<body>
Tentang rindu, hujan, dan kesedihan.
Rabu, 13 Juli 2016 @7/13/2016 05:14:00 PM



gue punya temen, dulu, yang sering banget gue ganggu chat cuma buat ngomong ngalor ngidul ga jelas (wait emang kapan gue chat serius?). Bisa ngobrol di siang hari, di malam hari, atau pokoknya setiap kali gue poke, dia bales. sering dengerin gue curhat dengan sangat bijaksana dan hebatnya sering ngasih pandangan dari sudut yang ga pernah gue tega. Temen gue ini hebat kan?

berkat temen gue ini, gue bisa kenal dan deket juga sama orang-orang sekitarnya. Mereka-mereka yang sering banget nabok gue buat ga pake topeng alias jujur. nangis mah nangis aja. ga usah sok kuat. lo kan lemah. dan deretan nyinyir plus ketus plus kalimat kalimat pedes lainnya (karma itu ada bray!).

aneh banget ya, tiba-tiba gue kangen nih anak?

oh mungkin belum ada yang bisa gantiin tempat curcolan sebijaksana dia kali ya? atau oh mungkin emang gue udah ga sanggup lagi nahan rindu? atau mungkin gue kesepian? atau---

--oh iya, hujan meninggalkan kenangan buruk tentang kepulanganmu.

4 tahun berlalu, dhika ☺

ga kerasa...

..doa gue tetep sama dhik.

bumi memanggil @_goodfaith gimana kabar disana? delta kodel menyampaikan pesan rindu, semoga Allah menempatkan mu di sisi terbaik-Nya

Label: , , , , ,



Hujan punya cerita, termasuk cerita kesedihanku karena kehilanganmu.
Jumat, 31 Agustus 2012 @8/31/2012 10:12:00 PM




"Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan
(Al Waaqi’ah : 60)"





Banyak kejadian yang aku—kita—alami, ya?

Hai Dhika, apa kabar? Pasti sekarang dengan senyum ceria kau bilang kau baik-baik saja, tetap asyik seperti biasa. Mungkin dengan sedikit kalimat tambahan bahwa pundak kamu sekarang lega karena enggak harus bungkuk terus di depan komputer atau laptop; berkutat dengan segala macam tugas-tugas kuliahmu yang banyak itu. Tidak ada lagi yang namanya work-a-holic, tidak ada lagi yang tiap chatting marahin kamu suruh kamu makan saat ngeluh sakit perut, dan tidak ada lagi yang bilang ingin pulang. Sekarang, kamu udah pulang Dhika, kamu pulang ke rumah yang sebenarnya.

Hari ini Bandung di guyur hujan lumayan deras. Sebelumnya aku sempat bilang pada J, aku kangen hujan. Sudah lama Bandung enggak hujan—cuaca panas, bisa kau bayangkan?—dan tahu-tahu saja hujan turun dengan angin dingin menusuk-nusuk kulit. Aku senang; maksudku, aku senang karena hujan cuaca jadi sedikit lebih sejuk. Tapi ternyata hujan juga punya cerita, termasuk cerita kesedihanku—kami—karena kehilanganmu. Bandung, 16:28, Jumat 31 Agustus 2012, ditengah gemuruh hujan deras, kudapati berita dari Vina kamu sudah meninggal. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Seminggu yang lalu kudengar berita kamu koma. Lima hari yang lalu kutulis cerita tentangmu.

Kini kau berpulang.

Waktu begitu cepat, ya?

Kau penasaran tidak dengan reaksiku saat mendengar tentang kabar itu? Well, aku yakin, kamu pasti menganggapku benar-benar seorang masokis seperti apa yang pernah kukatakan padamu dulu, tapi entahlah, mungkin sekarang kamu menganggapku gila, atau mengkasihani aku, atau merasa bersalah, atau apalah karena saat mendengar tentang semua ini, aku sempat tertawa. Ya. Tertawa. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

Sore hari ketika hujan turun dengan sangat deras, aku dan J berteduh di sebuah warung bakso—Dhika, baksonya enak loh!—membicarakan tentang besok aku harus ke Jakarta untuk melakukan survey kecil-kecilan ke museum wayang, membicarakan tentang kegalauanku menentukan judul tugas akhirku. Sesuai janji Vina, apa pun yang terjadi padamu, beri kabar padaku dan Vina menepatinya. Handphone-ku berbunyi, dan pesan singkat itu langsung terbaca olehku. Tulisannya sangat singkat "kodel, dika meninggal" tanpa tedeng aling-aling. Reaksiku? Nyaris kubanting handphone itu, tapi yang kulakukan hanya menyodorkannya ke J, dan tubuhku bergetar. Aku menangis, tapi hanya terisak kecil. Dadaku nyeri tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Kuhubungi Vina dan kutanyakan tentang dirimu, yang kudengar hanya isak tangis Vina, suara sesegukannya yang sangat sedih—sedangkan aku? Bahkan aku terdiam saat Vina menangis. Setelah selesai menelepon Vina, temanku tiba-tiba menelepon dan bertanya tentang TA. Luar biasa, suaraku benar-benar terdengar seolah tidak terjadi apa-apa, tidak sedih tidak pula bahagia. Lalu setelahnya, aku tertawa. Benar-benar tertawa. Lalu menangis lagi.

J sempat memarahiku ketika dia melihatku tertawa. Tidak, sebenarnya bukan marah, tapi hanya menegur dan mungkin dia heran kenapa aku tertawa. Aku pun tidak tahu—well, aku tahu, sebenarnya. Aku menertawakan diriku sendiri karena pada kenyataannya, di saat sahabatku menangis di ujung telepon sana, sesegukan, sedih mendalam sama sepertiku, aku justru terdiam bahkan bersikap tenang. Tapi aku tidak bisa berbohong padamu, tubuhku bergetar hebat mendengar kabar tentang kematianmu, dadaku sesak, nyeri, dan lemas ketika semua berita tentang kepulanganmu mendadak ramai dibicarakan. Sampai sekarang. Hei, kau pikir aku menulis ini dengan lancar? Hahaha, jelas tidak, aku mengetik semua ini dengan tangan gemetar.

Aku tidak tahu harus menulis apa lagi, padahal sepanjang perjalanan tadi pikiranku melayang kemana-mana.

Dhika, terima kasih buat semuanya. Makasih udah jadi temen baikku, sahabatku, kakakku, bagian dari keluarga kecilku. Makasih udah mau jadi orang yang mendengar segala macam keluh kesahku selama kita kenal, makasih udah mau berbagi kesulitan denganku, tentang segala macam keluhan-keluhanmu dan lain-lainnya. Makasih udah traktir aku pizza waktu itu, makasih buat chatting malam-malamnya, makasih buat segala macam hal-hal random lainnya, dan makasih buat semuanya yang aku gak bisa bilang satu-satu—antara lupa dan juga karena memang banyak.

"Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. (69:27)" adalah ayat Al-Quran yang kutuliskan untuk almarhum sahabatmu tanggal 27 Juli silam untukmu agar kamu kuat. Dan kini kugunakan lagi untuk diriku sendiri. Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah pasti sayang sama Dhika, karena itulah, mungkin, kematian adalah cara yang terbaik buat Dhika biar ga terus-terusan sakit, biar keluarga dan orang-orang terdekat kamu gak terus-terusan sedih, atau sebagainya.

Dhika, maaf ya kalau selama ini aku sering bully Dhika, sering  ngisengin Dhika, dan banyak kesalahan-kesalahanku sama Dhika baik yang ga disengaja atau pun enggak. Aku sayang sama Dhika, dan aku ikhlas. Aku yakin, kamu enggak mau aku atau Vina, atau Anna, atau Kira, atau Nanda, atau Otri sedih karena kehilangan kamu. Aku tahu, tapi sedih itu adalah hal wajar, tapi percayalah kami tidak akan larut dalam kesedihan terus-menerus. Dhika, jujur aku enggak tahu harus nulis apa lagi, dan sebenarnya aku masih nyesek loh. Tapi aku baik-baik saja, percayalah.

Bumi memanggil Jendral Faiszal Andhika Putra dan berpesan untuk memberi salam pada raja Langit di atas sana, semoga kamu bahagia. Delta kodel senantiasa mendoakanmu dari sini bersama pasukan-pasukan pengembara dunia lainnya. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik di sisi-Nya, menerima segala amal ibadahmu, mengampuni segala dosa-dosamu, dan memberikan ketabahan serta keikhlasan untuk keluarga, sanak saudara, teman, kerabat, serta orang-orang yang ditinggalkan olehmu.Amin.

Amanatmu adalah menyerahkan Aoki Hayami padaku dan memintaku memberi kabar padamu.

Kupegang janji itu. Pasti.





Sayang Dhika selalu; selamanya.

Label: , ,



“If at any moment you have a wish you need to be granted, if it's something I can do—I will try to grant it, will try with all my strength.”
Minggu, 26 Agustus 2012 @8/26/2012 06:42:00 PM



Gue ga tahan buat gak ngeblog tentang ini orang. Mungkin gue bakal mengorek semua yang pernah dia ceritain ke gue dan ini ga sopan, tapi apalah daya, gue pengen Dhika ada di blog gue. Seenggaknya sekalian ngelatih ingatan gue dan menyimpan kenangan tentang Dhika di sini biar gue ga lupa. Percaya ga percaya, gue baru tau nama lengkapnya Dhika via twitter beberapa minggu yang lalu (krik).

Hai. Kenalin. Namanya Faiszal Andhika Putra. Atau panggil aja dia Andhika, atau biasa di panggil Dhika. Kalau kalian ikut forum RPF Ryokushoku o Obita atau lebih familiar disapa Ryokubita atau Ryoku, Dhika adalah salah satu membernya. Dia pemegang akun Aoki Hayamine dan satu lagi karakter cewek (—ppffft #heh) yang gue lupa namanya. Dia jarang online dan jarang main, wajar. Dia sibuk kuliah di Amerika, jam terbangnya beda sama jam terbang di Indonesia. Di sana siang, di sini malem. Dulu, kalau gue ga salah inget sih, dua tahun yang lalu, Ryoku ngebuat semacam member RP tutorial. Penutor dan yang di tutor. Dhika adalah anak didik (sebut saja begitu) Kira, PM dari Yowa Setagaya yang kebetulan emang deket juga sama gue. Percaya sama yang namanya cyber love? Gue percaya, secara gue pernah mengalaminya. Dan Dhika juga begitu. Dia jatuh hati dengan Anna, PM dari Fuji Amamiya yang emang secara keseluruhan baik Fuji mau pun Anna sama.

Ceritanya, Fuji itu dekat dengan salah satu karakter canon yang gue pegang namanya Kyoshiro Kitazawa dan parahnya Kyoshiro ini adalah ‘hantu bergentayangan’. Kalau buat yang ga ngerti, intinya hubungan antara Fuji dan Kyoshiro itu diceritakan sebagai friendzone gitu deh, mau pacaran, ya kali pacaran sama hantu? Ga pacaran, hubungan mereka tuh deket banget. Nah, sebagai PM dari Aoki Hayami, Dhika cemburu. Bermula dari cemburu itulah, gue sama Dhika kenal. Lucu ya? Fufufufu.

Dhika bercerita, dulu tuh dia sering banget pacaran sama cewek dan dia mengakui sering mainin cewek. Semacam playboy, dan sekarang dia jatuh hati benar-benar sama Anna tapi karena Anna anak yang polos (sebenarnya sih, gue yakin, Anna cuma ga mau bikin Dhika kecewa suatu hari) jadi dia hanya bisa menerima rasa sayang Dhika, tapi enggak mau jadi pacar. Dhika galau—kurang lebih sih begitu, dan gue cuma bisa ketawa dengan jahat (sorry, lol) dan meng-pukpuk Dhika supaya semangat. Gue bilang, mungkin emang ga bisa pacaran atau berharap lebih, tapi bukan berarti Dhika ga bisa ngeekspresiin kasih sayang. Anna sangat senang berteman dengan siapa saja, dia juga senang perhatian dengan semua orang, jadi kalau kita ngelakuin hal yang sama, gue rasa ga ada salahnya. Dhika juga sering cerita tentang tempat-tempat yang indah di Indonesia, yang katanya someday kalau dia pulang ke Indonesia, dia mau ngajak gue ke tempat-tempat itu. Gue seneng, tapi gue bilang kalau izin dari orang tua gue bakalan susah luar biasa, jadi gue anggap omongan Dhika itu bukan janji, cuma penjelasan dan Dhika mengerti.

Bermula dari hal-hal seperti itu, gue sama Dhika sering ngobrol pada akhirnya. Ya gue ngeluh pengen mie ayam lah, ngeluh pengen pizza lah (dan beneran dong dibeliin pas main sama Anna, Kira, Vina, Otri, juga Steven!!), atau ngebulli dia dengan makanan-makanan Indonesia yang dia kangenin lah, ya sama-sama ngerek minta di temenin ngobol lah, ngelawak lah, juga sesi-sesi curhat lainnya. Gue inget tuh, dulu dia sempet curhat tentang keputusan ayahnya yang jodohin dia sama salah seorang perempuan, gue ga pernah ngobrol sama calon tunangannya (atau malah udah tunangan? Ga tau sih ga pernah cerita lagi), tapi Anna pernah (mungkin karena Dhika suka sama Anna?) dan gue yang ga tau apa-apa tentang Dhika cuma bisa ngasih dukungan penuh sama keputusan dia, Dhika ga bisa nolak permintaan orang tuanya, tapi Dhika juga semacam ga enak kalau harus ditunangin tapi dia ga mau. Meski pada akhirnya gue bilang, mungkin emang calon tunangan Dhika emang yang terbaik, siapa tahu?

Tunangannya Dhika sepertinya sangat suka sama Dhika, dia ampe terbang ke Amerika dan selalu ada buat Dhika. Sesekali Dhika sempat cerita kalau dia risih, dia ingin kamar pribadinya bener-bener jadi ruang privasi dia. Gue malah suka heran sendiri, tapi gue ga pernah mau ikut campur. Itu bukan urusan gue, jadi yang bisa gue lakuin lagi-lagi cuma ngelawak, ngehibur Dhika, dan ngebully Dhika. Pembicaran-pembicaraan gue sama Dhika setelahnya ga lebih dari hal-hal random. Nanya kenapa belum tidur atau tentang tugas-tugas apa aja yang gue hadapi atau yang Dhika hadapi, kenapa Dhika jam segini ga tidur atau jam segitu ga makan, tentang Dhika yang sering ngeluh sakit perut dan gue marah-marah karena dia enggak mau makan dan menyepelekan jam-jam makan.

Dan pas gue putus pun, ada kali ya seminggu full gue ngecurhatin semuanya ke Dhika, cerita tentang sakit hati gue, tentang kecewa gue, tentang gue masih suka nangis sendirian. Tentang cerita Matheo dan Malika pun yang pertama kali tahu adalah Dhika. Gue tunjukin cerita itu dan Dhika bilang cerita-cerita gue sangat menggambarkan perasaan gue. Dhika bilang selagi melalui tulisan gue bisa ngerasa bebas, lakuin aja, dan karena Dhika-lah, cerita Malika Mahaprasthanika sampai sekarang terus lanjut. Gue belum pernah nulis tentang Dhika di cerita Malika, nanti deh gue tulis itung-itung dedikasi buat elu. Dan gue ga akan ngubah nama seperti apa yang gue lakuin di tokoh-tokoh lainnya, buat elu mungkin gue akan tetap mencantumkan nama Dhika. Ceileh, spesial gitu.

Gue ga pernah bisa bilang gue deket sama Dhika meski sekali pun terkadang gue berpikir gue terhitung dekat sama dia. Maksud gue, gue enggak seperti Vina, Otri, atau Anna yang lebih sering ngobrol sama dia. Obrolan gue sama Dhika kan ga lebih dari sekedar hiburan-hiburan, bully-an, lawakan, atau hal-hal random lainnya. Sebatas saling menenami. Gue bilang ke Dhika kalau dia ga boleh kesepian di sana karena masih ada orang-orang yang peduli sama dia di Indonesia, sama Dhika bilang ke gue kalau gue juga ga sendirian sekali pun cuma sebatas chat gue dibolehin curhat apa aja sama Dhika. Dan itulah kenapa gue bebas meluapkan kekesalan gue pas putus ke Dhika. Tapi sejak gue berhasil move on, entah kenapa gue jadi jarang ngobrol sama Dhika.

Gue inget, pas gue mulai ngobrol lagi sama Dhika, tentang hari-hari menjelang konser Laruku di Jakarta tapi dia bilang dia lagi sakit waktu itu. Dia di rumah sakit karena katanya perutnya bermasalah. Seperti biasa, gue marah-marah sama Dhika. Emot-emot tendangan dan pukulan sebagai bumbu-bumbu lawakan gue tunjukin dan bilang Dhika harus makan. Dhika selalu bilang, dia kangen nasi. Yah, emang pada dasarnya gue iseng, gue malah ngebully dia dengan kasih dia foto nasi. Berkali-kali Dhika masuk rumah sakit, dan gue dengan tololnya ga pernah curiga dia sakit apa—I mean, sebenarnya gue curiga, tapi hak setiap orang ingin memberi tahu atau tidak, dan Dhika berhak untuk tidak memberitahu gue dia sakit apa. Gue pun lagi-lagi gak mau mencampuri urusan Dhika, gue tahu batasan-batasannya dan seperti gue bilang, gue ada buat ngehibur Dhika, bukan buat ikut campur tentang segala permasalahannya.

Sampai suatu hari, di bulan puasa tahun ini, gue selalu sedih setiap kali Dhika bilang ingin pulang. Dia sempat ada rencana tanggal—engg, sekitaran pertengahan July apa awal Agustus gitu, pokoknya menjelang lebaran sih kalau ga salah inget, Dhika punya rencana pulang ke Indonesia. Kebetulan kuliahnya juga lagi libur. Tapi sayangnya batal karena sepupu-sepupunya malah pergi ke Amerika dan dia dipinta buat ngejaga sepupu-sepupunya. Gue inget tuh, Dhika pernah mencak-mencak ke gue katanya kalau bukan karena sepupu udah Dhika tinggalin karena dia capek jalan-jalan terus. LOL. Gue juga kalau gue ke Amerika pasti gue bakalan minta Dhika nemenin gue terus jalan-jalan lah! Gue tanya kira-kira dia bisa pulang atau enggak, katanya pas lebaran dia bisa pulang, tapi cuma tiga hari—hari pertama nyampe Indonesia, hari ketiga balik lagi ke Amerika karena udah mulai kuliah.

Mungkin gue tolol, mungkin gue kehabisan topik, tapi gue malah ngisengin Dhika dengan ngegoda makanan-makanan lebaran. Ya ketupat lah, ya opor ayam lah, dan sebagainya. Gue ga punya tujuan apa-apa selain ngelawak, tapi gue ga tau apa dengan lawakan gue itu gue malah bikin Dhika sedih, gue harap sih enggak dan kalau pun iya, Dhika gue minta maaf ya. Lepas dari itu, ada kali seminggu atau dua minggu, gue ga pernah ngobrol lagi sama Dhika.

Begitu ngobrol lagi pun, tentang kecemasan Dhika sama almarhum temennya yang tahu-tahu koma (27 July kalau gue ga salah inget) yang kebetulan juga guru dari Anna. Selama seminggu gue terus support Dhika juga Anna, berdoa semuanya baik-baik saja. Tapi berita duka datang, dan beberapa hari Dhika ga bisa online karena katanya dia mau berkabung sendirian. Gue tahu perasaannya, temennya atau bisa di bilang teman baiknya meninggal dan dia ga bisa di Indonesia. Gue memaklumi, dan gue cuma bisa berdoa Dhika dan Anna baik-baik saja, segalanya akan baik-baik saja. Gue ga pernah ngobrol lagi sama Dhika setelahnya, dalam jangka waktu yang lumayan lama juga.

Suatu hari, Otri telepon. Suaranya serak dan katanya dia sakit. Dia bilang ke gue, Dhika nitipin Aoki ke gue, nanya gue mau gak jadi co-PM-nya Aoki karena dia ga tega ngehapus Aoki (dulu juga pernah bahas ini karena Dhika sibuk sekali kuliahnya dan gue bilang mendingan jangan, lumayankan kalau Dhika bosen, dia kan bisa main di Ryoku, toh Ryoku ga harus nuntut kejer post segala). Otri ngomong sambil isak-isak gitu, gue pikir sih karena dia pilek. Dan karena gue sayang sama Dhika, gue juga sayang sama Aoki, gue iyain. Dan malemnya gue ngobrol sama Dhika perihal ini. Well, ternyata, ga cuma tentang Aoki obrolan gue.

Waktu malemnya, gue nyalain YM dan gue ngobrol sama Dhika. Tentang kesehatan, tentang pikiran, tentang Laruku, tentang Ryoku, tentang teman-teman. Then, dia nitipin Aoki, katanya ga tega ngehapus persis kayak apa yang Otri bilang. Gue tanya, kenapa ga langsung nanya ke gue, via twitter atau DM kan bisa, tapi dia cuma cengar-cengir aja, yah mungkin dia pikir karena gue udah mau TA dan gue pernah bilang kuliah gue edan-edanan, Dhika ga mau ganggu. Gue setuju jadi co-PM Aoki, tapi gue bilang gue ga bakal bisa sering-sering RP mulai semester depan, TA di depan mata dan gue udah telat satu semester, ga mau mundur lagi, dan Dhika bilang dia ga keberatan asal Aoki di urus, dia udah seneng. Omongan kayak gini bikin gue curiga, akhirnya gue berani tanya dia kenapa. Dan Dhika bilang, karena gue termasuk salah satu teman baiknya—demi Tuhan pas baca ini gue pengen banget nangis, terharu gitu—gue harus tahu satu hal. Yang lain udah tahu, tinggal gue katanya. Karena ga mau ganggu keseharian gue, ga mau ganggu kuliah gue—dan alasan-alasan klise lainnya.

Dhika bilang dia kena tumor usus, dan udah ga bisa diangkat. Dokter bilang waktunya tiga bulan lagi.

Gue ngebeku seketika. Ga bisa ngetik apa-apa. Dhika terus cerita tentang kenapa dia selama ini sakit perut dan tentang keluarganya, tentang orang-orang yang marahin dia karena dia jarang makan padahal mereka ga tau apa-apa, tentang ga bisa pulang lebaran, tentang ngerasa ga enak sama sepupu-sepupunya yang harusnya pulang jadi bersikukuh nemenin dia karena sangat sayang sama Dhika, dan tentang banyak hal lainnya yang ga bisa gue ceritain karena sekarang gue ngetik sambil nangis plus antara gerakan tangan sama memori-memori di otak gue balapan.

Gue marah, gue kesel, gue emosi, gue kecewa, gue nangis, gue sedih, gue kesel, pokoknya campur aduk. Gue bilang ke Dhika, dokter ga bisa memprediksi waktu seenak jidat kayak gitu. Gue bilang ke Dhika dia harus pulang kalau kuat. Gue bilang ke Dhika dia pasti kuat. Dan gue bilang ke Dhika, Aoki aman di tangan gue. Pasti.

Obrolan gue sama Dhika waktu itu ga berlangsung lama, Dhika di suruh tidur sama suster dan lama setelah itu, ga pernah online lagi. Gue sakit, gue drop, ga bisa online. Lalu tanggal dua belas, setelah gue punya cerita sama J, gue mentions Dhika, nanya kabar, dan cantumin offline message ke Dhika kalau gue kangen sama Dhika, gue pengen cerita. Besoknya, tanggal tiga belas, Dhika online dan obrolan gue sama Dhika lagi-lagi cuma sebentar, gue cuma bilang gue sehat, sempet drop, dan ngasih kabar yang lain-lain. Karena pusing gue ga bisa online lama-lama, gue bilang gue harus tidur dan gue minta Dhika janji buat ngasih gue kabar begitu pun Dhika yang minta gue janji harus ngasih dia kabar. Sejak tanggal itu, Dhika ga pernah lagi nongol di twitter atau pun Y!M.

Suatu hari gue pernah ngerasa gelisah sendiri. Gue kepikiran Dhika dan Anna secara tiba-tiba. Gue ga bisa tidur dan gue mentions mereka berdua. Ga ada balasan untuk beberapa hari, Anna ngebales, tapi Dhika enggak. Gue ga mikir yang aneh-aneh tentang Dhika. Gue pikir dia pasti lagi istirahat, dia udah ga bisa online seenak jidat lagi kayak dulu, dia pasti di suruh istirahat sama dokter dan pasti udah dicekokin obat tidur seperti apa yang Dhika pernah cerita ke gue.

Tapi tanggal dua puluh tiga, tengah malem, Vina bilang Dhika koma.

Anna bilang Dhika koma. Stadium satu.

Otri nelepon gue dengan suara serak dan isak bukan karena sakit—dia nangis.

Semuanya lalu-lalang di pikiran gue. Balapan. Dan kepala gue sakit. Gue sedih se-sedih-sedihnya. Gue ga punya siapa-siapa buat di share saat itu. Orang tua gue sibuk bebenah buat pulang ke Bandung, kakak gue kelelahan, dan J pun tidur. Wajar tengah malem (tapi pada akhirnya J tiba-tiba bangun dan gue bisa leluasa ngeluapin semuanya ke dia. Thanks!). Sejak hari itu, gue niat buat mentions dan sapa Dhika via twitter tiap malem. Gue tahu ini sama sekali ga worth it, ga ngaruh apa-apa ke Dhika. Dia ga bakal bisa ngebuka twitter, ga bisa nerima pesen gue, denger suara gue aja enggak. Tapi gue ga tau kenapa pingin terus mentions dia tiap malem, sambil berdoa semoga dia baik-baik saja.

Dhika cepet sembuh, Dhika cepet balik lagi, gue kangen ngobrol random sama lu. Gak harus tiap hari juga ga apa-apa, tapi gue beneran kangen dan pingin ngobrol sama elu. Cepet sembuh disana, gue percaya lu kuat, banyak doa mengalir dari sini, dari temen-temen deket lu, dari gue, Otri, Anna, Kira, Nanda, dan kawan-kawan lainnya. Gue pernah bilang gue sayang sama Dhika, sama semuanya, dan itu ga bakal berubah. Gue juga tau lu sayang sama gue, lu pernah ngomong, dan kalau lu sayang, semoga lu masih bisa nyapa gue di Y!M atau twitter lagi. Atau seenggaknya, lu kasih gue kepercayaan bahwa semua hal yang nanti terjadi adalah yang terbaik, dari Tuhan, untuk sekarang atau yang akan datang.



“If at any moment you have a wish you need to be granted, if it's something I can do—
—I will try to grant it, will try with all my strength.”


© Watanuki Kimihiro - xxxHolic

Label: , ,



Now I just want to go far. Far where noone know me, not even me.
@8/26/2012 06:13:00 PM



Aku percaya, bahwa terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti aku tidak menggubris perkataannya, atau aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Belakangan ini aku lebih memilih untuk diam padahal dulu aku selalu bisa menjawab atau membalikkan perkataan seseorang dengan pedas dan sarkas. Tapi itu dulu tapi entah sejak kapan, aku sadar kalau diam juga termasuk jawaban. Bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu. Terkadang, ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau kalimat sederhana apalagi bahasa sastra. Itulah yang aku lakukan selama kurang lebih satu minggu ini meski kebanyakan orang menganggap aku menjadi lebih tertutup dan memendam semuanya sendirian—oh Tuhan, percayalah, aku tidak lagi sanggup memendam permasalahanku sendiri—padahal sebenarnya, hal yang bisa aku jawab, dan yang bisa aku lakukan hanya berdiam diri. Mengunci mulutku dengan erat dan menutup hatiku rapat-rapat.

Dua belas Agustus, dua ribu dua belas. Pukul sebelas malam, bertepatan di Rumah Kopi yang berada di daerah dago atas, adalah salah satu ukiran kenangan yang mungkin bisa aku ingat untuk jangka waktu yang lama. Setidaknya, hari itu—saat itu adalah saat yang berkesan untukku. Tapi siapa sangka, ingatanku kuat untuk hari itu ternyata bukan hanya berkesan, tapi dari situlah segala sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan terjadi secara berturut-turut. Baik berkesinambungan atau bahkan diluar dugaan. Semacam membuka sebuah kotak kejutan. Namaku Malika, dan J adalah pacarku sejak hari itu.

Aku tidak pernah berbicara pada siapa pun tentang sosok J. Tidak kepada There, tidak kepada Aina, Anggraini, Inggrid, Shafa, Ariani, atau teman-teman terdekatku lainnya. Selama ini, di mata mereka—bahkan di mataku sendiri—aku adalah orang yang bebas. Setelah berpisah dengan Matheo, setelah hampir dua bulan lamanya berlarut-larut dalam kesedihan, setelah dua bulan lamanya mengganggu Dhika (bahkan Dhika tidak tahu tentang J) dengan keluh kesahku, aku menjadi orang yang work-a-holic. Penggila kerja sebagai salah satu pelarianku. Kekesalanku. Kemarahanku. There pernah bilang aku gila. Desya pun begitu. Mereka mewanti-wanti kesehatanku. Tapi aku tidak menggubrisnya, aku tetap gila kerja sampai akhirnya semua tentang Matheo bisa aku lupakan. Tidak semuanya, tapi setidaknya sebagian besar. Aku merasa bebas, pundakku tidak lagi berat dan mataku tidak lagi perih seperti dulu. Aku ikhlas, tapi bukan berarti aku lupa.

Setelah lepas dari Matheo pun, dihadapan orang-orang aku berubah menjadi orang yang tenang, yang tetap ceria dengan lawakan-lawakan dan candaan-candaan beserta sedikit cerita-cerita gossip dengan teman-teman terdekatku. Menyambut kebahagiaan-kebahagiaan Inggrid dan Andra yang lulus kuliah lebih dulu, menyambut Bintang dan Jovista yang melanjutkan pendidikan di Bandung, menengok Amanda dan berbahagia atas kesembuhannya, dan beragam kepedulian lainnya terhadap mereka-mereka yang senantiasa ada di sebelahku. Singkat cerita, sejak Maret sampai Agustus—kurang lebih lima bulan—aku benar-benar mendedikasikan waktuku, perhatianku, dan segala-galanya untuk mereka; sampai sekarang, sampai detik ini. Aku mencintai seluruh teman-teman terdekatku—keluargaku.

Tidak pernah sekali pun aku menyinggung tentang pria. Bahkan Matheo pun tidak pernah aku ceritakan. Aku hanya menangis dihadapan Shafa, Mira, dan Inggrid waktu itu, dan mereka menghiburku dengan membawaku pergi kemana-mana, bergossip, dan menepuk-nepuk pundakku. Perhatian sederhana yang membuatku bersyukur, setidaknya aku masih memiliki mereka. Sejak saat itu, aku tidak pernah menyinggung tentang kehidupan pribadiku—tentang pria, tepatnya. Siapa-siapa yang tengah dekat denganku, atau yang mendekatiku, atau yang merajut cerita denganku. Tidak pernah sekali pun. Sama sekali. Namun aku yakin, mereka pasti pernah membaca kisah Matheo, dan aku tidak keberatan.

Karena itulah, ketika aku berkata aku memiliki pacar, reaksi mereka semua sama. “Siapa?!” lalu “Seriusan?!” dan “Kapan??”. Dua belas agustus, tepat setelah aku dan J benar-benar berpacaran, orang pertama yang aku beritahu adalah Inggrid. Kenapa? Tidak tahu. Mungkin karena Inggrid juga pernah membagi kebahagiaannya denganku dengan bercerita kalau dia punya pacar, dan aku berpikir aku harus melakukan hal yang sama. Lalu aku bercerita pada There, Aina dan Anggraini. Empat orang pertama selama dua hari setelah tanggal dua belas yang aku beritahu tentang J—There lebih dulu tahu tentang J, aku pernah bercerita meski sekilas—dan setelahnya, barulah aku menceritakan kepada Andra, Ariani, dan Desya.

Kejadian pertama yang terjadi adalah tentang Andra. Dia adalah sahabat laki-lakiku—empat tahun penuh berada di universitas dan fakultas yang sama. Empat tahun penuh bergantung kepadanya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Empat tahun penuh menceritakan segala keluh kesah, kekesalan, kemarahan, emosi, bahkan kebahagiaanku padanya. Andra adalah pendengar yang baik, sahabat yang baik, seorang kakak yang baik. Aku sempat ragu memberitahukan tentang J padanya, tidak tahu kenapa, tapi pada akhirnya kuceritakan semuanya, kukatakan aku punya pacar. Tentu, reaksi Andra sama dengan yang lainnya. Dia tidak percaya, dan dengan sikap serta sifatnya yang santai nyaris lawak, dia bilang dia patah hati. Dengan tololnya, aku tertawa. Kukatakan padanya, kalimat-kalimat terima kasih atas semua jasanya selama empat tahun. Aku sadar diri, setelah Andra lulus, aku tidak bisa lagi bergantung padanya. Well, masih sih, tapi mungkin tidak akan seperti dulu lagi. Dia punya tanggung jawab yang lebih berat ketimbang empat tahun kemarin, dan aku rasa tidak sopan kalau aku mengganggunya. Kami berbincang banyak hal, dan kukatakan lagi padanya, dulu aku pernah ragu pada perasaanku sendiri.

There pernah berkata, mungkin hanya Andra-lah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti siapa sosok Malika. Waktu pertama kali mendengarnya, aku tertawa dengan tolol. Tapi tanpa sepengetahuan There, aku benar-benar memikirkan kata-kata itu. Kukatakan pada Andra tentang semua itu, dan aku bilang, apakah saat itu aku memang menyukaimu? Mungkin. Tapi sikap dan perhatian Andra kepadaku hanya sebatas adik, dan aku kembali berpikir, sepertinya pikiranku tentang perasaanku itu salah. Aku memang menganggapnya kakak—toh, orang yang mengerti kepribadian orang lain tidak selalu pacar atau orang yang disukai—dan aku nyaman dia menganggapku adik. Setidaknya hubunganku dengan Andra tidak canggung atau apalah.

Di luar dugaan, Andra menyesal menganggapku adik. There berkata padaku, dialah yang menyadarkan perasaan Andra. Dia bilang, Andra sempat berkeluh kesah padanya, tentang betapa sedih dan kecewanya dia saat tahu aku memiliki pacar. There bilang pada Andra, tidakkah dia sadar dengan perasaannya padaku? Dan tidak perlu menunggu lama lagi, Andra menyadarinya. Tapi sayangnya baik aku mau pun There berpendapat yang sama—semua itu terlambat. Aku sudah menetapkan hatiku pada J, dan itu mutlak. Singkat cerita, kukatakan pada Andra bahwa kita masih bersahabat, aku akan tetap berkeluh-kesah padanya dan dia masih tetap bisa berkeluh-kesah padaku. Tidak ada yang berubah.

Tapi faktanya, segala sesuatu yang berubah tidak bisa kembali lagi seperti dulu.

Enam hari sejak hari itu, tepat di hari lebaran, Andra berkata ingin berbicara serius padaku. Selama enam hari itu, tidak ada hal yang berubah. Aku tetap mengabarinya tentang ini dan itu, dia pun tetap menceritakan tentang berbagai hal yang terjadi di seberang sana. Hal berbeda tentu saja ada, kata-kata sayang dan ekspresi kasih terang-terangan Andra tunjukan padaku—aku tahu, sikapnya memang begitu. Tapi entah kenapa, aku mulai risih. Apa karena aku memiliki J? Aku tidak tahu, aku hanya bisa berdiam diri dengan pemikiranku barusan. Dan di hari lebaran, kami berbicara serius. Andra menjanjikan pernikahan padaku. Dia bertanya apakah masih memiliki kesempatan untuk bersanding denganku suatu hari, berimajinasi aku menjadi istrinya. Kalau boleh jujur, saat itu aku emosi.

Pernikahan adalah hal yang paling sensitif bagiku. Aku tidak mau berbicara tentang topik itu—alasannya sederhana, usiaku atau usia Andra hanya berbeda satu tahun, dan kami masih berusia dua puluhan. Kenapa dia berani menjanjikan pernikahan kalau nyatanya masa depan yang ada di hadapannya masih samar-samar? Kalau pun memang Andra ingin menjanjikan pernikahan, tidak bisakah dia pendam sendiri sampai waktunya benar-benar tiba? Kukatakan pada Andra—jawaban paling netral yang bisa aku katakan—siapa pun, pria mana pun, masih memiliki kesempatan untuk menikah dengan wanita pujaannya selagi wanita itu belum terikat tali pernikahan. Kukatakan padanya, hubunganku bukanlah pertunangan apalagi pernikahan. Aku tidak bisa bilang iya karena aku tidak tahu, apakah kedepannya aku masih dengan J atau tidak, dan aku pun tidak bisa bilang tidak karena alasan yang sama. Aku bukan peramal, bahkan seorang peramal pun tidak bisa menjanjikan sesuatu yang bukan kehendak-Nya.

Dan sejujurnya, aku masih ingin menikmati hari-hari baruku. Tapi dengan jahat kukatakan, Andra merusak semuanya. Ya, aku berani berkata seperti itu karena begitu aku ceritakan semuanya pada J, kami berdua bertengkar. Hebat. Dia marah, dan aku pun begitu. Dulu aku pernah berkata pada J bahwa aku benci topik pernikahan, dan karena Andra, J mau tidak mau mengungkit topik itu lagi dan aku kesal. Lagi, kita berdua bertengkar. Kami salah paham. Apalah itu namanya. Meski memang tidak berlangsung lama, pertengkaran dengan J cukup membuatku lebih kecewa dari sebelumnya. Setelah itu, hari-hariku kembali seperti biasa meski aku pribadi, dalam diam, merasa semuanya tidak bisa lagi seperti biasanya—berbeda tentu saja, tapi aku tidak pernah menceritakan apa-apa dan kepada siapa.

Perubahan yang paling mencolok adalah tata bahasaku pada Andra.

Aku tidak menyalahkannya, itu hak Andra untuk menyukaiku seperti aku memiliki hak menyukai J. Tapi Andra menunjukkan dan mengutarakan perasaannya di waktu yang tidak tepat, dan semuanya berubah dalam sekejap mata. Perlahan-lahan, aku mencoba untuk kembali seperti biasa meski luar biasa menguras tenaga. Bagaimana pun, Andra sahabatku, dan sesuai janjiku, aku ingin tetap berhubungan seperti biasa dengannya. Butuh waktu yang lama, tapi aku rasa, aku bisa.

Hal kedua yang terjadi setelah Andra adalah keluarga. Well, aku tidak terlalu kaget sih dengan ini. Aku pun tidak berkata apa-apa pada Javier, Janneth, Mike, atau bahkan orang tuaku tentang J. Yang hanya bisa kutunjukkan adalah selama seminggu kemarin, aku dan J sering jalan-jalan. Bukannya aku tidak mau memberitahu tentang hubunganku dengan J, tapi yah, aku memang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu. Aku tidak bisa bercerita apa-apa—complicated, mungkin, maka untuk hal ini adalah masalah pada diriku sendiri—dan seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya bisa diam karena terkadang diam itu adalah sebuah jawaban dan tindakan yang benar.

Mungkin.

Dan masalah ketiga yang terjadi adalah ketika aku akan pulang ke Bandung dari rumah keluargaku di Cirebon. Tanggal dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, setelah perjalanan panjang keliling-keliling bersilahturahmi dengan sanak-keluarga yang lain, aku tertidur pulas dan terbangun tepat tengah malam. Kebetulan, jam dua dini hari keluargaku akan pulang kembali ke Bandung, jadi aku memutuskan untuk menyalakan fitur chatting Yahoo!Messenger di handphone-ku, berharap bisa bertemu Dhika karena aku belum menceritakan tentang J padanya. Yah, sebenarnya sih aku juga kangen. Dhika adalah salah satu teman laki-laki terdekatku meski kami tidak pernah bertemu secara langsung. Dia kuliah di Amerika, seorang pekerja keras—atau work-a-holic yang lebih parah dariku—yang kukenal lewat forum RP hanya karena dia cemburu karena karakterku dekat dengan karakter yang sedang ia incar. Dua tahun yang lalu, kami berkenalan, berbincang-bincang, bercanda tentang pembulian anak dibawah umur (yang padahal cuma iseng) dan mengancam akan mengadukan pada kak Seto, sampai berujung pada sesi curhat lebih dalam tentang pertunangan sepihak, tentang betapa jatuh cintanya Dhika pada Anna, sekaligus tentang sakit hatiku pada Matheo serta tentang penyakit. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan baik tentang hubunganku dengan Dhika. Dia lebih dari teman dekat, dia lebih dari kakak, tapi aku tidak pernah merasa jatuh cinta padanya. Aku menghormatinya, aku respek padanya.

Kami berbicara banyak hal meski aku tahu pembicaraanku dengannya tidak sebanyak pembicaraan Dhika pada Vina, Otriya, atau bahkan Anna. Tapi aku tidak keberatan, aku tahu Dhika merasa kesepian di Amerika sana—ingin pulang, itulah yang berkali-kali Dhika katakan padaku. Yang aku lakukan hanya bisa menghiburnya meski sesekali aku iseng menjahilinya dengan cara menggoda Dhika tentang makanan-makanan Indonesia. Tentang beras dan nasi yang susah payah ia dapatkan di sana, tentang nikmatnya makan indomie ketika hujan turun di Indonesia. Atau tentang bully-an Dhika padaku yang selalu aku sangkutpautkan pada kak Seto. Aku selalu bilang, “Dhika menyiksa anak di bawah umur! Aku aduin sama kak Seto!!” hanya karena aku lebih muda darinya. Tentu, Dhika mengelak. Itulah salah satu topik pembicaraan sederhana antara aku dan Dhika. Sederhana, karena tujuanku memang hanya untuk menghibur Dhika, berkata bahwa Dhika tidak kesepian. Aku senantiasa online malam-malam untuk menemaninya meski belakangan ini kondisi badanku tidak meyakinkan, dan terakhir berbicara dengan Dhika pun hanya sebentar.

Dhika pernah bilang, rasanya ada yang kurang kalau tidak berbicara denganku, tidak ada yang menghiburnya dan rasanya kurang tidak membaca lawakan-lawakanku. Dia bilang, sekali pun dia sakit dan tergeletak tak berdaya di rumah sakit, dia akan tetap online untuk menyapa teman-teman terdekatnya—Anna, Vina, Kira, Otriya, Nanda, dan aku. Dan terakhir kali berbicara dengan Dhika adalah tanggal tiga belas agustus. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi berbincang-bincang dengan Dhika. Aku sakit, begitu pun dengannya. Penyakit Dhika yang mengejutkanku, penyakit Dhika yang membuatku marah, penyakit Dhika yang membuatku kesal.  Suatu hari aku sempat gelisah tidak bisa tidur seharian, dan itu karena memikirkan Dhika juga Anna. Tidak tahu tepatnya kapan, tapi gelisah itu sempat membuatku ingin menangis.

Dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, sekitar jam 1 pagi hari sembari menunggu jemputan atau travel untuk pulang ke Bandung, aku menyalakan Yahoo!Messenger. Tidak ada Dhika, dan saat itu aku berpikir pasti dia sudah dicekokin obat tidur oleh suster di sana. Hanya ada Vina dan Andra yang menemaniku menghabiskan waktu sembari menunggu. Namun yang ada, aku dikejutkan oleh berita yang membuatku membeku untuk beberapa menit. Di jam yang sama, di menit yang sama, di detik yang sama, Vina bilang Dhika koma; Andra bilang dia sakit dan katanya di diagnosa kena kanker hati.

Aku tidak bisa menangis, tapi dadaku nyeri.

Tidak ada J, keluargaku sibuk mengurus barang-barang untuk pulang, kakak-kakakku kelelahan, teman-temanku tidur pulas di gelapnya malam. Aku menghadapi dua berita serius sendirian, dua berita dari sahabat laki-lakiku secara bersamaan. Tidak berkomentar apa-apa baik untuk obrolan dengan Vina mau pun dengan Andra. Aku harus bagaimana? Dan dengan jawaban klise, kukatakan pada mereka semoga cepat sembuh dan segala sesuatunya baik-baik saja—untuk Vina, Dhika, dan Andra. Vina berjanji akan mengabariku tentang Dhika apa pun bentuknya, Andra pun berjanji akan memeriksa kesehatan tubuhnya ke dokter untuk mengecek ulang hasil diagnosanya dan akan memberitahuku hasilnya secepatnya.

Tidak ada pegangan bagiku saat itu. Lagi, aku hanya bisa diam sebagai jawaban. Sampai sekarang, aku selalu gemetar dengan berita menyebalkan itu. Kuceritakan semuanya pada J ketika secara tiba-tiba dia terbangun tengah malam. Kukatakan semua perasaan kalutku padanya, kuceritakan semua emosiku padanya. Aku tahu mungkin aku terdengar lebay atau berlebihan atau apalah, tapi semua ini adalah perasaanku sesungguh-sungguhnya. Pernahkah kalian merasa ingin menangis tapi tidak bisa? Itulah yang aku rasakan. Sakit yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata atau kiasan apa-apa.

Hari ini, tanggal dua puluh enam Agustus dua ribu dua belas, selama dua hari kemarin, kugunakan kembali topengku. Selama dua hari kemarin, aku tersenyum dan tertawa seperti biasa, bermanja-manja meski dikepalaku terbagi dua pemikiran yang saling memaksa. Kehidupanku dan kehidupan keluarga kecilku. Kembali kubuka telingaku lebar-lebar mendengar keluh-kesah teman-temanku, tentang Inggrid, tentang There, tentang Ariani, tentang J, tentang semuanya. Andra bilang penyakitnya adalah hepatitis, dan aku sedikit merasa lega meski tidak sepenuhnya. Tiap malam kusapa Dhika via twitter berharap dia menjawab mentionsku secara tiba-tiba seperti tanggal tiga belas kemarin. Otakku tidak bisa berhenti berpikir tentang semuanya. Rasa peduliku sungguh besar, tapi tanggungan yang kudapatkan pun besar. Aku tidak merasa lelah, tidak merasa keberatan pula. Semua ini aku lakukan karena aku tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa pada teman-temanku seperti apa yang mereka lakukan padaku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.

Apakah kalian merasa aku berlebihan? Aku pun demikian. Heran sekali rasanya aku bisa berpikir seperti ini, bersikap seperti ini, atau apalah. Tapi inilah Malika, dan aku yakin, kalian semua yang memang mengenalku tahu tentang semua ini. Kalian bertanya apa yang aku butuhkan? Sederhana, aku hanya ingin kalian tetap ada meski sebatas chatting atau dalam dunia maya. Kalau pun bertanya hal yang muluk, aku hanya ingin di peluk atau sekedar di tepuk. Aku tidak pernah bisa bercerita dengan cara berbicara—aku lebih lihai bercerita dengan tulisan, jadi yah, wajar kalau setiap kali kalian bertanya kenapa aku hanya bisa diam dan menggeleng. Tapi bukan berarti aku tidak percaya, aku hanya tidak tahu caranya.

Inilah yang terjadi, kawan. Inilah kenapa aku meminta kalian ada di Bandung. Maaf ya, Malika Mahaprasthanika memang selalu menyusahkan. Yah, terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti tidak menggubris atau tidak bisa menjawab. Dan bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu.







© title : @isaansh // semua yang tertulis adalah kejadian yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga, emosi, juga air mata. Tidak ada niatan khusus untuk mengumbar aib atau kejelekan seseorang, hanya pelampiasan emosi dan menyimpan kenangan.

Label: , , , , , , , , , , , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //