<body>
Tentangmu, Matheo.
Selasa, 25 Agustus 2015 @8/25/2015 11:27:00 PM



Lalu suatu malam, Line ku berbunyi nyaring, saling bersahut-sahutan dengan cepat seolah tak sabaran mengambil perhatianku. Kupikir, itu J, karena jam-jam segini jarang sekali ada yang menghubungiku selain dia--ada sih, biasanya There, tapi itu pun sudah mulai jarang karena gadis berambut pirang-ombre itu belakangan ini terlihat sibuk dengan pekerjaan barunya. Jadi, dengan ogah-ogahan, kuraih handphone putih milikku itu dan tidak sampai setengah menit, kedua alisku langsung menempel satu sama lain setelah mataku membaca sederetan pesan singkat di layar.

Dari There.

Dan tentang kisah cintanya yang kandas sebelum mekar.

Aku mengernyit membaca setiap kata demi kata dari pesan There, memahami ceritanya tentang bagaimana lelaki itu memperlakukannya, menggilai pekerjaannya ketimbang dirinya, menyangkut-pautkan masa lalu dengan masa sekarang siapa dirinya, dan segala macam hal lainnya yang sukses membuat seorang There, sahabat kuliahku yang tak mengenal patah hati, tegar, dan kuat, serta berpikir positif tentang akhir suatu hubungan, menangis pilu. Sesegukan, katanya.

Aku tak pernah melihatnya seperti itu, selain saat ia kehilangan ayahnya. Bahkan saat dia mengenal patah hati untuk pertama kalinya sewaktu masih berpacaran dengan si Musim Panas, aku tidak tahu apa-apa. Jadi bisa di bilang, ini benar-benar pertama kalinya aku melihat There seperti ini, karena lelaki (selain ayahnya).

"Putus ketika lo masih sayang itu rasanya sakit, Ka. Sakit. Banget." There menangis "Tadi pagi, dia dateng kerumah, biasa aja, tapi malem ini gue nangis lagi, gue kangen... gue sama dia masih saling sayang, masih sayang-sayangan, tapi beda rasanya, Ka. Dia udah ga bisa gue genggam, sekuat apa pun rasa sayang gue sama dia..."

Kutatap pilu tulisan-tulisan itu, mendengarkan dengan seksama, membiarkannya bercerita panjang lebar tentang hatinya yang terluka. Aku tahu betul perasaannya. Tentang hancurnya perasaan There, tentang semuanya, tentang Matheo.

Membaca kisah There, aku mengingat kisah Matheo seketika. There yang putus meski masih sayang, aku pun demikian. There yang sudah dua hari menangis karena sakit hati bercampur rindu, aku pun demikian, yang mungkin lima sampai enam hari. There yang putus karena sang mantan sibuk bekerja, tidak sama denganku--dengan Matheo yang menduakanku.

There pun bercerita, selama tiga-empat bulan ini, dia jarang bertemu dengan mantannya karena mantannya sibuk bekerja. Ketemu pun hanya hitungan jari. Ah, aku pun mengingat Matheo. Tiga tahun satu bulan lamanya menjalin hubungan, aku pun hanya bertemu hitungan jari, LDR pula.

There yang masih menyukai mantannya.

Dan aku, yang terkadang masih memikirkan Matheo.

Sungguh, aku sama sekali tidak ada niatan membanding-bandingkan kisahku dengan kisah There. Hanya saja, kemiripan ini membuatku ingin There tahu, dia tidak sendirian dan aku tahu betul perasaannya. Namun, aku takut, kalau kiceritakan, nanti There menganggap aku ga mau kalah? Padahal, aku benar-benar tahu perasaannya, tentang rindu tak tertahankannya, tentang sulitnya bertemu, tentang lost contact berminggu-minggu, tentang berakhirnya cinta karena mata yang sudah tidak tertuju padamu--pekerjaan, dan cinta yang lain.

"Menangislah," kataku.

Dulu, aku menangis hebat saat putus dengan Matheo. Inggrid, Shafa, dan Mira-lah yang sering kali kuganggu tiap malamnya. Menceritakan dengan detil setiap kerinduan dan sakit hati yang kurasakan. Membiarkan mataku sembab dan memerah dihadapan mereka tanpa tahu malu. Dan bagiku, kehadiran mereka lah yang perlahan membuatku bangkit dari keterpurukan, menyadarkanku bahwa kehilangan perhatian dari seseorang tidak menutupi perhatian orang lain. Dan sampai saat ini, aku bersyukur bertemu mereka.

"Lalu, lupakan. Dengan cara apa pun. Kerja? Traveling? Olah raga? Luapkan dengan cara dan hal positif."

Yah, pelarian keduaku adalah kerja. Atau bisa dibilang, aku menggilai Tugas Akhir ku waktu itu. Tentu saja dengan tujuan membuatku lupa akan Matheo. Dan berhasil. Meski hal itu berlangsung lama. Dua bulan. Namun, tidak ada salahnya, bukan?

"Setelah itu, kembali lah pada teman-temanmu, berkumpul, bermain, tertawa, dan berbahagia bersama mereka, agar kamu sadar kamu tidaklah sendirian."

Sebagaimana keluarga kecilku melakukan dan menyadarkan itu padaku. Lima bulan, bukanlah waktu yang lama. Namun sungguh berarti, membuatku bahagia dan bersyukur memiliki mereka. Aku mengenal betul perasaanmu, There, sungguh. Dan aku akan ada dsini untuk selalu mendengar keluh kesahmu. Mungkin memang tidak spesial, tapi setidaknya aku mengerti perasaanmu.

"Ka..."

"Ya Re?"

"Gue masih sayang Ka..."

Aku tersenyum.

"Menangislah, lalu lepaskan. Ikhlas."

There terisak pilu.

"Percayalah, ikhlas bukan berarti lupa. Tapi menerima."

Label: , , , , ,



Now I just want to go far. Far where noone know me, not even me.
Minggu, 26 Agustus 2012 @8/26/2012 06:13:00 PM



Aku percaya, bahwa terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti aku tidak menggubris perkataannya, atau aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Belakangan ini aku lebih memilih untuk diam padahal dulu aku selalu bisa menjawab atau membalikkan perkataan seseorang dengan pedas dan sarkas. Tapi itu dulu tapi entah sejak kapan, aku sadar kalau diam juga termasuk jawaban. Bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu. Terkadang, ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau kalimat sederhana apalagi bahasa sastra. Itulah yang aku lakukan selama kurang lebih satu minggu ini meski kebanyakan orang menganggap aku menjadi lebih tertutup dan memendam semuanya sendirian—oh Tuhan, percayalah, aku tidak lagi sanggup memendam permasalahanku sendiri—padahal sebenarnya, hal yang bisa aku jawab, dan yang bisa aku lakukan hanya berdiam diri. Mengunci mulutku dengan erat dan menutup hatiku rapat-rapat.

Dua belas Agustus, dua ribu dua belas. Pukul sebelas malam, bertepatan di Rumah Kopi yang berada di daerah dago atas, adalah salah satu ukiran kenangan yang mungkin bisa aku ingat untuk jangka waktu yang lama. Setidaknya, hari itu—saat itu adalah saat yang berkesan untukku. Tapi siapa sangka, ingatanku kuat untuk hari itu ternyata bukan hanya berkesan, tapi dari situlah segala sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan terjadi secara berturut-turut. Baik berkesinambungan atau bahkan diluar dugaan. Semacam membuka sebuah kotak kejutan. Namaku Malika, dan J adalah pacarku sejak hari itu.

Aku tidak pernah berbicara pada siapa pun tentang sosok J. Tidak kepada There, tidak kepada Aina, Anggraini, Inggrid, Shafa, Ariani, atau teman-teman terdekatku lainnya. Selama ini, di mata mereka—bahkan di mataku sendiri—aku adalah orang yang bebas. Setelah berpisah dengan Matheo, setelah hampir dua bulan lamanya berlarut-larut dalam kesedihan, setelah dua bulan lamanya mengganggu Dhika (bahkan Dhika tidak tahu tentang J) dengan keluh kesahku, aku menjadi orang yang work-a-holic. Penggila kerja sebagai salah satu pelarianku. Kekesalanku. Kemarahanku. There pernah bilang aku gila. Desya pun begitu. Mereka mewanti-wanti kesehatanku. Tapi aku tidak menggubrisnya, aku tetap gila kerja sampai akhirnya semua tentang Matheo bisa aku lupakan. Tidak semuanya, tapi setidaknya sebagian besar. Aku merasa bebas, pundakku tidak lagi berat dan mataku tidak lagi perih seperti dulu. Aku ikhlas, tapi bukan berarti aku lupa.

Setelah lepas dari Matheo pun, dihadapan orang-orang aku berubah menjadi orang yang tenang, yang tetap ceria dengan lawakan-lawakan dan candaan-candaan beserta sedikit cerita-cerita gossip dengan teman-teman terdekatku. Menyambut kebahagiaan-kebahagiaan Inggrid dan Andra yang lulus kuliah lebih dulu, menyambut Bintang dan Jovista yang melanjutkan pendidikan di Bandung, menengok Amanda dan berbahagia atas kesembuhannya, dan beragam kepedulian lainnya terhadap mereka-mereka yang senantiasa ada di sebelahku. Singkat cerita, sejak Maret sampai Agustus—kurang lebih lima bulan—aku benar-benar mendedikasikan waktuku, perhatianku, dan segala-galanya untuk mereka; sampai sekarang, sampai detik ini. Aku mencintai seluruh teman-teman terdekatku—keluargaku.

Tidak pernah sekali pun aku menyinggung tentang pria. Bahkan Matheo pun tidak pernah aku ceritakan. Aku hanya menangis dihadapan Shafa, Mira, dan Inggrid waktu itu, dan mereka menghiburku dengan membawaku pergi kemana-mana, bergossip, dan menepuk-nepuk pundakku. Perhatian sederhana yang membuatku bersyukur, setidaknya aku masih memiliki mereka. Sejak saat itu, aku tidak pernah menyinggung tentang kehidupan pribadiku—tentang pria, tepatnya. Siapa-siapa yang tengah dekat denganku, atau yang mendekatiku, atau yang merajut cerita denganku. Tidak pernah sekali pun. Sama sekali. Namun aku yakin, mereka pasti pernah membaca kisah Matheo, dan aku tidak keberatan.

Karena itulah, ketika aku berkata aku memiliki pacar, reaksi mereka semua sama. “Siapa?!” lalu “Seriusan?!” dan “Kapan??”. Dua belas agustus, tepat setelah aku dan J benar-benar berpacaran, orang pertama yang aku beritahu adalah Inggrid. Kenapa? Tidak tahu. Mungkin karena Inggrid juga pernah membagi kebahagiaannya denganku dengan bercerita kalau dia punya pacar, dan aku berpikir aku harus melakukan hal yang sama. Lalu aku bercerita pada There, Aina dan Anggraini. Empat orang pertama selama dua hari setelah tanggal dua belas yang aku beritahu tentang J—There lebih dulu tahu tentang J, aku pernah bercerita meski sekilas—dan setelahnya, barulah aku menceritakan kepada Andra, Ariani, dan Desya.

Kejadian pertama yang terjadi adalah tentang Andra. Dia adalah sahabat laki-lakiku—empat tahun penuh berada di universitas dan fakultas yang sama. Empat tahun penuh bergantung kepadanya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Empat tahun penuh menceritakan segala keluh kesah, kekesalan, kemarahan, emosi, bahkan kebahagiaanku padanya. Andra adalah pendengar yang baik, sahabat yang baik, seorang kakak yang baik. Aku sempat ragu memberitahukan tentang J padanya, tidak tahu kenapa, tapi pada akhirnya kuceritakan semuanya, kukatakan aku punya pacar. Tentu, reaksi Andra sama dengan yang lainnya. Dia tidak percaya, dan dengan sikap serta sifatnya yang santai nyaris lawak, dia bilang dia patah hati. Dengan tololnya, aku tertawa. Kukatakan padanya, kalimat-kalimat terima kasih atas semua jasanya selama empat tahun. Aku sadar diri, setelah Andra lulus, aku tidak bisa lagi bergantung padanya. Well, masih sih, tapi mungkin tidak akan seperti dulu lagi. Dia punya tanggung jawab yang lebih berat ketimbang empat tahun kemarin, dan aku rasa tidak sopan kalau aku mengganggunya. Kami berbincang banyak hal, dan kukatakan lagi padanya, dulu aku pernah ragu pada perasaanku sendiri.

There pernah berkata, mungkin hanya Andra-lah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti siapa sosok Malika. Waktu pertama kali mendengarnya, aku tertawa dengan tolol. Tapi tanpa sepengetahuan There, aku benar-benar memikirkan kata-kata itu. Kukatakan pada Andra tentang semua itu, dan aku bilang, apakah saat itu aku memang menyukaimu? Mungkin. Tapi sikap dan perhatian Andra kepadaku hanya sebatas adik, dan aku kembali berpikir, sepertinya pikiranku tentang perasaanku itu salah. Aku memang menganggapnya kakak—toh, orang yang mengerti kepribadian orang lain tidak selalu pacar atau orang yang disukai—dan aku nyaman dia menganggapku adik. Setidaknya hubunganku dengan Andra tidak canggung atau apalah.

Di luar dugaan, Andra menyesal menganggapku adik. There berkata padaku, dialah yang menyadarkan perasaan Andra. Dia bilang, Andra sempat berkeluh kesah padanya, tentang betapa sedih dan kecewanya dia saat tahu aku memiliki pacar. There bilang pada Andra, tidakkah dia sadar dengan perasaannya padaku? Dan tidak perlu menunggu lama lagi, Andra menyadarinya. Tapi sayangnya baik aku mau pun There berpendapat yang sama—semua itu terlambat. Aku sudah menetapkan hatiku pada J, dan itu mutlak. Singkat cerita, kukatakan pada Andra bahwa kita masih bersahabat, aku akan tetap berkeluh-kesah padanya dan dia masih tetap bisa berkeluh-kesah padaku. Tidak ada yang berubah.

Tapi faktanya, segala sesuatu yang berubah tidak bisa kembali lagi seperti dulu.

Enam hari sejak hari itu, tepat di hari lebaran, Andra berkata ingin berbicara serius padaku. Selama enam hari itu, tidak ada hal yang berubah. Aku tetap mengabarinya tentang ini dan itu, dia pun tetap menceritakan tentang berbagai hal yang terjadi di seberang sana. Hal berbeda tentu saja ada, kata-kata sayang dan ekspresi kasih terang-terangan Andra tunjukan padaku—aku tahu, sikapnya memang begitu. Tapi entah kenapa, aku mulai risih. Apa karena aku memiliki J? Aku tidak tahu, aku hanya bisa berdiam diri dengan pemikiranku barusan. Dan di hari lebaran, kami berbicara serius. Andra menjanjikan pernikahan padaku. Dia bertanya apakah masih memiliki kesempatan untuk bersanding denganku suatu hari, berimajinasi aku menjadi istrinya. Kalau boleh jujur, saat itu aku emosi.

Pernikahan adalah hal yang paling sensitif bagiku. Aku tidak mau berbicara tentang topik itu—alasannya sederhana, usiaku atau usia Andra hanya berbeda satu tahun, dan kami masih berusia dua puluhan. Kenapa dia berani menjanjikan pernikahan kalau nyatanya masa depan yang ada di hadapannya masih samar-samar? Kalau pun memang Andra ingin menjanjikan pernikahan, tidak bisakah dia pendam sendiri sampai waktunya benar-benar tiba? Kukatakan pada Andra—jawaban paling netral yang bisa aku katakan—siapa pun, pria mana pun, masih memiliki kesempatan untuk menikah dengan wanita pujaannya selagi wanita itu belum terikat tali pernikahan. Kukatakan padanya, hubunganku bukanlah pertunangan apalagi pernikahan. Aku tidak bisa bilang iya karena aku tidak tahu, apakah kedepannya aku masih dengan J atau tidak, dan aku pun tidak bisa bilang tidak karena alasan yang sama. Aku bukan peramal, bahkan seorang peramal pun tidak bisa menjanjikan sesuatu yang bukan kehendak-Nya.

Dan sejujurnya, aku masih ingin menikmati hari-hari baruku. Tapi dengan jahat kukatakan, Andra merusak semuanya. Ya, aku berani berkata seperti itu karena begitu aku ceritakan semuanya pada J, kami berdua bertengkar. Hebat. Dia marah, dan aku pun begitu. Dulu aku pernah berkata pada J bahwa aku benci topik pernikahan, dan karena Andra, J mau tidak mau mengungkit topik itu lagi dan aku kesal. Lagi, kita berdua bertengkar. Kami salah paham. Apalah itu namanya. Meski memang tidak berlangsung lama, pertengkaran dengan J cukup membuatku lebih kecewa dari sebelumnya. Setelah itu, hari-hariku kembali seperti biasa meski aku pribadi, dalam diam, merasa semuanya tidak bisa lagi seperti biasanya—berbeda tentu saja, tapi aku tidak pernah menceritakan apa-apa dan kepada siapa.

Perubahan yang paling mencolok adalah tata bahasaku pada Andra.

Aku tidak menyalahkannya, itu hak Andra untuk menyukaiku seperti aku memiliki hak menyukai J. Tapi Andra menunjukkan dan mengutarakan perasaannya di waktu yang tidak tepat, dan semuanya berubah dalam sekejap mata. Perlahan-lahan, aku mencoba untuk kembali seperti biasa meski luar biasa menguras tenaga. Bagaimana pun, Andra sahabatku, dan sesuai janjiku, aku ingin tetap berhubungan seperti biasa dengannya. Butuh waktu yang lama, tapi aku rasa, aku bisa.

Hal kedua yang terjadi setelah Andra adalah keluarga. Well, aku tidak terlalu kaget sih dengan ini. Aku pun tidak berkata apa-apa pada Javier, Janneth, Mike, atau bahkan orang tuaku tentang J. Yang hanya bisa kutunjukkan adalah selama seminggu kemarin, aku dan J sering jalan-jalan. Bukannya aku tidak mau memberitahu tentang hubunganku dengan J, tapi yah, aku memang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu. Aku tidak bisa bercerita apa-apa—complicated, mungkin, maka untuk hal ini adalah masalah pada diriku sendiri—dan seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya bisa diam karena terkadang diam itu adalah sebuah jawaban dan tindakan yang benar.

Mungkin.

Dan masalah ketiga yang terjadi adalah ketika aku akan pulang ke Bandung dari rumah keluargaku di Cirebon. Tanggal dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, setelah perjalanan panjang keliling-keliling bersilahturahmi dengan sanak-keluarga yang lain, aku tertidur pulas dan terbangun tepat tengah malam. Kebetulan, jam dua dini hari keluargaku akan pulang kembali ke Bandung, jadi aku memutuskan untuk menyalakan fitur chatting Yahoo!Messenger di handphone-ku, berharap bisa bertemu Dhika karena aku belum menceritakan tentang J padanya. Yah, sebenarnya sih aku juga kangen. Dhika adalah salah satu teman laki-laki terdekatku meski kami tidak pernah bertemu secara langsung. Dia kuliah di Amerika, seorang pekerja keras—atau work-a-holic yang lebih parah dariku—yang kukenal lewat forum RP hanya karena dia cemburu karena karakterku dekat dengan karakter yang sedang ia incar. Dua tahun yang lalu, kami berkenalan, berbincang-bincang, bercanda tentang pembulian anak dibawah umur (yang padahal cuma iseng) dan mengancam akan mengadukan pada kak Seto, sampai berujung pada sesi curhat lebih dalam tentang pertunangan sepihak, tentang betapa jatuh cintanya Dhika pada Anna, sekaligus tentang sakit hatiku pada Matheo serta tentang penyakit. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan baik tentang hubunganku dengan Dhika. Dia lebih dari teman dekat, dia lebih dari kakak, tapi aku tidak pernah merasa jatuh cinta padanya. Aku menghormatinya, aku respek padanya.

Kami berbicara banyak hal meski aku tahu pembicaraanku dengannya tidak sebanyak pembicaraan Dhika pada Vina, Otriya, atau bahkan Anna. Tapi aku tidak keberatan, aku tahu Dhika merasa kesepian di Amerika sana—ingin pulang, itulah yang berkali-kali Dhika katakan padaku. Yang aku lakukan hanya bisa menghiburnya meski sesekali aku iseng menjahilinya dengan cara menggoda Dhika tentang makanan-makanan Indonesia. Tentang beras dan nasi yang susah payah ia dapatkan di sana, tentang nikmatnya makan indomie ketika hujan turun di Indonesia. Atau tentang bully-an Dhika padaku yang selalu aku sangkutpautkan pada kak Seto. Aku selalu bilang, “Dhika menyiksa anak di bawah umur! Aku aduin sama kak Seto!!” hanya karena aku lebih muda darinya. Tentu, Dhika mengelak. Itulah salah satu topik pembicaraan sederhana antara aku dan Dhika. Sederhana, karena tujuanku memang hanya untuk menghibur Dhika, berkata bahwa Dhika tidak kesepian. Aku senantiasa online malam-malam untuk menemaninya meski belakangan ini kondisi badanku tidak meyakinkan, dan terakhir berbicara dengan Dhika pun hanya sebentar.

Dhika pernah bilang, rasanya ada yang kurang kalau tidak berbicara denganku, tidak ada yang menghiburnya dan rasanya kurang tidak membaca lawakan-lawakanku. Dia bilang, sekali pun dia sakit dan tergeletak tak berdaya di rumah sakit, dia akan tetap online untuk menyapa teman-teman terdekatnya—Anna, Vina, Kira, Otriya, Nanda, dan aku. Dan terakhir kali berbicara dengan Dhika adalah tanggal tiga belas agustus. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi berbincang-bincang dengan Dhika. Aku sakit, begitu pun dengannya. Penyakit Dhika yang mengejutkanku, penyakit Dhika yang membuatku marah, penyakit Dhika yang membuatku kesal.  Suatu hari aku sempat gelisah tidak bisa tidur seharian, dan itu karena memikirkan Dhika juga Anna. Tidak tahu tepatnya kapan, tapi gelisah itu sempat membuatku ingin menangis.

Dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, sekitar jam 1 pagi hari sembari menunggu jemputan atau travel untuk pulang ke Bandung, aku menyalakan Yahoo!Messenger. Tidak ada Dhika, dan saat itu aku berpikir pasti dia sudah dicekokin obat tidur oleh suster di sana. Hanya ada Vina dan Andra yang menemaniku menghabiskan waktu sembari menunggu. Namun yang ada, aku dikejutkan oleh berita yang membuatku membeku untuk beberapa menit. Di jam yang sama, di menit yang sama, di detik yang sama, Vina bilang Dhika koma; Andra bilang dia sakit dan katanya di diagnosa kena kanker hati.

Aku tidak bisa menangis, tapi dadaku nyeri.

Tidak ada J, keluargaku sibuk mengurus barang-barang untuk pulang, kakak-kakakku kelelahan, teman-temanku tidur pulas di gelapnya malam. Aku menghadapi dua berita serius sendirian, dua berita dari sahabat laki-lakiku secara bersamaan. Tidak berkomentar apa-apa baik untuk obrolan dengan Vina mau pun dengan Andra. Aku harus bagaimana? Dan dengan jawaban klise, kukatakan pada mereka semoga cepat sembuh dan segala sesuatunya baik-baik saja—untuk Vina, Dhika, dan Andra. Vina berjanji akan mengabariku tentang Dhika apa pun bentuknya, Andra pun berjanji akan memeriksa kesehatan tubuhnya ke dokter untuk mengecek ulang hasil diagnosanya dan akan memberitahuku hasilnya secepatnya.

Tidak ada pegangan bagiku saat itu. Lagi, aku hanya bisa diam sebagai jawaban. Sampai sekarang, aku selalu gemetar dengan berita menyebalkan itu. Kuceritakan semuanya pada J ketika secara tiba-tiba dia terbangun tengah malam. Kukatakan semua perasaan kalutku padanya, kuceritakan semua emosiku padanya. Aku tahu mungkin aku terdengar lebay atau berlebihan atau apalah, tapi semua ini adalah perasaanku sesungguh-sungguhnya. Pernahkah kalian merasa ingin menangis tapi tidak bisa? Itulah yang aku rasakan. Sakit yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata atau kiasan apa-apa.

Hari ini, tanggal dua puluh enam Agustus dua ribu dua belas, selama dua hari kemarin, kugunakan kembali topengku. Selama dua hari kemarin, aku tersenyum dan tertawa seperti biasa, bermanja-manja meski dikepalaku terbagi dua pemikiran yang saling memaksa. Kehidupanku dan kehidupan keluarga kecilku. Kembali kubuka telingaku lebar-lebar mendengar keluh-kesah teman-temanku, tentang Inggrid, tentang There, tentang Ariani, tentang J, tentang semuanya. Andra bilang penyakitnya adalah hepatitis, dan aku sedikit merasa lega meski tidak sepenuhnya. Tiap malam kusapa Dhika via twitter berharap dia menjawab mentionsku secara tiba-tiba seperti tanggal tiga belas kemarin. Otakku tidak bisa berhenti berpikir tentang semuanya. Rasa peduliku sungguh besar, tapi tanggungan yang kudapatkan pun besar. Aku tidak merasa lelah, tidak merasa keberatan pula. Semua ini aku lakukan karena aku tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa pada teman-temanku seperti apa yang mereka lakukan padaku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.

Apakah kalian merasa aku berlebihan? Aku pun demikian. Heran sekali rasanya aku bisa berpikir seperti ini, bersikap seperti ini, atau apalah. Tapi inilah Malika, dan aku yakin, kalian semua yang memang mengenalku tahu tentang semua ini. Kalian bertanya apa yang aku butuhkan? Sederhana, aku hanya ingin kalian tetap ada meski sebatas chatting atau dalam dunia maya. Kalau pun bertanya hal yang muluk, aku hanya ingin di peluk atau sekedar di tepuk. Aku tidak pernah bisa bercerita dengan cara berbicara—aku lebih lihai bercerita dengan tulisan, jadi yah, wajar kalau setiap kali kalian bertanya kenapa aku hanya bisa diam dan menggeleng. Tapi bukan berarti aku tidak percaya, aku hanya tidak tahu caranya.

Inilah yang terjadi, kawan. Inilah kenapa aku meminta kalian ada di Bandung. Maaf ya, Malika Mahaprasthanika memang selalu menyusahkan. Yah, terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti tidak menggubris atau tidak bisa menjawab. Dan bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu.







© title : @isaansh // semua yang tertulis adalah kejadian yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga, emosi, juga air mata. Tidak ada niatan khusus untuk mengumbar aib atau kejelekan seseorang, hanya pelampiasan emosi dan menyimpan kenangan.

Label: , , , , , , , , , , , , , ,



Thank you.
Sabtu, 07 Juli 2012 @7/07/2012 08:18:00 PM




Hai Matheo, apa kabar?

Sudah berapa lama ya sejak kejadian waktu itu? Aku tidak ingat, terus terang saja, tapi kalau untuk urusan aku terus mengingatmu, itu benar adanya. Mungkin sudah dua bulan, atau tiga bulan, atau empat atau berapa, sebenarnya bukan itu yang mau kuutarakan hari ini kepadamu, bukan. Hari ini, tujuh July duaribu duabelas, aku ingin berterima kasih kepadamu—oh, sekedar informasi, kau tahu, hari ini adalah hari terburuk bagiku untuk tahun ini. Semacam dewi fortuna tidak berpihak padaku—ah, ya ya ya, aku tahu, dewi fortuna memang tidak pernah berpihak pada siapa-siapa, tapi entahlah rasanya hari ini aku sama sekali tidak mendapatkan keberuntungannya.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, banyak sekali orang yang datang kepadaku. Lelaki. Dengan tujuan silahturahmi. Aku tahu, pada hakikatnya bukan itu yang mereka mau. Kau pernah bilang padaku, laki-laki sekali pun ia baik hati, hasrat yang paling jujur baginya adalah nafsu dan emosi. Kau memberiku peringatan secara tidak langsung agar aku bisa berhati-hati, agar aku bisa menjaga diri. Dan aku melakukannya, aku berusaha untuk menjaga diri dan hati, serta menjaga perasaan orang lain agar tidak menjadi iri dan dengki. Aku berterima kasih kepadamu.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, aku tidak tahu harus bagaimana ketika aku jatuh. Dulu, kau selalu mengulurkan bantuan untuk menolongku, tapi kini kau pergi dariku. Kau berkata aku harus mandiri, aku harus bisa berdiri sendiri. Dan begitu kau pergi, aku melakukan apa yang kau suruh waktu itu. Ya, Matheo. Aku berdiri sendiri, dengan kedua kakiku, menatap punggungmu yang semakin lama semakin jauh meninggalkanku. Dan aku berterima kasih kepadamu.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, aku tak tahu harus kepada siapa aku mengadu. Dulu, aku bergantung padamu, tapi dulu kau juga bilang padaku untuk melupakan niat itu. Kau mengajarkanku bagaimana menjadi orang yang sabar, yang selalu berpikir panjang dan tidak bertindak sembarangan. Kau melakukan itu dengan cara berada di tempat yang jauh dariku, menguji sejauh mana kesabaranku. Dengan cara itu, kini aku benar-benar menjadi orang yang sabar dan pengertian, meski pun kini aku berjuang dengan ujian yang lebih menyakitkan, yakni sebuah kenyataan kau tak lagi memberiku perhatian. Tapi aku berterima kasih kepadamu, sungguh.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, aku tak tahu harus kemana aku mengalihkan pikiran dan perhatianku. Dulu, aku selalu memikirkanmu, tapi dulu kau juga bilang aku tak boleh seperti itu. Kau mengajarkanku bagaimana cara berpikir yang baik, penuh dengan inspirasi dan pandangan yang positif. Kau mengajarkanku bagaimana caranya berpikir dengan bijaksana, yang bisa mengalihkan pandangan mata dan dunia. Tahukah kau cara itu benar-benar mengubahku? Dengan cara itu, perhatianku benar-benar teralihkan darimu. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu.

Matheo, terima kasih.

Dewi fortuna mungkin tidak memberikan keberuntungannya hari ini kepadaku, tapi dulu ia memberimu kepadaku, dan keberuntungan bertemu denganmu masih melekat kepadaku meski kini kau jauh dariku. Mungkin aku memang tidak bisa memberimu keberuntungan seperti apa yang kau berikan padaku, tapi aku tidak tinggal diam, aku punya cara bagaimana bisa memberimu keberuntungan, aku punya cara bagaimana agar dewi fortuna mau membalas kebaikanmu—Matheo, aku ikhlas melepasmu.

Hari ini adalah hari terburukku, bukan?

Tapi tak apa, asal bisa membahagiakanmu dan membalas budimu, aku senang.

Terima kasih Matheo. Terima kasih.

Label: , , , ,



—and I'm always just dreaming
Senin, 02 April 2012 @4/02/2012 09:40:00 PM





And when I slowly close my eyes, you come back to my memory
and disappear when I look back
 Even if you can't reach the place we were to meet at
I won't let go of your hand...


- 真夏の夜のユメ -






Suara dering handphone terdengar nyaring memecah keheningan kamar berukuran dua kali tiga meter berwarna putih itu. Ponsel berwarna merah yang sebelumnya tampak baik-baik saja di meja bundar kini terlihat bergetar-getar kecil, seiring dengan nada yang semakin lama semakin keras memekik telinga. Tergopoh-gopoh, Malika menyambar ponsel itu dan menekan tombol accept ketika melihat nama 'Matheo' di layar ponselnya.

"Ya? Hallo? Theo?" mulutnya seketika kaku sekali pun di seberang sana justru terdengar tawa renyah. "Apaan sih kenapa ketawa? Ada apa?" lanjut gadis berambut hitam itu. Kemudian keduanya malah terdiam untuk beberapa saat, tidak ada jawaban. "Halo? Theo? Masih di situ?" ujarnya memastikan. "Iya Mal, sibuk gak?" Theo akhirnya bersuara, pertanyaan basi setelah sekian lama mereka tidak bertegur sapa. "Kalau sibuk sih ya enggak usah."

"Hmmm, enggak juga sih" apa sih yang enggak buatmu "kenapa?" lagi-lagi pertanyaan Malika tidak di jawab dengan serius, tawa renyah Theo kembali ia dengar dengan jelas. Malika mau tidak mau tersenyum, rasa rindu yang meluap di hatinya membuat kedua ujung bibirnya tertarik ke samping. "Ketawa melulu, kau seperti orang gila." Malika bersuara lagi, canda tawa. Theo terkekeh. "Sialan kau" umpatnya.

Tidak tahu, mungkin karena rindu, Malika ikut tertawa. "Tapi aku memang gila sih, hampir gila tepatnya karena rasa-rasanya otakku mau meledak, kau tahu." Theo mendengus kecil, menghela nafas panjang ketika Malika bertanya lagi tentang kondisi pemuda berusia lima tahun diatasnya itu. "Tidak apa kok kalau kau sibuk, nanti saja aku cerita."

"EEEHH!!" Buru-buru menyangkal, Malika berteriak kecil, penolakannya secara gamblang ditunjukkan terang-terangan. Theo yang mendengarnya hanya bisa tertawa—seolah mengerti bahwa gadis berusia dua puluh satu tahun itu sedang ingin berbincang-bincang dengannya. Kangen, mungkin. "Eh tapi terserah kamu sih, kalau ingin cerita ya cerita saja. Enggak ya enggak apa-apa..." berpikir sebentar, Malika membiarkan ada sedikit jeda di tengah-tengah kalimatnya. "Tapi aku cuma bisa bilang kalau semuanya pasti baik-baik saja. Seperti biasa." lanjutnya.

Matheo tidak berkomentar apa-apa, tapi akhirnya dia memutuskan komunikasi singkat dengan ucapan sederhana— "tidak apa, nanti aku cerita deh, besok" katanya sembari menutup ponsel. Malika hanya bisa tertegun, menatap ponselnya agak lama lalu menghela nafas panjang. Antara lega bercampur cemas. Sekaligus dilema.

Tapi ternyata, Malika tidak harus menunggu dalam waktu yang lama karena belum saja waktu berputar selama dua puluh empat jam penuh, ponselnya berdering lagi; pertanda ada pesan singkat yang masuk. Entah memang sudah feeling atau apa, Malika yang memang dari tadi membawa ponselnya itu kemana-mana langsung membuka pesan singkat itu—dari Matheo.

Basa-basi, bertanya dia sedang apa. Gadis ini dengan cepat menggerakkan jemarinya, mengetik sederet tulisan dan langsung mengirim balasan  pada Matheo. Hatinya berteriak, setengah memaki, setengah memaklumi. Dia ringu—tidak bisa di pungkiri. Akan tetapi mungkin memang Malika telah melakukan kesalahan dan dia tidak bisa memikirkan dirinya sendiri, barang kali Tuhan sedang ingin mengingatkannya. Tidak tahu, tapi begitulah apa yang ada di benak Malika.

Satu pesan singkat kembali masuk ke memori ponselnya, pengirim yang sama seperti sebelumnya tapi isi pesannya jelas membuat Malika tertegun. Sederhana, tapi gadis itu dibuatnya membeku. Dia memejamkan matanya erat-erat, menahan nafas, dan sekuat tenaga menahan air matanya yang sudah membendung. Gadis itu duduk jongkok di kamarnya, menyembunyikan wajahnya untuk beberapa saat. Tidak, dia tidak menangis, hanya merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.  Menengadahkan kepalanya, menatap layar ponselnya, Malika segera mengetik balasan untuk Matheo dan tanpa membaca ulang, dia langsung menekan tombol send.



———

'bagaimana cara menembak cewek?'

'apa kau pernah menembakku?'

———


Label: , , ,



Reflection
Rabu, 14 Maret 2012 @3/14/2012 08:30:00 PM






14 Maret 2012
Bandung, kantin kampus. 10:26




"Kamu masih mikirin Theo ya, Ka?" Malika menoleh cepat ketika suara kalem Tere mengejutkannya. Lamunan tentang sesosok lelaki berambut sedikit gondrong yang sedari tadi tergambar jelas di pandangannya kini buyar seketika, hilang entah kemana. "Eh? Apa Ter?" gadis bernama Malika itu akhirnya membuka suaranya, tersenyum polos ke arah Theresa. "Tadi ngomong apa?" tambah Malika cepat. Di lihatnya, Tere hanya menghela nafas panjang.

"Malika, kamu masih mikirin Theo, ya?" ujar Tere mengulang pertanyaannya dengan sabar. Tapi mungkin Tere harus menambah takaran sabarnya karena Malika hanya menjawab dengan seulas senyum tipis di wajahnya. Meski pun jawabannya hanya sebatas itu, Tere tahu, itu artinya adalah 'iya'. "Theo itu... sebegitunya banget ya buat kamu?" gadis berambut hitam setekuk itu kembali bertanya, kali ini pandangannya tertuju ke arah piring kosong di hadapannya. Kedua tangannya sibuk mencuil-cuil sisa keju dengan menggunakan garpu yang digerak-gerakan oleh tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menyangga kepalanya yang sedikit miring agar memudahkannya menatap Malika tanpa harus bersusah payah menoleh. "Apa sih, bagusnya dia?"

Sebenarnya, dari dulu hal yang paling di benci Malika adalah pertanyaan-pertanyaan seputar Theo. Orang-orang selalu bertanya apa bagusnya dia, apa menariknya dia, apa bijaksananya dia, dan lain-lainnya. Malika sendiri sebenarnya sudah berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sejelas mungkin, dengan kalimat bahwa baginya, takaran bagus, baik, menarik, atau bijaksana baru bisa di mengerti oleh setiap orang apabila orang tersebut sudah menjalaninya. Dan karena Malika pernah menjalani hubungan dengan Theo, Malika tahu Theo itu seperti apa, sedangkan Tere yang hanya sebatas teman belum tentu bisa mengerti seperti Malika mengerti Theo.

"Bagusnya—ya bagus saja," menjawab sekenanya, Malika hanya menghendikkan bahu. "Aku tuh udah sering denger pertanyaanmu yang ini, Ter, apa kamu ga bosen nanya dan denger jawaban yang sama terus-terusan? Aku aja yang di tanya bosen," tambahnya dengan bibir manyun pertanda sebal. "Ntar aku bikin buku 'Rumus Alasan Kenapa Malika Suka Theo' deh biar kamu hapal di luar kepala—hahaha."

Tere berdecak kecil, sebal mendengar jawaban dari sahabatnya itu. "Bukan gitu, aku juga inget kok jawaban kamu apaan, tapi ya aneh aja, sampai sekarang kamu masih aja mikirin Theo. Gak mau buka mata apa kamu Ka?" Malika terdiam, mendengarkan ucapan Tere yang mulai berceloteh panjang. Semacam mendengarkan ceramah di pagi hari, bedanya bukan tujuh menit, tapi lebih dari itu. "Cowok tuh banyak loh di sekeliling kamu, ada Eja, ada Raka, ada Bayu..."

"Tapi kan ngelupain orang itu enggak gampang toh Ter, apalagi kalau kamu udah kenal lama. Gak cuma sekedar kenal, tapi kamu tahu seluk beluk apa yang dia hadapain itu lebih susah." Malika menyanggah ucapan Tere cepat-cepat, mendengus pelan. "Tapi tenang aja kok Ter, aku mulai nyibukkin diri supaya bisa lupa sama Theo." gadis itu tertawa renyah, menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan lembut. Tapi Tere hanya menghela nafas, menggeleng lemas.

"Lupa bukan berarti ikhlas loh Ka."

Malika menoleh, tersenyum tipis. "Ikhlas pun bukan berarti lupa, Ter."

Label: , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //