<body>
Mimpi.
Minggu, 28 Juni 2015 @6/28/2015 09:56:00 AM



Ini tentang mimpi tadi pagi, tentang hal yang menurut saya berhasil membuat saya terpana dengan apa yang terjadi. Mumpung saya masih ingat, akan saya tulis lewat blog.

Saat itu, yang saya tahu, saya sedang berulang tahun dengan kondisi rumah lengkap ada semua keluarga saya. Tidak hanya keluarga inti, tapi juga ada keluarga besar yang begitu saya masuk ke rumah, mereka mengucapkan sekaligus merayakan ulang tahun saya dengan kejutan-kejutan lucu dan menyenangkan. Hingga pada suatu ketika, dari sudut kanan, saya melihat ada seorang pria, tinggi (lebih tinggi dari Daniswara, pula), berbaju putih dengan celana hitam pendek selulut, menghampiri saya dengan cake coklat kecil di tangannya, mengucapkan "selamat ulang tahun", meletakkan cake nya, lalu tersenyum menatap saya.

Saya balas tersenyum, sambil berucap terima kasih, disusul dengan tepuk tangan riuh dari keluarga, saya merasa pipi saya merona kemerahan. Antara malu, tapi juga tersipu. Pemuda itu bukan Daniswara, aku tidak kenal, tapi sebenarnya juga mengenalnya. Lalu, pemuda itu pun berlalu, meninggalkan hingar bingar perayaan tanpa berucap apa-apa lagi.

Kemudian, di dorong rasa penasaran, saya bertanya pada nenek saya (almarhumah, duh saya jadi kangen) "si ----- kemana?" (Saya tidak ingat siapa namanya, malah saya yakin, di mimpi itu pun saya tidak menyebukan namanya, hanya gerakan mulut tak jelas). Nenek saya tersenyum sambil mejawab "ada di kamar sana, sama Haris"

Saya pun menghampiri pemudia itu, melewati ruang makan yang tertata rapi, dan melihatnya tengah tidur-tiduran di kasur, di sebuah kamar laki-laki bersama dengan sepupu laki-laki saya. Saya, yang sebelumnya mencolek krim cokelat di tangan kanan saya dan disembunyikan di balik punggung, memanggilnya pelan. Pemuda itu datang menghampiri, tersenyum.

Lalu, kucolek wajahnya dengan krim cokelat, membuatnya tampak berantakan sambil tertawa bersama-sama. "Kok sekarang, dicukur sih, jenggot sama kumisnya?" Saya bertanya polos, dan lagi-lagi, untuk beberapa saat, pertanyaan barusan hanya di jawab dengan senyuman, sampai akhirnya dia berkata ingin merubah image sebagai jawabannya.

Saya mengangguk pelan.

Dan tiba-tiba, tubuh saya tersungkur kebelakang, menghantam dinding dengan kedua tangan ditahan oleh lengan besar pemuda itu, sekaligus menghimpit tubuh saya seakan-akan takut saya pergi dan berontak. Dia menatap saya dengan lembut, tapi juga pilu, sedangkan saya hanya bisa menatapnya dengan tanda tanya besar, bingung. "A-apa? Kenapa?"

"Aku menyukai mu, aku akan menunggu mu sampai ratusan tahun sampai kamu berkata kamu mencintaiku, memilihku, dan bersanding denganku. Aku akan menunggumu, bersabar melihatmu dengan Daniswara, sampai pada akhirnya aku tahu, kamu memang punyaku."

Saya terpana, mengigit bibir saya, takut sekaligus tersipu. Tangan saya mulai bergerak memberontak, namun sia-sia. Dan saya terbangun dari mimpi saat pemuda itu mengecup leher saya, membuat merinding ketika mata ini terbuka menatap realita.

Saya benar-benar mengenalnya, kah?

Label: , , , ,



Komik
Minggu, 31 Mei 2015 @5/31/2015 01:24:00 AM



Kadang kala, saya berpikir pasti asyik, mengalami masa-masa sekolah seperti yang sering kali saya baca di komik-komik Jepang. Bukan, bukan berarti saya ter-brainwash karena kebanyakan baca komik seperti itu, tapi lebih ke perasaan iri bercampur penasaran. Dari kecil, saya terbiasa baca komik seperti ini, jadi saya tidak terlalu terpengaruh karena... yah, komik kan tidak selamanya berdasarkan kenyataan.

Masa SMA saya, bukan masa sekolah yang asyik. Memang, saat SMA, saya mendapatkan banyak teman, pengalaman, keahlian, dan kenangan yang abadi di benak saya. Saya bahagia, tentu saja, tapi tidak sepenuhnya. Bahkan kalau misal bisa main hitung-hitungan, saya banyak sekali penyesalan nya.

Saya mengalami masa-masa pacaran saat SMA. Bahkan, berada diantara dua laki-laki seperti kebanyakan komik-komik Jepang pun, pernah. Bisa di bilang, sebenarnya juga mirip sekali dengan kehidupan di komik-komik itu. Akan tetapi, mungkin rasa iri yang ada di hati dan pikiran saya, adalah saya tidak mendapatkan ending yang memuaskan seperti di komik-komik itu. Malah, happy ending pun tidak.

Sekarang, saya mempunyai pasangan yang baik, yang sebanding dengan saya, yang bisa melengkapi, dan memenuhi saya. Meski masih banyak kekurangan, saya senang. Sekalipun terkadang, saya ingin sekali kembali ke masa SMA dengannya. Sayangnya, saya berbeda sekolah, dan beda sekolah di sini super tidak sama, sama sekalo, dengan kehidupan komik Jepang yang sering saya baca.

Tapi ya...

Begini saja sudah alhamdulillah.

Bersyukurlah.

Label: , , , , ,



Selasa, 24 Maret 2015 @3/24/2015 07:49:00 PM



Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika.

Jika dia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk..
Jika dia memang takdir bagi ku, pantaskanlah dia untuku dan pantaskanlah diriku untuknya..

Ya Rabb..
Aku memilihnya karena sebuah keyakinan
Dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya
Dengan seluruh luka dan bahagia yang menyertai hidupnya..
Aku selalu berdoa kepadamu untuk memintanya dengan seluruh apa yang telah Engkau berikan untuknya..

Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika.

Aku yakin bahwa tidak ada Ketetapan Mu yang salah.

Aamiin ya rabbal 'alamin..

Label: , , , , , ,



Norak edisi 2014.
Jumat, 11 April 2014 @4/11/2014 01:39:00 PM



google chrome
totoro- akun pribadi || spongebob - akun blogger

ehm.

MEN, GUE BISA PAKE DUA AKUN GOOGLE CHROME !

fyuh. Oke. Maap pembukaan blog gue yang dramatisir itu, tapi emang bener loh, gue ini norak, sangat norak, begitu tau kalau google-chrome gue bisa dipake di dua akun google gue. Yah, gue emang punya 2 akun gmail, satu untuk pribadi (misalnya buat kuliah, kerja, dan sebagainya) sedangkan satu lagi buat blogger (atau akun gmail 'sampah' alias buat notif-notif ga jelas gitu kalau bikin akun sosmed).

Selama ini, gue selalu memakai akun yang pribadi, baik di laptop kantor mau pun di Coco. Sungguh sangat merepotkan kalau gue punya ide buat nge-blog tapi harus ganti akun dulu, log out dulu, masukin password, dan nunggu internet membaik, blah, yang ada ide di otak gue udah menguap entah kemana. Dan pengetahuan ini (ceileh pengetahuan) gue dapetin dari hasil keisengan gue mengutak-ngatik. Ah, sebenernya sih enggak ngutak-ngatik juga, tapi emang ada niatan buat ganti theme, terus gue penasaran tuh sama 'setelah pengguna' di setting. Pas gue klik, jreng! Berbuah hal menyenangkan! Jadi gue ga harus switch account lagi! yaaay!!


Label: , ,



Jurnal; Hiatus; Busy
Kamis, 11 Oktober 2012 @10/11/2012 09:33:00 PM



Wah, udah lebih dari sebulan ya sejak post terakhir tentang Dhika. Sejak itu saya enggak pernah nulis blog lagi, ya? Hehehe, beberapa orang emang udah ada yang sering nanya ke saya kapan saya nulis blog lagi. Katanya, mereka senang membaca cerita-cerita yang ada di blog ini. Padahal saya sendiri enggak ngerti, apa yang saya tulis di blog ini kan, cuma sekedar cerita-cerita yang muncul begitu saja di benak saya. Yah, enggak tiba-tiba muncul gitu juga sih, karena biasanya yang namanya orang menulis itu, pasti ada unsur kisah atau cerita pribadi yang dimasukin. Tapi kalau blog saya menghibur atau hal-hal positif untuk menghabiskan waktu luang sih, saya senang-senang saja, alhamdulillah malah.

Hai.

Sebulan lebih saya enggak menulis blog. Satu bulan setengah, mungkin ya. Saya juga enggak tahu pasti. Yang jelas, memang sudah sangat lama saya tidak menulis blog. Yah, sebenarnya saya masih suka menulis-menulis kok, saya buat draft di Coco, laptop saya, yang belum sempat saya post di blog karena selain tidak ada koneksi internet di rumah saya. Selain tidak ada koneksi di rumah saya, saya juga sedang mengalihkan fokus saya ke Tugas Akhir kuliah saya. Hehehe, iya loh, sekarang saya memang sedang kosentrasi penuh dengan tugas akhir saya. Ingin benar-benar total aja gitu ngerjainnya, jadi saya tidak punya cerita-cerita yang mau saya tuangkan di blog ini. Ah, saya juga ditagih banyak cerita yang saya janjikan, seperti kisah kakak kelas saya di negeri sakura sebelah sana, hehehe, belum sempat saya post, dan fanfiction sekaligus cerpen-cerpen yang di pinta oleh teman-teman forum yang saya ikuti. Bahkan cerita tentang Malika dan Daniswara, atau cerita-cerita net world lainnya saya sama sekali tidak bisa menulis apa-apa. Maklum ya.

Selama satu bulan kemarin, full bulan september, saya melakukan banyak kegiatan yang sangat menyenangkan. Di mulai dari pergi ke Jakarta bersama J dan ketemu Vina, Steven, juga Anna, bermain ke sana-ke mari, menghabiskan waktu bermain bersama-sama dan tidak lupa berbincang-bincang sedikit tentang Dhika yang dimakamkan di Yogyakarta. Kami sempat berbicara tentang Dhika, tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok meski terkadang saya masih suka iseng buka-buka timeline twitternya Dhika. Hehehe. Selama satu bulan kemarin pun, bersama J dan Sari, Tochi, Onye, juga Aya plus Iwan pacarnya Sari juga Sesa pacarnya Tochi, kita main ke sana ke mari. Benar-benar have fun, jarang-jarang buat saya pribadi bisa jalan-jalan seperti itu hehehe. Maklum, namanya juga anak bungsu. Perempuan lagi. Peraturannya lebih ketat dan ekstra ribet gitu deh. Yah, maap jadi semi curhat. Hahahaha. Selebihnya, selama sebulan kemarin, selain having fun, bimbingan dengan dosen TA saya pun enggak luput dari yang namanya senang-senang.

Inginnya sih saya menulis tentang jurnal TA saya, tapi ternyata, jurnal keseharian kuliah saya lebih seru kalau saya buat komik (seperti komik clara waktu itu!) dan jurnal doodling lainnya. Nanti ya, mungkin kalau ada kesempatan akan saya post di tumblr. Enggak di sini, terlalu berat soalnya. Dan yah, dibandingkan dengan tumblr, kalau posting gambar di blogger jauh lebih ribet sih hehehe.

Tentang tugas akhir saya? Tentang wayang kulit.

Di Indonesia, sejauh saya memperhatikan apa yang ada di sekeliling saya, saya selalu menemukan produk-produk berbau wayang yang hanya sebatas menggambarkan image wayang itu. Bahkan benar-benar hanya menggambarkan 'bentuk' si wayang itu. Sedikit sekali ada produk yang menggambarkan wayang hingga ke detail-detailnya. Makanya, saya ingin sekali membuat produk dengan bentuk wayang yang sangat detail. Saya juga sangat menyukai detail hehehe. Hmmm apa lagi ya yang mau saya ceritakan tentang tugas akhir saya... hmmm susah juga sih, hahaha. Nanti deh ya. Sekarang saya mau nugas lagi.

Maaf ya yang saya janjiin cerita, nanti kalau ada waktu luang, saya tulis secepatnya :D


Label: , , , , ,



Moony,
Sabtu, 07 Juli 2012 @7/07/2012 08:24:00 PM






MOONY



Aku tidak ingat tepatnya kapan aku di bawa ke rumah ini.

Yang aku ingat, namaku Moony, dan yang membawaku adalah teteh Dila dan Mama.

Saat itu aku sedang berjalan-jalan di tengah gelapnya malam. Warna buluku ada tiga, putih, hitam, dan cokelat-nyaris-oranye. Lalu tahu-tahu ada seorang anak perempuan yang datang menghampiriku, memelukku dengan hangat dan mengelus bulu-buluku dengan sayang. Dia berkata aku lucu, aku cantik, dan aku menggemaskan. Setelah itu ia membawaku ke sebuah rumah dimana sudah ada seekor kucing bernama Geboy, dan sejak saat itu, aku menjadi salah satu bagian dari keluarga kecil itu. Aku pun mulai mengenal mereka satu persatu. Ada Mama, Ayah, Aa Dzikry, mbak Sheilla, kakak Hafidz, dan teteh Dila. Mereka adalah manusia-manusia yang baik, yang memberiku makan dan tempat tinggal.

Saat itu usiaku masih sekitar lima atau enam bulan. Aku masih anak-anak jadi hampir setiap hari aku menghabiskan waktu dengan bermain. Kucing yang bernama Geboy adalah teman bermainku secara tidak langsung. Aku memang tidak mau dekat-dekat dengannya karena rasanya asing bagiku. Tiap kali ia mendekat aku akan mengusirnya dengan cakarku. Aku mengeong keras serta mendesis agar ia pergi. Tapi kalau ia pergi, aku justru mendekat dan memukul-mukulnya, mengajaknya bertengkar agar lebih seru. Sebut aku tsundere, tapi memang begitulah.

Awalnya aku kira aku akan tetap bersama dengan Geboy, bermain setiap hari, saling memukul, dan berebut makanan dengannya. Namun ternyata suatu hari aku melihat keluarga baruku dilanda kesedihan luar biasa, semua matanya merah karena air mata, dan aku melihat Geboy di depan pintu kamar mandi di belakang tergeletak tak berdaya. Bau asing keluar dari tubuh Geboy sehingga membuatku enggan mendekatinya. Meski samar-samar bau Geboy masih bisa kucium, entah kenapa aku tidak mau dekat-dekat dengannya. Teteh Dila memelukku, membawaku keluar rumah dan membiarkanku jalan-jalan. Tentu, pada dasarnya aku adalah kucing jalan, maka begitu aku diizinkan keluar rumah, aku jalan-jalan sesuka hati, kesana-kemari.

Dan begitu aku kembali ke rumah, Geboy sudah tidak ada.

Aku sering kali berada di tempat Geboy terakhir tidur—ya, di belakang, tepat di depan pintu kamar mandi. Duduk termangu di situ sendirian, berusaha mencari-cari bau Geboy yang entah kenapa seketika hilang dari rumah itu. Kadang kala, teteh Dila datang menghampiriku dan memelukku, membawaku ke ruang tengah. Ia, Mama, dan mbak Sheilla mengelusku dengan sayang. Teh Dila sering kali berkata bahwa ‘tak apa, tak apa, Geboy sudah bahagia di sana dan kau tak akan sendirian di sini, percayalah’ padaku berkali-kali, dan aku mempercayainya. Meski butuh waktu yang lama, meski sepi, akhirnya aku bisa melupakan Geboy.

Tidak, sebenarnya aku tidak benar-benar melupakan Geboy seperti keluargaku yang tak pernah melupakannya, tapi setidaknya aku mulai bisa bermain ke sana ke mari seperti biasa lagi. Aku tidak mau membuat keluargaku ini sedih karena aku terus termangu di depan pintu kamar mandi di belakang, makanya aku mulai kembali bermain.

Hmm, hmmm, kau tahu, aku kucing betina, dan aku—yah, aku harus mencari pacar.

Dan kau tahu, aku memiliki anak. Aku hamil.

Aku tahu, keluargaku enggan menerima kenyataan kalau aku akan memiliki anak, yang artinya biaya yang mereka keluarkan untukku dan keluarga kecilku pasti akan lebih besar. Aku sudah takut aku akan dibuang, tapi ternyata enggak. Aku tetap dibiarkan tinggal, di beri makan, dan di sayang. Namun sayang, belum sempat anak-anakku melihat dunia, aku keguguran.

Aku percaya mbak Sheilla menyayangiku, makanya dia sempat memelukku erat sekali sampai-sampai perutku tertekan dan itu rasanya sakit. Aku tidak banyak bergerak setelahnya, selama sehari penuh aku terus tidur dan berguling menahan sakit. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, janin di perutku pada akhirnya keluar sebelum waktunya dan aku pun keguguran. Teteh Dila melihat kedua anakku, ia menangis dan mengelusku dengan sedih, menyadari bahwa sebenarnya aku pun menangis, tapi terima kasih, kalau bukan karena teteh Dila yang memanggil Ayah untuk mengubur mereka, mungkin anak-anakku saat itu sudah akan dimakan oleh predator lain.

Tak apa, tak apa, dengan kalian tetap merawatku, aku tetap bahagia.

Aku masih dilanda duka ketika suatu hari Ayah pula membawa lima ekor anak kucing dalam satu kotak kardus berwarna coklat. Aku mendesis marah. Siapa mereka?! Bau kucing yang tak kukenal! Ini areaku, ini rumahku! Tapi aku sebagai ibu, naluriku tak bisa kuhindari. Ku dengar mereka mengeong penuh kesedihan, memangil ibu mereka masing-masing, ‘Ibu, ibu, kamu dimana? Ibu, ibu, aku lapar!’ berkali-kali. Aku mendekat dan kudapati kucing-kucing itu menatapku. Si hitam yang di beri nama Hara menyapaku dengan lemah, lalu saudaranya yang berwarna putih bernama Mano. Begitu juga dengan dua kucing kembar bercorak garis dan berwarna hitam-putih yang dinamai Ahsyong dan Apin. Aku mengendus bau mereka, mencoba untuk mengenali dan mendekati. Tapi kemudian aku sadar, ada satu kucing yang tak bersuara, duduk di pojok dengan bau kotoran yang melekat begitu hebat di sekujur badannya. Warna oranye dengan sedikit corak putih di badannya—oh Tuhan, seperti Geboy! Hanya saja lebih kurus! Saat itu juga aku langsung menyayanginya. Akan aku rawat ia seperti anakku sendiri.

Hari demi hari aku lalui bersama anak-anak angkatku. Ahsyong dan Apin pergi meninggalkan rumah karena ada manusia lain yang mengambilnya dan berjanji akan merawatnya. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar di rawat dengan baik atau hanya kedok semata, tapi setidaknya aku terus berdoa semoga mereka baik-baik saja. Tinggallah Mano, Hara, dan Aboy (betapa terharunya aku ketika keluargaku menamai mereka Aboy!). Sedih rasanya setiap kali melihat ke arah kandang dan mendapati Aboy diasingkan karena penyakitnya yang terus menerus buang air besar. Keluargaku lebih mencintai Mano dan Hara.

Tapi Tuhan Maha Adil, dan Ia menuntut keadilan.

Hara mati beberapa hari kemudian karena penyakit aneh yang menggerogoti tubuh mungilnya. Ia mati dengan tenang, tertidur lelap di atas sofa tepat di samping Mano yang juga kesakitan. Mano jauh lebih kurus dari pada Hara ketika ia menyusul saudaranya. Perjuangan keluargaku yang membawa ia pergi ke dokter adalah sebuah kesia-siaan belaka. Mano meninggal di atas kasur kesayangannya, dan mereka di kubur berdampingan. Saat itu, barulah keluargaku mulai memperhatikan Aboy. Tidak, tidak, sebenarnya tidak terlalu memperhatikan, hanya Mama dan teteh Dila-lah yang datang kepadanya, mengelus dan membersihkan setiap kotoran yang menempel di tubuhnya.

Lalu aku pun kembali hamil, kulahirkan empat anak kucing berwarna hitam-abu-abu-putih dengan corak loreng-loreng seperti macan. Yang pertama kali melihatku dan anak-anakku ini  adalah teteh Dila, lalu Aa Dzikry datang dan tersenyum bahagia, ia menunjuk salah satu anakku, yang besar dan gemuk—anak pertamaku, namanya Blero. Lalu Mama memberi nama anak keduaku dengan nama Luna, karena ia manis sepertiku, aku sendiri bernama Moony, yakni bulan, dan Luna pun katanya adalah bulan. Lalu dua lagi bernama Ipin dan Upin karena kembar, mirip seperti Ahsyong dan Apin.

Kupikir aku akan berbahagia dengan anak-anakku dan Aboy selamanya, tapi tidak.

Suatu hari ketika sofa di rumahku sedang dibersihkan, aku tidak tahu anak-anakku sedang bermain di situ. Kecelakaan tragis itu pun terjadi. Sehari setelah sofa itu dibersihkan, aku kehilangan Ipin. Kuendus setiap sudut rumah untuk mencarinya dan betapa sakitnya hati saat mengetahui bau Ipin ada di sofa. Aku menjerit, mengeong keras, meminta pertolongan pada keluargaku. Ku dorong pintu kamar Mama dan Ayah sambil terus menjerit dan membuat mereka kebingungan. Aku terus mondar-mandir di sofa dan Ayah langsung mengangkatnya. Hatiku semakin sakit ketika melihat anakku mati karena tertindih sofa.

Kesedihanku tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelahnya Upin pergi menyusul saudaranya karena penyakit yang sama yang mendera Mano dan Hara. Begitu pun dengan Luna. Anakku pergi satu persatu meninggalkanku, Blero, dan Aboy. Aku ingin menangis, kenapa aku harus tersiksa seperti ini.
Dan puncak kesedihanku adalah ketika aku dipisahkan oleh Blero dan Aboy.

Mama tampak sedih melihatku untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak tahu apa-apa saat itu, yang kuingat hanyalah dekapan hangat mbak Sheilla. Ia membawaku pergi dari rumah ketempat yang tidak aku kenal. Aku gelisah, aku takut, ini dimana. Banyak orang yang tak kukenal! Banyak kendaraan yang sangat berbahaya! Banyak bau kucing yang mencurigakan! Aku berteriak, menoleh menatap mbak Sheilla yang menangis meninggalkanku. Aku berlari mengejarnya tapi ia terlalu cepat sehingga tak mampu kukejar.

Percayalah, keluargaku memutuskan untuk membuangku.



“Mama, kenapa kau membuangku? Mbak Sheilla kenapa kau meninggalkanku?
Bagaimana anak-anakku? Bagaimana mereka? Sehatkah mereka?
Mama, cari aku, cari aku, aku ingin pulang, aku ingin kembali kepangkuanmu.
Kembalikan aku ke tempatmu, 
aku ingin bersama anak-anakku."



Label: , , , , ,



Geboy Superboy; 06 Januari 2008 – 05 Mei 2009
@7/07/2012 08:13:00 PM



Geboy Superboy


Halo Namaku Geboy.

Aku adalah seekor kucing berwarna oranye terang dan putih bersih yang sedari kecil sudah berada di rumah teh Dila dan mbak Sheilla. Sedari kecil aku memang dipisahkan oleh kedua orang tuaku dan tinggal bersama keluarga baruku. Tidak apa-apa, aku tidak pernah menyesal karena keluarga baruku ini sangatlah baik dan perhatian. Mereka menyayangiku seperti aku menyayangi mereka, dan aku bahagia sekali.

Usiaku baru satu bulan saat mbak Sheilla membawaku pulang kerumahnya. Masih sangat kecil, bahkan masih bayi! Aku yang masih butuh asupan susu membuat mbak Sheilla rela bangun tengah malam untuk memberiku susu ketika aku menangis kehausan atau kelaparan. Mbak Sheilla juga rajin membersihkan tempat tidurku, mengganti selimut dan kain-kain yang biasa menghangatkan tubuhku. Kadang kala aku diberi air madu yang manis sekali oleh Mama (iya, Mama, aku memanggilnya Mama seperti mbak Sheilla atau teteh Dila, hihihi) dan saking sukanya, kata mbak Sheilla aku terlihat rakus sekali. Dan karena aku rakus, sering kali aku membuat pipet itu rusak. Tapi aku tidak peduli, aku tetap saja minum meski akhirnya Mama mengganti pipet itu dengan dot besar yang bisa memuat lebih banyak susu untukku. Sejak saat itu, aku suka sekali dengan dot-ku!

Aku tidak pernah bersuara—aku tidak tahu caranya bagaimana. Dari kecil aku memang sudah di pisah dari orang tuaku, atau lebih tepatnya dari lingkungan sesama kucing. Teh Dila pernah bercerita, dulu ketika aku masih berusia tiga atau empat bulan, ada yang membawakan akuarium dengan ukuran besar ke rumah. Saking besarnya, aku takut sekali! Dan teteh Dila tahu-tahu menggendongku dan memasukkanku ke dalam akuarium itu! Aku menjerit, meminta tolong karena aku tidak bisa keluar! Sekelilingku menjadi sangat buram dan itu mengerikan!! Aku terus menjerit dan kata teteh Dila itulah pertama kalinya aku bisa bersuara ‘meong’ dengan lantang. Tapi sayangnya setelah itu aku tidak lagi bisa mengeong—sudah kukatakan, aku tidak tahu bagaimana caranya berbicara.

Ketika aku menginginkan sesuatu, seperti misalnya meminta susu pada Mama atau meminta makanan pada kakak-kakakku (kau tahu, aku menganggap mereka adalah kakakku dan mereka menganggapku adik! Senang sekali rasanya), aku akan menyentuh kaki mereka. Aku tidak pernah menggigit, aku pun tidak pernah mencakar mereka. Yang kulakukan hanyalah menyentuh kaki mereka atau kalau kata Aa Dzikry itu namanya me-toel-toel. Tapi memang begitulah caranya, aku menoel kaki Mama ketika aku ingin susu, dan Mama selalu mengerti mauku. Mama akan membawakan dot susu lalu menggendongku dan menyusuiku seperti bayi! Kadang kala aku dibiarkan menyusu sendiri. Aku akan tidur terlentang dan keempat kaki-tanganku memegang dot, kalau susu itu habis aku akan menendang-nendang dot itu. Oh iya, meski usiaku sudah satu tahun, aku masih suka nge-dot, hihihi.

Atau kalau aku ingin memakan tempe aku akan menoel kaki Ayah, atau kakak-kakakku, dan ketika mereka menoleh aku akan menatap mereka tanpa bersuara. Mereka selalu mengerti, tanpa dipinta dua kali, makanan-makanan kesukaanku seperti tempe, ikan asin, atau daging ayam selalu disisihkan untukku. Aku tidak pernah diizinkan naik ke meja makan karena kalau aku naik, Mama dan mbak Sheilla akan langsung menyentil telingaku dan itu sakit sekali! Makanya, aku tidak pernah berani naik ke atas meja, hanya sebatas kursi dan lalu menoel-noel tangan atau kaki keluargaku.

Ketika aku dimandikan, kata mbak Sheilla aku tidak seperti kebanyakan kucing yang rewel dan kabur karena takut air. Aku sebenarnya takut air! Air itu dingin! Tapi aku mengerti, kalau tubuhku kotor dan bau, keluargaku tidak akan mau menggendongku jadi kalau aku dimandikan, sebisa mungkin aku akan diam sekali pun aku mengigil kedinginan. Sebenarnya mbak Sheilla bilang sesekali aku juga mengeong, tapi aku tidak pernah ingat—mungkin karena aku terlalu membayangkan betapa mengerikannya dan dinginnya air, kali ya. Ohoho!!

Oh, aku juga pernah sakit parah! Waktu kecil, aku pernah jatuh dari lantai dua rumahku dan membuat cairan merah keluar dari hidungku. Mama langsung panik dan memanggil Aa Dzikry juga mbak Sheilla! Aku melihat ekspresi Mama takut sekali tapi aku hanya bisa meringkuk di sudut ruangan. Inginnya aku bilang pada Mama ‘tak apa-apa Mama, aku kuat! Aku tak apa!’ tapi mulutku tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Hingga akhirnya Aa Dzikry dan mbak Sheilla membawaku ke tempat yang penuh dengan hewan-hewan lainnya—dan aku di suntik! Aku di suntik di situ!! Aku benci sekali!! Rasanya sakit! Hiiii~!!!

Aku juga pernah sakit lagi. Waktu itu Aa Dzikry tidak sengaja menindihku dan sikunya mengenai dadaku. Itu sakit sekali, aku hanya bisa meringkuk diam dan setiap kali mbak Sheilla atau kakak Hafidz menggendongku, rasa sakit itu muncul. Mama khawatir, begitu juga dengan kak Hafidz. Di bawa ke dokter lagi pun aku tak mau (meski tidak bisa berbuat apa-apa, huh). Tapi sakit itu tidak lama kok, aku kuat, makanya hanya dengan beristirahat beberapa hari, aku sudah kembali sembuh dan bermain ke sana ke mari.

Kata mbak Sheilla dan Mama, aku adalah kucing yang penurut dan lincah. Waktu itu aku pernah di bawa ke luar jauh dari rumahku, entah dimana, berkali-kali. Aku hanya bisa diam dipelukan mbak Sheilla atau kakak Hafidz atau teteh Dila meski kadang aku selalu melongok ke luar jendela, melihat banyak orang yang aku tidak tahu itu siapa. Tapi aku tenang kok, asal ada susu aku pasti akan duduk tenang di dalam kendaraan. Tapi kalau kendaraan atau tempat yang aku datangi itu panas dan susu habis, aku baru deh mondar-mandir mencari tempat yang adem. Hehehehe. Tapi keluargaku sangat mengerti aku, mereka selalu membasuh bulu-buluku dengan sedikit air dingin agar aku merasa sejuk, dan itu sangat menyenangkanku! Aku sayang sekali dengan keluargaku.

Nama Geboy adalah pemberian dari Mama. Alasan Mama menamaiku itu karena badanku yang besar dan gemuk. Tidak ada yang ingat nama pertamaku siapa bahkan aku pun hanya tahu namaku geboy. Tapi itu tidak masalah, aku menyukainya, karena kalau namaku bukan Geboy, aku tidak akan segemuk ini dan tidak akan membuat keluargaku gemas. Sedangkan nama lengkapku adalah Geboy Superboy! Terdengar keren, ya? Nama panjangku itu diberikan oleh Aa Dzikry. Aku suka sekali nama itu dan sebagai rasa terima kasihku serta membuktikan betapa aku menyukai nama itu, aku sering mengosok-gosokkan tubuhku ke kaki Aa Dzikry tak peduli dia risih atau tidak—hihihi, keluargaku tidak pernah marah padaku sekali pun aku nakal.

Ayah adalah orang yang jarang sekali menyentuhku bahkan menggendongku. Tapi meski pun jarang, aku tahu ia menyayangiku. Kau tahu, aku sering kali dijahili oleh Ayah. Ekorku sering kali di tarik hingga membuatku kesal lalu kemudian aku dikelitiki sampai kelelahan. Atau Ayah sengaja membuat bola-bola kertas untukku agar aku bisa bermain, bahkan memakaikan benda-benda aneh di tubuhku lalu ia dan keluargaku yang lainnya tertawa bahagia. Tak apa, asal mereka bahagia, aku tidak pernah protes dengan apa yang Ayah pakaikan padaku. Toh meski pun jarang Ayah juga pernah menyusuiku dan mengelusku. Aku sayang sekali pada ayah.


Kakak Hafidz juga. Kakak selalu memelukku setiap kali dia datang dari luar rumah. Dia juga tidak pernah mengusirku sekali pun aku seenak jidat duduk di pangkuatnnya ketika kakak sedang sibuk layar besar di hadapannya apalah itu namanya aku tidak tahu. kakak juga sering mengelusku, mengajakku bermain, dan sebagainya. aku sayang sekali pada kakak.

Mama adalah keluargaku yang paling berharga. Segala sesuatunya selalu Mama. Mama memberiku makan, Mama mengelusku, Mama memberiku susu, Mama menemaniku, Mama selalu berbicara padaku, Mama memperhatikanku, dan segala-galanya. Begitu juga dengan mbak Sheilla. Aku berterima kasih sekali pada mbak Sheilla karena telah membawaku ke rumah ini, mempertemukanku dengan keluarga yang sangat baik dan pengertian. Mbak Sheilla yang selalu memberiku makanan enak, mengelusku, memotong kuku-ku, merawatku dari kecil, menemaniku bermain, membawaku ke dokter, dan segala-galanya. Aku sangat sayang Mama, aku sangat sayang mbak Sheilla.

Aa Dzikry juga!! Geboy superboy! Aku suka sekali nama itu! Aku berterima kasih juga bukan hanya sebatas nama, kau tahu, aku pernah dimasukkan ke dalam tas dan di bawa pergi dengan motor oleh Aa pergi keliling-keliling entah kemana, bertemu dengan banyak orang, bertemu dengan teteh Gea dan teman-teman Aa yang lain. Aa membawaku ke dokter, Aa memberiku makanan enak, Aa membawaku jalan-jalan, dan aku ingat, kalau Aa pulang, yang dicari pertama adalah aku! Hohohoh! Aku sayang sekali pada Aa Dzikry.

Lalu teteh Dila yang sering kali memelukku dan mengelusku. Dia tidak pernah marah padaku sekali pun aku nakal. Aku yang sering kali merusak-rusak tugas-tugasnya, mengigit-gigit kertas yang berserakan di kamar, atau mencakar-cakarnya, atau bahkan mempipisinya. Teteh Dila tidak pernah marah—tapi aku tahu ia kesal. Kalau dia kesal, dia hanya menggendongku dan mengeluarkanku dari kamar lalu ia mengurung diri. Aku sering sekali merasa bersalah, tapi karena aku tidak bisa bersuara untuk meminta maaf, aku hanya berdiri di depan pintu kamarnya, menunggu ia keluar. Usahaku berhasil, mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin dalam sebuah keluarga. Begitu teteh Dila keluar kamar, wajahnya kembali ceria, dia memelukku dan mengelusku, dia tahu aku merasa bersalah dan dia memaafkan. Aku sayang sekali teteh Dila.

Aku sayang keluargaku, aku bersyukur aku bisa berada dalam keluarga ini sekali pun dengan keterbatasan yang ada. Tak apa, tak apa, aku sayang mereka, aku tidak menuntut apa-apa, asal bersama dengan mereka aku tahu aku baik-baik saja.

Lalu tiba-tiba teteh Dila membawa seekor kucing lain yang cantik, dia di beri nama Moony. Aku ingin sekali berteman dengannya tapi dia cukup galak. Tak apa, tak apa, suatu hari nanti kita akan bermain bersama, percayalah! Tak apa, tak apa, kau tak perlu takut padaku atau bahkan pada keluargaku, mereka orang-orang baik, mereka akan merawatmu sebaik mungkin seperti mereka merawatku! Percayalah!

Hingga pada suatu hari, ada rasa sedih yang menyelimuti dadaku. Aku ingat, hari itu adalah hari minggu malam. Tahu-tahu aku terbangun dari tidurku dan keluar dari selimut hangatku. Satu persatu keluargaku aku datangi, kugosok-gosokkan buluku ke tubuh keluargaku. Aku bersikap manja pada Ayah dan Mama, meminta mereka mengelusku dan memelukku. Lalu setelah aku merasa puas, kudatangi kamar teteh Dila. Kulihat ia sedang sibuk dengan kertas-kertas di lantai hingga aku tidak berani mendekatinya. Aku hanya duduk di pintu, menatapnya dan berharap ia datang kepadaku dan memelukku. Sungguh sangat bahagia ketika teteh Dila benar-benar tahu mauku. Ia menghampiriku dan menggendongku erat sekali meski hanya sebentar lalu ia berkata ia sedang sibuk, tidak bisa mengajakku bermain. Tak apa, tak apa, aku hanya ingin melihatmu, lalu setelah aku puas, aku keluar dan menghampiri kakak Hafidz. Kupinta ia mengelusku dan memelukku seperti permintaanku pada Mama dan Ayah

Aku menghampiri mbak Sheilla sesudahnya meminta hal yan sama. Lalu terakhir aku menghampiri Aa Dzikry yang tengah tertidur lelap di sofa. Aku takut sekali mengganggunya, hingga akhirnya aku hanya bisa menggosok-gosokkan bulu-buluku pada kedua kaki dan tangannya sepelan mungkin agar tidak membangunkannya. Satu persatu keluargaku sudah aku datangi, aku puas, aku bahagia, tapi rasa sedih di dadaku tetap ada. Entah bagaimana cara menghilangkannya, ahirnya aku memutuskan untuk tidur dekat Aa, berharap segala sesuatunya baik-baik saja.

Keesokan harinya aku ingat, begitu aku terbangun dari tidurku, semua sudah kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aa Dzikry, Mama dan teteh Dila sudah pergi keluar rumah, hanya ada kakak Hafidz, mbak Sheilla, dan Ayah. Kau tahu, aku tidak pernah keluar lebih dari halaman rumahku. Sebut aku pengecut, tapi aku memang tidak berani. Aku takut membuat keluargaku khawatir kalau aku pergi terlalu jauh, dan Mama pun sebenarnya melarangku, makanya aku tidak pernah pergi kemana-mana sendirian. Tapi hari ini, aku ingin keluar, aku ingin bermain lebih jauh dari biasanya, aku ingin menjelajah lebih jauh—naluri seekor kucing, bagaimana pun aku ini kucing, dan aku ingin berpetualang!

Tapi mungkin inilah hukuman bagi anak nakal yang tidak menurut dengan ucapan Mama-nya.

Aku memakan sesuatu yang tidak pernah keluargaku berikan.

Aku keracunan.

Tenggorokkan dan perutku sakit sekali. Aku terus mengeluarkan darah dari mulutku karena rasa sakit yang aku rasakan. Aku berlari kembali ke rumah, berusaha berteriak meminta tolong pada Ayah dan Mama meski suara yang aku keluarkan hanya seperti suara batuk-batuk tak jelas. Aku tidak bisa bergerak karena sakit dan lemas, aku hanya bisa terkapar di depan garasi, terus berusaha berteriak memanggil Ayah dan Mama. Tapi yang mendengarnya adalah kakak Hafidz dan aku bersyukur sekali ketika melihatnya keluar. Ia berteriak memanggil Ayah, dan Ayah langsung keluar lalu menggendongku ke dalam rumah. Aku terus batuk-batuk dan mengeluarkan darah.

Ayah yang jarang sekali memelukku kini memelukku erat sekali. Ia menatapku sedih, dan aku tidak tega melihatnya. Aku berusaha berbicara ‘ayah, ayah, jangan menangis, aku tak apa, aku baik-baik saja, nanti juga sembuh’ meski yang keluar dari mulutku hanyalah suara batuk-batuk disertai darah. Aku pun melihat kakak mondar-mandir mengelap darah yang dari mulutku, aku berusaha berbicara, ‘kakak, kakak, jangan, nanti bajumu kotor, nanti Mama marah kalau bajumu kotor.’ Meski lagi-lagi hanya ada suara batuk tak jelas.

Semakin lama tenggorokkanku semakin sakit disertai sesak nafas. Mbak Sheilla menghampiriku, menangis melihatku. Kalau aku bisa menangis, aku pun ingin menangis. Kalau aku bisa berbicara, aku ingin bilang ‘mbak, mbak, jangan sedih, jangan menangis, maafkan aku, aku nakal karena tidak menuruti perkataanmu’ tapi suaraku tidak keluar, justru semakin sesak dan sakit.

Mungkin inilah yang dinamakan firasat atau insting.

Aku tidak lagi kuat menahan rasa sakit yang ada di tenggorokkan dan perutku. Kutatap keluargaku satu-per-satu, Ayah, kakak Hafidz, dan mbak Sheilla. Mbak Sheilla mengelusku dengan sayang. Kunikmati sentuhannya, sentuhan kakak, serta pelukan Ayah sambil memejamkan mata. Dan untuk terakhir kalinya, aku menatap keluargaku lagi, meski tak ada Mama, Aa Dzikry, dan teteh Dila di situ, aku yang tak bisa bicara ingin sekali menyampaikan bahwa aku menyayangi kalian, aku berterima kasih pada kalian, aku bersyukur menjadi bagian keluarga dari kalian. Sudah waktunya aku pergi, sudah waktunya aku meninggalkan kalian. Mungkin ini hukuman Tuhan karena aku tidak menurut pada Mama, ini sudah jalan-Nya.

Tapi tak apa, tak apa, aku bersyukur bertemu kalian, aku bahagia, aku sungguh bahagia.

Dan yang terakhir aku dengar adalah suara lembut dari mereka.

Lalu segalanya menjadi gelap gulita.






========================
Geboy Superboy.
06 Januari 2008 – 05 Mei 2009
========================


Setelah mendapatkan kabar Geboy mati, Aa Dzikry yang saat itu sedang berada di jatinangor langsung pulang ke rumah tanpa tendeng aling-aling, menangis sepanjang ia mengendarai motor. Mama pun begitu, Mama yang sedang berada di rumah temannya langsung pulang sambil menangis, begitu pun dengan Dila, yang langsung meminta izin pada asdos untuk pulang dan menangis sepanjang perjalanan. Kami memang tidak berada di tempat saat Geboy mati, tapi kami bersyukur, kami masih bisa melihat tubuh geboy untuk terakhir kalinya. Moony menunjukkan rasa kehilangannya dengan terus menerus berada di depan pintu kamar mandi belakang, tempat terakhir Geboy sebelum ia dikuburkan.


“Kami ikhlas, Geboy. Kami ikhlas—
—Pergilah nak, semua akan baik-baik saja setelahnya.”




Label: , , , ,



vote vote vote~!
Jumat, 01 Juni 2012 @6/01/2012 09:22:00 PM





L'Arc en Ciel; NEXT WORLD TOUR



Selamat datang bulan Juni! Sekaligus, selamat kembali hiatus, L'Arc en ciel!

Jadi, setelah sebulan (gyabo~) sejak Laruku Jakarta tanggal 2 Mei 2012 kemarin, setelah mengunjungi Korea, Laruku menggelar konser WORLD TOUR FINAL di kota-kota besar di Jepang dengan tema 'Welcome Home' yang mau diceritain kayak apa pokoknya secara garis besar sangat, sangat, sangat spektakuler. Yokohama, Osaka, dan Tokyo, gue berharap ada DVD-nya biar bisa nebus rasa penasaran gue, hahahah. Setelah tour Jepang, penutup atau final WT 20-21 Anniversary diadakan di Hawaii (yang gila ya cuma di Hawai satu-satunya negara yang nyanyiin lagu 'happy birthday' ke laruku pas saat break, aduh so sweet banget~), dan ternyata, tepat sehari sebelum konser Honolulu, Larc mengumumkan vote NEXT WORLD TOUR yang artinya, mereka bakal mengadakan tour dunia lagi setelah mereka kembali dari masa hiatus! Yayayayaya!!

Vote WT ini dibuka serentak di waktu yang sama (beda jam tiap negara),  Jakarta dibuka tepat pukul dua siang pada tanggal 1 Juni 2012. Tapi karena serentak dan karena seluruh dunia ikut melakukan vote, maka server WT belum aja mulai udah down duluan, jadi sempat pending selama dua jam (sampai jam 4 baru bisa diakses) dan itu pun masih lemot jadi harus ekstra sabar (karena seluruh dunia, serentak, yeah) Bahkan berkali-kali keluar informasi seperti ini :




Sekali lagi, karena ini di buka serentak di seluruh dunia dalam waktu yang bersamaan, jadi banyak yang tabrakan dan akhirnya server down. Terlebih lagi internet di tiap negara kan kadang ada yang kenceng kadang ada yang pelan, jadi ya maklum. Kalau ada tulisan seperti itu, atau "The site could be temporarily unavailable or too busy. Try again in a few moments." jangan di close, terus aja refresh dan resend berkali-kali, data enggak bakal ilang kok. Nah, buat yang belum vote dan bingung sama tata caranya, di sini ada sedikit cara untuk vote Larc Jakarta:



Begitu berhasil masuk ke link next world tour, di atas adalah tampilan yang nantinya akan kalian lihat. Well, gue bahagia loh ngeliat tampilan di atas mereka pake bahasa Indonesia meski pun bahasa mbah google-translate, tapi mereka berusaha buat menampilkan bahasa dari setiap negara yang sudah mereka kunjungi. Gue makin cinta sama Laruku karena mereka benar-benar menghargai tiap-tiap negara dan cinta sama fans dari berbagai negara sampai mencoba untuk berbaur. Well, lebay sih gue tau, tapi emang begitu. Setelah itu, pejet enter, yang page awal itu emang gak ngaruh apa-apa, cuma home aja.




Setelah tampilan home, pertama kali yang akan kalian lihat adalah data personal. Untuk Indonesia, cukup masukkan kota Jakarta sebagai kota tujuan dari negara Indonesia. Sebenarnya sih meski pun kotanya mau masukin Bandung, atau kota lain, sepertinya yang akan menentukan kotanya dimana itu promotor, yang penting kita udah vote Indonesia saja. Untuk data, sebaiknya di isi dengan benar (mengingat kalau menipu rasanya tidak sopan) untuk email, dari yang saya tahu, email yang sudah di registrasikan juga bisa kembali di ajukan. Tapi kalau ada yang punya email lebih dari satu sepertinya lebih baik. Setelah data terisi dengan benar, cukup scroll mouse ke bawah atau klik 'boarding' untuk tahap selanjutnya.



Setelah tahapan data selesai, kita di pinta untuk memilih lagu kesukaan kita. Ini adalah tahap yang paling bikin gue galau karena dari sekian banyak lagu dan album yang ada di next-WT ini, kita cuma boleh memilih satu lagu. SATU LAGU DARI SEKIAN BANYAK LAGU YANG ENAK INI BIKIN GALAU BANGET—oke, ehm. Jadi intinya dari sekian banyak lagu yang ada di list Next-WT silahkan vote salah satu lagu. Karena server lambat, jadi emang lama berubah warnanya. Ciri-ciri vote sudah di pilih itu adalah warna pink berubah jadi warna hijau. Setelah itu, silahkan klik submit!.


Setelah melakukan tahap itu, slide selanjutnya akan menunjukkan data yang barusan kita isi. Tentu untuk memastikan apakah semua yang kita pilih benar (terutama song chosen) Dan ada pilihan terakhir di part ini yaitu alasan kenapa kalian memilih lagu itu. Terakhir setelah semuanya fix, barulah keluar tulisan di bawah ini. Simpel, kan?

Untuk batas vote sendiri enggak tahu sampe kapan, gossipnya sih katanya 27 hari alias selama sebulan, tapi kayaknya ga sampe segitu juga bisa aja cuma satu hari ini. Kalau internetnya sedang bagus, vote sebanyak mungkin ya! Washhoooii~



Label: , ,



Ceritanya ...
Sabtu, 19 Mei 2012 @5/19/2012 03:58:00 AM



Ini cerita tentangku waktu kecil.

Rumah keluarga Ibuku adalah rumah yang bisa di bilang masih dengan arsitektur Belanda meski tidak terlihat seperti rumah Belanda juga. Apa ya, aku tidak beranggapan itu rumah Belanda sih, tapi kalau rumah-rumah jaman dulu kan memang rata-rata model Belanda-Belanda gitu, kan? Ya, pokoknya rumah jaman dulu lah. Dan karena rumah ini sudah terhitung tua, katanya dari jaman Njid (kakek) kecil, rumah ini termasuk luas sekali. Iya sih, buatku juga luas. Halamannya bisa dimasuki sekitar tiga mobil (berjejer kok, dan enggak ada taman). Belum termasuk garasi. Ada pohon mangga besar di sebelah kanan, dan di sebelah kanan rumah juga ada semacam taman kecil-kecilan yang ada banyak tanaman yang menjadi kesukaan Ayah (dan dari taman itu juga bisa langsung masuk ke kamar pamanku yang dokter). Sedangkan di sebelah kiri rumah adalah garasi yang garasi itu sendiri bisa masuk dua mobil jeep. Di dalam garasi bisa langsung masuk ke pekarangan rumah di belakang (dan ada pohon mangga lagi~).

Rumah keluarga Ibuku adalah rumah ciri khas orang-orang Arab dulunya. Orang Arab dikenal sangat welcome-ing sekali dan terbuka dan sederhana. Jadi yang namanya ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga itu enggak ada alias satu ruangan dijadiin satu. Tapi sejak Ibu dan saudara-saudaranya tumbuh besar, hal itu menjadi semacam penganggu sehingga akhirnya di buat dinding pembatas antara ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan. Di sebelah ruang keluarga ada dua kamar besar sekali. Satu milik adiknya Mamah dan satu lagi milik kamar Njid sama Jiddah (Kakek sama Nenek) yang kini sering digunakan untuk kamar tamu (biasanya yang boleh tidur di situ ya Kakaknya Mamah atau Mamah) yang dari luar kota. Sedangkan di area ruang makan, hanya ada satu kamar (dua sih, di kiri satu dan di kanan satu) dan ukurannya setengah dari dua kamar di ruang tengah. Bukan bermaksud sombong atau apa, tapi memang baru area itu saja rumah Nenekku terhitung besar.

Keluar dari ruang tamu, ada pekarangan di belakang. Di situ ada kamar lagi, satu, tempat tidur Mamaku dulu (karena Mama suka sekali dengan berbau musik dan seni jadi dari pada berisik ya di situ) ukuran kamarnya sama seperti kamar yang ada di ruang makan, tapi terhitung besar juga karena sekeluargaku bisa masuk ke situ. Di sebelahnya itu dapur, lalu Mushola, lalu kamar mandi besar dan di depan ruangan-ruangan itu ya semacam halaman buat menjemur baju (plus gudang plus kamar untuk haddamah (pembantu)). Di belakang itu, barulah ada kebun yang tumbuh pohon-pohon mangga tinggi (kalau panen mangga, bisa pesta fufufuf~ manis loh~) dan jadi tempat main ayam-ayam di situ. Aku sih enggak pernah masuk ke situ, soalnya ngeri juga.

Nah, waktu kecil, entah sekitar kelas empat apa lima SD, aku dan keluargaku kalau pulang ke rumah Mamah lebih suka tidur di kamar mama yang di belakang (selain kamar yang di ruang tengah di pake sama kakaknya mama, kamarnya mama lebih leluasa karena ga bakal ganggu yang lain). Sekitaran pukul sembilan, anak-anak kecil secara gak adil udah di suruh tidur, tapi anehnya sepupuku yang laki-laki yang namanya Fahri (waktu itu masih umur lima tahun apa berapa gitu lupa) malah asyik main di belakang dekat kebun tepatnya di depan kamar mandi besar. Waktu di panggil buat suruh tidur, Fahri malah marah-marah, dia bilang "Fahri baru ketemu temen Fahri kenapa di suruh tidur?" tapi faktanya, Fahri kelihatan sendirian di situ.

Tebak-tebak berhadiah.

Enggak sampai di situ, malemnya karena Cirebon itu panas luar biasa, aku suka tidur di deket jendela sekalian buat hindari gigitan nyamuk-nyamuk terkutuk. Tapi pada dasarnya aku ini orang yang sangat katro alias kampungan sama yang namanya AC (peace~) mau kayak apa pun suhunya kalau ga pake selimut tetep aja kedinginan. Jadilah malam-malam buta entah jam berapa, aku kebelet pengen pipis. Tapi karena jalanan ke kamar mandi itu jauh banget dan gelap dan ngeri dan anak kecil takut ini itu, jadilah aku cuma bisa gelundungan di kasur ga jelas. Coba-coba nahan pipis terus tau-tau tidur kek atau apa. Bodo amat deh ngompol atau apa, dari pada ke kamar mandi sendirian. Tapi ternyata nahan pipis itu susah akhirnya ya mau ga mau bangun buat pipis.

Pas bangun, aku ngerasa ada yang aneh, merinding ga jelas gitu dan pas nengok ke jendela, ada perempuan pakai baju putih rambutnya juga putih berdiri tegak ngeliatin terus mukanya marah gitu, kalau ga salah (udah lupa juga sih maaf) mukanya rusak, banyak merah-merah yang kayaknya itu darah atau apa dan beberapa saat setelahnya aku memutuskan untuk benar-benar gelundungan di kasur nyoba buat tidur, komat-kamit, sampai akhirnya tidur beneran.

Paginya aku cerita, tapi gak ada yang percaya.

Sejak itu aku ga pernah ke kamar mandi malem-malem lagi, kalau emang kebelet ya mending di tahan.

Dan aku enggak ngompol kok. Sumpah.

Label: , ,



L’Arc~en~Ciel and Jakarta.
Kamis, 26 Januari 2012 @1/26/2012 03:23:00 PM







Singapore and Jakarta
L’Arc~en~Ciel WORLD TOUR 2012
pict credit to Larc_IST and MaryGops.


Iya, gue emang lebai begitu bangun tidur (mana bangunnya siang pula), gue malah buka twitter bukannya mandi, terus di twitter rame banget (ga banget sih) anak-anak kayak 'aduh mei laruku lalalala'. Well, gue emang pernah denger sih Mei Laruku emang mau di bawa ke Indonesia, Singapur sekitaran April-mepet-Mei, dan gue kira itu bohongan (you know lah banyak banget promotor yang cuma ngumbar ini itu), tapi begitu @memoryofacolor dan juga @nijidrops bawahan dari Stefania ngumumin kalau Larc dateng ke Singapur sama Jakarta.


Haha, gue yang bangun tidur langsung excited banget buka laptop, teriak-teriak "JAKARTA! JAKARTA!" SINGAPUR!" di kamar sampai-sampai bokap gue ngira gue menang hadiah terus nanya apa gue mau ke singapur apa kagak =)) gue sih udah haha-hehe aja sambil buka larc official, dan begitu buka, ternyata kabar tentang konser di Jakarta itu beneran! Setelah kemarin-kemarin sempet vote di http://www.marygops.com/poll.html ternyata beneran di ajakin =)) meski gue ga tau sih apa si marygops ini yang jadi promot-nya, tapi yang jelas ini keren. Enggak bakal ada lagi berita sok-iye-bawain-laruku kayak jaman 2008 kemarin. Meski harga tiket belum di tentuin berapa, gue rasa paling besar ya lebih dari 5 juta. Paling murah ya 1 juta, IMO mungkin segituan.

Omong-omong, dulu gue pernah ngekhayal, dulu, waktu kemarin-kemarin sering banget ke jakarta, gue kalau ngeliat ke luar, pas banget keluar dari tol dan udah masuk jakarta, setiap kali ngelewatin semacam jembatan penyebrangan apalah itu, yang ada papan-reklame-nya, gue selalu ngebayangin someday, entah kapan, papan reklame itu bakal di isi sama ini empat om-om-tua alias sama laruku. Di bayangan gue sih yang jaman-jamannya GLMW dulu, dan itu keren. Well, sekarang jadi kenyataan ga ya papan reklame itu nampakin wajah-wajah laruku? LOL.

Selamat datang larc en ciel, dan saya tidak perlu ke bangkok apa lagi ke singapura! Yay!

UPDATE!! : bisa cek di sini atau di sini

Label: , , , , ,



Journal : Happy Birthday, Cannaria.
Selasa, 06 Desember 2011 @12/06/2011 02:47:00 PM





Happy Birthday, Cannaria (21 y/o).




Yak. Agak sedikit ngomongin soal Real World dulu ya yang itu artinya ngomongin kejadian kemarin pas ulang tahun si tochi. Hahahaha. Bukannya mau narsis, atau ga ikhlas, atau sombong atau apa ya, tapi ini kejadian yang super epik buat gue jadi gue harus nulis sebagai kenang-kenangan =)) =)) Kemarin itu adalah tanggal 5 Desember, yang berarti jadi hari ulang tahunnya IndoHogwarts dan juga ulang tahun salah satu sahabat namanya Aqilla yang kebanyakan orang kenal dia sebagai Cannaria, atau buat gue juga anak ITB lainnya manggil dia Tochi.

Bermula dari seminggu sebelumnya, yang itu artinya hari Senin tanggal 28 November 2011, kebetulan anak-anak Bandung (yang cuma gue, lala, tsu, juga miru karena mau nonton Puss in the Boots *kyaaa*) lagi iseng jalan-jalan ngegalau di Ciwalk sampe maghrib gitu. Terus tiba-tiba kepikiran kalau Tochi minggu depan ulang tahun. Waktu itu gue celetuk pengen ngerayain, sekalian ngumpul-ngumpul sama anak-anak lainnya dan ternyata disetujuin sama mereka. Dan akhirnya setelah itu, hari sabtu sama minggu gue sibuk ngejarkom via twitter =)) #gaelit.

Dari hari sabtu, gue sempet ga mikir duit buat beli ini kue dari mana, yang gue pikirin cuma buat bikin semua anak-anak pada dateng. Dan yeah, gue hantuin tuh mereka (yang begonya cuma si Nce, Chika, sama dentiey alias gue ga inget rara sama dhilla huhuh sorry guys u__u ) supaya dateng ke acara dadakan ini. Dentiey ga bisa karena dia kuliah (susah banget ketemu ini orang huhuhu) sedangkan Nce bilang dia juga ga bisa karena mau nugas, dan Chika enggak ada kabar. Gue agak 'yaaah' juga sih sebenernya soalnya kalau cuma anak-anak ITB lagi dan ITB lagi kan ga rame, kalau cuma orangnya itu-itu lagi mending banjur Tochi di kost-annya #dikutuk. Tapi gue tetep ngajak yang lainnya buat ngerayain ini dan yah, thanks guys buat kerja samanya :D

Hari senin, tanggal 5 Desember 2011, sebenernya kalau boleh jujur gue baru bangun jam 10 siang #DIHANTAM dan hape gue kebetulan emang lagi sering mati. Bangun tidur, kalau kata lagu waktu anak-anak pastikan langsung mandi tapi kalau buat enggak, bangun tidur gue langsung buka twitter—yah gue langsung inget kok sekarang tanggal 5 wong semalem gue begadang #krik—karena gue yakin HP gue ga bisa di hubungin berarti twitter gue membludak. Dan yap, bener, mentions gue penuh dengan sederet pertanyaan dari anak-anak hari ini jadi atau enggak.

Lala sama Manda yang paling sering nanya. Well yeah, Lala emang gue ajak buat nyari kue dan Manda emang gue ajak buat jadi `pengawal`nya Tochi selama dia di ciwalk. Akhirnya setelah HP gue nyala lagi, sederet sms juga masuk, nanya yang sama. Ada sms dari Nce yang bilang kalau dia ternyata hari ini bisa dateng cuma telat (gue makasih banget ya dek udah mau usahain dateng, xoxo). Singkat cerita, begitu gue udah selesai mandi dan siap-siap ke kampus, udah nge-sms miru, tsu, lala, manda, nce, dan rara gue cabut ke kampus.

Ada yang lucu di sini.

Gue ke kampus sebenernya cuma pengen ngeliat jadwal UAS jadi gue pikir ya udah sih pake sendal jepit aja. Tapi pas gue pikir-pikir lagi, gimana kalau ketemu Dosen nanti? Dan gimana coba kalau ternyata hari ini gue beneran UAS? Ya udah akhirnya gue pake sepatu, ga jadi pake sendal. Sekitar jam dua belas kurang, gue di anter bokap ke kampus naik motor—pas di sekitar borromeus, yang notabenenya cuma beberapa meter dari kampus, tiba-tiba turun ujan besar (bukan deres, tapi tetesan airnya besar) dan berhasil bikin gue agak basah kuyup. Ah rite. sekali pun gue pake payung, tetep aja basah. (Thank you dad, sorry kalau jadinya ayah jauh lebih basah kuyup dari dila >_<)

Begitu gue sampai ke Kriya, dengan payung di tangan, faktanya gue dateng di jam-jam pegawai TU lagi pada istirahat dan faktanya lagi adalah minggu ini ternyata gue ga ada UAS—oh men, tau gini gue beneran pake sendal jepit—dan fakta ketiganya lagi adalah, selama perjalanan dari Kriya ke Bengkok itu hujan, tapi selama gue nunggu Lala itu reda. Cerah. Wah. Gue langsung pasang emot Y U NO.

Sepanjang gue nunggu Lala, gue ngejarkom semua anak-anak Bandung buat bagi-bagi tugas. Misalnya Manda tadinya gue minta tolong sama Tsu buat jagain Tochi (alias mereka yang jadi mata-mata itu anak satu buat gue #plak) ternyata enggak bisa karena dia harus nugas dulu jadinya gue minta tolong Miru buat gantiin tugas Manda. Dan alhamdulillah, Tsu sama Miru nyanggupin—thanks guys 8D—selagi gue sama Lala pergi merantau (?) nyari kue.

Pertanyaan pertama adalah "Beli kue-nya dimana?"

Jawabannya adalah "Laswi."

Pertanyaan kedua adalah "Naik angkotnya dari mana?"

Jawabannya adalah "Gak tau".

Pertanyaan ketiga adalah "Kamu orang bandung atau bukan sih?"

Lalalala~Rencana awalnya (yang direncanain seminggu yang lalu) kita mau beli kue cheese-cake di toko-kue-apa-itu di Laswi, yang tau toko itu cuma Lala sama Miru tapi karena hari ini yang nyari justru gue sama Lala, kita bingung =)) Setelah ngobrol ini dan itu, gue tanya enaknya dimana dan Lala bilang palingan di harvest sama kartika sari juga sama di toko kue yang di BIP gitu. Akhirnya kita putusin buat ke Harvest dulu aja—dan di sini gue baru inget kalau Dhilla juga orang bandung, dan baru gue sms ngedadak =)) #KRIK untungnya Dhilla langsung bisa dan bilang oke meski agak telat juga soalnya masih di sekolah—sepanjang perjalanan ke Harvest, cuaca udah agak mendung-mendung gitu dan sangat macet. Seangkot sama Asdos pula. 

Karena risih sama Asdos, dan macet ga nahan, takut ngaret, gue sama Lala mutusin buat jalan aja ke Harvest toh dari dukomsel-mepet-bawah udah lumayan deket sama Harvest. Tapi lagi-lagi entah gue emang lagi sial, atau emang lagi ga hoki, pas turun dari angkot hujan turun lagi, kali ini deres banget. Buru-buru buka payung dan becek sana sini, gue sama Lala jalan nembus badai ke Harvest—ampe payung nyangkut ke sana dan ke sini, beneran udah kayak di doujin-doujin deh kalau nembus ujan yang payungnya ke bawa angin gitu-gitu. Basah kuyup teh beneran basah kuyup, gue yang lebih parah soalnya ga pake jaket plus pake baju warna ungu, sedangkan Lala yang kebetulan bawa JaHim plus pakai baju item-item jadi enggak begitu keliatan basah kuyup.

Nah, begitu sampai di Harvest kita bingung mau beli kue yang mana. Gue jelasin tuh banyak hal ke Lala soal beberapa hal yang enggak bisa jadi kriteria karena Tochi itu unik. Pertama, gue tau banget kalau Tochi enggak suka manis—dan katanya kue coklat di Harvest mau judulnya pait juga tetep manis—kedua, dia enggak suka yang begitu asem. Ketiga, dia enggak suka buah. Yeah, rite, Lala langsung pasang muka Y U NO.

Mungkin ada kali ya sepuluh sampe lima belas menit di Harvest cuma buat milih kue yang mana tapi ampe dikelilingin dua pegawai gitu, yang cowok sama yang cewek =)) Yang cowok ngotot buat pilih Triple Cho, yang cewek pilih yang buah. Akhirnya gue nelepon Miru karena bingung—dan hahahah gue nelepon miru di tengah-tengah dia lagi kuliah #digorok—tapi teleponnya ya gue kasih ke Lala biar mereka yang ngobrol #KRIK.

Setelah berbincang-bincang panjang lebar, akhirnya mutusin buat beli kue Cheese-cho gitu kata Miru soalnya enggak terlalu manis dan emang enak. Tanpa tedeng aling-aling lainnya, karena udah keburu capek ketawa sama pusing, langsung aja deh beli itu kue dan yang lucunya si penulis nama salah tulis, seharusnya "Cannaria" malah di tulis "Kanaria" dan Manda tiba-tiba sms "Maumaumau!! Mau ikut patungan tapi jangan diabisin kue-nya!!" *udahgangertilagilawaknya* 

Udah selesai semua perlengkapan kue-nya, begitu keluar dari Harvest rasa-rasanya kayak baru keluar dari toilet terus langsung mules lagi. Perumpamaannya jelek ya? Abis mau gimana lagi, emang kayak gitu sih. Keluar dari Harvest gue sama Lala udah kayak yang makasih banget akhirnya bisa milih kue yang mungkin Tochi suka, atau seenggaknya suka gak suka ya udah di beli. Tapi pas keluar dari Harvest kita harus nembus hujan badai lagi, jalan dari Harvest ke BIP cuma buat naik angkot Kalapa Ledeng. Bener loh, kita berdua nembus badai lagi cuma buat naik angkot, udah ga ngerti lagi basah kuyupnya kayak apaan.

Perjalanan dari BIP ke Ciwalk pun masih tetep aja ujan, bahkan pas kita berdua udah nyampe Ciwalk, ujan berasa makin gede. Abis itu tanpa ba-bi-bu lainnya, kita langsung pecicilan di Jogress buat nyari sendal jepit karena sepatu kita (yang sampai saat itu gue nyesel banget ga pake sendal ke kampus) basah ampe dalem-dalem. Tapi ternyata di Ciwalk harga sendal jepit rasa-rasanya kayak harga kita beli pulsa buat internet. MAHAL GILA -___- Well, Lala bilang karena akhir tahun seharusnya ada diskonan jadi mungkin di Yogya supermarket pasti ada sendal jepit. Dengan menembus badai entah-udah-yang-ke-berapa-kali, gue sama Lala masuk ke Ciwalk buat nyari sendal jepit.

Emang sih ada yang diskonan, tapi tetep aja mahal. Akhirnya ujung-ujungnya kita beli sendal jepit swallow gak pake nawar-nawar, asal comot, bayar, pake. Si mbak-mbak kasir Yogya juga sempet nanya ke gue "di luar hujan ya mbak?" dan gue dengan wajah serius cuma bisa bilang "Badai mbak". Hahahaha #dibuang. Yah, begitu sendal udah di pake, sepatu udah aman di kantong plastik, payung udah di tangan siap sedia, kita keluar buat beli makanan di KFC (karena belum makan siang) udah bakalan oke-oke aja kalau ujan mau basah kayak apaan, toh udah pake sendal—tapi begitu keluar, kita shock. DI LUAR UDAH KERING KERONTANG SAUDARA-SAUDARA!!! UJANNYA BERHENTI!! ARGH!!!—berasa banget dipermainkan oleh cuaca, sumpah.

Udah puas ngumpat-ngumpat, udah puas makan, gue sama Lala balik lagi ke Jogress buat beli korek api sambil nunggu anak-anak yang satu-satu mulai dateng (sekitar jam setengah tiga, kalau ga salah), ada Nce, terus di susul Dhilla (mereka langsung heboh, oh yeah) dan Tsu, Miru, juga Tochi. Untungnya itu cake udah gue sembunyiin dulu di kasir Jogress jadi dengan muka polos gue ber-kyaaa-kyaaa girang begitu mereka dateng. Rencana awalnya sih tadi mau pada langsung makan siang di Tong-tong (dan surprise gitu.) tapi mereka akhirnya nyemil dulu. Gue udah was-was aja tuh kalau-kalau mereka cuma diem di Jogress—bisa batal. 

Tapi lagi-lagi karena kerjasama yang oke dari mereka semua, akhirnya setelah makan mereka ngegiring (nidji) tochi ke Tong-tong dan gue sama Lala nyusul ke sana bawa kue. Nyalain lilin angka satu-nya juga susah payah, terus coklatnya ngeleleh, pokoknya udah-gak-indah-lagi-deh. Tapi untungnya tetep jadi surprise buat Tochi dan yah, rame-rame ngucapin selamat gitu, terus ngobrol-ngobrol. Di tengah-tengah serunya perbincangan, ada SMS lagi dari Manda : "Kuenya sisaiiiiinnnn!!!" dan gue beneran udah ga ngerti lagi lawaknya kayak apaan.






Setelah semuanya dateng, udah ngumpul, ngobrol ini dan itu, ngobrol ini dan itu, akhirnya kita mutusin buat foto-foto (gue sih yang ngusulin hehe) di papyrus. Sumpah, buat gue ini moment yang paling oke, yang paling lawak, yang paling menyenangkan dan yang paling bikin gue ngerasa semua basah-basahan gue terbayar sudah. Udah ga ngerti lagi lawaknya kayak apa, pokoknya super seru. Sempet-sempetnya lagi foto kita bully Manda, Miru, sama Nce. Sempet-sempetnya lagi di foto gue di kelikitikin, sempet-sempetnya lagi foto gue nangis karena capek ketawa. Si mas-mas fotographer-nya juga kayaknya udah WTF ngeliat kita. Tapi sayang, dari 25 foto cuma bisa diambil 5, kalau mau ambil semua berarti ya bayar lagi 10 ribu per foto. Gak worth it sih, tapi cukup buat masuk kriteria OKE!!!

Rencananya besok setelah semua tugas gue selesai (dan kalau sempet) gue mau ambil lagi foto Papyrus itu (semoga masih ada amin) di Ciwalk. Gue bener-bener mau semua foto itu, pokoknya harus. The best moment Ryokuholics Bandung soalnya hahahaha. Well, sayang banget Rara, Chika, sama Dentiey ga ikut, kalau mereka ada juga semua anak Bandung lengkap deh.

Setelah semuanya selesai, kita pulang pisah-pisah, sempet ngobrol dulu di Jogress (lagi) dan baru deh pulang ke rumah masing-masing dianter Miru. Tapi ujung-ujungnya hari ini gue sakit, hahahaha gak apa, gue cukup terhibur dan cukup merasa batre-niat-tugas-gue udah ke isi :D yuk mari, gue nugas lagi : )

Selamat ulang tahun sekali lagi buat Tochi dari kami, btw : )

Label: , , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //