<body>
Nobody Knows - Chapter 18
Senin, 02 Maret 2020 @3/02/2020 11:54:00 AM



- Chapter 18 -








Katanya, tidak ada yang namanya pertemanan di antara hubungan laki-laki dan perempuan. Setiap hubungan lawan jenis akan ada yang namanya rasa diantara mereka, menyelinap secara diam-diam, yang kemudian menjelma menjadi sebuah malapetaka. Atau bisa saja menjelma sebagai rasa bahagia—tergantung bagaimana kau menyikapinya.

Sebagaimana reaksi Rei saat mendengar ucapan Araide barusan.

Dinginnya salju membuat otaknya sedikit membeku; mencerna perkataan gadis Bara disampingnya dengan sangat perlahan—seperti es yang mencair, setetes demi setetes. Rei mengerjapkan matanya dengan gugup, lalu menghela napas panjang. Adakah tingkahnya yang membuat Araide salah paham? Atau justru jangan-jangan dia yang salah mengartikan ucapan si Bara? "Kazusa," gadis itu menoleh cepat—wajahnya merona. "Aku—" berpikir sebentar, Rei benar-benar merasa otaknya membeku karena kedinginan, "—minta maaf."

Gadis itu tertegun, masih dengan rona kemerahan di pipinya.

"A... Ahaha...haha kok kau minta maaf sih??" Araide tertawa sembari memukul pundak Rei dengan keras. "Kau—yaaaah, kau tahu kan cemburu yang ku maksud bukan cemburu yang ada rasa!!" dia terkikik ganjil "Kau musti belajar membedakan rasa cemburu terhadap pasangan dan cemburu terhadap kawan! Maksudku, kan kalau terhadap pasangan ada rasa seperti kekhawatiran, amarah, dan—ya kau tau lah sisanya—sedangkan cemburu terhadap kawan tuh seperti—hmm—kau tahu, semacam ada perasaan kesal karena kawan itu udah ga seru lagi!!"

Rei tersenyum melihat reaksi Araide yang kikuk.

"Jangan dianggap serius, ah!" 

Mengehela nafas berat, Rei menengadahkan kepalanya ke atas; menatap langit kelabu dengan butiran salju yang masih terus jatuh dengan perlahan. Ucapan Araide entah mengapa membuatnya berpikir jauh ke belakang, memikirkan dengan sangat serius tentang definisi rasa yang—ya ampun, bisa-bisanya bocah tengil seperti Araide mengajarinya seperti itu

"Seumur hidupku," Rei terdiam sebentar "aku tidak pernah menyadari perbedaan rasa seperti yang kau ucapkan, Kazusa." Dari ekor matanya, Rei menangkap ekspresi bingung Araide. "Aku tidak pernah menganggap—atau tepatnya, menyadari, bahwa ada rasa lain selain rasa cinta," Rei menghela nafas, menoleh memandang Araide di sampingnya.

"Dan kau menyadarkanku, bahwa rasa untuk pertemanan itu ada."



—oOo—  




Bego. Banget.

Rasanya antara mau menghilang saja tapi masih ada cicilan yang harus dilunasi, sama mau mati tapi masih sayang nyawa dan masih cinta dunia. Sumpah, begonya sudah tidak bisa diukur lagi kalau begini. Bayangkan, tadi dia ngomong apa sih? Apa gegara dingin, otak ini jadi koslet? Atau jangan-jangan gegara ucapan Ko jadi agak terpengaruh (ga mungkin sih ini)? Atau jangan-jangan memang pada dasarnya Kazusa memang bego alami??

Jujur saja, Kazusa tidak ada keinginan untuk berkata demikian—oke, yang namanya cemburu, Kazusa akui, itu memang ada. Tapi, itu lebih ke maksud ke situasi dimana Kazusa bisa mencak-mencak, kesal, marah, atau apapun itu ekspresi yang bisa ia luapkan tanpa rasa berat atau canggung; bebas tanpa beban. Bukan cemburu yang... Kau tahu, melihat seseorang bersama orang lain.

Oke.

Mungkin begitu ju—oh tidak tidak tidak. Jangan ngaco ah!!!

Udah gila rasanya.

"Kukira kau sudah cukup berpengalaman," ucap Kazusa diiringi tawa canggung yang kentara. "Tapi ternyata, kau ini tidak ada apa-apanya!!" lanjutnya, kali ini dengan tawa riang yang sesungguhnya. Hah!! Apanya yang playboy kalau ternyata laki-laki ini tidak bisa membedakan rasa lain selain cinta!! Yang bego ternyata bukan Kazusa kok, ya ga??

"Kau lupa perkataanku, ya?"

"Perkataan yang mana?"

"Aku tidak pernah menolak yang datang, dan mengejar yang pergi, Kazusa."

Kazusa terdiam.

"Tapi kau mengejar Aoyama dan menolakku, Rei..."


—oOo—  



Label: , , , ,



Nobody Knows - Chapter 17
Minggu, 31 Januari 2016 @1/31/2016 03:29:00 AM



- Chapter 17 -






Katanya, ini cerita tentang kisah kelinci dan serigala.  
Di sebuah pemukiman yang dihuni oleh berbagai jenis hewan, tinggalah seekor kelinci dan serigala yang hidup bersebelahan. Kelinci itu sangat membenci serigala karena sang serigala adalah hewan yang jahat (“bukankah serigala memang jahat?” Shibasaki bertanya polos, dan Kazusa melotot marah—menyuruhnya diam). 
Tapi sebenarnya, bukan hanya karena serigala yang membuat kelinci itu kesal, tapi hewan-hewan yang lain entah kenapa tidak memandang serigala sebagai hewan yang berbahaya—padahal si kelinci sering kali mengingatkan kalau serigala memiliki taring yang mengerikan, kuku yang tajam, dan berbadan besar. Namun hewan-hewan lainnya tidak peduli dan malah membiarkan dirinya termakan oleh buaian serigala.  
Hingga suatu hari, si kelinci memutuskan untuk mendekati serigala. Dia berniat mencari tahu tentang serigala, bahkan kalau bisa mencari celah agar serigala itu pergi dari sini. Tapi setelah mendekatinya, kelinci itu tahu tentang kenyataannya—tentang serigala yang kesepian.  
Serigala itu ternyata membenci taringnya yang menakutkan. Dia juga tidak menyukai kukunya yang tajam. Dia bahkan tersiksa dengan tubuhnya yang besar. Seberusaha apapun serigala menutupi semua itu dengan kebaikan yang dia berikan, ternyata semua hewan masih takut kepadanya. Bahkan tidak sedikit yang bersikap licik dengan memanfaatkan kebaikan si serigala tapi masih juga membiarkannya sendirian.  
Seperti si kancil.  
Mendapati kenyataan itu, si kelinci berkata: “Jangan sedih, serigala! Mulai sekarang, kau punya aku yang akan selalu menemanimu! Kau tidak perlu menutupi semuanya! Kau tidak perlu membenci dirimu sendiri! Aku akan menerimamu apa adanya!”  
Mendengar ucapan kelinci, serigala langsung menangis dan berkata: “Tidak, kelinci. Nanti aku bisa melukaimu! Nanti aku bisa menyakitimu!”  
“Aku yakin kau tidak akan menyakitiku, wahai serigala, karena kau tahu rasanya disakiti itu tidak menyenangkan, maka kau pasti tidak akan menyakitiku karena kau baik hati! Kau tidak ingin hewan lain merasakan apa yang kau rasakan!”  
Serigala itu pun menangis, tersentuh dengan kebaikan si kelinci.  
“Jangan takut, serigala. Aku akan menemanimu.”  


—oOo—  


Rei tertegun.

Lama.

Tapi sedetik kemudian, dia tertawa ganjil—tidak tahu harus berkomentar apa. Si Kiku diliputi rasa ragu setelah mendengar cerita Araide; setengah logikanya berkata kalau serigala itu dirinya, sedangkan setengahnya lagi menyangkal habis-habisan. Jujur saja, sebenarnya Rei ingin mempercayai logikanya yang terakhir, tapi entah kenapa, logika pertamanya seolah menuntut untuk dipertanyakan.

“Serigala itu… aku?” tanya Rei pada akhirnya. Araide tidak menjawab—gadis itu hanya meliriknya sesekali dengan pipi yang merona kemerahan. “Astaga. Yang benar saja, Araide. Aku tidak semenyedihkan itu, tahu.” —Jeda— “Dan si kelinci harus ingat, kalau ada seekor hamster jantan yang dia sukai.”

“Kazuki Itou bukan hamster, bego!”

“Setidaknya dia kusebut jantan, tolol!”

“Bagus! Berbicara denganmu benar-benar berhasil membuat salju mencari dalam sekejap!” ucap Araide penuh emosi. Dia berdecak sambil melipat kedua tangannya di dada, dengan pipinya yang langsung menggelembung kesal. Rei menghela nafas, memandang Araide sekilas, lalu kembali menatap tumpukan salju di depannya.

“Kelinci yang hebat.” Si Bara menoleh, menuntut penjelasan dari ucapan Rei yang tiba-tiba. “Si kelinci itu hebat—bisa menilai dengan tepat tentang si serigala. Tentang kebohongannya. Tentang ketakutannya. Tentang perasaannya.” Rei tertegun, membiarkan jeda menyusup masuk ditengah-tengah obrolannya.  “Aku… baru saja ditolak oleh kouhai-mu. Dan kalau boleh jujur—sorry, sebenarnya aku disini bukan karena janjiku padamu, tapi karena janjiku padanya. Dan karena kebetulan—keadaan yang benar-benar sangat kebetulan, tempat yang dijanjikan olehnya sama denganmu.”

Araide terdiam.

Dia masih sabar menunggu ucapan Rei selanjutnya.

Tapi si Kiku tidak berkata apa-apa.

…

“Aku kangen.” kata Araide pelan.

Rei menoleh cepat—memandang Araide dengan tatapan menuntut penjelasan. Namun si Bara tampak gusar. Sesekali matanya melirik Reichi, lalu buru-buru membuang muka saat pandangan mereka bertemu. Dan perlu diingat bahwa Rei bukan orang yang cukup sabar menunggu penjelasan setelah ia meluangkan waktunya hanya untuk mendengarkan dongeng pengantar orang mati.


—oOo—  


“Araide?”

Kazusa langsung panik—bego banget.

Jujur, sebenarnya ucapan barusan hanya kalimat spontan yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Meluncur tanpa tahu malu tapi sukses membuat Kazusa kebingungan. Sungguh, dia sendiri tidak tahu kangen untuk apa. Kangen Itou-senpai karena barusan disebut-sebut? Yeah, itu benar, tapi Kazusa cukup tahu diri kalau menjawab seperti itu di situasi seperti ini rasanya sama sekali tidak lucu.

Pikir, Kazusa! Pikir!!

“Yah—aku kangen hubungan kita—“

Apa? Kita?!

“—yang dulu, Shibasaki.”

Si Kiku tampak lega; pemuda itu menghela nafas panjang yang juga diikuti oleh Kazusa. Namun, meski pun jawaban yang Kazusa lontarkan barusan adalah jawaban yang paling aman yang bisa ia katakan, entah mengapa Kazusa tergelitik untuk menambahnya.

“Aku… kangen sama omongan-omonganmu yang menyebalkan. Aku kangen saat-saat kita sering kali bertengkar karena hal sepele. Aku kangen kau yang…” Kazusa terdiam sebentar, lalu memejamkan mata. “…yang perhatiannya hanya tertuju padaku.”

Tidak ada tanggapan.

Kazusa kembali membuka matanya; menatap Hakamadote Square yang kini berangsur-angsur sepi. “Sejak… kau sibuk dengan peri, atau hal-hal yang berhubungan dengan Aoyama-chan, kau jadi beda. Bahkan aku juga merasa, aku berbeda. Semacam… out of character. Hanya saja, aku tidak tahu apakah perubahan itu sesuatu yang bagus atau yang buruk. Tapi yang jelas, aku… tidak suka melihatmu sibuk dengan Aoyama-chan.”

Shibasaki membisu.

Begitu juga Kazusa.

Sampai pada akhirnya, Kazusa berkata:

"Aku..."

Jeda.

“Aku… cemburu, Rei.”


—oOo—  

Label: , , , , ,



Nobody Knows - Chapter 16
@1/31/2016 03:22:00 AM



- Chapter 16 -






Faktanya, Kazusa mendapati Shibasaki menepati janjinya.

Pemuda berambut hitam itu tengah termangu—duduk membeku di salah satu kursi kayu di Hakamadote Square. Rambut hitamnya tampak lucu dengan tumpukan salju yang menggunung diatasnya, begitu pula dengan bahunya. Kazusa tersenyum sinis. Seberapa lamakah, pemuda itu menunggunya?

Dari kejauhan, Kazusa jelas bisa melihat deru nafas Shibasaki. Uap kelabu berhembus dari mulut dan hidungnya, menyeruak samar-samar menggapai udara. Dingin, adalah kesimpulan tersingkat yang bisa Kazusa ambil.

Tidak ada langkah selanjutnya—Araide muda ini hanya berdiri memandang Shibasaki dengan bimbang, dengan bahu sedikit membungkuk dan kedua tangan sibuk memeluk tubuhnya sendiri dengan erat dibalik balutan baju tebal. Kamisama, si Kiku itu benar-benar menepati janjinya hanya untuk hal yang bahkan Kazusa sendiri tidak tahu.

Yah... Kalau boleh jujur, sebenarnya setengah hati Kazusa berharap Shibasaki tidak akan datang sehingga dia memiliki alasan yang kuat untuk kembali membenci lelaki itu—atau setidaknya, membalikkan keadaan seperti dulu, seperti saat-saat percikan api kebencian muncul diantara mereka. Akan tetapi, setengah hati Kazusa yang lain kini sedang bersorak riang, berlonjak-lonjak sampai rasanya ingin muntah. Sial. Padahal kalau berbicara soal mental, Kazusa seratus persen tidak siap.

Lalu?

Bagaimana?

Kazusa menghela nafas berat, memandang Shibasaki yang masih membeku seperti orang mati. Abaikan dulu saja pemikiran-pemikiran bodoh yang berlalu-lalang di benak Kazusa. Kali ini, dari pada nama Kazusa Araide terancam masuk koran hanya karena membiarkan seorang pemuda mati kedinginan di tengah kota setelah lama menunggunya, lebih baik ia menghampiri Shibasaki.

Setidaknya, lebih cepat lebih baik.


—oOo—  


Rei mendengus.

Matanya terpejam, membiarkan kegelapan kembali menyelimuti pandangannya, menyambutnya dengan hangat untuk kembali lari dari kenyataan seperti dulu—seperti saat Rei jatuh ke dalam lubang keputusasaan. Jantungnya berdetak tak karuan, memburu seperti habis dipacu. Padahal Rei hanya duduk di kursi sepanjang waktu—membeku.

Hari ini, hari terburuknya.

Atau bisa dibilang, salah satu yang terburuk dari biasanya.

Sekali, dua kali, Rei menghela nafas berat—mulai berusaha mengatur irama, menenangkan diri seperti biasa; semuanya baik-baik saja. Sayangnya, kali ini mantra andalannya tidak berhasil—Rei rapuh seperti ranting yang lapuk. Keadaannya ini berhasil membuat ia tertawa sendiri seperti orang gila.

Mendengus sekali lagi. Rei membuka matanya.

Dan terkejut mendapati Kazusa Araide ada dihadapannya.

“Kau… di sini.” Ucap si Bara pelan. Rei mengerjapkan matanya agak cepat, menghalau pandangan buram di matanya dan memastikan bahwa di depannya benar-benar Araide. “…Hai.” Lanjut gadis itu.

“Hai.” Rei tertegun. “Ya. Aku di sini.”

Hening.

“Boleh duduk?”

Secara refleks, Rei menggerakkan tangan kanannya, menghalau tumpukkan salju di sampingnya agar Araide bisa duduk. “Silahkan.” Ucap Rei basa-basi. Si Bara tersenyum tipis—mengucapkan terima kasih sekilas, lalu duduk tanpa disuruh dua kali.

“Padahal, kupikir kau tidak bakal datang…” —Rei mengernyit keheranan mendengar ucapan Araide. Otaknya pasti beku total karena terlalu lama diselimuti salju sampai-sampai ia tidak bisa memikirkan petunjuk dari ucapan Araide barusan. “Tapi aku akui… aku—hm. Cukup senang.” Lanjut gadis itu dengan pipi merona. “Makasih.”

Tanda tanya masih hinggap di kepala Rei.

“Apa sewaktu Rei-chan memintamu untuk bertemu, kau juga datang semudah ini? Maksudku—kalau dilihat-lihat, kayaknya sih caraku mirip-mirip sama Rei-chan, kan?” Rei menoleh, memandang Araide dengan ekspresi bingung yang kentara. Dia benar-benar tidak bisa membaca arah pembicaraan gadis ini.

“Sorry—aku… tidak mengerti.” Ucap Rei akhirnya, menyerah bermain tebak-tebakan.

“Yah—waktu aku bilang tempo hari ada yang ingin kubicarakan, sebenarnya aku cuma bercanda.”

Ah.

“Tapi ternyata, kau datang juga—sampai-sampai nyaris menjelma seperti boneka salju. Memangnya, selama apa sih kau menungguku?” tanya Araide. Rei, yang pada akhirnya bisa berpikir normal, hanya terkekeh mendengarnya. Lucu, karena faktanya bukan seperti apa yang Araide kira.

“Tidak terlalu lama.” Jawab Rei.

Lalu, suasana kembali sunyi.

Hanya suara desir angin terdengar samar-samar.

Dan tawa anak-anak yang bermain perang saju dari kejauhan.

“Ada apa?” Rei memecah keheningan, dan Araide tampak gusar—sedangkan ia merasa dejavu.

“Tidak tahu—“ suara Rei-chan perlahan terngiang di kepala. “Habisnya, kalau aku jawab aku cuma ingin mengobrol, nanti kau malah tertawa dan pergi, makanya aku bilang tidak tahu, supaya kau tetap me—”

“Shibasaki?”

Rei tersentak. Bahunya menegang dan nafasnya menjadi berat—sesak. “Kau seperti mau mati kedinginan…” ucap Araide. Ada nada khawatir di suaranya. “Mau… pindah ke tempat yang hangat?” Rei menggeleng, menolak dengan halus. “Benar?”

“Ya. Aku tidak apa-apa.” Si Kiku menghela nafas perlahan, lalu menatap Araide. “Lalu, ada apa?” pertanyaannya diulang, dan gadis itu lagi-lagi bergelagat aneh. “Kupikir bukan hal yang lucu kalau kau memanggilku kesini hanya untuk membuatku benar-benar mati kedinginan, Araide…”

"Aku…”

“Ya?”

“…punya sebuah cerita.”

“Wow. Bagus. Apakah ini dongeng pengantar orang mati?”

“Tadi kutawarkan untuk pindah tempat, kau menolak!!”

“Tapi bukan berarti aku bersedia mendengarkanmu bercerita!”

“AAARGH—kau mau mendengarkan, tidak?!”

 Rei mendengus—pasrah.

Label: , , , , ,



Nobody Knows - Chapter 15
@1/31/2016 03:12:00 AM



- Chapter 15 -








“Aku yakin sejuta persen, kau jatuh cinta.”

Kazusa tidak sedang bersemangat menanggapi ocehan tidak masuk akal Yukiko Ryokuemon saat ini, makanya jangan heran kalau gadis Bara berambut hitam legam itu memilih membiarkan si Kiku mencerocos sebagaimana mestinya. Akan tetapi, meski dalam porsi sedikit, ucapan Ko tetap berhasil masuk ke dalam telinganya dan mempengaruhi pikiran sekaligus hati Kazusa—sukses membuat si Bara emosi.

“Aku tuh—enggak jatuh cinta, Ko.”

Dan si Kiku hanya menunjukkan ekspresi wajah yang minta ditonjok.

“Kau tahu aku menyukai siapa!”

Ko masih terlihat ingin ditonjok.

“Jangan menatapku seperti itu!!”

“Oookaaay~ tapi Kazunyan—beneran deh, emangnya kau enggak tertarik apa sama Rei-kun? Atau minimal merasakan esensi perasaan yang agugu gitu?” Ko nyengir lebar—dan kalau bukan karena si Kiku ini adalah partner-paling-oke-dalam-urusan-gossip, mungkin Kazusa sudah benar-benar menonjok mukanya. Atau minimal, menyihir wajahnya menjadi seperti jangkrik. “Etjiee dia diem~ ada yang lagi kasmaran~”

“Berisik, Ko!”

Si Kiku tetap berisik.

“Oke, oke. Kuakui aku sedikit tertarik—tapi ya cuma tertarik!” Jeda. “Hanya saja—hng, ada perasaan kesal sih ketika tahu kalau Shibasaki sedang dekat dengan orang lain. Kau pasti bisa membayangkan perasaan itu, kan?” Ko menggeleng menjawab pertanyaan Kazusa. Dia benar-benar tidak mengerti. “Rasanya tuh—ibarat kau dekat dengan Ro, lalu perlahan Ro mulai menyukai orang lain dan perhatiannya kepadamu terbagi, tidak lagi seperti biasa. Bukankah itu menyebalkan??”

“Hmm—masalahnya Ro itu kan, saudaraku…”

“Astaga Ko!! Cuma perumpamaan!!”

Ko menghela nafas pelan, lalu tersenyum lembut—tidak seperti senyum slenge'an yang biasa ia tunjukan. “Kupikir, kesimpulan yang bisa diambil adalah—kau cemburu, Kazunyan.” Ucap Ko sambil menyelipkan beberapa helai rambut ditelinganya. “Karena kalau pun Ro berbuat begitu, entah karena dia saudaraku atau bukan, aku sih, pasti cemburu.”

“Tapi—“

“Dan kalau aku tidak salah dengar, kau bilang kalau kau kesal karena perhatian Rei-kun padamu tidak lagi utuh seperti dulu, kan? Seperti saat kalian beradu nilai di awal tahun? Bukankah itu artinya kau cemburu?”

Kazusa terpana.

Sekali lagi, ia melihat sisi lain dari deretan orang-orang Kiku yang selama ini terkenal dengan tingkah konyolnya.

Tapi dia cukup buta untuk dirinya sendiri.

“Aku rasa, sudah saatnya untuk jujur, Kazunyan.”

Ko menepuknya.

Dan Kazusa hanya bisa membisu.


—oOo—  


Lalu perlahan, mulai tampak butiran salju turun memenuhi halaman, diiringi hawa dingin yang sedikit demi sedikit menggelitik kulit, membuat bulu kuduk berdiri merinding karena mengigil. Sebagian besar murid-murid Ryokubita tampak antusias menyambut hari pertama musim dingin ini—terlihat dari ramainya halaman ruang rekreasi yang dipenuhi oleh mereka-mereka yang asyik bermain salju, sisanya memilih untuk menenggelamkan diri dibalik selimut dan di bawah meja penghangat.

Dan Reichi adalah salah satu murid yang memilih untuk bersahabat dengan kotatsu.

Rei sama sekali tidak menyukai musim dingin sebagaimana dia tidak menyukai musim panas. Dia tidak suka tubuhnya lengket karena keringat berlebih di musim panas, dan juga membenci tubuhnya menggigil karena kaku di musim dingin. Maka jangan heran kalau kalian sering melihat Reichi Shibasaki duduk nyaman di ruang rekreasi ketimbang ruangan lainnya.

“Kau kayak banci.”

Mendengar kalimat itu, Rei refleks menoleh dan mendapati Araide (dengan mantelnya yang super tebal) berdiri di belakangnya, menatap Rei dengan ekspresi yang—sepertinya tidak suka, tapi karena pipinya merona kemerahan, Rei jadi tidak bisa mengambil kesimpulan apakah Araide sedang memakinya atau sedang malu-malu menghadapinya.

Dan pada akhirnya, Rei memilih untuk acuh tak acuh.

Alisnya hanya terangkat sekilas, lalu pemuda berkacamata ini membuang muka—cuaca dingin seperti ini membuat Rei tidak mood untuk membuang-buang energinya hanya karena Araide. Yah, kotatsu ini jauh lebih menyenangkan dari pada gadis itu.

“Besok, ada waktu, ga?”

 Rei menoleh lagi “Aku?”

“Siapa lagi?”

“Barang kali nanya ke kotatsu ini?” Araide memutar bola matanya. “Well—aku tidak tahu.” Tidak ada tanggapan setelahnya. Gadis Bara itu hanya berdiri mematung, memandang Rei yang mulai bingung. “Jangan ngatain orang lain banci kalau sendirinya kedinginan.” Lanjut Rei kalem. Araide langsung berekspresi mendengar ucapan si Kiku yang terakhir—dia tampak terkejut; lalu mengernyit, tidak mengerti maksud Rei. “Pipimu merah, Araide. Dan aku tidak keberatan berbagi kehangatan denganmu.”

Rei membentangkan kedua tangannya.

“Kemari, sayang.”

“JIJIK!!”

Pemuda itu tertawa.

“Ini bukan karena kedinginan!! Tsk—sudahlah!!” si Bara bersungut-sungut kesal dan berbalik meninggalkan Rei yang masih tertawa terbahak-bahak. Namun tak lama, Araide kembali, menatap Rei dengan wajah merah. “Besok, kutunggu di Hakamadote Square jam tiga sore!” lalu pergi lagi.

“Ngapain?” Rei berteriak, tapi tidak ada jawaban.

Tersenyum tipis, Rei menggelengkan kepalanya. Dasar bocah.

Namun, senyum Rei tidak bertahan lama, senyumnya berangsur-angsur memudar saat ponselnya berdering singkat, menampilkan sebuah pesan singkat yang membuat perut Rei terasa seperti ditonjok.


—oOo—  

Label: , , , , ,



Nobody Knows - Chapter 14
@1/31/2016 03:04:00 AM




- Chapter 14 -









“Halo? Bumi berbicara pada Kazusa?”

“A-apa?” Tanya Araide gugup. Rei terseyum tipis; menggelengkan kepalanya perlahan. “Apa? Barusan nanya apaan?” si Bara itu kembali bertanya, kali ini ngotot.

“Ya ampun Kazusa, selama aku tinggal, telingamu bermasalah ya?” Rei terkikik pelan, memandang Araide yang kini tampak malu-malu—atau lebih tepatnya, menahan malu. “Tadi aku bertanya, bagaimana kabarmu?”

“Oh—sok perhatian banget sih, aku baik-baik saja!” Gadis itu mendengus. “Baru juga sebulan, sok-sokan banget nanya kabar! Kalau enggak ketemu setahun tuh baru nanya!”

“Loh? Tadi ada yang kirim email, terus tanya kabar, siapa ya? Padahal baru sebulan?”

Pemuda berambut hitam itu tertawa renyah melihat Araide seketika berubah menjadi udang matang karena wajahnya memerah seketika—semerah logo Bara yang tersemat di dadanya. Rei, yang perlahan menghentikan tawanya, diam-diam memperhatikan Araide—gadis itu, masih dengan pipi merona merah, masih dengan hidungnya yang mungil, masih dengan kulitnya yang putih, entah mengapa tampak lebih manis dari biasanya. Hah. Sebulan tidak bertemu ternyata masih menyisipkan sedikit perbedaan.

Meskipun demikian, Araide masih terlihat kurus (setidaknya menurut takaran tubuh idealnya Reichi Shibasaki) dan… yah, masih agak payah untuk urusan penampilan. Tapi tampaknya, lagi-lagi, Rei melihat ada yang berbeda—dan dia mengakui, setidaknya perubahan kecil ini berhasil menarik perhatiannya. “Sejak kapan….” Rei tertegun sebentar, lalu berdeham kikuk.”Sejak kapan, pakai lip-gloss?”

Araide yang terkejut mendengar pertanyaan Rei, langsung membuang muka. “Apaan sih? Suka-suka aku dong kapan aku pakai lip-gloss, kapan aku pakai lipstick, kapan aku pakai make up!” mendengar jawaban si Bara, Reichi langsung memasang muka cemberut.

Oh, bagian ini tidak berubah.

“Aku kan, cuma nanya,” —jeda— “lagian, cocok, kok.”

“Masa?”

“Yah—setidaknya jadi terlihat seperti perempuan.” Tangan mungil Araide secara refleks bergerak menonjok bahu Rei dengan kencang dan sukses membuat si Kiku mengaduh keras. Ini juga tidak berubah. “Ya ampun Kazusa! Dandanan udah manis begitu tapi sikap masih brutal!! Kutarik omonganku!”

“Tsk! Dasar laki-laki buaya! Kalau kau tidak bisa menghargai perempuan, gimana bisa deketin Aoyama-chan!!” ucap si Bara emosi. Mendengar perkataan spontan Araide, seketika Rei membeku—memandang gadis berambut hitam dihadapannya dengan ekspresi yang… entahlah. Putus asa?

Araide seolah sadar dengan ucapannya hanya bisa terdiam.

Lalu bertanya.

“Kau... suka dengannya, kan?”


—oOo—  


“Lupakan—tadi aku asal ngomong aja, kok.”

Shibasaki yang masih terpaku seperti patung itu tidak berkomentar apa-apa. Hanya memandang Kazusa dengan tatapan sendu yang… tidak pernah Kazusa lihat sebelumnya. Wow, seorang Kiku juga bisa terlihat menyedihkan seperti ini, ya? Kazusa pikir, hidup mereka akan terus diliputi kebahagiaan selamanya—karena bukankah setiap hari yang selalu berbuat ulah dan tertawa terbahak-bahak adalah mereka-mereka yang berada di bawah naungan asrama kuning?

“Hei, Shiba—“

“Ya,” si Kiku bersuara pelan; nyaris lirih. “Ya—aku menyukainya, Araide.”

Kazusa tertegun.

“Sudah… sejak kapan?”

Shibasaki menengadahkan kepalanya, memandang langit-langit sebentar, lalu kembali menatap Kazusa. Senyum pahit terukir di wajahnya yang pucat—sungguh, baru kali ini, Kazusa melihat Shibasaki seperti ini, atau bisa dibilang—lagi-lagi—seorang Kiku seperti ini. “Sejak… tahun ketiga?” Shibasaki mengernyit, “Eh, atau sejak kapan, ya?”

Tahun ketiga berarti… sudah sejak Aoyama-chan pertama kali masuk, ya? Apa yang membuat Shibasaki menyukai Aoyama-chan? Padahal—oke, mungkin ini berlebihan dan kurang ajar, tapi menurut Kazusa, kouhai-nya itu tidak seberapa dibandingkan dengan Rei-chan yang keibuan, yang perhatian, dan menurut Kazusa, Rei-chan sangat manis. Lalu kalau dibandingkan dengan Yukiko Ryokuemon yang super-ceria-sampai-minta-di-kurung itu, Aoyama-chan juga sama sekali tidak menarik. Dia kaku, tidak ceria—ya dia cantik dan mungil, sih—tapi masa dinilai cuma dari tampang? Hello? Kalau hanya dari wajah, Aoyama-chan kalah. Bahkan dengan dirinya pun, kouhai-nya itu tidak ada apa-apanya.

…

Apa barusan?

Dengan dirinya?

“Araide?”

“Hm?” Kazusa terkejut, lamunannya seketika buyar begitu marganya dipanggil lagi. Ekspresi Shibasaki kini kembali normal, atau setidaknya kembali menunjukkan ekspresi yang biasa Kazusa lihat. “Terus—kenapa kau malah pacaran yang orang lain? Yah, kasarnya sih, kenapa tidak berjuang saja dari awal? Dari dulu?” tanya Kazusa. “Eh. Bukannya aku—“

Kazusa terdiam.

Dia aneh.

Aneh.

Sangat aneh.

“Dulu, aku pernah jawab, kan?”

“Hah?”

“Aku tidak menolak siapa pun yang datang.”

“Dan kau tidak mengejar siapa pun yang pergi—yeah, aku ingat itu, tapi saat ini kau mengejar Aoyama-chan seperti orang kesetanan, Shibasaki! Sampai rela didetensi segala, ya ampun kok jadi laki bego amat.” Shibasaki tertawa kecil. Dan ucapan pemuda itu membuat Kazusa mendadak seperti dihantam bola baseball tepat di kepala.

“Karena Aoyama tidak pergi, Araide.”

Si Bara menunduk, matanya terasa panas—

“Karena itulah aku mengejarnya.”

—pilu.


—oOo—  

Label: , , , , ,



Diary
Minggu, 07 Juni 2015 @6/07/2015 10:24:00 PM



Aku tidak pernah mengerti.

Tidak akan pernah.

Hari ini, aku mendapati tiga keanehan yang ditunjukan oleh Occhan, mulai dari gelagatnya, sikapnya, dan ucapannya. Aku tahu, dan sangat tahu sekali siapa itu Osamu Narusawa—anak Bara yang memiliki otak tidak waras sampai-sampai mau-maunya menjadi peliharaan seorang perempuan—aku— Miho Mizuhara. Dan sebagai seorang majikan, aku tahu betul bagaimana sikap Occhan sang peliharaan, mulai dari bagaimana dia menuruti perintahku, membangkang omelanku, dan hal-hal lainnya yang nyaris setiap hari aku perhatikan. Akan tetapi, meski samar-samar, aku merasa ada yang aneh.

Sejak Occhan sering kali memergokiku menangis sendirian, pemuda berambut ikal itu kini lebih sering menempel lebih dari biasanya. Bahkan, setiap kali kuusir, si bodoh itu hanya berpindah semeter dariku, atau paling tidak, pindah ke tempat yang setidaknya masih berada dijarak pandang masing-masing. Padahal biasanya. Occhan akan langsung pergi entah kemana; kamar, atau kantin, meski tak lama dia akan kembali lagi.

Belum lagi sikapnya yang... hm, menjadi sedikit manis? Yah, sebenarnya sih, dari yang sering kudengar dari obrolan gosip-gosip anak perempuan belakangan ini, Occhan termasuk laki-laki yang sweet. Yang rela melakukan apa saja demi seorang perempuan—yang berani taruhan, mereka tidak tahu aslinya seperti apa. Hello? Perempuan mana lagi yang nempel-nempel sama Occhan selain aku? Wajar lah, kalau dia memperlakukan perempuan dengan baik.

Namun, ada beberapa hal yang kuakui, Occhan sangat manis sekali. Sering kali, si bodoh itu menghiburku dengan cara-cara yang manis setiap kali aku tidak bersemangat. Entah itu memainkan boneka pandaku, Miichan, atau memberiku sekotak susu cokelat, atau bahkan (super sangat jarang) memberiku teka-teki membosankan yang super sangat tidak lucu hingga membuatku tertawa karena ketidak-lucuannya itu. Yah, meski demikian, aku sendiri sebenarnya tidak yakin, apakah Occhan memang bersikap manis, atau bersikap sebagaimana mestinya sikap peliharaan terhadap majikannya?

Dan terakhir, belakangan ini, Occhan lebih sering memanggilku 'Miho' ketimbang ojou-sama seperti biasanya. Hanya Miho, tanpa embel-embel lainnya. Anehnya, aku tidak bisa marah, malah perutku bergejolak tanpa sebab.

Salam sayang,

Mizuhara Miho.

Label: , , , , , ,



Nobody Knows - Chapter 13
Rabu, 18 Maret 2015 @3/18/2015 05:25:00 PM



Disclaimer :

Timeline : dememinta mulai dari musim Semi , awal tahun ajaran 2006/2007
A/N : semua FF ini tidak sepenuhnya ada sangkut paut dengan plot asli semua chara yang terdarit di sini. Murni psa bakal b-chap karena ini kan di luar plot, jadi beneran harus jelas konflik-dan-segala-macemnya. Well, kritik dan sarannya diterima.

Anw, gue beneran menulis FF ini loh alias ga gue ketik sebelumnya. hahahahah.






- Chapter 13 -









Satu bulan.

Sudah satu bulan lamanya sejak si playboy cap kelinci itu tidak lagi menampakkan batang hidungnya di tengah keramaian sekolah. Dan kau tahu? Itu berarti, sudah satu bulan lamanya pula sejak kasus dentensi tengah malam waktu itu.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, sampai sekarang Kazusa masih merasa tidak enak hati karena telah membuat kesalahan dan (menjadi) penyebab Shibasaki (juga dirinya sendiri) mendapatkan hukuman, apalagi hukuman si Kiku terhitung parah (yah meski memang dia juga yang bandel) yakni skorsing. Akan tetapi, meski pun demikian, sedikit hati Kazusa juga masih merasa kesal—hello? Seorang Araide dapat catatan merah? Hebat.

"Kenapa kau tidak minta maaf, sih?" Tanya Tetsu-senpai suatu hari saat Kazusa mencurahkan apa yang ada dipikirannya. Mendengar pertanyaan itu, jelas gadis Bara ini langsung memasang ekspresi tidak suka bercampur jijik. Hei, pada awalnya Kazusa curhat ke Tetsu-senpai ini karena ia pikir, seniornya ini cukup bijaksana memandang siapa yang salah (Shibasaki, tentu saja karena dia yang melanggar peraturan) dan bisa memberi dukungan pada Kazusa. Tapi ternyata, jawaban yang ia dapatkan malah begitu.

"Kenapa aku yang minta maaf??!!"

"Bukan begitu, maksudku kenapa kau tidak berinisiatif duluan untuk meminta maaf?" Sakura muda dihadapannya ini tampak lelah begitu Kazusa semakin memasang wajah tidak suka. "Meminta maaf lebih dulu meski bukan kita yang salah, bukan berarti kita mengaku kalah, Kazunyan, melainkan kita bisa mengambil keputusan untuk mengajak semuanya memulai kembali dari awal. Kurasa, itu sikap yang sangat bijaksana."

Kazusa tidak berkomentar meski dia masih tetap teguh memasang ekspresi penolakannya. Tentu, gadis Bara itu enggan untuk meminta maaf lebih dulu, bukan tidak mau bersikap bijaksana, tapi rasanya kalau Kazusa meminta maaf lebih dulu berarti Kazusa benar-benar mengakui bahwa semuanya salah dia.

Melihat reaksi kouhai-nya ini, Tetsu-senpai mengeluarkan ponsel sekaligus kertas dan pena dari tasnya—menuliskan sebuah alamat email dan menyerahkannya pada Kazusa yang kini terlihat bodoh dengan ekspresi bingungnya.

"Simpan, barang kali berubah pikiran."

Dan begitulah—selama kurang lebih satu bulan lamanya, Kazusa hanya bisa menatap kertas bertuliskan alamat email Shibasaki yang tergeletak dengan bentuk lusuh penuh bekas lipatan di atas meja kantin. Hampir tiap kali, Kazusa hanya bisa melipat, lalu membukanya lagi, lalu melipatnya lagi, bahkan sesekali ia meremas-remasnya dan membuang kesembarang arah meski tak lama kemudian ia pungut lagi. Begitulah seterusnya. Pikiran Kazusa melayang-layang, mencari-cari segala kemungkinan yang terjadi kalau-kalau pada akhirnya Kazusa berbuat sesuatu.

"Boleh aku dduk di sini?" sebuah suara mengejutkan Kazusa—ia langsung menengadahkan kepalanya, menatap wajah angkuh adik kelas seasramanya: Miho Mizuhara. "Muka bego-mu itu aku anggap sebagai izin," lanjutnya sambil menarik kursi dan duduk manis di depan Kazusa. Kazusa sendiri hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, barulah setelahnya ia mengangguk. "Kau kenapa sih?" Miho kembali bebicara. "Dari tadi kuperhatikan, kayak orang linglung tau ga?"

Kazusa tertawa, lalu tak terjadi percakapan apa-apa.

"Hmm—Miho-chan, kau punya seseorang yang membuatmu tertarik, tidak?" tanya Kazusa pada akhirnya. Miho, yang mendapat pertanyaan demikian seketika langsung menghentikan gerakannya; meletakkan sumpitnya dan menatap Kazusa dengan tatapan penuh selidik. Yah, bagaimana tidak, sesama anggota Hikari Journal, mendapatkan pertayaan seperti itu patut diwaspadai. Bisa saja, karena kau terlalu polos untuk menjawab pertanyaan itu, tahu-tahu keesokan harinya namamu muncul di rubik gossip bulan depan. "Eh—bukan begitu... maksudku hanya bertanya... semacam... curhat."

"Kenapa?"

"Yah... Yah, misalnya... kau punya seseorang yang membuatmu tertarik, lalu sudah sangat lama sekali, kau tidak menghubunginya—karena selain kau tidak tahu harus menghubungi kemana, kau juga pasti malu kan?—nah lalu beberapa bulan yang lalu, kau punya alamat emailnya, apakah... apakah kau akan menghubunginya lebih dulu?"

Miho memandang Kazusa agak lama sebelum ia menjawab pertanyaan senior Bara-nya itu—yang jujur saja, membuat Kazusa sendiri agak kikuk karena ekspresi Miho yang bossy dan angkuh terkesan (benar-benar) mengintimidasinya. "Ya," jawab Miho. "Memangnya salah kalau aku yang menghubunginya langsung? Maksudku, memangnya kenapa sih kalau perempuan sesekali berbuat agresif? Lagi pula, kan judulnya aku tertarik, atau marilah kita perjelas bahwa aku—atau kau—suka pada orang itu,"—Kazusa tersedak ocha—"memangnya kau pikir, kita ini perempuan macam dongeng-dongeng yang didatangi pangeran? Enggak loh, hello."

"Kau... tidak gengsi...?"

"Gengsi sih ada, tapi aku bisa bilang, pasti rasa gengsi kalah dengan rasa kangenku." Kazusa terpana—bukan karena jawaban Miho yang blak-blakan, melainkan sikap dan pendapat Miho yang menurut Kazusa, termasuk hebat untuk ukuran perempuan. Yah, meski sebenarnya tidak ada secuil pun rasa kangen dari hati Kazusa untuk Shibasaki. "Kalau aku jadi kau, aku pasti akan menghubunginya lebih dulu. Sekedar menuliskan pesan 'apa kabar' juga sudah cukup, terserah mau di jawab atau tidak, seenggaknya kan, kita sudah perhatian." lanjut Miho kalem.

"Perhatian—enggak juga sih..." Miho mengangkat kedua alisnya begitu mendengar ucapan Kazusa. Namun tak lama, dia memilih untuk tidak mau tahu dan melanjutkan makan siangnya. Kazusa sendiri kembali sibuk menatap kertas lusuh yang kembali ia lipat di atas meja, dan menatap ponselnya bergantian. "Tapi yah, sepi juga sih rasanya..."

"Call him, then."

"..."

Kazusa mengangguk pelan saat Miho memutuskan untuk meninggalkannya setelah keheningan terjadi selama beberapa saat. Bahkan, setelah beberapa orang lainnya pergi dan hanya tinggal segelintir orang yang masih duduk di kantin, Kazusa masih tetap diam di tempatnya, dengan ponsel dan kertas tergeletak di atas meja. Haruskah ia menghubunginya? Haruskah ia yang meminta maaf? Kazusa menggeleng cepat meski kemudian dia mengangguk sambil bergumam pelan—memberikan semangat serta keyakinan pada dirinya sendiri.

Lalu, dengan gerakan pelan, gadis Bara itu mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat—teramat singkat—pada Shibasaki, memberanikan diri meski hati dan pikirannya masih beradu. Lucunya, tidak sampai semenit pesan itu dikirim, sebuah ringtone singkat mengalun merdu dibelakangnya, menarik perhatian si gadis dan membuat Kazusa Araide melongo.

Reichi Shibasaki tepat dibelakangnya.


—oOo—


"Kapan masuk?" Rei membaca pesan singkat di ponselnya sambil tersenyum tipis; menatap Araide yang gelagapan dengan wajah merah seperti gunung berapi yang hendak meletus. "Kau sama sekali tidak romantis, ah. Ngirim pesan kok pas orangnya udah masuk?" lanjutnya geli.

"Heh! Jadi orang seharusnya tuh bersyukur masih ada orang yang perhatian meski cuma secuil!!" amuk Araide. "Lagian, mana aku tahu kalau hari ini kau sudah ada di sekolah?!"

"Sudah dari kemarin, sih sebenarnya—" Araide melotot, dan Rei terkekeh, "—ya lagi, coba kalau dari kemarin kek, kirim pesan, aku kan, bisa memberimu kabar or something." Mendengar ucapan Rei, gadis Bara itu semakin terlihat kesal dan tak jarang, mulutnya bergerak-gerak mengumpat tanpa suara. Rei sendiri hanya bisa tersenyum, antara geli tapi juga senang. Mungkin sudah lama juga tidak menggoda Araide seperti sebelum-sebelumnya, jadi ada rasa kangen tersendiri.

"Sebulan kemarin, kau ngapain aja?"

"Aku?" Rei mengernyit mendengar pertanyaan Araide, lalu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan sambil menatap ke sekeliling kantin seolah-olah ada jawaban di tiap sudut ruangan. "Ngapain ya—nyuci piring, nyuci baju, bersih-bersih rumah, yah Ibuku memanfaatkan kehadiranku di rumah dengan sangat sempurna, sih, bisa kau bayangkan kok."

Araide mendengus pelan. "Cocok banget," ejeknya pelan.

Si Kiku tersenyum tipis. "Kau kangen ya?"

Gadis di hadapannya untuk sepersekian detik melongo, lalu menjawab dengan menunjukkan ekspresi jijik.

Rei cengar-cengir.

"Aku sih, kangen banget."

Araide memutar bola matanya—yang sebenarnya Rei tahu, gadis itu menutupi rasa malunya. Ya ampun, sebulan tidak bertemu, tidak mengobrol, apalagi berantem, kenapa banyak yang berubah, sih? Sejak kapan, Araide jadi malu-malu kucing begini? Yah, Rei tahu sih, sebenarnya teman seangkatannya ini anak perempuan yang manis meski galak dan sok, apalagi sangat asrama sentris. Tapi sangat jarang loh melihat Araide bersikap seperti ini.

Wow. Tidak bertemu sebulan, rasanya banyak yang berubah, ya?

"Apa kabar, Kazusa?"


—oOo—




Label: , , , , , ,



I'm in the wrong place to be real.
Kamis, 14 Agustus 2014 @8/14/2014 04:07:00 AM



Rei tidak pernah menyadari, bahkan mungkin sebenarnya enggan untuk mengakui bahwa belakangan ini orang-orang disekitarnya entah mengapa sering kali membicarakan tentang sosok gadis Bara yang sudah sangat Rei kenal. Pemuda ini jelas tahu betul tentang sosok Kazusa Araide—gadis yang tengah menjadi trending topic obrolan teman-temannya. Rei mengakui, dia tidak pernah mengerti bahkan mungkin tidak pernah tahu apa daya tarik dari Araide sehingga bisa membuat banyak laki-laki yang membicarakannya, setidaknya setiap kali Rei tengah berkumpul dengan teman-temannya yang lain, Araide sering kali menjadi topik pembicaraan. Dan Rei hanya mengernyit setiap kali mendengarnya.

“Berani taruhan, kau pasti sama sekali enggak memperhatikannya?” 

Watanabe tersenyum sinis saat Rei menengadahkan kepalanya. “Memperhatikan apa?” Tanya pemuda Kiku ini polos. Kedua alisnya saling bertautan—Watanabe harus membayar makan siangnya karena membuat Rei yang sedari tadi asyik menikmati donburi-nya kini harus merelakan fokusnya teralihkan hanya untuk pertanyaan Watanabe yang setengah-setengah. “Kenapa menyeringai seperti itu?” 

“Araide cewek,” ucap Matsuda yang duduk di sebelah Watanabe. Rei hanya memandang dua teman satu asramanya itu dengan ekspresi bingung—“Kau menyesal sudah bolos pelajaran mantra kemarin.” Lanjut Matsuda sambil melahap tempura. 

“Ise-sensei kemarin mengadakan kelas gabungan dengan kouhai, kita di pinta untuk membantunya mengajari para kouhai belajar mantra dasar. Sekalian mengukur sejauh mana kekuatan sihir kita,” Watanabe kembali berbicara sambil memangku dagu-nya di atas telapak tangan kanannya masih dengan senyumannya yang menyebalkan. Matanya menatap lurus ke arah Rei—tepat ke belakang tempat duduk Rei. “Dan saat itu, ada seorang kouhai yang mengeluarkan mantra kaze dengan kekuatan yang besar, enggak stabil—dan kau tahu? Rok Araide tersingkap…” 

“Kulitnya putih susu…”

“…kencang…” 

“…mulus.” 

“Hah?” Rei mengernyitkan dahinya. 

“She is hot, dude.” Shibasaki muda ini hanya menggeleng pelan dan melanjutkan makan siangnya. “Masih perawan gak ya, dia?” ucap Watanabe random. “Kalau enggak, kira-kira, dia melakukannya dengan siapa ya? Senpai kita mungkin? Siapa tuh—err…” di dengarnya Matsuda tertawa pelan. “Sejak kemarin, aku enggak pernah bisa berhenti ngebayangin bisa mengusap pahanya yang mulus itu—bahkan kalau sampai bisa menyentuh hartanya, pastilah rasanya benar-benar surga duniawi.” Watanabe dan Matsuda tertawa, sedangkan Rei mendengus.

“Kalian membayangkan dengan Araide?” 

Rei tertawa meremehkan. 

“Aku bahkan enggak bisa melihat kenyataan kalau Araide perempuan.” 

Watanabe mengangkat bahunya sekilas. “Kau sudah terlalu lama mengenalnya sih—atau terlalu berteman dekatnya, Rei, jadi bisa saja kau jadi enggak menyadari kalau dia sudah dewasa.” Rei mencemooh ucapan Watanabe dengan berkata ‘dia bukan teman dekatku’ dan langsung ditimpali oleh Matsuda “Tapi di banding kita berdua, kau lebih banyak berinteraksi dengan Araide, kan?” Watanabe mengangguk pelan “Semua orang dewasa, pasti ingin merasakannya. Banyak juga laki-laki yang memandang penuh hasrat padanya, loh.” Rei mendengus lagi. “Mungkin, kalau kau berkesempatan untuk berduaan lagi dengan Araide, cobalah untuk memperhatikannya, Rei.” 

Jangan gila.  


— @ —  


“Heh, budek ya, telingamu?” Rei mengangkat wajahnya ketika sosok primadona tahu-tahu kini berdiri dihadapannya. Gadis itu—Kazusa Araide—menatap Rei dengan ekspresinya yang menurut si Kiku sangat sombong dan belagu. Yah, sebenarnya ekspresi Araide sangat biasa, sih. Hanya Rei saja yang menganggapnya berlebihan. “Kemarin kau kemana sih?” Araide kembali bersuara; mungkin ia mengulang pertanyaan yang tadi tidak Rei dengar. 

“Tidur.” 

“Pelajaran mantra kemarin menyenangkan, loh.”  

Kedua alis Rei terangkat tinggi. “Lalu?” 

“…” 

Tidak ada tanggapan dari Araide untuk beberapa saat, dan bagi Rei yang sudah terbiasa beradu mulut dengan si Bara, mulai merasa ada yang aneh. Maka, diangkatnya lagi wajahnya, mengalihkan perhatiannya lagi dari deretan tulisan yang tengah ia baca dari buku novel klasik, Rei mengengadahkan kepalanya—dan terkejut ketika Araide ternyata sedang menatapnya lekat-lekat. Jaraknya pun tak seberapa, hanya berkisar sepuluh sentimeter.“A—apa?” 

Araide mengernyit. “Ah… kau pasti enggak yakin bisa ngalahin aku, ya?” gadis itu bersuara. “Jadi akhirnya enggak masuk ke kelas?” jeda sebentar. “Atau kau sudah menyerah dengan nilai-nilaiku dan membiarkanku menjadi pemenangnya, hmm?” Rei mendengus mendengarnya. Lihat? Tingkah Araide yang seperti ini, dari mananya terlihat seperti seorang perempuan? Tidak ada manis-manisnya sama sekali, kan?

Rei menggeleng mendengar ocehan gadis Bara itu dan berniat kembali membaca novelnya lagi. Namun entah karena kebetulan, atau masih terbawa obrolan dengan Watanabe dan Matsuda tadi siang, Rei mendapati hal yang aneh pada dirinya—sekilas, Rei terpaku melihat baju Araide. Gadis ini memakai kaus tanpa lengan dengan kerah rebah yang bermodel Sabrina, dengan lengkukan kerah yang sangat lebar sehingga mau tidak mau, disadari atau tidak, Rei bisa melihat belahan dada Araide—belum lagi pakaian dalam gadis itu yang berwarna solid sedikitnya bisa Rei lihat; dengan bantuan cahaya remang dari mantra hidarani-nya, Rei mampu membayangkan bentuk tubuh Araide tergambar jelas dibenaknya sekilas secara otomatis. 

Si Kiku menggeleng lagi. 

Dia mengumpat pada topik yang dibicarakan oleh dua teman seasramanya itu tadi siang. 

“Hari ini rasa-rasanya kau agak lebih pendiam deh, Shibasaki.” Araide kembali bersuara, sekali lagi membuyarkan kosentrasi Rei. Pemuda itu memejamkan matanya sekilas sambil menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lambat-lambat sembari membuka matanya; menatap Araide dengan kesal. Gadis itu juga sama-sama memandangnya. “Serius banget.” Rei memicingkan matanya. 

“Kau berharap aku berbuat apa, di tengah-tengah perpustakaan gelap seperti ini dan di jam segini?” ucap si Kiku sudah mulai kesal. Ditutupnya buku yang tengah ia baca, dan berhadap-hadapan dengan Araide, Rei memandang gadis itu dengan kedua alis terangkat, menanti jawaban si Bara yang sukses membuatnya kesal dan tidak lagi fokus untuk membaca. 

“Sudah berkali-kali kita di perpustakaan dan apa yang kau dapat, Shibasaki?” 

“Hmm—ocehanmu?” 

“Selain itu?” 

“Pengetahuan, tentu.” 

“Kau masih mau main rahasia-rahasiaan denganku, ya? Apa sih alasanmu selama ini? Karena perempuan?” Rei tidak menjawab, dan Araide tampak tidak peduli. “Ya ampun Shibasaki, kau ini kan katanya punya banyak penggemar, ngapain juga sih masih harus nguber-nguber satu cewek yang enggak mau sama kamu?” pemuda Kiku itu masih tidak berkomentar apa-apa, dia hanya memandang Araide dengan tatapan datar. “Sia-sia, tau.” 

“Kau sendiri, mengejar Kazuki-senpai, mau sampai kapan?”  

Gadis itu langsung gelagapan. 

“Enggak sia-sia, tuh?” 

“Kenapa aku yang jadi topik?” Araide menggerutu. “Tapi yah—kadang memang rasanya agak sedih sih kalau mengingat kayaknya udah lama banget ya…” ucapannya menggantung, dan gadis itu tetap menatap Rei dengan tatapan kosong. Rei mengangkat alisnya. “Jadi, posisi kita sama dong ya?” Araide nyengir; Rei masih diam. “Kenapa kita ga jadian aja, ya?” 

Pemuda Kiku itu terkekeh. “Mau coba denganku?” Jeda sebentar. “Aku sih, tak masalah,” Rei menyeringai.” Kau juga, belakangan ini sudah punya fans, loh,” Araide mengangkat alisnya—tidak percaya dengan ucapan Rei. “Beberapa orang mulai membicarakanmu—berkata bahwa penampilanmu sangat menggoda.” Si Kiku melangkah mendekati Araide. “Mereka bilang, kau sangat seksi di pelajaran mantra kemarin.” 

Araide menahan nafas. Gadis itu mulai dapat melihat sosok Reichi mendekat ke arahnya. “Aku? Seksi?” ucapnya sambil berusaha menjaga nada suaranya untuk tetap seperti biasa. Rei hanya tersenyum tipis, dan tetap berjalan mendekati Araide. Si Bara hanya bisa berjalan mundur perlahan—sampai akhirnya punggungnya menyentuh rak buku. “Kau mau apa, Shibasaki?“ Araide gugup. Dia mengigit bibirnya dan merasa kalau Reichi kini sedang memandangnya tajam. “Aku—aku rasa kita sudahi saja malam ini, ya?” 

“Lalu, mau kemana?” Rei tersenyum. 

“Kau mau apa, sih?” 

“Bukankah kau tadi berkata, kenapa kita enggak jadian, kan? Bagaimana kalau kita coba?” 

Dan Araide tidak sempat menyadari ketika Reichi dengan cepat maju ke arahnya—meraih tangan Araude dan menahannya di sekitar buku-buku tua yang tersusun rapi di rak buku di belakangnya. Rei mencengkram pergelangan tangan Araide dengan kuat, mengabaikan tongkat sihirnya yang terjatuh—menghilangkan satu-satunya sumber cahaya di perpustakaan. “A—apa yang kau lakukan?!” gertak Araide panik. Tangannya bergerak mencoba membebaskan diri dari cengkraman si Kiku meski cengkraman di tangannya itu justru semakin menguat. 

“Berpacaran denganmu.” 

“Hah?” 

Rei mempererat cengkramannya. “Jangan berlagak polos, Araide—aku rasa kau menikmati semua tatapan laki-laki belakangan ini, kan? Seksi, menggairahkan, dan menimbulkan hasrat. Wanita mana yang tidak bangga dengan itu, hmmm?” Dia mendesak tubuh Araide dengan tubuhnya sendiri. “Mari kutebak—apakah malam ini kau juga ingin aku berpendapat begitu? Aku yang tidak pernah menganggapmu sebagai perempuan? Dan kini tampaknya usahamu berhasil? Hebat.” Rei menjilat bibirnya sendiri dan berbisik di telinga Araide. “Kau tampak seksi malam, ini, Kazusa.” 

Araide mengigil bukan karena dingin, tapi karena dia merasakan dirinya dalam bahaya—ketakutan. Tentu si Bara ingin berteriak, tapi kalau itu dilakukan, ia akan kena detensi karena tidak berada di dalam asrama dan berduaan dengan Reichi di tempat gelap. Berteriak tidak ada gunanya, bahkan mungkin bisa membawa malapetaka. Malam kian larut dan suasa sepi semakin menyelimuti ruangan. “Kau gila, Shibasaki!” seru Araide.

“Kau pasti marah padaku, karena tidak pernah melihatmu, hmm?” Rei menatap Araide lama, merasakan nafas Araide yang pendek-pendek meski pemuda itu sama sekali tidak menghiraukannya. “Sampai-sampai berpenampilan seperti ini?” Araide menggeleng. “Aku sendiri tidak mengerti…” Rei terdiam sesaat. 

“Apa yang—“ 

Ucapan Araide terpotong. 

Bibir Rei mencapai bibir Araide. 

Si Bara terkejut. Tubuhnya terasa di desak oleh si Kiku sampai benar-benar terhimpit di antara rak buku dengan tubuh Rei. Araide nyaris ingin berteriak tapi usahanya sia-sia karena teriakannya teredam oleh mulutnya sendiri—oleh bibir Rei yang menguncinya. Perempuan itu memberontak, dan Rei dapat merasakan hembusan nafas Araide di kulitnya. Rei bergidik; mencengkram tangan Araide semakin erat. 

Rei melepaskan salah satu tangan Araide untuk mencengkram pipinya—memaksa Araide untuk menatap wajahnya dan agar mudah bagi Rei untuk menikmati bibir ranum si Bara yang sedari tadi berusaha membebaskan diri. Rei merasa ada yang mendorong dadanya meski hentakan yang ia rasakan terasa lemah dan tak berdaya. “Kau cantik, Kazusa,” bisik Rei sekali lagi meski Araide masih memberontak. 

Si Kiku menarik bibirnya. Keduanya menarik nafas dengan berat. 

Tidak ada dialog apa pun, baik Rei mau pun Araide terlihat sibuk dengan nafas masing-masing. Tangan Rei yang bebas perlahan bergerak mengelus pipi si Bara dengan lembut, mengabaikan tangan Araide yang masih terus mendorong Rei dengan tenaganya yang lemah. Entah karena belaian Rei atau karena gejolak aneh yang muncul secara abstrak di dalam diri Araide, gadis Bara itu kini hanya bisa memejamkan matanya, membiarkan bibir Rei kembali menyusuri rahangnya, lehernya, lalu kembali ke bibirnya. Kali ini, bibir Araide terbuka untuknya. 

Araide tampak menahan nafas dan tidak berbuat apa-apa ketika lidah Reichi dengan lembut menyusup masuk ke dalam mulutnya—menjelajahi, menikmati, dan mencari sensasi darinya. Perlahan kedua tangan Rei kini membebaskan tangan Araide dan bergerak menyelinap masuk menyusuri sisi tubuh gadis itu, menjelajahi punggung Araide senti demi senti.  

Dan Rei semakin memperdalam ciumannya ketika dirasakan bagian belakang lehernya disentuh oleh jemari mungil Araide, menyusup ke rambutnya, dan mencengkram pelan ketika lidah Rei masih bermain-main di dalam mulutnya. Gadis itu tampak enggan ketika Rei menarik diri. Manik hitamnya menatap wajah Araide dengan nafas yang masih beradu. “Aku tidak mengerti, Kazusa… Sudah lama aku mengakui kalau kau cantik… tapi…” si Kiku bergumam pelan, dan kembali mempertemukan bibir mereka sekali lagi. Tangan kanannya bergerak pelan, menyusuri punggung Araide, sedangkan tangan kirinya bergerak ke arah bawah, mengarahkan kaki kanan Araide untuk bergerak melingkari pinggangnya. Rei meraba paha Araide; mencengkramnya. 

Araide melenguh pelan. 

Rei merinding mendengarnya. 

Si Kiku menggerakkan dua kakinya perlahan—yang satu menyelinap masuk untuk menahan kaki kanan Araide yang masih melingkar di pinggang Reichi, sedangkan yang satu menahan kakinya yang lain. Rei membenamkan wajahnya di pundak si Bara, menghirup aroma tubuhnya yang entah mengapa membuat Rei mabuk bukan kepayang. Bibirnya bergerak menjelajahi leher jenjang Araide, mengigit pelan hingga tampak bekas merah di beberapa bagian. Gadis itu melenguh lagi. “Re—i” 

Mendengar namanya disebut, Rei semakin merasa hasratnya tak lagi terbentung. Terlebih lagi kini jemari mungil Araide bergerak bebas di dalam kemejanya—entah kapan gadis itu membuka satu persatu kancing baju Rei, atau bahkan membuka paksa, Rei tidak tahu. Namun, mendengar namanya disebut, Rei tidak bisa menahan diri lagi. Tangan kirinya bergerak mengusap paha Araide lebih dalam, sedangkan tangan kanannya menjelajahi pinggang gadis itu, memaksanya untuk semakin mendekat dengan tubuhnya. Bibir Rei bergerak mencari-cari bibir Araide lagi—menjelajahi mulut si Bara dengan lidahnya. Sesekali bibir gadis itu ia gigit, ia hisap, dan ia jilat. 

Rei menikmatinya. 

Dan tiba-tiba saja Araide tersentak kaget ketika ia merasakan sesuatu di tubuhnya—aliran listrik seakan menjalar begitu saja di tubuhnya. Entah kapan tangan Rei menarik kaus Araide keluar dari celana pendeknya dan entah sejak kapan pula, pemuda itu tak lagi mengenakan kemejanya. Dadanya terbuka—Araide menahan nafasnya. “Hentikan…—Reichi,” gadis itu berbicara dengan susah payah, sentuhan Rei membuat fokusnya terbagi. Dirasakannya tangan Rei semakin menjelajah, dan Araide langsung menyingkirkannya cepat-cepat. “Hen—ti—kan…” tangan itu kembali, dan Araide menyingkirkannya lagi dengan susah payah. “Tidak! Shibasaki!” 

Marganya disebut—gerakan Rei terhenti. 

Pemuda itu menunduk rendah, mendengus resah sembari bergerak mundur dengan sedikit terhuyung. Araide sendiri tampak lesu, ia menyandarkan tubuhnya ke rak buku di belakangnya, kedua tangannya mencari-cari pegangan agar ia tidak jatuh karena kedua kakinya gemetar hebat. Rei sendiri memilih untuk bersandar di rak buku satunya lagi. Keduanya sibuk mengatur nafas. Tidak ada percakapan apa-apa, hanya deru nafas yang berbicara. 

“Pergilah—“ Rei mengeluh, mengumpulan segala kesadarannya yang tersisa.

Tanpa di suruh dua kali, Araide segera berlari menuju pintu dengan perasaan kalut yang tidak bisa ia jelaskan. Rei merasakan kakinya gemetar tak dapat menompang tubuhnya. Ia terduduk membiarkan punggungnya bergesekan dengan rak buku di belakangnya—hatinya resah tak karuan. Kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya, lalu seiring dengan kepalanya yang semakin menunduk rendah, tangan Rei bergerak menjambak rambutnya sendiri. 

Apa yang ia lakukan? 

Rei menggeleng; antara frustasi tapi juga bertanya-tanya. 

Araide membalasnya.




— @ —  



Apa yang ada dipikiran gue? Gue juga ga tau. Waktu itu, gue lagi berbincang-bincang ngalor-ngidul sama Bia soal Zutara, dengan berbagai obrolan fanfic rate M. Dan waktu itu—oke, gue udah gede, loh ya—gue emang lagi excited banget sama fanfic berbau mature-thing dan bahkan diajak RC sama Bia aja gue mati-matian nahan diri buat ga menjerumus ke M-rate. Tapi ternyata, malah di suruh bikin fanfic M sama Bia (di dukung sih tepatnya, bukan di suruh)(krik). but overall, pada akhirnya ya... ga M banget sih. Seadanya ya. HAHAHAHA. Ending di buat ngegantung dan ga jelas karena kemampuan saya yang udah ga sanggup lagi *heh*

Fanfic ini tid ada kaitannya dengan plot masing-masing karakter ya. Disclaimer untuk PM masing-masing, dengan Watanabe dan Matuda sebagai NPC.

Label: , , , ,



Nobody Knows - Chapter 12
Minggu, 10 Agustus 2014 @8/10/2014 05:01:00 PM



Disclaimer :

Timeline : di mulai dari musim Semi , awal tahun ajaran 2006/2007
A/N : semua FF ini tidak sepenuhnya ada sangkut paut dengan plot asli semua chara yang terlibat di sini. Murni pikiran gue. Dan gue rasa bakal bikin ber-chap-chap karena ini kan di luar plot, jadi beneran harus jelas konflik-dan-segala-macemnya. Well, kritik dan sarannya diterima.

Anw, gue beneran menulis FF ini loh alias ga gue ketik sebelumnya. hahahahah.







- Chapter 12 -










"Jadi menurutmu, dia benar-benar berkata seperti itu? Serius?" Ko hanya menatap Kazusa dengan ekspresi datar-menyerempet-tolol. Kedua alis gadis itu perlahan saling bertautan, seolah sedang berpikir serius "Hei!!!" Kazusa yang kesal karena diabaikan kini mulai menaikkan sedikit nada suaraya. Bagaimana tidak kesal kalau lawan bicaramu tidak menjawab pertanyaannya? "Kau mendengarku tidak?" gadis Kiku itu tahu-tahu nyengir, memamerkan deretan giginya yang putih.

"Aih, Kazunyan penasaran banget deh!" Ko cekikikan. "Nih, ya, Kalau kau tanya aku, biasanya Rei-kun itu kalau memang sudah berbicara, dia serius, kok!" Kazusa mendengus tak percaya. "Eeeh, dibilangin ngeyel. Ga di jawab ngambek—tapi benar, kok. Waktu Rei-kun berkata dia mau mengajariku bahasa engris waktu itu, dia benar-benar menepatinya, kok."

"Waktu dia bilang mau jadi pacarmu?"

Wajah Ko tampak memerah, dan entah kenapa Kazusa merasa Ko terlihat manis—setidaknya mulai terlihat seperti seorang perempuan normal. "Hmm serius, kok. Soalnya dia benar-benar datang ke rumahku saat liburan waktu itu—menagih jawabanku juga..." si Kiku tampak malu-malu "Ya pokoknya nih ya, Kazunyan, Rei-kun itu pasti serius dengan ucapannya, kok!" meski Ko berbicara dengan sangat yakin, Kazusa tetap tidak bisa mempercayainya. Lebih tepatnya, mempercayai si playboy cap kelinci bau itu. Bisa saja kan, Shibasaki hanya bercanda? Kazusa menunduk, menatap makan siangnya yang belum sekali pun ia sentuh padahal jam makan siang sudah berlalu nyaris setengah jam.

Sudah entah hari ke berapa Shibasaki pulang dari Ryokubita, dan Kazusa masih sibuk memikirkan ucapannya yang dilontarkannya sambil lalu. Kazusa benar-benar tidak berniat untuk berpikir se-serius itu, sebenarnya. Tapi pikiran dan hatinya sering kali tidak sinkron. "Kau ragu kenapa, sih?" Ko berkata pelan, membuyarkan lamunan Kazusa seketika.

"Ya—bagaimana tidak ragu. Kau tahu sendiri, kan. Shibasaki itu playboy cap kelinci, tengik, bau, dan sudah banyak korban yang dia jerat! Tidak tahu diri. Tidak tahu malu. Bagaimana bisa aku percaya?" gadis Bara itu berbicara mencak-mencak, dan Ko yang duduk di hadapannya hanya bisa mengangguk-ngangguk polos. Hei—sebentar, rasa-rasanya ada yang aneh dengan Ko? Kenapa belakangan ini dia tampak lebih tenang? "Ko? Lagi enggak demam, kan? Tumben sekali hari ini tampak normal?"

"Masa sih?" si Kiku hanya tertawa pelan sambil menyentuh kedua pipinya dengan kedua telapak tangan masing-masing. "Tapi ya, Kazunyan, menurut pendapatku nih, sekali lagi, Rei-kun itu orang yang serius kok—ucapannya loh ya, dan menurutku sih tidak ada yang aneh dengan itu." Sebenarnya Kazusa bisa saja mempercayai ucapan Ko, tapi kalau berdasarkan fakta yang berbicara, Kazusa enggan mengakui ucapan Ryokuemon muda itu. Ih. Dilema yang aneh.

"Sebenarnya, aku mempercayai ucapanmu, Ko..." kata Kazusa dengan suara pelan. Tangannya bergerak mengambil sumpit dan menusuk-nusuk makanannya dengan gusar. "Shibasaki juga sering kali berkata—dan memastikan—bahwa dia tidak akan membuatku di detensi hanya karena menemaninya," Kazusa menghela nafas lesu. "Tapi kemarin aku bisa di detensi juga sebenarnya tidak benar-benar seratus persen salah Shibasaki—aku sendirilah yang mengikutinya, dan karena kebodohanku sendiri." Ko tersenyum menatap Kazusa. "Duh, aku sebenarnya tidak mau mengakui ini..."

"Yah, tapi kan—"

"Jadi, kau benar-benar menantangnya Shiki? Dan kau tidak merasa bersalah sama sekali?"

Kazusa dan Ko serentak menegakkan tubuhnya dan menoleh ketika telinganya mendengar nama yang sangat familiar. Nama Shiki Aoyama disebut-sebut tak jauh dari tempat mereka duduk. Meski pun sebenarnya Kazusa tidak terlalu dekat dengan Aoyama-chan dan tidak memiliki urusan yang penting dengan gadis itu, namun karena beberapa waktu yang lalu Kazusa pernah berurusan dengan Shibasaki karena Aoyama-chan, maka secara tidak langsung Kazusa menjadi kenal Aoyama-chan, dan jujur saja, sedikit penasaran dengan apa yang waktu itu Shibasaki (dan Aoyama) lakukan. Dan kini, rasa penasaran kembali menggelitik rasa ingin tahu Kazusa sekali lagi.

"Jangan bilang semua detensi itu, karena ulahmu secara gak langsung?"

Aoyama terkikik pelan. "Jangan ngaco, ah. Aku kan tidak berpikir sampai sejahat itu." Kazusa mengerenyit mendengar ucapan adik kelasnya itu. "Aku hanya sedang menguji sejauh mana ia serius—dan sebesar apa ambisinya, Kinoshita-chan," Aoyama tertawa pelan. "Lagi pula, aku tidak menyangka loh, kalau Doraemon-senpai benar-benar menganggap kalau dongeng itu ada! Sampai-sampai dia serius sekali mencarinya!!"

"Doraemon-senpai... Shibasaki?" Kazusa berbisik pelan.

"Kau sendiri, percaya dongeng, Shiki?"

Kazusa mendengus kesal, digebraknya meja kantin dan berlalu pergi keluar. Gadis bermarga Aoyama itu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, menjawab tanpa suara bahwa ia sama sekali tidak mempercayai dongeng.


—oOo—
 

Satu bulan.

Sangat di luar dugaan orangtuanya menghukum Rei selama itu. Tidak ada satu pun keluhan Rei yang di dengar oleh Okaa-san mau pun Otou-san. Mereka beranggapan bahwa dengan kembalinya Rei ke sekolah dalam waktu dekat, maka dalam waktu yang dekat pula anak tunggal keluarga Shibasaki pasti akan menambah deretan catatan merah di raportnya. Namun, meski kesal, setidaknya Rei masih sangat berterima kasih pada Nakashima-kouchou karena masih mengizinkan Rei untuk ikut ujian dirumahya. Entah karena orang tua Rei yang memohon, atau memang karena kebaikan hati sang kepala sekolah.

Rei, yang sepanjang hari menghabiskan waktu di rumah, bermalas-malasan, dan lebih sering berada di tempat tidur. Kali ini Rei bahkan melakukan rutinitas yang sama, yang membedakan dari hari ke hari adalah judul buku yang tengah ia baca. "Ichi," ketika namanya dipanggil, Shibaki muda ini refleks duduk tegak dan meletakkan bukunya—kepalanya menoleh dan mendapati Ibunya tengah berdiri di depan pintu kamar, tersenyum lembut. "Boleh ibu masuk?" Rei mengangguk dan wanita itu dengan anggun duduk di samping Rei. "Sedang sibuk?" anak semata wayangnya itu menggeleng pelan. "Ibu tidak mengganggu, kan?"

"Tidak..."

Rei diam.

"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil..." Rei menengadahkan kepalanya, menatap Ibunya sambil tersenyum tipis. "Tumben, masuk kamarku?"

"Sering kok, ibu keluar-masuk kamarmu..."

"Ya, tapi tidak selama satu bulan ini."

Wanita itu tertawa. "Aku tidak pernah menyangka kalau kamu bisa melanggar peraturan sekolah sebanyak itu, Ichi..." mau tidak mau, Rei jadi ikut tertawa, pelan. "Ternyata, kamu memang masih anakku yang bandel, yang menyebalkan, yang sok, yang ngotot..."

"Bu..."

"Semalam, aku dan ayahmu sudah berbicara tentang sekolahmu," Rei menegakkan tubuhnya, menatap wajah ibunya yang kini sama-sama memandangnya juga. Wanita itu hanya tersenyum sembari mengusap pipi anak lelakinya itu dengan sayang. "Besok, kau boleh kembali ke sekolah, persiapkan segala keperluanmu, dan kami akan mengantarmu sampai stasiun nanti." Rei membuka matanya lebar-lebar, tersenyum kikuk, tak percaya akan apa yang ia dengar barusan. "Berterima kasihlah pada Kouchou saat di sekolah." Jeda sebentar. "Tapi kau harus ingat, Rei. Apa pun yang kamu lakukan, entah apa itu, kalau sekali lagi kamu melanggar peraturan, maka keputusan final untuk perbuatanmu adalah drop out."

Label: , , , , ,



Reason
@8/10/2014 04:52:00 PM



"Let's just forget about this, Zuko."

Zuko memejamkan matanya erat-erat, menghela nafas panjang berulang-ulang, menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu pada akhirnya kembali menatap langit-langit kamarnya dalam diam.

"We're never supposed to be, anyway"



★

I can't find the reasons   
That my love won't disappear

★


Insomnia adalah kawan setianya selama ini, namun biasanya hal itu di picu dengan pikiran kalut dari sang Raja. Akan tetapi, malam ini Zuko tidak bisa tidur bukan karena urusan Negara, namun urusan hati yang tak biasa. Ucapan Katara beberapa hari yang lalu berhasil membuatnya resah tak karuan. Dilema menggeluti hati dan pikirannya. Zuko tahu, bukan hanya dirinya yang merasa demikian. Sang gadis bermata biru itu pastilah mengalami hal yang sama dengannya. Sayangnya, hanya Zuko yang merasa bimbang, merasa hati tak rela sekali pun kalimat dan kata yang pernah ia lontarkan berbeda dengan kenyataan--karena ternyata, ketika fakta berbicara, hati sekeras batu pun tak kuasa menahannya.

Sekali lagi, Zuko menyerah pada teman setianya.

Membuang nafas panjang, resah dengan apa yang mengganggu pikirannya, Zuko memilih untuk keluar dari kamarnya dan bergumam kesal pada para pengawal yang menggandrunginya dengan banyak pertanyaan. "Aku hanya ingin sendiri, mengerti?!" bentak Zuko dengan suara berbisik. Kediaman keluarga Morishita bukanlah rumahnya, dan ia adalah tamu. Maka, menjaga perdamaian dunia dan kehormatannya sebagai Raja Api, Zuko sebisa mungkin menjunjung tinggi sopan santun di tempat ini, meski sering kali ia kelepasan berteriak dan berbuat gegabah.

Langkahnya membawa tubuh Zuko kembali keluar dari rumah sang walikota di tengah malam, mengarah pada halaman luas sekali lagi, duduk di bebatuan pinggir air mancur, memandang bulan yang kini tak lagi nampak. Zuko menghela nafas lagi, resah sekaligus sedih.

"Tidak bisa tidur lagi?"

Zuko menoleh cepat saat suara Katara mengejutkannya. Dan mata keemasannya kini tampak lebih hidup ketimbang sebelumnya ketika sosok gadis berambut hitam bergelombang itu berdiri tak jauh darinya. Seulas senyum tipis secara refleks terpatri di wajah Zuko meski mungkin gadis itu tidak bisa melihatnya.

"Kau juga, biar kutebak."

Katara tertawa pelan.

"Aku mengganggumu?" Zuko menggeleng menjawab pertanyaan Katara, dan dilihatnya gadis itu tersenyum manis. "Keberatan kalau kali ini aku yang menemanimu, Fire Lord?" sang Raja tertawa pelan mendengar ucapan Katara. "Kuanggap tawamu itu sebagai kata 'ya' Zuko." gadis itu berjalan menghampiri Zuko dan duduk di samping sang Raja. Zuko, yang sedari tadi menatap Katara hanya bisa tersenyum saat sang pengendali air menengadahkan wajahnya ke langit.

"Tidak ada bulan"

"Ya."

"Jadi apa yang kau lakukan di sini?"

Zuko mengangkat bahunya sekilas. "Entahlah," jeda sebentar "aku hanya tidak bisa tidur, dan kupikir udara segar mungkin bisa membuat otakku jernih," pemuda itu menoleh, "bagaimana denganmu, Katara?"

Katara tersenyum. "Tidak penting." Lalu keduanya terdiam, membiarkan sunyi kembali menyelimuti mereka berdua sekali lagi. Zuko sendiri memilih untuk menatap langit gelap di atas sana, melamun akan banyak hal yang entah mengapa tak bisa hilang dari benaknya. "Kau tahu, Zuko?" pemuda itu menoleh lagi ketika namanya disebut, "aku tidak bermaksud untuk benar-benar menghindarimu, aku hanya tidak tahu harus bagaimana," Katara tampak muram. "Kau temanku, teman Aang, terlepas dari perasaanku--perasaan kita--hal seperti ini tidak seharusnya terjadi, tapi sulit sekali bagiku untuk bersikap normal lagi..."

"I know."

"Tapi..."

"Tapi aku tidak bisa menutupi perasaanku lagi, Katara." ucap Zuko lesu. Matanya memandang Katara tepat di kedua bola mata biru laut gadis itu. "Andai kata aku tidak pernah tahu perasaanmu, mungkin mudah bagiku untuk melupakanmu, merealisasikan ucapanku sebelumnya bahwa aku rela melepasmu," pemuda itu menghela nafas lemah. "Tapi kenyataannya kau pun sama, dan aku tak lagi bisa menekan perasaanku lagi padamu."

Katara menunduk. "I love you, Zuko." Zuko tidak menjawab apa-apa. Matanya terpejam erat ketika suara lembut Katara menyebut namanya. "Aku tahu aku berkata bahwa seharusnya kita melupakan ini tapi ternyata, sulit bagiku..." gadis itu menunduk semakin dalam, "I love you, Zuko. I really love you."

Zuko membuka matanya perlahan, tak bergeming sekali pun Katara sekali lagi berhasil meruntuhkan pertahanannya. "I love you too, Katara." ucap Zuko pelan. "But, we're never supposed to be," dia mengulang ucapan Katara dengan lesu. Nyeri di dadanya muncul setiap kali Zuko berkata demikian. "Dan aku tidak mau menyakitimu lagi."

Hening. Keduanya terdiam.


★

I can't find the reasons
Why I love you 

 ★


Katara berdiri di pintu kamarnya dalam diam, menatap Zuko yang kini membungkuk sopan untuk berpamitan pada gadis itu. Malam ini, cukuplah sampai di sini. Bahkan kalau boleh, Zuko benar-benar ingin mengakhiri semuanya dan melanjutkan kehidupan masing-masing seperti dulu, seperti saat itu. Namun, keinginannya tertahan oleh dua hal. Satu adalah perasaannya, dan dua adalah Katara. "Ada satu hal yang membuatku penasaran." Katara bertanya pelan, masih memunggungi Zuko.

Sang raja hanya mengangkat alisnya.

"Apa alasanmu menyukaiku?"

Lalu Zuko tersenyum.

Dan berlalu.



---------- ★ ----------

@Firenationforum universe; Avatar: The Last Airbenders; Biaaulia.
© Michael DanteDiMartino and Bryan Konietzko
Earth, wind, and fire - Reason 

---------- ★ ----------

Label: , , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //