happiness is around you ❤
Rabu, 17 Agustus 2016
@8/17/2016 09:27:00 PM
Banyak orang yang bertanya-tanya belakangan ini kenapa gue tampak sangat bahagia padahal kebahagiaan yang gue tunjukan terkesan remeh dan menyemenye? Gampang.
Gue pernah mengalami masa titik terendah dalam hari-hari gue, dan itu berat. Dan tau lebih beratnya lagi apa? Gue berdiri sendiri. Depresi menyebabkan sisi masokis gue menjadi tinggi, mulai dari menyakiti diri sendiri secara batin, lalu menjurus ke fisik. Parahnya, kalau gue ga keluar dari masa itu, mungkin gue jadi Yang Maha Emo #tsaah.
Dulu temen gue mengalami hal yang sama tapi ga sampai nyakitin fisik. Dan karena gue sayang, gue ga mau ada hal buruk terjadi sama temen gue, plus meski gue (waktu itu) ga terlalu paham perasaannya, gue tetep berusaha untuk ada meski cuma sekedar membuka telinga.
Sayangnya disaat gue mengalami hal itu, temen gue entah kemana.
Sedih? Banget.
Sakit? Jangan tanya.
Dari titik terendah itulah, gue membuka mata, bahwa gue selama ini hanya fokus pada satu jiwa, yang ternyata dalam kegelapan justru banyak yang mengetuk-ngetuk kegelisahan gue, dan menjadi hal berharga buat gue, sampai sekarang tetap begitu adanya.
Ada yang rela tertular. Ada yang rela nyapa gue tiap hari meski gue cuekin. Ada yang ngawasin gue meski gue bandel. Ada yang ikhlas gue ganggu tengah malem cuma buat ngewaro chitchat suram gue. Ada yang bikin gue bahagia. Ada yang ngajak gue untuk kembali ke selembar kain di lantai untuk tempat bersujud kepada-Nya.
Lalu apa gue berhasil keluar dari semua itu? Yes.
.
Gue lebih bisa memaknai kebahagiaan.
Gue lebih bisa menerima keadaan.
Gue bersyukur, dan itu lah salah satu cara paling hebat yang bikin gue bahagia.
Percayalah, bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, dengan apa yang kita punya, membuat hati tentram ketimbang memperhatikan dan membandingkan dengan orang lain. Semua itu ga bakal ada habisnya, sia sia. Meski pun di mata orang hal-hal tersebut terkesan biasa, bodoamat. Mereka ga merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, mereka ga melihat kelam dibalik senyuman, mereka ga lihat badai dibalik keceriaan. Mereka ga liat semua itu. Lalu kenapa?
Ingatlah, pencapaian untuk kehidupan kita berasal dari diri kita sendiri. Bukan orang lain.
Gue bahagia dengan apa yang gue punya.
Gue bahagia dengan apa yang gue tuju.
thank you and love you, my friends. i love you to the moon and back.
Label: curhat, daily life, friendships, love, Malika, Random; real world, Real World
"So which of the favors of your Lord would you deny?" - Qs. Ar Rahman
Rabu, 13 Juli 2016
@7/13/2016 02:37:00 AM
Tuhan memang unik, baik, dan pengertian.
Hari ini, alhamdulillah, saya bisa mengenal diri saya yang dulu ketika teman-teman tadi mengatakan tentang sosok saya enam belas tahun yang lalu. Lucunya, bagi mereka saya tetap seperti itu--pecicilan, hahahehe, lari-lari bego, happy go lucky--yang buat saya langsung senyum lebar, langsung bersyukur bahwa mungkin saya tidak terlalu hilang arah. Lalu, Tuhan pun mengatakan, bahwa diatas langit memang ada langit, tapi di tanah tempat kamu berpijak pun berlapis-lapis. Artinya, saya terlalu sering melihat ke atas, melupakan sekeliling saya dan terlalu kaku untuk menunduk.
Betapa baiknya Dia, ya?
Masih mau mengingatkan saya yang terlalu jauh melangkah mundur. Masih mau menarik dan menuntun saya, udah gitu masih memberikan saya teman-teman yang mau merangkul saya, dan mereka berkata "kamu ga sendirian!" atau "hidupmu masih jauh lebih enak!" bahkan "kamu beruntung dari sebagian orang yang kamu anggap lebih beruntung"
Mungkin untuk sebagian lainnya, saya udah ga bernilai. Sudah manis sepah dibuang, benalu, dan mungkin saya pun memperlakukan yang lain seperti itu pula. Tapi untungnya, ada mereka yang masih berdiri sejajar, menutup telinganya dari perkataan saya yang buruk, menutup matanya dari tingkah saya yang jelek. mereka memaafkan saya, menyayangi saya, mencintai saya, sebagaimana saya berlaku demikian pula. Dan yang terpenting, saya masih bersama dengan-Nya, yang bahkan tanpa ucapan pun, Dia tahu permohonan maaf saya, Dia yang Maha Mengetahui, lagi Maha Mendengar. Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua, semoga sehat selalu, diberikan berkah dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin
[ Tulisan ini di buat tanggal 26 Juni 2016. Saya pun tidak mengerti kenapa harus saya hidden dari publik padahal bukan sesuatu yang membuat rugi banyak pihak. Meski demikian, kalau memang ada kesalahan kata, mohon dimaafkan ]
Label: Arimbi, curhat, daily life, life, love, Malika, Random; real world
Tentang hasil karya, dan usaha, serta Orang Tua.
Minggu, 20 Maret 2016
@3/20/2016 10:49:00 PM
tadi pas latihan, ada seorang bapak yang ngebanting + nendang pvc (hasil karya nya sendiri, probably) di gerbang depan. ngeliat nya tuh miris, dan jadi banyak tanda tanya di kepala saya.
pra-duga pertama (setelah mendengar coach bilang "kita menerima jenis apapun, bahkan tradisional!") yang terlintas di benak saya adalah: bapak itu pasti kecewa campur sakit hati (atau mungkin malu/minder) melihat yang latihan pake kayu dan besi, bukan jenis pvc.
pra-duga kedua, mungkin anaknya yang justru malu/minder dengan pvc lalu ngerek ingin menggunakan yang sama seperti lainnya, lalu sang bapak yang sudah susah payah membuatkan pvc merasa sakit hati lalu akhirnya kesal. melihat hal itu, ada dua pandangan yang menggelayut di benak saya.
Pertama, saya langsung berpikir 'orang tua bisa sakit hati, dan meski di depan anaknya ia berlapang dada, belum tentu di belakangnya juga'. Saya teringat masa kecil saya ketika meminta ini-itu, karena keterbatasan biaya, pada akhirnya ayah saya membuatnya sendiri (sekarang saya tahu darah kreatif saya turun dari mana). Namun, tak jarang, saya merasa malu ketika memakainya--apalagi kalau bukan karena tidak sama seperti yang lain. Mungkin, ayah saya dulu juga bersikap seperti bapak ini, membanting / membuang hasil karyanya sebagai bentuk kekecewaan. Maaf ya ayah...
Kedua, saya berpikir bahwa anak kecil itu mungkin tidak salah, dulu saya juga begitu. Tapi semakin saya memikirkannya, semakin aneh pandangan saya. Pastilah ada sebab mengapa anak kecil berperilaku demikian, apakah orang tua terlalu menekan hasrat tidak mau kalah yang tinggi pada anak itu, atau justru kesalahan orang tua dalam mendidik anak? Atau mungkin, memang anaknya yang bebal. Banyak hal yang bisa jadi sebab suatu tindakan, dan melihat kejadian ini, saya mendapatkan pelajaran untuk melihat dari berbagai kemungkinan agar tidak mudah (dan tidak termasuk) menjadi orang yang judgemental.
Dan saya pun mulai belajar untuk menghargai karya atau pemberian orang lain, karena pada kenyataannya, pemberian orang meski sekecil apapun pasti terdiri dari "usaha" dan yang namanya usaha itu tidak selalu mudah.
Semoga Allah melapangkan hati orang tua mana pun, kapan pun, dinana pun, ketika mendapati hatinya terluka karena buah hatinya.
Label: curhat, Malika, Random; real world
Tentang sepi dan tawa.
Minggu, 06 Maret 2016
@3/06/2016 10:56:00 PM
Kenapa kamu selalu tertawa?
Kenapa juga kamu selalu menginginkan orang lain tertawa sedangkan sering kali kamu melupakan tawamu sendiri? Ya. Tawamu yang hampa. Yang kosong. Suram. Dan terpaksa. Jangan heran kalau sering kali orang bertanya: apakah kamu bahagia?
Sebab, kamu sering kali buta tentang siapa-siapa saja yang ternyata mengenalmu luar salam, yang sering kali kamu anggap mereka lupa, padahal mata, hati, dan telinga mereka selalu senantiasa untukmu, Malika.
"Menurutmu, aku yang buta?"
Malika bertanya dengan nada tersinggung. Ekspresi tidak sukanya terlihat kentara, seperti hendak mengibarkan bendera perang. Aku tertawa--gadis ini benar-benar senang membuat orang-orang disekitarnya tertawa, bahkan sampai rahang terasa sakit.
"Aku tidak berkata seperti itu."
"Tapi kurasa begitu."
Kugelengkan kepalaku pelan, sambil menghembuskan nafas perlahan mencari ketenangan. Malika ku sayang, Malika ku malang. "Begini. Kurasa, sikapmu itu baik, bahkan terlalu baik. Tapi apabila kau menganggap dirimu buta, maka kuperjelas bahwa kau hanya melihat dari sebelah mata. Kau enggan memandang realita, bahwa kenyataannya membuat orang lain bahagia itu memang bagus, namun apa yang kamu dapatkan belum tentu sama dengan apa yang kamu berikan. Bukankah kamu bilang, kamu adalah orang dengan penganut kepercayaan perbuatan timbal balik?"
Gadis itu mengernyit tak paham.
"Apakah orang yang kau buat bahagia, juga membuatmu bahagia?"
"... ada beberapa. Dan tidak selalu, sayangnya."
"Lalu, kenapa kamu tidak memilih untuk fokus membahagiakan orang yang membuatmu bahagia dari pada buang-buang waktu dan tenaga untuk mereka yang hanya ingin mampir bersua tapi lalu meninggalkanmu begitu saja?"
Malika berpikir keras. Lalu dengan kepalanya yang sekeras batu, sikapnya yang bebal, mentalnya yang kuat seperti baja, serta emosinya yang panas seperti bara, ia mendengus, menatapku dengan mata berair--menahan tangisnya sekuat tenaga.
"Karena faktanya, aku tak ingin orang lain seperti ku. Menangis sendirian, terasingkan, ditinggalkan, diabaikan, lalu perlahan hilang ditinggal kenangan."
Berpikir sebentar.
"Itu sakit, dan aku tak ingin ada yang merasakan sakit seperti apa yang kurasakan."
Gadis bodoh. Begitu pikirku.
"Dan kupikir, adil akan tiba pada waktunya."
Label: daily life, Malika, Random; real world
07 Maret 2016
Sabtu, 05 Maret 2016
@3/05/2016 10:00:00 PM
"Kupikir, aku juga ingin punya hobi olahraga seperti kamu..."
Daniswara, yang sedang menikmati tempura sayur kesukaannya mendadak berhenti, menengadahkan kepalanya, menatapku dengan mata berbinar namun dengan tanda tanya tertera di wajahnya. Aku tersenyum simpul, menggulirkan mataku tak tentu arah. "Angin apa nih?" Tanya Daniswara--atau sebut saja dia J--akhirnya, tak kuasa membendung pertanyaannya.
Aku menghendikkan bahuku. "Yah, cari kegiatan baru? Rutinitas baru? Komunitas baru?" Berpikir sejenak "Selama ini, kamu punya hobi olahraga yang keren, Airsoft, dan setengah olahraga, lari-lari..." jeda sebentar "Aku juga... mmm, kepingin olahraga tapi yang enggak sekedar lari atau renang..."
J tersenyum. Lucunya, tempura sayur kesukaannya berhasil ia alihkan sementara hanya untuk ucapan anehku yang tiba-tiba. Mata cokelatnya menatapku lurus, teduh sekali melihatnya. Meski, yaaah, lama-lama aku merasa malu sehingga kupalingkan mukaku ke samping, mendadak memperhatikan dinding kayu yang nampak menarik dalam sekejap.
"Olahraga apa yang membuat kamu tertarik, Malika?"
Aku terdiam sebentar.
"Panahan dan berkuda."
"Mengikuti sunnah Rasulullah?"
"Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, tapi kukira omonganmu barusan ada benarnya," aku cengengesan, merasa malu karena melupakan pelajaran di sekolah dulu. "Sebenarnya hanya karena... terlihat keren," tambahku. "Sewaktu aku ikut ke denkav beberapa saat lalu, pas kamu ada jadwal main airsoft disana, kebetulan lagi ada kelas berkuda dan melihat kegiatan itu,.... menurutku, hmm, itu keren. Well. Aku takut kuda, tapi semacam ada keinginan untuk menaklukkan rasa takut di pikiranku, dan hal itu menyuruhku untuk menaiki kuda dan bisa menungganginya."
"Wow, kupikir kalau kamu takut sesuatu, kamu pasti bakal membencinya seumur hidupmu. Seperti laba-laba dan balon?" Tanya J takjub.
Aku bergidik.
"Itu beda, itu kan ketakutan traumatik, karena ada sebab sebelumnya. Kalau kuda kan, aku hanya... kau tahu, dikerubuti kuda sewaktu kecil begitu kau membuka pintu mobil itu sama sekali tidak menyenangkan, tau." Sergahku cepat. "Jadi sebenarnya aku bukan takut! Hanya jijik." Aku terdiam agak lama, lalu menambahkan: "Lagi pula, aku belum pernah melihat kuda sebesar dan segagah di sini..."
J mengangguk. Senyum diwajahnya semakin lebar setelah mendengar penjelasanku. "Kupikir, kalau berkuda biayanya akan mahal... tapi kalau panahan, aku bisa coba cari tahu," katanya dengan nada meyakinkan. Aku langsung menatapnya dengan kedua mata yang berbinar-binar. "Tapi, kenapa kamu ingin panahan? Kenapa enggak airsoft aja? Biar sama? Gegara Katniss Everdeen, kah?"
Pertanyaan terakhir sebenarnya sukses membuatku berpikir agak lama. Kadang, sekedar jawaban 'tidak mau' sama sekali tidak menjawab dan tidak memberi kepastian meski memang itu jawabannya. Maka, dengan kedua alis saling bertautan, ku pikirkan dengan keras jawaban yang sekiranya bisa membuat J puas.
"Kupikir... mencoba hal yang baru, enggak ada salahnya..." J menatapku. "Jujur saja, aku tidak terlalu tertarik dengan Airsoft dan untukku, hal itu sudah 'tidak baru' karena akan ada kecenderungan 'ah, minta tolong ke J aja dia kan lebih ngerti' alias bergantung padamu. Beda dengan aku melukis dengan cat akrilik, aku akan getol duduk depan kanvas menekuni satu demi satu cara yang cocok untuk bisa kugunakan, menekuni warna demi warna yang sekiranya cocok dan sesuai dengan apa yang kugambar. Begitu juga dengan panahan, kupikir, panahan mewakili apa yang ku sebut dengan sesuatu yang baru..."
Aku terdiam, memandang J yang tampak termenung dengan omonganku yang panjang lebar, mencernanya sedikit demi sedikit seperti biasanya. Lalu, dengan hembusan nafas yang berat, dan ekspresi muka yang sedikit cemberut, aku berkata:
"Dulu, kamu awal-awal ikutan dan aktif airsoft kan, sama mantanmu. Ga ada salahnya kalau aku juga ingin ngalahin hal itu dengan ngajak kamu panahan. Sesuatu yang di mulai berdua. Aku dan kamu."
J tersenyum lembut, sedikit terkekeh, tapi tangannya yang besar mengelus punggung tanganku, menenangkan kecemburuanku yang sebenarnya tak beralasan. Tapi setidaknya kan, aku jujur!
"Oke, kalau gitu, sabtu depan, kita panahan, ya."
Reaksiku?
Mengangguk dengan semangat, tentu saja!
Biasanya, kalau J sudah semangat dan berjanji sesuatu hal, dia pasti akan memenuhinya dan membantuku untuk mengumpulkan nyawa plus semangat agar tidak sekedar wacana. Meski yah, dia harus sedikit usaha ekstra karena di akhir pekan, tingkat kemalasan Malika akan bertambah duapuluh persen dari biasa.
Label: curhat, daily life, J, love, Malika, Real World
Tentang Daniswara, hari ini, dan kemarin, dan yang akan datang.
Selasa, 12 Januari 2016
@1/12/2016 11:57:00 PM
Hari ini, aku akan bercerita tentang Daniswara.
Lucu juga, mengingat sudah nyaris bertahun-tahun, aku tidak menulis tentangnya. Padahal, untuk pertama kalinya dalam hidupku, J satu-satunya lelaki yang mampu mendampingiku di atas tiga tahun. Dia begitu spesial, sangat spesial. Saking spesialnya, dan saking berharganya, untuk kali pertama, aku ingin melakukan yang terbaik untuknya.
Ada banyak hal dan kejadian yang kami lewati. Dan kalian harus tahu, bahwa pria yang akan berkorban sepenuh hati kepada perempuan yang dicintainya, itu nyata. Bukan hanya di kisah-kisah novel atau cerita-cerita biasa. Atau bahkan imajinasi liar yang sering kali menghampiri benak setiap wanita.
Daniswara adalah buktinya.
Sewaktu di gramedia, aku berpisah dengan J di deretan komik karena dia tau, gramedia adalah tempatku menikmati waktu. Dia sering kali membiarkanku keliling sendiri, sampai pada akhirnya akulah yang akan kembali padanya, memeluknya, dan dia akan bertanya "sudah selesai? Sudah dapat yang kamu cari?" Dengan suara lembut dan penuh kasih. Namun suatu hari, aku mendapati kejadian yang membuatku terpana, dan bisa dibilang, aku kembali jatuh cinta padanya.
Saat itu, aku sedang melihat-lihat alat lukis. Di deretan paling atas, aku mengambil satu pak kuas untuk kulihat-lihat. Namun, saat ingin kukembalikan ke tempatnya, aku tidak tahu kalau ternyata rak berisi map-map plastik yang tepat di sampingnya sedang tidak tersusun dengan baik dan karena pergeseran beberapa barang, map-map itu pun roboh. Aku seketika berusaha menahan map-map itu, akan tetapi saking banyaknya, aku tidak sanggup. Hingga akhirnya, aku hanya bisa memejamkan mata dan yang terbesit di pikiranku adalah membiarkan map-map itu jatuh menimpa kepalaku.
Hebatnya, map-map itu tidak jatuh, tapi tertahan oleh tangan besar yang melindungi kepalaku, terulur dengan tegap, sedangkan tangan satunya lagi memegang kepalaku--melindungiku. Saat aku menoleh, kudapati J berdiri dengan sigap, membantu merapihkan map itu dalam diam.
Detak jantungku tak beraturan.
Kejadian yang baru saja aku alami, persis seperti komik-komik yang sering aku baca. Ku pikir, cerita itu mutlak berada di petak demi petak halaman komik. Mutlak milik imajinasi perempuan yang katanya tak bisa terwujud di dunia nyata. Namun ternyata, dugaanku salah. J mewujudkannya, dengan sikapnya yang gentleman dan sigap, dia melindungiku, mengangkat imajinasiku di dunia nyata.
Melindungiku.
Sungguh, aku mencintainya.
Lalu, hari ini, kondisi tubuhku sangat tidak bagus. Dan percayalah, bahwa laki-laki yang katanya cuek, yang katanya tidak bisa mengurus rumah tangga, yang katanya tidak bisa diandalkan, semua itu dipatahkan oleh J. Pemuda itu berhasil mematahkan argumen tentang pria. Dia merawatku, dia memasakkan makanan untukku, mengantarku ke dokter, memastikanku sembuh, memberiku perhatian yang tiada duanya.
Tuhan, terima kasih karena telah memberikan J untukku. Terima kasih karena kebaikannya yang selalu ada untukku. Semoga Engkau membalas segala kebaikannya, memberikannya yang terbaik, melancarkan segala urusannya, memudahkan cita-citanya, dan melindunginya selalu.
Selamat tanggal 12 di tahun yang baru.
Label: curhat, daily life, J, love, Malika, Real World
Dummy
Kamis, 24 September 2015
@9/24/2015 05:38:00 PM
Susah, buat ngilangin rasa kesinggung sewaktu orang yang dikira paling ngerti kamu, malah nanya "kamu teh minta di perhatiin?!" Saat kamu emang lagi diem aja/males ngomong.
Seidentik itukah, diamnya perempuan dengan mengais perhatian? Atau malah sebemarnya, dia sama sekali tidak mengerti?
Label: curhat, Malika, Random; real world
Tentangmu, Matheo.
Selasa, 25 Agustus 2015
@8/25/2015 11:27:00 PM
Lalu suatu malam, Line ku berbunyi nyaring, saling bersahut-sahutan dengan cepat seolah tak sabaran mengambil perhatianku. Kupikir, itu J, karena jam-jam segini jarang sekali ada yang menghubungiku selain dia--ada sih, biasanya There, tapi itu pun sudah mulai jarang karena gadis berambut pirang-ombre itu belakangan ini terlihat sibuk dengan pekerjaan barunya. Jadi, dengan ogah-ogahan, kuraih handphone putih milikku itu dan tidak sampai setengah menit, kedua alisku langsung menempel satu sama lain setelah mataku membaca sederetan pesan singkat di layar.
Dari There.
Dan tentang kisah cintanya yang kandas sebelum mekar.
Aku mengernyit membaca setiap kata demi kata dari pesan There, memahami ceritanya tentang bagaimana lelaki itu memperlakukannya, menggilai pekerjaannya ketimbang dirinya, menyangkut-pautkan masa lalu dengan masa sekarang siapa dirinya, dan segala macam hal lainnya yang sukses membuat seorang There, sahabat kuliahku yang tak mengenal patah hati, tegar, dan kuat, serta berpikir positif tentang akhir suatu hubungan, menangis pilu. Sesegukan, katanya.
Aku tak pernah melihatnya seperti itu, selain saat ia kehilangan ayahnya. Bahkan saat dia mengenal patah hati untuk pertama kalinya sewaktu masih berpacaran dengan si Musim Panas, aku tidak tahu apa-apa. Jadi bisa di bilang, ini benar-benar pertama kalinya aku melihat There seperti ini, karena lelaki (selain ayahnya).
"Putus ketika lo masih sayang itu rasanya sakit, Ka. Sakit. Banget." There menangis "Tadi pagi, dia dateng kerumah, biasa aja, tapi malem ini gue nangis lagi, gue kangen... gue sama dia masih saling sayang, masih sayang-sayangan, tapi beda rasanya, Ka. Dia udah ga bisa gue genggam, sekuat apa pun rasa sayang gue sama dia..."
Kutatap pilu tulisan-tulisan itu, mendengarkan dengan seksama, membiarkannya bercerita panjang lebar tentang hatinya yang terluka. Aku tahu betul perasaannya. Tentang hancurnya perasaan There, tentang semuanya, tentang Matheo.
Membaca kisah There, aku mengingat kisah Matheo seketika. There yang putus meski masih sayang, aku pun demikian. There yang sudah dua hari menangis karena sakit hati bercampur rindu, aku pun demikian, yang mungkin lima sampai enam hari. There yang putus karena sang mantan sibuk bekerja, tidak sama denganku--dengan Matheo yang menduakanku.
There pun bercerita, selama tiga-empat bulan ini, dia jarang bertemu dengan mantannya karena mantannya sibuk bekerja. Ketemu pun hanya hitungan jari. Ah, aku pun mengingat Matheo. Tiga tahun satu bulan lamanya menjalin hubungan, aku pun hanya bertemu hitungan jari, LDR pula.
There yang masih menyukai mantannya.
Dan aku, yang terkadang masih memikirkan Matheo.
Sungguh, aku sama sekali tidak ada niatan membanding-bandingkan kisahku dengan kisah There. Hanya saja, kemiripan ini membuatku ingin There tahu, dia tidak sendirian dan aku tahu betul perasaannya. Namun, aku takut, kalau kiceritakan, nanti There menganggap aku ga mau kalah? Padahal, aku benar-benar tahu perasaannya, tentang rindu tak tertahankannya, tentang sulitnya bertemu, tentang lost contact berminggu-minggu, tentang berakhirnya cinta karena mata yang sudah tidak tertuju padamu--pekerjaan, dan cinta yang lain.
"Menangislah," kataku.
Dulu, aku menangis hebat saat putus dengan Matheo. Inggrid, Shafa, dan Mira-lah yang sering kali kuganggu tiap malamnya. Menceritakan dengan detil setiap kerinduan dan sakit hati yang kurasakan. Membiarkan mataku sembab dan memerah dihadapan mereka tanpa tahu malu. Dan bagiku, kehadiran mereka lah yang perlahan membuatku bangkit dari keterpurukan, menyadarkanku bahwa kehilangan perhatian dari seseorang tidak menutupi perhatian orang lain. Dan sampai saat ini, aku bersyukur bertemu mereka.
"Lalu, lupakan. Dengan cara apa pun. Kerja? Traveling? Olah raga? Luapkan dengan cara dan hal positif."
Yah, pelarian keduaku adalah kerja. Atau bisa dibilang, aku menggilai Tugas Akhir ku waktu itu. Tentu saja dengan tujuan membuatku lupa akan Matheo. Dan berhasil. Meski hal itu berlangsung lama. Dua bulan. Namun, tidak ada salahnya, bukan?
"Setelah itu, kembali lah pada teman-temanmu, berkumpul, bermain, tertawa, dan berbahagia bersama mereka, agar kamu sadar kamu tidaklah sendirian."
Sebagaimana keluarga kecilku melakukan dan menyadarkan itu padaku. Lima bulan, bukanlah waktu yang lama. Namun sungguh berarti, membuatku bahagia dan bersyukur memiliki mereka. Aku mengenal betul perasaanmu, There, sungguh. Dan aku akan ada dsini untuk selalu mendengar keluh kesahmu. Mungkin memang tidak spesial, tapi setidaknya aku mengerti perasaanmu.
"Ka..."
"Ya Re?"
"Gue masih sayang Ka..."
Aku tersenyum.
"Menangislah, lalu lepaskan. Ikhlas."
There terisak pilu.
"Percayalah, ikhlas bukan berarti lupa. Tapi menerima."
Label: curhat, love, Malika, Random; real world, Theo, There
Mimpi.
Minggu, 28 Juni 2015
@6/28/2015 09:56:00 AM
Ini tentang mimpi tadi pagi, tentang hal yang menurut saya berhasil membuat saya terpana dengan apa yang terjadi. Mumpung saya masih ingat, akan saya tulis lewat blog.
Saat itu, yang saya tahu, saya sedang berulang tahun dengan kondisi rumah lengkap ada semua keluarga saya. Tidak hanya keluarga inti, tapi juga ada keluarga besar yang begitu saya masuk ke rumah, mereka mengucapkan sekaligus merayakan ulang tahun saya dengan kejutan-kejutan lucu dan menyenangkan. Hingga pada suatu ketika, dari sudut kanan, saya melihat ada seorang pria, tinggi (lebih tinggi dari Daniswara, pula), berbaju putih dengan celana hitam pendek selulut, menghampiri saya dengan cake coklat kecil di tangannya, mengucapkan "selamat ulang tahun", meletakkan cake nya, lalu tersenyum menatap saya.
Saya balas tersenyum, sambil berucap terima kasih, disusul dengan tepuk tangan riuh dari keluarga, saya merasa pipi saya merona kemerahan. Antara malu, tapi juga tersipu. Pemuda itu bukan Daniswara, aku tidak kenal, tapi sebenarnya juga mengenalnya. Lalu, pemuda itu pun berlalu, meninggalkan hingar bingar perayaan tanpa berucap apa-apa lagi.
Kemudian, di dorong rasa penasaran, saya bertanya pada nenek saya (almarhumah, duh saya jadi kangen) "si ----- kemana?" (Saya tidak ingat siapa namanya, malah saya yakin, di mimpi itu pun saya tidak menyebukan namanya, hanya gerakan mulut tak jelas). Nenek saya tersenyum sambil mejawab "ada di kamar sana, sama Haris"
Saya pun menghampiri pemudia itu, melewati ruang makan yang tertata rapi, dan melihatnya tengah tidur-tiduran di kasur, di sebuah kamar laki-laki bersama dengan sepupu laki-laki saya. Saya, yang sebelumnya mencolek krim cokelat di tangan kanan saya dan disembunyikan di balik punggung, memanggilnya pelan. Pemuda itu datang menghampiri, tersenyum.
Lalu, kucolek wajahnya dengan krim cokelat, membuatnya tampak berantakan sambil tertawa bersama-sama. "Kok sekarang, dicukur sih, jenggot sama kumisnya?" Saya bertanya polos, dan lagi-lagi, untuk beberapa saat, pertanyaan barusan hanya di jawab dengan senyuman, sampai akhirnya dia berkata ingin merubah image sebagai jawabannya.
Saya mengangguk pelan.
Dan tiba-tiba, tubuh saya tersungkur kebelakang, menghantam dinding dengan kedua tangan ditahan oleh lengan besar pemuda itu, sekaligus menghimpit tubuh saya seakan-akan takut saya pergi dan berontak. Dia menatap saya dengan lembut, tapi juga pilu, sedangkan saya hanya bisa menatapnya dengan tanda tanya besar, bingung. "A-apa? Kenapa?"
"Aku menyukai mu, aku akan menunggu mu sampai ratusan tahun sampai kamu berkata kamu mencintaiku, memilihku, dan bersanding denganku. Aku akan menunggumu, bersabar melihatmu dengan Daniswara, sampai pada akhirnya aku tahu, kamu memang punyaku."
Saya terpana, mengigit bibir saya, takut sekaligus tersipu. Tangan saya mulai bergerak memberontak, namun sia-sia. Dan saya terbangun dari mimpi saat pemuda itu mengecup leher saya, membuat merinding ketika mata ini terbuka menatap realita.
Saya benar-benar mengenalnya, kah?
Label: dream, J, Journal, Malika, Random; real world
Komik
Minggu, 31 Mei 2015
@5/31/2015 01:24:00 AM
Kadang kala, saya berpikir pasti asyik, mengalami masa-masa sekolah seperti yang sering kali saya baca di komik-komik Jepang. Bukan, bukan berarti saya ter-brainwash karena kebanyakan baca komik seperti itu, tapi lebih ke perasaan iri bercampur penasaran. Dari kecil, saya terbiasa baca komik seperti ini, jadi saya tidak terlalu terpengaruh karena... yah, komik kan tidak selamanya berdasarkan kenyataan.
Masa SMA saya, bukan masa sekolah yang asyik. Memang, saat SMA, saya mendapatkan banyak teman, pengalaman, keahlian, dan kenangan yang abadi di benak saya. Saya bahagia, tentu saja, tapi tidak sepenuhnya. Bahkan kalau misal bisa main hitung-hitungan, saya banyak sekali penyesalan nya.
Saya mengalami masa-masa pacaran saat SMA. Bahkan, berada diantara dua laki-laki seperti kebanyakan komik-komik Jepang pun, pernah. Bisa di bilang, sebenarnya juga mirip sekali dengan kehidupan di komik-komik itu. Akan tetapi, mungkin rasa iri yang ada di hati dan pikiran saya, adalah saya tidak mendapatkan ending yang memuaskan seperti di komik-komik itu. Malah, happy ending pun tidak.
Sekarang, saya mempunyai pasangan yang baik, yang sebanding dengan saya, yang bisa melengkapi, dan memenuhi saya. Meski masih banyak kekurangan, saya senang. Sekalipun terkadang, saya ingin sekali kembali ke masa SMA dengannya. Sayangnya, saya berbeda sekolah, dan beda sekolah di sini super tidak sama, sama sekalo, dengan kehidupan komik Jepang yang sering saya baca.
Tapi ya...
Begini saja sudah alhamdulillah.
Bersyukurlah.
Label: J, Journal, love, Malika, Random; real world, Sylvester
Kangen.
Jumat, 27 Maret 2015
@3/27/2015 10:09:00 PM
"Aku pasti pulang kok," katamu berkali-kali setiap kali kutanya kapan pulang. Aku bisa membayangkan, kau berkata seperti itu sambil tersenyum lembut, menenangkan. Bahkan, kalau saja kau ada dihadapanku, mungkin jemarimu yang terasa kasar namun sehangat matahari pagi, pasti tak luput membelai rambutku--menyelipkan beberapa helai rambut hitamku ke balik telinga, sembari menatap mataku dengan tatapan menenangkan yang aku sendiri tidak tahu dari mana datangnya. "Yang sabar, yah?" Lanjutnya, selalu.
Dan seperti bumi yang berputar, aku pun kembali menghela nafas, dan memang hanya bisa begitu--mengalah pada keadaan, sampai pada akhirnya anggukan kecil menjadi jawaban mutlak bagiku untuk menuruti perkataanmu. Kadang, kalau sudah begini, responmu ada dua: tersenyum, atau tertawa. Aku sendiri tidak pernah bisa menerka alasan di balik senyumanmu, apalagi tawamu. Apakah rasa kangenku ini tampak seperti stand up comedy yang "keadaan-sebenarnya-tapi-lucu" ? Atau malah terlihat seperti ungkapan anak kecil berusia lima tahun? Sesekali terbesit dipikiranku untuk bertanya padamu, tapi, ah, kau kan, memang begitu. Tak perlu kata-kata kiasan atau apa, kau cukup tersenyum, maka hatiku akan tenang. Begitu, kan?
"Tapi aku kangen..."
Senyum itu lagi.
"Aku juga..."
Hening.
"Aku tidak suka seperti ini. Kamu kan tahu, aku punya pengalaman buruk--sangat buruk, malah, tiga tahun!!--menjalani hubungan jarak jauh begini..." ucapku manja. Dan lihat! Kau hanya tersenyum!! "Kamu ga ngerasain, sih..." lagi-lagi, aku merajuk.
"I know, dear. Aku sangat tahu perasaan kamu, bahkan cerita menyebalkanmu itu," dia masih mempertahankan senyumnya, "tapi kan, aku beda? Aku bukan orang itu, aku bukan orang yang seperti itu--apa pernah aku enggak bales LINE kamu, sayang?" Kugelengkan kepalaku pelan, "enggak, kan? I'm here, my dear. Sekali pun kita jauh, aku dan kamu sama-sama berusaha buat ngejaga komunikasi, kan? Sama-sama ngejaga perasaan, kan? Sama-sama percaya, kan? Tanpa kita sadari, kita sama-sama ngelakuin hal yang sama, ngerasain yang sama, dan mengambil tindakan yang sama." Aku mendengus, jelas merasa kalah karena sikap manjaku seketika patah oleh argumen mutlaknya itu. "Lagian, cuma sebulan kok, dan bentar lagi juga aku pulang. Ga kerasa, kan? Jai kamu sabar yah..."
Aku mengangguk pelan.
"Malika," ku tatap mata cokelat yang terpampang di layar handphoneku--wajah Daniswara yang lembut seketika berhasil membuat rasa rinduku bergejolak semakin brutal. "I love you."
Label: curhat, Drabbles, J, love, Malika, Random; real world
Selasa, 24 Maret 2015
@3/24/2015 07:49:00 PM
Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika.
Jika dia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk..
Jika dia memang takdir bagi ku, pantaskanlah dia untuku dan pantaskanlah diriku untuknya..
Ya Rabb..
Aku memilihnya karena sebuah keyakinan
Dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya
Dengan seluruh luka dan bahagia yang menyertai hidupnya..
Aku selalu berdoa kepadamu untuk memintanya dengan seluruh apa yang telah Engkau berikan untuknya..
Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika.
Aku yakin bahwa tidak ada Ketetapan Mu yang salah.
Aamiin ya rabbal 'alamin..
Label: daily life, J, Journal, love, Malika, pray, Real World
Different
Senin, 23 Maret 2015
@3/23/2015 03:48:00 PM
Kutatap deretan angka yang ada pada kalender di meja belajarku dengan tatapan kosong. Malah, mungkin dengan tatapan bego yang berada di perasaan antara percaya tak percaya. Berkali-kali kuperjapkan mataku, memastikan apa kah minus mataku bertambah, jadi aku bisa salah liat, atau bahkan sebenarnya, aku benar-benar memastikan bahwa apa yang aku lihat tidaklah salah.
Sudah tahun dua ribu lima belas. Artinya, meski belum bulan Agustus, sudah genap tiga tahun lamanya aku bersama dengan J, bersama dengan laki-laki bermata cokelat yang selalu berhasil membuatku tenang. Sungguh tidak bisa kupercaya, sebenernya. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama, tapi bukan berarti kenangan yang didapatkan hanya sedikit--malah, sangat banyak sampai-sampai aku harus mengorek-orek ingatanku tentang hari-hariku bersama J.
"Hei, kok bengong?" Suara J mengagetkanku, menarikku kembali dari awang-awang kenangan. "Dari tadi ngeliatin apa?" Tanyanya lagi.
"Ngeliatin kalender," jawabku pelan. J hanya tersenyum memaklumi. "Ga nyangka, sekarang udah tahun dua ribu lima belas," tambahku. "Menurut kamu, waktu terasa cepat, apa lama?"
"Kalau sama kamu, segalanya ga kerasa lama, bahkan waktu aja udah kayak lalat, terbang cepet banget, ga berasa," jawab J sambil tersenyum. Duh, ngegombal terus! Rasanya mau marah tapi senyumannya itu malah membuatku salah tingkah! "Tapi sekali pun buatku terasa seperti itu, tetap sangat berarti kok." Aku tidak menjawab apa-apa, hanya manyun. "Ga usah merah gitu dong, pipinya..." tambah J dengan tawa renyahnya. "Memang kenapa sama tahun ini?"
"Hmm... ga berasa ya, kalau kita udah mau tiga tahun? Aku kepikiran aja gitu, banyak yang berubah dari diriku sendiri," J menatapku lekat-lekat, memintaku untuk terus bercerita meski tidak berucap apa-apa. "Yah, kayak misalnya... dulu aku paling ga suka pegangan tangan karena risih, tapi sekarang kalau aku ga pegangan tangan sama kamu rasanya ada yang kurang... terus dulu aku suka sekali curhat lewat tulisan, entah lewat blog atau lewat buku diary, sekarang malah tiap kali aku curhat, pasti langsung aku utarakan, dan cuna ke kamu... dulu ingatanku parah banget, tapi sekarang aku masih bisa mengingat kejadian-kejadian yang kita alamin entah itu kejadian buruk atau kejadian yang baik."
Laki-laki bernama Daniswara itu tertawa pelan, bukan dengan nada mengejek, tapi seperti tertawa kemenangan, apa tertawa puas, aku tidak terlalu yakin. Tapi tawanya itu berhasil membuatku ikut tersenyum malu. "Kenapa ketawa? Aneh ya?" Tanyaku memastikan.
J menggeleng. "Kalau sekitar kamu, apa yang menurut kamu berubah?"
"Hmm, banyak. Teman-teman sekarang jadi pada jauh--bukan hubungannya tapi tempatnya, kayak Inggrid, Aina, Anggraeni, There, sekarang udah pada di Jakarta dan susah ketemu. Lalu Mira, Shafa, dan Bintang punya banyak kesibukan jadi susah sekali ketemu, Anna, Otriya, dan Vina juga..." kupangku daguku dengan telapak tangan kananku, sedangkan tangan kiriku sibuk memilin-milin ujung rambutku. "Terus, sekarang status kita udah jadi wanita-wanita kantoran, atau apalah, bukan lagi mahasiswa lagi. Yah, Mira dan Bintang masih sih, itu kan karena umur mereka jauh dibawah umurku," kuputar bola mataku, memandang ke segala arah, mencari-cari jawaban lain. "Lalu... yah, banyak hal. Seperti sekarang aja, ga nyangka kalau kita ngobrol harus lewat handphone, entah video call kayak gini, atau sekedar menelepon..."
J tersenyum, meski lewat layar handphone yang tidak terlalu besar, aku masih bisa melihat jelas kedua matanya yang sipit, tampak semakin sipit. Wajahnya tampak kucel, entah karena keringat atau karena debu. Mau tidak mau, aku pun ikut tersenyum, "Bukankah seharusnya kamu bersyukur, kalau ternyata hubungan kita bisa lebih baik? Bahkan jauh lebih baik?" Tanya J pelan. "Dan menurutku sih, kamu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, lebih manis, lebih nyebelin, lebih pengertian, lebih dewasa, lebih manja..." pemuda itu tertawa saat kutunjukkan ekspresi kesal sewaktu dia bilang aku lebih menyebalkan. Huh. "Hubungan itu bisa dibilang berhasil, bukan dengan menunjukkan kecocokkan, persamaan, apalagi sekedar perasaan, tapi juga apa yang dihasilkan satu sama lain, bisa saling membawa hubungan positif? Saling mengingatkan? Saling melengkapi?"
Kali ini, aku tersenyum. Malu-malu.
"Dan menurutmu, apa kita begitu?"
J tertawa, kali ini dia benar-benar terlihat bahagia.
Label: Drabbles, J, love, Malika, Random, Real World, Sylvester
I want to stay close to you, no matter what, because I love you
Rabu, 18 Maret 2015
@3/18/2015 05:16:00 PM
 |
| Sushi Tengoku!! |
Kalau ngeliat post tentang hari ulang tahun gue beberapa waktu lalu, sedih juga, ya? Hahaha tapi sebenernya, emang begitu. Sedih banget rasanya harus ngerayain hari ulang tahun di santo yusuf, waktu itu. Tapi sedihnya ga lama-lama juga, alhamdulillah, pacar saya ternyata enggak harus di rawat inap apalagi tindakan super lainnya.
Kalau ditanya kecewa ga, ngerayain ulang tahun dengan keadaan seperti itu, jujur aja sebenernya saat itu saya sama sekali enggak mikirin hari lahir, usia, apalagi perayaan. Waktu itu, yang saya pikirin, selain kasur (yes karena kurang tidur hehe), tentu keadaan Dije. Kenapa, kok bisa, karena apa, dan sebagainya. Dan biaya, pastinya, apakah mahal? Berapa? Yah, meski bukan saya yang bayar, tapi tetep aja ada kepikiran buat bantu bayar papanya :(
Yang harus saya syukuri selain kesembuhan Dije (yang alhamdulillah bisa pulang dan baik-baik aja), ternyata kesabaran, keikhlasan, dan doa saya berbalas dengan kebahagiaan sederhana, yang juga sebenarnya sudah lama saya panjatkan. Meski ada perasaan sedih bercampur takut dan.... ga ingin... alhamdulillah Dije dapat kerja! Lalu, tepat dua hari (eh?) Setelah Dije konfirm kerjaan itu, kita ngerayain ulang tahun saya di Tengoku :) alhamdulillah, meski saat itu perasaan saya campur aduk, tapi seneng :)
Sukses di sana ya, Daniswara. Semoga Allah memudahkan segala urusan kamu dan melimpahkan banyak rizki, kesehatan, dan berkah selama kamu mencari rezeki disana :)
Amiiin.
 |
| I'm gonna miss you. my Bear <3 td="">3> |
Label: Birthday, curhat, daily life, J, Malika, Real World
"Apa yang terjadi, maka terjadilah."
Minggu, 10 Agustus 2014
@8/10/2014 02:20:00 AM
Selamat dini hari.
Akibat tidur siang yang kelamaan tadi, pada akhirnya jam segini gue sukses masih melek dan bahkan enggak bisa tidur karena dengan gobloknya gue barusan minum kopi. Yaaa... Sebenarnya sih ga ngaruh kalau kopi, secara ga langsung gue udah mulai kebal dengan kaffein karena nyaris setiap hari mengkonsumsi kaffein membuat gue jadi terbiasa. Tapi kalau karena tidur siang bikin gue melek, itu beneran kok.
Hai apa kabar? Sudah sangat super lama pula gue ga pernah nulis blog ya? Realworld? Hmm lupa sih terakhir nulis tentang apa, dan padahal Shena ada vitur blogger for android kenapa juga gue masih malas nge-blog? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang sajalah.
Anw. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya semua. Gue sering kali nge-rant dan nyampah curcolan ga jelas ke kalian semua (terutama group support admin semi gossip di sana. *kiss*) dan juga sering kali membuat kalian susah. Tapi tenang, gue juga berterima kasih pada kalian karena masih mau mendengarkan gue. Thanks loh guys, tanpa kalian mungkin otak gue udah mau gila karena semua yang terjadi belakangan ini.
Ah. Omong-omong, belakangan ini banyak sekali orang-orang yang bertanya kenapa deactive account facebook dan twitter. Terima kasih kepada kalian yang sudah perhatian dan mau bertanya secara langsung mau pun diam-diam perihal akun sosial gue. Mari, gue jelaskan secara umum tentang maksud gue itu.
Beberapa bulan belakangan ini gue sukses mengalami hal paling berat dalam hidup gue (belum paling sih) dan melontarkan sesuatu yang negatif adalah perbuatan yang sangat mengganggu kebanyakan orang. Gue bisa berkata begini karena memang gue sering kali merasa terganggu pada orang-orang yang melakukan hal itu, dan karena gue ga suka, maka sebaiknya gue tidak melakukannya. Akan tetapi, godaan membuat status prihatin bukanlah hal yang sangat mudah untuk di tolak. Perhatian serta ucapan semangat dari berbagai pihak membuat gue menjadi haus akan perhatian dan pastilah lambat laun membuat gue menjadi orang yang terus mencari-cari perhatian. Gue ga mau dan demi mencegah hal itu, gue mematikan semua akun sosmed gue agar gue bisa tahan diri, dan untungnya berhasil. Meski dampaknya gue jadi sama sekali ga tau apa yang terjadi di luar sana, tentang berita dan tentang dunia.
Tapi setidaknya, gue mendapatkan sekumpulan orang-orang baik tapi bego di LINE yang bisa menerima sampahan gue dan mau menjadikan gue tempat sampah juga bahkan bisa membuat gue lupa akan sampah itu untuk beberapa saat. Well. Banyak temen gue yang seperti ini juga kok, tapi tidak banyak teman gue yang tau diri untuk memposisikan sesuatu hal dengan baik dan benar.
Akan tetapi, sekali pun beberapa kali gue mampu cerita ini-itu ke teman-teman, pada kenyataannya gue tetap berada dalam keadaan yang sangat stress berat. Dalam keadaan yang menutup diri. Dalam keadaan yang ingin lari. Gue sendiri ga tau kenapa. Rasanya cuma ingin senang-senang, ngumpul bareng, main sama J, jalan-jalan, dan sebagainya. Dan bahkan semakin work a holiv sampe kayak orang bego.
Huft. Gue ga jelas ngomong apa nih. Haha.
Semoga Tuhan membukakan jalan yang terbaik buat gue. Amin amin.
Label: curhat, J, Malika, Real World
Dua puluh tiga
Kamis, 17 Juli 2014
@7/17/2014 11:28:00 PM
Apa kabar? Sudah lama sekali saya tidak menulis blog ya? Padahal hutang fanfic dan cerita dan janji saya untuk terus menulis blog bertebaran dimana-mana. Oh ya ampun. Mungkin saya bermulut besar. Tapi faktanya saya memang membuat blog ini terbengkalai begitu saja. Maafkan saya ya. Ada banyak kejadian yang membuat panca indera saya tiba-tiba saling bekerja sama agar saya tidak lagi berpura-pura. Kalau mata saya tertutup, telinga saya yang bekerja dan begitu juga sebaliknya. Kalau mulut saya yang bungkam pasti tangan saya yang bergerak untuk "berbicara". Dan kadang jika hati ini enggan merasakan, air mata lah yang membuktikan.
23 tahun.
Waktu yang sangat sebentar. Seperempat abad pun belum di raih namun semuanya serba berat di pikul. Namun waktu yang sangat berharga pula untuk saya hingga bisa seperti sekarang ini meski kebanyakan orang berkata saya gila. Egois. Munafik. Dan keras kepala. Terserahlah orang mau berkata apa. 23 tahun di tempat yang sama. Di kehidupan yang sama. Di lingkaran yang sama. Perubahan tentu ada. Untungnya tetap ada agar hidup saya tidak monoton. Namun saya tak kuasa mengatur arah perubahan itu. Tak kuasa pula menentukan. Bahkan menerima kenyataan. Namun selama 23 tahun tidak ada yang sia-sia. Semua serba berharga.
23 tahun.
23.
Dua puluh tiga.
Label: curhat, Malika, Random; real world
“Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.”
Rabu, 21 Agustus 2013
@8/21/2013 01:09:00 PM
“Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.”
(Harry Potter and The Deathly Hallows)
— ♪ —
Halo, apakabar? Masih suka diam-diam membuka link blogku? Mungkin masih, tapi berani taruhan deh, pasti tidak sesering dulu dan pastinya ada sedikit rasa kecewa karena blog-ku sepi alias tidak lagi memposting tulisan-tulisan seaktif dulu, iya kan? Iya, sebut saja aku terlalu percaya diri sampai-sampai berani menulis seperti ini, hahahaha, tapi aku rasa sih, seperti itu. Siapa lagi sih yang aktif membuka blog-ku? Hello, aku tahu loh siapa-siapa saja yang sering membuka blog-ku. Tidak semua, tapi beberapa silent reader sih, aku tahulah.
Harus menulis apa ya? Aku sendiri bingung. Hmmm. Begini.
Pertama, terima kasih ucapan selamat kelulusannya, maaf juga ya enggak bisa menepati janji untuk lulus di bulan april kemarin, malah jadi lulus bulan july, ah tapi beda beberapa bulan doang kok, enggak jauh berbeda, malah sekalipun gagal, aku mendapatkan hal yang lebih baik—oh, aku percaya kalau kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Aku sudah memposting hasil karya Tugas Akhirku di facebook, entahlah kamu melihatnya atau tidak, aku hanya berusaha menepati janji yang lainnya (janji untuk lulus bulan april kan, tidak bisa aku tepati)—eh tapi, aku tetap lulus di tahun 2013 kok!
Hmm, lalu yang kedua, mungkin sudah mau satu tahun kita tidak berbincang-bincang sefrontal dulu. Iya sih, dulu enggak frontal-frontal amat juga, tapi seenggaknya kan, halo? Siapa lagi yang bisa memanggil namamu seenakjidat? Sayang sekali, sekarang berbicara denganmu rasanya kikuk, entah kamu yang kikuk, atau aku yang canggung. Tapi menurutku sih, bukan aku. Aku masih memperlakukanmu sama seperti tahun-tahun yang lalu, tidak ada bedanya dengan aku punya pacar atau tidak. Sepenglihatanku, kamu begini dan aku begini karena aku punya pacar. Memang kenapa kalau aku punya pacar? Ah ya, mungkin karena tulisanku sebelumnya yang aku-ingin-di-lamar-dan-tidak-mau-pacaran-dulu-itu? Kau mungkin kesal karena aku malah—semacam menjilat kata-kata sendiri? Tapi ada alasan kenapa aku malah pacaran dan bertolak belakang dengan tulisanku waktu dulu. Sesungguhnya, aku merasa aku tidak menjilat ucapanku sendiri karena menurutku, yang namanya lamar-me-lamar kan, enggak seenak jidat ‘hai mau ga jadi istriku?’ seperti itu, kan? Daniswara menunjukkan cara yang jauh lebih meyakinkanku selain dengan kata-kata semata. Dan janji-janji bodoh tanpa penyangga. Tahu tidak? Aku banyak berubah sejak mengenal (lebih) Daniswara. Aku tidak seargoan dulu, tauk! Aku juga tidak selalu lebih dulu mementingkan urusanku lagi.
Daniswara banyak mengajariku, karena katanya, kalau yang namanya menikah, atau minimal melamar, harus ada yang diluruskan terlebih dahulu. Komitmen, sikap, sifat, sudut pandang, kepercayaan satu sama lain, keinginan yang sama, dan terutama adalah agama. Mungkin, kebanyakan orang bisa berkata hal itu dapat dipelajari dan diluruskan setelah menikah. Tapi menurutku tidak. karena apa? Yang namanya menikah berarti berjanji akan hidup selamanya bersama. Bayangkan kalau semua hal yang barusan aku sebut itu berbeda, kita tidak mengenal satu sama lain, akan sulit dilalui. Tapi ya, terserah sudut pandang orang masing-masing, sih. Tapi percaya deh, pada akhirnya, Insya Allah, Daniswara akan mendampingiku dan aku sama sekali tidak menjilat ucapanku sendiri—buktinya, post blog-ku itu tidak aku hapus, kok! Omong-omong. Kudengar, kamu akan menikah? Selamat ya! Aku akan datang insya Allah kalau sempat, hahahaha! Dan lagi-lagi aku berjanji, kalau kamu sudah menikah, aku akan menyusul menikah setelahmu. Entah kapan sih, tapi doakan saja. Anw, aku tidak terlalu suka sudut pandang orang yang ‘ah-itu-kan-cuma-alasan-salah-tetap-aja-salah’ seperti yang—uhuk—belakangan ini ramai dibicarakan di twitter. Karena, aku rasa, (mungkin) orang yang paling bijak dan terpercaya di muka bumi ini pun selalu bertanya perihal alasan yang lebih mendalam dan membuka pandangannya seluas mungkin terlebih dahulu, baru memutuskan mana/siapa/apa yang salah dan mana/siapa/apa yang benar. Yah, lagi-lagi, ini sih, sudut pandangku.
Lalu ketiga—apa ya. Aku merasa banyak yang berubah selama satu tahun ini. Banyak. Banget. Tapi ada yang bilang, terkadang semua pertemanan akan dipisahkan dengan pernikahan masing-masing. Dan kalau pun dipisahkan karena pernikahan, yakinlah tidak ada yang meninggalkan siapa/apa pun dan tidak ada yang ditinggalkan siapa/apa pun. Aku sih, mencoba percaya. Insya Allah. Karena seperti apa yang aku kutip di atas, “Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.” tidak ada yang harus dipaksakan, bukan? Nah. Sepertinya, jalan kita berpisah di sini ya? Aku sudah melunasi janji-janjiku padamu—kecuali yang terakhir, itu sih menunggu waktu, insya Allah—jadi tidak ada yang perlu merasa meninggalkan beban satu sama lain, kan? Aku hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia dengan pilihan dan jalanmu, karena aku sangat-sangat-sangat bahagia dengan pilihan dan jalanku.
Omong-omong, kesannya seperti aku menulis ini spesial untukmu dan kamu adalah orang spesial untukku ya? Aku tidak bermaksud seperti itu loh, karena ketika perpisahan harus aku lalui, aku akan menuliskan satu post khusus (bukan spesial!) pada orang akan pergi itu. Tidak percaya? Aku menulis soal Dhika tahun lalu, kok. Jadi, ya, begitulah :D
Aku tidak menutup kemungkinan kita akan berbicara lagi. Jadi, hubungi aku kapan saja.
Label: Cerpen, Malika, Random; real world
Orang aneh; Pulang; Istirahat.
Sabtu, 16 Februari 2013
@2/16/2013 01:09:00 AM
Butuh waktu sekitar satu hari penuh untuk membuat rasa kesalku hilang seratus persen. Bisa di bilang, ini memecahkan rekor terlama aku melepaskan keluh-kesahku. Maksudku, biasanya, kalau aku menemukan hal-hal yang membuatku tertarik, dalam sekejap rasa kesalku hilang. Atau minimal, aku lupa dengan rasa kesalku. Tapi belakangan ini, tepatnya sejak sebulan yang lalu—full selama sebulan, tekankan itu—aku kesulitan mengendalikan emosiku. Yah, sebenarnya sih dari dulu, aku memang bermasalah dalam urusan mengendalikan emosi, kadang sekejap aku bisa meledak-ledak marah sampai mengeluarkan caci-maki dan berbagai cerca. Dalam sekejap pula, aku bisa tertawa-tawa untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu, dan aku pun bisa menangis hebat untuk hal yang tidak terlalu sedih tapi kalau itu mampu menyentil perasaanku dan sukses membuatku terharu, ya aku akan menangis. Tapi kebanyakan orang bilang, aku orang yang aneh—bukan karena aku bisa meledak-ledak seperti itu, tapi karena aku orang yang terbuka tapi juga tertutup. Bingung? Aku juga. Tapi Reo berkata seperti itu. Sering. Otaknya memang sudah tidak waras.
Hari ini aku sengaja untuk pulang terlambat. Hujan masih rajin mengguyur kota Bandung dari siang sampai malam. Hujannya tidak terlalu besar, tidak dengan petir seperti kemarin-kemarin yang sungguh sangat cetar-membahana seperti kata artis Syahrini, tapi hujannya lumayan awet, yang bisa membuat kamu meringkuk di dalam selimut meski kamu sedang berada di ruangan tertutup sekali pun. Aku sebenarnya sedang banyak urusan, tapi untuk hal Daniswara—atau J biasa aku sebut—aku selalu berusaha meluangkan waktu, malah sesekali aku sengaja melupakan urusanku, biarlah aku kelabakan sesudahnya. Kali ini, aku pulang terlambat bukan karena Daniswara (ada sih, sedikit, tapi bukan karena itu juga), tapi karena Reo. Reo termasuk salah satu orang yang bilang aku ini aneh. Dan Reo juga termasuk salah seorang yang menyarankanku untuk melakukan hal-hal yang tidak biasanya aku lakukan untuk 'menyembuhkan'ku.
Reo bilang, 'coba gih, main-main sendiri, kali jadi waras' padaku sekitar seminggu yang lalu. Saat itu, aku hanya tertawa dan menyebutnya gila sekaligus mengomelinya dengan 'peraturan-tentang-malika-yang-tidak-boleh-di-langgar-seenak-jidat' tapi sekarang, mungkin aku akan menari gangnam style di depan coco sambil chatting dengan Reo untuk membuktikan bahwa sarannya itu—well, berguna. Hari ini aku pulang terlambat hanya untuk mengambil rute yang luar biasa jauh dari rumah, berputar-putar dan berganti angkot berkali-kali. Ludes sudah uangku saat itu. Tapi entah kenapa, aku senang. Ah, aku benar-benar harus menari gangnam style karena saran Reo luar biasa ampuh. Aku melihat banyak orang dari banyak tempat. Di tengah rintik hujan dan hiruk-pikuk sudut perkotaan Bandung yang tak aku pernah sempat aku lihat karena biasanya, kalau sudah jam malam, mataku fokus pada jalanan yang mengarah pada rumah dengan pikiran 'peraturan-tentang-malika-yang-tidak-boleh-di-langgar-seenak-jidat'. Malam ini, aku melihat bahwa; aku masih menemukan sebuah keluarga yang tidak terusik dengan kehadiran smartphone. Sebuah keluarga yang smart, dan point tambahan sederhana. Aku juga melihat sepasang sejoli yang masih menggunakan fasilitas trotoar dengan payung berwarna biru laut di Bandung—mereka berjalan berdua, sepayung berdua, ditengah-tengah kota yang bergelimang kendaraan roda empat atau dua. Dan di angkot, aku masih melihat ada orang tua yang mendengarkan celoteh anaknya dengan sabar di antara segelintir orang yang justru menyuruh anaknya diam ketika mereka ingin bercerita entah karena malu atau karena takut membuat penumpang lain merasa berisik. Aku melihat hal-hal yang tidak pernah lagi aku lihat belakangan ini, dan aku kangen.
Begitu aku pulang, aku kembali mendapati sebuah fakta dan realita yang biasanya aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Jangan tanya apakah itu hal yang positif atau negatif, aku sendiri tidak tahu. Aku tidak langsung menuju kamar, tapi aku berlalu menuju ruang kerjaku, melihat semua usahaku tak membuahkan hasil sama sekali. Bahasa kerennya, sia-sia. Dan saat aku sampai ke kamar, aku bercerita pada Reo dalam fitur Yahoo!Messenger tentang semua yang aku alami, dari saat matahari muncul di pagi hari, sampai kakiku menginjak kamar hari ini. Tidak dengan tarian gangnam style karena aku sama sekali tidak mengungkit soal saran Reo yang aku tepati. Hei, aku tidak licik, aku hanya mengendalikan situasi. Well, begitu disebutnya. Dan aku berkata pada Reo:
"Lo pernah ga, ngerasa enggak nyaman dalam satu keadaan, tempat, atau waktu secara bersamaan? Gue, setelah apa yang gue alami hari ini, gue merasa kayak gitu. Gue pengen pulang, pengen banget pulang yang padahal, lucunya, gue udah di rumah. Gue kangen sesuatu yang ga tau apa itu, gue pengen balik ke tempat yang kalau di tanya tempat apa itu, gue juga ga tau, yang jelas perasaan gue sekarang, gue pengen pulang, pengen banget pulang, Re."
Reo hanya menjawab singkat : "Lo makin aneh" lalu dia sign out.
Dan aku teringat Dhika.
Well, aku rasa aku ini bukan orang aneh. Aku hanya sedang frustasi dan depresi. Mungkin.
Label: Bandung, curhat, galau, Malika, Random, Real World, Reo
Memori
Kamis, 11 Oktober 2012
@10/11/2012 08:56:00 PM
Cerita tentang Matheo mengalir begitu saja dari bibirku. Lancar tanpa jeda.
Hebatnya, tidak ada air mata.
J bertanya padaku perihal Matheo, dan tanpa basa-basi kuceritakan semua tentang pemuda kelahiran Jakarta awal Agustus itu. Tentang bagaimana aku menyukainya, bagaimana aku menunggunya, bagaimana aku berubah karenanya, dan tentu saja aku juga bercerita bagaimana aku hancur karenanya. Memang kuakui, tidak semuanya kuceritakan pada J tentang siapa Matheo, tentang bagaimana sosok Matheo yang sebenarnya—seperti There, kukatakan bahwa mereka tidak mengenal Matheo seperti aku mengenalnya, dan aku hanya menceritakan hal-hal yang umum. Well, mungkin bagi mereka umum, tapi bagiku tidak, dan kukatakan sekali lagi, mereka tidak mengenal Matheo seperti aku mengenalnya. Namun kutekankan pada J bahwa aku tidak lagi memikirkan Matheo—dan aku sama sekali tidak membencinya. Biasa-biasa saja, tidak lebih dan tidak kurang. J bertanya apakah aku masih sering menghubunginya atau tidak, dan aku hanya bisa menghendikkan bahuku. Kadang kami saling kirim message, atau sms, tapi itu benar-benar sangat jarang. Sesekali Matheo meneleponku, tapi aku bilang dan memang ini yang sebenarnya, kalau aku enggan menerima telepon darinya. J menatapku, bingung. “Aku pernah berkata padamu, kadang melupakan sesuatu itu adalah cara yang terbaik.” Jawabku meski aku yakin, ucapanku itu sama sekali tidak bisa diterka maksudnya apa.
Dan pemuda dihadapanku itu tersenyum, mengangguk sembari menggenggam tanganku erat-erat.
Aku mengernyit. “Boleh aku tanya sesuatu, J?” mata cokelat itu menatapku dan lagi-lagi seperti ada yang menggelitik ketika tatapan kami bertemu. Aku suka matanya, tapi terkadang aku kesal dengan sensasi yang dibuatnya. Tidak terbiasa, mungkin. “Tanya apa?” J bertanya lembut, tangannya masih menggenggam tanganku dan aku pun menunduk menatap kedua tangan yang sedang bertautan itu. “Kenapa kamu senang sekali memegang tanganku?” jeda sebentar, aku menghela nafas. “Aku tidak terbiasa di pegang tangannya seperti ini, jujur saja,” kataku pelan, takut menyinggung perasaan J. Di luar dugaan, J tertawa. “Kalau ibarat kita ini murid Hogwarts ya Mal, dan kita sedang berada di kelas Patronus, memegang tangan kamu adalah ingatan yang membuatku paling bahagia.”
Untuk beberapa saat, J tidak berkata apa-apa dan aku menunggunya dengan sabar. Ucapannya sama sekali tidak menjawab apa-apa—menjawab sih, tapi masih menyisakan tanda tanya. J tersenyum melihat wajahku, dan aku secara refleks ikut tersenyum juga. “Dulu, waktu aku akhirnya bisa ngajak kamu jalan ke BIP buat nonton film Meet the Fokker, di situ pertama kalinya aku bisa megang tangan kamu, dan rasanya seneng banget. Malah, filmnya sama sekali enggak aku perhatiin,” dia tertawa kecil, sedangkan aku hanya bisa menatapnya kikuk. Memori dikepalaku berputar-putar, kupaksakan diri untuk mengingat kenangan bersama dengan J sewaktu SMP meski berujung membuatku sakit kepala. Dan lamunanku buyar ketika pemuda bermata sipit itu kembali bercerita “Kamu tahu, kapan aku pertama kali suka sama kamu?” pertanyaannya membuatku menggeleng cepat. Aku sama sekali tidak tahu—aku hanya tahu dia menyukaiku sejak SMP, tapi sejak kapan lebih tepatnya aku tidak tahu apa-apa. “Dulu, kita pernah ikut event di Jalan Jakarta untuk menggambar di tembok dengan tema Bandung. Di situ aku pertama kalinya digodain anak-anak karena ketahuan merhatiin kamu, dan yah, namanya juga anak SMP,” dia tersenyum, matanya menatapku tapi aku yakin, J sedang kembali ke memori-memori SMP-nya “Dan entah kenapa kenangan itu susah banget dilupain.”
Aku tersenyum tipis, menunduk malu karena entah kenapa tiba-tiba mukaku terasa panas. “Aku… sama sekali enggak inget kalau dulu kita ikutan event di Jalan Jakarta itu—samar-samar, iya, aku ingat, tapi sepertinya enggak sekuat memorimu,” J nyengir, dia memaklumi. “Lalu?” kutuntut pemuda itu untuk terus menceritakan tentang kisahnya—entah kenapa aku sangat penasaran. “Sebenarnya, untuk yang paling pertama kalinya itu pas lagi upacara. Kamu dapat simpati aku saat itu.”
“Upacara? Kakiku kena kenalpot?” J pernah cerita seperti itu, makanya aku langsung bertanya.
Tapi J menggeleng. “Bukan—sorry ya kalau bikin sedih, tapi waktu itu, ada kabar kalau sepupu kamu meninggal dan kamu sedang menangis dibelakangku,” aku mengerjapkan mata, sedikit kaget karena J masih ingat tentang almarhum sepupuku itu. Yah, diingat-ingat, aku memang sangat kehilangan, begitu juga kakakku. Taruhan, pasti diingatan J, kakakku yang kebetulan satu SMP dengan kami juga menangis sedih sepertiku. “Nah, di situ aku mulai penasaran tapi aku belum tau nama kamu, kalau enggak salah, kelas 1 akhir apa kelas 2 awal gitu, aku juga agak lupa,” J menggenggam tanganku lembut, mengusap-usap punggung tanganku yang bisa kuartikan sebagai gerakan menenangkan—dia pasti khawatir aku kembali sedih mengingat tentang sepupuku. Tapi yang bisa aku lakukan hanya tersenyum dan berkata “lanjutkan ceritamu,” padanya. J kembali bercerita, matanya menatapku. “Akhirnya, karena penasaran, aku tanya sama anak-anak yang kebetulan ada di barisan kamu, nanya siapa nama kamu. Setelah tahu siapa kamu, anak kelas mana, dan ikut ekstrakulikuler apa, aku putuskan untuk pindah ekstrakulikuler yang sama—dari Palang Merah ke Reka Rupa. Yah, sebenarnya juga karena bosen, sih.”
“Lalu di Reka Rupa, aku kenal kamu, ikut-ikutan manggil kamu ‘J’, dan sering ngobrol…”
“Iya, kamu waktu itu benar-benar galak—kau tahu, bahkan ayahku ingat kamu pernah nyakar aku.”
“HAH?!”
Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu tertawa. “Yah, begitulah. Kamu tahulah aku kan dekat dengan kedua orangtuaku—jelas mereka tahu aku suka siapa waktu itu, dan segala-gala cerita tentang kamu aku ceritain. Termasuk kamu yang galak itu,” mungkin, kalau dihadapanku ada cermin, pasti mukaku sudah merah seperti kepiting rebus. Bahkan pipiku terasa panas. Aku malu. “…seriusan,” J tertawa mendengar keluhanku dan dia hanya mengacak-ngacak rambutku dengan sayang. “Kamu ingat kita pernah ke Nu Art sama anak-anak Reka Rupa?” aku mengangguk, memori tentang museum seni yang pertama kali aku datangi saat itu jelas sangat membekas di kepalaku, tentang patung besar, membuat patung tanah liat berbentuk kucing bersama Davina, melihat karya-karya seni yang tidak hanya berupa lukisan atau patung, dan sebagainya. “Aku enggak pernah luput merhatiin kamu.”
Panas. Pipiku panas. Dan jantungku berdetak cepat.
“Aku tidak pernah ingat apa-apa tentang masa-masa SMP—bahkan denganmu,” sebenarnya aku tidak mengerti, yang sekarang ini aku rasakan adalah malu atau takut, atau bahkan kecewa. Semacam rasa sakit tiba-tiba menusuk di dadaku mendengar semua penuturan J. “Kadang kepikiran aja sih apa kamu kecewa atau enggak,” kuucapkan kegelisahanku pada akhirnya, dengan suara pelan, sangat pelan bahkan sampai-sampai J harus mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuhku, dan menoleh sedikit ke kanan agar telinga kirinya bisa benar-benar mendengar ucapanku barusan. Kuulangi perkataanku lagi; lebih pelan. J tersenyum memaklumi. “Tidak apa-apa, sebenarnya aku juga udah nebak-nebak sih kamu pasti enggak ingat apa-apa. Tapi aku yakin, semua itu bukan berarti kamu enggak punya kenangan apa-apa,” genggamannya semakin erat, tapi sama sekali tidak membuatku kesakitan. “—ada sih yang aku ingat, satu hal, tapi ini norak,” aku cengengesan, padahal cerita saja belum, “kamu enggak pernah ganti nomor handphone sejak SMP, kan?” ekspresi J kaget, dan itu di luar dugaanku.
“Loh kok tahu?”
“Tiga digit nomormu itu paling nempel di kepalaku. Bahkan… aku dari dulu ingat nomormu.”
“Wah?”
Mataku berputar-putar menatap sekeliling, agak kikuk, malu-malu untuk bercerita. “Dulu kamu pernah kehilangan handphone—eh apa simcard-nya yang patah ya, aku lupa—dan aku tanya ‘berarti kamu ganti nomor dong’ dan kamu bilang enggak ganti nomor, nomor kamu tetap sama karena kamu pernah daftar fitur apa gitu langsung di provider-nya jadi kamu bisa minta simcard baru dengan nomor yang sama,” J langsung tertawa mendengar ceritaku, padahal aku belum selesai bercerita; aku keheranan melihatnya. “Oooh!! Iyaa! Aku ingat! Hahahah,” kugaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak gatal sewaktu melihat J tertawa lepas seperti barusan. “Norak, kan?” tanyaku. J masih terkikik geli. “Nope. Malah aku tersanjung loh kamu inget nomorku.”
Aku tersipu, dan J kembali bercerita.
“Dulu, inget ga, aku sering nelepon ke rumahmu?” aku menggeleng pelan ketika dia berkata seperti itu. “Cuma untuk berbicara denganmu, aku bela-belain keluar rumah, ke wartel buat nelepon kamu, denger suara kamu, hahahaha.” J menggenggam tanganku dan aku perlahan-lahan membiasakan diri dengan perlakuannya itu. Memang, jujur saja aku sangat jarang berpegangan tangan dengan laki-laki bahkan dengan Matheo pun bisa dihitung dengan jari berapa kali kami berpegangan—malah kebanyakan, aku sendiri yang secara refleks menarik tanganku agar lepas dari tangannya. Tidak terbiasa, risih, dan apalah itu namanya. Tapi setelah mendengar cerita J, yang jujur saja menurutku itu sangat manis, kupikir tidak ada salahnya membalas perlakuannya padaku—pelan-pelan kubalas genggaman tangannya, dan kulihat J langsung mengangkat wajahnya dan menatapku. “Hmm, lalu bagaimana dengan yang lain? Maksudku, pertama kali kamu ajak aku pergi, atau apa? Apa ingatan tentang pertama kali memegang tanganku ini tetap nomor satu?”
J mengangguk mantap. “Ingatan tentang tangan kamu ini yang paling kuat, Mal.”
Aku tersenyum. “J…”
“Ya?”
“Apa ingatan tentang nomor itu bisa jadi Patronus-ku?”
Label: Cerpen, J, Malika, Real World
Now I just want to go far. Far where noone know me, not even me.
Minggu, 26 Agustus 2012
@8/26/2012 06:13:00 PM
Aku percaya, bahwa terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti aku tidak menggubris perkataannya, atau aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Belakangan ini aku lebih memilih untuk diam padahal dulu aku selalu bisa menjawab atau membalikkan perkataan seseorang dengan pedas dan sarkas. Tapi itu dulu tapi entah sejak kapan, aku sadar kalau diam juga termasuk jawaban. Bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu. Terkadang, ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau kalimat sederhana apalagi bahasa sastra. Itulah yang aku lakukan selama kurang lebih satu minggu ini meski kebanyakan orang menganggap aku menjadi lebih tertutup dan memendam semuanya sendirian—oh Tuhan, percayalah, aku tidak lagi sanggup memendam permasalahanku sendiri—padahal sebenarnya, hal yang bisa aku jawab, dan yang bisa aku lakukan hanya berdiam diri. Mengunci mulutku dengan erat dan menutup hatiku rapat-rapat.
Dua belas Agustus, dua ribu dua belas. Pukul sebelas malam, bertepatan di Rumah Kopi yang berada di daerah dago atas, adalah salah satu ukiran kenangan yang mungkin bisa aku ingat untuk jangka waktu yang lama. Setidaknya, hari itu—saat itu adalah saat yang berkesan untukku. Tapi siapa sangka, ingatanku kuat untuk hari itu ternyata bukan hanya berkesan, tapi dari situlah segala sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan terjadi secara berturut-turut. Baik berkesinambungan atau bahkan diluar dugaan. Semacam membuka sebuah kotak kejutan. Namaku Malika, dan J adalah pacarku sejak hari itu.
Aku tidak pernah berbicara pada siapa pun tentang sosok J. Tidak kepada There, tidak kepada Aina, Anggraini, Inggrid, Shafa, Ariani, atau teman-teman terdekatku lainnya. Selama ini, di mata mereka—bahkan di mataku sendiri—aku adalah orang yang bebas. Setelah berpisah dengan Matheo, setelah hampir dua bulan lamanya berlarut-larut dalam kesedihan, setelah dua bulan lamanya mengganggu Dhika (bahkan Dhika tidak tahu tentang J) dengan keluh kesahku, aku menjadi orang yang work-a-holic. Penggila kerja sebagai salah satu pelarianku. Kekesalanku. Kemarahanku. There pernah bilang aku gila. Desya pun begitu. Mereka mewanti-wanti kesehatanku. Tapi aku tidak menggubrisnya, aku tetap gila kerja sampai akhirnya semua tentang Matheo bisa aku lupakan. Tidak semuanya, tapi setidaknya sebagian besar. Aku merasa bebas, pundakku tidak lagi berat dan mataku tidak lagi perih seperti dulu. Aku ikhlas, tapi bukan berarti aku lupa.
Setelah lepas dari Matheo pun, dihadapan orang-orang aku berubah menjadi orang yang tenang, yang tetap ceria dengan lawakan-lawakan dan candaan-candaan beserta sedikit cerita-cerita gossip dengan teman-teman terdekatku. Menyambut kebahagiaan-kebahagiaan Inggrid dan Andra yang lulus kuliah lebih dulu, menyambut Bintang dan Jovista yang melanjutkan pendidikan di Bandung, menengok Amanda dan berbahagia atas kesembuhannya, dan beragam kepedulian lainnya terhadap mereka-mereka yang senantiasa ada di sebelahku. Singkat cerita, sejak Maret sampai Agustus—kurang lebih lima bulan—aku benar-benar mendedikasikan waktuku, perhatianku, dan segala-galanya untuk mereka; sampai sekarang, sampai detik ini. Aku mencintai seluruh teman-teman terdekatku—keluargaku.
Tidak pernah sekali pun aku menyinggung tentang pria. Bahkan Matheo pun tidak pernah aku ceritakan. Aku hanya menangis dihadapan Shafa, Mira, dan Inggrid waktu itu, dan mereka menghiburku dengan membawaku pergi kemana-mana, bergossip, dan menepuk-nepuk pundakku. Perhatian sederhana yang membuatku bersyukur, setidaknya aku masih memiliki mereka. Sejak saat itu, aku tidak pernah menyinggung tentang kehidupan pribadiku—tentang pria, tepatnya. Siapa-siapa yang tengah dekat denganku, atau yang mendekatiku, atau yang merajut cerita denganku. Tidak pernah sekali pun. Sama sekali. Namun aku yakin, mereka pasti pernah membaca kisah Matheo, dan aku tidak keberatan.
Karena itulah, ketika aku berkata aku memiliki pacar, reaksi mereka semua sama. “Siapa?!” lalu “Seriusan?!” dan “Kapan??”. Dua belas agustus, tepat setelah aku dan J benar-benar berpacaran, orang pertama yang aku beritahu adalah Inggrid. Kenapa? Tidak tahu. Mungkin karena Inggrid juga pernah membagi kebahagiaannya denganku dengan bercerita kalau dia punya pacar, dan aku berpikir aku harus melakukan hal yang sama. Lalu aku bercerita pada There, Aina dan Anggraini. Empat orang pertama selama dua hari setelah tanggal dua belas yang aku beritahu tentang J—There lebih dulu tahu tentang J, aku pernah bercerita meski sekilas—dan setelahnya, barulah aku menceritakan kepada Andra, Ariani, dan Desya.
Kejadian pertama yang terjadi adalah tentang Andra. Dia adalah sahabat laki-lakiku—empat tahun penuh berada di universitas dan fakultas yang sama. Empat tahun penuh bergantung kepadanya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Empat tahun penuh menceritakan segala keluh kesah, kekesalan, kemarahan, emosi, bahkan kebahagiaanku padanya. Andra adalah pendengar yang baik, sahabat yang baik, seorang kakak yang baik. Aku sempat ragu memberitahukan tentang J padanya, tidak tahu kenapa, tapi pada akhirnya kuceritakan semuanya, kukatakan aku punya pacar. Tentu, reaksi Andra sama dengan yang lainnya. Dia tidak percaya, dan dengan sikap serta sifatnya yang santai nyaris lawak, dia bilang dia patah hati. Dengan tololnya, aku tertawa. Kukatakan padanya, kalimat-kalimat terima kasih atas semua jasanya selama empat tahun. Aku sadar diri, setelah Andra lulus, aku tidak bisa lagi bergantung padanya. Well, masih sih, tapi mungkin tidak akan seperti dulu lagi. Dia punya tanggung jawab yang lebih berat ketimbang empat tahun kemarin, dan aku rasa tidak sopan kalau aku mengganggunya. Kami berbincang banyak hal, dan kukatakan lagi padanya, dulu aku pernah ragu pada perasaanku sendiri.
There pernah berkata, mungkin hanya Andra-lah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti siapa sosok Malika. Waktu pertama kali mendengarnya, aku tertawa dengan tolol. Tapi tanpa sepengetahuan There, aku benar-benar memikirkan kata-kata itu. Kukatakan pada Andra tentang semua itu, dan aku bilang, apakah saat itu aku memang menyukaimu? Mungkin. Tapi sikap dan perhatian Andra kepadaku hanya sebatas adik, dan aku kembali berpikir, sepertinya pikiranku tentang perasaanku itu salah. Aku memang menganggapnya kakak—toh, orang yang mengerti kepribadian orang lain tidak selalu pacar atau orang yang disukai—dan aku nyaman dia menganggapku adik. Setidaknya hubunganku dengan Andra tidak canggung atau apalah.
Di luar dugaan, Andra menyesal menganggapku adik. There berkata padaku, dialah yang menyadarkan perasaan Andra. Dia bilang, Andra sempat berkeluh kesah padanya, tentang betapa sedih dan kecewanya dia saat tahu aku memiliki pacar. There bilang pada Andra, tidakkah dia sadar dengan perasaannya padaku? Dan tidak perlu menunggu lama lagi, Andra menyadarinya. Tapi sayangnya baik aku mau pun There berpendapat yang sama—semua itu terlambat. Aku sudah menetapkan hatiku pada J, dan itu mutlak. Singkat cerita, kukatakan pada Andra bahwa kita masih bersahabat, aku akan tetap berkeluh-kesah padanya dan dia masih tetap bisa berkeluh-kesah padaku. Tidak ada yang berubah.
Tapi faktanya, segala sesuatu yang berubah tidak bisa kembali lagi seperti dulu.
Enam hari sejak hari itu, tepat di hari lebaran, Andra berkata ingin berbicara serius padaku. Selama enam hari itu, tidak ada hal yang berubah. Aku tetap mengabarinya tentang ini dan itu, dia pun tetap menceritakan tentang berbagai hal yang terjadi di seberang sana. Hal berbeda tentu saja ada, kata-kata sayang dan ekspresi kasih terang-terangan Andra tunjukan padaku—aku tahu, sikapnya memang begitu. Tapi entah kenapa, aku mulai risih. Apa karena aku memiliki J? Aku tidak tahu, aku hanya bisa berdiam diri dengan pemikiranku barusan. Dan di hari lebaran, kami berbicara serius. Andra menjanjikan pernikahan padaku. Dia bertanya apakah masih memiliki kesempatan untuk bersanding denganku suatu hari, berimajinasi aku menjadi istrinya. Kalau boleh jujur, saat itu aku emosi.
Pernikahan adalah hal yang paling sensitif bagiku. Aku tidak mau berbicara tentang topik itu—alasannya sederhana, usiaku atau usia Andra hanya berbeda satu tahun, dan kami masih berusia dua puluhan. Kenapa dia berani menjanjikan pernikahan kalau nyatanya masa depan yang ada di hadapannya masih samar-samar? Kalau pun memang Andra ingin menjanjikan pernikahan, tidak bisakah dia pendam sendiri sampai waktunya benar-benar tiba? Kukatakan pada Andra—jawaban paling netral yang bisa aku katakan—siapa pun, pria mana pun, masih memiliki kesempatan untuk menikah dengan wanita pujaannya selagi wanita itu belum terikat tali pernikahan. Kukatakan padanya, hubunganku bukanlah pertunangan apalagi pernikahan. Aku tidak bisa bilang iya karena aku tidak tahu, apakah kedepannya aku masih dengan J atau tidak, dan aku pun tidak bisa bilang tidak karena alasan yang sama. Aku bukan peramal, bahkan seorang peramal pun tidak bisa menjanjikan sesuatu yang bukan kehendak-Nya.
Dan sejujurnya, aku masih ingin menikmati hari-hari baruku. Tapi dengan jahat kukatakan, Andra merusak semuanya. Ya, aku berani berkata seperti itu karena begitu aku ceritakan semuanya pada J, kami berdua bertengkar. Hebat. Dia marah, dan aku pun begitu. Dulu aku pernah berkata pada J bahwa aku benci topik pernikahan, dan karena Andra, J mau tidak mau mengungkit topik itu lagi dan aku kesal. Lagi, kita berdua bertengkar. Kami salah paham. Apalah itu namanya. Meski memang tidak berlangsung lama, pertengkaran dengan J cukup membuatku lebih kecewa dari sebelumnya. Setelah itu, hari-hariku kembali seperti biasa meski aku pribadi, dalam diam, merasa semuanya tidak bisa lagi seperti biasanya—berbeda tentu saja, tapi aku tidak pernah menceritakan apa-apa dan kepada siapa.
Perubahan yang paling mencolok adalah tata bahasaku pada Andra.
Aku tidak menyalahkannya, itu hak Andra untuk menyukaiku seperti aku memiliki hak menyukai J. Tapi Andra menunjukkan dan mengutarakan perasaannya di waktu yang tidak tepat, dan semuanya berubah dalam sekejap mata. Perlahan-lahan, aku mencoba untuk kembali seperti biasa meski luar biasa menguras tenaga. Bagaimana pun, Andra sahabatku, dan sesuai janjiku, aku ingin tetap berhubungan seperti biasa dengannya. Butuh waktu yang lama, tapi aku rasa, aku bisa.
Hal kedua yang terjadi setelah Andra adalah keluarga. Well, aku tidak terlalu kaget sih dengan ini. Aku pun tidak berkata apa-apa pada Javier, Janneth, Mike, atau bahkan orang tuaku tentang J. Yang hanya bisa kutunjukkan adalah selama seminggu kemarin, aku dan J sering jalan-jalan. Bukannya aku tidak mau memberitahu tentang hubunganku dengan J, tapi yah, aku memang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu. Aku tidak bisa bercerita apa-apa—complicated, mungkin, maka untuk hal ini adalah masalah pada diriku sendiri—dan seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya bisa diam karena terkadang diam itu adalah sebuah jawaban dan tindakan yang benar.
Mungkin.
Dan masalah ketiga yang terjadi adalah ketika aku akan pulang ke Bandung dari rumah keluargaku di Cirebon. Tanggal dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, setelah perjalanan panjang keliling-keliling bersilahturahmi dengan sanak-keluarga yang lain, aku tertidur pulas dan terbangun tepat tengah malam. Kebetulan, jam dua dini hari keluargaku akan pulang kembali ke Bandung, jadi aku memutuskan untuk menyalakan fitur chatting Yahoo!Messenger di handphone-ku, berharap bisa bertemu Dhika karena aku belum menceritakan tentang J padanya. Yah, sebenarnya sih aku juga kangen. Dhika adalah salah satu teman laki-laki terdekatku meski kami tidak pernah bertemu secara langsung. Dia kuliah di Amerika, seorang pekerja keras—atau work-a-holic yang lebih parah dariku—yang kukenal lewat forum RP hanya karena dia cemburu karena karakterku dekat dengan karakter yang sedang ia incar. Dua tahun yang lalu, kami berkenalan, berbincang-bincang, bercanda tentang pembulian anak dibawah umur (yang padahal cuma iseng) dan mengancam akan mengadukan pada kak Seto, sampai berujung pada sesi curhat lebih dalam tentang pertunangan sepihak, tentang betapa jatuh cintanya Dhika pada Anna, sekaligus tentang sakit hatiku pada Matheo serta tentang penyakit. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan baik tentang hubunganku dengan Dhika. Dia lebih dari teman dekat, dia lebih dari kakak, tapi aku tidak pernah merasa jatuh cinta padanya. Aku menghormatinya, aku respek padanya.
Kami berbicara banyak hal meski aku tahu pembicaraanku dengannya tidak sebanyak pembicaraan Dhika pada Vina, Otriya, atau bahkan Anna. Tapi aku tidak keberatan, aku tahu Dhika merasa kesepian di Amerika sana—ingin pulang, itulah yang berkali-kali Dhika katakan padaku. Yang aku lakukan hanya bisa menghiburnya meski sesekali aku iseng menjahilinya dengan cara menggoda Dhika tentang makanan-makanan Indonesia. Tentang beras dan nasi yang susah payah ia dapatkan di sana, tentang nikmatnya makan indomie ketika hujan turun di Indonesia. Atau tentang bully-an Dhika padaku yang selalu aku sangkutpautkan pada kak Seto. Aku selalu bilang, “Dhika menyiksa anak di bawah umur! Aku aduin sama kak Seto!!” hanya karena aku lebih muda darinya. Tentu, Dhika mengelak. Itulah salah satu topik pembicaraan sederhana antara aku dan Dhika. Sederhana, karena tujuanku memang hanya untuk menghibur Dhika, berkata bahwa Dhika tidak kesepian. Aku senantiasa online malam-malam untuk menemaninya meski belakangan ini kondisi badanku tidak meyakinkan, dan terakhir berbicara dengan Dhika pun hanya sebentar.
Dhika pernah bilang, rasanya ada yang kurang kalau tidak berbicara denganku, tidak ada yang menghiburnya dan rasanya kurang tidak membaca lawakan-lawakanku. Dia bilang, sekali pun dia sakit dan tergeletak tak berdaya di rumah sakit, dia akan tetap online untuk menyapa teman-teman terdekatnya—Anna, Vina, Kira, Otriya, Nanda, dan aku. Dan terakhir kali berbicara dengan Dhika adalah tanggal tiga belas agustus. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi berbincang-bincang dengan Dhika. Aku sakit, begitu pun dengannya. Penyakit Dhika yang mengejutkanku, penyakit Dhika yang membuatku marah, penyakit Dhika yang membuatku kesal. Suatu hari aku sempat gelisah tidak bisa tidur seharian, dan itu karena memikirkan Dhika juga Anna. Tidak tahu tepatnya kapan, tapi gelisah itu sempat membuatku ingin menangis.
Dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, sekitar jam 1 pagi hari sembari menunggu jemputan atau travel untuk pulang ke Bandung, aku menyalakan Yahoo!Messenger. Tidak ada Dhika, dan saat itu aku berpikir pasti dia sudah dicekokin obat tidur oleh suster di sana. Hanya ada Vina dan Andra yang menemaniku menghabiskan waktu sembari menunggu. Namun yang ada, aku dikejutkan oleh berita yang membuatku membeku untuk beberapa menit. Di jam yang sama, di menit yang sama, di detik yang sama, Vina bilang Dhika koma; Andra bilang dia sakit dan katanya di diagnosa kena kanker hati.
Aku tidak bisa menangis, tapi dadaku nyeri.
Tidak ada J, keluargaku sibuk mengurus barang-barang untuk pulang, kakak-kakakku kelelahan, teman-temanku tidur pulas di gelapnya malam. Aku menghadapi dua berita serius sendirian, dua berita dari sahabat laki-lakiku secara bersamaan. Tidak berkomentar apa-apa baik untuk obrolan dengan Vina mau pun dengan Andra. Aku harus bagaimana? Dan dengan jawaban klise, kukatakan pada mereka semoga cepat sembuh dan segala sesuatunya baik-baik saja—untuk Vina, Dhika, dan Andra. Vina berjanji akan mengabariku tentang Dhika apa pun bentuknya, Andra pun berjanji akan memeriksa kesehatan tubuhnya ke dokter untuk mengecek ulang hasil diagnosanya dan akan memberitahuku hasilnya secepatnya.
Tidak ada pegangan bagiku saat itu. Lagi, aku hanya bisa diam sebagai jawaban. Sampai sekarang, aku selalu gemetar dengan berita menyebalkan itu. Kuceritakan semuanya pada J ketika secara tiba-tiba dia terbangun tengah malam. Kukatakan semua perasaan kalutku padanya, kuceritakan semua emosiku padanya. Aku tahu mungkin aku terdengar lebay atau berlebihan atau apalah, tapi semua ini adalah perasaanku sesungguh-sungguhnya. Pernahkah kalian merasa ingin menangis tapi tidak bisa? Itulah yang aku rasakan. Sakit yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata atau kiasan apa-apa.
Hari ini, tanggal dua puluh enam Agustus dua ribu dua belas, selama dua hari kemarin, kugunakan kembali topengku. Selama dua hari kemarin, aku tersenyum dan tertawa seperti biasa, bermanja-manja meski dikepalaku terbagi dua pemikiran yang saling memaksa. Kehidupanku dan kehidupan keluarga kecilku. Kembali kubuka telingaku lebar-lebar mendengar keluh-kesah teman-temanku, tentang Inggrid, tentang There, tentang Ariani, tentang J, tentang semuanya. Andra bilang penyakitnya adalah hepatitis, dan aku sedikit merasa lega meski tidak sepenuhnya. Tiap malam kusapa Dhika via twitter berharap dia menjawab mentionsku secara tiba-tiba seperti tanggal tiga belas kemarin. Otakku tidak bisa berhenti berpikir tentang semuanya. Rasa peduliku sungguh besar, tapi tanggungan yang kudapatkan pun besar. Aku tidak merasa lelah, tidak merasa keberatan pula. Semua ini aku lakukan karena aku tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa pada teman-temanku seperti apa yang mereka lakukan padaku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.
Apakah kalian merasa aku berlebihan? Aku pun demikian. Heran sekali rasanya aku bisa berpikir seperti ini, bersikap seperti ini, atau apalah. Tapi inilah Malika, dan aku yakin, kalian semua yang memang mengenalku tahu tentang semua ini. Kalian bertanya apa yang aku butuhkan? Sederhana, aku hanya ingin kalian tetap ada meski sebatas chatting atau dalam dunia maya. Kalau pun bertanya hal yang muluk, aku hanya ingin di peluk atau sekedar di tepuk. Aku tidak pernah bisa bercerita dengan cara berbicara—aku lebih lihai bercerita dengan tulisan, jadi yah, wajar kalau setiap kali kalian bertanya kenapa aku hanya bisa diam dan menggeleng. Tapi bukan berarti aku tidak percaya, aku hanya tidak tahu caranya.
Inilah yang terjadi, kawan. Inilah kenapa aku meminta kalian ada di Bandung. Maaf ya, Malika Mahaprasthanika memang selalu menyusahkan. Yah, terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti tidak menggubris atau tidak bisa menjawab. Dan bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu.
© title : @isaansh // semua yang tertulis adalah kejadian yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga, emosi, juga air mata. Tidak ada niatan khusus untuk mengumbar aib atau kejelekan seseorang, hanya pelampiasan emosi dan menyimpan kenangan.
Label: Aina, Andra, Anggraini, Anna, Ariani, Cerpen, Desya, Dhika, Inggrid, J, Malika, Real World, Shafa, Theo, There