<body>
l.o.v.e
Sabtu, 07 Juni 2014 @6/07/2014 08:00:00 PM



―― ♪ ―― 
“L, is for the way you look at me.” 
―― ♪ ――  


Pagi itu, Ken memulai harinya dengan mandi dua kali. Pertama, ia mandi di kamar mandi asrama. Kedua, ia mandi di pintu kelas. Di saat yang sama pula, gadis berambut hitam dengan lambang asrama mawar di seragam sekolahnya terkikik geli sambil buru-buru mengambil langkah seribu. 

“Mati kau, Ito-san.” 


―― ♪ ―― 
“O, is for the only one I see.” 
―― ♪ ――  


Jangan mengumpat, jangan mengumpat, jangan mengumpat, Ken. 

Menjadi tontonan seantero Ryokubita bukanlah hal yang membanggakan. Masih mending kalau kau menjadi pusat perhatian memang karena akademis, atau kau-anak-gaul-ryokubita. Tapi kenyataannya, Yoshitsugu Kitamura menjadi pusat perhatian bukan karena dua hal itu, tapi karena gadis berambut hitam yang sering kali mengambil langkah seribu setiap kali berhasil mengerjainya. 

Hari ini, sudah kali ketiga Ken menjadi korban keisengan Tao Ito. Mulai dari kehujanan lokal di kelas, mendarat dengan mulus di lantai kantin ketika ingin duduk di kursi—oh siapa pula yang ingin duduk di kursi yang berlari-lari histeris, menjerit tidak ingin lagi mencium pantat orang?—dan sekarang berwajah sehitam aspal jalanan karena gadis brengsek itu sukses mengganti air ledeng di toilet saat Ken ingin cuci muka. 

Pernahkah kau mengalami satu atau dua hari sial dalam hidupmu? Bersyukurlah karena baru satu atau dua kali, teman. Kau belum pernah merasakan berhari-hari mengalami sial, dan berkali-kali pula. Oleh orang yang sama.

Tekankan sekali lagi, orang yang sama.  


―― ♪ ―― 
“V, is very very extra-ordinary.” 
―― ♪ ――  


“Kenapa kau tidak membalasnya?” 

Sebenarnya, setiap kali mendengar pertanyaan itu, sering kali terbesit di pikiran Ken untuk memenuhi hal tersebut. Membalas perbuatan-perbuatan Tao Ito yang kalau kau tulis di buku, mungkin sudah setebal buku dosa. Tapi tiap kali berpikir untuk membalas, harus dibalas dengan apa agar setimpal? Ken tentu dilema—bukan karena kasihan. 

“Jangan-jangan, sebenarnya dia menyukaimu?” 

Apa pula pendapat itu? Halo? Kau tahu siapa gadis yang kita maksud ini siapa? Apa kau terlalu buta untuk memprediksi dari raut mukanya yang menyebalkan itu? Hah! Yang benar saja! Tidak pernah terpikirkan sekali pun kemungkinan itu, dan kalau pun memang ada—tidak akan mungkin ada. 

“Tapi, kau tidak pernah berpikir kalau Tao Ito itu cantik?” 

Ganteng atau cantik itu realtif, kawan. Lagi pula, apa hubungannya semua keisengan sialan itu dengan wajah cantik? Memangnya, orang berwajah cantik itu bisa bebas melakukan keisengan? Memangnya, keisengan dari orang berwajah cantik bisa di toleransi? Hei, tidak ada yang menyebut Tao Ito itu cantik, tahu. 

“Sebenarnya, kau menikmati semua keisengan itu, kan?” 

“Yang benar saja.” Ken mencibir begitu mendengar kata-kata dari Suzaku-san. Laki-laki dari asrama sakura yang kini tersenyum tipis—senyum menjengkelkan—dan mengangkat alisnya seakan-akan berkata ‘ya, kau menikmatinya’. “Aku sama sekali tidak menikmatinya.” Tegas Ken. 

Suzaku berdecak sambil menggelengkan kepalanya.  


―― ♪ ―― 
“E, is even more than anyone that you adore can love.” 
―― ♪ ―― 


 Lalu Ken hanya bisa mendengus kesal. 

Tangannya sedari tadi sibuk dengan sebatang rokok yang masih mengeluarkan asap nikotin meski tak lagi ada api yang menyala. Sedangkan mata hitamnya tetap fokus memperhatikan pemandangan di luar—di taman kecil yang berada di area Main House. Sesekali, Ken menengadahkan kepalanya ke atas, mendengus, lalu kembali memandang taman kecil itu dengan seksama.  

Hatinya sedang beradu dengan logikanya. 

Tao Ito.  




----------------------- 
Yoshitsugu Kitamura – Tao Ito 
Belongs to me, Kal, Ito-san, and @HikariJournal’s universe. 
© Nat King Cole. 
-----------------------

Label: , , , ,



RP NO PAWA!
Kamis, 19 April 2012 @4/19/2012 01:49:00 AM




Between your Character and visualization.




Jadi karena semalem (atau mungkin dari dua malam? Ya itulah) kemarin keasyikan baca THE HYDE dan TETSUGAKU translation atau bisa di bilang versi bahasa inggrisnya (sorry, I'll not publishing in here. it's not my business. Just search it, you'll find that), gue selalu berujung ketawa-ketawa dengan fakta-fakta yang gue temuin. Meski gue pernah bilang ada beberapa fakta yang gue ambil dari visualisasi mereka ke karakter-karakter gue alias gue emang sengaja buat menyamakan mereka di beberapa sisi, ternyata ada juga yang secara enggak sengaja beneran sama di luar rencana. Maksud gue, untuk Tetsuyama, okelah gue pernah baca TETSUGAKU waktu dulu banget (sekitar tahun 2008 apa 2009—emang udah lama), tapi kan itu udah lama banget sedangkan gue ngegerakin Tetsuyama udah hampir tiga tahun, thats mean anak gue berkembang, dan diluar dugaan perkembangan Tetsuyama sama TETSUYA ternyata ada beberapa yang sama. Oh, mungkin ini yang disebut RP no Pawa.

Kalau dulu di IH judulnya between you and your character, gue lebih tertarik between your character and visualization. LOL. Dan karena anak gue banyak, tentunya pasti ini post bakalan panjang, tapi enggak sih, gue cuma bakal ngepost beberapa anak yang emang udah ketauan persamaan sama perbedaannya aja sih—hei, gue ga selalu fandom dari masing-masing anak gue loh ya, kebetulan aja visunya cocok dan karakter anak gue seperti visualisasi tersebut. Semacam itu. Dan karena dari kemarin gue searching soal Larc dan Sugar, mungkin segitu dulu aja kali ya.

Kyoshiro Kitazawa - HYDE.
  • Boncel alias pendek. Meski tinggi Kyoshiro di tambahin 2 cm dari Hyde sih.
  • Sama-sama buta warna. Meski HYDE buta warna parsial, Kyoshiro deutromali.
  • Sama-sama 'bocah' dalam arti childish.
  • Sama-sama maniak coklat tapi gak begitu fanatik valentine
  • Sama-sama suka gitar dan egois
  • Kyoshiro itu setan, sedangkan HYDE benci banget soalnya dia pernah mimpi di kejer-kejer setan—HAHAHAHA.
  • Ulang tahun mereka beda jauh, banget.
  • Golongan darahnya sama-sama O !! =)) =)) #headbang
  • HYDE anak tunggal, Kyoshiro punya 1 adik perempuan
  • Sama-sama suka tamagotchi~
Tetsuyama Ikuya - TETSUYA

  • Sama-sama karakteristik 'Sakura' meski dalem-nya 'Kiku'
  • Sama-sama work-a-holic, luar  biasa.
  • Sama-sama santai dalam arti kepribadian
  • TETSUYA enggak pernah punya waktu luang—I mean, dalam kehidupan nyata, waktu luang dia bakalan di pake buat nge-bass atau nulis lirik. Bahkan kalau pun ada sms atau email masuk jarang banget dia bales. Tetsuyama kebalikannya, waktu luang dia banyak
  • TETSUYA punya 2 adik perempuan, Tetsuyama punya 1 adik perempuan dan 1 kakak laki-laki
  • Tingginya sama, beratnya beda. TETSUYA lebih gendut dikit.
  • TETSUYA suka banget sama SUNNY, dan fyi, Tetsuyama pairingnya Naoko Ikeuchi =))
  • TETSUYA kalau ngomong di pikir dulu, maksudnya, karena dia bijaksana (banget) kata-kata dia selalu hati-hati, selalu sebisa mungkin enggak ambigu. Tetsuyama sekali pun sama-sama bijaksana, dia lebih suka blak-blakan.
  • Sama-sama gak suka sama anak-anak, tapi belum kebayang kalau anak sendiri.
  • TETSUYA sangat, sangat, sangat, cleanfreak. Tetsuyama sih nyantei.
  • Sama-sama suka gundam, evangelion, sama bass.
  • Sama-sama ga suka  masak (HAHAHAHAHA) bedanya kalau Tetsuyama emang gak bisa, kalau TETSUYA dia gak suka kotor >__>
  • TETSUYA bisa di bilang waktu sekolah agak ansos, gak ikut klub apa pun, Tetsuyama kebalikannya, ikut klub dan famous -__-
Yoshitsugu Kitamura - Ken Kitamura
  • Marga—emang sengaja sih disamain.
  • Sama-sama punya saudara perempuan! =)) #troll
  • Tingginya sama (disamain sih, gila 178 tinggi amat =)))
  • Ken sangat, sangat, sangat cerewet. Yoshi kebalikannya.
  • Ken suka olah raga, Yoshi kebalikannya.
  • Mereka sama-sama perokok dan suka sake.
  • Mereka sama-sama punya telinga yang peka, kalau Ken dominan ke musik, Yoshi apa pun.
  • Ken semasa sekolahnya super sangat bersosialisasi. Sama siapa aja kenal, cool, gaul, etc. Yoshi kebalikannya (kok kebalikan dari tetsuyama-TETSUYA ya =)))

Masahiro Awaji - Yukihiro Awaji
  • Marga—emang sengaja sih disamain.
  • Sama-sama misterius, quite, pendiem, susah di tebak, pemikirannya beda sendiri.
  • Sama-sama bujangan, beda alasan. Yukkie menurut buku biografinya, dia dulu punya pacar, senpainya, tapi sayangnya pacarnya tewas karena kecelakaan ;w; kalau Masahiro sih emang jomblo aja, jodohnya entah dimana. Lalalala~
  • Yukkie sangat gaul dalam arti gadget apa pun dia bisa. Masahiro kebalikannya, dia udik.
  • Sama-sama suka warna hitam.
  • Pendiam, sangat.
  • Kurus ceking. Yeah.
  • Tingginya di buat beda, Yukkie 165 cm, Masahiro di buat 170 cm.


Apa lagi ya...—kalau udah lupa suka bingung mau nulis apa. Bahkan Sugar sama Reichi aja bingung. Ah udah lah, lumayan segini juga. Anw, udah lama ya gue ga nulis blog? Terakhir 11 April, dan apa kabar fanfic challenge gue? Hahahaha, masih dalam berupa draft, akhir-akhir ini gue lagi keasyikan (???) nugas. Tapi tenang, secepat mungkin update kok~ Dan post ini kalau pun ada yang nambah, gue tambahin lagi ah~ toh THE HYDE masih unfinished dan TETSUGAKU masih banyak chapter yang harus gue baca ulang 8DDD

Yuk mari~

Random~

Label: , , , , , , , ,



First Night
Rabu, 04 April 2012 @4/04/2012 08:59:00 PM




Disclaimer :
  • Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
  • Semua karakter yang disebutkan adalah kepunyaan PMnya masing-masing.
Again, Fanfiction Challenge !! Challenge dari PM Tao Ito langsung yang dengan super ajaibnya ngasih gue topik 'malam pertama' dan sayangnya di otak gue (dan mungkin otak Tao) bakal berujung lawak. Alhasil, jadilah ini FF lawak. Tapi sayangnya, mungkin gue gak berbakat lawak lewat tulisan jadi ga begitu lucu-lucu amat, apalagi menarik. Ya, seenggaknya, gambaran kalau someday mereka berdua diharuskan satu kamar, mungkin seperti ini.

Seperti biasa, gue tekanin kalau semua yang terjadi tidak ada sangkut paut dengan plot chara yang terlibat. alias murni fanfiction. Terakhir, timeline liburan musim panas 2010, usia 22 untuk Tao dan 21 untuk Ken (karena belum masuk november, deshou?) akhir kata, enjoy











“Jadi, kau tidak mau pulang?”

Gadis itu menggeleng, memeluk bantal berwarna biru erat-erat dengan pipi sedikit menggembung. Manik hitamnya terus tertuju pada pemuda di hadapannya, menatap dengan mata berkaca-kaca seolah mampu meluluhkan hati teman seangkatannya itu—atau sekarang sebutlah kekasih—agar mau mempersilahkannya menginap di kamarnya. “Jadi hanya karena ayahmu tidak mau membelikanmu boneka hello kitty, kau kabur dari rumah?” Tao Ito mengangguk cepat meski masih dengan wajah kesal. “Jadi karena aku menyewa kamar di sini, dan karena kita—aku, adalah pacarmu, kau mau tidur di sini?” gadis itu mengangguk-ngangguk lagi, masih menatap Yoshitsugu Kitamura dengan memelas.

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling pandang.

Dan sedetik kemudian, pintu kamar di tutup dengan keras.

“Dasar gila—”

—Brak. 



FIRST NIGHT
Yoshitsugu Kitamura – Tao Ito
Summer, 2010




“AKU INGIN BEGINI, AKU INGIN BEGITU, INGIN INI, INGIN ITU, BANYAK SEKALI~”

Ken menghela nafas panjang entah untuk keberapa kali begitu telinganya menangkap suara nyaring gadis Bara yang berada di depan kamarnya. Bernyanyi-nyanyi dengan sangat lantang, dengan suara cempreng yang sejujurnya saja membuat telinganya sakit. Kedua tangannya secara refleks mengangkat bantal berwarna putih yang langsung dibenamkannya ke atas kepala guna menutup telinganya. Tapi bukannya membuat lebih baik, Ken malah merasa sesak sendiri.

Kalau kau memperhatikan gerakan mulutnya, pastilah jelas terlihat bahwa Ken tengah mengeluh tanpa suara, mulutnya bergerak-gerak melontarkan sederet kalimat keluhan yang sesekali hanya sekedar memeringis sebal. Semakin lama, suara Tao Ito malah sengaja di buat lebih keras—tentu, sebagai penghuni kamar kost, Ken meski bisa di bilang tidak terlalu peduli, kali ini jelas merasa tidak enak hati dengan penghuni kamar yang lain. Tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi besok kalau-kalau Tao terus menerus seperti ini.

Menengadahkan kepalanya, Ken menatap jam dinding dan melengos lemas.

Setengah sebelas malam.

“—DAPAT DIKABULKAN DENGAN KANTONG AJAIIIBB~~”

Menyerah, Ken dengan malas mulai berjalan ke arah pintu dan membukanya—menatap gadis berambut hitam panjang yang tengah berjongkok di depan kamar, memeluk bantal biru, dan masih terus bernyanyi-nyanyi. Tapi nyanyiannya berhenti begitu melihat Ken berdiri tegak di hadapannya. Dia manyun. “Boleh?” tanya Tao masih dengan suara manja. Pemuda Sakura ini hanya menghela nafas dan mundur selangkah; mempersilahkan Tao masuk ke dalam kamarnya.

Tanpa di suruh dua kali, Tao pun memasuki kamar Ken dengan cepat, nyengir lebar.

“Kamarmu bau rokok—udah dibilangin buka jendela kalau mau ngerokok!” ujar gadis Bara itu secara refleks. Ken yang masih berdiri di ambang pintu hanya bisa melengos, menutup pintu kamarnya perlahan lalu kembali ke kasurnya, merogoh sakunya terlebih dahulu dan mengambil sepuntung rokok Marlboro Light Mentol sampai akhirnya dia duduk bersandar di atas kasur.

Seperti biasa, asap nikotin seolah menjadi pengganti pengharum ruangan di kamar ini.

“Matiin dong,” Ujar Tao cepat. Ken langsung menoleh, ekspresinya sedikit terkejut dengan apa yang barusan dia dengar, “Aku kan tidur di sini sekarang, aku gak mau ada asap rokok,” Tao mengulang ucapannya, tidak peduli dengan reaksi dari pemuda Sakura di hadapannya itu. “Nanti kalau aku sakit, gimana?”

Ken mendengus, kalau itu terjadi, dengan senang hati akan dia tendang Tao ke dokter.

Dari pada mendengar keluhan yang semakin merembet panjang, Ken mengalah. Dia mematikan rokoknya; mendengus sebal. Matanya melirik ke samping, memperhatikan Tao yang tengah membereskan ini dan itu, merapihkan segala macam barang-barangnya yang memang berantakan. Lalu, seolah tidak mau ambil pusing, Ken memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk dengan mata terpejam secara perlahan, berharap bisa tidur lebih cepat dari biasanya. Tapi sayangnya, telinganya masih mendengar suara grasak-grusuk dan celotehan—lalu mendadak hening.

Alisnya mau tidak mau saling bertautan: kok sepi?

Membuka matanya dan menoleh ke arah kiri, Sakura muda ini jelas penasaran, mewanti-wanti kalau-kalau gadis Bara itu kenapa-kenapa. Tapi dia justru terkejut, memekik kaget dan menggeser tubuhnya mundur secara spontan sampai tak sengaja membenturkan kepalanya ke tembok—terdengar suara ‘dug’ nyaring di susul rintihan kecil dari bibir Ken. “Itte…”

Tao Ito yang entah sejak kapan sudah tidur tepat di sebelahnya, dengan raut wajah tanpa berdosa malah terkikik geli, gemas dengan tingkah pemuda itu. “Ih, ekspresi kagetmu lucu,” katanya polos, “kepalanya tadi kejeduk? Sakit ga?” dia langsung memeluk Ken erat. “Aku sembuhin pake cintaku ya?”

Refleks, Ken mendorong tubuh Tao.

“Aku bisa melakukan hal yang macam-macam, baka. Jauh-jauh,” ancam Ken sambil duduk tegak, mengusap-usap kepalanya yang masih terasa nyeri. Dia mendengar Tao terkikik lagi, “Aku mau kok di-macam-macam-in sama kamu~” katanya cepat. Ken membeku sejenak, lalu memeringis jijik dengan apa yang barusan dia dengar. Terlebih lagi, gadis itu sekarang juga duduk di sebelah Ken, memeluknya. “toh kita kan udah dewasa~”

Menghela nafas panjang, Kitamura sulung ini lagi-lagi melakukan hal yang monoton, mendorong tubuh Tao jauh-jauh darinya. Risih, dia memutuskan untuk turun dari kasur dan duduk di atas karpet merah, mengabaikan protes dari si Bara yang terus ngedumel. “Yoshi kok gitu sih?” Ken tidak menggubrisnya, dia malah sibuk dengan rokok yang sebelumnya dipaksa mati. “Yoshi memangnya tidak mau ‘macam-macam’ denganku?” Pura-pura tidak dengar.

“Yoshi—”

Lebih baik menikmati tembakau-nya saja.

“Yoshi—” Dan  menghisap rokoknya tanpa berkomentar apa-apa.

“Yoshi kau banci ya?”

“—UHUK!!”

“Atau jangan-jangan kau ini benar-benar pasangan homo si Takayama!?”

Seumur hidupnya sebagai perokok, selain sewaktu pertama kali mencoba, baru kali ini Ken terbatuk-batuk. “BAKA YAROU!” umpat Ken setelah batuknya reda. Dia langsung menjitak pelan kepala Tao dan berdiri, melangkah keluar kamar; menuju dapur untuk mengambil minum sekaligus botol air mineral untuk dibawanya ke kamar. Tenggorokkannya terasa sangat kering padahal seperti biasa, dia jarang berbicara.

Dan begitu dia kembali ke kamar, Ken mendapati Tao masih dengan posisi yang sama—tapi pandangannya lebih tertuju pada karpet tempat dia duduk sebelumnya, memperhatikan dengan teliti karena sepertinya ada yang hilang. “Dimana?”

“Apa yang dimana?”

“Jangan pura-pura tidak tahu—kau sembunyikan dimana Marlboro-ku?”

“Aku enggak nyembunyiin rokokmu,”

“Bohong.”

“Benar kok! Aku enggak nyembunyiin, Yoshi. Aku buang.”

“A—“

“Habis, kalau enggak aku buang, kamu pasti milih ngerokok padahal aku kan ada di sini,” Tao berujar cepat, jelas tidak mau mendengar komentar Ken. “Aku kan mau sama kamu…” lanjutnya dengan suara pelan. Dia meringkuk sambil manyun. “Padahal aku kira, dengan aku di sini aku bisa ngelupain kejadian tadi di rumah—seenggaknya kamu bisa menghiburku yang lagi sedih karena di marahin Ayah, tapi kamu malah bersikap dingin,” berpikir sebentar “Aku tahu kok, sekali pun kamu jenggotan, muka boros, jahat, bau, kamu punya hati yang baik.”

Ada beberapa rahasia Ken yang tidak pernah diketahui oleh banyak orang, yang sebenarnya hanya diketahui oleh orang-orang yang memang mengenalnya seperti kedua orang tuanya, atau adik perempuannya. Sialnya, selain ketiga orang itu, sejak statusnya menjadi kekasih Tao Ito, jelaslah gadis itu perlahan-lahan mulai tahu—mulai menyadari bahwa Kitamura sulung ini adalah orang yang tidak tega, yang akan melakukan apa saja demi membahagiakan orang-orang yang menyayanginya.

Dan Tao tahu, dengan bersikap seperti ini, Ken akan luluh.

Benar saja, Kitamura sulung itu menghela nafas panjang begitu mendengar keluhan Tao. Meski ogah-ogahan, pemuda itu duduk di samping Tao dan mengusap kepalanya dengan lembut sekali pun ekspresinya masih datar. Gadis itu terkikik senang. “Mau ‘macam-macam’ denganku, gak—” Ken menjitak kepala Tao. “—itte. Kenapa sih? Kita kan udah umur dua puluh dua!”

“Aku masih dua puluh satu.”

Tao manyun, mulutnya bergerak-gerak kecil mengumpat tanpa suara sekali pun dia juga merasa senang karena kepalanya masih di usap oleh Ken. “Yoshi…” Ken bergumam “Kita kayak pengantin baru ya?” Ken tidak berkomentar. “Nanti kalau kita nikah, kamarnya harus berwarna pink! Penuh sama Hello Kitty atau Minnie Mouse,” gadis itu menengadahkan kepalanya, menatap Ken dengan tangan kanan sibuk menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, meminta pemuda itu untuk tidur di sampingnya. “Sini suamiku—”

“Aku bukan suamimu.”

“Sini, calon suamiku.”

“Sebaiknya kau cepat tidur sana.”

“Kamu gak tidur?” Ken menghendikkan bahunya sekilas, “Nanti tidur di sampingku ya.” Gadis itu memejamkan mata perlahan, dengan bibir membentuk lekukan kecil—tersenyum menikmati usapan dari pemuda di sampingnya. Ken tetap terdiam, menatap si Bara sambil menghela nafas panjang sesekali; memaklumi. “Tao,” Gadis itu bergumam. “Jangan mendengkur.”


—oOo— 


“Jadi semalam kau tidur di bawah?” Begitu Ken bangun, gadis Bara itu langsung melongok memandangnya dan membuat setidaknya dia berjengit kaget, membiarkan kepalanya lagi-lagi menghantam kayu tempat tidur sampai terdengar suara ‘dug’ nyaring. Ken mengusap-usap kepalanya secara refleks, mengeluh pelan menahan sakit. “Itte…”

“Kenapa?” tanya Tao yang tidak memperdulikan rintihan Ken. “Kau tidak menepati janjimu.”

“Janji apa?”

“Kan aku bilang, kalau mau tidur, kamu tidur di sampingku!”

“Aku menepatinya kok.”

“Terus kenapa kau di bawah?” Ken menatap Tao agak lama, memastikan bahwa gadis itu memang bertanya karena tidak tahu apa-apa. Jelas, Tao membalas tatapannya dengan angkuh seperti biasa. Setelah memastikan bahwa gadis itu memang tidak berpura-pura, Ken mendengus, duduk tegak dengan tangan tetap mengusap kepalanya, dia membuang muka. “Karena sepertinya aku tidur dengan anak beruang—”

“Hah? Gak ngerti.”

“—kau menendangku.”


—oOo—   

Label: , , , ,



Yoshitsugu's FanArt
Selasa, 03 April 2012 @4/03/2012 10:11:00 PM





Yoshitsugu's FanArt

----------------

As always I'll remind you :

Do not dare to take, or copy, or repost all of my fanart without permission.
Ask me on Twitter (@deeladiladhila) if you want to save as.

You've been warned

----------------



Jadi, kemarin saya pernah koar-koar di twitter kalau saya bikin komik tao-ken, deshou? Dan saya janji setelah di scan saya bakal post di ryoku? Sou, ini dia. Well, sekalian sama sketsa kasar (iya kasar, banget malah) Ken sama yang lain. Enggg gak tau harus ngomong apa sih intinya mah saya ke sini mau bayar utang [s]yang masih ada utang lainnya[/s] dan spesial nih pake akun ken cuma buat ngepost beginian HAHAHAHAH ya kali.


Ken, Tao, Suzaku

Yuto, Ken, Shey

Kasar banget ya? hahaha iya lah ga pake penghapus soalnya #dibuang. Maaf kalau gambarnya jelek, ini di buat di tengah-tengah badai tugas komik yang belum selesai ampe sekarang, cuma sekedar coretan karena tau-tau kepikiran mereka -__-d Itung-itung gambar anime lagi, gila gue udah luamaaaaaa banget ga gambar anime, [i]kangen[/i]. Ah, di pikir-pikir, Ken ini kan orangnya ga pedulian, tapi sungguh sangat luar biasa dia bisa deket sama empat orang di atas =)) =))

Anw, silahkan di jepret gambarnya buat ukuran asli. Next.






Ini komik yang gue janjiin jauh-jauh hari. Sorry baru sempet nge-scan, LOL. Enggak full, beneran begitu, tiga halaman dan langsung the-end. Keinspirasi dari salah satu fanfic tao-ken (uhuk) yang masih progress, terus tau-tau kepingin buat ilustrasinya, tapi gak memuaskan, akhirnya (lagi-lagi) di tengah badai uts komik, gue malah bikin komik beginian dan komik Shena-Eja gue malah ga kelar =)) LOL 

Caranya? Manual, tentu. Kapan sih gue main digital. *nangis darah* *anak seni rupa gadungan* Err... Pakai drawing pen, penggaris, pinsil, sama tinta cina doang. Ya ya ya, kayaknya gue bakat di manual. Hmmm kayaknya cuma segini fanart Ken selain yang udah gue post sama Tetsu di atas, ntar kalau ada gue post lagi kok.

Yang gue utangin fanart (dear @sakenyucchi dan @_1ban) nyusul ya ' ' b



Regrads.

Label: , , , , , , , ,



Moment
Sabtu, 17 Maret 2012 @3/17/2012 06:34:00 PM



Info and Disclaimer :
  • Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
  • Semua chara yang terlibat masing-masing milik mereka yang memang merasa punya.
  • Timeline Minggu (siang menjelang sore), & Desember 2008—Himawari Seitokai.
Sepatah kata :

Ceritanya gue dulu banget (udah lama, ini malah jadi arsip, lol) pengen bikin FF lagi Ken sama Tao gegara gue masih kepikiran gimana caranya Ken suka sama Tao. Beberapa dialog gue ambil dari RoleyChat dan last post masing-masing karakter. Terus begitu gue buka, gue baca lagi, tau-tau gue kangen sama adegan mereka kelas tujuh yang jadi ketua sama sekertaris =)) akhirnya karena ngotot pengen ngulang itu semua lagi, gue bikin setting mereka ketua HS dan sekertaris HS alias di rombak dari draft sebelumnya HAHAHAHA  *dibanting* ini... ngegantung sih, abis gue masih bingung -w- *curhat* *plak* yah, let it flow aja lah ya, namanya juga fanfic =)) 

Ah udah ah, bacotannya cukup sekian dan terima kasih =))






- Moment -









Ken melihatnya, dan akan selalu melihatnya.

Buktinya adalah siang ini, ketika dirinya tengah duduk bersantai di ruang rekreasi. Maniknya bergulir secara refleks ke arah pintu saat seorang anak perempuan dengan rambut hitam panjang itu melintas begitu saja. Meski hanya sekilas, Ken tertegun, lalu kembali menatap buku novel klasik yang tengah ia baca sebelum fokusnya teralihkan. Entah kenapa, sekali pun hanya sekilas, keberadaan gadis itu tidak mungkin untuk tidak disadari olehnya—semacam memiliki magnet tersendiri untuk terus memperhatikannya.




-----------------

Faktanya, baik si pemuda mau pun si anak perempuan tidak pernah sekali pun bersalaman langsung untuk berkenalan. Mereka mengetahui nama masing-masing saat melihat pengumuman daftar murid di ruang akademis, mengenali bahwa si pemuda adalah ketua kelas, dan si gadis adalah sekertaris.


Sebatas itu.

----------------- 




"Ini—berkas-berkas yang harus di cek," Ken menggulirkan matanya, menatap Ito-san begitu gadis Bara itu meletakkan setumpuk arsip-arsip di atas meja dengan kasar. Tidak ada intonasi ramah dalam ucapannya dan entah karena sudah terbiasa, Ken memilih untuk mengabaikannya. "—aku enggak pernah ngerti kenapa sih kamu yang jadi ketua? Sudah gendut, jenggotan, gondrong pula. Apa bagusnya sih? Kayaknya ya, orang-orang di sekolah ini tuh butuh kacamata kuda." cicit si Bara, ngedumel.

Pemuda itu memilih untuk diam, mengambil satu persatu arsip yang dibawakan oleh Ito dan mengeceknya dengan teliti. Meski tidak berkomentar, telinganya tetap mendengarkan apa yang diucapkan oleh gadis di sampingnya itu. "Kalau dipikir-pikir, sejak masuk sekolah dulu, aku sama sekali nggak pernah lihat anak laki-laki yang benar-benar baik." komentar Ito keras-keras. "Soalnya ya, aku juga nggak pernah ngerti sama yang namanya anak laki-laki," lanjutnya dengan tampang datar. "Cowok jaman sekarang kurang punya sopan santun." Berpikir sebentar. "Dan mesum," tandasnya dengan cepat. "Dan jahat," tambahnya lagi. "Dan bego."

Tidak ada jawaban dari Ken, dia masih sibuk dengan arsip-arsip yang dibawakan oleh Ito. Merasa kesal, gadis itu memukul lengan si pemuda keras-keras berupaya untuk menarik perhatiannya. Dan tentu saja usahanya berhasil, Ken mengaduh dan mengangkat wajahnya, menatap Ito dengan tampang datar. "Kau masuk ke jajaran 'anak laki-laki yang baik' gak?" tiba-tiba dia bertanya.

"Harus aku jawab?"

Ito langsung mencibir. "Punya mulut kan?"

Kembali menatap arsip di tangannya, Ken mengabaikan teman satu angkatannya itu lagi. Tapi tidak bertahan lama karena pada akhirnya, Kitamura sulung itu membuka mulutnya; menjawab pertanyaan Ito. "Aku menghormati perempuan," jeda sebentar. "itu termasuk baik?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari deretan tulisan di kertas yang tengah ia pegang.

Ito terdiam. "...kau menghormatiku, got?" tanyanya.

"Menurutmu?"

"Nggak mungkin deh"

"Kenapa?"

"Soalnya kau jenggotan."




-----------------

Fakta lainnya adalah, kelas Character Building merupakan kelas yang tidak akan pernah Tao lupakan.
Alasannya sederhana, karena di kelas itulah, tanpa sepengetahuan si pemuda, gadis berambut hitam ini untuk pertama kalinya tertarik padanya.


Dia terkesima, Kitamura ternyata bisa tampil semacho itu. 

----------------- 





Sejak menjabat sebagai ketua Himawari Seitokai, Ken secara tidak langsung memiliki tempat favorit baru baginya untuk mengurung diri, atau lebih tepatnya menjauhi diri dari keramaian yang menurutnya pribadi kadang malah merepotkannya. Ruangan itu tentunya adalah Kantor Sekretariat Himawari Seitokai. Dan karena Kitamura sulung ini menjabat sebagai ketua, maka dia adalah salah seorang yang memegang kunci ruangan ini. Karena keuntungan ini lah, Ken yang hari ini merasa sangat jenuh memilih untuk menyendiri di tempat ini.

Tapi dia lupa, jajaran Himawari Seitokai pun pastilah memiliki kunci yang sama dengannya.

Ketika pintu ruangan di buka, pandangannya langsung menyambut sebuah ruangan yang tidak terlalu terang. Sumber cahaya berasal dari jendela yang menunjukkan pemandangan sore hari di musim dingin. Tapi meski pun tidak terlalu terang, Ken masih bisa melihat sekelilingnya—dan tertegun lama begitu menangkap sosok Tao Ito tengah sibuk dengan barang-barang yang berserakan di atas meja panjang. Tangannya cekatan membereskan banyak barang meski mulutnya tak kunjung berhenti mengoceh. "He—"

"—WAAAAA!!!" gadis itu memekik kaget saat dia melihat Ken berdiri di hadapannya. Pemuda itu tentu saja kaget, tapi ekpresi kagetnya hilang dalam sekejap. "Ka—kamu ngapain di sini sih?! Sejak kapan kamu berdiri di situ?! Kayak setan aja." Ito membentaknya, tapi Ken tidak menggubris ucapannya sama sekali. Matanya tertuju pada sekertaris Himawari Seitokai itu, memperhatikannya. "Apa liat-liat?!"

"Kenapa kau selalu membereskan semua ini?" pertanyaan yang sedari tadi terlintas di benaknya itu akhirnya terucap meski ekspresi Ken masih datar seperti biasa. Ito langsung mengernyit, "kau pikir siapa lagi yang mau membereskan semua ini? Setan?" dia berucap sambil lalu, tangannya sibuk memeluk berkas-berkas yang menumpuk yang lalu di tatanya di tempat seharusnya berkas itu di simpan. Ken masih terus memperhatikannya, mendengus geli dan tersenyum. "Kenapa senyum-senyum?"

"Tidak," menggeleng pelan, Ken berusaha meyakinkan. "tidak apa-apa." lanjutnya meyakinkan. Meski pun suaranya terdengar sangat yakin, Ito menatapnya lama dan Ken tidak mengerti kenapa. "Ada yang aneh denganku?" akhirnya dia bertanya lagi sembari menarik salah satu kursi dan duduk nyaman di atasnya. Dia membalas tatapan Ito, masih dengan wajah minim ekspresi.

"Aku masih enggak ngerti," tutur Ito masih menatap Ken. "Kau ini gendut, jenggotan, gondrong, tapi kenapa cewek-cewek bego itu lebay banget jejeritan atau ngikik tiap kali kamu ngomong di depan? Berasa kena histeria gila. Kalau ada gadis yang menahan nafas sampai mati, kau patut di hukum."

Tidak bisa dipungkiri memang, sejak menginjak kelas sembilan, Ken sering kali mendengar murid-murid perempuan berseru histeris dibelakangnya, entah itu teman seangkatan, adik kelas, atau senior sekali pun. Acchan juga sering bercerita tentang teman-temannya yang juga berpendapat sama. Anehnya, dulu Ken tidak menggubris itu sama sekali, tapi begitu ucapan yang sama terlontar dari bibir Ito, Ken tersenyum. "Cemburu?" tanya Ken pada akhirnya, sekedar iseng.

"Hahahaha—ya kali!" Gadis itu membuang muka dan kembali sibuk dengan berkas-berkas di pelukannya. Lalu keheningan kembali terjadi di ruangan kecil itu, membiarkan kedua murid Ryokubita sibuk dengan pikirannya masing-masing. Akan tetapi, tidak lama setelahnya, Ito mendengus puas, membereskan barang-barangnya dan berpamitan pada Ken secara tidak langsung. "Yuk ah mari." sahutnya sembari melangkah keluar ruangan.

Begitu sosok Ito tak lagi terlihat di sekelilingnya, Ken tersenyum. "Terima kasih."








-----------------

Sebenarnya, Yoshitsugu memiliki kriteria tersendiri tentang wanita yang pantas untuk mendampinginya suatu hari nanti. Kriteria-nya sederhana, yakni wanita itu harus memiliki sifat lembut dan keibuan yang kentara, yang jauh dari celoteh serta tuntutan macam-macam. Tidak berisik dan tidak menyusahkan.


Dan faktanya, Tao Ito adalah gadis yang jauh dari kriteria itu.


Tapi tanpa sepengetahuan si gadis, dia adalah pengecualian,

----------------- 




Label: , , , ,



Room F ; third floor.
Sabtu, 25 Februari 2012 @2/25/2012 05:28:00 AM



Info and Disclaimer :
  • Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
  • Semua chara yang terlibat masing-masing milik mereka yang memang merasa punya.
  • Semua fanfic yang di kasih @cmsnw so inspirated! Thank you! : ]
  • Timeline Minggu (pagi dan siang), 30 November 2008—Jyuunensei Gakusei.
Sepatah kata :
Buat yang suka ngejodoh-jodohin Tao sama Ken, nih gue kebetulan lagi iseng bikin mumpung tiba-tiba ada ide dari antah berantah. Aneh? Emang ' ' d #DIBUANG =)) Enggak ding, ini efek RC-an sama PM-nya Tao jadi weh gini #nyalahin #dibanting tambahan : susah ya bikin FF dari sudut pandang Ken -___- *setengah mati nahan diri buat ga banyak dialog* *dilempar* 

Abal, maaf ya -___-






Boarding House, No. 18 Blok 13 D
Room F ; third floor.



-------------------


Gadis berambut hitam itu berjalan cepat di samping lelaki jangkung yang tengah sibuk merokok, menggandeng tangannya tanpa permisi. Refleks, pemuda itu menoleh dan mengernyit bingung.


"Aku cuma mau pegangan tangan kok." kata gadis itu spontan.


Si pemuda hanya terdiam, tidak berkomentar tapi juga tidak melarang.


"Kau mau jalan sama aku?"


"Hah—?"


-------------------





Suara bising memecah keheningan kamar bernuansa putih seketika—jam weker klasik berwarna silver yang berteger gagah di meja belajar itu berdering nyaring, membahana di ruangan kecil yang pengap dengan asap rokok. Seorang pemuda yang baru saja genap berusia dua puluh tahun itu terusik, tidur lelapnya terganggu; membuyarkan segala mimpi indahnya hari ini. Tangan kirinya terulur ke arah meja, meraba-raba mencari benda bising itu dan menekan tombol penghenti alarm begitu dia berhasil menemukannya. Hening kemudian meski wajah pemuda itu masih tenggelam di antara tumpukan bantal.

Menengadahkan kepalanya dan menghela nafas panjang, akhirnya ia bangkit dari kasurnya untuk bisa duduk nyaman. Tangan kanannya secara refleks menyentuh pundaknya yang nyeri, kepalanya ditekukkan ke kanan dengan gerakan cepat, alisnya mengernyit. Ia letih, sangat letih. Ia butuh istirahat, maka dari itu minggu ini dia memilih untuk pulang ke Hakamadote. Menoleh, pemuda ini langsung menatap jarum jam untuk mengecek berapa lama ia tertidur pulas—oh Kamisama, setengah sembilan. Tumben sekali dia bangun jam segini.

Berdiri tegak, pemuda bernama Yoshitsugu Kitamura itu pun perlahan membuka korden jendelanya; membiarkan cahaya matahari pagi menerobos masuk ke kamarnya yang pengap. Matanya menyipit menatap aktivitas pagi pedesaan sihir yang terhitung sudah sangat ramai—ibu-ibu sibuk belanja dan membuang sampah, anak-anak kecil berlarian dengan tas ransel sambil tertawa-tawa menuju arah utara. Keputusannya untuk tinggal sementara di Hakamadote ini adalah benar; dia bisa istirahat, jauh dari tugas-tugas atau suara gaduh di sekolahnya yang selalu penuh dengan hiruk-pikuk macam-macam.

Setidaknya, meski hanya satu malam, dia bisa istirahat—

“JENGGOT!!! BANGUN!!!” 

—Tsk.

Pintu kamarnya di gedor-gedor dengan brutal. Suara gaduh dan suara cempreng seorang anak perempuan terdengar saling bersahut-sahutan seolah menjadi pengganti suara kokokan ayam di pagi hari. Yoshi, atau yang lebih sering di sapa Ken ini menoleh malas, berdecak kecil dengan wajah tanpa ekspresi. Niat awalnya adalah mengabaikannya, tapi semakin lama dia abaikan, suara berisik di luar semakin terdengar lantang.

Melangkah gontai, mengulurkan tangan kanan, dan membuka pintu kamarnya, Ken langsung mendapati seorang gadis berambut hitam panjang tengah berkacak pinggang di hadapannya. Tatapannya sinis, alisnya mengernyit, dan bibirnya manyun. Jelas, itu adalah ekspresi kesal, tidak perlu dijelaskan ia sudah tahu. Tapi sayangnya laki-laki berambut hitam ini hanya membalas tatapannya dengan santai; alis terangkat, dan bibirnya tertutup rapat. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ken—entah sapaan ‘ohayou’ atau sekedar bertanya ‘ada apa’ pada gadis itu—hanya reaksi kecil yang entah terbaca atau tidak, Ken tidak peduli.

Kalau pun dia sadar, maka itu artinya adalah ‘apa’.

Dan seolah mengerti luar dalam, anak perempuan itu menjawabnya.

“Tuan Han bilang kau melarangnya untuk memasuki kamarmu?” gadis itu bertanya dengan suara keras, tidak ada nada ramah dalam itonasinya. “Kau pasti ngerokok?!” tudingnya telak. Ken hanya mengerjapkan matanya perlahan; pertanda bahwa dia malas berdebat dengan si gadis. Alisnya semakin terangkat tinggi, dan dia bersandar pada daun pintu kamarnya. Mulutnya tertutup rapat. “Kau melanggar peraturan kost!!!”

Untuk pertama kalinya di pagi hari ini, Ken berbicara. “Kau juga.” Gadis itu mengernyit, dia tidak mengerti. Dengan baik hati, Ken mengangguk ke arah tangga, merujuk pada kata ‘batas suci’ yang di pasang di setiap lantai. “Peraturanmu, Ito-san.”

Tao Ito mendengus. “Kan aku yang punya rumah!”

“Dan aku membayarnya.”

“Lalalalalala tidak dengar—“ dia menutup kedua telinganya, pura-pura tidak dengar. Ken yang sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu paginya dengan bermalas-malasan memilih untuk mundur dan kembali masuk ke dalam kamarnya tapi langsung di sambut protes oleh si empunya rumah. “—EEEH!!! JANGAN DI TUTUP!!” pemuda berambut hitam gondrong lagi-lagi hanya mengangkat alisnya. “Aku mau mengecek!” Refleks, tangan kanan Ken terulur dan meletakkan telapak tangannya di kening Ito-san; menahannya sebelum gadis itu menerobos masuk seenak jidat. Seperti yang ia duga, Ito-san memberontak.

"Pergi—atau kau kucium."

Sungguh, gadis Bara itu sangat berisik.




-------------------

"Buatin mie dong,"

Si anak perempuan memerintah, tidak ada kata tolong dalam kalimatnya. Lagaknya di buat sok imut, matanya mengerjap genit ke arah laki-laki disebelahnya. Lelaki itu menoleh, wajahnya datar; tanpa basa-basi, satu bungkus mie instan di lempar dengan cepat dan tepat mengenai pucuk kepala gadis bermarga Ito.

"Bikin sendiri."

Lalu ia beranjak pergi, dan si gadis memprotes.

“Jenggot bengis—Brengsek. Kenapa sih aku bisa suka sama kamu. Sialan.”

Seketika, pemuda itu menghentikan langkahnya.

“Apa?”

-------------------





"INVESTIGASI—!!!"

Menggulirkan matanya ke atas, memandang pintu berwarna putih yang lagi-lagi di gedor untuk kedua kalinya di hari yang sama, Ken yang sedang menikmati hari tenangnya hanya menghela nafas berat, menggeleng dan memutuskan untuk mengabaikannya. Pandangannya kembali ke bawah, membaca sederet tulisan di buku Novel klasiknya yang ia pinjam dari Amemi. Sekuat tenaga, dia menganggap suara bising di luar itu hanyalah kamuflase belaka.

"—BUKA!!" perintah kedua menggelegar keras, dan Ken terlalu sibuk mencari-cari sesuatu di dalam saku celananya—mencari rokok Marlboro Light Menthol kesukaannya sebagai salah satu upaya untuk mengabaikan suara Ito-san di luar. Meski pada akhirnya Ken menoleh ke arah pintu dan mendengus sebal. Setelah ia menemukan sebatang rokok sekaligus pemantik yang langsung dipakai untuk menyulut rokoknya, Ken beranjak dari kursinya, membuka pintu kamarnya; menyambut Ito-san dengan asap nikotin menyeruak memenuhi udara.

Ito-san melongo. Ken mengangkat alisnya.

"Apa?" akhirnya dia membuka suara, tidak begitu jelas karena bibirnya masih sibuk mengapit puntung rokok kesukaannya itu. Terang-terangan, Ken menunjukkan pelanggarannya. Ito-san secara refleks menggerak-gerakkan mulutnya, berusaha menahan makian. Siapa sangka, hal itu membuat Ken bereaksi di luar kebiasaannya; "Kau tidak berkomentar, nona-pemilik-rumah?" komentarnya sambil terkekeh.

Untuk beberapa saat, Ito-san melongo. Lalu dia mengerjapkan mata. "Bukti nyata! Kau melanggar peraturan! Kamarmu pasti berantakan!!" dia mengomel, dan seperti apa yang terjadi tadi pagi, Ken menahan Ito-san dengan tangan kanannya. Tidak ada reaksi lain selain itu, dan Ito-san memberontak. "Batas suci, nona-pengatur" sahut Ken santai. "Kenapa kau ingin sekali masuk ke kamarku?"

Gadis itu menatap Ken, lama. "Karena kamarmu yang paling jarang di sentuh oleh Tuan Han!!" dia menggerutu sambil menepis tangan pemuda di hadapannya. Ken hanya mengangkat alisnya, seolah bertanya tanpa suara 'hanya itu?' pada Ito-san. "Kau juga pasti melanggar banyak peraturan juga, makanya kamarmu harus di cek!!" Ken terkekeh.

"Sok tahu," komentarnya cepat.

"Makanya, harus ada investigasi!!"

"Batas suci."

"Lalalaalalala—"

"....."

Dia nyengir polos, menubrukkan tubuhnya ke tubuh Ken—memaksakan diri agar bisa menerobos masuk ke kamar kedua paling belakang di lantai tiga itu. Secara refleks, pemuda Sakura ini menahannya dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah tangannya sibuk dengan rokoknya yang mau tidak mau harus di padamkan secara paksa. "HEH!!!" pertama kalinya selama tiga tahun saling kenal, Ken membentak. Ito-san melongo—tapi tidak lama, dia kembali berulah. "Memang kenapa sih?!"

"Ada banyak barang yang tidak boleh kau lihat."

"Barang apa misalnya?"

"Barang cowok, bego."

"Kalau ada barang cewek itu baru aneh, bego."

Ken mengernyit. "Pergi—atau kau kucium." dia mengulangi ancamannya tadi pagi.

"Lalalalalal—" Ito-san menutup telinganya, pura-pura tidak mendengar ucapan Ken barusan. "Memangnya berani? Lalalalal—" tambahnya, memanas-manasi Ken. Dan pemuda itu terpancing amarahnya—untuk pertama kalinya. Mendengus kesal, Kitamura sulung itu tanpa berpikir panjang benar-benar melakukan ancamannya. Tangan kirinya yang bebas menarik tubuh kecil Ito-san untuk mendekat secara paksa. Tubuhnya yang jangkung sedikit membungkuk agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah gadis Bara di hadapannya. Dan tangan kanannya yang bebas menyentuh pipi Ito-san, menggerakkan kepala gadis itu agar menoleh ke arahnya.  Hitungan detik saja, dan ancaman Ken terbukti.

Bibirnya bertemu dengan bibir Tao Ito. Lama.

Menarik tubuhnya, Ken melepaskan diri. Dia berdiri tegak, melepaskan pelukannya dan menahan nafasnya. Manik hitamnya menatap Ito-san dengan ekspresi wajah yang sulit di terka. Sedangkan Ito-san yang sama-sama menahan nafas hanya bisa diam, terlalu shock dengan apa yang barusan terjadi. Ken menyadari sesuatu, wajah gadis itu merah sampai ke telinga.

Tanpa rasa bersalah, si pemuda kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu tanpa memandang si gadis.

Di batasi oleh dinding, si anak perempuan masih berdiri di luar, mematung dengan kelopak mata yang terus mengerjap pelan. Tangannya perlahan bergerak menyentuh kedua pipinya dan sesekali ditepuknya lembut. Wajahnya terasa panas, pikirannya jauh di awang-awang, nafasnya juga memburu. Dia memejamkan mata sambil mengatur nafas sekuat tenaga, menahan senyum yang sulit sekali dia sembunyikan.

Sedangkan anak laki-laki berambut hitam gondrong yang berada di dalam kamar seketika langsung merosot ke bawah. Tubuhnya yang tadi disandarkan pada daun pintu ternyata tidak lagi kuat berdiri, kakinya terlalu lesu untuk menopang berat badannya. Kakinya ditekuk hingga hampir menyentuh dadanya. Kedua tangannya mencengkeram rambutnya kuat-kuat, kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan semburat merah yang merona di pipinya sendiri. Sesekali pemuda itu menggeleng, mendengus, dan berdecak. Dia tengah mengutuki dirinya sendiri.

"—Brengsek."



-------------------


"Kau pernah peduli?”


“Enggak. Aku enggak pernah peduli—kau ini jenggot tolol, brengsek, muka boros, ketek monyet—aku benci jenggotmu, pokoknya aku benci kamu.”


-------------------






"Kamarmu bau rokok." Ito-san berkomentar cepat, raut wajahnya sama sekali tidak enak di pandang. Ken yang memilih untuk bersandar di daun pintu hanya menghela nafas panjang. Di lihatnya, gadis Bara itu mulai mengobrak-ngabrikkan isi lemarinya dan meja belajarnya. "Kalau mau ngerokok buka dulu jendelanya, biar ada udara masuk. Abu rokok jangan di simpan di gelas, minta asbak dong, gimana sih." Ken mengangkat alisnya, merespon dengan sangat datar, membiarkan gadis itu mengomel ini dan itu.

"Sudah untung kau aku persilakan masuk, Tao."

Ito-san menoleh.

"Bayaran sewa kamar bertambah, Yoshi."

Ken tersenyum. "Kenapa?"

"Karena kau sudah meng-itu-kan pemilik kost-an!! Pelanggaran paling fatal!!" Dia menggerutu sambil berbalik, sibuk dengan tangan yang bergerak ke sana kemari merapihkan segala isi kamar Ken. Kitamura sulung memperhatikannya, menatap Ito dengan seksama dan akhirnya tersenyum santai. "Kalau begitu, lima menit kau tidak beranjak dari sini, kau juga dapat hukuman. Aku tidak mau lagi melanggar peraturan—Batas suci."

Tao Ito menoleh, menatap Ken lama. "Kalau begitu aku mau berlama-lama di sini."


-------------------

"Jenggot,”

“Alien.”

"Tapi ganteng kok." gadis itu menambahkan ucapannya sambil tersenyum, kedua tangannya sibuk mencubit kedua pipi si pemuda dengan keras-keras. Reaksi lelaki itu hanya mengernyit menahan sakit, matanya terpejam.

"Sakit, Tao,"  ujarnya. "Batre-mu kapan habisnya?"

Gadis itu menurunkan tangannya, manyun. "Jenggot manis tapi sinis."

Si pemuda menoleh. "Kamu—" gadis itu mengernyit. "—yang manis itu kamu."

-------------------

Label: , , , ,



Seleksi Asrama - Yoshitsugu Kitamura
Sabtu, 28 Mei 2011 @5/28/2011 02:32:00 AM



Tubuhnya kotor karena makanan, sekaligus lengket karena soda.  
Tapi sekali pun demikian, sulung Kitamura ini tetaptak menghiraukan penampilannya yang berantakan, asalkan ada rokok terselip di bibirnya, semuanya akan tetap sempurna. Ya. Asap rokok Marlboro Light menthol kesukaannya mengepul disekelilingnya, dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, Ken atau yang bernama lengkap Yoshitsugu Kitamura ini tidak peduli dengan yang lain, bahkan tetap santai dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya.  
Dan tangan kanannya terangkat, mengambil rokoknya sembari menghembuskan asap ke udara.  
Berkali-kali di warp sejak dia turun dari kereta membuat Ken merasa aneh sendiri. Tidak terbiasa dengan sesuatu hal yang baru (apalagi magis seperti ini) rasanya asing, kalau boleh jujur, dia pusing, tapi yah karena Ken adalah orang yang santai jadi hanya bisa berdiri tegak dengan lagi-lagi rokok di bibirnya.  
Masih tetap merokok meski siapa-itu-perempuan menjelaskan tentang sebuah seleksi untuk asrama di sekolah ini—tiga, ada sakura, kiku, dan bara. Ken hanya tersenyum tipis mendengarnya dan terkekeh saat mendengar caranya di seleksi. Bola kristal? Kontras sekali dengan suasananya yang tradisional—kenapa tidak menggunakan teh saja?  
Ah sudahlah, bukan urusan Ken juga sih—santai.  
Dan asap mengepul lagi.  
“Kitamura Yoshitsugu-san”  
Ken melangkah mendekat, kedua tangannya masih ada di dalam saku celananya dan rokoknya masih mengepul. Matanya mengerling memandang wanita-itu-siapa dan tersenyum tipis, “Sentuh?” ujarnya pelan sembari mengeluarkan tangan kanannya dan dengan perlahan bergerak, menyentuh si bola kristal dengan ujung jari telunjuknya, masih tetap merokok dengan santai. Kemudian dia menatap langit-langit ruangan dengan tangan mengambil rokok dari bibirnya, Ken menghembus asap ke udara.

Label: , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //