<body>
北沢 京 : Day 4
Sabtu, 19 Mei 2012 @5/19/2012 03:22:00 AM






DAY 4




Halo, aku Kyoshiro Kitazawa !


Bukan bermaksud untuk menguping sih sebenarnya, tapi sewaktu tadi aku melintasi ruang rekreasi asrama, aku mendengar cerita anak perempuan yang tengah menangis tersedu-sedu sambil bercerita histeris bahwa dia baru saja bertengkar dengan ayahnya dan dari nada suaranya sepertinya anak itu menangis sambil marah-marah (atau marah-marah sambil menangis, tak tahu lah). Dia bercerita heboh sekali ke temannya dan hebatnya temannya terlihat sangat sabar mendengarnya. Kalau kata Terry, hal itu wajar untuk anak perempuan—maksudnya semacam histeria berlebihan meski anehnya aku tidak pernah melihat Fuji histeris—karena mereka menggunakan perasaan ketimbang logika seperti anak laki-laki. Aku tidak yakin sih, dulu aku juga pernah bertengkar hebat dengan Ayahku dan aku juga sampai menangis heboh seperti itu, jadi apa aku anak perempuan? 

Kejadian ini sudah sangat lama. Kira-kira saat aku berumur tujuh tahun dan Megumi berusia dua tahun. Masalah sepele, seperti biasa, tentang aku dan adikku yang harus pergi ke Rumah Penitipan Anak setiap harinya karena Ayah dan Ibu harus bekerja. Biasanya yang mengantar kami ke Rumah Penitipan Anak itu Ibu atau Hinishi-san, tapi karena Hinishi-san sedang libur dan Ibu sudah pergi kerja lebih dulu, jadilah Ayah yang mengantar kami, dan Ayah sangat menjunjung tinggi kesehatan keluarga, maka kami pergi ke Rumah Penitipan Anak dengan jalan kaki, bukan dengan sepeda seperti biasa. Aku ingat, aku berjalan di sebelah kiri Ayah sedangkan Megumi berada di sebelah kanan. Kami menggandeng tangan Ayah satu-satu dan berjalan sambil melangkahkan kaki besar-besar karena kaki Ayah panjang sekali dan karena panjang langkahnya lebih besar ketimbang langkahku atau langkah Megumi. Ayah tidak banyak berbicara sewaktu mengantar kami, padahal bagiku berjalan-jalan (meski hanya menuju Rumah Penitipan Anak) dengan Ayah sangatlah jarang jadi sebisa mungkin waktu itu aku benar-benar menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan beliau. Megumi sebenarnya juga berpikiran sama denganku, tapi dia lebih takut dengan Ayah jadi dia memilih diam. Dan mungkin karena aku laki-laki jadi mungkin aku lebih berani. 

Yang aku ingat adalah saat itu aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Ayah yang meski pertanyaanku panjang dan banyak sekali, Ayah hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala, atau hanya melirikku dan menatapku lama, atau bahkan hanya mengeluarkan suara seperti ‘hmmm’ pelan seakan-akan pertanyaanku tidaklah penting. Tapi saat itu aku tidak menyerah, aku terus melontarkan pertanyaan pada Ayah, dan aku ingat, pertanyaan pertama yang aku ajukan adalah tentang nama “Ayah, kenapa ayah menamaiku Kyoshiro?” tanyaku saat itu. Ayah hanya melirikku lalu kembali menatap jalanan setapak di depan. Tapi akhirnya Ayah menjawab, katanya Ibuku-lah yang memberiku nama itu. Lalu aku tanya, kalau Ayah dulu ingin aku bernama siapa, dan Ayah menjawab “Hiromi” yang maksudnya adalah cantik—aku langsung menggembungkan pipiku tentu saja, sebal mendengarnya. Lalu aku bertanya, bagaimana reaksi Ayah saat pertama kali aku lahir. 

Ayah hanya tersenyum tipis—aku menyadarinya karena mata Ayah menjadi lebih sipit dibandingkan biasanya!—meski tidak ada jawaban apa-apa sekali pun aku memaksanya. Aku terus menerus menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi tentang Ibu, tentang Megumi, tentang Hinishi-san atau tentang tetangga-tetangga sebelah yang tidak sekali pun Ayah menjawabnya dengan pasti. Lalu karena kesal, aku bertanya apakah Ayah benci padaku sampai-sampai Ayah tidak pernah berbicara padaku. Yang kudapat adalah raut wajah Ayah yang sedih langsung menatapku. Aku dulu tidak mengerti tentu saja, jadi aku terus memaksanya menjawab, aku bertanya “kenapa?” terus-menerus. Tapi itu malah membuat Ayahku marah, dia membentakku keras sekali. Dia bilang “DIAM!” dengan suara lantang yang belum pernah aku mendengarnya secara langsung. Aku sontak terkejut saat itu, Megumi juga, tapi mungkin karena aku memang anak bandel, aku kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan egois seperti “Ayah benar-benar tidak menyayangiku!” lalu “Kenapa Ayah membentakku? Aku kan cuma bertanya!” atau “Ayah lebih sayang Megumi-chan ya!?"

Tentu, jeritan-jeritanku tidak digubris oleh Ayah sehingga aku kesal sekali. Aku lalu langsung lari ke Rumah Penitipan Anak dan menangis di situ. Megumi-chan yang melihat juga ikut menangis tapi aku mengabaikannya. Sampai sore hari ketika aku harus pulang, aku merengek untuk tidak pulang sampai berteriak-teriak "Pokoknya aku tidak mau! Tidak mau! Aku benci Ayah!" begitu. Ternyata yang menjemputku bukan Ayah, tapi Ibu, dan begitu melihatku menangis, Ibu hanya memelukku dan membiarkanku menangis meraung-raung seperti orang gila. Katanya aku harus menangis sampai aku tenang, karena dengan begitu aku bisa merasa lega. Megumi juga begitu, dia menangis sampai merasa lega.

Setelah puas menangis, Ibu berkata padaku kalau Ayah sayang sekali padaku dan Megumi-chan. Ayah adalah orang yang adil, dia tidak pilih kasih dalam membagi kasih sayangnya sebagai seorang Ayah. Meski Ayah tidak pernah berkata apa-apa, bukan berarti Ayah tidak peduli. Kalau Ayah tidak sayang padaku dan Megumi, Ayah pasti sudah membiarkan aku dan adikku berada di rumah terus menerus ketimbang mengantarku ke tempat yang aman (Rumah Penitipan Anak). Tapi buktinya, Ayah meluangkan waktunya untuk mengantar kami dan membiarkan dia pergi bekerja dengan waktu yang sudah terbuang untuk kami di sini. Aku mendengarnya jadi merasa malu, dan saking malunya aku tidak bisa meminta maaf pada Ayah.

Yang aku lakukan hanya memeluk Ayah lama setelah pulang dari Rumah Penitipan Anak, berdua dengan Megumi. Kami tidak berkata apa-apa pada Ayah, tidak ada kata 'Ayah maafkan aku' atau 'Ayah aku salah' atau apa. Kami hanya memeluknya erat dan lama sekali sampai-sampai Ayah keheranan saat itu. Tapi aku senang, Ayah membalas pelukan kami sama eratnya lalu membiarkan kami pergi ke kamar setelah itu. Hubunganku dengan Ayah memang aneh, tapi aku sayang pada Ayah. Mungkin ucapan Terry benar, Ayah menggunakan logika ketimbang perasaan, makanya saat bertengkar denganku dia tidak menangis. Mungkin Ayah berpikir kalau aku harus di didik seperti itu? Tidak tahu juga sih.

Tapi bukan berarti aku perempuan! Anak-anak kan, suka menangis.

Label: , , , , , , ,



北沢 京 : Day 3
Rabu, 16 Mei 2012 @5/16/2012 01:57:00 AM






DAY 3




Halo, aku Kyoshiro Kitazawa ( ´ ▽ ` )ノ

Lucu tidak kalau aku bawa-bawa emot seperti itu? Katanya jaman sekarang sedang marak sekali dimana-mana, bukan? Aku hanya ingin menyesuaikannya saja, lagian tidak ada salahnya. Kali ini aku ingin menceritakan tentang masa kecilku. Tidak tahu kenapa tiba-tiba ke pikiran saja. Yah, sebenarnya sih hal ini ke pikiran sewaktu aku bergentayangan melintasi asrama Bara, tidak sengaja aku mendengar cerita-cerita tentang keluarga mereka yang berujung bercerita tentang masa kecil mereka. Tahu-tahu saja, aku jadi kangen masa kecilku. Sebenarnya sih tidak ada yang spesial dengan masa kecilku, tapi aku mendadak kangen saja, lagi pula tidak ada salahnya kan kalau kalian tahu tentang masa kecilku?

Aku lahir tanggal 15 Juli tahun 1980. Kata orang tuaku, aku lahir sekitar tengah malam, tidak tahu tepatnya tanggal berapa, dan katanya juga golongan darahku adalah O. Tidak begitu yakin sih sebenarnya, aku sudah sedikit lupa tentang ini tapi untuk tanggal lahirku sih tentu saja aku ingat. Tanggal matiku sendiri kalau di nisan tertulis 25 Juli 1996 tapi aku tidak yakin apakah sehari sebelumnya aku memang sudah mati atau memang tepat di hari itu, yang jelas aku mati ketika usiaku genap enam belas tahun. Mungkin tanggal itu benar adanya, setidaknya ucapan Andou-san—Daitokuji Andou si penjaga kuburan, dia sudah seperti keluargaku sendiri karena kalau bukan karenanya, mungkin kuburan-kuburan di Ryokubita tidak akan terawat seperti sekarang—meyakiniku bahwa memang aku mati tanggal 25 Juli. Yah aku percaya padanya.

Megumi sendiri lahir lima tahun di bawahku, aku terus terang saja tidak ingat lagi kapan tepatnya dia lahir, yang aku ingat hanya usianya berbeda lima tahun di bawahku. Dia adik perempuan yang sangat manis, saking manisnya aku terlalu protektif terhadapnya. Kata Ibu, tindakanku keterlaluan, katanya bagaimana kalau sampai Megumi-chan tidak bisa tumbuh kembang menjadi anak perempuan yang kuat karena terus menerus dikekang oleh kakaknya, tapi kata Megumi-chan justru dia menyukainya, jadi akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengikuti saran Ibu meski aku katakan pada Megumi-chan bahwa kalau dia butuh aku, dengan sekuat tenaga aku pasti membantunya.

Sebenarnya untuk masuk ke kawasan rumahku itu harus melalui jalanan setapak yang kecil, yang kata Ayah itu adalah jalan paling aman dari orang-orang yang iseng dan jahat. Aku tidak percaya sebenarnya, tapi kalau malam sekitar rumahku sepi sekali, sepertinya kemungkinan terjadinya tindak kriminal pastilah besar. Dan karena masuk ke kawasan rumahku sangatlah kecil, aku tidak begitu kenal dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah, aku hanya mengenal Takahasi-sensei yang sebenarnya dia itu guru lesku setiap sore, tapi dia juga seorang dokter hewan (aku sering kali main ke tempatnya karena di sana banyak sekali kucing dan anjing!). Lalu aku juga mengenal Bibi Matsumoto yang jualan banyak barang di toko kelontongnya yang tepat berada di depan jalanan rumahku. Bibi orangnya galak tapi anehnya barang-barangnya selalu habis setiap hari. Kata Ayah, itu karena Bibi Matsumoto orangnya tegas sekali, makanya disegani (aku dulu tidak tahu artinya disegani apa.)

Selain itu aku juga kenal Hinishi-san, kakak perempuan yang menjadi pengasuhku dan Megumi-chan kalau Ayah dan Ibu pergi keluar rumah untuk waktu yang lama. Hinishi-san tinggal tak jauh dari rumah kami, dia adalah anak sulung dari lima bersaudara dan adik-adiknya katanya sama nakalnya sepertiku, tapi aku sih tidak peduli, yang jelas begitu aku bertemu dengan adik-adik Hinishi-san, aku masih jauh lebih keren dari pada mereka.

Kenangan masa kecilku kurang lebih sama seperti anak-anak lain pada umumnya. Kami bermain ke lapangan rumput luas tak jauh dari perumahan kami dan bermain baseball saat itu. Aku tidak jago olah raga, tapi aku lumayan mahir bermain itu meski aku akui aku malas sekali bergerak. Waktu kecil juga aku dan teman-temanku bermain kumbang dan saling adu kuat. Megumi-chan sering kali mengomeli kami karena katanya kasihan kumbang itu pasti kesakitan, tapi yang ada Megumi-chan dan teman-teman perempuannya-lah yang akhirnya kami kejar-kejar dengan kumbang. Di pikir-pikir aku dan teman-temanku memang jahat sih. Selain bermain kumbang, aku ingat dulu aku sering sekali bermain pesawat kertas dengan teman-temanku yang lain, membuat camp rahasia, bermain macam-macam mainan. Rasanya menyenangkan.

Waktu kecil aku dan Megumi-chan sering kali berada di Rumah Penitipan Anak ketimbang di rumah karena kedua orang tua kami bekerja. Aku tidak begitu kesepian meski Ibu atau Hinishi-san selalu paling akhir menjemput kami karena orang-orang di Rumah Penitipan Anak sangatlah baik hati. Apalagi ada banyak anak di Rumah Penitipan Anak itu meski yah, ketika menjelang sore teman-temanku mulai pulang satu persatu dan akhirnya aku selalu tinggal berdua dengan Megumi-chan untuk menunggu dijemput. Pada waktu di Rumah Penitipan Anak, Megumi-chan pernah bilang katanya aku anak yang introvert dan cengeng, bahkan lebih cengeng dari pada dia. Aku sih hanya tertawa kalau mengingatnya.

Aku dan Megumi-chan sebenarnya sebal sekali kalau harus pergi ke Rumah Penitipan Anak. Kami sering kali memberontak dan merengek-rengek ketika Ibu atau Ayah mulai menarik kami ke luar rumah. Kami selalu berteriak "tidak mau! Tidak mau!" keras sekali sampai menangis. Tapi Ibu dan Ayahku sama-sama orang yang tegas—apalagi Ayahku—makanya pada akhirnya selalu kami-lah yang kalah, bisa karena ancaman palsu, atau benar-benar di paksa naik sepeda dengan sepatu dan tas di masukkan ke keranjang sepeda.

Di Rumah Penitipan Anak kami diajari banyak hal, salah satunya yang paling aku ingat adalah ketika kami ditanya tentang cita-cita. Sampai sekarang sebenarnya aku percaya kalau aku ini adalah Kamen Rider! Sedangkan Megumi-chan selalu menjawab dia ingin menjadi seperti aku! Aku juga pernah bilang aku ingin menjadi Santa Claus karena aku sangat percaya kalau Santa Claus benar-benar ada. Aku menyukai Santa Claus karena dia memberiku hadiah dan suatu hari aku ingin seperti dia yang bisa memberi banyak hadiah pada anak-anak sepertiku dulu. Meski setelah masuk tingkat pertama, aku tahu sih sebenarnya Santa Claus itu tidak ada, tapi aku dan Megumi-chan masih terus percaya sebenarnya dia ada, makanya kalau di tanya, kami tetap bilang “dia ada”. Orang-orang di Rumah Penitipan Anak hanya bisa menggeleng-geleng mendengar cerita kami saat itu.

Tapi ketika aku berusia sepuluh tahun, atau mungkin sekitar kelas lima atau enam SD, aku tidak lagi berada di Rumah Penitipan Anak, hanya Megumi-chan yang itu pun tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian dia meminta pada Ibu dan Ayah untuk tinggal di rumah karena katanya ada aku yang bisa menjaga. Aku menyanggupinya, dan seolah-olah hanya tinggal berdua dengan Megumi-chan, aku hampir melakukan semuanya sendiri seperti memasak nasi, buat ramen pun, mencuci baju, dan segala hal lainnya (meski tetap masih di bantu Hinishi-san!). Saat itu aku benar-benar merasakan hal-hal seperti, “Aduduh, panas!” atau “Yahh, jatuh~” saat memasak alias tidak bohongan seperti ketika aku bermain masak-masakan dengan Megumi-chan.

Sebenarnya aku tidak yakin apa yang aku ceritakan ini apakah benar-benar kenanganku sendiri atau kisah yang diceritakan orang padaku. Tapi aku percaya, kalau aku bisa menceritakan sampai sedetail ini tandanya ini memang aku alami. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang masa kecilku, namun sepertinya aku harus petapa di kuil untuk beberapa saat agar ingatanku benar-benar jernih sehingga aku bisa menceritakan banyak hal tentang Kyoshiro Kecil itu seperti apa (haha). Dan jujur saja, aku ingin sekali bercerita tentang Megumi-chan dan keluargaku tapi entah kenapa sulit sekali mengingat mereka.

Mungkin karena saking kangennya justru hal-hal yang ingin di ingat tidak keluar.

Pernah tidak kalian mengalami itu?

Label: , , , , , , ,



北沢 京 : Day 2
Senin, 14 Mei 2012 @5/14/2012 08:58:00 PM





DAY 2




Kau pikir siapa lagi yang menulis semua ini selain Kyoshiro Kitazawa?

Tahun 1993, tanggal 17 April di Musim Semi, kalau aku tidak salah ingat itu adalah hari sabtu, hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah ini setelah sebelumnya selama dua minggu ke belakang aku mengurus segala macam keperluanku untuk sekolah yang—sungguh itu sangat merepotkan!! Apakah sekarang juga? Wah, sepertinya dari dulu tidak berubah ya jaman ke jaman, tapi saranku sih nikmati saja! Menyenangkan kok karena di tengah-tengah repotnya kalian, kalian bisa menemukan teman baru sepertiku! Yep, aku ingat pertama kali aku mengenal Kei Yamazaki saat aku kelimpungan menggiring banyak buku yang baru aku beli. Waktu itu buku-bukuku tiba-tiba terjatuh karena kakiku tersandung batu kecil di jalan setapak. Alhasil tentu saja, buku itu berserakan kemana-mana. Lalu tahu-tahu saja, Kei datang dan membantuku. Itulah perkenalanku dengan Kei untuk pertama kalinya.

Kei orang yang arogan, sama sepertiku, tapi dia masih bisa menahan diri.

Tidak tahu sih, yang jelas aku lebih keren.

Keren sekali.

Oh lanjut. Mungkin karena kita sama-sama memiliki sifat arogan, makanya aku masih ke asrama Bara. Asrama itu dilambangkan dengan bunga mawar yang berwarna merah pekat. Kata Mori-sensei (waktu itu kepala Asrama Bara itu Nagataki Mori, sekarang berubah-ubah ya?) asrama Bara itu diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memiliki jiwa ambisius—bersemangat hingga terkadang akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Aku tidak yakin sih dulu aku ambisius karena apa, apakah sekolah ini tahu aku begitu ingin keluar dari rumah sehingga aku berada dalam kategori 'melakukan apapun agar tujuannya tercapai'? Tidak tahu sih, yang jelas aku cukup senang karena aku masuk asrama Bara. Warnanya merah soalnya, dan merah itu keren.

Selain Kei, aku juga bertemu banyak-banyak orang dari berbagai asrama dengan karakteristik yang berbeda-beda. Seperti misalnya aku bertemu dengan Touya Morimoto yang sama-sama dari Bara tapi dia orangnya tekun sekali! Bayangkan! Setiap hari belajar! Aku sih muntah duluan kali ya kalau melihat buku setiap hari, bahkan lebih dari semenit aku pun meragukannya. Lalu bertemu dengan Takumi Ogawa dari asrama Kiku yang sumpah deh berisik! Setiap kali bertemu dengan Ogawa-kun, astaga rasa-rasanya gendang telingaku mau pecah mendengar dumelannya dan ceramahnya yang luar biasa menyiksa. Aku sering kali menyumpal mulut Ogawa-kun dengan onigiri kalau aku sudah muak dengan ceramahnya, ihihihi. Tapi sekarang aku kangen sih dengannya, habis kalau tidak ada yang bawel, rasanya sepi sekali. Ah! Aku juga kenal Sakura Yabe dari asrama Sakura yang luar biasa kalem dan kalau ngomong benar-benar pelan sekali. Aku ingat tuh pertama kali berbicara dengan Yabe-san, mungkin lebih dari sepuluh kali aku bertanya 'Apa?' atau 'Apa Yabe-san? Aku tidak dengar?' sampai-sampai Kei bilang padaku mungkin telingaku-lah yang bermasalah.

Aku benar-benar sangat merindukan teman-temanku sekarang ini. Mereka semua pastilah sudah lulus dan sudah memiliki keluarga sendiri, punya istri atau suami dan anak-anak yang lucu. Sayangnya karena aku mati di usia muda, aku tidak bisa merasakan hal yang sama dan hanya bisa merajut rindu yang tidak pernah bisa di tebus apa pun. Yang bisa aku temui hanyalah Kei, dia sudah seperti sahabat karibku yang juga seperti saudaraku. Kei meninggal karena tertabrak mobil di Hakamadote (mentang-mentang Hakamadote jarang ada mobil, sekalinya ada mobil bawanya ngebut! Dasar bego!) dan tidak sempat mendapatkan pertolongan sehingga saat itu juga Kei meninggal. Karena merasa dendam, dia enggan pergi ke Nirwana sebelum menemukan siapa pelakunya, setidaknya itulah janji Kei yang terucap sebelum nafas terakhirnya berhembus.

Sedangkan aku?

Aku bergentayangan di sekolah ini karena apa?

Label: , , , , , , ,



北沢 京 : Day 1
@5/14/2012 08:19:00 PM




DAY 1




Kenalkan, namaku Kyoshiro Kitazawa.  

Umurku? Umurku 16 tahun meski sudah 32 tahun aku berada dalam tubuhku yang berusia 16 tahun ini. Sudah selama itu pula aku berada di sini, di tempat yang tidak bisa aku tinggalkan meski aku ingin sekali keluar dan berjalan-jalan seperti biasa, melihat kehidupan di dunia yang kini aku sebut antah berantah. Tapi sayangnya aku tidak akan pernah bisa—yah, aku lebih suka di sini karena bagiku tempat ini sudah seperti rumahku, setidaknya di sinilah aku tumbuh, aku hidup, dan aku dikuburkan.

Entah sudah berapa banyak anak laki-laki atau perempuan atau bahkan binatang-binatang yang datang dan pergi di depan kedua mataku, hilir-mudik bergantian tak pernah henti setiap harinya, aku tidak ingat, tapi itu bukan masalah bagiku karena jika meski sulit aku masih bisa berinteraksi dengan mereka secara nyata. Itulah mengapa aku suka sekali berada di sini karena aku beruntung masih bisa merasa hidup meski hanya sebatas obrolan belaka.

Dulu aku tinggal di Okinawa bersama keluargaku. Aku punya Ayah, Ibu, dan adik perempuanku satu-satunya yang bernama Megumi. Ayahku adalah orang yang sangat keras bahkan kalau boleh jujur, aku sering kali merasa sebal karena sifatnya itu. Kalau aku tidak mau, Ayah biasanya memaksa agar aku mau. Begitulah sifat kerasnya. Tapi kata Ibu, Ayah juga orang yang sangat penyayang. Diam-diam ayah memperhatikanku dan adikku meski di depan kami dia justru terlihat dingin dan cuek. Ayahku juga sangat jarang berbicara, dia hanya akan berbicara kalau ada perlunya, mungkin karena inilah orang tuaku jarang terlihat berbicara satu sama lain.

Sedangkan Ibuku adalah orang yang sangat anggun dan penuh kasih karena kelembutannya. Ibu juga salah satu orang yang sangat bijaksana yang pernah aku lihat. Ibu tidak pernah marah di depanku atau di depan adikku, bahkan kalau ada yang kesal di rumah, Ibu-lah yang mendinginkan suasana. Yah, meski pun secara terang-terangan Ibu terlihat lebih menyayangi Megumi, itu tidak masalah, mereka kan sama-sama perempuan, wajar kalau ada ikatan batin secara berlebihan ketimbang aku yang berjenis kelamin laki-laki. Oh iya, banyak yang bilang kalau wajah ku lebih mirip Ibu ketimbang Ayah, sedangkan Megumi kebalikannya. Aku tidak tahu sih kenapa bisa begitu.

Adikku bernama Megumi, dia anak yang cantik dan manis sekali. Aku ingat dulu kalau aku berjalan-jalan sekali pun itu di dalam rumahku yang luas sekali, Megu mengekorku kemana pun aku pergi. Lucu sekali. Dia juga sering kali meminta bantuanku kalau-kalau pelajaran di sekolahnya terasa sulit baginya. Aku menyayangi Megumi lebih dari apa pun, mungkin karena aku seorang kakak juga jadinya aku bersikap protektif terhadapnya.

Aku pergi dari rumah ketika aku sudah merasa tidak betah dengan perlakuan keras Ayahku. Ada sebuah sekolah yang mengatakan bahwa aku di terima di situ dengan sistem perasrama yang intinya, selama setahun selain liburan kenaikan kelas, aku akan berada jauh-jauh di rumah. Aku ingat, untuk pertama kalinya aku masuk sekolah jauh dari rumah, dan kalau tidak salah itu adalah tahun 1993. Megumi tampak sedih sekali, tapi aku berjanji padanya aku akan terus-menerus mengirimnya surat agar dia tidak kesepian di rumah.

Tapi kehidupanku ternyata tidak bertahan lama. Maksudku, hidup sendirian di tempat yang sebelumnya tidak pernah kau tinggali apalagi kau tahu bukanlah hal yang mudah. Banyak hal-hal yang aku lalui dan sungguh hal itu sangat beragam, ada yang menyenangkan, menyebalkan, bahkan membuat marah. Seharusnya aku menyusukuri semua itu, tapi selama aku hidup aku malah merecoki dan mengkeluh-kesahkan semuanya seolah-olah apa yang aku hadapi waktu itu salah. Tapi sekarang, begitu aku mati, aku menyesalinya. Seharusnya selagi aku masih hidup, aku harus mensyukuri semua itu apa pun bentuknya, karena sekarang justru aku tidak lagi merasakan apa yang aku rasakan waktu aku hidup. Meski begitu, aku tetap menyesali sih kenapa aku mati di saat usia enam belas tahun, dan hanya tiga tahun di sekolah itu. Semua gara-gara kejadian di kamar mandi, dan aku menyesalinya teramat sangat. Andaikan semua itu tidak terjadi.

Ya ya ya, lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh—ya namanya juga hantu.

Hmm hmmm, aku sedang ingin mengulas alasan kenapa aku masih bergentayangan sampai sekarang omong-omong. Berbicara terus kepada Fuji rasanya kasihan, dia juga punya kehidupan, aku tidak mau kehidupannya berubah menjadi suram hanya karenaku, makanya sebisa mungkin apa yang aku ingat ingin sekali aku curahkan di sini, setidaknya semua kehidupanku, bukan cuma seputar sekolah dan keluargaku saja, mungkin rahasia Megumi juga akan aku ceritakan di sini. Ahahahaha!

Baiklah, sekian ceritaku, mungkin akan aku lanjutkan nanti.

Aku mau kencan dengan Fuji! Fufufufu!






北沢 京
ya ampun aku masih ingat kanji namaku! 

Label: , , , , , , ,



Yoshitsugu's FanArt
Selasa, 03 April 2012 @4/03/2012 10:11:00 PM





Yoshitsugu's FanArt

----------------

As always I'll remind you :

Do not dare to take, or copy, or repost all of my fanart without permission.
Ask me on Twitter (@deeladiladhila) if you want to save as.

You've been warned

----------------



Jadi, kemarin saya pernah koar-koar di twitter kalau saya bikin komik tao-ken, deshou? Dan saya janji setelah di scan saya bakal post di ryoku? Sou, ini dia. Well, sekalian sama sketsa kasar (iya kasar, banget malah) Ken sama yang lain. Enggg gak tau harus ngomong apa sih intinya mah saya ke sini mau bayar utang [s]yang masih ada utang lainnya[/s] dan spesial nih pake akun ken cuma buat ngepost beginian HAHAHAHAH ya kali.


Ken, Tao, Suzaku

Yuto, Ken, Shey

Kasar banget ya? hahaha iya lah ga pake penghapus soalnya #dibuang. Maaf kalau gambarnya jelek, ini di buat di tengah-tengah badai tugas komik yang belum selesai ampe sekarang, cuma sekedar coretan karena tau-tau kepikiran mereka -__-d Itung-itung gambar anime lagi, gila gue udah luamaaaaaa banget ga gambar anime, [i]kangen[/i]. Ah, di pikir-pikir, Ken ini kan orangnya ga pedulian, tapi sungguh sangat luar biasa dia bisa deket sama empat orang di atas =)) =))

Anw, silahkan di jepret gambarnya buat ukuran asli. Next.






Ini komik yang gue janjiin jauh-jauh hari. Sorry baru sempet nge-scan, LOL. Enggak full, beneran begitu, tiga halaman dan langsung the-end. Keinspirasi dari salah satu fanfic tao-ken (uhuk) yang masih progress, terus tau-tau kepingin buat ilustrasinya, tapi gak memuaskan, akhirnya (lagi-lagi) di tengah badai uts komik, gue malah bikin komik beginian dan komik Shena-Eja gue malah ga kelar =)) LOL 

Caranya? Manual, tentu. Kapan sih gue main digital. *nangis darah* *anak seni rupa gadungan* Err... Pakai drawing pen, penggaris, pinsil, sama tinta cina doang. Ya ya ya, kayaknya gue bakat di manual. Hmmm kayaknya cuma segini fanart Ken selain yang udah gue post sama Tetsu di atas, ntar kalau ada gue post lagi kok.

Yang gue utangin fanart (dear @sakenyucchi dan @_1ban) nyusul ya ' ' b



Regrads.

Label: , , , , , , , ,



Seleksi Asrama - Shigeru Matsuura
Sabtu, 28 Mei 2011 @5/28/2011 02:33:00 AM



“Matsuura Shigeru-san”
Namanya sudah di sebut omong-omong.
Lengkap dengan marganya, Shigeru hanya bisa membuka mulutnya begitu Rena-sensei (kalau tidak salah dengar sih begitu) memanggilnya. Kalau sudah begitu, artinya sudah saatnya dia untuk di seleksi seperti yang lainnya. Ya, seleksi asrama dengan menggunakan bola kristal botak kinclong di hadapannya. Sedari tadi sebenarnya Shigeru tidak fokus, berkali-kali di warp sejak dia pergi dari Hakamadote adalah sesuatu yang tidak biasa. Rasanya seperti mabok menaiki kapal terbang yang naik kapal terbang saja Shigeruu tidak pernah.  
Ada tiga asrama—mana yang cocok untuk Shigeru?  
Nenek pernah bilang, semua asrama yang ada di Ryokubita adalah asrama yang terbaik, tiap-tiap asrama memiliki potensi dan posisi tersendiri dalam tiap-tiap ilmu sihir yang diajarkan. Nenek juga pernah bilang, apa pun asrama yang nanti Shigeru dapatkan Nenek tidak ambil pusing, asalkan Shigeru bisa belajar sihir dengan cepat dan mudah, Nenek akan senang—tapi tidak untuk Shigeru, setidaknya dia ingin satu asrama dengan teman semasa kecilnya, Rio Akimoto.  
“Di sentuh, sensei?”  
Mengulang pernyataan guru dihadapannya itu, Shigeru tersenyum kikuk, kemudian mendekati bola kristal dengan mata berbinar-biar dan kemudian memandang lagi sensei di hadapannya itu. “Ini benar-benar di sentuh, sensei? Kalau nanti bola kristalnya pecah bagaimana? Shigeru tidak bisa menggantinya loh—bayar penginapan saja susah payah apalagi membayar bola kristal mahal ini”  
Kok jadi curhat sih.  
Dan kedua tangan Shigeruu terangkat, mengulurkannya dengan sangat hati-hati dan kemudian menempelkan telapak tangannya di atas bola kristal itu. Senyum terukir di wajahnya; terkekeh pelan. “Tapi kalau di jual kira-kira dapat uang yang banyak tidak, sensei? Lumayan bisa beli rumah nantinya”  
eaaaa.

Label: , ,



Seleksi Asrama - Yoshitsugu Kitamura
@5/28/2011 02:32:00 AM



Tubuhnya kotor karena makanan, sekaligus lengket karena soda.  
Tapi sekali pun demikian, sulung Kitamura ini tetaptak menghiraukan penampilannya yang berantakan, asalkan ada rokok terselip di bibirnya, semuanya akan tetap sempurna. Ya. Asap rokok Marlboro Light menthol kesukaannya mengepul disekelilingnya, dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, Ken atau yang bernama lengkap Yoshitsugu Kitamura ini tidak peduli dengan yang lain, bahkan tetap santai dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya.  
Dan tangan kanannya terangkat, mengambil rokoknya sembari menghembuskan asap ke udara.  
Berkali-kali di warp sejak dia turun dari kereta membuat Ken merasa aneh sendiri. Tidak terbiasa dengan sesuatu hal yang baru (apalagi magis seperti ini) rasanya asing, kalau boleh jujur, dia pusing, tapi yah karena Ken adalah orang yang santai jadi hanya bisa berdiri tegak dengan lagi-lagi rokok di bibirnya.  
Masih tetap merokok meski siapa-itu-perempuan menjelaskan tentang sebuah seleksi untuk asrama di sekolah ini—tiga, ada sakura, kiku, dan bara. Ken hanya tersenyum tipis mendengarnya dan terkekeh saat mendengar caranya di seleksi. Bola kristal? Kontras sekali dengan suasananya yang tradisional—kenapa tidak menggunakan teh saja?  
Ah sudahlah, bukan urusan Ken juga sih—santai.  
Dan asap mengepul lagi.  
“Kitamura Yoshitsugu-san”  
Ken melangkah mendekat, kedua tangannya masih ada di dalam saku celananya dan rokoknya masih mengepul. Matanya mengerling memandang wanita-itu-siapa dan tersenyum tipis, “Sentuh?” ujarnya pelan sembari mengeluarkan tangan kanannya dan dengan perlahan bergerak, menyentuh si bola kristal dengan ujung jari telunjuknya, masih tetap merokok dengan santai. Kemudian dia menatap langit-langit ruangan dengan tangan mengambil rokok dari bibirnya, Ken menghembus asap ke udara.

Label: , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //