubuh gue, terkadang gue ngerasa ga enak, apa dengan gue menggerakkan Kyoshiro gue terhitung orang yang bermain-main dengan "mereka" kah? Gue takut aja kalau ternyata dengan Kyoshiro gue menyinggung "mereka" secara enggak langsung karena ke-tidak logis-an Kyoshiro dan karena cerita ngalor-ngidulnya ini anak satu apalagi tentang kegalauannya yang luar biasa menyiksa lahir-batin gue (apa coba). Gue selama ini berpikir logis dengan kalimat 'ah namanya juga karakter' tapi ternyata enggak bertahan lama karena sekarang gue merasa bertanggung jawab dengan apa yang gue "lihat". Oh yeah, bayangin, ada orang yang kesinggung karena cerita mereka di publish tanpa permisi, kan ngamuk, nah, mereka juga sebenernya begitu tanpa gue sengaja, gue takut aja.

Mungkin gue harus membuat karakter Kyoshiro secara mutlak?

Ah, galau galau.

Galau.


Label: , , , ,



RP NO PAWA!
Kamis, 19 April 2012 @4/19/2012 01:49:00 AM




Between your Character and visualization.




Jadi karena semalem (atau mungkin dari dua malam? Ya itulah) kemarin keasyikan baca THE HYDE dan TETSUGAKU translation atau bisa di bilang versi bahasa inggrisnya (sorry, I'll not publishing in here. it's not my business. Just search it, you'll find that), gue selalu berujung ketawa-ketawa dengan fakta-fakta yang gue temuin. Meski gue pernah bilang ada beberapa fakta yang gue ambil dari visualisasi mereka ke karakter-karakter gue alias gue emang sengaja buat menyamakan mereka di beberapa sisi, ternyata ada juga yang secara enggak sengaja beneran sama di luar rencana. Maksud gue, untuk Tetsuyama, okelah gue pernah baca TETSUGAKU waktu dulu banget (sekitar tahun 2008 apa 2009—emang udah lama), tapi kan itu udah lama banget sedangkan gue ngegerakin Tetsuyama udah hampir tiga tahun, thats mean anak gue berkembang, dan diluar dugaan perkembangan Tetsuyama sama TETSUYA ternyata ada beberapa yang sama. Oh, mungkin ini yang disebut RP no Pawa.

Kalau dulu di IH judulnya between you and your character, gue lebih tertarik between your character and visualization. LOL. Dan karena anak gue banyak, tentunya pasti ini post bakalan panjang, tapi enggak sih, gue cuma bakal ngepost beberapa anak yang emang udah ketauan persamaan sama perbedaannya aja sih—hei, gue ga selalu fandom dari masing-masing anak gue loh ya, kebetulan aja visunya cocok dan karakter anak gue seperti visualisasi tersebut. Semacam itu. Dan karena dari kemarin gue searching soal Larc dan Sugar, mungkin segitu dulu aja kali ya.

Kyoshiro Kitazawa - HYDE.
  • Boncel alias pendek. Meski tinggi Kyoshiro di tambahin 2 cm dari Hyde sih.
  • Sama-sama buta warna. Meski HYDE buta warna parsial, Kyoshiro deutromali.
  • Sama-sama 'bocah' dalam arti childish.
  • Sama-sama maniak coklat tapi gak begitu fanatik valentine
  • Sama-sama suka gitar dan egois
  • Kyoshiro itu setan, sedangkan HYDE benci banget soalnya dia pernah mimpi di kejer-kejer setan—HAHAHAHA.
  • Ulang tahun mereka beda jauh, banget.
  • Golongan darahnya sama-sama O !! =)) =)) #headbang
  • HYDE anak tunggal, Kyoshiro punya 1 adik perempuan
  • Sama-sama suka tamagotchi~
Tetsuyama Ikuya - TETSUYA

  • Sama-sama karakteristik 'Sakura' meski dalem-nya 'Kiku'
  • Sama-sama work-a-holic, luar  biasa.
  • Sama-sama santai dalam arti kepribadian
  • TETSUYA enggak pernah punya waktu luang—I mean, dalam kehidupan nyata, waktu luang dia bakalan di pake buat nge-bass atau nulis lirik. Bahkan kalau pun ada sms atau email masuk jarang banget dia bales. Tetsuyama kebalikannya, waktu luang dia banyak
  • TETSUYA punya 2 adik perempuan, Tetsuyama punya 1 adik perempuan dan 1 kakak laki-laki
  • Tingginya sama, beratnya beda. TETSUYA lebih gendut dikit.
  • TETSUYA suka banget sama SUNNY, dan fyi, Tetsuyama pairingnya Naoko Ikeuchi =))
  • TETSUYA kalau ngomong di pikir dulu, maksudnya, karena dia bijaksana (banget) kata-kata dia selalu hati-hati, selalu sebisa mungkin enggak ambigu. Tetsuyama sekali pun sama-sama bijaksana, dia lebih suka blak-blakan.
  • Sama-sama gak suka sama anak-anak, tapi belum kebayang kalau anak sendiri.
  • TETSUYA sangat, sangat, sangat, cleanfreak. Tetsuyama sih nyantei.
  • Sama-sama suka gundam, evangelion, sama bass.
  • Sama-sama ga suka  masak (HAHAHAHAHA) bedanya kalau Tetsuyama emang gak bisa, kalau TETSUYA dia gak suka kotor >__>
  • TETSUYA bisa di bilang waktu sekolah agak ansos, gak ikut klub apa pun, Tetsuyama kebalikannya, ikut klub dan famous -__-
Yoshitsugu Kitamura - Ken Kitamura
  • Marga—emang sengaja sih disamain.
  • Sama-sama punya saudara perempuan! =)) #troll
  • Tingginya sama (disamain sih, gila 178 tinggi amat =)))
  • Ken sangat, sangat, sangat cerewet. Yoshi kebalikannya.
  • Ken suka olah raga, Yoshi kebalikannya.
  • Mereka sama-sama perokok dan suka sake.
  • Mereka sama-sama punya telinga yang peka, kalau Ken dominan ke musik, Yoshi apa pun.
  • Ken semasa sekolahnya super sangat bersosialisasi. Sama siapa aja kenal, cool, gaul, etc. Yoshi kebalikannya (kok kebalikan dari tetsuyama-TETSUYA ya =)))

Masahiro Awaji - Yukihiro Awaji
  • Marga—emang sengaja sih disamain.
  • Sama-sama misterius, quite, pendiem, susah di tebak, pemikirannya beda sendiri.
  • Sama-sama bujangan, beda alasan. Yukkie menurut buku biografinya, dia dulu punya pacar, senpainya, tapi sayangnya pacarnya tewas karena kecelakaan ;w; kalau Masahiro sih emang jomblo aja, jodohnya entah dimana. Lalalala~
  • Yukkie sangat gaul dalam arti gadget apa pun dia bisa. Masahiro kebalikannya, dia udik.
  • Sama-sama suka warna hitam.
  • Pendiam, sangat.
  • Kurus ceking. Yeah.
  • Tingginya di buat beda, Yukkie 165 cm, Masahiro di buat 170 cm.


Apa lagi ya...—kalau udah lupa suka bingung mau nulis apa. Bahkan Sugar sama Reichi aja bingung. Ah udah lah, lumayan segini juga. Anw, udah lama ya gue ga nulis blog? Terakhir 11 April, dan apa kabar fanfic challenge gue? Hahahaha, masih dalam berupa draft, akhir-akhir ini gue lagi keasyikan (???) nugas. Tapi tenang, secepat mungkin update kok~ Dan post ini kalau pun ada yang nambah, gue tambahin lagi ah~ toh THE HYDE masih unfinished dan TETSUGAKU masih banyak chapter yang harus gue baca ulang 8DDD

Yuk mari~

Random~

Label: , , , , , , , ,



Unbirthday Party - Another Version.
Minggu, 20 November 2011 @11/20/2011 09:50:00 PM



Disclaimer :

  • Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
  • Kyoshiro Kitazawa punya gue as co-PM
  • Fuji Amamiya punya Anna
  • Dan beberapa chara yang di sebut punya PMnya masing-masing.








 UnBirthday Party 
another version.









Postcard lagi.

Aku tersenyum kecut saat tanganku bergerak perlahan ke arah benda kecil berwarna putih pucat di sudut nisanku, mengambil Postcard bertuliskan Hokkaido dengan huruf super besar di sudut kanan, di atas foto sebuah kota dengan latar musim panas. Sedangkan di sebelahnya terdapat tulisan tangan yang sangat rapi, mencantumkan namaku—Kyoshiro Kitazawa. Mataku secara refleks membacanya yang langsung bergulir perlahan mengamati foto itu—setiap detailnya, kemudian tersenyum sedikit lebih lebar.

Hokkaido berubah sejak terakhir aku lihat, dan Bumi benar-benar berputar.

“Iiih!! Iiihh!! Dapat apaan sih itu??”

Aku menoleh; memandang si Badut Momiji Otamu dengan sebal. “Berisik ah.”

“Hihihi—hantu bisa dapat surat, hihihihi!!”

Memutuskan untuk mengabaikannya, aku berdiri tegak sembari mengambil langkah; mengarah pada salah satu pohon rindang di sudut sebelah kiri nisanku dan memanjat—atau sebut saja melayang—ke batang pohon tertinggi sambil tetap menggenggam erat Postcard itu dengan hati-hati. Begitu sampai, aku langsung duduk dengan nyaman di salah satu dahan kokoh dan memandang dahan lainnya yang penuh dengan tempelan kertas-kertas Postcard menempel kuat, kalung lumba-lumba, dan bunga-bunga kertas serta beberapa tamagotchi. Aku mendesah. Atas nama Kyoshiro Kitazawa—dan selalu atas nama Kyoshiro Kitazawa dengan nama pengirim yang selalu sama pula.

Fuji Amamiya.

Sudah sangat lama, teramat-sangat-lama-sekali sejak terakhir kali bertemu dengan gadis Sakura itu. Entahlah, aku tidak bisa bilang sudah berapa lama secara pasti karena aku sendiri tidak tahu—karena seharusnya semua sudah mengerti, aku adalah hantu dan waktu yang manusia lalui tidak sama denganku. Mungkin sudah bertahun-tahun, atau mungkin juga puluhan tahun, aku tidak tahu.

Dengan sangat hati-hati, postcard terbaru yang aku dapatkan itu segera aku tempelkan dengan postcard lainnya, membuatnya menempel dengan sangat erat di dahan menggunakan lem kayu yang tentu saja kuambil diam-diam. Setelah memastikan benda putih itu merekat erat, aku meraba semuanya satu persatu, dengan lembut, dan dengan mata tak luput memperhatikan semuanya secara bergiliran.

Aku kangen—sekaligus iri.

“Aku selalu memperhatikan setiap kamu dapat benda itu, kamu enggak pernah melihat isi sebenarnya,” menoleh cepat dan mendapati Haruhi Yamazakura sedang duduk angkuh di salah satu dahan pohon yang lain dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kirinya, aku secara refleks terlonjak kaget—mendapati gadis berambut awut-awutan itu memasuki wilayah pribadiku dengan wajahnya yang datar seperti biasa sungguh mengerikan, terlebih lagi mata hitam gelapnya memandangku tajam. “Kenapa?” tanyanya sekali lagi.

“Bilang permisi kek, apa susahnya.”

“Untuk apa, Kyoshiro-san?”

“Untuk sopan santun.”

Suratnya, Kyoshiro-san, bukan aku.”

“Oh.”

“Kenapa kau tidak melihat isinya?” Aku terdiam tidak menjawab, memilih untuk kembali memandangi benda-benda putih itu satu persatu dengan sayang. “Menjadi hantu bukan berarti kamu menjadi buta, kan? Momiji-san saja tahu kalau benda itu adalah sebuah surat berisikan pesan yang berarti harus di baca,” sahut Haruhi-san retoris, telak.“Lagi pula, buat apa sih? Sebanyak apa pun kamu kumpulkan semua itu, sebanyak apa pun kamu punya benda-benda itu, melihat foto-foto itu, kamu enggak akan bisa kesana—enggak ada pengaruhnya.”

“Kau ini enggak punya imajinasi atau apa? Bayangkan dong!!”

“Lalu kalau misalnya aku sudah membayangkannya, apa aku akan senang?” lidahku kelu seketika, tidak bisa menjawab meski pikiranku mau tidak mau memproses ucapan Haruhi-san barusan, mencerna setiap kenyataan yang diucapkannya secara gamblang. Sedih, sekaligus kesal. “Kenapa tidak membaca isi suratnya, Kyoshiro-san?” tanya Haruhi-san sekali lagi, mengulang pertanyaan awalnya.

“Karena—“ aku tidak mau menghadapi kenyataan lagi.

Tanpa permisi dan anehnya tanpa bisa aku cegah, aku membiarkan tangan kurus gadis Bara itu mengambil satu persatu postcard yang sudah kutempel susah payah secara paksa, membiarkan suara “kraaak” dan “kreeek” terdengar lantang di udara, disisipi suara cekikikan Momiji yang tahu-tahu saja sudah melayang di sebelah kananku. Haruhi bergerak cepat, berkali-kali setelah mengambil semua postcard itu dan membacanya, dia langsung menyerahkannya padaku dengan gusar—sedikit membantingnya yang anehnya lagi tanganku tidak bisa bergerak untuk mengambilnya, malah membiarkan semua benda putih itu jatuh melayang-layang ke bawah sampai mencium tanah.

“Aku tidak mau membacanya, Haruhi-san.” Sahutku pendek.

Bohong sih.

Sebenarnya saja, sejak pertama kali mendapatkan semua postcard itu, aku sudah sangat ini membaca semuanya satu persatu, ingin mengetahui setiap detik kehidupan Fuji-chan sejak dia meninggalkan Ryokubita atau bahkan sejak aku meninggalkannya. Penasaran, terus terang saja. Penasaran kira-kira akan menjadi apa Fuji-chan kalau dia sudah dewasa. Apakah dia akan mengambil kuliah jurusan kedokteran melanjutkan Genezer-nya, atau dia mengambil kuliah yang lain, atau—atau justru menikah? Aku sungguh sangat penasaran, sekaligus kangen.

Tapi aku tidak berani, sama sekali tidak berani—terlebih untuk opsi yang terakhir.

“Semua ini sudah berpuluh-puluh tahun, sepertinya.” Haruhi-san tersenyum tipis, tangannya masih sibuk memilih-milih postcard yang tersisa di tangannya, dengan kedua matanya sibuk menelusuri tiap sudut benda putih lusuh itu. “Sudah selama ini, kau masih ingat Amamiya?”

Mataku perlahan terpejam erat, membayangkan setiap memori Fuji yang masih tersisa dalam pandanganku yang gelap; mengingat-ngingat bagaimana suaranya yang manja sampai perlahan-lahan menjadi lebih tinggi dari pertama kali kudengar. Mengingat bagaimana caranya berbicara yang terbata-bata, atau raut wajahnya yang malu-malu. Tapi semakin aku mencoba, aku sama sekali tidak ingat—pandanganku tetap hitam, gelap, dan kosong. Yang aku ingat justru bagaimana ketika aku mati—ketika nafasku tertahan secara paksa dan sangat lama sehingga dadaku sakit, ulu hatiku nyeri, dan kepalaku pusing dengan teramat sangat.

Aku lupa.

Membuka mataku dengan cepat, aku menggeleng resah dan tanganku bergerak cepat mencengkram rambut, menjambaknya dengan sangat keras. Dadaku naik turun, terengah-engah karena shock. Alisku saling berpautan, cengkraman tanganku semakin keras, dan mataku terpejam sangat erat seolah-olah dengan cara ini aku bisa mengeluarkan semua memori Fuji secara paksa.

Aku tidak mungkin lupa—tidak boleh lupa.

“Ah. Dari raut wajahmu, sepertinya kau lupa—dan sepertinya postcard ini menjadi tidak berguna kalau kau justru lupa pada pengirimnya. Sia-sia sekali gadis ini mengirimkannya padamu.”

“A—aku tidak lupa!!”

Seratus persen bohong.

Haruhi-san memandangku dengan wajah datar yang bagiku entah mengapa terlihat seperti mengkasihani. “Aku mengerti perasaanmu, Kyoshiro-chan. Mencintai manusia itu rasanya menyebalkan. Tapi aneh, kalau kamu cinta sama manusia itu, kenapa kamu lupa?” tanya Momiji tiba-tiba dengan suara cemprengnya yang luar biasa nyaring. Aku tidak menjawab, hanya membuang muka; menunduk memandang kertas-kertas yang tergeletak tak berdaya di tanah. “Aku saja masih inget kok Nakayama-kun gantengnya seperti apa. Hihihihi.”

“Tutup mulutmu, badut.”

“Ihihihi ada yang marah—ihihihi.” sahut Momiji sembari melayang menjauh.

“Kalau memang kau lupa, kenapa tidak baca saja semua isinya?” tutur Haruhi-san dengan bijak, melambai-lambaikan satu lembar postcard di tangan kanannya. Aku menoleh, ragu-ragu. “Sebenarnya kalau kau tidak mau membacanya juga dengan senang hati akan aku bacakan—singkat kok. Dia ingin bertemu denganmu, selalu ingin bertemu,” tutur gadis Bara itu dengan suara sedih. “Tidak sadarkah kau bahwa hanya ada sepuluh postcard yang memiliki cap pos? dan tiga yang memiliki bekas terbakar?” aku menggeleng pelan sebagai jawaban tidak tahu—tidak mengerti. “Bagus kau tidak sadar kalau gadis itu mengirimkannya langsung padamu—postcard yang baru saja kau dapat tadi ini buktinya.”

Aku mengerenyit.

“Kalau memang kau lupa padanya, kenapa tidak bertemu saja langsung dengan dia untuk memperbaiki ingatanmu,bodoh,”sahut Haruhi-san sebal.

“Ma-maksudmu dia ada—Fuji-chan? Di sini? Sekarang?” tanpa menunggu jawaban iya atau tidak, gelengan atau anggukan kepala, aku langsung meloncat turun ke bawah—melayang seperti kertas meski ketika telapak kakiku menyentuh tanah, aku memilih untuk berlari secepat mungkin ke arah sekolah. Hari ini tanggal 15 Juli dan itu berarti hari ini adalah ulang tahunku. Sudah sangat lama aku tidak mendapatkan hadiah selepas kepergian gadis Sakura itu. Kali ini, kalau aku boleh meminta, hadiah yang aku mau sangatlah sederhana—

—aku hanya ingin bertemu, bertemu dengan Fuji meski hanya satu kali.




Karena aku hantu, berlari sejauh apa pun aku tidak akan merasa kelelahan meski dadaku naik turun, terengah-engah seperti kehabisan nafas sekali pun sebagai mantan manusia aku masih memiliki paru-paru yang tentu saja sudah tidak lagi berfungsi dengan normal. Tidak peduli dengan semua itu, aku berdiri tegak memandang sekeliling dengan sangat teliti, memperhatikan langit yang mulai berwarna jingga, mendengar desiran angin kecil, dan bunyi gesekan dedaunan secara samar-samar. Bagiku ini aneh, tapi entah kenapa terasa seperti déjà vu.

Teras Main House.

Aku ingat, ada sebuah rutinitas kecil yang selalu aku dan Fuji lakukan selama bertahun-tahun. Rutinitas sederhana yakni merayakan ulang tahun bersama-sama di tempat ini, dengan masing-masing selalu membawa hadiah-hadiah kecil, berbincang-bincang sejak langit berwarna jingga sampai menjadi gelap gulita.

Kemungkinan besar, dia ada di sini.

“Mencari seseorang?”

Terlonjak kaget dan langsung menoleh cepat, seorang wanita tua dengan kacamata kotak di hidungnya, dengan tubuh bungkuk tengah tersenyum hangat kearahku meski aku akui sulit sekali memutuskan kalau wanita tua itu benar-benar tersenyum—bahkan aku sama sekali tidak bisa menerka ekspresi wajahnya. Entah Nenek itu sedang senang, sedih, kaget, atau apa—yah, apalagi kalau bukan karena keriput di wajahnya. Aku langsung membungkuk hormat sambil tersenyum ramah—kikuk.

“Ti-tidak… hanya—“ hanya apa ya? “—hanya sedang duduk-duduk saja.”

Nenek tua itu kali ini benar-benar terlihat tersenyum. “Boleh duduk disebelahmu?” tanyanya ramah. Mengangguk kecil dan mempersilahkannya, dengan perlahan aku membantu Nenek itu duduk di teras tepat disampingku dengan hati-hai. Begitu aku memastikan bahwa Nenek itu duduk dengan nyaman, aku baru duduk kembali di tempatku. Kemudian entah kenapa suasana menjadi hening, canggung.

Menggoyang-goyangkan kakiku, mengerlingkan mataku memandang langit di atas sana, aku tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa karena bagaimana pun tidak mungkin aku bilang ‘Nenek bisa melihatku? Aku kan hantu’ yang bisa-bisa membuat Nenek ini mati karena jantungan saking kagetnya. Tapi aneh, aku sangat ingin bertanya kenapa Nenek ini bisa melihatku, karena seingatku, aku sama sekali tidak sedang menampakkan diri—atau sedang menampakkan diri ya? Aku lupa.

“Ka—eh, anu… Nenek kenapa bisa… eh maksudnya, Nenek bisa melihatku?” tanyaku sambil melirik-lirik. Sekilas, meski tidak yakin, Nenek tua itu terlonjak kecil, meski setelahnya dia tersenyum—bukan, tapi seperti tersenyum ke arahku. “Aku bisa melihatmu dengan jelas, Kyoshiro-san…”

“O-oh…” dan kemudian hening lagi. “Eeeh tunggu, kok bisa tahu namaku??” tanyaku baru menyadari setelah sepersekian detik mendengar jawabannya. “Aku belum memberitahu namaku. kan?” Nenek tua itu tidak menjawab, hanya tetap dengan reaksi yang sama seperti sebelumnya. “Ooh—pasti tahu dari cucu Nenek yang sekolah di sini atau dari orang-orang di sini ya?” sahutku asal sambil mengangguk-ngangguk kecil. Di luar dugaaan, Nenek itu terkekeh.

Entah kenapa, aku tersenyum melihatnya.

“Nenek alumni Ryokubita yah?” aku melihatnya mengangguk-ngangguk lagi sebagai jawaban. “Kenapa bisa ada di sini? Apa sedang ada reuni?” dan lagi-lagi jawabannya hanya sebuah anggukan, yang entah kenapa membuatku bungkam seketika. Tidak lagi bertanya-tanya.

Menengadahkan kepalaku sekali lagi, memandang langit jingga yang berangsur-angsur menuju gelap, aku menghela nafas lagi entah untuk yang keberapa kalinya dengan pikiran masih terus menerus berbicara pada diriku sendiri, mengatakan bahwa aku harus tetap yakin kalau Fuji-chan akan datang ke sini menemuiku. Dan mungkin, sambil menunggu sebaiknya aku menemani Nenek ini dulu.

“Apakah kau mau coklat?” tanya Nenek itu tiba-tiba memecah keheningan. Aku, yang jelas-jelas terkejut mendengarnya, hanya bisa cengar-cengir kaku, cengengesan kecil sambil menggeleng-geleng; menolaknya dengan halus.

“Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerimanya…” jawabku sopan namun Nenek tua itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi yang lain selain reaksi yang sama seperti sebelumnya. “Eh—aku tidak bisa makan coklat…” Nenek itu hanya mengerjapkan matanya. “Baiklah—terima kasih atas coklatnya…” ujarku menyerah.

Menunduk dan memandang kue coklat di atas pangkuanku, aku hanya bisa tersenyum kecil, mengingat-ngingat tentang Fuji-chan yang juga memberikan kue coklat padaku pada suatu hari. Hanya saja karena aku sudah mati, aku tidak bisa makan dan tanpa sepengetahuan gadis itu, kue coklat buatannya kubiarkan sampai basi—bahkan busuk. “Coklat ini… untuk siapa sebenarnya Nek?” tanyaku polos.

“Untuk kue ulang tahun…”

“Hee?? Siapa?”

“Dia orang yang paling berharga…”

Aku memandang Nenek itu dengan tatapan takjub. Mungkin orang yang paling berharga bagi Nenek ini adalah suaminya—si Kakek—atau cucunya, atau siapa. Eh, tapi kenapa diberikan padaku, omong-omong? “Ulang tahunnya hari ini?” tanyaku dan dia mengangguk lemah. “Wah!! Sama dengan ulang tahunku!!!” sahutku gembira.

“Selamat ulang tahun, Kyoshiro-san…” ujar Nenek itu pelan sembari memandangku dengan lembut. Aku hanya mengangguk kecil dan berseri-seri. “Tapi—apa tidak apa-apa aku yang mendapatkan coklat ini? Memang Kakek kemana?”

“Kakek?”

Aku mengerjap kaget sekaligus malu. “Ehh—orang yang paling berharga buat Nenek pasti suami Nenek, kan? Nah pasti sudah seumuran Nenek dan itu berarti aku harus memanggilnya Kakek, kan?” sahutku sok tahu meski terus saja mencerocos panjang yang lagi-lagi hanya di jawab dengan senyuman samar dari si Nenek. Omong-omong soal umur, Fuji-chan sekarang sudah usia berapa ya? “Umur Nenek berapa?” tanyaku tiba-tiba.

“Tujuh puluh enam tahun.”

“Wah!!! Lama sekali!!!” Nenek itu tersenyum. “Nenek kuat ya!! Eh tapi wajar sih—orang Jepang kan katanya berumur panjang karena makan ikan. Katanya sih.”

“Tapi kata Dokter, mungkin tidak akan lama lagi…”

“Eh? Eehhh??? Kenapa???”

“Karena aku sudah tua, Kyoshiro-san…” aku terdiam lama, entah kenapa rasanya sedih begitu mendengar ucapan Nenek itu. “Banyak penyakit yang datang memasuki tubuh renta ini, yang perlahan-lahan mencuri kesehatanku, yang belakangan ini menjadi sulit bergerak. Tapi kalau pun sudah waktunya, aku siap…”

“Memangnya… Nenek sakit apa?”

Nenek tidak menjawab, hanya tersenyum penuh arti. Aku yang sebenarnya tidak tahu apa-apa hanya bisa tertegun, dan memilih untuk tidak berkomentar. Sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti—maksudku, aku mati di usia muda, tidak pernah merasakan bagaimana sakit dalam jangka waktu yang lama dengan berbagai penyakit pula, tapi entah kenapa yang aku mengerti justru kesiapan Nenek itu menghadapi kematian.

Waktu.

“Kalau di pikir-pikir mungkin temanku sekarang seumuran dengan Nenek.”

“Begitukah?”

“Iya—tapi aku tidak tahu pasti sih, hanya mengira-ngira saja. Temanku itu sangat berharga buatku, dia selalu memberiku hadiah-hadiah yang tidak terduga setiap ulang tahunku dan dia juga sama seperti Nenek, suka sekali memberi coklat meski tidak sering sih, hanya satu apa dua kali gitu, aku lupa.”

“Kenapa Kyoshiro-san… lupa?”

Terdiam lama memandang si Nenek, aku hanya mengerlingkan mata sekilas, mencoba sabar sekaligus mencari-cari jawaban yang pantas. Apa Nenek ini tidak sadar ya kalau kalimat ‘temanku sekarang seumuran dengan Nenek’ sangatlah aneh diucapkan oleh seorang anak laki-laki yang terlihat masih remaja seperti ini? Terlebih lagi kata `sekarang` dalam kalimat itu sangat ambigu. “Engg—yah… kadang kalau sudah sangat lama tidak bertemu, tidak punya fotonya, dan tidak menerima—membaca lebih tepatnya—kabar darinya, semua orang bisa saja lupa kan? Dan aku memiliki memori yang terbatas jadi aku… aku… aku lupa.”

“Membaca?”

Mengerlingkan mata sekali lagi, aku memutar otak. “Temanku… sejak lulus dari sini dia selalu rutin memberiku postcard setiap tahunnya, bahkan tadi siang aku juga mendapatkannya. Tapi aku hanya memandangi postcard-nya saja—maksudku, foto-fotonya, sedangkan isi surat itu tidak aku baca—meski tentu saja, aku sebenarnya sangat ingin tahu keadaannya seperti apa, dia sekarang menjadi apa, atau bagaimana. Hanya saja…” melirik sekilas, raut wajah Nenek itu tidak berubah, atau memang aku yang tidak bisa menerkanya, aku tidak tahu. “Aku—aku takut.”

Aku benci kenyataan.

“Kyoshiro-san… Kyoshiro-san takut karena apa…?”

Menunduk sedalam mungkin, aku berusaha menyembunyikan mataku yang terasa panas, seperti ingin menangis. Menghela nafas berat, aku mencoba untuk mengumpulkan keberanianku sekaligus menghilangkan rasa takut yang entah kenapa secara tiba-tiba datang menyeruak ke dadaku.. “Aku tidak siap, sekaligus takut kalau-kalau mendengar berita bahwa dia sudah menikah dengan orang lain,” jeda, aku menahan nafas. “—aku mencintainya.”

Hening lama. Sangat lama.

“Lalu… lalu bagaimana kalau dia tidak menikah?”

Aku memilih untuk tidak menjawab.

Dan entah kenapa, seperti biasanya suasana kembali menjadi hening, yang membuatku menjadi sangat menyesal telah banyak bicara. Bahkan langit sudah mulai gelap, dan itu artinya aku sudah terlalu lama di sini sekaligus membiarkan seorang Nenek tua kedinginan di gelapnya malam hanya untuk mendengar celotehanku yang tidak berguna—menemaniku menunggu Fuji Amamiya yang tak kunjung tiba.

“Sudah malam…” ujar Nenek itu seolah membaca pikiranku. Aku hanya mengangguk kecil. “Maukah… Maukah Kyoshiro-san membantuku? Menuntunku berjalan…?” Cepat-cepat meletakkan kue coklat ke teras Main House, aku menoleh memandangnya dan berdiri tegak dengan tangan terulur untuk membantu Nenek tua itu berdiri. Tangannya yang renta dan juga lemah dengan kulit keriput yang kentara, perlahan menyentuh tanganku, yang seketika aku merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuh.

“Tangan Nenek hangat sekali...” sahutku polos.

Selebihnya tidak ada yang bersuara, hanya ada suara angin seiring dengan langkah-langkah kecil kami yang bergerak menuju pohon sakura rindang tepat di hadapan tempat kami duduk barusan. Aku sendiri sesekali menengadahkan kepalaku, tersenyum penuh arti memandang pohon besar di depan—memandang tempat yang biasa aku duduki kalau aku menunggu Fuji, tempat spesialku.

Perlahan Nenek tua itu melepaskan tangannya, dan dengan sangat hati-hati dia mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran besar dari tas yang Ia bawa-bawa; memandangnya dengan sangat sayang. Sesekali pula, tangannya bergerak pelan, membelai permukaan kotak itu seolah-olah sedang mengelus hewan peliharaannya. Kemudian dia membukanya sambil terisak kecil, menangis.

“Eehh?? Nenek??? Nenek kena—“

Aku membeku. Mata hitamku memandang isi kotak itu secara tidak sengaja, mengenali dengan sangat jelas tiap-tiap benda yang tertata rapi di sana. Tangan kananku perlahan bergerak membungkam mulut dengan erat; bahkan dengan kaki yang gemetar, aku bergerak mundur beberapa langkah—Kalung lumba-lumba, bunga-bunga kayu, bulu putih, sebuah tangkai kayu kecil yang sudah busuk bertuliskan `bunga sakura, 2011`, kelereng, sebuah bulu-bulu kecil bertuliskan `boneka teddy bear`, dan tamagotchi biru.

Aku tidak tahu harus apa.

Meski aku harus akui—seperti déjà vu sekali lagi, aku mengenali semuanya. Kedua tanganku pun secara refleks bergerak menyentuh batang pohon; menyandarkan tubuhku yang perlahan-lahan merosot turun ke bawah. Sedangkan Nenek itu tidak bergeming, hanya tersenyum memandangku sekarang. Dia mengenaliku, dia membawa coklat, dia berada di Main House, dia tahu namaku, dia tahu aku hantu, dia—

Fuji-chan?”

Dia hanya tersenyum sambil mengangguk meyakinkanku.“Kyoshiro-san, apa kabarmu…?”

Seperti sebuah sengatan, lututku langsung terasa lemas dan langsung terjatuh menghantam tanah. Aku sama sekali tidak menjawab apa-apa ketika dia terus menerus bertanya kabarku, menyebut-nyebut namaku. Aku hanya bisa terdiam; dengan tangan kanan yang bergetar hebat, perlahan-lahan bergerak, mengarah pada pipi kiri wanita itu dengan takut—mencoba untuk menyentuhnya dengan sayang.

“Ka-kau… Fuji-chan?”—Fuji-ku?

Tidak ada jawaban.

“Kenapa kau tidak bilang… kenapa tidak bilang dari awal kalau… kalau itu kau?”

“Aku kira kau berada di situ memang sudah tahu aku akan datang, karena aku rasa, sekali pun aku sudah tua, kau masih mengingatku. Tapi ternyata kau lupa padaku—kau meninggalkanku dan melupakanku, Kyoshiro-san…”

Nyeri, entah dimana.

“Semua itu… semua yang ada di kotakmu… mau… mau kau apakan?”

“Saat kau bilang kau lupa padaku… Aku berpikir untuk menguburnya.” refleks lagi, tanganku bergerak cepat memeluk wanita renta dihadapanku, tak peduli apa reaksinya saat kedua tanganku mencengkram erat pundaknya, seolah-olah mampu meredam rasa nyeri yang entah mengapa terasa hampir di seluruh tubuhku. “Aku berpikir… mungkin memang aku yang salah karena tidak bisa bersamamu sehingga wajar kalau aku sudah kau lupakan. Lalu aku pun berpikir kalau aku sudah mati dalam ingatanmu… dan itu berarti semua tentang aku, semua barang yang aku berikan pun sudah terkubur dalam-dalam—jadi aku memutuskan untuk mengubur semua itu—“

Aku menggeleng.

“Jangan bicara lagi,” sahutku berbicara sebisa mungkin dengan suara bergetar. “Kalau pun perlu alasan, maka alasan aku melupakanmu karena aku mencintaimu dan karena kesalahanku.”

Selebihnya tidak ada percakapan apa pun dalam jangka waktu yang lama meski sekarang aku merasa panik karena makin lama, deru nafas Fuji semakin lemah dan udara semakin dingin. Terkadang, kalau sudah seperti ini aku menyesal karena aku hantu—sama sekali tidak bisa menghangatkan Fuji meski dia sudah berada dalam pelukanku, malah aku terus berpikir apakah Fuji semakin merasa kedinginan karena pelukanku atau apa. Tapi melihat wanita itu tampak nyaman, aku memilih untuk membiarkannya.

Waktunya memang harus berputar.

“Apa kabarmu, Fuji-chan?” tanyaku pada akhirnya.

“Seperti yang kau lihat…” aku tersenyum sedih. “Apa kabarmu, Kyoshiro-san?”

“Seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu, seperti pertama kali kita bertemu, seperti pertama kali kau menanyakan keadaanku—aku baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja.” Jawabku lembut meski setelahnya kembali hening.

“Kyoshiro-san…”

“Ya?”

“Aku mencintaimu…”



—oOo—



“Maukah… Umm, ma-maukah kau menyebrangi Nirwana bersama-sama… Kyoshiro-san?”

“Maksudmu?”

“Kalau aku mati sekarang… maukah kau menyebrangi Nirwana bersamaku?”

“…”

“…”

“Kalau aku mau apakah kau mau hidup bersamaku, Fuji-chan?”



—oOo—

Label: , , ,



Unbirthday Party - Chapter 8
@11/20/2011 09:39:00 PM



Disclaimer :

  • Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
  • Kyoshiro Kitazawa punya gue as co-PM
  • Fuji Amamiya punya Anna
  • Dan beberapa chara yang di sebut punya PMnya masing-masing.








- CHAPTER 8 -







oOo







"Ma-maaf…  Aku bisa memanggilmu apa ya?"

"Panggil saja Kyoshiro, kau?"


oOo



“Amamiya, Fuji?”

“Y-ya?”

“Kenapa Anda belum mengumpulkan formulir Universitas?” Aku menunduk rendah, tidak berani memandang kedua mata teduh Goro-sensei di meja depan, bahkan mulutku pun rasanya tidak mau terbuka untuk memberikan alasan pada guru Character Building itu; yang ada hanya helaan nafas dan gelengan kepala. “Anda lupa?” Aku mengangguk. “Ah, saya paham… namun sebaiknya, Anda harus mengisinya secepat mungkin. Bagaimana kalau minggu depan?” tanyanya ramah sambil bergerak perlahan melambaikan tongkat sihirnya, mengecek berkas-berkas formulir lainnya. Aku masih tidak bergeming. “Satu minggu saya rasa waktu yang cukup, Amamiya-san. Dan terima kasih untuk kelas hari ini. Selamat siang.” Ujarnya yang diiringi dengan seru lega teman-teman sekelas serta langkah-langkah ribut murid-murid Genezer untuk keluar kelas.

Hanya tinggal aku sendirian, masih duduk lemas dengan pikiran melayang.

Masa depan.

Waktu.

“Fuu-chan? Kok masih di kelas?”

Menengadahkan kepalaku cepat-cepat, rasa-rasanya aku mendengar suara familiar di telingaku dengan nama panggilan yang khas—mataku bergulir, memandang sosok lelaki berambut pirang-kecoklatan setekuk, dengan kemeja putih dan tangan kiri menjinjing jas hitam, serta kacamata kotak berteger dihidungnya tengah berdiri di ambang pintu kelas, memandangku dengan ramah sekaligus heran. Di sebelahnya seorang wanita berambut pendek kecoklatan berdiri tegak, melongok dengan kedua tangan melingkar pada tangan si lelaki, dengan kedua hazel-nya yang ceria tengah memandangku lembut. “Tetsu-senpai? Naoko-Senpai?” sahutku terkejut.

“Masih saja—kami bukan senpai-mu lagi, loh.”

“Ma-maaf… anuu… sedang apa?”

“Sepertinya Fuji-chan yang sedang apa deh, ini kan sudah sore, bukannya kelas empat belas jadwalnya pagi semua, kan? Atau kurikulumnya sudah berubah? Kita sedang ada Reuni, terus iseng jalan-jalan sama Tetsu-chan—nostalgia gitu deh, eh enggak taunya ketemu Fuji-chan lagi duduk sendirian di sini. Memangnya Fuji-chan lagi apa sih?” tanya Nao-chan panjang lebar, masih dengan suaranya yang bercicit-cicit ria.

“Eeh?? Ehh—sudah sore?” terkejut untuk kedua kalinya, aku menoleh, memandang ke luar jendela yang benar saja, langit sudah berwarna jingga sejak terakhir aku lihat. Sudah berapa lama aku melamun di sini? “Aduh—a-aku tidak sadar…” sahutku pelan. Refleks, tanganku bergerak-gerak kikuk, membereskan semua keperluan sekolahku yang berserakan di meja. Tapi belum saja aku menyentuh semua itu, semua barang-barangku sudah melayang dan masuk ke dalam tas; mendapati Tetsu melambai-lambaikan tongkat sihirnya seraya berujar `gunakan sihir dong` tanpa suara. “Eeh—terima kasih…”

“Wah—kalau di pikir-pikir, aku belum pernah masuk kelas Genezer,” sahut Tetsu sambil melangkah masuk, dan melihat-lihat ke sekeliling. Sedangkan Nao-chan menghampiriku—memelukku dengan sayang. “dan ternyata sama saja, meski auranya berbeda sih emang. Oh, halo Fuu-chan, apa kabar?” tanyanya begitu duduk di meja, memandangku dengan senyumannya yang lebar seperti biasa.

“A-aku baik, sen—eh, Nao-chan dan Tetsu-kun sendiri, apa kabar? Gomen… kemarin aku tidak datang ke acara pernikahan kalian… selamat ya…” mau tidak mau, aku terkikik saat kedua kakak angkatku itu langsung bersemu merah begitu aku mengucapkan selamat, dan sambil malu-malu, dengan kompaknya mereka berdua hanya mengangguk dan berterima kasih dengan suara super kecil. Aku jadi geli sendiri.

“Apa yang kau pegang itu Fuji-chan?”

“Sepertinya formulir Universitas—seperti dulu, kelas empat belas kan dapat—eh?” jawab Tetsu sambil mengangguk ke arahku, dengan wajah datar yang tidak bisa kuterka. Mengangguk membenarkan ucapan Tetsu, aku menyodorkannya, mempersilahkan Nao-chan untuk melihatnya meski rasanya aneh menunjukkan kertas kosong pada orang lain.

“Bingung ya mau isi apa?” ujar Nao-chan lembut. “Aku juga dulu bingung, tapi akhirnya aku konsultasi pada Tetsu-chan, Okaasan, Otousan, juga orang-orang terdekatku lainnya meski pada akhirnya baik aku maupun Tetsu-chan jurusannya tidak ada yang sejurus dengan Sorcier, hehehe…” lanjutnya riang. “Tapi ya, apa pun Universitas yang nanti Fuji-chan ambil, pasti itu yang terbaik deh buat Fuji-chan! Pasti jadi bekal yang berharga! Percaya deh~”

Aku tersenyum mendengar celotehannya, dan mengangguk-ngangguk membenarkan. “Se-sebenarnya… aku ingin sekali jadi dokter… tapi entah kenapa aku ragu…” sahutku pelan, dan seperti dugaanku Nao-chan langsung mencerocos lagi, bersemangat. “Eh… eeh—Tetsu-kun sudah jadi dokter, kan? Apakah menyenangkan?” Tidak ada jawaban, Tetsu hanya tetap memandangku. “Sumimasen?”

“Eeh? Ya? Kenapa?” dia gelagapan, matanya mengerjap berkali-kali sampai pada akhirnya dia memandang Nao-chan dan beralih memandangku lagi. “Dokter—menyenangkan juga, mungkin totalitas akan menyenangkan untukmu sebagai genezer. Kalau aku, karena aku sorcier entah kenapa aku lebih suka melihat darah dan bagian tubuh terburai-burai hanya mata dari pada harus memegang-memegangnya seperti seka—ADUH!! Jangan injek dong!! Sepatumu kan ber-hak!!”

“Tetsu-chan kan dokter, sembuhkan saja sendiri!”

“Heh—”

“Rasanya sudah lama sekali tidak melihat kalian seperti ini…” ujarku pada akhirnya, tersenyum melihat tingkah kedua kakak angkatku dengan sayang. Baik Tetsu maupun Nao hanya bisa saling bertatapan, kemudian tersenyum lembut—Nao-chan memelukku, sedangkan Tetsu hanya menghela nafas.

“Yang namanya Reuni itu menyenangkan loh Fuuchan, kau tidak mau reuni juga?”

“Eh? Maksudnya?”

“Tahun depan kan sudah tidak bisa ke sini lagi loh.” Lanjutnya lembut. Aku terdiam, menghela nafas sembari meremas kertas formulir dengan gelisah. Aku tidak tahu, tapi sepertinya Tetsu tahu apa yang aku pikirkan—tahu siapa yang aku pikirkan. Hanya saja, mengingat kejadian tahun lalu, aku tidak yakin apakah tahun ini akan sama seperti tahun kemarin, apakah bisa bertemu atau tidak. “Tidak melihat bukan berarti tidak bertemu.”

“Eeh—“

“Teras Main House sore-sore begini sepertinya oke." Kali ini Nao-chan menimpali, lembut.

Membisu, aku hanya bisa menunduk mendengar semua ucapan alumni Ryokubita itu dengan seksama, sambil berkali-kali menghela nafas, dan berkali-kali memejamkan mata. Mungkin ucapan mereka ada benarnya, tapi masih ada rasa takut—entah apa.

“Pergilah Fuu-chan, selagi masih ada waktu.”


—oOo—


“Tetsu-chan nakal ya!! Kenapa harus baca pikirannya coba?"

“Mau bagaimana lagi. Dia kan Sakura.”

“Ih, alasan, Tetsu-chan juga Sakura tapi Nao sama sekali enggak harus baca pikiran Tetsu-chan segala…” dia menyandarkan kepalanya, menyenyakkan diri di pundak si lelaki. “Tapi... apakah mereka nanti ketemu?”

Sebuah gelengan kepala menjadi isyarat jawaban, kemudian satu kata singkat. “Mungkin.”


—oOo—


Untuk pertama kalinya, aku membenci waktu.

Tahun ini adalah tahun terakhirku di Ryokubita, tahun terakhir aku menghabiskan waktu di sekolah sihir Jepang dengan berbagai macam kejadian yang aku lewati. Delapan tahun sudah aku di sini, dengan teman-teman dan kakak kelas yang selalu membantuku dalam berbagai hal, yang selalu menemaniku setiap harinya, dan yang selalu mendorongku untuk menjadi seorang Fuji Amamiya yang berbeda dibandingkan saat pertama kali aku masuk. Tidak berbeda sepenuhnya, memang. Hanya beberapa bagian kecil dan itu pun tidak berdampak besar; aku tetap seorang Fuji yang dikenal pemalu.

Akan tetapi aku sedikit menjadi Fuji yang berbeda sejak aku mengenalnya.

Langkah kakiku bergerak secara refleks menuju Main House dengan kedua tangan menggenggam erat masing-masing satu kotak kecil berwarna putih, berisikan tamagotchi merah dan kue cake coklat yang aku tahu sebagai kesukaannya. Mataku mengerling memandang sekeliling—sore hari menjelang malam, tanpa hembusan angin dengan suasana yang mulai sepi, dan tidak ada sedikit pun suara selain deru nafasku. Aku tersenyum lepas, tidak lagi meragu seperti dulu, seperti apa yang dia pernah ajarkan padaku.

Selagi masih ada waktu. “Selamat sore, Kyoshiro-san.”

Tak ada jawaban dan sudah seharusnya aku tahu itu.

Perlahan aku mulai bergerak, memilih untuk duduk di teras atau lebih tepatnya duduk di tempat biasa sembari membuka kedua kotak putih itu; menyimpannya tepat di samping. Sejenak aku memandangnya sebelum akhirnya menoleh; membiarkan kedua kotak itu terbuka. Ya, sengaja aku buka agar dia bisa melihatnya dan setidaknya mengetahui bahwa aku masih menepati janji—

Apa kau melihatku Kyoshiro-san? Apa kau ada di sini sekarang?

Menengadahkan kepalaku perlahan, aku hanya bisa terdiam saat memperhatikan sekeliling dengan sedih; menatap pohon sakura rindang dihadapanku dengan tatapan kosong, menatap tempat yang paling disukai lelaki bermarga Kitazawa untuk duduk-duduk sambil menungguku waktu dulu—tempat yang menjadi kesukaannya selama tujuh tahun terakhir, menjadikannya saksi bisu bahwa lelaki itu pernah ada.

“Kyoshiro-san… apa kabar?”

Tak ada jawaban.

Memiringkan sedikit kepalaku ke kiri dan menempelkannya pada tiang penyangga Main House, aku mengulas senyum tipis dengan mata menatap fokus pohon sakura dihadapanku, membayangkan sosok laki-laki kurus dengan rambut hitam acak-acakan berdiri di situ, bersandar pada batang pohon yang besar, memandangku seraya tersenyum hangat seperti biasa. Imaji, khayalan, atau apalah itu namanya seketika membuatku nyaman—meski aku tahu, kenyataannya tak ada siapa pun di situ, hanya pohon besar yang tak bergerak sedikit pun.

“Apakah kau bahagia, Kyoshiro-san? Apakah selama ini aku bisa membuatmu bahagia?”

Tidak ada jawaban dan kenyataan itu merobohkan imajiku seketika.

Memejamkan mata erat, mengigit bibir bagian bawah keras-keras, dan menahan nafas, sekuat tenaga aku menahan tangis yang sudah membendung dimataku—rasa rindu meluap begitu menyesakkan, keinginan untuk bertemu terus memaksaku, dan aku tidak bisa menahannya—ingin menangis tapi tidak bisa menangis. Sedih, tapi tidak tahu harus berbuat apa, hanya bayangan-bayangan lelaki itu yang terus menguasai pikiranku.

Dan rasa perih menusuk hatiku seketika, membayangkan sosok Kyoshiro Kitazawa yang tengah tersenyum lepas sembari memandang tamagotchi merah kesayangannya—menatap benda kesukaannya yang selalu ia bawa kemana-mana dengan celotehan-celotehan riang seperti biasa. Sedih sekaligus sakit, namun entah mengapa aku malah senang membayangkannya—tersenyum mengingat tingkahnya yang kelewat percaya diri, mengingat Kyoshiro sering kali merasa dirinya mirip dengan Hideto Takarai.

Aku terkekeh.

“Dulu kau pernah janji padaku—ketika aku menyebut namamu, kau akan muncul, kau akan menemaniku, dan kau akan ada untukku. Sekarang aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi mengapa kau tidak muncul juga?” Membuka mataku perlahan, mataku bergulir memandang sekelilingnya yang masih sepi seperti tadi, tidak ada sedikit pun tanda-tanda lelaki itu ada di sini—aku masih sendirian. “Kyoshiro-san…”

Tidak ada jawaban.

“Kyoshiro-san…”

Sepi.

“Kyo—“ dan pertahananku pecah sudah—aku menangis, air mataku jatuh membasahi pipi dengan cepat, tubuhku bergetar, dan pandanganku samar. Aku tidak bisa menahan isak tangisku yang semakin keras, sekuat apa pun aku berusaha menahan tangis dan meredam suaraku, semakin terasa sakit di hati. Seolah tidak mengizinkanku untuk memendam semuanya sendirian, seolah mengatakan bahwa ada yang harus aku lepas—Pedih.

“Du-dulu kau pernah bilang bahwa waktuku dan waktumu berbeda—waktuku masih sangat panjang sedangkan waktumu sudah terhenti bertahun-tahun yang lalu, tapi bukankah waktu yang kita habiskan kemarin itu adalah waktu yang sama? Ataukah aku salah?” Tidak ada jawaban lagi; tangisku tak kunjung reda. Sedih dan sakit. Meski pun begitu, sekarang aku mengerti mengapa Kyoshiro enggan bertemu di saat ramai, enggan membuatku seperti orang bodoh yang berbicara sendiri. Dan bahkan hal sekecil itu pun masih dipedulikan oleh dirinya—sedangkan aku hanya bisa egois, hanya bisa memaksakan kehendak.

“Mungkin, memang sudah waktunya... Terima kasih, terima kasih banyak Kyoshiro-san, kau telah mengajarkanku banyak hal, belajar menjalani hidup dengan senang, mengajarkanku betapa hidup itu menyenangkan—menikmati segala suka mau pun duka yang sebenarnya itu adalah sesuatu yang berharga, yang ternyata mengajarkanku untuk menjadi lebih bijaksana.”

Terdiam lama, aku hanya bisa menghela nafas berat—melepaskan beban.

“Terima kasih, Kyoshiro-san…”

Membukuk rendah untuk memberi salam untuk terakhir kalinya, aku tersenyum tipis meski masih menangis. Pandanganku mulai samar karena air mata, nafasku mulai sulit karena isak tangis, dan tubuhku lemas karena menahan sedih. Tidak ada perpisahan yang  menyenangkan—dan aku tahu itu. Akan tetapi aku tidak bisa membayangkan bahwa aku tidak akan bertemu dengannya lagi, tidak lagi bisa berharap dia ada untukku,  mengharapkan lelaki itu untuk tetap berada di putaran waktu yang sama denganku.

Tapi aku tidak boleh egois—aku harus melepasnya.

Perlahan aku berdiri sambil menggerakkan kedua tanganku; mengusap wajahku cepat-cepat—mengelap air mata yang masih melekat di pipiku yang kemudian tersenyum tipis, memandang pohon rindang dihadapanku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan—Aku harus kuat, bukankah memang harus begitu? Tapi sebelum aku berbalik, aku terdiam sebentar, untuk terakhir kalinya aku memandang pohon sakura dihadapanku. Tidak ada perpisahan tanpa kejujuran, dan sudah sepatutnya aku berbicara apa yang selama ini aku pendam—

—Aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.

“Kyoshiro-san—”

Memejamkan mata dan menghela nafas panjang, aku tersenyum tipis sembari menikmati angin yang tiba-tiba bertiup lembut disekitarku, mengibaskan rambut hitamku secara perlahan;  mengusap pipiku dengan lembut seolah mengucapkan rasa terima kasih yang entah dari mana asalnya. Pohon rindang dihadapanku pun bergerak melambai-lambai pelan, seakan-akan mengucapkan terima kasih secara misterius—seperti memberitahuku bahwa lelaki itu kini ada di sini, menatapku meski tidak menampakkan dirinya. Aku membuka mataku perlahan dan memandang kosong batang besar pohon sakura—memandang sosok samar Kyoshiro Kitazawa dihadapanku yang tak nampak.

“Terima kasih, Kyoshiro-san, aku akan pulang—”


aku mencintaimu.







oOo

Jumat, 15 Juli 2011

Fuji Amamiya, 23 tahun.

oOo

Label: , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //