<body>
happiness is around you ❤
Rabu, 17 Agustus 2016 @8/17/2016 09:27:00 PM



Banyak orang yang bertanya-tanya belakangan ini kenapa gue tampak sangat bahagia padahal kebahagiaan yang gue tunjukan terkesan remeh dan menyemenye? Gampang.

Gue pernah mengalami masa titik terendah dalam hari-hari gue, dan itu berat. Dan tau lebih beratnya lagi apa? Gue berdiri sendiri. Depresi menyebabkan sisi masokis gue menjadi tinggi, mulai dari menyakiti diri sendiri secara batin, lalu menjurus ke fisik. Parahnya, kalau gue ga keluar dari masa itu, mungkin gue jadi Yang Maha Emo #tsaah.

Dulu temen gue mengalami hal yang sama tapi ga sampai nyakitin fisik. Dan karena gue sayang, gue ga mau ada hal buruk terjadi sama temen gue, plus meski gue (waktu itu) ga terlalu paham perasaannya, gue tetep berusaha untuk ada meski cuma sekedar membuka telinga.

Sayangnya disaat gue mengalami hal itu, temen gue entah kemana.

Sedih? Banget.

Sakit? Jangan tanya.

Dari titik terendah itulah, gue membuka mata, bahwa gue selama ini hanya fokus pada satu jiwa, yang ternyata dalam kegelapan justru banyak yang mengetuk-ngetuk kegelisahan gue, dan menjadi hal berharga buat gue, sampai sekarang tetap begitu adanya.

Ada yang rela tertular. Ada yang rela nyapa gue tiap hari meski gue cuekin. Ada yang ngawasin gue meski gue bandel. Ada yang ikhlas gue ganggu tengah malem cuma buat ngewaro chitchat suram gue. Ada yang bikin gue bahagia. Ada yang ngajak gue untuk kembali ke selembar kain di lantai untuk tempat bersujud kepada-Nya.

Lalu apa gue berhasil keluar dari semua itu? Yes.
.
Gue lebih bisa memaknai kebahagiaan.

Gue lebih bisa menerima keadaan.

Gue bersyukur, dan itu lah salah satu cara paling hebat yang bikin gue bahagia.

Percayalah, bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, dengan apa yang kita punya, membuat hati tentram ketimbang memperhatikan dan membandingkan dengan orang lain. Semua itu ga bakal ada habisnya, sia sia. Meski pun di mata orang hal-hal tersebut terkesan biasa, bodoamat. Mereka ga merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, mereka ga melihat kelam dibalik senyuman, mereka ga lihat badai dibalik keceriaan. Mereka ga liat semua itu. Lalu kenapa?

Ingatlah, pencapaian untuk kehidupan kita berasal dari diri kita sendiri. Bukan orang lain.

Gue bahagia dengan apa yang gue punya.

Gue bahagia dengan apa yang gue tuju.

thank you and love you, my friends. i love you to the moon and back.

Label: , , , , , ,



A untuk Amanda (Young Adult GPU)
Jumat, 01 April 2016 @4/01/2016 04:42:00 PM





Judul : A untuk Amanda
Pengarang : Annisa Ihsani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016
Dibaca : 30 Maret 2016
Rating : ★★★

Sinopsis:

Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya. Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.



Kapan terakhir kali saya menulis review/sinposis buku? 3 tahun yang lalu, tepat di tanggal Sabtu, 16 Februari 2013. JRENG. Itu pun setelah saya lihat, sebenarnya bukan termasuk review hanya curcolan belaka seputar buku yang saya ulas (sekarang juga kemungkinan begitu wkwkwkw)(eaaaa). Anw, review kali ini dipersembahkan untuk @kaanisa karena sudah mau mengajak saya ikut belajar mereview buku ;) Senang sekali bisa berkenalan dengan Kaanisa lewat GWP xixixi.

Back to book.

Pertama kali membaca sinopsis, sudah tergambar jelas 'inti' dari buku ini, dan sukses membuat saya tertarik juga—apalagi kalau bukan tema 'depresi' yang masih sangat jarang ditemukan dibuku-buku novel karya anak bangsa. Kenapa bisa saya terjemahkan sebagai sesuatu yang jarang? Well, karena kebanyakan (termasuk saya pribadi kalau menulis sebuah cerita) tema novel yang menyangkut paut kenyataan hidup abg sering kali berputar antara lelaki dan sosialmedia. Tapi buku ini merangkum dengan sangat rapi tentang depresi, perempuan feminis, agnostik, diselingi curhatan Amanda yang tentunya bisa dirasakan oleh setiap gadis remaja pada umumnya. 

Itu adalah kelebihan dari buku ini yang paling kuat. Kelebihan kedua adalah alur dan plotnya. Dibuka dengan prolog mengenai Amanda yang tengah berjibaku dengan Dr. Eli, Amanda merasa perlu menceritakan latar belakang kenapa dirinya bisa berada di ruang praktik psikiater, lalu di bab-bab selanjutnya kita akan berkenalan dengan kehidupan Amanda yang serba sempurna sampai kembali lagi ke adegan dimana Amanda dan Dr. Eli bertemu. Belum lagi Annisa Ihsani mampu menyelipkan POV serta scene-scene yang membuat Amanda kebingungan (dari teman-temannya dan dirinya sendiri pula) sehingga mampu menguatkan kesan depresi pada kondisi Amanda.

Kelebihan ketiga adalah pengetahuan-pengetahuan yang digali Annisa Ihsani baik tentang ilmu fisika (yang rudet itu, astaga) mau pun ilmu psikologi. Kalau saya tidak membaca buku ini, saya tidak akan tahu bagaimana cara kita mengenali gejala depresi dan kelakuan-kelakuannya. Saya pun tidak akan tahu istilah-istilah Sindrom Penipu atau Impostor Syndrome dan juga Misoneism yakni ketakutan akan perubahan (secara pribadi mungkin saya mengidap ini). Terima kasih untuk selipan ilmunya!

Namun, terlepas dari kelebihan, pasti ada kekurangannya, kan?

Ihsani memang berhasil mengangkat tema dan ilmu-ilmu yang mungkin masih jarang diminati oleh kebanyakan orang. Namun, ia kurang berhasil mencoba mensejajari setting buku-nya dengan gaya penceritaan ala terjemahan di novel—kenapa dibilang kurang berhasil mensejajari setting buku-nya? Begini, kalau mbak Ihsani mengambil ala-ala terjemahan dengan area suburban di sebuah negara tropis x atau fiktif, menurut saya agak aneh ketika daerah-daerah penyokong lainnya masih menggunakan nama-nama khas Indonesia. Mungkin maksudnya sengaja di buat 'versi terjemahan' kali ya, tapi tetap saja ada kesan tersendiri (buat saya) yang membuat setting fiktif ini bercampur aduk sehingga tidak konsisten. Memang sih sebenarnya itu sah-sah saja, tapi ya gitu deh jadi aneh bacanya :p

Terus... uniknya, menurut saya pribadi, ada kemungkinan besar Ihsani sangat terinpirasi Harry Potter karya JK. Rowling (feeling saya sih dari cara ia menuliskan 'Prestasi yang Memuaskan' seperti ala-ala mata pelajaran di Hogwarts yang sudah di terjemahkan versi Indonesia) dan karya John Green yang berjudul The Fault in Our Stars dan Papper Towns :) Mengapa? Karena ada scene dimana Amanda memprediksi kejadian menjadi tiga kemungkinan—itu loh yang bagian a) blablabla, lalu b) blablabla, dan c) blablabla. Itu mengingatkan saya pada salah satu karya John Green. Heheheh.

"Tidak ada yang bisa berhasil sepanjang waktu. Di sisi lain, tidak ada yang bisa gagal dalam segala hal. Setiap orang punya jatah kesuksesan dan kegagalan."—Halaman 161.

Label: , ,



07 Maret 2016
Sabtu, 05 Maret 2016 @3/05/2016 10:00:00 PM



"Kupikir, aku juga ingin punya hobi olahraga seperti kamu..."

Daniswara, yang sedang menikmati tempura sayur kesukaannya mendadak berhenti, menengadahkan kepalanya, menatapku dengan mata berbinar namun dengan tanda tanya tertera di wajahnya. Aku tersenyum simpul, menggulirkan mataku tak tentu arah. "Angin apa nih?" Tanya Daniswara--atau sebut saja dia J--akhirnya, tak kuasa membendung pertanyaannya.

Aku menghendikkan bahuku. "Yah, cari kegiatan baru? Rutinitas baru? Komunitas baru?" Berpikir sejenak "Selama ini, kamu punya hobi olahraga yang keren, Airsoft, dan setengah olahraga, lari-lari..." jeda sebentar "Aku juga... mmm, kepingin olahraga tapi yang enggak sekedar lari atau renang..."

J tersenyum. Lucunya, tempura sayur kesukaannya berhasil ia alihkan sementara hanya untuk ucapan anehku yang tiba-tiba. Mata cokelatnya menatapku lurus, teduh sekali melihatnya. Meski, yaaah, lama-lama aku merasa malu sehingga kupalingkan mukaku ke samping, mendadak memperhatikan dinding kayu yang nampak menarik dalam sekejap.

"Olahraga apa yang membuat kamu tertarik, Malika?"

Aku terdiam sebentar.

"Panahan dan berkuda."

"Mengikuti sunnah Rasulullah?"

"Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, tapi kukira omonganmu barusan ada benarnya," aku cengengesan, merasa malu karena melupakan pelajaran di sekolah dulu. "Sebenarnya hanya karena... terlihat keren," tambahku. "Sewaktu aku ikut ke denkav beberapa saat lalu, pas kamu ada jadwal main airsoft disana, kebetulan lagi ada kelas berkuda dan melihat kegiatan itu,.... menurutku, hmm, itu keren. Well. Aku takut kuda, tapi semacam ada keinginan untuk menaklukkan rasa takut di pikiranku, dan hal itu menyuruhku untuk menaiki kuda dan bisa menungganginya."

"Wow, kupikir kalau kamu takut sesuatu, kamu pasti bakal membencinya seumur hidupmu. Seperti laba-laba dan balon?" Tanya J takjub.

Aku bergidik.

"Itu beda, itu kan ketakutan traumatik, karena ada sebab sebelumnya. Kalau kuda kan, aku hanya... kau tahu, dikerubuti kuda sewaktu kecil begitu kau membuka pintu mobil itu sama sekali tidak menyenangkan, tau." Sergahku cepat. "Jadi sebenarnya aku bukan takut! Hanya jijik." Aku terdiam agak lama, lalu menambahkan: "Lagi pula, aku belum pernah melihat kuda sebesar dan segagah di sini..."

J mengangguk. Senyum diwajahnya semakin lebar setelah mendengar penjelasanku. "Kupikir, kalau berkuda biayanya akan mahal... tapi kalau panahan, aku bisa coba cari tahu," katanya dengan nada meyakinkan. Aku langsung menatapnya dengan kedua mata yang berbinar-binar. "Tapi, kenapa kamu ingin panahan? Kenapa enggak airsoft aja? Biar sama? Gegara Katniss Everdeen, kah?"

Pertanyaan terakhir sebenarnya sukses membuatku berpikir agak lama. Kadang, sekedar jawaban 'tidak mau' sama sekali tidak menjawab dan tidak memberi kepastian meski memang itu jawabannya. Maka, dengan kedua alis saling bertautan, ku pikirkan dengan keras jawaban yang sekiranya bisa membuat J puas.

"Kupikir... mencoba hal yang baru, enggak ada salahnya..." J menatapku. "Jujur saja, aku tidak terlalu tertarik dengan Airsoft dan untukku, hal itu sudah 'tidak baru' karena akan ada kecenderungan 'ah, minta tolong ke J aja dia kan lebih ngerti' alias bergantung padamu. Beda dengan aku melukis dengan cat akrilik, aku akan getol duduk depan kanvas menekuni satu demi satu cara yang cocok untuk bisa kugunakan, menekuni warna demi warna yang sekiranya cocok dan sesuai dengan apa yang kugambar. Begitu juga dengan panahan, kupikir, panahan mewakili apa yang ku sebut dengan sesuatu yang baru..."

Aku terdiam, memandang J yang tampak termenung dengan omonganku yang panjang lebar, mencernanya sedikit demi sedikit seperti biasanya. Lalu, dengan hembusan nafas yang berat, dan ekspresi muka yang sedikit cemberut, aku berkata:

"Dulu, kamu awal-awal ikutan dan aktif airsoft kan, sama mantanmu. Ga ada salahnya kalau aku juga ingin ngalahin hal itu dengan ngajak kamu panahan. Sesuatu yang di mulai berdua. Aku dan kamu."

J tersenyum lembut, sedikit terkekeh, tapi tangannya yang besar mengelus punggung tanganku, menenangkan kecemburuanku yang sebenarnya tak beralasan. Tapi setidaknya kan, aku jujur!

"Oke, kalau gitu, sabtu depan, kita panahan, ya."

Reaksiku?

Mengangguk dengan semangat, tentu saja!

Biasanya, kalau J sudah semangat dan berjanji sesuatu hal, dia pasti akan memenuhinya dan membantuku untuk mengumpulkan nyawa plus semangat agar tidak sekedar wacana. Meski yah, dia harus sedikit usaha ekstra karena di akhir pekan, tingkat kemalasan Malika akan bertambah duapuluh persen dari biasa.

Label: , , , , ,



Tentang Daniswara, hari ini, dan kemarin, dan yang akan datang.
Selasa, 12 Januari 2016 @1/12/2016 11:57:00 PM



Hari ini, aku akan bercerita tentang Daniswara.

Lucu juga, mengingat sudah nyaris bertahun-tahun, aku tidak menulis tentangnya. Padahal, untuk pertama kalinya dalam hidupku, J satu-satunya lelaki yang mampu mendampingiku di atas tiga tahun. Dia begitu spesial, sangat spesial. Saking spesialnya, dan saking berharganya, untuk kali pertama, aku ingin melakukan yang terbaik untuknya.

Ada banyak hal dan kejadian yang kami lewati. Dan kalian harus tahu, bahwa pria yang akan berkorban sepenuh hati kepada perempuan yang dicintainya, itu nyata. Bukan hanya di kisah-kisah novel atau cerita-cerita biasa. Atau bahkan imajinasi liar yang sering kali menghampiri benak setiap wanita.

Daniswara adalah buktinya.

Sewaktu di gramedia, aku berpisah dengan J di deretan komik karena dia tau, gramedia adalah tempatku menikmati waktu. Dia sering kali membiarkanku keliling sendiri, sampai pada akhirnya akulah yang akan kembali padanya, memeluknya, dan dia akan bertanya "sudah selesai? Sudah dapat yang kamu cari?" Dengan suara lembut dan penuh kasih. Namun suatu hari, aku mendapati kejadian yang membuatku terpana, dan bisa dibilang, aku kembali jatuh cinta padanya.

Saat itu, aku sedang melihat-lihat alat lukis. Di deretan paling atas, aku mengambil satu pak kuas untuk kulihat-lihat. Namun, saat ingin kukembalikan ke tempatnya, aku tidak tahu kalau ternyata rak berisi map-map plastik yang tepat di sampingnya sedang tidak tersusun dengan baik dan karena pergeseran beberapa barang, map-map itu pun roboh. Aku seketika berusaha menahan map-map itu, akan tetapi saking banyaknya, aku tidak sanggup. Hingga akhirnya, aku hanya bisa memejamkan mata dan yang terbesit di pikiranku adalah membiarkan map-map itu jatuh menimpa kepalaku.

Hebatnya, map-map itu tidak jatuh, tapi tertahan oleh tangan besar yang melindungi kepalaku, terulur dengan tegap, sedangkan tangan satunya lagi memegang kepalaku--melindungiku. Saat aku menoleh, kudapati J berdiri dengan sigap, membantu merapihkan map itu dalam diam.

Detak jantungku tak beraturan.

Kejadian yang baru saja aku alami, persis seperti komik-komik yang sering aku baca. Ku pikir, cerita itu mutlak berada di petak demi petak halaman komik. Mutlak milik imajinasi perempuan yang katanya tak bisa terwujud di dunia nyata. Namun ternyata, dugaanku salah. J mewujudkannya, dengan sikapnya yang gentleman dan sigap, dia melindungiku, mengangkat imajinasiku di dunia nyata.

Melindungiku.

Sungguh, aku mencintainya.

Lalu, hari ini, kondisi tubuhku sangat tidak bagus. Dan percayalah, bahwa laki-laki yang katanya cuek, yang katanya tidak bisa mengurus rumah tangga, yang katanya tidak bisa diandalkan, semua itu dipatahkan oleh J. Pemuda itu berhasil mematahkan argumen tentang pria. Dia merawatku, dia memasakkan makanan untukku, mengantarku ke dokter, memastikanku sembuh, memberiku perhatian yang tiada duanya.

Tuhan, terima kasih karena telah memberikan J untukku. Terima kasih karena kebaikannya yang selalu ada untukku. Semoga Engkau membalas segala kebaikannya, memberikannya yang terbaik, melancarkan segala urusannya, memudahkan cita-citanya, dan melindunginya selalu.

Selamat tanggal 12 di tahun yang baru.

Label: , , , , ,



Selasa, 24 Maret 2015 @3/24/2015 07:49:00 PM



Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika.

Jika dia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk..
Jika dia memang takdir bagi ku, pantaskanlah dia untuku dan pantaskanlah diriku untuknya..

Ya Rabb..
Aku memilihnya karena sebuah keyakinan
Dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya
Dengan seluruh luka dan bahagia yang menyertai hidupnya..
Aku selalu berdoa kepadamu untuk memintanya dengan seluruh apa yang telah Engkau berikan untuknya..

Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika.

Aku yakin bahwa tidak ada Ketetapan Mu yang salah.

Aamiin ya rabbal 'alamin..

Label: , , , , , ,



Different
Senin, 23 Maret 2015 @3/23/2015 03:48:00 PM



Kutatap deretan angka yang ada pada kalender di meja belajarku dengan tatapan kosong. Malah, mungkin dengan tatapan bego yang berada di perasaan antara percaya tak percaya. Berkali-kali kuperjapkan mataku, memastikan apa kah minus mataku bertambah, jadi aku bisa salah liat, atau bahkan sebenarnya, aku benar-benar memastikan bahwa apa yang aku lihat tidaklah salah.

Sudah tahun dua ribu lima belas. Artinya, meski belum bulan Agustus, sudah genap tiga tahun lamanya aku bersama dengan J, bersama dengan laki-laki bermata cokelat yang selalu berhasil membuatku tenang. Sungguh tidak bisa kupercaya, sebenernya. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama, tapi bukan berarti kenangan yang didapatkan hanya sedikit--malah, sangat banyak sampai-sampai aku harus mengorek-orek ingatanku tentang hari-hariku bersama J.

"Hei, kok bengong?" Suara J mengagetkanku, menarikku kembali dari awang-awang kenangan. "Dari tadi ngeliatin apa?" Tanyanya lagi.

"Ngeliatin kalender," jawabku pelan. J hanya tersenyum memaklumi. "Ga nyangka, sekarang udah tahun dua ribu lima belas," tambahku. "Menurut kamu, waktu terasa cepat, apa lama?"

"Kalau sama kamu, segalanya ga kerasa lama, bahkan waktu aja udah kayak lalat, terbang cepet banget, ga berasa," jawab J sambil tersenyum. Duh, ngegombal terus! Rasanya mau marah tapi senyumannya itu malah membuatku salah tingkah! "Tapi sekali pun buatku terasa seperti itu, tetap sangat berarti kok." Aku tidak menjawab apa-apa, hanya manyun. "Ga usah merah gitu dong, pipinya..." tambah J dengan tawa renyahnya. "Memang kenapa sama tahun ini?"

"Hmm... ga berasa ya, kalau kita udah mau tiga tahun? Aku kepikiran aja gitu, banyak yang berubah dari diriku sendiri," J menatapku lekat-lekat, memintaku untuk terus bercerita meski tidak berucap apa-apa. "Yah, kayak misalnya... dulu aku paling ga suka pegangan tangan karena risih, tapi sekarang kalau aku ga pegangan tangan sama kamu rasanya ada yang kurang... terus dulu aku suka sekali curhat lewat tulisan, entah lewat blog atau lewat buku diary, sekarang malah tiap kali aku curhat, pasti langsung aku utarakan, dan cuna ke kamu... dulu ingatanku parah banget, tapi sekarang aku masih bisa mengingat kejadian-kejadian yang kita alamin entah itu kejadian buruk atau kejadian yang baik."

Laki-laki bernama Daniswara itu tertawa pelan, bukan dengan nada mengejek, tapi seperti tertawa kemenangan, apa tertawa puas, aku tidak terlalu yakin. Tapi tawanya itu berhasil membuatku ikut tersenyum malu. "Kenapa ketawa? Aneh ya?" Tanyaku memastikan.

J menggeleng. "Kalau sekitar kamu, apa yang menurut kamu berubah?"

"Hmm, banyak. Teman-teman sekarang jadi pada jauh--bukan hubungannya tapi tempatnya, kayak Inggrid, Aina, Anggraeni, There, sekarang udah pada di Jakarta dan susah ketemu. Lalu Mira, Shafa, dan Bintang punya banyak kesibukan jadi susah sekali ketemu, Anna, Otriya, dan Vina juga..." kupangku daguku dengan telapak tangan kananku, sedangkan tangan kiriku sibuk memilin-milin ujung rambutku. "Terus, sekarang status kita udah jadi wanita-wanita kantoran, atau apalah, bukan lagi mahasiswa lagi. Yah, Mira dan Bintang masih sih, itu kan karena umur mereka jauh dibawah umurku," kuputar bola mataku, memandang ke segala arah, mencari-cari jawaban lain. "Lalu... yah, banyak hal. Seperti sekarang aja, ga nyangka kalau kita ngobrol harus lewat handphone, entah video call kayak gini, atau sekedar menelepon..."

J tersenyum, meski lewat layar handphone yang tidak terlalu besar, aku masih bisa melihat jelas kedua matanya yang sipit, tampak semakin sipit. Wajahnya tampak kucel, entah karena keringat atau karena debu. Mau tidak mau, aku pun ikut tersenyum,  "Bukankah seharusnya kamu bersyukur, kalau ternyata hubungan kita bisa lebih baik? Bahkan jauh lebih baik?" Tanya J pelan. "Dan menurutku sih, kamu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, lebih manis, lebih nyebelin, lebih pengertian, lebih dewasa, lebih manja..." pemuda itu tertawa saat kutunjukkan ekspresi kesal sewaktu dia bilang aku lebih menyebalkan. Huh. "Hubungan itu bisa dibilang berhasil, bukan dengan menunjukkan kecocokkan, persamaan, apalagi sekedar perasaan, tapi juga apa yang dihasilkan satu sama lain, bisa saling membawa hubungan positif? Saling mengingatkan? Saling melengkapi?"

Kali ini, aku tersenyum. Malu-malu.

"Dan menurutmu, apa kita begitu?"

J tertawa, kali ini dia benar-benar terlihat bahagia.

Label: , , , , , ,



My friendships is awesome.
Minggu, 22 Maret 2015 @3/22/2015 05:08:00 PM



Ada banyak hal yang terjadi, dan kesalahpahaman yang sempat hadir akhirnya berhasil diluruskan. Bahkan, beberapa hal tentang sesuatu yang tidak pernah kita tahu, bisa diutarakan tanpa beban. Kadang, kepercayaan sulit didapatkan, tapi tak banyak juga yang mudah diberikan. Namun, satu hal yang pasti, kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Terima kasih unuk pengalaman hari ini.

Label: , , ,



I want to stay close to you, no matter what, because I love you
Rabu, 18 Maret 2015 @3/18/2015 05:16:00 PM



Sushi Tengoku!!

Kalau ngeliat post tentang hari ulang tahun gue beberapa waktu lalu, sedih juga, ya? Hahaha tapi sebenernya, emang begitu. Sedih banget rasanya harus ngerayain hari ulang tahun di santo yusuf, waktu itu. Tapi sedihnya ga lama-lama juga, alhamdulillah, pacar saya ternyata enggak harus di rawat inap apalagi tindakan super lainnya.

Kalau ditanya kecewa ga, ngerayain ulang tahun dengan keadaan seperti itu, jujur aja sebenernya saat itu saya sama sekali enggak mikirin hari lahir, usia, apalagi perayaan. Waktu itu, yang saya pikirin, selain kasur (yes karena kurang tidur hehe), tentu keadaan Dije. Kenapa, kok bisa, karena apa, dan sebagainya. Dan biaya, pastinya, apakah mahal? Berapa? Yah, meski bukan saya yang bayar, tapi tetep aja ada kepikiran buat bantu bayar papanya :(


Yang harus saya syukuri selain kesembuhan Dije (yang alhamdulillah bisa pulang dan baik-baik aja), ternyata kesabaran, keikhlasan, dan doa saya berbalas dengan kebahagiaan sederhana, yang juga sebenarnya sudah lama saya panjatkan. Meski ada perasaan sedih bercampur takut dan.... ga ingin... alhamdulillah Dije dapat kerja! Lalu, tepat dua hari (eh?) Setelah Dije konfirm kerjaan itu, kita ngerayain ulang tahun saya di Tengoku :) alhamdulillah, meski saat itu perasaan saya campur aduk, tapi seneng :)

Sukses di sana ya, Daniswara. Semoga Allah memudahkan segala urusan kamu dan melimpahkan banyak rizki, kesehatan, dan berkah selama kamu mencari rezeki disana :)

Amiiin.


I'm gonna miss you. my Bear <3 td="">


Label: , , , , ,



Happy Birthday
Jumat, 06 Maret 2015 @3/06/2015 10:54:00 PM



Curhatan 6 Maret 2015.

Saya selalu punya kejadian menarik di setiap hari ulang tahun. Misalnya, pada usia 21, untuk pertama kalinya saya dapat surprise dari sahabat-sahabat saya yang datang ke rumah malam-malam buat ngasih rainbowcake segede ember kecil. Lalu pada usia 22 tahun, lucunya saat itu saya sakit jadi saat mendaftar klinik, dokter bertanya "tanggal lahir?" Dan dengan lesu saya menjawab "hari ini, dok". Ingat sekali, dokternya langsung menunjukkan wajah kasihan campur prihatin, disitu kadang saya merasa sedih. Dan pada usia 23 tahun, saya berkesempatan mengunjungi Java Jazz (yang sering kali pas di tanggal 678 atau 567), menonton Earth Wind and Fire, Dave Koz, dan krakatau!

Tahun ini?

Tepat diusia 24 tahun, pacar saya masuk ugd, nyaris seharian panik dan ga tenang, apalagi ternyata yang diderita bukan penyakit biasa. Untungnya, masih bisa diobati dan kemungkinan sembuhnya besar :)

Terima kasih untuk semua doa dari kalian teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang berharga buat saya selama bertahun-tahun ini, semoga apa yang kalian doakan pada saya juga dikabulkan untuk kalian semua. thank you and God bless you! :)

Label: , , , , , , ,



Tahun baru, resolusi baru?
Rabu, 25 Februari 2015 @2/25/2015 10:39:00 PM



Halo selamat malam! Selamat tahun baru yang sudah berlalu dua bulan! Banyak hal yang terjadi disepanjang tahun 2014 kemarin, bahkan di penghujung tahun, buat saya rasanya seperti sedang berada di ujung tombak karena saat itu saya lagi puncak-puncaknya depresi, yang mau enggak mau, ternyata harus kebawa sampai awal tahun. Tapi, saya tetap merasa sangat bersyukur ternyata saya masih bisa melalui semua itu. Apalagi kalau bukan karena dukungan dari teman, keluarga, sahabat, dan juga--ehm, pacar.

Hal yang membuat saya depresi? Sebenarnya hal yang sangat lumrah; soal hubungan asmara, hubungan keluarga, konflik pertemanan, tempat tinggal, pekerjaan, misscommunication, pemikiran-pemikiran negatif, dan sebagainya yang sebenarnya sudah menumpuk dari lama, kemudian tahu-tahu sudah menyentuh limit sampai akhirnya yaaa emosi saya jadi nggak stabil (yang bisa saya katakan, down banget). Apalagi, saat itu saya tidak punya hasrat ingin melakukan sesuatu seperti hobby atau sekedar menulis blog begini (pfft). Meski ya, saya sempat jalan-jalan juga ke pulau tidung dan naik kuda untuk pertama kalinya, hehehe. Nanti kalau saya pegang leptop, saya ceritakan pengalaman jalan jalan ke pulau tidung!

Hmmm resolusi baru? Kayaknya sih nggak ada, dan ga mau ada. Maksud saya, bukannya saya nggak mau berkembang lebih baik atau berharap yang aneh-aneh atau apalah, tapi sebenarnya sih memang karena resolusi tahun ini sama-sama saja seperti resolusi tahun-tahun sebelumnya. Bisa lebih baik lagi, bisa lebih sukses, banyak rejeki, semakin dekat iman kepada Allah, berbakti pada orang tua, bisa lebih tepat waktu alias on time, daaaaan sebagainya.

Amiiiiiinn..

Apa lagi ya? Kayaknya setor post tahun barunya itu dulu aja deh, hehehe. Nanti insya Allah saya tulis perjalanan saya pas ke pulau tidung, mulai dari Bandung sampaaaai ke Bandung lagi. Nah, ini saya post dulu saja foto saya pertama kali naik kuda! Hehehehehe.


Label: , , , , ,



Homesick home.
Rabu, 05 November 2014 @11/05/2014 08:11:00 PM



Gue kangen rumah. Kangen masakan mama. Kangen sukaluyu. Kangen ngobrol ama mama ayah. Kangen kangen kangen. Uhuhuhu

Label: , , , , , , ,



"Apa yang terjadi, maka terjadilah."
Minggu, 10 Agustus 2014 @8/10/2014 02:20:00 AM



Selamat dini hari.

Akibat tidur siang yang kelamaan tadi, pada akhirnya jam segini gue sukses masih melek dan bahkan enggak bisa tidur karena dengan gobloknya gue barusan minum kopi. Yaaa... Sebenarnya sih ga ngaruh kalau kopi, secara ga langsung gue udah mulai kebal dengan kaffein karena nyaris setiap hari mengkonsumsi kaffein membuat gue jadi terbiasa. Tapi kalau karena tidur siang bikin gue melek, itu beneran kok.

Hai apa kabar? Sudah sangat super lama pula gue ga pernah nulis blog ya? Realworld? Hmm lupa sih terakhir nulis tentang apa, dan padahal Shena ada vitur blogger for android kenapa juga gue masih malas nge-blog? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang sajalah.

Anw. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya semua. Gue sering kali nge-rant dan nyampah curcolan ga jelas ke kalian semua (terutama group support admin semi gossip di sana. *kiss*) dan juga sering kali membuat kalian susah. Tapi tenang, gue juga berterima kasih pada kalian karena masih mau mendengarkan gue. Thanks loh guys, tanpa kalian mungkin otak gue udah mau gila karena semua yang terjadi belakangan ini.

Ah. Omong-omong, belakangan ini banyak sekali orang-orang yang bertanya kenapa deactive account facebook dan twitter. Terima kasih kepada kalian yang sudah perhatian dan mau bertanya secara langsung mau pun diam-diam perihal akun sosial gue. Mari, gue jelaskan secara umum tentang maksud gue itu.

Beberapa bulan belakangan ini gue sukses mengalami hal paling berat dalam hidup gue (belum paling sih) dan melontarkan sesuatu yang negatif adalah perbuatan yang sangat mengganggu kebanyakan orang. Gue bisa berkata begini karena memang gue sering kali merasa terganggu pada orang-orang yang melakukan hal itu, dan karena gue ga suka, maka sebaiknya gue tidak melakukannya. Akan tetapi, godaan membuat status prihatin bukanlah hal yang sangat mudah untuk di tolak. Perhatian serta ucapan semangat dari berbagai pihak membuat gue menjadi haus akan perhatian dan pastilah lambat laun membuat gue menjadi orang yang terus mencari-cari perhatian. Gue ga mau dan demi mencegah hal itu, gue mematikan semua akun sosmed gue agar gue bisa tahan diri, dan untungnya berhasil. Meski dampaknya gue jadi sama sekali ga tau apa yang terjadi di luar sana, tentang berita dan tentang dunia.

Tapi setidaknya, gue mendapatkan sekumpulan orang-orang baik tapi bego di LINE yang bisa menerima sampahan gue dan mau menjadikan gue tempat sampah juga bahkan bisa membuat gue lupa akan sampah itu untuk beberapa saat. Well. Banyak temen gue yang seperti ini juga kok, tapi tidak banyak teman gue yang tau diri untuk memposisikan sesuatu hal dengan baik dan benar.

Akan tetapi, sekali pun beberapa kali gue mampu cerita ini-itu ke teman-teman, pada kenyataannya gue tetap berada dalam keadaan yang sangat stress berat. Dalam keadaan yang menutup diri. Dalam keadaan yang ingin lari. Gue sendiri ga tau kenapa. Rasanya cuma ingin senang-senang, ngumpul bareng, main sama J, jalan-jalan, dan sebagainya. Dan bahkan semakin work a holiv sampe kayak orang bego.

Huft. Gue ga jelas ngomong apa nih. Haha.

Semoga Tuhan membukakan jalan yang terbaik buat gue. Amin amin.

Label: , , ,



Katanya, hidup di bawa enjoy aja.
Minggu, 03 Agustus 2014 @8/03/2014 03:41:00 AM



Gue punya kebiasaan jelek yang entah dari kapan dan kenapa bisa begini, gue juga ga tau. Bisa di bilang, anggaplah dari kecil kalau gue sedang stress berat, atau ketakutan, atau dalam kondisi drop, gue suka sekali ngopekin luka. Ngopekin tuh apa? Itu loh kalau kamu luka dan si luka itu belum benar-benar mengering, terus sama kamu di kutik-kutik ampe akhirnya kebuka lagi lukanya dan berdarah dan begitu seterusnya sampe lukamu membesar dan baru bisa berhenti kalau darah udah enggak lagi ngucur dari lukamu itu, dan kalau lukanya udah benar-benar rapet untuk bisa di kopekin lagi.

Dan parahnya. Gue kalau lagi kondisi drop begini jerawat suka muncul di muka gue dan tangan gue yang gatel ini hobi banget mecahin jerawat sampe berujung di kopekin dan akhirnya menjadi luka. Sensasi rasa sakit dari yang gue dapetin pas ngopekin luka, buat gue itu nagih banget. Artinya kalau lu melihat muka gue sekarang ya mungkin lo bisa mengartikan betapa stressnya gue sekarang.

Ada banyak hal yang mengganggu pikiran gue. Dan menjadi orang yang sulit berbicara,  enggak mudah buat mencari mood yang tepat kapan gue bisa bercuap-cuap kapan gue lagi ga kepengen mencerocos. Sebenarnya gue lagi ga bisa berbicara apa-apa karena gue lebih memilih buat ignore dari semua yang terjadi di sekeliling gue. Tapi se-cuek-cueknya gue, tetep aja telinga sama mata aktif ngerekap semuanya. Dan gue stress. Dan akhirnya kebiasaan gue muncul. Berujung dengan luka yang gue kopekin.

Gue benci orang yang dengan mudahnya bilang "hidup di bawa enjoy aja" dengan apapun hal yang terjadi. Benci banget. Mungkin mereka pernah mengalami hal yang gue alami. Mungkin juga engga. Mungkin sering mendengarkan dan tahu banyak. Mungkin juga cuma simpati. Tapi kata-kata itu menurut gue mau gimana pun orang bilang, mereka ga tau apa yang gue alamin. Gimana gue mau enjoy kalau untuk hal-hal tertentu masih abuabu dan ga jelas ujungnya. Dan ga tau asal muasalnya. Dan sebagainya.

Kalau lagi kondisi seperti ini, gue jadi kangen Dhika. Kangen banget. Yang bisa gue sampahin apa aja yang ada di benak gue. Mau itu soal yang penting mau itu soal yang ga penting. Dhika bakal bereaksi apa ya kalau gue sekarang kena kolestrol tinggi? Bakal bereaksi seperti apa ya dengan kehidupan gue sekarang. Bakal berpendapat apa ya tentang ke-masokis-an gue yang udah ga bisa di bilang masokis lagi? Udah pasrah udah pusing tapi masih di pikirin padahal mau nya cuek.

Well.

Post gue ga ada yang berbobot. Maaf ya.

Label: , ,



17 Mei 2014, Kawah Putih
Rabu, 28 Mei 2014 @5/28/2014 10:47:00 PM



Halo! Sebenernya ini kejadian yang udah berselang dua minggu yang lalu, liburan kecil-kecilan sama pacar ke kawah putih pas libur waisak. Karena suntuk sama pekerjaan, dan juga selama kerja belum pernah jalan-jalan keluar kota buat bikin otak fresh, akhirnya setelah berunding panjang mau kemana dan lain halnya, kami memutuskan untuk pergi ke kawah putih ! Awalnya sih, kita mau ke pantai, mau liburan gitu, tapi karena ga cukup sehari dan biaya pengeluaran yang gede, ga jadi deh pergi ke pantai. Tapi piknik kecil-kecilan ke kawah putih juga menyenangkan, loh.

Perjalanan di mulai dari jam 10 pagi di kosan J. Karena ingin hemat dan mengulang piknik seru dengan sepedah keliling taman bandung beberapa waktu yang lalu, kita berdua ketagihan tuh buat bikin acara piknik-piknik unyu. Bikin onigiri atau bekel dengan harga yang super hemat, bawa minum sendiri, dan cemilan sendiri pula. Sebenernya sih, kita berencana pergi piknik itu dari pagi, tapi karena aku ini kebluk, tukang molor, jadi bablas deh. Dan setelah bikin bekel serta segala macamnya, kita berangkat ke kawah putih jam dua belasan. Terhitung lama masaknya, ya? Wajar, tadinya kita mau bawa bekel yang banyak, tapiiiiii pada akhirnya berujung di cemil-cemil ampe ludes juga sebelum di bawa. Huh. Tapi its okay, bekel utamanya tetep mantap.

Perjalanan berangkat ke kawah putih pake motor, sangaaaaaaaaaaaat panjang, lama, dan bikin pantat pegel. Begonya lagi, kita lupa isi bensin! Dan pas di daerah leuwi panjang, kita kalang kabut karena enggak nemu pom bensin satu pun! Bahkan, yang jual eceran juga ga ada. Tapi untung motornya J, Yello, adalah motor yang kuat. Kita kehabisan bensin dari rumah dan baru isi bensin di kopo dan yello bisa bertahan. Yello luar biasa, ya? *pukpuk yello* abis itu kita lanjutin perjalanan yang super panjang itu dengan keluhan enggak ada indomaret atau alfamart lah, pantat tepos, lah, ngantuk, jauh, dan sebagainya. Tapi jujur aja, perjalanan yang penuh keluhan barusan itu sangat menyenangkan. Apalagi, kita sempet-sempetnya ngeliat spongebob terbang! Hahahaha. Balon, maksudku. Sayangnya, kalau aku masih pake Javier, spongebob terbang itu bisa langsung aku foto, tapi karena Shena besar dan lumayan ribet, jadi ga sempet aku foto. Maaf ya. Tapi pengalaman lihat spongebob itu memang paling juara.

Then. Sepanjang jalan kita balapan sama mendung. Was-was antara apakah ini bakal hujan atau enggak. Belum lagi nanti di sana ada kabut atau enggak. Dan benar saja, begitu udah lumayan deket, ujan gede turun tiba-tiba dan seketika kami beku di jalan. Dingin, hujan, kaku, dan nembus badai. It was like.... asdfgjjklmn. Entahlah, dipikir-pikir sekarang, saat itu berkesan banget, tapi pas aslinya kita beku di jalan itu enggak banget. Hahaha. Dan benar, pas sampai di kawah putih, masih hujan meski cuma gerimis. Tapi jangan tanya dinginnya kayak apa. Tanganku aja ampe merah kayak kena alergi dingin, loh. Meski begitu, kita sangat menikmati piknik di kawah putih. Bekal buatan J sangat enak dan hebatnya sepanjang perjalanan (3 jam kurang lebih. Kita berangkat jam 12 nyampe jam 3 apa set4 gitu) bekal itu masih hangat! Enak! Habis makan, kita jalan-jalan ngelilingin kawah putih. Tapi sayangnya ga semua bisa kita jelajahin karena pas ke daerah atas alias kawahnya, kita naik kendaraan umum, motor ga boleh masuk dan kendaraan umum itu turun pas jam 5 sore jadi ya ga bisa ngejelajahin semuanya, deh.

Dan perjalanan pulang dari kawah putih ke rumah jauh lebih cepat dibanding berangkatnya loh. Dan omon-omong, baik perjalanan pergi maupun pulang, sepanjang jalan kita di hantui (?) Bau terasi, loh! Epik, ya? It was fun with you, J. Thanks for this moment XD.

Label: , , ,



Every where, every time, every moment.
@5/28/2014 01:51:00 AM



Say hello to Shena!

Yep. Finally, hape samsung gue ini punya nama--Bratashena atau singkatnya adalah Shena. Nama favorite gue seumur hidup akhirnya gue persembahkan (juga) kepada hape ini. Kenapa nama Shena gue namain ke hape samsung ini? Karena hape ini benar-benar membuat gue takjub, smartphone (literally), dan mudah. Mungkin Ervanthe--iphone milik J--masih lebih pintar dibanding Shena. Tapi setidaknya, Shena milik gue pribadi. Gue mungkin termasuk tipe orang yang pegang hape canggih cuma buat main game. Sesungguhnya itulah yang terjadi ketika Ervanthe gue pegang. Kerjaannya maen mulu. Ya pokopang, candy crush, line pop, minion rush, dan segenap permainan yang ada di hape itu. Narsis dikit lah sesekali karena kamera canggih dan ada kamera depan-belakang juga. Sampe J pernah kesel ke gue karena gue jadi autis maen game dulu dan dia jadi mikir, kalau gue pegang smartphone, apa yang terjadi? Makin autis?

Jawabannya adalah No!

Haahaha enggak juga sih. Dibilang fokus sama hape, masih bisa, karena gue ga bisa lepas dari bacaan di twitter, entah itu berita atau randoman orang-orang di timeline. Kadang ngobrol di Line ampe lupa waktu, juga iya. Bbm ? Udah jarang. Tapi anehnya, begitu pegang Shena, gue jadi super jarang main game. Iya sih gue main cookie run ampe nyepam line orang, tapi literally gue ga sefanatik waktu main pokopang atau line pop atau minion rush di Ervanthe, loh. Malah ketika gue pegang permainan itu di hape gue sendiri, gue jadi cepet bosen. Banyak game gue instal tapi juga bikin cepet bosen. Yang ada malah bikin memori penuh. Lalu? Apa yang gue lakukan? Shena adalah hape yang pintar. Smarphone. Dan gue memanfaatkan kepintarannya itu.

Kalian tahu? Gue jadi bisa bikin blog di hape kapan pun gue mau, dimana pun, kejadian apa pun, gue bisa langsung buka aplikasi bloggernya dan ngetik kayak orang alay karena typo is everywhere. Serius. Kalau dulu, gue mau nulis blog nunggu laptop dulu atau amit-amit ya nunggu ada koneksi dulu. Masih mending kalau gue bisa inget apa yang mau gue tulis. Kadang-kadang, malah tak jarang, tiap kali buka blogger, gue malah ngeblank. Kalau sekarang? Lancar-lancar aja mas bro! Meski yaaaa ngetiknya kapan, di publishnya kapan. Hehhehe. Selain itu, Shena juga gue instal office mobile, sehingga gue bisa mudah buka ms.word atau exel atau bahkan power point di sini. Mau bikin laporan kilat? Ay ay, capt. Mau bikin draft cerita/cerpen/fanfic ? Here you go. Meski mungkin harus gue akui, gue masih belum terbiasa dan lagi urusan feel menulis di laptop jauh lebih kuat di banding di Shena, sehingga masih jadi perdebatan hebat buat diri gue sendiri. Dab lagi post blog atau word selalu berujung berantakan karena gue ga bisa mengedit menjadi justify style. But overall, Shena's smart!

Shena memang pengganti Javier yang paling cocok buat gue---Ah, gue ketahuan nge-blog di kantor! Bukannya kerja! :p

See you!

Label: ,



All I want to say today is, Thank you.
Selasa, 14 Januari 2014 @1/14/2014 02:55:00 PM



Halo, apa kabar?

Wah, berapa lama gue ngacangin blog ini ya? Dengan segala macam cerita yang nunggak bahkan udah lupa juga, dengan segala macam kesibukan dan tetek-bengek lainnya, dengan segala macam keluh-kesah, emosi, air mata, dan lain halnya? Wah, kalau ngeliat dari lamanya hiatus dari blog, pasti banyak cerita yang seharusnya bisa gue tuang ya di sini? Tapi masalahnya otak gue kan rada-rada pikun juga hahaha jadi ya gue malem ini cuma mau menulis perihal nazar gue ya.

Ya. Perihal nazar yang gue ucapin adalah "kalau gue lulus nanti, gue harus nulis di blog ucapan terima kasih yang sepanjang-panjangnya, untuk semua orang yang memang turut-serta bantu Tugas Akhir gue" dan baru hari ini gue punya kesempatan buat ngebuka lagi blogger gue. Bukannya sok sibuk (meski memang gue sibuk sama urusan kayak kemaren persyaratan wisuda yang apaan, ngedadak bener, plus sekarang kerjaan kantor. Iya, gue udah kerja loh, hahahah), tapi emang kebetulan di rumah gue ga ada internet, dan untuk perihal internetan, gue diharuskan menclok sana, menclok sini. Dan sekarang ini, gue lagi menclok di kosan Dije, hehehe.

Bismillahirahmanirahim.

Tanggal 12 Juni 2013 lalu, gue dan temen-temen gue dinyatakan lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Jurusan Kriya Tekstil. Gue dinyatakan lulus dengan nilai yang bagus, alhamdulillah. Ketika gue ngedenger gue lulus dengan nilai yang bagus itu, gue langsung lemes di tempat dan nangis banjir. Allah ngejawab doa gue, dan Allah ga pernah luput ngeliat jerih payah gue. Alhamdulillah, gue ga bisa berenti sujud syukur kalau inget hal ini. Keputusan gue untuk ganti judul dan ngulang tugas akhir lagi dari awal adalah keputusan yang tepat dan di ridhai Allah, dan gue yakin, ini akan baik untuk kedepannya apa pun yang terjadi.

Pertama-tama, gue mau ngucapin terima kasih untuk Bu Fifi, selaku dosen pembimbing gue yang banyak ngebantu gue dari pertama kali gue masuk kuliah sampai akhirnya gue jadi anak bimbingan beliau. Beliau banyak ngasih gue arahan selama gue TA, yang sering ngegalakin gue (heheh) kalau gue males, dan banyak hal lainnya. Alhamdulillah, berkat beliau gue bisa ikut JFFF, bisa lulus dengan nilai yang baik, dan bisa mengenal teknik marbling dengan baik.

Pak Yanyan, selaku dosen pembimbing gue di TA sebelumnya, selain kata terima kasih, gue juga harus ngucapin maaf karena TA gue kemarin sama sekali tidak memuaskan dan pastinya membuat beliau kecewa. Padahal di bimbing oleh pak Yanyan itu sangatlah menyenangkan. Gue bisa perang emot sama beliau, bbm-an super woles aja bray, email-emailan juga oke, go green alias ga perlu ngeluarin banyak dana untuk ngeprint dan lain halnya. TA semester ini juga gue di bantu lagi sama beliau, soal penulisan laporan yang rese itu, beliau bantu, hehehe. Alhamdulillah, terima kasih banyak bapak!

Dear my best friend, Fitrani Puspitasari and Anggita Prasanti. Gue pertama-tama mau ngucapin maaf sebesar-besarnya perihal di lembang beberapa waktu silam. Gue masih ngerasa ga enak, masih suka sedih sendiri kalau keingetan hal itu, gue minta maaf sebesar-besarnya ya kawan-kawan. Tapi selain itu, gue juga mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat bantuan-bantuan kalian ke gue baik secara langsung mau pun enggak, buat doa-doa, dukungan, dan jerih payah kalian ke gue baik dalam hal TA, main-main, debat (?), makalah, atau hal-hal positif lainnya. Sari makasih udah banyak bantu gue, ngebolehin gue nginep meski cuma buat internetan di kosan lo (dan onye), hahahaha dan maaf ya gue sering banget ngerepotin lo dari kita kenal di TPB sampai sekarang kita mau lulus bareng-bareng, Onye juga, makasih banget udah banyak bantu gue, ngelawak-lawaknya, curhat malem-malemnya di kamar sari (dan sari semoga tidurnya ga ke ganggu hahaha), dan bantuan-bantuan kalian yang gue ga bisa jabarin satu-satu saking banyaknya (dan saking gue lupanya)(peace), semoga Allah membalas kebaikan kalian berlipat ganda dari apa yang kalian kasih ke gue. Doa gue selalu menyertai kalian, semoga sukses terus kedepannya. Amin. Gue ga tau mau nulis apa lagi, pokoknya terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih! Ayo kita pake toga bareng-bareng! Anw. Inget-inget gue ya yang masih ada di Bandung ini kalau kalian pulang ke Jakarta, jangan cuma mampir ke Bandung tapi gue di anggep ga ada. #plak

Mirna Livianisa, Otriya Kusuma, Anna Fuji, Tsu, dan Manda. Cewek-cewek berisik-tukang-gosip-tukang-buli-dan-di-buli yang sering nyamperin gue ke Bandung cuma buat gossip, hahahaha terima kasih waktu luang kalian buat gue ya, makasih udah ngajak gue melupakan TA ini, dan lawakan-lawakan serta asupan-asupan gossip yang enggak ada duanya! Gue bakal kangen kalian kalau kalian udah ga di bandung—atau bahkan kalau kita udah mencar-mencar. Ga ada lagi deh asupan gossip buat gue hahahaha. 

Mbak Maya Aprillianty dan segenap karyawan HR photo yang udah jadi temen buat gue dan selalu nyapa gue kalau gue dateng ke HR (literally loh). Hasil foto-foto yang sangat memuaskan yang tanpa jasa mereka, terutama mbak Maya, hasil karya Tugas Akhir gue gak ada apa-apanya. Omong-omong soal kalimat "selalu nyapa gue kalau gue dateng ke HR" itu beneran loh, terutama mbak Maya. Jadi ceritanya waktu itu, pertama, gue mau cetak foto buat display TA dan tau-tau mbak Maya turun dari lantai 2 cuma buat nyapa gue. Terus pas gue mau pasfoto, mbak Maya juga lagi-lagi turun dari lantai dua buat nyapa gue "mbak dilaaaa apa kabar?" Dan ketiga pas gue sama J mau foto pakai toga, lagi-lagi mbak Maya juga turun dri lantai 2 padahal ya dipikir-pikir gue sama sekali enggak berisik dan di lantai satu ga ada mbak Maya hahahaha! Tapi sumpah loh, HR photo karyawannya rame banget dan menyenangkan! Hasil fotonya juga bagus! Terima kasih banyak ya :D

Silviana alias cipi yang udah jadi semi asdos buat gue, ampe nyuruh-nyuruh gue dateng ke rumahnya secara rutin buat asistensi TA gue (dan nyulik bahan-bahan pewarna hahahaha), yang udah bela-belain begadang bantuin gue buat ngedit foto buat display TA gue, yang udah marahin gue kalau gue males, yang jadi tokoh pendukung lawakan-lawakan di komik jurnal kampus gue (dan ga pernah marah sekalipun mungkin doi kesel sama gue, hahaha) dan banyaaaaak hal lainnya yang udah sering dia lakukan buat ngebantuin gue. Makasih cipi, lo bener-bener temen yang baik, sahabat yang pengertian, dan asdos yang galak! Hahaha!

Pak Udin ! Waw terima kasih banyak bapak atas jasa bapak buat ngejahit tas karya tugas akhir gue yang begitu memuaskan! Pak udin rela begadang demi ngerjain tugas-tugas akhir mahasiswa kriya yang kepepet, model  aneh-aneh, dan material aneh-aneh pula termasuk gue! Hahaha! Gue enggak ngasih bahan kepepet sih, tapi sumpah deh kalau udah ngasih bahan, ga buang-buang waktu bisa-bisa besok atau lusanya, tas gue udah jadi! Ya ampun bapaaak, jerih payah bapak luar biasa banget, gak tau lagi gue harus ngebales jasa pak Udin dan keluarga kayak gimana lagi. Gue bener-bener berterima kasih sama bapak :D Terus Pak Nendi juga, yang sama-sama ngejahit tas karya tugas akhir gue. Hasil yang sama-sama memuaskan seperti hasil jahit Pak Udin! Hatur nuhun pisan bapak, semoga ga bosen sama saya yang mungkin bakal sering bulak-balik lagi ke tempat bapak buat bikin tas :p

Bapak-bapak penjahit baju sekalian, Pak Gandy dan Pak Wahyu yang rela saya kejer-kejer hampir tiap hari buat ngecek baju, yang ngeluarin saya dari lubang nista plus janji-janji tukang jahit lainnya, yang bener-bener rela banget ngeladenin saya yang banyak mau, terima kasih sebesar-besarnya! Bayangin aja, sehari jahit selesai! Kurang hebat apa lagi? Dan hasilnya juga benar-benar memuaskan! Oh, para penjahit di The Janggo (bener ga ya nulisnya?) yang di muararajeun (ini juga bener ga ya nulisnya?) terima kasih untuk baju-bajunya, hasilnya memuaskan juga! Alhamdulillah, berkat kalian semua, karya TA saya sangat memuaskan :D

Lanjut ke rekan-rekan mahasiswi ITB yang ikut show Jakarta Fashion and Food Festival, 2013, terima kasih sebesar-besarnya buat kerja sama dan kesan-kesannya selama show (dan sebelum show, tentu). Show pertama saya yang begitu memuaskan, yang begitu mendebarkan pula! Keren! Keren! Sukses buat kita semua, semoga kalian yang sekarang lagi dikejer-kejer tugas akhir (hihihihi) semoga lulus dengan hasil yang memuaskan, ya! Then, buat para model yang rela saya kejer-kejer buat fitting di luar jadwal seharusnya, Mutya dan Rahma, hatur nuhun pisan ya geulis! Sukses buat kalian :D

Buat para tukang parkir, tukang foto kopi, tukang jajanan, tukang pulsa, tukang warnet, tukang ngeprint, tukang jilid, dan semua tukang jasa-jasa lainnya, terima kasih banget yaaa, buat tukang print Jaya Abadi, makasih udah ngejagain notes cokelat TA gue yang berharga, yang penuh dengan isi data-data TA yang waktu itu sempet ketinggalan, huhuhu.

Buat keluarga besar, Mamah, Ayah, kakak-kakak sekalian, keluarga besar juga, terima kasih buat semua doa yang terus ngalir buat saya, yang enggak pernah putus, yang selalu nyemangatin saya, yang diem-diem ikut enggak tidur buat nemenin saya begadang, yang diem-diem ngecekin satu-satu karya saya barang kali ada yang kelewat, yang... saya enggak bisa nyebutin satu-satu, beribu terima kasih buat semua, terutama mama sama ayah, jasa orang tua emang ga ada abisnya, dan mungkin ga bisa saya balas, tapi Insya Allah, pelan-pelan saya pasti bisa membalas setidaknya sedikit dari jasa kalian. Maaf kalau saya sering banyak bikin marah, bikin kecewa, bikin nangis, dan lain halnya. Alhamdulillah, ijazah saya ini, saya persembahkan untuk kalian, terima kasih sebesar-besarnya, semoga ini membuka gerbang kesuksesan untuk kita semua, amin.

Terakhir, buat yang paling berarti, paling berjasa, paling bijaksana, paling pengertian, paling saya sayang, Harswanda Putra Sungadi, yang selama enam bulan full membantu saya mengerjakan tugas akhir, mengantar saya kesana-kemari, memberi saya semangat, membantu saya sampai rela menginap beberapa hari di rumah, ikut malem-malem ngedisplay karya di ruang sidang, malem-malem nganterin saya ngeprint juga di jaya abadi, bantu saya ngemarbling, dan banyak lagi bantuan-bantuan lainnya yang enggak bisa di sebutin satu-satu lantaran emang banyak dan *uhuk* lupa. Tapi saya benar-benar mengucapkan banyaaaaaak terima kasih, semoga kamu mendapatkan balasan kebaikan yang setimpal, bahkan kalau bisa lebih banyak lagi, lebih sukses lagi, lebih banyak rejeki, dan lebih banyak kemudahan dalam hal lainnya. Amin amin amin. I love you so much! Hahahahha

aduh malu gue nulis begitu di blog, tapi ga apalah, spesial, hehehe.

Ya ampun, tulisannya mulai dari gue-elo sampai berubah jadi baku, apa-apaan ya? Hahahah. Sebenernya sih masih banyak lagi orang-orang yang berjasa besar dalam pembuatan Tugas Akhir ini, tapi gue udah mulai lupa-lupa inget. Hehehe. Pokoknya, buat semuanya, terima kasih banget atas bantuannya, siapa pun kamu, baik yang ditulis di sini maupun engga, maupun yang membantu secara terang-terangan maupun doa, alhamdulillah, terima kasih banyak, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua, semoga Allah memberi kalian kesuksesan yang melimpah ruah, mendapatkan rejeki yang mengalir sederas-derasnya, serta rahmat dari-Nya pula. Amin, amin. Maaf kalau enggak gue tulis di sini semuanya, maklum, mulai lupa #plak.

Anw, gue udah diterima kerja loh! Alhamdulillah ! :D

Label: , , , , ,



Yudistira
Rabu, 21 Agustus 2013 @8/21/2013 10:30:00 AM




“Bayangan saya berlari, mencoba mengejar sesosok bayangan lain yang tak pasti. Sosok bayangan itu sama sekali tidak saya kenal, dia melayang dan terlalu cepat untuk saya kejar. Kaki saya pegal, tapi entah kenapa saya tidak bisa menghentikan langkah saya untuk terus berlari mengejarnya.”

(Ruang Temu; Antara Denting dan Rahasia — Maradilla Syachridar)  


— ♪ —  



Kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda. Katanya. 

Saya yakin, sepertinya semua orang sudah tahu pasti kalau itu alasan klise—dan parahnya, belakangan ini saya ingin sekali merutuki orang yang mencetuskan pendapat itu. Maksud saya, bicara memang gampang, tapi menjalaninya itulah yang menjadi tantangan. Saya suka tantangan, tapi bukan berarti setiap kali menerima tantangan saya sudah menyiapkan diri untuk hasil yang nanti saya dapatkan.

Mari kesampingan tentang kisah Malika. Nama saya Yudhistira dan kalau kamu tanya siapa saya dan ada hubungan apa dengan Malika—kami teman satu SMA; lebih tepatnya Malika adalah adik kelas saya. Malika pernah berkata, baik dia maupun teman-teman lainnya menjadikan saya panutan untuk masa depan mereka. Kakak kelas yang pintar. Yang bisa semua pelajaran bahkan fisika-kimia-matematika yang mereka anggap susah setengah mati. Yang sering kali menjadi nomor satu di deretan nilai-nilai tes-tes dari tempat bimbingan belajar; tidak hanya di Bandung, katanya. Dan hal lain-lainnya. Tidak tahulah, saya sih hanya menganggapnya angin lalu saja. Tetapi Malika juga pernah bercerita, bahwa dia bilang pada dirinya sendiri “aku harus jadi seperti kak Yudhistira!” dan saya hanya melengos mendengarnya. Tapi sayangnya itu dulu, karena begitu dia masuk kuliah, dengan seenak jidat Malika memanggil saya dengan nama Yudhistira tanpa embel-embel kakak atau senpai seperti dulu. Kurang ajar memang, tapi entah kenapa, bagi saya itu hal yang bagus. 

Selama kurang lebih lima tahun belakangan ini, saya tinggal di negeri sakura—negara Jepang yang untuk kebanyakan orang sangat mengagumkan. Saya menerima beasiswa perguruan tinggi di sini dan tanpa bermaksud apa-apa, saya merasa bangga. Apalagi universitas yang saya dapatkan adalah universitas Todai. April lalu, saya menyandang gelar sarjana pada akhirnya. Tentu, gelar ini saya persembahkan untuk Ayah dan Ibu di tanah air tercinta karena kalau bukan doa mereka, tidak mungkin saya seperti ini. Tapi setelah lulus pun, saya mendapati keluh kesah di sini. Selama saya kuliah, jarang kali saya pulang ke rumah. Rindu sekali dengan Indonesia. Makanannya dan segala macam yang ada di sana. Dan yang paling utama adalah keluarga dan teman-teman saya. Bisa dihitung dengan jari berapa kali saya pulang ke Indonesia—dan saya rindu. Lebaran ini, kalau bisa, saya ingin pulang.

Tapi saya juga ingin melanjutkan pendidikan di sini. Kesempatan tidak datang dua kali, bukan? 

Saya mendapatkan pekerjaan yang bisa di bilang menyenangkan—kalau-kalau kau termasuk orang yang pandai bersyukur, kau pasti berpendapat yang sama dengan saya—yang memang mampu membantu kehidupan saya di tanah sakura ini. Bersama teman-teman seperjuangan saya yang lain, yang sudah merangkap menjadi keluarga kecil di sini, kerinduan akan kampung halaman sedikit terobati. Tidak sepenuhnya, memang, tapi setidaknya, dari kacamata saya, saya tidaklah sendiri. Perjuangan yang sama, keadaan yang sama, rasa rindu yang sama meski tempat yang berbeda, serta tujuan yang sama meski berdasarkan landasan yang berbeda. Hingga pada akhirnya saya memutuskan suatu hal; “umi, izinkan saya melanjutkan pendidikan S2 di sini". 

Ya. Saya akhirnya memutuskan hal itu setelah melalui kegalauan yang panjang—ya, saya juga bisa galau, siapa bilang hanya perempuan yang boleh galau?—dan ibu saya, yang memiliki kerinduan yang besar sama seperti saya, menyetujuinya meski tahu rasanya berat. Bertahun-tahun tidak bertemu, hitungan hari dan hitungan jam yang berarti harus beliau lalui lagi setelah lima tahun lamanya. Ibu saya tahu pertimbangan-pertimbangan perihal alasan saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di tanah sakura ini, begitu pun dengan Ayah saya yang tercinta, beserta keluarga besar yang terkasih. Dengan ucapan penuh sayang, Beliau mengizinkanku. “Yudistira, Ummi menitipkanmu hanya kepada Allah, tempat sebaik-baiknya menitip. Insya Allah.”—Ingin sekali berlari kepangkuan ibu dan ayahku seketika. Namun, keputusan sudah saya buat, dan saya harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya putuskan.  

Waktu demi waktu berlalu, dan kenyataan yang dilalui tidak semanis angan-angan. Saat pertama kali menjalani ujian S2, saya datang penuh percaya diri; sebagaimana yang biasanya saya dan teman-teman lakukan agar—yah, tidak kecewa pada akhirnya. Setidaknya, dengan rasa percaya diri di awal, kalau pun saya gagal, saya bisa berdalih ‘setidaknya sudah mencoba dengan maksimal’. Namun, seperti yang saya katakan, kenyataan tidak selalu semanis angan-angan. Meski sekuat apa pun saya berdalih, rasa kecewa itu ada. Saya gagal, sedangkan beberapa teman saya lulus ujian S2. Memang, saya tidak sendiri, beberapa teman saya pun belum mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan S2, tapi tetap saja, rasa kecewa itu ada. Saya adukan perasaan ini pada Umi, beliau menenangkan saya. Saya curahkan isi hati saya pada-Nya, dan Dia menentramkan saya. Dengan ucapan bismillah, saya memulai untuk mencobanya lagi. 

Namun, yang namanya manusia adalah tempatnya sifat pelupa. 

Lalu, kegagalan kembali merenggut semua akal sehat saya. Emosi. Kecewa. Tidak percaya. Kesal. Marah. Takut. Sedih. Depresi. Frustasi. Segala macam amarah menguasai saya. Bagaimana tidak, semua teman-teman saya—yang katanya keluarga kecil saya, dengan perjuangan yang sama, semua lulus ujian S2 meski memakan waktu yang berbeda-beda. Hanya saya yang gagal. 

Hanya saya 

Ah. 

Kenyataan memang tidak selalu semanis angan-angan. 

Sehingga wajar, kalau kebanyakan orang lari dari kenyataan. 

Termasuk saya. 

Maka dari itu, dengan akal sehat yang hilang entah kemana, dengan perasaan emosi campur aduk melebur menjadi rasa depresi dan frustasi, saya lari dari kerumunan keluarga kecil saya yang tengah bersorak-riang karena kelulusan mereka. Saya kabur entah kemana—pikiran pendek saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Maka di sinilah saya, dengan segala macam perasaan kalut, saya menginjakkan kaki di airport. Sendirian. Tanpa barang apa-apa. Bohong kalau saya bilang saya baik-baik saja. Bohong kalau saya bilang saya tidak kecewa. Lalu, apa yang saya lakukan di sini? Tidak ada. 

Saya menghabiskan waktu berjam-jam di airport, menatap jadwal keberangkatan ke Indonesia tanpa berbuat apa-apa. Menatap huruf demi huruf yang menyusun nama tanah air saya, menatap jauh bagaimana Ibu saya bahagia melihat saya pulang ke rumahnya—benarkah, Ibu saya akan bahagia kalau-kalau saya melakukan itu? Ibu saya mungkin akan berhati besar menerima kegagalan saya, tapi tidakkah tetap ada rasa kecewa terbesit di hatinya, mendapati anaknya ini lari dari kenyataan? Saya tidak ingin Ibu saya kecewa, saya tidak ingin keluarga saya kecewa sama seperti saya saat ini—lalu harus bagaimana? Berjam-jam di airport tidak menghasilkan apa-apa. Saya bersyukur, kaki ini tidak membawa saya pulang. Setidaknya, tidak dalam keadaan seperti ini. 

Gundah gulana. 

Mungkin, saya kekanakkan, tapi mungkin memang demikian. Saya mengabaikan semua pertanyaan-pertanyaan dari kakak saya, mengapa saya jarang online di jejaring sosial—gtalk—mengapa saya sering melontarkan tweet kegalauan, post-post tumblr penuh keluhan. Bukannya saya mengabaikan, tapi mungkin inilah rasa takut untuk menghadapi kenyataan lagi, takut bagaimana reaksi keluarga saya ketika mereka tahu kalau saya gagal untuk kedua kalinya. Bahwa kenyataan tidak semanis angan-angan, dan saya masih lari dari kenyataan. 

Tapi di saat saya ingin lari dari kenyataan, si bocah itu justru menapaki kenyataan. 

Dengan kalimat yang sama, meski bermakna berbeda. 


————  

"Now, I just want to go far. Far where noone know me, not even me"  

————


Malika mengutip kata-kata saya di twitter, menjadikannya sebuah judul cerita fiksi—atau non fiksi ya?—di blog-nya. Cerita panjang yang membuat saya pusing membacanya. Singkatnya, saya mendapati bahwa di bulan yang sama, ada juga yang mendapati kenyataan yang pahit seperti saya. Berbeda urusan, tentu saja, namun saya sedikit menyadari, bahwa meski Malika ingin lari dari kenyataan, anak itu berada di posisinya, tetap tertawa-tawa meski hatinya was-was karena kawannya mungkin tengah menyapa malaikat Izrail, yang bisa saja akan menjemputnya dalam waktu dekat agar terbebas dari penyakit yang di deritanya. Bocah itu pun tetap tersenyum meski kawannya mendapati kenyataan pahit lainnya yang padahal mungkin saja Malika kalut mendapati kabar buruk berturut-turut di telinganya, dan hal-hal lainnya, yang saya kira pastilah tidak enak untuk dilalui. Namun faktanya, bocah itu lebih bijaksana menyikapi kenyataan pahit yang dia terima dibandingkan dengan saya, meski tentu saja, masih ada rintihan tolong yang dia lontarkan kepada orang-orang yang peduli padanya. 

Ah.  

Saya punya banyak orang yang peduli dengan saya, tapi saya justru tidak menerima pertolongan mereka. Entah karena terlalu angkuh untuk meminta, atau terlalu malu untuk mengakui. Saya merasa, mungkin lebih condong yang kedua—terlalu malu untuk mengakui. Hingga akhirnya, dengan berat hati, dengan rasa was-was dan tindakan yang penuh kehati-hatian, saya kabari keadaan saya pada kakak dan keluarga saya, kepada Ibu dan Ayah saya diiringi dengan ucapan maaf yang sebesar-besarnya, dan kepada Malika yang diiringi ucapan terima kasih karena tulisan konyolnya itu. Semua reaksi saya dapatkan benar-benar membuat saya tenang, membuat saya menerima kenyataan dan menerima kegagalan dengan lapang dada, saya ucapkan syukur, semua keluarga saya—di sini maupun di Indonesia, adalah keluarga yang terbaik yang saya punya. 

Dan saya berkata pada Malika, tulisannya akan menjadi pengingat betapa menyesalnya saya hari itu. Reaksinya? Banyak omong sekaligus berjanji akan membuat cerita tentang kejadian ini. Ya ya ya. Terserah padamulah. Tapi mungkin tidak ada salahnya menunggu cerita tentang semua kejadian ini turun dari tulisan Malika. Setidaknya, tambahan pengingat masa lalu. 

Tidak terlalu berharap sih. 

Yah, lihat saja nanti.   





Bayar utang cerita (meski udah lupa-lupa-inget)(dijambak)—teman-teman, cerita ini SUMPAH GUE BIKINNYA NGARANG MESKI INI FIKSI LOH YA *injek capslock* gue ga tau menahu soal cerita lengkapnya si Yudistira ini sebenernya, tapi apalah namanya, terlanjur janji, ya harus di bikin, dan jadinya gue harus meraba-raba bagaimana-kalau-gue-yang-di-posisi-yudistira-ini yang tentu saja, harus gue sesuaikan dengan karakteristik Yudistira. Eh gue ga bilang kalau gue benar-benar mengenal si Yudistira ini loh ya, kan tadi judulnya ‘meraba-raba’ #plak. Janjinya sih Agustus 2012, tapi baru dilunasin sekarang. Hahahaha setahun buset. *ketawa miris* Yuk mari, semoga Yudistira ini puas. :v 

Label: ,



Review Book : Dilema, Novel by Alvi Syahrin
Sabtu, 16 Februari 2013 @2/16/2013 01:29:00 AM





Pertama-tama saya mau bilang : Ini yang nulis laki-laki, loh.

Dilema karya Alvi Syahrin yang diterbitkan oleh penerbit Bukune sekitar Agustus 2012 ini baru saya beli beberapa minggu lalu. Bukune itu selalu menyuguhkan cover-cover buku yang asyik. Yah, kalau ada yang menebak saya membeli buku ini karena covernya yang oke *didepak*. Tapi saya enggak nyesel, kok. Buku ini oke. Untuk ukuran cerita tiga cinta anak SMA, sih. Dan untuk point plusnya, sinopsis dibelakangnya ini tumben-tumbennya cocok dengan ceritanya loh—well, iya sih saya jahat banget ya bilang gitu, tapi kadang saya emang suka nemu buku-buku yang sinopsisnya kemana, cerita dalem bukunya juga kemana alias enggak nyambung. Atau yang (lebih) paling rese adalah, sinopsis di buat 'cerita' yang boro-boro bikin saya tertarik, tapi malah bikin saya mikir. Ya ya ya, cukup curhatnya.

Kalau penilaian, saya mau kasih nilai tiga dari lima. Buku ini tata bahasanya enak—malah lucunya, di buku ini, saya merasa saya menemukan tulisan saya yang ada di blog ini. Enggak ge-er, tapi beneran kerasanya begitu. Kayak "eh, kalimat/paragraf ini rasanya familiar" tapi ya ga sama-sama amat, cuma ngerasanya begitu, ngerasa familiar aja. Terus, novel pertama yang saya baca, yang masukin fitur twitter dan chat blackberry messanger. Bukan hal yang negatif, positif kok buat saya, terlebih lagi penuli buku ini memasukkan fitur sosmed itu dengan tata tulisan yang enak buat di baca. Ketiga, bikin saya kangen masa-masa sekolah atau SMA deh. Heheheh. Yang gak begitu saya suka di sini, mungkin karena ceritanya udah banyak yang seperti ini, kali ya. Mirip-mirip cerita Seandainya karya Windhy Puspitadewi gitu deh. Ya, ada beda-bedanya lah.Terus Ai karya Winna Efendi. Dan Ruang Temu-nya Maradilla Syachridar. Enggak bilang sama kok, cuma mirip, dan kisah tiga cinta yang tokohnya sahabat dan tokohnya orang kaya-yang-emak-bapak-nya-mau-cerai tuh is everywhere banget, gitu. Tapi tetep, tiap-tiap penulis punya gaya masing-masing.

Apa lagi ya? : |

Label: , ,



Orang aneh; Pulang; Istirahat.
@2/16/2013 01:09:00 AM



Butuh waktu sekitar satu hari penuh untuk membuat rasa kesalku hilang seratus persen. Bisa di bilang, ini memecahkan rekor terlama aku melepaskan keluh-kesahku. Maksudku, biasanya, kalau aku menemukan hal-hal yang membuatku tertarik, dalam sekejap rasa kesalku hilang. Atau minimal, aku lupa dengan rasa kesalku. Tapi belakangan ini, tepatnya sejak sebulan yang lalu—full selama sebulan, tekankan itu—aku kesulitan mengendalikan emosiku. Yah, sebenarnya sih dari dulu, aku memang bermasalah dalam urusan mengendalikan emosi, kadang sekejap aku bisa meledak-ledak marah sampai mengeluarkan caci-maki dan berbagai cerca. Dalam sekejap pula, aku bisa tertawa-tawa untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu, dan aku pun bisa menangis hebat untuk hal yang tidak terlalu sedih tapi kalau itu mampu menyentil perasaanku dan sukses membuatku terharu, ya aku akan menangis. Tapi kebanyakan orang bilang, aku orang yang aneh—bukan karena aku bisa meledak-ledak seperti itu, tapi karena aku orang yang terbuka tapi juga tertutup. Bingung? Aku juga. Tapi Reo berkata seperti itu. Sering. Otaknya memang sudah tidak waras.

Hari ini aku sengaja untuk pulang terlambat. Hujan masih rajin mengguyur kota Bandung dari siang sampai malam. Hujannya tidak terlalu besar, tidak dengan petir seperti kemarin-kemarin yang sungguh sangat cetar-membahana seperti kata artis Syahrini, tapi hujannya lumayan awet, yang bisa membuat kamu meringkuk di dalam selimut meski kamu sedang berada di ruangan tertutup sekali pun. Aku sebenarnya sedang banyak urusan, tapi untuk hal Daniswara—atau J biasa aku sebut—aku selalu berusaha meluangkan waktu, malah sesekali aku sengaja melupakan urusanku, biarlah aku kelabakan sesudahnya. Kali ini, aku pulang terlambat bukan karena Daniswara (ada sih, sedikit, tapi bukan karena itu juga), tapi karena Reo. Reo termasuk salah satu orang yang bilang aku ini aneh. Dan Reo juga termasuk salah seorang yang menyarankanku untuk melakukan hal-hal yang tidak biasanya aku lakukan untuk 'menyembuhkan'ku.

Reo bilang, 'coba gih, main-main sendiri, kali jadi waras' padaku sekitar seminggu yang lalu. Saat itu, aku hanya tertawa dan menyebutnya gila sekaligus mengomelinya dengan 'peraturan-tentang-malika-yang-tidak-boleh-di-langgar-seenak-jidat' tapi sekarang, mungkin aku akan menari gangnam style di depan coco sambil chatting dengan Reo untuk membuktikan bahwa sarannya itu—well, berguna. Hari ini aku pulang terlambat hanya untuk mengambil rute yang luar biasa jauh dari rumah, berputar-putar dan berganti angkot berkali-kali. Ludes sudah uangku saat itu. Tapi entah kenapa, aku senang. Ah, aku benar-benar harus menari gangnam style karena saran Reo luar biasa ampuh. Aku melihat banyak orang dari banyak tempat. Di tengah rintik hujan dan hiruk-pikuk sudut perkotaan Bandung yang tak aku pernah sempat aku lihat karena biasanya, kalau sudah jam malam, mataku fokus pada jalanan yang mengarah pada rumah dengan pikiran 'peraturan-tentang-malika-yang-tidak-boleh-di-langgar-seenak-jidat'. Malam ini, aku melihat bahwa; aku masih menemukan sebuah keluarga yang tidak terusik dengan kehadiran smartphone. Sebuah keluarga yang smart, dan point tambahan sederhana. Aku juga melihat sepasang sejoli yang masih menggunakan fasilitas trotoar dengan payung berwarna biru laut di Bandung—mereka berjalan berdua, sepayung berdua, ditengah-tengah kota yang bergelimang kendaraan roda empat atau dua. Dan di angkot, aku masih melihat ada orang tua yang mendengarkan celoteh anaknya dengan sabar di antara segelintir orang yang justru menyuruh anaknya diam ketika mereka ingin bercerita entah karena malu atau karena takut membuat penumpang lain merasa berisik. Aku melihat hal-hal yang tidak pernah lagi aku lihat belakangan ini, dan aku kangen.

Begitu aku pulang, aku kembali mendapati sebuah fakta dan realita yang biasanya aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Jangan tanya apakah itu hal yang positif atau negatif, aku sendiri tidak tahu. Aku tidak langsung menuju kamar, tapi aku berlalu menuju ruang kerjaku, melihat semua usahaku tak membuahkan hasil sama sekali. Bahasa kerennya, sia-sia. Dan saat aku sampai ke kamar, aku bercerita pada Reo dalam fitur Yahoo!Messenger tentang semua yang aku alami, dari saat matahari muncul di pagi hari, sampai kakiku menginjak kamar hari ini. Tidak dengan tarian gangnam style karena aku sama sekali tidak mengungkit soal saran Reo yang aku tepati. Hei, aku tidak licik, aku hanya mengendalikan situasi. Well, begitu disebutnya. Dan aku berkata pada Reo:

"Lo pernah ga, ngerasa enggak nyaman dalam satu keadaan, tempat, atau waktu secara bersamaan? Gue, setelah apa yang gue alami hari ini, gue merasa kayak gitu. Gue pengen pulang, pengen banget pulang yang padahal, lucunya, gue udah di rumah. Gue kangen sesuatu yang ga tau apa itu, gue pengen balik ke tempat yang kalau di tanya tempat apa itu, gue juga ga tau, yang jelas perasaan gue sekarang, gue pengen pulang,  pengen banget pulang, Re."

Reo hanya menjawab singkat : "Lo makin aneh" lalu dia sign out.

Dan aku teringat Dhika.

Well, aku rasa aku ini bukan orang aneh. Aku hanya sedang frustasi dan depresi. Mungkin.

Label: , , , , , ,



Review Book : Montase, Novel by Windry Ramadhina
Kamis, 31 Januari 2013 @1/31/2013 03:15:00 AM





Montase karya Windry Ramadhina yang diterbitkan oleh Gagasmedia dengan tebal buku 360 hal ini ludes dalam sehari. Jangan salahkan saya karena kemampuan membaca saya sangat cepat—tapi memang biasanya, kalau sebuah buku menarik, saya akan membiarkan diri saya hanyut dalam cerita yang disuguhkan oleh buku yang sedang saya baca. Dan Montase adalah salah satu buku yang berhasil mencuri perhatian saya. Sebenarnya, saya sudah sering melihat buku Montase ini setiap kali (selain terakhir saya ke Gramedia) mampir ke Gramedia atau ke toko-toko buku lainnya. Tapi sungguh sangat disayangkan, sinopsis dari Montase ini, waktu itu, belum berhasil menarik perhatian saya. Entahlah, sinopsisnya terkesan biasa aja padahal covernya oke banget. Waktu itu, akhirnya, saya lebih tertarik membeli novel lain—Hunger Games, kalau ga salah (iya saya baru baca, protes? *dikitik*) Eh, omong-omong saya baru menyadari, buku-buku lain belum saya review, ya? Hunger Games karya Suzanne Collins; Perahu Kertas karya Dee; Seandainya karya Windhy Puspitadewi; Hujan punya cerita tentang kita karya Yoana Dianka; Ruang Temu Antara Denting dan Rahasia karya Maradilla Syachridar; Hujan dan Teduh karya Wulan Dewatra; dan lain-lain—wah, banyak juga. Ya sudahlah, sekarang saya review Montase dulu saja.

Ini adalah kisah cinta antara Rayyi dan gadis kepala angin bernama Haru, mahasiswi studi banding di IKJ dari Jepang. Kisah dimulai ketika Rayyi, yang mengikuti kompetisi Greenpeace, dikalahkan oleh Haru. Rayyi tidak pernah mengenal Haru sebelumnya. Bahkan, Rayyi tidak tahu bahwa ada mahasiswi baru di kampusnya. Rayyi bertemu Haru pertama kali saat Rayyi sedang menonton film dokumenter buatan Haru. Sedikit pun Rayyi tidak terkesan dengan film buatan Haru dan kesan pertama Rayyi terhadap Haru adalah gadis liliput yang menggelikan. Pertemuan Rayyi dan Haru berikutnya terjadi saat  Rayyi meminta Haru untuk menjadi objek film dokumenternya sebagai salah satu tugas dari dosen. Bukan apa-apa. Rayyi disarankan oleh temannya, Andre. Sejak Rayyi merekam Haru dengan kameranya, perasaan antara mereka berdua tak lagi sama.

Dan setelah melahap setengah buku, saya langsung berbicara pada diri saya sendiri bahwa: i am ini love with this book. Saya menyukai tata bahasanya, cara penyampaian cerita, cara penyampaian karakter pada setiap tokoh-tokohnya, plotnya, penggambaran suasananya—semua dalam novel ini saya suka. Bahkan percaya atau tidak, saya sangat jatuh cinta pada endingnya. Mungkin kebanyakan orang yang membaca novel ini (sok tahu sih sebenarnya, hahahah) sedikit kecewa dengan endingnya, tapi saya tidak, saya justru menyukai ending yang seperti ini, yang sangat jarang saya temukan. Saya cinta mati dengan endingnya. Windry Ramadhina, congratulations, dari sekian novel yang saya punya (dan saya baca, mungkin?) novel ini adalah novel pertama dengan sad ending yang paling saya sukai.

But, no body's perfect. Enggak ada hal yang sempurna di dunia ini, termasuk buku. Meski pun sesuka-sukanya saya pada buku ini, ada hal yang membuat saya risih dan menurut saya, ini cukup mengganggu saya selaku pembaca. Mungkin cuma saya, sih, enggak tau ya kalau yang lain, tapi kita main jujur-jujuran aja, kan? Sebenarnya hal yang risih itu sangat sederhana; kenapa sih, gak ada footnote? Begini, saya tidak mengerti perihal dunia perfilman dan tetek-bengeknya seperti kamera atau mungkin istilah-istilahnya. Misalnya LomoKino. Iya sih, di deskripsi ada penjelasannya kalau itu adalah kamera mainan (hal 22; baris paling bawah), tapi apa benar-benar itu mainan? Maksud saya, saya ampe harus browsing soal LomoKino loh karena saya enggak tau LomoKino apaan, dan setelah saya browsing, ternyata bentuk kamera yang beneran kamera, bukan kamera mainan yang warna-warni kayak yang ada di otak saya sebelumnya. Lalu kata sienas. Sienas itu sebutan untuk apa ya? Halo? Tema dunia perfilman ini oke banget, jarang malah. Saya suka banget. Tapi sekali lagi, banyak hal-hal dalam dunia perfilman yang ada di buku itu yang saya ga ngerti karena gak ada penjelasan. Memang sih, ini kan bukan skripsi yang harus ada footnote segala, tapi footnote kan berguna buat penjelasan. Akan lebih bagus kalau saya (atau kita) yang tidak mengerti dunia perfilman di kasih penjelasan tentang istilah-istilah dunia perfilman di buku itu agar bisa lebih bisa membayangkannya. Lalu ini pun berlaku untuk bahasa Jepang yang disisipi di dialog-dialog Haru. Sama aja, kenapa sih ga di kasih footnote untuk arti dari bahasa Jepang itu? Lagi, alasannya sama seperti saya yang ga ngerti perfilman, gimana kalau yang baca ga ngerti bahasa Jepang? Ohayou Gozamashu itu apa? Selamat makan? Mungkin emang bahasa Jepang yang disisipi ke buku ini kecil-kecilan (tidak dalam bahasa yang sulit) tapi tetap saja penjelasan itu perlu. Seperti misalnya dialog yang ada di novel Ai karya Winna Effendi. Pada awal-awal dialog, Winna memberi footnote sebagai penjelasan arti dari bahasa Jepang yang digunakan, selebihnya gak perlu karena pembaca udah pahm 'oh ini artinya ini'.

But overall, saya suka buku ini. Suka. Pake banget! :D

Label: , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //