Moony,
Sabtu, 07 Juli 2012
@7/07/2012 08:24:00 PM
MOONY
Aku tidak ingat tepatnya kapan aku di bawa ke rumah
ini.
Yang aku ingat, namaku Moony, dan yang membawaku
adalah teteh Dila dan Mama.
Saat itu aku sedang berjalan-jalan di tengah gelapnya
malam. Warna buluku ada tiga, putih, hitam, dan cokelat-nyaris-oranye. Lalu
tahu-tahu ada seorang anak perempuan yang datang menghampiriku, memelukku
dengan hangat dan mengelus bulu-buluku dengan sayang. Dia berkata aku lucu, aku
cantik, dan aku menggemaskan. Setelah itu ia membawaku ke sebuah rumah dimana
sudah ada seekor kucing bernama Geboy, dan sejak saat itu, aku menjadi salah
satu bagian dari keluarga kecil itu. Aku pun mulai mengenal mereka satu
persatu. Ada Mama, Ayah, Aa Dzikry, mbak Sheilla, kakak Hafidz, dan teteh Dila.
Mereka adalah manusia-manusia yang baik, yang memberiku makan dan tempat
tinggal.
Saat itu usiaku masih sekitar lima atau enam bulan.
Aku masih anak-anak jadi hampir setiap hari aku menghabiskan waktu dengan
bermain. Kucing yang bernama Geboy adalah teman bermainku secara tidak
langsung. Aku memang tidak mau dekat-dekat dengannya karena rasanya asing
bagiku. Tiap kali ia mendekat aku akan mengusirnya dengan cakarku. Aku mengeong
keras serta mendesis agar ia pergi. Tapi kalau ia pergi, aku justru mendekat
dan memukul-mukulnya, mengajaknya bertengkar agar lebih seru. Sebut aku tsundere, tapi memang begitulah.
Awalnya aku kira aku akan tetap bersama dengan Geboy,
bermain setiap hari, saling memukul, dan berebut makanan dengannya. Namun
ternyata suatu hari aku melihat keluarga baruku dilanda kesedihan luar biasa,
semua matanya merah karena air mata, dan aku melihat Geboy di depan pintu kamar
mandi di belakang tergeletak tak berdaya. Bau asing keluar dari tubuh Geboy
sehingga membuatku enggan mendekatinya. Meski samar-samar bau Geboy masih bisa
kucium, entah kenapa aku tidak mau dekat-dekat dengannya. Teteh Dila memelukku,
membawaku keluar rumah dan membiarkanku jalan-jalan. Tentu, pada dasarnya aku
adalah kucing jalan, maka begitu aku diizinkan keluar rumah, aku jalan-jalan
sesuka hati, kesana-kemari.
Dan begitu aku kembali ke rumah, Geboy sudah tidak
ada.
Aku sering kali berada di tempat Geboy terakhir
tidur—ya, di belakang, tepat di depan pintu kamar mandi. Duduk termangu di situ
sendirian, berusaha mencari-cari bau Geboy yang entah kenapa seketika hilang
dari rumah itu. Kadang kala, teteh Dila datang menghampiriku dan memelukku,
membawaku ke ruang tengah. Ia, Mama, dan mbak Sheilla mengelusku dengan sayang.
Teh Dila sering kali berkata bahwa ‘tak
apa, tak apa, Geboy sudah bahagia di sana dan kau tak akan sendirian di sini,
percayalah’ padaku berkali-kali, dan aku mempercayainya. Meski butuh waktu
yang lama, meski sepi, akhirnya aku bisa melupakan Geboy.
Tidak, sebenarnya aku tidak benar-benar melupakan
Geboy seperti keluargaku yang tak pernah melupakannya, tapi setidaknya aku
mulai bisa bermain ke sana ke mari seperti biasa lagi. Aku tidak mau membuat
keluargaku ini sedih karena aku terus termangu di depan pintu kamar mandi di
belakang, makanya aku mulai kembali bermain.
Hmm, hmmm, kau tahu, aku kucing betina, dan aku—yah,
aku harus mencari pacar.
Dan kau tahu, aku memiliki anak. Aku hamil.
Aku tahu, keluargaku enggan menerima kenyataan kalau
aku akan memiliki anak, yang artinya biaya yang mereka keluarkan untukku dan
keluarga kecilku pasti akan lebih besar. Aku sudah takut aku akan dibuang, tapi
ternyata enggak. Aku tetap dibiarkan tinggal, di beri makan, dan di sayang.
Namun sayang, belum sempat anak-anakku melihat dunia, aku keguguran.
Aku percaya mbak Sheilla menyayangiku, makanya dia
sempat memelukku erat sekali sampai-sampai perutku tertekan dan itu rasanya
sakit. Aku tidak banyak bergerak setelahnya, selama sehari penuh aku terus
tidur dan berguling menahan sakit. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, janin
di perutku pada akhirnya keluar sebelum waktunya dan aku pun keguguran. Teteh
Dila melihat kedua anakku, ia menangis dan mengelusku dengan sedih, menyadari
bahwa sebenarnya aku pun menangis, tapi terima kasih, kalau bukan karena teteh
Dila yang memanggil Ayah untuk mengubur mereka, mungkin anak-anakku saat itu
sudah akan dimakan oleh predator lain.
Tak apa, tak apa, dengan kalian tetap merawatku, aku
tetap bahagia.
Aku masih dilanda duka ketika suatu hari Ayah pula
membawa lima ekor anak kucing dalam satu kotak kardus berwarna coklat. Aku
mendesis marah. Siapa mereka?! Bau kucing yang tak kukenal! Ini areaku, ini
rumahku! Tapi aku sebagai ibu, naluriku tak bisa kuhindari. Ku dengar mereka
mengeong penuh kesedihan, memangil ibu mereka masing-masing, ‘Ibu, ibu, kamu dimana? Ibu, ibu, aku lapar!’
berkali-kali. Aku mendekat dan kudapati kucing-kucing itu menatapku. Si hitam
yang di beri nama Hara menyapaku dengan lemah, lalu saudaranya yang berwarna
putih bernama Mano. Begitu juga dengan dua kucing kembar bercorak garis dan
berwarna hitam-putih yang dinamai Ahsyong dan Apin. Aku mengendus bau mereka,
mencoba untuk mengenali dan mendekati. Tapi kemudian aku sadar, ada satu kucing
yang tak bersuara, duduk di pojok dengan bau kotoran yang melekat begitu hebat
di sekujur badannya. Warna oranye dengan sedikit corak putih di badannya—oh
Tuhan, seperti Geboy! Hanya saja lebih kurus! Saat itu juga aku langsung
menyayanginya. Akan aku rawat ia seperti anakku sendiri.
Hari demi hari aku lalui bersama anak-anak angkatku.
Ahsyong dan Apin pergi meninggalkan rumah karena ada manusia lain yang
mengambilnya dan berjanji akan merawatnya. Aku tidak tahu apakah mereka
benar-benar di rawat dengan baik atau hanya kedok semata, tapi setidaknya aku
terus berdoa semoga mereka baik-baik saja. Tinggallah Mano, Hara, dan Aboy
(betapa terharunya aku ketika keluargaku menamai mereka Aboy!). Sedih rasanya
setiap kali melihat ke arah kandang dan mendapati Aboy diasingkan karena
penyakitnya yang terus menerus buang air besar. Keluargaku lebih mencintai Mano
dan Hara.
Tapi Tuhan Maha Adil, dan Ia menuntut keadilan.
Hara mati beberapa hari kemudian karena penyakit aneh
yang menggerogoti tubuh mungilnya. Ia mati dengan tenang, tertidur lelap di
atas sofa tepat di samping Mano yang juga kesakitan. Mano jauh lebih kurus dari
pada Hara ketika ia menyusul saudaranya. Perjuangan keluargaku yang membawa ia
pergi ke dokter adalah sebuah kesia-siaan belaka. Mano meninggal di atas kasur
kesayangannya, dan mereka di kubur berdampingan. Saat itu, barulah keluargaku
mulai memperhatikan Aboy. Tidak, tidak, sebenarnya tidak terlalu memperhatikan,
hanya Mama dan teteh Dila-lah yang datang kepadanya, mengelus dan membersihkan
setiap kotoran yang menempel di tubuhnya.
Lalu aku pun kembali hamil, kulahirkan empat anak
kucing berwarna hitam-abu-abu-putih dengan corak loreng-loreng seperti macan.
Yang pertama kali melihatku dan anak-anakku ini
adalah teteh Dila, lalu Aa Dzikry datang dan tersenyum bahagia, ia
menunjuk salah satu anakku, yang besar dan gemuk—anak pertamaku, namanya Blero.
Lalu Mama memberi nama anak keduaku dengan nama Luna, karena ia manis
sepertiku, aku sendiri bernama Moony, yakni bulan, dan Luna pun katanya adalah
bulan. Lalu dua lagi bernama Ipin dan Upin karena kembar, mirip seperti Ahsyong
dan Apin.
Kupikir aku akan berbahagia dengan anak-anakku dan
Aboy selamanya, tapi tidak.
Suatu hari ketika sofa di rumahku sedang dibersihkan,
aku tidak tahu anak-anakku sedang bermain di situ. Kecelakaan tragis itu pun
terjadi. Sehari setelah sofa itu dibersihkan, aku kehilangan Ipin. Kuendus
setiap sudut rumah untuk mencarinya dan betapa sakitnya hati saat mengetahui
bau Ipin ada di sofa. Aku menjerit, mengeong keras, meminta pertolongan pada
keluargaku. Ku dorong pintu kamar Mama dan Ayah sambil terus menjerit dan
membuat mereka kebingungan. Aku terus mondar-mandir di sofa dan Ayah langsung
mengangkatnya. Hatiku semakin sakit ketika melihat anakku mati karena tertindih
sofa.
Kesedihanku tidak berhenti sampai di situ. Beberapa
hari setelahnya Upin pergi menyusul saudaranya karena penyakit yang sama yang
mendera Mano dan Hara. Begitu pun dengan Luna. Anakku pergi satu persatu
meninggalkanku, Blero, dan Aboy. Aku ingin menangis, kenapa aku harus tersiksa
seperti ini.
Dan puncak kesedihanku adalah ketika aku dipisahkan
oleh Blero dan Aboy.
Mama tampak sedih melihatku untuk yang terakhir
kalinya. Aku tidak tahu apa-apa saat itu, yang kuingat hanyalah dekapan hangat
mbak Sheilla. Ia membawaku pergi dari rumah ketempat yang tidak aku kenal. Aku
gelisah, aku takut, ini dimana. Banyak orang yang tak kukenal! Banyak kendaraan
yang sangat berbahaya! Banyak bau kucing yang mencurigakan! Aku berteriak,
menoleh menatap mbak Sheilla yang menangis meninggalkanku. Aku berlari
mengejarnya tapi ia terlalu cepat sehingga tak mampu kukejar.
Percayalah, keluargaku memutuskan untuk membuangku.
“Mama,
kenapa kau membuangku? Mbak Sheilla kenapa kau meninggalkanku?
Bagaimana
anak-anakku? Bagaimana mereka? Sehatkah mereka?
Mama, cari aku, cari aku, aku
ingin pulang, aku ingin kembali kepangkuanmu.
Kembalikan aku ke tempatmu,
aku ingin bersama anak-anakku."
Label: Cat, curhat, Journal, Moony, Random, Real World
Geboy Superboy; 06 Januari 2008 – 05 Mei 2009
@7/07/2012 08:13:00 PM
 |
| Geboy Superboy |
Halo Namaku Geboy.
Aku adalah seekor kucing berwarna oranye terang dan
putih bersih yang sedari kecil sudah berada di rumah teh Dila dan mbak Sheilla.
Sedari kecil aku memang dipisahkan oleh kedua orang tuaku dan tinggal bersama
keluarga baruku. Tidak apa-apa, aku tidak pernah menyesal karena keluarga
baruku ini sangatlah baik dan perhatian. Mereka menyayangiku seperti aku
menyayangi mereka, dan aku bahagia sekali.
Usiaku baru satu bulan saat mbak Sheilla membawaku
pulang kerumahnya. Masih sangat kecil, bahkan masih bayi! Aku yang masih butuh
asupan susu membuat mbak Sheilla rela bangun tengah malam untuk memberiku susu
ketika aku menangis kehausan atau kelaparan. Mbak Sheilla juga rajin
membersihkan tempat tidurku, mengganti selimut dan kain-kain yang biasa
menghangatkan tubuhku. Kadang kala aku diberi air madu yang manis sekali oleh
Mama (iya, Mama, aku memanggilnya Mama seperti mbak Sheilla atau teteh
Dila, hihihi) dan saking sukanya, kata mbak Sheilla aku terlihat rakus sekali.
Dan karena aku rakus, sering kali aku membuat pipet itu rusak. Tapi aku tidak
peduli, aku tetap saja minum meski akhirnya Mama mengganti pipet itu dengan dot
besar yang bisa memuat lebih banyak susu untukku. Sejak saat itu, aku suka
sekali dengan dot-ku!
Aku tidak pernah bersuara—aku tidak tahu caranya
bagaimana. Dari kecil aku memang sudah di pisah dari orang tuaku, atau lebih
tepatnya dari lingkungan sesama kucing. Teh Dila pernah bercerita, dulu ketika
aku masih berusia tiga atau empat bulan, ada yang membawakan akuarium dengan
ukuran besar ke rumah. Saking besarnya, aku takut sekali! Dan teteh Dila tahu-tahu
menggendongku dan memasukkanku ke dalam akuarium itu! Aku menjerit, meminta
tolong karena aku tidak bisa keluar! Sekelilingku menjadi sangat buram dan itu
mengerikan!! Aku terus menjerit dan kata teteh Dila itulah pertama kalinya aku
bisa bersuara ‘meong’ dengan lantang.
Tapi sayangnya setelah itu aku tidak lagi bisa mengeong—sudah kukatakan, aku
tidak tahu bagaimana caranya berbicara.
Ketika aku menginginkan sesuatu, seperti misalnya
meminta susu pada Mama atau meminta makanan pada kakak-kakakku (kau tahu, aku
menganggap mereka adalah kakakku dan mereka menganggapku adik! Senang sekali
rasanya), aku akan menyentuh kaki mereka. Aku tidak pernah menggigit, aku pun
tidak pernah mencakar mereka. Yang kulakukan hanyalah menyentuh kaki mereka
atau kalau kata Aa Dzikry itu namanya me-toel-toel.
Tapi memang begitulah caranya, aku menoel kaki Mama ketika aku ingin susu,
dan Mama selalu mengerti mauku. Mama akan membawakan dot susu lalu
menggendongku dan menyusuiku seperti bayi! Kadang kala aku dibiarkan menyusu
sendiri. Aku akan tidur terlentang dan keempat kaki-tanganku memegang dot,
kalau susu itu habis aku akan menendang-nendang dot itu. Oh iya, meski usiaku
sudah satu tahun, aku masih suka nge-dot, hihihi.
Atau kalau aku ingin memakan tempe aku akan menoel
kaki Ayah, atau kakak-kakakku, dan ketika mereka menoleh aku akan menatap
mereka tanpa bersuara. Mereka selalu mengerti, tanpa dipinta dua kali,
makanan-makanan kesukaanku seperti tempe, ikan asin, atau daging ayam selalu
disisihkan untukku. Aku tidak pernah diizinkan naik ke meja makan karena kalau
aku naik, Mama dan mbak Sheilla akan langsung menyentil telingaku dan itu sakit
sekali! Makanya, aku tidak pernah berani naik ke atas meja, hanya sebatas kursi
dan lalu menoel-noel tangan atau kaki keluargaku.
Ketika aku dimandikan, kata mbak Sheilla aku tidak
seperti kebanyakan kucing yang rewel dan kabur karena takut air. Aku sebenarnya
takut air! Air itu dingin! Tapi aku mengerti, kalau tubuhku kotor dan bau,
keluargaku tidak akan mau menggendongku jadi kalau aku dimandikan, sebisa mungkin
aku akan diam sekali pun aku mengigil kedinginan. Sebenarnya mbak Sheilla
bilang sesekali aku juga mengeong, tapi aku tidak pernah ingat—mungkin karena
aku terlalu membayangkan betapa mengerikannya dan dinginnya air, kali ya.
Ohoho!!
Oh, aku juga pernah sakit parah! Waktu kecil, aku
pernah jatuh dari lantai dua rumahku dan membuat cairan merah keluar dari
hidungku. Mama langsung panik dan memanggil Aa Dzikry juga mbak Sheilla! Aku
melihat ekspresi Mama takut sekali tapi aku hanya bisa meringkuk di sudut
ruangan. Inginnya aku bilang pada Mama ‘tak
apa-apa Mama, aku kuat! Aku tak apa!’ tapi mulutku tidak bisa mengeluarkan
suara apa-apa. Hingga akhirnya Aa Dzikry dan mbak Sheilla membawaku ke tempat
yang penuh dengan hewan-hewan lainnya—dan aku di suntik! Aku di suntik di
situ!! Aku benci sekali!! Rasanya sakit! Hiiii~!!!
Aku juga pernah sakit lagi. Waktu itu Aa Dzikry tidak
sengaja menindihku dan sikunya mengenai dadaku. Itu sakit sekali, aku hanya
bisa meringkuk diam dan setiap kali mbak Sheilla atau kakak Hafidz
menggendongku, rasa sakit itu muncul. Mama khawatir, begitu juga dengan kak
Hafidz. Di bawa ke dokter lagi pun aku tak mau (meski tidak bisa berbuat
apa-apa, huh). Tapi sakit itu tidak lama kok, aku kuat, makanya hanya dengan
beristirahat beberapa hari, aku sudah kembali sembuh dan bermain ke sana ke
mari.
Kata mbak Sheilla dan Mama, aku adalah kucing yang
penurut dan lincah. Waktu itu aku pernah di bawa ke luar jauh dari rumahku,
entah dimana, berkali-kali. Aku hanya bisa diam dipelukan mbak Sheilla atau
kakak Hafidz atau teteh Dila meski kadang aku selalu melongok ke luar jendela,
melihat banyak orang yang aku tidak tahu itu siapa. Tapi aku tenang kok, asal
ada susu aku pasti akan duduk tenang di dalam kendaraan. Tapi kalau kendaraan atau
tempat yang aku datangi itu panas dan susu habis, aku baru deh mondar-mandir
mencari tempat yang adem. Hehehehe. Tapi keluargaku sangat mengerti aku, mereka
selalu membasuh bulu-buluku dengan sedikit air dingin agar aku merasa sejuk,
dan itu sangat menyenangkanku! Aku sayang sekali dengan keluargaku.
Nama Geboy adalah pemberian dari Mama. Alasan Mama
menamaiku itu karena badanku yang besar dan gemuk. Tidak ada yang ingat nama
pertamaku siapa bahkan aku pun hanya tahu namaku geboy. Tapi itu tidak masalah,
aku menyukainya, karena kalau namaku bukan Geboy, aku tidak akan segemuk ini
dan tidak akan membuat keluargaku gemas. Sedangkan nama lengkapku adalah Geboy Superboy! Terdengar keren, ya?
Nama panjangku itu diberikan oleh Aa Dzikry. Aku suka sekali nama itu dan
sebagai rasa terima kasihku serta membuktikan betapa aku menyukai nama itu, aku
sering mengosok-gosokkan tubuhku ke kaki Aa Dzikry tak peduli dia risih atau
tidak—hihihi, keluargaku tidak pernah marah padaku sekali pun aku nakal.
Ayah adalah orang yang jarang sekali menyentuhku
bahkan menggendongku. Tapi meski pun jarang, aku tahu ia menyayangiku. Kau
tahu, aku sering kali dijahili oleh Ayah. Ekorku sering kali di tarik hingga membuatku
kesal lalu kemudian aku dikelitiki sampai kelelahan. Atau Ayah sengaja membuat
bola-bola kertas untukku agar aku bisa bermain, bahkan memakaikan benda-benda
aneh di tubuhku lalu ia dan keluargaku yang lainnya tertawa bahagia. Tak apa,
asal mereka bahagia, aku tidak pernah protes dengan apa yang Ayah pakaikan
padaku. Toh meski pun jarang Ayah juga pernah menyusuiku dan mengelusku. Aku
sayang sekali pada ayah.
Kakak Hafidz juga. Kakak selalu memelukku setiap kali dia datang dari luar rumah. Dia juga tidak pernah mengusirku sekali pun aku seenak jidat duduk di pangkuatnnya ketika kakak sedang sibuk layar besar di hadapannya apalah itu namanya aku tidak tahu. kakak juga sering mengelusku, mengajakku bermain, dan sebagainya. aku sayang sekali pada kakak.
Mama adalah keluargaku yang paling berharga. Segala
sesuatunya selalu Mama. Mama memberiku makan, Mama mengelusku, Mama memberiku
susu, Mama menemaniku, Mama selalu berbicara padaku, Mama memperhatikanku, dan
segala-galanya. Begitu juga dengan mbak Sheilla. Aku berterima kasih sekali
pada mbak Sheilla karena telah membawaku ke rumah ini, mempertemukanku dengan
keluarga yang sangat baik dan pengertian. Mbak Sheilla yang selalu memberiku
makanan enak, mengelusku, memotong kuku-ku, merawatku dari kecil, menemaniku
bermain, membawaku ke dokter, dan segala-galanya. Aku sangat sayang Mama, aku sangat
sayang mbak Sheilla.
Aa Dzikry juga!! Geboy
superboy! Aku suka sekali nama itu! Aku berterima kasih juga bukan hanya
sebatas nama, kau tahu, aku pernah dimasukkan ke dalam tas dan di bawa pergi
dengan motor oleh Aa pergi keliling-keliling entah kemana, bertemu dengan banyak
orang, bertemu dengan teteh Gea dan teman-teman Aa yang lain. Aa membawaku ke
dokter, Aa memberiku makanan enak, Aa membawaku jalan-jalan, dan aku ingat,
kalau Aa pulang, yang dicari pertama adalah aku! Hohohoh! Aku sayang sekali
pada Aa Dzikry.
Lalu teteh Dila yang sering kali memelukku dan
mengelusku. Dia tidak pernah marah padaku sekali pun aku nakal. Aku yang sering
kali merusak-rusak tugas-tugasnya, mengigit-gigit kertas yang berserakan di
kamar, atau mencakar-cakarnya, atau bahkan mempipisinya. Teteh Dila tidak
pernah marah—tapi aku tahu ia kesal. Kalau dia kesal, dia hanya menggendongku
dan mengeluarkanku dari kamar lalu ia mengurung diri. Aku sering sekali merasa
bersalah, tapi karena aku tidak bisa bersuara untuk meminta maaf, aku hanya
berdiri di depan pintu kamarnya, menunggu ia keluar. Usahaku berhasil, mungkin
inilah yang dinamakan ikatan batin dalam sebuah keluarga. Begitu teteh Dila
keluar kamar, wajahnya kembali ceria, dia memelukku dan mengelusku, dia tahu
aku merasa bersalah dan dia memaafkan. Aku sayang sekali teteh Dila.
Aku sayang keluargaku, aku bersyukur aku bisa berada
dalam keluarga ini sekali pun dengan keterbatasan yang ada. Tak apa, tak apa,
aku sayang mereka, aku tidak menuntut apa-apa, asal bersama dengan mereka aku
tahu aku baik-baik saja.
Lalu tiba-tiba teteh Dila membawa seekor kucing lain
yang cantik, dia di beri nama Moony. Aku ingin sekali berteman dengannya tapi
dia cukup galak. Tak apa, tak apa, suatu hari nanti kita akan bermain bersama,
percayalah! Tak apa, tak apa, kau tak perlu takut padaku atau bahkan pada
keluargaku, mereka orang-orang baik, mereka akan merawatmu sebaik mungkin
seperti mereka merawatku! Percayalah!
Hingga pada suatu hari, ada rasa sedih yang
menyelimuti dadaku. Aku ingat, hari itu adalah hari minggu malam. Tahu-tahu aku
terbangun dari tidurku dan keluar dari selimut hangatku. Satu persatu
keluargaku aku datangi, kugosok-gosokkan buluku ke tubuh keluargaku. Aku
bersikap manja pada Ayah dan Mama, meminta mereka mengelusku dan memelukku.
Lalu setelah aku merasa puas, kudatangi kamar teteh Dila. Kulihat ia sedang
sibuk dengan kertas-kertas di lantai hingga aku tidak berani mendekatinya. Aku
hanya duduk di pintu, menatapnya dan berharap ia datang kepadaku dan memelukku.
Sungguh sangat bahagia ketika teteh Dila benar-benar tahu mauku. Ia
menghampiriku dan menggendongku erat sekali meski hanya sebentar lalu ia
berkata ia sedang sibuk, tidak bisa mengajakku bermain. Tak apa, tak apa, aku
hanya ingin melihatmu, lalu setelah aku puas, aku keluar dan menghampiri kakak
Hafidz. Kupinta ia mengelusku dan memelukku seperti permintaanku pada Mama dan
Ayah
Aku menghampiri mbak Sheilla sesudahnya meminta hal
yan sama. Lalu terakhir aku menghampiri Aa Dzikry yang tengah tertidur lelap di
sofa. Aku takut sekali mengganggunya, hingga akhirnya aku hanya bisa
menggosok-gosokkan bulu-buluku pada kedua kaki dan tangannya sepelan mungkin
agar tidak membangunkannya. Satu persatu keluargaku sudah aku datangi, aku
puas, aku bahagia, tapi rasa sedih di dadaku tetap ada. Entah bagaimana cara
menghilangkannya, ahirnya aku memutuskan untuk tidur dekat Aa, berharap segala
sesuatunya baik-baik saja.
Keesokan harinya aku ingat, begitu aku terbangun dari
tidurku, semua sudah kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aa Dzikry,
Mama dan teteh Dila sudah pergi keluar rumah, hanya ada kakak Hafidz, mbak
Sheilla, dan Ayah. Kau tahu, aku tidak pernah keluar lebih dari halaman
rumahku. Sebut aku pengecut, tapi aku memang tidak berani. Aku takut membuat
keluargaku khawatir kalau aku pergi terlalu jauh, dan Mama pun sebenarnya
melarangku, makanya aku tidak pernah pergi kemana-mana sendirian. Tapi hari ini,
aku ingin keluar, aku ingin bermain lebih jauh dari biasanya, aku ingin
menjelajah lebih jauh—naluri seekor kucing, bagaimana pun aku ini kucing, dan
aku ingin berpetualang!
Tapi mungkin inilah hukuman bagi anak nakal yang tidak
menurut dengan ucapan Mama-nya.
Aku memakan sesuatu yang tidak pernah keluargaku
berikan.
Aku keracunan.
Tenggorokkan dan perutku sakit sekali. Aku terus
mengeluarkan darah dari mulutku karena rasa sakit yang aku rasakan. Aku berlari
kembali ke rumah, berusaha berteriak meminta tolong pada Ayah dan Mama meski
suara yang aku keluarkan hanya seperti suara batuk-batuk tak jelas. Aku tidak
bisa bergerak karena sakit dan lemas, aku hanya bisa terkapar di depan garasi,
terus berusaha berteriak memanggil Ayah dan Mama. Tapi yang mendengarnya adalah
kakak Hafidz dan aku bersyukur sekali ketika melihatnya keluar. Ia berteriak
memanggil Ayah, dan Ayah langsung keluar lalu menggendongku ke dalam rumah. Aku
terus batuk-batuk dan mengeluarkan darah.
Ayah yang jarang sekali memelukku kini memelukku erat
sekali. Ia menatapku sedih, dan aku tidak tega melihatnya. Aku berusaha
berbicara ‘ayah, ayah, jangan menangis,
aku tak apa, aku baik-baik saja, nanti juga sembuh’ meski yang keluar dari
mulutku hanyalah suara batuk-batuk disertai darah. Aku pun melihat kakak mondar-mandir
mengelap darah yang dari mulutku, aku berusaha berbicara, ‘kakak, kakak, jangan, nanti bajumu kotor, nanti Mama marah kalau bajumu
kotor.’ Meski lagi-lagi hanya ada suara batuk tak jelas.
Semakin lama tenggorokkanku semakin sakit disertai
sesak nafas. Mbak Sheilla menghampiriku, menangis melihatku. Kalau aku bisa
menangis, aku pun ingin menangis. Kalau aku bisa berbicara, aku ingin bilang ‘mbak, mbak, jangan sedih, jangan menangis,
maafkan aku, aku nakal karena tidak menuruti perkataanmu’ tapi suaraku
tidak keluar, justru semakin sesak dan sakit.
Mungkin inilah yang dinamakan firasat atau insting.
Aku tidak lagi kuat menahan rasa sakit yang ada di
tenggorokkan dan perutku. Kutatap keluargaku satu-per-satu, Ayah, kakak Hafidz,
dan mbak Sheilla. Mbak Sheilla mengelusku dengan sayang. Kunikmati sentuhannya,
sentuhan kakak, serta pelukan Ayah sambil memejamkan mata. Dan untuk terakhir
kalinya, aku menatap keluargaku lagi, meski tak ada Mama, Aa Dzikry, dan teteh
Dila di situ, aku yang tak bisa bicara ingin sekali menyampaikan bahwa aku
menyayangi kalian, aku berterima kasih pada kalian, aku bersyukur menjadi
bagian keluarga dari kalian. Sudah waktunya aku pergi, sudah waktunya aku
meninggalkan kalian. Mungkin ini hukuman Tuhan karena aku tidak menurut pada
Mama, ini sudah jalan-Nya.
Tapi tak apa, tak apa, aku bersyukur bertemu kalian,
aku bahagia, aku sungguh bahagia.
Dan yang terakhir aku dengar adalah suara lembut dari
mereka.
Lalu segalanya menjadi gelap gulita.
========================
Geboy
Superboy.
06 Januari
2008 – 05 Mei 2009
========================
Setelah mendapatkan kabar Geboy mati, Aa Dzikry yang
saat itu sedang berada di jatinangor langsung pulang ke rumah tanpa tendeng
aling-aling, menangis sepanjang ia mengendarai motor. Mama pun begitu, Mama
yang sedang berada di rumah temannya langsung pulang sambil menangis, begitu
pun dengan Dila, yang langsung meminta izin pada asdos untuk pulang dan
menangis sepanjang perjalanan. Kami memang tidak berada di tempat saat Geboy
mati, tapi kami bersyukur, kami masih bisa melihat tubuh geboy untuk terakhir
kalinya. Moony menunjukkan rasa kehilangannya dengan terus menerus berada di
depan pintu kamar mandi belakang, tempat terakhir Geboy sebelum ia dikuburkan.
“Kami ikhlas,
Geboy. Kami ikhlas—
—Pergilah
nak, semua akan baik-baik saja setelahnya.”
Label: Cat, curhat, Geboy, Journal, Real World
Blero. Mei 2010 - Maret 2012
Kamis, 22 Maret 2012
@3/22/2012 03:04:00 PM
 |
B L E R O
Mei 2010 - 22 Maret 2012 |
Ini bukan kucing kesayangan, tapi kucing yang paling ngegemesin. Anaknya monny yang satu-satunya masih hidup ketimbang tiga saudara lainnya yang udah mati lebih dulu (Ipin, Upin, sama Luna) akhirnya ditemukan mati di depan rumah deket solokan tadi jam 2 siang. Badannya udah kaku, kucel, bau, sama udah pucet. Gak bisa ngejelasin gimana kondisi Blero pas mati, yang jelas gue sampai sekarang sebenernya masih ga percaya kalau Blero mati. Terbiasa dengan aktifitas Blero yang pulang-pergi kalau cuma mau makan, jadinya gue sih biasa aja ga ngeliat dia di rumah, kali dia main, jadi sekarang faktanya Blero mati, speechless.
Tadi, sewaktu masih asyik ber-fangirl ria dengan laruku, gue sih ngedenger Una dari tadi berisik ngeang-ngeong ga jelas di atas. Gue pikir, mungkin dia sibuk nyari tempat buat mindahin anak-anaknya kali ya soalnya semalem dia emang bawa-bawa si Oreo ke kamar kakak gue buat di pindahin gitu. Tapi pas anaknya di pindahin ke atas (di simpen di kardus) malah ga berhenti ngeong, masih berisik. Karena ga tau mau apa dan takutnya ntar anaknya jatoh ke bawah kayak Geboy dulu, di bawa lagi deh si kecil-kecil itu ke bawah dan gue balik lagi fangirl. Then, sekitar jam dua belas siang atau mepet jam satu, tiba-tiba mati listrik.
Pas mati listrik, pembantu di rumah gue bilang "Bu itu si Blero mati di depan," sekali lagi karena terbiasa dengan aktifitas Blero yang pulang-pergi-kalau-mau-makan itu, kita nangkepnya ya kali si Blero lagi tidur doang di depan, dia kan suka berjemur gitu deh. Tapi pas Mama, Ayah, Kakak, sama Galih ke depan buat ngecek (gue cuma berdiri di pintu) ternyata beneran mati. Sampe tetangga depan juga ikut keluar rumahnya bawa-bawa si Zero buat ngecek apa Blero mati atau enggak. Gue yang ga tau apa-apa akhirnya nanya "Mah, Blero beneran mati?" dan nyokap gue ngangguk sambil matanya merah.
Sekali pun nyokap gue ngomong gitu, gue masih ga percaya. Gue keluar rumah dan beneran ngecek Blero dengan mata kepala gue sendiri apa dia beneran mati atau enggak—dan gue bengong lama. Iya, Blero mati. Badannya kotor, kaku, bau, mulutnya sedikit kebuka dan putih pucet, matanya merem. Gue sama sekali ga ada perasaan apa-apa pas ngeliat Blero, cuma diem aja. Dan karena gue ga berani ngeliat lama-lama, jadi gue masuk ke kamar, meluk Una yang masih ngeang-ngeong berisik sambil ngasih tau kakak-kakak gue yang lain di BB (dan BB gue ampe rame sama temen-temen yang nanyain Blero, guys makasih banget ya...) dan pas kakak gue yang cewek nelepon, gue baru nangis di situ.
Karena udah bau dan udah kaku, Blero di mandiin dulu cepet-cepet biar bisa langsung di kubur. Bener-bener singkat soalnya takut kenapa-kenapa. Sepanjang waktu Blero di kubur, Una yang di kurung di kamar gue juga ngamuk-ngamuk, masih meong-meong berisik gitu, kasihan. Di pikir-pikir, gue masih ga percaya Blero mati. Padahal semalem masih gulet-guletan sambil main tabok-tabokan. Kakak gue yang cewek masih di cakar, kakak gue yang pertama ngejitak Blero, ayah yang gemes nakut-nakutin Blero, Mama yang meluk-meluk Blero, dan gue yang semalem akhirnya bisa ambil foto Blero setelah sekian lama dia susah banget buat di foto.
No more cat-bear anymore, bye-bye, Blero.


 |
| Foto terakhir Blero yang bisa di ambil, itu juga tahun 2011 kalau ga salah |
Dua foto blero kecil
Nama Blero sendiri di kasih sama kakak gue yang pertama. Alasannya ga tau, katanya nama itu bagus aja, terus Blero waktu masih bayi juga jadi satu-satunya kucing yang paling gede ketimbang saudara-saudaranya yang lain, bulunya paling tebel. Dan karena dari bayi di urus, jadinya dia udah apal kalau nama dia Blero. Hobi Blero juga terhitung nyebelin, dia suka pipis sembarangan, apa aja yang menurut dia asing, dia bakal pipis. Tugas-tugas gue sering banget kena pipisnya, jadi dia sering di sentil. Tas kakak gue juga pokoknya segala sesuatu yang asing buat dia, dia bakal pipisin.
Setelah sekarang dia mati, gue nyesel dulu sering marahin Blero.
Tapi insya Allah, gue ikhlas. Mungkin emang udah waktunya dan emang jadi jalan yang terbaik buat Blero, biar dia ga dimarahin lagi, biar dia bisa makan enak di sana, biar dia bisa dapat perhatian yang melimpah ruah di sana, makannya ga susah, bisa punya tempat tidur enak, pokoknya yang enak-enak bisa Blero dapetin karena di rumah gue, jangankan buat kucing, buat sehari-hari aja susah.
Blero, sayang. Maafin kita-kita ya kalau ga bisa ngasih perhatian yang penuh buat Blero, padahal dulu Blero udah di pisahin sama monny tapi perhatian kita malah kayak gini. Maaf kalau sering mukul, jitak, meluk kenceng banget, genyeng-genyengin, nyentil, ngilikitik, dan semacamnya. Maaf ga pernah ngasih makan Blero yang Blero pengen, maaf ga pernah mandiin Blero setaun kemarin soalnya Blero keburu takut sama hair dryer (maaf sering nakut-nakutin pake hair dryer juga ya...), pokoknya maafin buat semuanya ya Blero...
Semoga sekarang Blero tenang di sana, gak ada yang nakut-nakutin Blero lagi, gak ada yang meluk Blero kenceng banget atau ngusilin Blero, terus Blero bisa makan enak, segala yang Blero mau bisa di kasih sama Allah, amin. Titip salam juga ya Blero buat saudara-saudara kamu di sana, kamu bisa ketemu lagi sama Ipin, Upin, juga Luna, titip salam ya dari kami. Salam juga buat ayah kamu kalau ketemu, si papah buluk, terus sama om Geboy (sampaikan salam kangen ya!), terus ketemu saudara tiri kamu, aboy (salam kangen juga!) Mano, Hara, Ahsyong, Apin... sama semua kucing-kucing lainnya ya.
Insya Allah, anak-anakmu di sini kami rawat sebaik mungkin, kondisi apa pun, kami coba buat ngerawat dengan baik. Makasih udah bawa Una ke rumah ya Blero. Leo, Oreo, sama Muza bakal jadi kucing-kucing lucu kok, tenang aja! Jadi, baik-baik ya di sana..
Selalu sayang Blero, sangat sayang.
Label: Blero, Cat, Real World