<body>
Diary
Minggu, 07 Juni 2015 @6/07/2015 10:24:00 PM



Aku tidak pernah mengerti.

Tidak akan pernah.

Hari ini, aku mendapati tiga keanehan yang ditunjukan oleh Occhan, mulai dari gelagatnya, sikapnya, dan ucapannya. Aku tahu, dan sangat tahu sekali siapa itu Osamu Narusawa—anak Bara yang memiliki otak tidak waras sampai-sampai mau-maunya menjadi peliharaan seorang perempuan—aku— Miho Mizuhara. Dan sebagai seorang majikan, aku tahu betul bagaimana sikap Occhan sang peliharaan, mulai dari bagaimana dia menuruti perintahku, membangkang omelanku, dan hal-hal lainnya yang nyaris setiap hari aku perhatikan. Akan tetapi, meski samar-samar, aku merasa ada yang aneh.

Sejak Occhan sering kali memergokiku menangis sendirian, pemuda berambut ikal itu kini lebih sering menempel lebih dari biasanya. Bahkan, setiap kali kuusir, si bodoh itu hanya berpindah semeter dariku, atau paling tidak, pindah ke tempat yang setidaknya masih berada dijarak pandang masing-masing. Padahal biasanya. Occhan akan langsung pergi entah kemana; kamar, atau kantin, meski tak lama dia akan kembali lagi.

Belum lagi sikapnya yang... hm, menjadi sedikit manis? Yah, sebenarnya sih, dari yang sering kudengar dari obrolan gosip-gosip anak perempuan belakangan ini, Occhan termasuk laki-laki yang sweet. Yang rela melakukan apa saja demi seorang perempuan—yang berani taruhan, mereka tidak tahu aslinya seperti apa. Hello? Perempuan mana lagi yang nempel-nempel sama Occhan selain aku? Wajar lah, kalau dia memperlakukan perempuan dengan baik.

Namun, ada beberapa hal yang kuakui, Occhan sangat manis sekali. Sering kali, si bodoh itu menghiburku dengan cara-cara yang manis setiap kali aku tidak bersemangat. Entah itu memainkan boneka pandaku, Miichan, atau memberiku sekotak susu cokelat, atau bahkan (super sangat jarang) memberiku teka-teki membosankan yang super sangat tidak lucu hingga membuatku tertawa karena ketidak-lucuannya itu. Yah, meski demikian, aku sendiri sebenarnya tidak yakin, apakah Occhan memang bersikap manis, atau bersikap sebagaimana mestinya sikap peliharaan terhadap majikannya?

Dan terakhir, belakangan ini, Occhan lebih sering memanggilku 'Miho' ketimbang ojou-sama seperti biasanya. Hanya Miho, tanpa embel-embel lainnya. Anehnya, aku tidak bisa marah, malah perutku bergejolak tanpa sebab.

Salam sayang,

Mizuhara Miho.

Label: , , , , , ,



True Love. Maybe.
Selasa, 17 Juni 2014 @6/17/2014 12:51:00 PM



Kupejamkan mata perlahan, membiarkan kegelapan menyelimuti pandanganku untuk beberapa saat. Hati ini tak pernah tenang melihat apa yang menjadi pemandangan di depan. Sungguh, kupikir waktu sudah menggerogoti habis perasaanku, namun diluar dugaan, perasaanku masih begitu kuat. Wajar, sebenarnya. Bertahun-tahun perasaan itu tumbuh dengan subur. Di pupuk dengan rasa cinta yang menggelora, disiram dengan kasih sayang yang menenangkan. Bertahun-tahun pula, kutunggu perasaanku berbunga—dan ya, pada akhirnya memang demikian. Perasaanku sangat bahagia ketika cintaku pada akhirnya berbalas. 

Berbunga-bunga dengan banyaknya gejolak cinta yang tak terbendung lagi.

Tapi, bunga sakura adalah ciri bahwa di dunia ini tak ada yang abadi.

Sekaligus ciri bahwa sesuatu yang indah tak bertahan lama—


—cintaku mekar dengan indah,
kemudian layu sekejap saja.


Ku tatap Reichi Shibasaki dengan tatapan sendu, memandangnya dengan hati yang masih tertoreh luka. Ah. Kamisama, Aku tak pernah ingin menjadi orang yang pemaksa, namun kenapa begitu sulit melepaskan orang yang kucinta? Sungguh, mengubur bunga yang layu dan menunggunya menjadi bibit yang baru tidaklah sebentar, dan tidak pula mudah. Lalu aku harus bagaimana?

"Kau bukan orang dengan kulit setebal badak, Miho-sama," aku menoleh ketika suara familiar Occhan terdengar di telingaku. Mataku seketika terbuka dan memandang lelaki Bara yang sedang sibuk melepas jaketnya. "pakai ini," lanjutnya sembari meletakkan jaket itu ke pundakku. Dia melakukannya tanpa persetujuanku. "Nanti kau sakit."

Aku sudah sakit. Bodoh.

Occhan terpaku. Biasanya aku pasti melontarkan berbagai celotehan padanya tiap kali dia bersikap seenaknya, atau berkata sesuka hatinya. Biasanya juga, aku pasti akan menolak mentah-mentah semua pemberiannya yang sedang tidak aku inginkan. Tapi kali ini, Occhan tidak mendapati hal seperti itu. Gadis yang berstatus majikannya ini malah diam membisu dengan mata sendu menatap lurus ke depan. Occhan menoleh, mengikuti arah pandanganku dan—"ah."

Aku tak bernafsu bertengkar atau mengerjainya hari ini. Jadi kubiarkan Occhan berbuat sesuka hatinya--dan ya, Narusawa muda itu ternyata masih sedikit pintar untuk mulai memikirkan dirinya sendiri ketimbang mengurusi orang lain--aku. Occhan berlalu begitu saja ketika dirinya mulai mengetahui alasanku bungkam. Dia memilih tak acuh. Kuakui, sedikit sedih mendapati lelaki itu kini cuek padaku. Entah dengan alasan apa, melihat sikap Occhan, aku merasa semakin kecewa. Kesepian. Dan sedih.

Lalu kubenamkan wajahku diantara kedua kakiku yang kutekuk hingga menghimpit dada, berharap rasa sakit dihatiku sedikit berkurang entah karena apa. Ah. Tidak, tidak. Aku tidak menangis—tak akan pernah menangis. Aku dikenal sebagai Mizuhara yang kuat, tegar, dan angkuh. Takkan kubiarkan kata rapuh menjadi image baruku.

"Hei. Kenapa sedih?"

Aku menoleh cepat dan terbelalak kaget melihat sebuah boneka berbentuk panda yang berukuran lumayan besar tahu-tahu berada di hadapanku. "Mukamu jelek kalau sedih. Nanti tidak ada bedanya denganku loh kalau kau bersedih terus. Matamu akan dilingkari lingkaran hitam sepertiku! Apalagi wajahmu sudah kurus begitu, pasti jelek!" suara Occhan terdengar riang, dan entah karena perkataannya, atau suaranya, atau karena bonekaku ini, bibirku seketika membentuk lelukan tipis. Sebuah senyuman. "Kau sendiri, tampak jelek dengan lingkaran hitam itu." aku berkomentar dengan suara pelan, masih dengan senyuman terukir di wajahku.

"Apa?! Mukaku yang lucu ini berbeda denganmu, tahu! Pipiku gembul menggemaskan dan buluku lembut menenangkan. Kau?! Sudah kurus, kucel lagi!!" si panda didekatkan padaku, menyusruk ke wajah tanpa ampun. Bulu-bulunya yang lembut langsung membuatku geli. "Heeei!!" kuajukan protes dan kusambar si boneka panda. Occhan yang berada di balik boneka tampak terkejut. Namun namanya juga Osamu Narusawa, seketika ekspresinya langsung berubah.

Aku tersenyum.

"Terima kasih sudah menghiburku, Occhan," ku peluk si boneka panda dan kujadikan dia sebagai tumpuan kepalaku agar lebih nyaman menoleh ke arah Occhan. Lelaki itu tersenyum tipis. "tapi tidak dengan ucapanmu yang menyebalkan itu, bego." tambahku buru-buru.

"Jangan terpaku dengan masa lalu," Occhan mendengus, tatapannya beralih ke samping. "aku tidak tega melihatnya." kuangkat alisku sebagai respon. "Jangan terlalu berharap pada pacar impian," lelaki itu kembali berucap, dan entah kenapa wajahnya yang teduh membuat jantungku berdegup kencang. "ada cinta yang nyata untukmu, Miho."

Label: , , , ,



Don't say you love me - M2M
Kamis, 05 Juni 2014 @6/05/2014 11:56:00 PM



Apa yang terjadi?

Pertanyaan itu sering kali hilir-mudik si kepalaku. Belakangan ini, pikiranku penuh dengan Occhan. Sungguh, bukan berarti aku mulai jatuh hati dengan peliharaanku itu, dan bukan pula aku mulai berbaik hati padanya. Hah. Buat apa? Memang kuakui, Occhan memiliki mata yang indah dan hidung mancung dambaan setiap kaum hawa. Maksudku, hei, siapa juga yang mau punya hidung buntet dan mungil?! Dan sebenarnya, Occhan punya wajah yang lumayan tampan. Kalau tak salah, sering kali aku mendengar beberapa anak perempuan menjerit histeris setiap kali laki-laki Bara itu melintas di depan mereka. Aku takkan heran kalau misalkan suatu hari ada anak perempuan yang meninggal karena sesak nafas. Sungguh. Tapi bukan itu yang mau aku bahas kali ini. Laki-laki itu, Narusawa muda itu, ada yang aneh dengannya.

Biasanya, Occhan akan melontarkan beberapa keluhan sebelum dia benar-benar melakukan perintahku, atau sampai aku benar-benar memarahinya. Tapi belakangan ini, Occhan jarang sekali mengeluh. Mungkin memang masih sering terdengar dumelannya yang sudah nyaris seperti membaca mantra, tapi tetap ada yang salah. Occhan tidak lagi seperti yang dulu. Dan aku rasa mungkin memang ada masalah. Maka dari itu, sebagai seorang majikan yang baik dan benar, pengertian dan penyayang, kutanyakan padanya. Sekedar basa-basi sebenarnya.

"Kau ini kenapa?"

Narusawa itu menoleh. Tatapannya yang tadi sibuk menatap layar televisi kini langsung mengalihkan fokusnya seketika. Menatapku tepat di mata--membuatku menahan nafas sekitar tiga detik. "apanya yang kenapa?" dia bertanya balik, masih dengan tatapannya yang aneh itu. Aku memicingkan mataku seketika, menatap Occhan dengan perasaan curiga yang tak lagi terbendung.

"Kau baik-baik saja?" Occhan mengangkat alisnya tinggi-tinggi, dia masih bersikap tolol. "Kau ini aneh, tahu." kukatakan sejujurnya apa yang ada di benakku. Dan lihat, si Bara lelaki di hadapanku itu masih dengan ekspresi tololnya yang menyebalkan. Aku geram. "Tidak biasanya kau menurut padaku tanpa babibu dulu. Kau sudah tobat atau apa?!" kataku.

"Kenapa malah protes? Memang kau tidak senang dengan sikapku yang begini?"

Aku menganga.

"Kau suka aku yang dulu, ya?"

Aku gelagapan.

"Jangan ngawur, kamu!"

Occhan tertawa. "Aku tidak berubah kok, Miho-sama," si Bara itu tersenyum, dan aku merasa isi perutku bergejolak tak karuan. "Jangan senyum-senyum begitu. Mengerikan!!" Occhan tertawa lagi mendengar keluhanku, memang ada yang tidak beres dengan isi kepalanya. Di marahi kok, malah tertawa. "Lagi pula, berubah atau tidaknya aku, tidak akan ada perbedaan yang mencolok, kok."

Occhan kembali menatap televisi.

"Aku selalu ada di dekatmu."

Label: , , , , ,



Osamu Narusawa
Minggu, 01 Juni 2014 @6/01/2014 11:36:00 PM



Sebenarnya, tidak pernah terpikir olehku kalau Occhan benar-benar menjadi peliharaan. Saat itu, aku hanya iseng. Kalian sendiri tahu, betapa sangat menyenangkannya bagiku, Miho Mizuhara, mengekspresikan perasaan dan isi pikiranku pada siapa saja yang kebetulan sedang beruntung berbicara denganku. Kebanyakan orang yang mengenalku dengan baik biasanya sangat maklum dengan sikapku. Dan kebanyakan orang yang baru mengenalku pasti benci setengah mati. Peduli amat soal itu, pada dasarnya tiap-tiap orang berhak untuk membenci dan menyukai, kan? Maka dari itu, aku tidak pernah memusingkan pendapat orang tentangku, toh aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu kepada orang lain.

Namun hari ini, aku memikirkan Occhan.

Kalian kenal siapa itu Occhan? Mari kuperkenalkan. Laki-laki di hadapanku inilah yang bernama Occhan. Berambut ikal, berhidung mancung, dan tampan. Nama lengkapnya Osamu Narusawa. Dengar-dengar dia itu anak bontot, jadi tak heran beberapa yang baru mengenalnya mengira dia anak manja yang tak tahu diri. Aku juga awalnya berpikir begitu. Namun do not judge people by cover. Occhan tidak manja sama sekali meski memang dia laki-laki tidak tahu diri yang terkadang sangat menyebalkan sampai-sampai rasanya aku ingin menonjoknya. Tidak ada kata manja dalam list kehidupan Occhan yang kuperhatikan. Malah, dia terhitung mandiri sampai-sampai saking mandirinya dia rela mengurusi orang lain selain dirinya sendiri. Dan orang lain itu adalah aku. Sang ratu. Begitu sapaan Occhan padaku--atau terkadang tuan putri, atau oujou-sama, atau blah blah blah lainnya.

Suatu hari ada yang pernah bertanya pada Occhan--ada aku di sisinya--kenapa dia mau-maunya di suruh-suruh oleh orang sepertiku. Seorang Miho yang galak, rese, pengatur, dan lain halnya yang sebenarnya sedikit menyakiti hatiku dan sukses membuat kupingku panas menahan kesal. Tapi hei, seperti yang aku bilang tadi, aku tidak peduli karena semua orang berhak menilai dan berpendapat. Sayangnya, setinggi apa pun pendapat itu kujunjung, ketika Osamu menjawab pertanyaan itu dengan gayanya yang selangit dan santai layaknya di pantai, aku sukses melemparnya dengan satu pak tissue pembersih wajah.

"Kau tahu kenapa? Aku ini sangat menjunjung tinggi pelestarian makhluk langka. Dan makhluk langka yang aku jaga sekarang ini merupakan species terakhir perempuan unik di dunia "

Temannya tertawa. Sedangkan aku sibuk melempar berbagai barang ke arah Occhan. Brengsek memang. Tapi ya. Aku harus bilang apa? Pada akhirnya, setelah seharian memasang wajah masam dan membiarkan Occhan sembah-sujud memohon maaf padaku, seperti inilah sekarang. Occhan kusuruh mengerjakan tugasku, sedangkan aku duduk nyaman di kursi sofa ruang rekreasi asrama Bara. "Occhan," lelaki itu bergumam singkat, menjawab sapaanku dengan mata tak lepas dari deretan perkamen di hadapannya. "Kok kamu mau, kusuruh-suruh?" seketika, gerakan tangan Occhan berhenti. Dan aku hanya mengangkat alisku tinggi-tinggi saat lelaki Bara itu menoleh menatapku. Canggung dengan tatapannya, aku mendengus kesal. "Apa?!"

Occhan menggeser posisi duduknya, bersila menghadap ke arahku, menghela nafas dengan berat. Matanya masih menatapku dan aku mulai risih."'cause something is wrong without you, oujou-sama," katanya. Oh, sepertinya dugaanku benar. Occhan mungkin punya kelainan kejiwaan yang menyukai sesuatu hal yang berhubungan dengan perintah-perintah. Maksudku, dia tampak bahagia kalau di suruh-suruh. Tak tahulah apa nama ilmiahnya. Tapi yang jelas aku pernah membaca perihal itu.

"I think I’m falling."

Label: , , , , ,



Untitle.
Selasa, 29 November 2011 @11/29/2011 01:50:00 AM



Disclaimer :
  • Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
  • Miho Mizuhara punya Gue.
  • Osamu Narusawa punya Ndhez
  • Dan beberapa chara yang di sebut punya PMnya masing-masing.
Timeline : Musim dingin, 2006/2007
A/N : Semua ini murni karena imajinasi gue loh ya =)) dan jelas, semua FF ini tidak sepenuhnya ada sangkut paut dengan plot asli semua chara yang terlibat di sini. Murni pikiran gue alias cuma iseng HAHAHAHAHA. #dibuang =))










"OCCHAN!!!"

"APAAAA???" Miho Mizuhara menengadahkan kepalanya sembari tetap tidur terlentang di atas sofa hijau, tersenyum tipis begitu lelaki berambut kecoklatan, keriting acak-acakan, dan menggunakan apron ungu gonjreng tengah berlari-lari kecil menghampirinya. Wajahnya kotor penuh dengan bercak-bercak putih seperti serbuk yang menempel di kulit—itu tepung atau bedak, Miho tidak peduli. "Apa?" tanya lelaki itu mengulangi pertanyaannya, dengan itonasi suara yang berbeda.

"Lapar." jawab Miho singkat. Lelaki itu mengerenyit. "Aku lapar, kau tuli?" sahutnya sinis.

"Kalimat sihirnya?"

"Harus?"

"Harus dong."

"Kalau tidak mau?"

"Bakal ku cium."—dan dalam hitungan detik, bantal merah langsung melayang mengenai di muka si lelaki.



—oOo—



"Miho-chan..." Gadis berambut pendek berwarna hitam kecoklatan itu langsung menoleh begitu nama kecilnya disebut dan ber-hmm pelan sembari memandang Osamu Narusawa yang tengah duduk di sebelahnya, yang juga sama-sama membalas tatapan gadis itu tepat mata coklatnya. Dia tidak tersenyum, tapi tidak juga memasang wajah sangar seperti biasa. Kali ini datar dan kalem. Tumben. 

"Apa?" tanya gadis itu pada akhirnya. Osamu menggeleng pelan dan tersenyum samar. Misterus. "Apaaa???" gadis itu bertanya lagi sambil merengek gemas, tapi Osamu masih tetap tidak menjawab pertanyaannya, malah terus senyam-senyum mencurigakan. "Kau ini memanggilku untuk apa sih? Aku sibuk!! Masih banyak catatan yang harus aku salin sebelum ujian di mulai minggu depan!!!" protes Miho-chan, begitu yang tadi Osamu sapa. Miho-chan kembali membuang muka, memandang buku catatannya dan buku catatan Osamu secara bergantian plus tangan kanan yang sibuk bergerak-gerak dengan pena di genggamannya.

"Miho-chan..." Yang di panggil tidak menanggapi—sekilas sih iya, hanya sebatas menghentikan gerakan tangannya, menghela nafas, dan kemudian kembali melakukan aktifitasnya. Osamu terkikik. "Miho-chan..." Kali ini dengan sangat hebatnya lagi, di luar dugaan, gadis itu memilih untuk cuek—mengabaikan Osamu yang sedari tadi masih asyik memanggil-manggilnya. "Miho-chan..." ujar Osamu sekali lagi.

Tidak ada jawaban.

"Miho-chan..."

Gadis itu mencengkeram pena dengan marah.

"Miho-ch—"

"—BERISIK!!!" bentak Miho-chan sambil menghentakkan tangan kanannya ke meja sampai-sampai terdengar bunyi 'brak' yang nyaring. "APA OSAMU-KUN? APA??!" dia melotot, jelas-jelas terganggu. Tapi si biang keladi ini malah terkekeh geli. "Tutup mulut atau kau aku sihir jadi kodok!!" ancam Miho-chan.

"Miho-chan..." ujar Osamu mengabaikan ancaman gadis itu. "Miho-chan, Miho-chan, Miho-chan..."

"APA? APA? APAAAA????"

"Aku menyukaimu."

Dan sebuah buku tulis berwarna merah bata melayang mengenai muka Osamu dengan telak. 




—oOo—



Diam, dan bersembunyi adalah dua hal yang bisa dilakukan Miho hingga detik ini, detik dimana seharusnya gadis Bara ini berceloteh panjang lebar seperti biasa kepada kekasihnya, kepada sosok lelaki bertubuh tinggi di hadapannya itu. Tapi hari ini berbeda, Miho hanya bisa menunduk rendah dan memeluk Osamu dengan erat; membungkam mulutnya. "Kenapa?" tanya Osamu lembut. Tapi Miho hanya menjawabnya dengan gelengan kepala, tidak apa-apa, katanya. 

Lelaki Bara itu terkekeh. "Bohong ah. Mana ada orang yang tidak kenapa-napa malah seenaknya nubruk orang yang lagi asyik duduk-duduk di teras begini?" Osamu mengembangkan senyum tipis sambil membelai rambut Miho secara refleks. "Kenapa sih?"

"Enggak apa-apa. Bawel amat sih, gak boleh apa meluk-meluk?" Miho menggerutu, tapi masih tetap di posisinya. Tapi Osamu masih tidak percaya, secara refleks lagi, lelaki itu menjitak kepala Miho, gemas. Gadis Bara ini menggerutu lagi. "Cuma kangen aja, tau."

"Bohong ah."

Miho melepaskan pelukannya, duduk tegak dihadapan Osamu sambil mengerenyit. "Kau tidak percaya?" Kekasihnya menggeleng, tapi masih senyum tipis. Miho menggelembungkan pipinya. "Kenapa kau tidak percaya? Aku kan pacarmu." sahutnya protes. Tapi Osamu, yang sepertinya malah menikmati reaksi manja dari Miho justru semakin menggodanya, melontarkan pertanyaan-pertanyaan kenapa bisa kangen, atau kenapa tiba-tiba memeluk, atau apa. Pertanyaan sepele, tapi berhasil membuat Miho gelagapan.

"Tuh kan, kau tidak bisa menjawab. Artinya kau bohong."

"Kau benar-benar tidak mempercayaiku kalau aku kangen??" tukas Miho meninggikan suaranya. Dia cemberut, tapi masih memasang wajah manja. Osamu menggeleng sambil menghendikkan bahu; jelas dia hanya ingin membuat Miho sebal seperti biasa. Antara percaya dan tidak percaya sebenarnya, tapi melihat reaksi Miho yang seperti ini adalah hiburan tersendiri baginya. "I just miss you!!" jawab Miho singkat.

"Kemarin-kemarin kau bersikap galak—"

"Lagi masanya."

"Kalau begitu sekarang aku yang galak."

"KENAPA BEGITU???"

"Gantian dong."

Miho cemberut.

Namun beberapa saat kemudian, giliran Osamu yang mengerenyit heran saat Miho memandangnya tajam sambil mendekatkan tubuhnya. "Kalau begitu aku punya cara agar kau tidak cemberut, Occhan." ujar gadis ini berbisik sambil tersenyum tipis. Lelaki Bara itu langsung mengerenyit bingung dan bergerak mundur. "Kenapa kau mundur, hmmm?" ujar Miho pelan. Perlahan tapi pasti, kedua tangan Miho menyentuh baju Osamu dan merabanya, melingkarkan kedua tangannya di leher kekasihnya itu dengan hati-hati sembari masih mecondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan hidungnya pada hidung Osamu—tersenyum.

"Kau sepertinya lupa sedang berhadapan dengan siapa—Osamu-kun?" tanya Miho masih dengan suara yang berbisik. Osamu, yang kebingungan tapi juga tertarik hanya bisa mengangkat alisnya. "Kalau aku bisa membuatmu percaya kalau aku kangen, kau mau memberiku apa?" tanya Miho sekali lagi.

"Segala keinginan Majikan bukankah seharusnya aku penuhi?"

"Kalau begitu, pejamkan matamu—" lelaki Bara ini menurut, memejamkan matanya dengan alis masih terangkat tinggi, penasaran sekaligus merasa geli dengan tingkah Miho yang aneh. Sebagai lelaki berusia sembilan belas tahun, jelas hal ini membuat pikiran Osamu sudah entah kemana, membayangkan ini dan itu, bahkan kalau boleh jujur delapan puluh persen dari imajinasinya sekarang adalah pikiran `lelaki`nya.

Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama karena suara PLAK terdengar nyaring.

Dia di tampar.

"KALAU GA PERCAYA YA UDAH!! DASAR COWOK ENGGAK PEKA!!!" Osamu, yang baru saja terbang ke Nirwana harus turun lagi seketika dengan pipi sebelah kanan terasa panas. Matanya mengerjap berkali-kali memandang Miho yang cemberut; dengan posisi tangan kiri terangkat. "AKU BENCI PADAMU, OCCHAN!!!" bentak gadis itu sekali lagi. Kali ini dia menangis.

Osamu mengerjapkan mata—tidak mengerti.

"Kau kenapa sih?? Hei—" sahutnya panik. Tangannya terulur untuk menarik tangan Miho namun gadis itu menepisnya. Dia berdiri; memandang Osamu dengan ekspresi sedih bercampur marah. Namun setelahnya, gadis itu berbalik, dan pergi. Tidak memberikan jawaban apa-apa pada Osamu.



—oOo—



Cinta itu sederhana. Seperti misalnya kaki yang hanya bisa melangkah semakin cepat begitu melihatmu melintas dihadapanku. Atau mata yang langsung mengerjap kikuk begitu berpapasan denganmu. Atau bahkan bisa deru nafas yang terus berhembus tiap hari dengan kamu di pikiranku.

Sederhana memang, seperti sekarang.

Tapi tidak untukmu, tidak untukku.

Label: , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //