<body>
“Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.”
Rabu, 21 Agustus 2013 @8/21/2013 01:09:00 PM




“Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.”
(Harry Potter and The Deathly Hallows) 

— ♪ —  



Halo, apakabar? Masih suka diam-diam membuka link blogku? Mungkin masih, tapi berani taruhan deh, pasti tidak sesering dulu dan pastinya ada sedikit rasa kecewa karena blog-ku sepi alias tidak lagi memposting tulisan-tulisan seaktif dulu, iya kan? Iya, sebut saja aku terlalu percaya diri sampai-sampai berani menulis seperti ini, hahahaha, tapi aku rasa sih, seperti itu. Siapa lagi sih yang aktif membuka blog-ku? Hello, aku tahu loh siapa-siapa saja yang sering membuka blog-ku. Tidak semua, tapi beberapa silent reader sih, aku tahulah. 

Harus menulis apa ya? Aku sendiri bingung. Hmmm. Begini. 

Pertama, terima kasih ucapan selamat kelulusannya, maaf juga ya enggak bisa menepati janji untuk lulus di bulan april kemarin, malah jadi lulus bulan july, ah tapi beda beberapa bulan doang kok, enggak jauh berbeda, malah sekalipun gagal, aku mendapatkan hal yang lebih baik—oh, aku percaya kalau kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Aku sudah memposting hasil karya Tugas Akhirku di facebook, entahlah kamu melihatnya atau tidak, aku hanya berusaha menepati janji yang lainnya (janji untuk lulus bulan april kan, tidak bisa aku tepati)—eh tapi, aku tetap lulus di tahun 2013 kok! 

Hmm, lalu yang kedua, mungkin sudah mau satu tahun kita tidak berbincang-bincang sefrontal dulu. Iya sih, dulu enggak frontal-frontal amat juga, tapi seenggaknya kan, halo? Siapa lagi yang bisa memanggil namamu seenakjidat? Sayang sekali, sekarang berbicara denganmu rasanya kikuk, entah kamu yang kikuk, atau aku yang canggung. Tapi menurutku sih, bukan aku. Aku masih memperlakukanmu sama seperti tahun-tahun yang lalu, tidak ada bedanya dengan aku punya pacar atau tidak. Sepenglihatanku, kamu begini dan aku begini karena aku punya pacar. Memang kenapa kalau aku punya pacar? Ah ya, mungkin karena tulisanku sebelumnya yang aku-ingin-di-lamar-dan-tidak-mau-pacaran-dulu-itu? Kau mungkin kesal karena aku malah—semacam menjilat kata-kata sendiri? Tapi ada alasan kenapa aku malah pacaran dan bertolak belakang dengan tulisanku waktu dulu. Sesungguhnya, aku merasa aku tidak menjilat ucapanku sendiri karena menurutku, yang namanya lamar-me-lamar kan, enggak seenak jidat ‘hai mau ga jadi istriku?’ seperti itu, kan? Daniswara menunjukkan cara yang jauh lebih meyakinkanku selain dengan kata-kata semata. Dan janji-janji bodoh tanpa penyangga. Tahu tidak? Aku banyak berubah sejak mengenal (lebih) Daniswara. Aku tidak seargoan dulu, tauk! Aku juga tidak selalu lebih dulu mementingkan urusanku lagi.

Daniswara banyak mengajariku, karena katanya, kalau yang namanya menikah, atau minimal melamar, harus ada yang diluruskan terlebih dahulu. Komitmen, sikap, sifat, sudut pandang, kepercayaan satu sama lain, keinginan yang sama, dan terutama adalah agama. Mungkin, kebanyakan orang bisa berkata hal itu dapat dipelajari dan diluruskan setelah menikah. Tapi menurutku tidak. karena apa? Yang namanya menikah berarti berjanji akan hidup selamanya bersama. Bayangkan kalau semua hal yang barusan aku sebut itu berbeda, kita tidak mengenal satu sama lain, akan sulit dilalui. Tapi ya, terserah sudut pandang orang masing-masing, sih. Tapi percaya deh, pada akhirnya, Insya Allah, Daniswara akan mendampingiku dan aku sama sekali tidak menjilat ucapanku sendiri—buktinya, post blog-ku itu tidak aku hapus, kok! Omong-omong. Kudengar, kamu akan menikah? Selamat ya! Aku akan datang insya Allah kalau sempat, hahahaha! Dan lagi-lagi aku berjanji, kalau kamu sudah menikah, aku akan menyusul menikah setelahmu. Entah kapan sih, tapi doakan saja. Anw, aku tidak terlalu suka sudut pandang orang yang ‘ah-itu-kan-cuma-alasan-salah-tetap-aja-salah’ seperti yang—uhuk—belakangan ini ramai dibicarakan di twitter. Karena, aku rasa, (mungkin) orang yang paling bijak dan terpercaya di muka bumi ini pun selalu bertanya perihal alasan yang lebih mendalam dan membuka pandangannya seluas mungkin terlebih dahulu, baru memutuskan mana/siapa/apa yang salah dan mana/siapa/apa yang benar. Yah, lagi-lagi, ini sih, sudut pandangku.

Lalu ketiga—apa ya. Aku merasa banyak yang berubah selama satu tahun ini. Banyak. Banget. Tapi ada yang bilang, terkadang semua pertemanan akan dipisahkan dengan pernikahan masing-masing. Dan kalau pun dipisahkan karena pernikahan, yakinlah tidak ada yang meninggalkan siapa/apa pun dan tidak ada yang ditinggalkan siapa/apa pun. Aku sih, mencoba percaya. Insya Allah. Karena seperti apa yang aku kutip di atas, “Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.” tidak ada yang harus dipaksakan, bukan? Nah. Sepertinya, jalan kita berpisah di sini ya? Aku sudah melunasi janji-janjiku padamu—kecuali yang terakhir, itu sih menunggu waktu, insya Allah—jadi tidak ada yang perlu merasa meninggalkan beban satu sama lain, kan? Aku hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia dengan pilihan dan jalanmu, karena aku sangat-sangat-sangat bahagia dengan pilihan dan jalanku. 

Omong-omong, kesannya seperti aku menulis ini spesial untukmu dan kamu adalah orang spesial untukku ya? Aku tidak bermaksud seperti itu loh, karena ketika perpisahan harus aku lalui, aku akan menuliskan satu post khusus (bukan spesial!) pada orang akan pergi itu. Tidak percaya? Aku menulis soal Dhika tahun lalu, kok. Jadi, ya, begitulah :D 

Aku tidak menutup kemungkinan kita akan berbicara lagi. Jadi, hubungi aku kapan saja.

Label: , ,



Nur
Kamis, 11 Oktober 2012 @10/11/2012 09:00:00 PM



Malika, anakku.

Masih tersimpan bayangan wajah mungilmu dibenakku, tak pernah bisa kupercaya bahwa kau pernah sekecil itu. Tapi lihatlah, kini kau telah tumbuh besar dengan ambisi yang kuat, bergelora, dan tinggi untuk digapai. Namun aku tahu, kau juga rentan untuk jatuh dan terkapar.

Dulu, engkau selalu memerlukanku dalam segala hal, karena engkau pernah berkata bahwa aku, Nur, yang memiliki arti nama Cahaya adalah cahayamu. Aku adalah cahayamu, begitu katamu dulu. Namun kini engkau berdiri di atas kedua kakimu dan lakukan semua hal, tanpa bantuanku, tanpa cahayaku. Dulu, namaku selalu kau sebut saat kau meminta apapun, mengajakku kemana pun. Namun kini kau punya seluruh dunia yang siap membantu kapan pun, menemanimu kemana pun. Kau berpijak dengan kakimu sendiri, anakku. Kau benderang tanpa cahayaku.

Tapi ingatlah anakku, bila langitmu suatu saat runtuh, dan tiada siapa pun yang tersisa, tengoklah kebelakangmu, ada aku, cahayamu yang tetap menyala sekali pun pernah kau lupakan. Bersamaku engkau akan merasa aman, bersamaku engkau akan merasa utuh. Kemana pun kakimu melangkah, kemana pun arah tujuanmu, kemana pun kau berpijak, tengoklah kebelakangmu, anakku. Ada aku, yang selalu mengingatkanmu bahwa kau tidak sendirian. Aku selalu ada untukmu. Aku adalah cahayamu.

Engkau dapat melaju terbang setinggi langit anakku, sejauh yang mampu engkau pandang. Namun ingat, bumi akan selalu menarikmu datang. Ada satu masa engkau akan merasa bahwa dunia adalah milikmu seorang, namun ingatlah bahwa semua yang fana pasti akan hilang. Akan pula kau temukan masa dimana kau berjalan melawan arus dunia, diihempaskan arus kekejian, merasa putus dari karunia. Bila seakan tidak ada lagi harapan yang bisa kau saksikan, tengoklah dibalik punggungmu, anakku. Disanalah dirimu aku nantikan, disanalah cahaya yang kau butuhkan akan terus menyala untukmu. Sejauh apa pun kesalahanmu, tengoklah di balik punggungmu, anakku. Aku akan menerimamu dengan pelukkan terbaikku, akan menyinarimu dengan cahaya kasih sayangku.

Aku tidak bisa bersamamu selama-lamanya, ada waktunya aku akan pergi, atau engkau yang akan lebih dulu pergi. Aku tak bisa menahanmu dari mencintai, aku tak dapat menahanmu saat tiba waktu kau pergi, Aku akan berat melepasmu bila tiba masa itu. Tapi seperti katamu, Nur berarti cahaya, dan aku, ayahmu, akan terus menjadi cahaya bagimu, anakku.


Label: ,



Memori
@10/11/2012 08:56:00 PM



Cerita tentang Matheo mengalir begitu saja dari bibirku. Lancar tanpa jeda.

Hebatnya, tidak ada air mata.

J bertanya padaku perihal Matheo, dan tanpa basa-basi kuceritakan semua tentang pemuda kelahiran Jakarta awal Agustus itu. Tentang bagaimana aku menyukainya, bagaimana aku menunggunya, bagaimana aku berubah karenanya, dan tentu saja aku juga bercerita bagaimana aku hancur karenanya. Memang kuakui, tidak semuanya kuceritakan pada J tentang siapa Matheo, tentang bagaimana sosok Matheo yang sebenarnya—seperti There, kukatakan bahwa mereka tidak mengenal Matheo seperti aku mengenalnya, dan aku hanya menceritakan hal-hal yang umum. Well, mungkin bagi mereka umum, tapi bagiku tidak, dan kukatakan sekali lagi, mereka tidak mengenal Matheo seperti aku mengenalnya. Namun kutekankan pada J bahwa aku tidak lagi memikirkan Matheo—dan aku sama sekali tidak membencinya. Biasa-biasa saja, tidak lebih dan tidak kurang. J bertanya apakah aku masih sering menghubunginya atau tidak, dan aku hanya bisa menghendikkan bahuku. Kadang kami saling kirim message, atau sms, tapi itu benar-benar sangat jarang. Sesekali Matheo meneleponku, tapi aku bilang dan memang ini yang sebenarnya, kalau aku enggan menerima telepon darinya. J menatapku, bingung. “Aku pernah berkata padamu, kadang melupakan sesuatu itu adalah cara yang terbaik.” Jawabku meski aku yakin, ucapanku itu sama sekali tidak bisa diterka maksudnya apa.

Dan pemuda dihadapanku itu tersenyum, mengangguk sembari menggenggam tanganku erat-erat.

Aku mengernyit. “Boleh aku tanya sesuatu, J?” mata cokelat itu menatapku dan lagi-lagi seperti ada yang menggelitik ketika tatapan kami bertemu. Aku suka matanya, tapi terkadang aku kesal dengan sensasi yang dibuatnya. Tidak terbiasa, mungkin. “Tanya apa?” J bertanya lembut, tangannya masih menggenggam tanganku dan aku pun menunduk menatap kedua tangan yang sedang bertautan itu. “Kenapa kamu senang sekali memegang tanganku?” jeda sebentar, aku menghela nafas. “Aku tidak terbiasa di pegang tangannya seperti ini, jujur saja,” kataku pelan, takut menyinggung perasaan J. Di luar dugaan, J tertawa. “Kalau ibarat kita ini murid Hogwarts ya Mal, dan kita sedang berada di kelas Patronus, memegang tangan kamu adalah ingatan yang membuatku paling bahagia.”

Untuk beberapa saat, J tidak berkata apa-apa dan aku menunggunya dengan sabar. Ucapannya sama sekali tidak menjawab apa-apa—menjawab sih, tapi masih menyisakan tanda tanya. J tersenyum melihat wajahku, dan aku secara refleks ikut tersenyum juga. “Dulu, waktu aku akhirnya bisa ngajak kamu jalan ke BIP buat nonton film Meet the Fokker, di situ pertama kalinya aku bisa megang tangan kamu, dan rasanya seneng banget. Malah, filmnya sama sekali enggak aku perhatiin,” dia tertawa kecil, sedangkan aku hanya bisa menatapnya kikuk. Memori dikepalaku berputar-putar, kupaksakan diri untuk mengingat kenangan bersama dengan J sewaktu SMP meski berujung membuatku sakit kepala. Dan lamunanku buyar ketika pemuda bermata sipit itu kembali bercerita “Kamu tahu, kapan aku pertama kali suka sama kamu?” pertanyaannya membuatku menggeleng cepat. Aku sama sekali tidak tahu—aku hanya tahu dia menyukaiku sejak SMP, tapi sejak kapan lebih tepatnya aku tidak tahu apa-apa. “Dulu, kita pernah ikut event di Jalan Jakarta untuk menggambar di tembok dengan tema Bandung. Di situ aku pertama kalinya digodain anak-anak karena ketahuan merhatiin kamu, dan yah, namanya juga anak SMP,” dia tersenyum, matanya menatapku tapi aku yakin, J sedang kembali ke memori-memori SMP-nya “Dan entah kenapa kenangan itu susah banget dilupain.”

Aku tersenyum tipis, menunduk malu karena entah kenapa tiba-tiba mukaku terasa panas. “Aku… sama sekali enggak inget kalau dulu kita ikutan event di Jalan Jakarta itu—samar-samar, iya, aku ingat, tapi sepertinya enggak sekuat memorimu,” J nyengir, dia memaklumi. “Lalu?” kutuntut pemuda itu untuk terus menceritakan tentang kisahnya—entah kenapa aku sangat penasaran. “Sebenarnya, untuk yang paling pertama kalinya itu pas lagi upacara. Kamu dapat simpati aku saat itu.”

“Upacara? Kakiku kena kenalpot?” J pernah cerita seperti itu, makanya aku langsung bertanya.

Tapi J menggeleng. “Bukan—sorry ya kalau bikin sedih, tapi waktu itu, ada kabar kalau sepupu kamu meninggal dan kamu sedang menangis dibelakangku,” aku mengerjapkan mata, sedikit kaget karena J masih ingat tentang almarhum sepupuku itu. Yah, diingat-ingat, aku memang sangat kehilangan, begitu juga kakakku. Taruhan, pasti diingatan J, kakakku yang kebetulan satu SMP dengan kami juga menangis sedih sepertiku. “Nah, di situ aku mulai penasaran tapi aku belum tau nama kamu, kalau enggak salah, kelas 1 akhir apa kelas 2 awal gitu, aku juga agak lupa,” J menggenggam tanganku lembut, mengusap-usap punggung tanganku yang bisa kuartikan sebagai gerakan menenangkan—dia pasti khawatir aku kembali sedih mengingat tentang sepupuku. Tapi yang bisa aku lakukan hanya tersenyum dan berkata “lanjutkan ceritamu,” padanya. J kembali bercerita, matanya menatapku. “Akhirnya, karena penasaran, aku tanya sama anak-anak yang kebetulan ada di barisan kamu, nanya siapa nama kamu. Setelah tahu siapa kamu, anak kelas mana, dan ikut ekstrakulikuler apa, aku putuskan untuk pindah ekstrakulikuler yang sama—dari Palang Merah ke Reka Rupa. Yah, sebenarnya juga karena bosen, sih.”

“Lalu di Reka Rupa, aku kenal kamu, ikut-ikutan manggil kamu ‘J’, dan sering ngobrol…”

“Iya, kamu waktu itu benar-benar galak—kau tahu, bahkan ayahku ingat kamu pernah nyakar aku.”

“HAH?!”

Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu tertawa. “Yah, begitulah. Kamu tahulah aku kan dekat dengan kedua orangtuaku—jelas mereka tahu aku suka siapa waktu itu, dan segala-gala cerita tentang kamu aku ceritain. Termasuk kamu yang galak itu,” mungkin, kalau dihadapanku ada cermin, pasti mukaku sudah merah seperti kepiting rebus. Bahkan pipiku terasa panas. Aku malu. “…seriusan,” J tertawa mendengar keluhanku dan dia hanya mengacak-ngacak rambutku dengan sayang. “Kamu ingat kita pernah ke Nu Art sama anak-anak Reka Rupa?” aku mengangguk, memori tentang museum seni yang pertama kali aku datangi saat itu jelas sangat membekas di kepalaku, tentang patung besar, membuat patung tanah liat berbentuk kucing bersama Davina, melihat karya-karya seni yang tidak hanya berupa lukisan atau patung, dan sebagainya. “Aku enggak pernah luput merhatiin kamu.”

Panas. Pipiku panas. Dan jantungku berdetak cepat.

“Aku tidak pernah ingat apa-apa tentang masa-masa SMP—bahkan denganmu,” sebenarnya aku tidak mengerti, yang sekarang ini aku rasakan adalah malu atau takut, atau bahkan kecewa. Semacam rasa sakit tiba-tiba menusuk di dadaku mendengar semua penuturan J. “Kadang kepikiran aja sih apa kamu kecewa atau enggak,” kuucapkan kegelisahanku pada akhirnya, dengan suara pelan, sangat pelan bahkan sampai-sampai J harus mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuhku, dan menoleh sedikit ke kanan agar telinga kirinya bisa benar-benar mendengar ucapanku barusan. Kuulangi perkataanku lagi; lebih pelan. J tersenyum memaklumi. “Tidak apa-apa, sebenarnya aku juga udah nebak-nebak sih kamu pasti enggak ingat apa-apa. Tapi aku yakin, semua itu bukan berarti kamu enggak punya kenangan apa-apa,” genggamannya semakin erat, tapi sama sekali tidak membuatku kesakitan. “—ada sih yang aku ingat, satu hal, tapi ini norak,” aku cengengesan, padahal cerita saja belum, “kamu enggak pernah ganti nomor handphone sejak SMP, kan?” ekspresi J kaget, dan itu di luar dugaanku.

“Loh kok tahu?”

“Tiga digit nomormu itu paling nempel di kepalaku. Bahkan… aku dari dulu ingat nomormu.”

“Wah?”

Mataku berputar-putar menatap sekeliling, agak kikuk, malu-malu untuk bercerita. “Dulu kamu pernah kehilangan handphone—eh apa simcard-nya yang patah ya, aku lupa—dan aku tanya ‘berarti kamu ganti nomor dong’ dan kamu bilang enggak ganti nomor, nomor kamu tetap sama karena kamu pernah daftar fitur apa gitu langsung di provider-nya jadi kamu bisa minta simcard baru dengan nomor yang sama,” J langsung tertawa mendengar ceritaku, padahal aku belum selesai bercerita; aku keheranan melihatnya. “Oooh!! Iyaa! Aku ingat! Hahahah,” kugaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak gatal sewaktu melihat J tertawa lepas seperti barusan. “Norak, kan?” tanyaku. J masih terkikik geli. “Nope. Malah aku tersanjung loh kamu inget nomorku.”

Aku tersipu, dan J kembali bercerita.

“Dulu, inget ga, aku sering nelepon ke rumahmu?” aku menggeleng pelan ketika dia berkata seperti itu. “Cuma untuk berbicara denganmu, aku bela-belain keluar rumah, ke wartel buat nelepon kamu, denger suara kamu, hahahaha.” J menggenggam tanganku dan aku perlahan-lahan membiasakan diri dengan perlakuannya itu. Memang, jujur saja aku sangat jarang berpegangan tangan dengan laki-laki bahkan dengan Matheo pun bisa dihitung dengan jari berapa kali kami berpegangan—malah kebanyakan, aku sendiri yang secara refleks menarik tanganku agar lepas dari tangannya. Tidak terbiasa, risih, dan apalah itu namanya. Tapi setelah mendengar cerita J, yang jujur saja menurutku itu sangat manis, kupikir tidak ada salahnya membalas perlakuannya padaku—pelan-pelan kubalas genggaman tangannya, dan kulihat J langsung mengangkat wajahnya dan menatapku. “Hmm, lalu bagaimana dengan yang lain? Maksudku, pertama kali kamu ajak aku pergi, atau apa? Apa ingatan tentang pertama kali memegang tanganku ini tetap nomor satu?”

J mengangguk mantap. “Ingatan tentang tangan kamu ini yang paling kuat, Mal.”

Aku tersenyum. “J…”

“Ya?”

“Apa ingatan tentang nomor itu bisa jadi Patronus-ku?”

Label: , , ,



Now I just want to go far. Far where noone know me, not even me.
Minggu, 26 Agustus 2012 @8/26/2012 06:13:00 PM



Aku percaya, bahwa terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti aku tidak menggubris perkataannya, atau aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Belakangan ini aku lebih memilih untuk diam padahal dulu aku selalu bisa menjawab atau membalikkan perkataan seseorang dengan pedas dan sarkas. Tapi itu dulu tapi entah sejak kapan, aku sadar kalau diam juga termasuk jawaban. Bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu. Terkadang, ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau kalimat sederhana apalagi bahasa sastra. Itulah yang aku lakukan selama kurang lebih satu minggu ini meski kebanyakan orang menganggap aku menjadi lebih tertutup dan memendam semuanya sendirian—oh Tuhan, percayalah, aku tidak lagi sanggup memendam permasalahanku sendiri—padahal sebenarnya, hal yang bisa aku jawab, dan yang bisa aku lakukan hanya berdiam diri. Mengunci mulutku dengan erat dan menutup hatiku rapat-rapat.

Dua belas Agustus, dua ribu dua belas. Pukul sebelas malam, bertepatan di Rumah Kopi yang berada di daerah dago atas, adalah salah satu ukiran kenangan yang mungkin bisa aku ingat untuk jangka waktu yang lama. Setidaknya, hari itu—saat itu adalah saat yang berkesan untukku. Tapi siapa sangka, ingatanku kuat untuk hari itu ternyata bukan hanya berkesan, tapi dari situlah segala sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan terjadi secara berturut-turut. Baik berkesinambungan atau bahkan diluar dugaan. Semacam membuka sebuah kotak kejutan. Namaku Malika, dan J adalah pacarku sejak hari itu.

Aku tidak pernah berbicara pada siapa pun tentang sosok J. Tidak kepada There, tidak kepada Aina, Anggraini, Inggrid, Shafa, Ariani, atau teman-teman terdekatku lainnya. Selama ini, di mata mereka—bahkan di mataku sendiri—aku adalah orang yang bebas. Setelah berpisah dengan Matheo, setelah hampir dua bulan lamanya berlarut-larut dalam kesedihan, setelah dua bulan lamanya mengganggu Dhika (bahkan Dhika tidak tahu tentang J) dengan keluh kesahku, aku menjadi orang yang work-a-holic. Penggila kerja sebagai salah satu pelarianku. Kekesalanku. Kemarahanku. There pernah bilang aku gila. Desya pun begitu. Mereka mewanti-wanti kesehatanku. Tapi aku tidak menggubrisnya, aku tetap gila kerja sampai akhirnya semua tentang Matheo bisa aku lupakan. Tidak semuanya, tapi setidaknya sebagian besar. Aku merasa bebas, pundakku tidak lagi berat dan mataku tidak lagi perih seperti dulu. Aku ikhlas, tapi bukan berarti aku lupa.

Setelah lepas dari Matheo pun, dihadapan orang-orang aku berubah menjadi orang yang tenang, yang tetap ceria dengan lawakan-lawakan dan candaan-candaan beserta sedikit cerita-cerita gossip dengan teman-teman terdekatku. Menyambut kebahagiaan-kebahagiaan Inggrid dan Andra yang lulus kuliah lebih dulu, menyambut Bintang dan Jovista yang melanjutkan pendidikan di Bandung, menengok Amanda dan berbahagia atas kesembuhannya, dan beragam kepedulian lainnya terhadap mereka-mereka yang senantiasa ada di sebelahku. Singkat cerita, sejak Maret sampai Agustus—kurang lebih lima bulan—aku benar-benar mendedikasikan waktuku, perhatianku, dan segala-galanya untuk mereka; sampai sekarang, sampai detik ini. Aku mencintai seluruh teman-teman terdekatku—keluargaku.

Tidak pernah sekali pun aku menyinggung tentang pria. Bahkan Matheo pun tidak pernah aku ceritakan. Aku hanya menangis dihadapan Shafa, Mira, dan Inggrid waktu itu, dan mereka menghiburku dengan membawaku pergi kemana-mana, bergossip, dan menepuk-nepuk pundakku. Perhatian sederhana yang membuatku bersyukur, setidaknya aku masih memiliki mereka. Sejak saat itu, aku tidak pernah menyinggung tentang kehidupan pribadiku—tentang pria, tepatnya. Siapa-siapa yang tengah dekat denganku, atau yang mendekatiku, atau yang merajut cerita denganku. Tidak pernah sekali pun. Sama sekali. Namun aku yakin, mereka pasti pernah membaca kisah Matheo, dan aku tidak keberatan.

Karena itulah, ketika aku berkata aku memiliki pacar, reaksi mereka semua sama. “Siapa?!” lalu “Seriusan?!” dan “Kapan??”. Dua belas agustus, tepat setelah aku dan J benar-benar berpacaran, orang pertama yang aku beritahu adalah Inggrid. Kenapa? Tidak tahu. Mungkin karena Inggrid juga pernah membagi kebahagiaannya denganku dengan bercerita kalau dia punya pacar, dan aku berpikir aku harus melakukan hal yang sama. Lalu aku bercerita pada There, Aina dan Anggraini. Empat orang pertama selama dua hari setelah tanggal dua belas yang aku beritahu tentang J—There lebih dulu tahu tentang J, aku pernah bercerita meski sekilas—dan setelahnya, barulah aku menceritakan kepada Andra, Ariani, dan Desya.

Kejadian pertama yang terjadi adalah tentang Andra. Dia adalah sahabat laki-lakiku—empat tahun penuh berada di universitas dan fakultas yang sama. Empat tahun penuh bergantung kepadanya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Empat tahun penuh menceritakan segala keluh kesah, kekesalan, kemarahan, emosi, bahkan kebahagiaanku padanya. Andra adalah pendengar yang baik, sahabat yang baik, seorang kakak yang baik. Aku sempat ragu memberitahukan tentang J padanya, tidak tahu kenapa, tapi pada akhirnya kuceritakan semuanya, kukatakan aku punya pacar. Tentu, reaksi Andra sama dengan yang lainnya. Dia tidak percaya, dan dengan sikap serta sifatnya yang santai nyaris lawak, dia bilang dia patah hati. Dengan tololnya, aku tertawa. Kukatakan padanya, kalimat-kalimat terima kasih atas semua jasanya selama empat tahun. Aku sadar diri, setelah Andra lulus, aku tidak bisa lagi bergantung padanya. Well, masih sih, tapi mungkin tidak akan seperti dulu lagi. Dia punya tanggung jawab yang lebih berat ketimbang empat tahun kemarin, dan aku rasa tidak sopan kalau aku mengganggunya. Kami berbincang banyak hal, dan kukatakan lagi padanya, dulu aku pernah ragu pada perasaanku sendiri.

There pernah berkata, mungkin hanya Andra-lah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti siapa sosok Malika. Waktu pertama kali mendengarnya, aku tertawa dengan tolol. Tapi tanpa sepengetahuan There, aku benar-benar memikirkan kata-kata itu. Kukatakan pada Andra tentang semua itu, dan aku bilang, apakah saat itu aku memang menyukaimu? Mungkin. Tapi sikap dan perhatian Andra kepadaku hanya sebatas adik, dan aku kembali berpikir, sepertinya pikiranku tentang perasaanku itu salah. Aku memang menganggapnya kakak—toh, orang yang mengerti kepribadian orang lain tidak selalu pacar atau orang yang disukai—dan aku nyaman dia menganggapku adik. Setidaknya hubunganku dengan Andra tidak canggung atau apalah.

Di luar dugaan, Andra menyesal menganggapku adik. There berkata padaku, dialah yang menyadarkan perasaan Andra. Dia bilang, Andra sempat berkeluh kesah padanya, tentang betapa sedih dan kecewanya dia saat tahu aku memiliki pacar. There bilang pada Andra, tidakkah dia sadar dengan perasaannya padaku? Dan tidak perlu menunggu lama lagi, Andra menyadarinya. Tapi sayangnya baik aku mau pun There berpendapat yang sama—semua itu terlambat. Aku sudah menetapkan hatiku pada J, dan itu mutlak. Singkat cerita, kukatakan pada Andra bahwa kita masih bersahabat, aku akan tetap berkeluh-kesah padanya dan dia masih tetap bisa berkeluh-kesah padaku. Tidak ada yang berubah.

Tapi faktanya, segala sesuatu yang berubah tidak bisa kembali lagi seperti dulu.

Enam hari sejak hari itu, tepat di hari lebaran, Andra berkata ingin berbicara serius padaku. Selama enam hari itu, tidak ada hal yang berubah. Aku tetap mengabarinya tentang ini dan itu, dia pun tetap menceritakan tentang berbagai hal yang terjadi di seberang sana. Hal berbeda tentu saja ada, kata-kata sayang dan ekspresi kasih terang-terangan Andra tunjukan padaku—aku tahu, sikapnya memang begitu. Tapi entah kenapa, aku mulai risih. Apa karena aku memiliki J? Aku tidak tahu, aku hanya bisa berdiam diri dengan pemikiranku barusan. Dan di hari lebaran, kami berbicara serius. Andra menjanjikan pernikahan padaku. Dia bertanya apakah masih memiliki kesempatan untuk bersanding denganku suatu hari, berimajinasi aku menjadi istrinya. Kalau boleh jujur, saat itu aku emosi.

Pernikahan adalah hal yang paling sensitif bagiku. Aku tidak mau berbicara tentang topik itu—alasannya sederhana, usiaku atau usia Andra hanya berbeda satu tahun, dan kami masih berusia dua puluhan. Kenapa dia berani menjanjikan pernikahan kalau nyatanya masa depan yang ada di hadapannya masih samar-samar? Kalau pun memang Andra ingin menjanjikan pernikahan, tidak bisakah dia pendam sendiri sampai waktunya benar-benar tiba? Kukatakan pada Andra—jawaban paling netral yang bisa aku katakan—siapa pun, pria mana pun, masih memiliki kesempatan untuk menikah dengan wanita pujaannya selagi wanita itu belum terikat tali pernikahan. Kukatakan padanya, hubunganku bukanlah pertunangan apalagi pernikahan. Aku tidak bisa bilang iya karena aku tidak tahu, apakah kedepannya aku masih dengan J atau tidak, dan aku pun tidak bisa bilang tidak karena alasan yang sama. Aku bukan peramal, bahkan seorang peramal pun tidak bisa menjanjikan sesuatu yang bukan kehendak-Nya.

Dan sejujurnya, aku masih ingin menikmati hari-hari baruku. Tapi dengan jahat kukatakan, Andra merusak semuanya. Ya, aku berani berkata seperti itu karena begitu aku ceritakan semuanya pada J, kami berdua bertengkar. Hebat. Dia marah, dan aku pun begitu. Dulu aku pernah berkata pada J bahwa aku benci topik pernikahan, dan karena Andra, J mau tidak mau mengungkit topik itu lagi dan aku kesal. Lagi, kita berdua bertengkar. Kami salah paham. Apalah itu namanya. Meski memang tidak berlangsung lama, pertengkaran dengan J cukup membuatku lebih kecewa dari sebelumnya. Setelah itu, hari-hariku kembali seperti biasa meski aku pribadi, dalam diam, merasa semuanya tidak bisa lagi seperti biasanya—berbeda tentu saja, tapi aku tidak pernah menceritakan apa-apa dan kepada siapa.

Perubahan yang paling mencolok adalah tata bahasaku pada Andra.

Aku tidak menyalahkannya, itu hak Andra untuk menyukaiku seperti aku memiliki hak menyukai J. Tapi Andra menunjukkan dan mengutarakan perasaannya di waktu yang tidak tepat, dan semuanya berubah dalam sekejap mata. Perlahan-lahan, aku mencoba untuk kembali seperti biasa meski luar biasa menguras tenaga. Bagaimana pun, Andra sahabatku, dan sesuai janjiku, aku ingin tetap berhubungan seperti biasa dengannya. Butuh waktu yang lama, tapi aku rasa, aku bisa.

Hal kedua yang terjadi setelah Andra adalah keluarga. Well, aku tidak terlalu kaget sih dengan ini. Aku pun tidak berkata apa-apa pada Javier, Janneth, Mike, atau bahkan orang tuaku tentang J. Yang hanya bisa kutunjukkan adalah selama seminggu kemarin, aku dan J sering jalan-jalan. Bukannya aku tidak mau memberitahu tentang hubunganku dengan J, tapi yah, aku memang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu. Aku tidak bisa bercerita apa-apa—complicated, mungkin, maka untuk hal ini adalah masalah pada diriku sendiri—dan seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya bisa diam karena terkadang diam itu adalah sebuah jawaban dan tindakan yang benar.

Mungkin.

Dan masalah ketiga yang terjadi adalah ketika aku akan pulang ke Bandung dari rumah keluargaku di Cirebon. Tanggal dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, setelah perjalanan panjang keliling-keliling bersilahturahmi dengan sanak-keluarga yang lain, aku tertidur pulas dan terbangun tepat tengah malam. Kebetulan, jam dua dini hari keluargaku akan pulang kembali ke Bandung, jadi aku memutuskan untuk menyalakan fitur chatting Yahoo!Messenger di handphone-ku, berharap bisa bertemu Dhika karena aku belum menceritakan tentang J padanya. Yah, sebenarnya sih aku juga kangen. Dhika adalah salah satu teman laki-laki terdekatku meski kami tidak pernah bertemu secara langsung. Dia kuliah di Amerika, seorang pekerja keras—atau work-a-holic yang lebih parah dariku—yang kukenal lewat forum RP hanya karena dia cemburu karena karakterku dekat dengan karakter yang sedang ia incar. Dua tahun yang lalu, kami berkenalan, berbincang-bincang, bercanda tentang pembulian anak dibawah umur (yang padahal cuma iseng) dan mengancam akan mengadukan pada kak Seto, sampai berujung pada sesi curhat lebih dalam tentang pertunangan sepihak, tentang betapa jatuh cintanya Dhika pada Anna, sekaligus tentang sakit hatiku pada Matheo serta tentang penyakit. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan baik tentang hubunganku dengan Dhika. Dia lebih dari teman dekat, dia lebih dari kakak, tapi aku tidak pernah merasa jatuh cinta padanya. Aku menghormatinya, aku respek padanya.

Kami berbicara banyak hal meski aku tahu pembicaraanku dengannya tidak sebanyak pembicaraan Dhika pada Vina, Otriya, atau bahkan Anna. Tapi aku tidak keberatan, aku tahu Dhika merasa kesepian di Amerika sana—ingin pulang, itulah yang berkali-kali Dhika katakan padaku. Yang aku lakukan hanya bisa menghiburnya meski sesekali aku iseng menjahilinya dengan cara menggoda Dhika tentang makanan-makanan Indonesia. Tentang beras dan nasi yang susah payah ia dapatkan di sana, tentang nikmatnya makan indomie ketika hujan turun di Indonesia. Atau tentang bully-an Dhika padaku yang selalu aku sangkutpautkan pada kak Seto. Aku selalu bilang, “Dhika menyiksa anak di bawah umur! Aku aduin sama kak Seto!!” hanya karena aku lebih muda darinya. Tentu, Dhika mengelak. Itulah salah satu topik pembicaraan sederhana antara aku dan Dhika. Sederhana, karena tujuanku memang hanya untuk menghibur Dhika, berkata bahwa Dhika tidak kesepian. Aku senantiasa online malam-malam untuk menemaninya meski belakangan ini kondisi badanku tidak meyakinkan, dan terakhir berbicara dengan Dhika pun hanya sebentar.

Dhika pernah bilang, rasanya ada yang kurang kalau tidak berbicara denganku, tidak ada yang menghiburnya dan rasanya kurang tidak membaca lawakan-lawakanku. Dia bilang, sekali pun dia sakit dan tergeletak tak berdaya di rumah sakit, dia akan tetap online untuk menyapa teman-teman terdekatnya—Anna, Vina, Kira, Otriya, Nanda, dan aku. Dan terakhir kali berbicara dengan Dhika adalah tanggal tiga belas agustus. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi berbincang-bincang dengan Dhika. Aku sakit, begitu pun dengannya. Penyakit Dhika yang mengejutkanku, penyakit Dhika yang membuatku marah, penyakit Dhika yang membuatku kesal.  Suatu hari aku sempat gelisah tidak bisa tidur seharian, dan itu karena memikirkan Dhika juga Anna. Tidak tahu tepatnya kapan, tapi gelisah itu sempat membuatku ingin menangis.

Dua puluh tiga Agustus dua ribu dua belas, sekitar jam 1 pagi hari sembari menunggu jemputan atau travel untuk pulang ke Bandung, aku menyalakan Yahoo!Messenger. Tidak ada Dhika, dan saat itu aku berpikir pasti dia sudah dicekokin obat tidur oleh suster di sana. Hanya ada Vina dan Andra yang menemaniku menghabiskan waktu sembari menunggu. Namun yang ada, aku dikejutkan oleh berita yang membuatku membeku untuk beberapa menit. Di jam yang sama, di menit yang sama, di detik yang sama, Vina bilang Dhika koma; Andra bilang dia sakit dan katanya di diagnosa kena kanker hati.

Aku tidak bisa menangis, tapi dadaku nyeri.

Tidak ada J, keluargaku sibuk mengurus barang-barang untuk pulang, kakak-kakakku kelelahan, teman-temanku tidur pulas di gelapnya malam. Aku menghadapi dua berita serius sendirian, dua berita dari sahabat laki-lakiku secara bersamaan. Tidak berkomentar apa-apa baik untuk obrolan dengan Vina mau pun dengan Andra. Aku harus bagaimana? Dan dengan jawaban klise, kukatakan pada mereka semoga cepat sembuh dan segala sesuatunya baik-baik saja—untuk Vina, Dhika, dan Andra. Vina berjanji akan mengabariku tentang Dhika apa pun bentuknya, Andra pun berjanji akan memeriksa kesehatan tubuhnya ke dokter untuk mengecek ulang hasil diagnosanya dan akan memberitahuku hasilnya secepatnya.

Tidak ada pegangan bagiku saat itu. Lagi, aku hanya bisa diam sebagai jawaban. Sampai sekarang, aku selalu gemetar dengan berita menyebalkan itu. Kuceritakan semuanya pada J ketika secara tiba-tiba dia terbangun tengah malam. Kukatakan semua perasaan kalutku padanya, kuceritakan semua emosiku padanya. Aku tahu mungkin aku terdengar lebay atau berlebihan atau apalah, tapi semua ini adalah perasaanku sesungguh-sungguhnya. Pernahkah kalian merasa ingin menangis tapi tidak bisa? Itulah yang aku rasakan. Sakit yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata atau kiasan apa-apa.

Hari ini, tanggal dua puluh enam Agustus dua ribu dua belas, selama dua hari kemarin, kugunakan kembali topengku. Selama dua hari kemarin, aku tersenyum dan tertawa seperti biasa, bermanja-manja meski dikepalaku terbagi dua pemikiran yang saling memaksa. Kehidupanku dan kehidupan keluarga kecilku. Kembali kubuka telingaku lebar-lebar mendengar keluh-kesah teman-temanku, tentang Inggrid, tentang There, tentang Ariani, tentang J, tentang semuanya. Andra bilang penyakitnya adalah hepatitis, dan aku sedikit merasa lega meski tidak sepenuhnya. Tiap malam kusapa Dhika via twitter berharap dia menjawab mentionsku secara tiba-tiba seperti tanggal tiga belas kemarin. Otakku tidak bisa berhenti berpikir tentang semuanya. Rasa peduliku sungguh besar, tapi tanggungan yang kudapatkan pun besar. Aku tidak merasa lelah, tidak merasa keberatan pula. Semua ini aku lakukan karena aku tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa pada teman-temanku seperti apa yang mereka lakukan padaku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kasih sayang.

Apakah kalian merasa aku berlebihan? Aku pun demikian. Heran sekali rasanya aku bisa berpikir seperti ini, bersikap seperti ini, atau apalah. Tapi inilah Malika, dan aku yakin, kalian semua yang memang mengenalku tahu tentang semua ini. Kalian bertanya apa yang aku butuhkan? Sederhana, aku hanya ingin kalian tetap ada meski sebatas chatting atau dalam dunia maya. Kalau pun bertanya hal yang muluk, aku hanya ingin di peluk atau sekedar di tepuk. Aku tidak pernah bisa bercerita dengan cara berbicara—aku lebih lihai bercerita dengan tulisan, jadi yah, wajar kalau setiap kali kalian bertanya kenapa aku hanya bisa diam dan menggeleng. Tapi bukan berarti aku tidak percaya, aku hanya tidak tahu caranya.

Inilah yang terjadi, kawan. Inilah kenapa aku meminta kalian ada di Bandung. Maaf ya, Malika Mahaprasthanika memang selalu menyusahkan. Yah, terkadang diam adalah sebuah jawaban. Bukan berarti tidak menggubris atau tidak bisa menjawab. Dan bukan berarti tidak tahu atau tidak mau tahu.







© title : @isaansh // semua yang tertulis adalah kejadian yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga, emosi, juga air mata. Tidak ada niatan khusus untuk mengumbar aib atau kejelekan seseorang, hanya pelampiasan emosi dan menyimpan kenangan.

Label: , , , , , , , , , , , , , ,



Random is random.
@8/26/2012 05:44:00 PM



“J, aku mau bebek.”

J menoleh cepat, menatap Malika yang tahu-tahu saja mengutarakan keinginannya yang sangat tiba-tiba. Tapi Malika, yang biasanya membuang muka kalau J menatapnya, justru memandang balik pemuda itu lekat-lekat. “Aku mau bebek,” dia mengulang permintaannya seakan-akan J kehilangan fungsi indera pendengarannya. Tidak ada respon, tidak ada reaksi, baik J mau pun Malika terdiam untuk beberapa saat. Yang satu mencerna ucapan si gadis, yang satu menunggu reaksi si pemuda. Lalu di luar dugaan, J tertawa. “Seriusaaaan!!” Malika merengek manja, bibirnya manyun, dan pipinya menggelembung. Oke, Malika sadar, pastinya pemuda bermata sipit itu mengira dia ‘mau bebek’ artinya ‘memelihara bebek’. Gadis itu menggeleng cepet sedangkan si pemuda masih saja tertawa. “Aku mau makan bebek goreng, J.” ralat Malika cepat. Dan suara ‘O’ panjang keluar dari bibir J.

“Kenapa tiba-tiba?” Malika hanya menghendikkan bahunya sekilas. “Dari minggu lalu, kepengen bebek aja gitu,” jelas Malika pelan, dan J masih menatap gadis dihadapannya itu dengan ekspresi geli. “Tiba-tiba?” mengulang pertanyaannya, Malika merasa J mulai sedikit lemot dengan ucapannya dan dia kesal. Mungkin, berbicara dengan J harus menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar—dengan Ejaan Yang Disempurnakan. “Enggak tiba-tiba kok. Dari seminggu yang lalu kan, kubilang,” nah, kalau J masih membalikkan kalimat Malika, artinya memang ada yang salah dengan otak pemuda itu.

Di luar dugaan, pemuda itu mengangguk cepat. Kepalanya miring sedikit ke kanan, dan bola matanya menatap sekeliling seolah-olah jawaban yang pas untuk perkataan Malika ada di sudut ruangan terpencil di kamarnya. “Well—aku tahu sih bebek yang lumayan enak. Di depan Borromeus tuh kalau kamu sering pulang sore, belum buka aja pelanggan udah ngantri kayak apaan tau. Tapi kalau mau, paling baru besok bisa ke sana. Atau lusa, mungkin? Kamu maunya kapan?” Malika manyun. “Sekarang,” seketika, mereka tertawa. “Ya kali Mal,” J menggelengkan kepalanya meski dia masih menunjukkan cengiran lebarnya yang khas , setengah kesal, setengah gemas, mungkin. “Kenapa sih? Emang gak pernah makan bebek?”

Malika mengangguk polos.

“Seriusan?”

Pendengaran J mungkin bermasalah. Itulah pemikiran yang ada di otak Malika. “Sebenarnya dulu kakaknya Mama pernah bawain bebek goreng ke rumah, tapi aku gak makan, cuma Mama aja. Terus tahu-tahu pengen makan bebek aja, gitu. Penasaran,” lalu dia nyengir, tangannya sibuk menarik-narik kemeja J. “Mau makan bebek pokoknya.” Dan kepalanya di tepuk-tepuk secara refleks oleh J yang berujung membuat rambut hitamnya acak-acakan. “Oke, besok kita cari rumah makan yang ada bebek gorengnya kalau yang di Borromeus belum buka. Masih suasana liburan Mal, sabar ya.” Malika mengangguk seperti anak kecil. Ucapan J barusan memang tidak bisa di bantah. Lalu, J kembali sibuk dengan iPhone-nya.

“J,”

“Ya?”

“Aku mau salmon.”

Label: , , ,



Daniswara
@8/26/2012 04:54:00 PM



“Elu waktu SMP pernah nonjok gue—”

…hah?

“—pernah nyeburin gue ke kolam pas dulu di Ciwidey—”

Hah??

“—terus gue pernah ga tidur cuma gara-gara nemenin elu pas perpisahan SMP.”

HAH?!

“Dan lu bisa ga sih, gak ber ‘Hah-Hah’ kayak orang bego?” pemuda itu tertawa, tapi kedua alisnya saling bertautan entah maksudnya benar-benar tertawa atau mengejek atau bahkan bingung dengan reaksi gadis dihadapannya. Malika, yang mendengar penuturan teman semasa SMP-nya itu perlahan-lahan menggeleng, mengernyit dengan mulut terbuka dan mungkin benar-benar terlihat seperti orang bego saat mendengar apa yang barusan pemuda berwajah oriental itu katakan. “Lu ga inget?” Malika menggeleng lagi, “Seriusan?” Memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, mengernyit dan mendengus kesal, Malika mengangguk.

I  forget things almost instantly—atau, yaaah, gue ini pelupa, J…”

“Tapi ga mungkin lupa semuanya, kan?”

“Enggak, gue masih inget sedikit atau seenggaknya sebagian masa-masa SMP, tapi sisanya blank. Gue ga inget tentang perpisahan, gue ga inget tentang masa-masa sekolah—oh gue bahkan ga inget gue ini kelas apa aja, yang gue inget gue cuma kelas 3D—gue ga inget nama penjaga warung di sekolah, bahkan reuni kemarin sebagian besar gue ga inget siapa mereka!!” Malika nyengir kikuk, kebiasaannya yang memang cepat melupakan sesuatu memang selalu membuat kebanyakan orang terkejut. Yah, diumurnya yang masih menginjak dua puluh tahunan, daya ingatnya yang menurun drastis tentu sangat mengejutkan. Meski sebagian besar lebih ke arah kesal ketimbang terkejut, sih. “Gue hanya inget beberapa kawan yang memang gue kenal sampai sekarang. Maksud gue, masih ngobrol—Seno, Davina, elu, Mayo—atau orang-orang yang emang mukanya gak berubah kayak Angga, Anggun, dan Yasmin. Sisanya?” Malika angkat bahu sekilas. “Kemarin kita sempat ngobrol sama anak-anak Reka Rupa, kan? Pengakuan dosa, gue ga inget mereka siapa.”

Pemuda itu tertawa, dan Malika secara refleks menendang tumitnya sembari manyun. “Brutal!” katanya setengah bercanda. Namanya Daniswara, yang kalau bahasa Jawa artinya orang yang mandiri. Tapi baik  Malika mau pun teman-teman lainnya selalu memanggil dengan nama J dengan pelafalan Ji atau Jey dari kata DJ. Malika sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa dia di panggil begitu, jelas-jelas tidak ada huruf ‘J’ di namanya; tapi teman-teman SMP-nya memanggilnya begitu dan Malika ikut-ikutan saja. Mungkin sebenarnya dulu dia pernah bertanya, tapi dia lupa. Biasalah, namanya juga Malika, si pelupa. J adalah teman SMP Malika, sampai sekarang untungnya masih sering berkomunikasi baik lewat message atau jejaring sosial. Dulu pernah hilang kontak, tapi diingat-ingat, selalu—atau sebagian besar Malika-lah yang menghubunginya. Contoh sederhananya seperti memberi tahu nomor ponselnya pada J padahal pemuda itu tidak meminta, atau sekedar iseng bertanya ‘hai apa kabar?’ tanpa ada angin apa pun.

“Gue kan, gak ada keinginan buat lupa.” Gadis itu cemberut, mengalihkan pandangannya ke kopi yang tengah ia aduk-aduk untuk menghilangkan kekesalannya. J tertawa, lalu meminta maaf. “Sorry, gue ga tau kalau lu lupa separah itu, well gue juga pelupa,” sekilas, pemuda itu tersenyum “mau gue bantu inget tentang masa-masa SMP gak?” tawarannya sangat menggiurkan, siapa sih yang tidak ingin bernostalgia dengan kenangan masa-masa muda? Atau tepatnya masa-masa anak remaja? Malika hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Antara pengen dan enggak sih. Kadang melupakan sesuatu itu bagus juga.” Jawabnya kalem. J mengangkat alisnya, jelas ia tidak mengerti pernyataan dari bibir gadis berambut hitam itu. Tapi Malika hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis—sikap tertutupnya seperti biasa, dan J mengerti.

“Okay. Tapi lu ga lupa kan, kalau dari dulu gue suka sama lu?”

Malika tidak menjawab, hanya tetap pada senyuman tipisnya. “Sampai sekarang?” J memutar matanya sebentar, lalu kembali menatap Malika dengan anggukan kepala yang mantap. “Tujuh tahun J, lu suka sama gue—bahkan mungkin lebih?” J mengangguk lagi. “Dulu gue pernah suka sama orang lain, tapi setiap kali ngobrol sama elu, memori itu muncul lagi—yah, terserah sih lu sebut gue apa, tapi faktanya begitu kok,” pemuda itu bercerita panjang lebar, tanpa di pinta. “Dan kayaknya sih cuma elu yang bikin gue begini.” Keduanya terdiam sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan yah, suasana menjadi sedikit canggung. Malika tahu, sebenarnya bukan maksud J membuat suasana jadi tidak enak seperti ini, bahkan Malika sanksi, pemuda itu juga tidak pernah berencana berbicara seperti ini—berawal dari reuni sekaligus buka puasa bersama teman-teman SMP kemarin, ketika Malika sering menyikut siku J sambil berbisik siapa orang itu atau orang yang di sana, dan berujung menghabiskan waktu berdua di rumah kopi. Keduanya fanatik kopi, meski J jauh lebih ekstrem ketimbang Malika.

J masih sibuk dengan kopinya. Dari penuturannya, Rumah Kopi yang berada di sekitar dago atas adalah salah satu tempat nongkrong kopi yang enak. Tidak terlalu mahal, tidak murahan juga. J bilang, kadang kopi tidak harus selalu di beri gula atau pemanis tambahan. Sensasi dari rasa pahit yang ditimbulkan oleh kopi itu adalah cita rasa yang sebenarnya sangat enak. Seperti misalnya beberapa jenis wine yang pernah ia minum. Malika seketika mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya dari kopi yang sedari tadi ia aduk. “Lu minum wine, J?” polos, gadis itu bertanya. J hanya merespon sedikit; mengangkat alisnya lalu tertawa kecil. “Seriusan?” ngotot, Malika kembali bertanya.

“Kenapa memangnya? Gue minum wine yang emang buat formalitas aja kok,” pemuda itu menyebut beberapa nama merk wine yang hanya direspon sekilas oleh Malika. Gadis itu tidak mengerti, tentu saja. “Wine itu kan emang buat orang yang enggak biasa, atau baru nyoba, pasti rasanya pahit atau anehlah. Tapi kayak kopi, justru kalau lu minum dengan cara yang benar, dengan gelas, gerakan, dan hal-hal lainnya yang sesuai, wine itu bakal enak banget. Di Eropa, orang-orang sana pasti bakal mati kalau enggak minum wine karena pada dasarnya wine itu minuman yang menghangatkan,” pemuda itu masih terus mencerocos tentang wine dan Eropa, sedangkan Malika hanya mendengarkan dengan ekspresi datar bahkan nyaris menunjukkan tanda tanya secara terang-terang. Ingin rasanya gadis itu berkata ‘ibarat wine itu minuman jahe kalau di Indonesia’ tapi karena J sangat antusias menceritakan tentang Eropa, rasanya tidak sopan. “Ngerti gak lu?” surprise, pemuda itu memecah lamunan Malika. “Oke, nyengir artinya lu setengah mengerti.” Lanjutnya; Malika tertawa.

“Gak pernah sampai mabuk?” J menggeleng. “Kalau gue mabuk, artinya gue gak bertanggung jawab dong,” jawabnya cepat, dan Malika menghela nafas. “Kenapa emangnya?” ingin rasanya Malika menendang tumit J atau mendepak pemuda itu jauh-jauh. Memilih untuk tidak menjawab, Malika meminum kopinya sambil menatap ke sekeliling. Rumah Kopi entah kenapa berkesan seperti rumah tradisional Indonesia atau hmmm sedikit berkesan seperti rumah Belanda jaman dahulu. Menurut Malika sih, begitu, karena banyak ukiran-ukiran kayu dan beberapa furniture tradisional yang pernah Malika lihat di beberapa tempat. Bahkan, Malika dan J sekarang tengah duduk di salah satu tempat lesehan yang beralaskan karpet hitam bercorak abstrak campuran antara warna cokelat, kuning, dan sedikit putih dengan dua bantal besar yang digunakan sebagi penyangga punggung. Di hadapan Malika terdapat ruangan khusus karyawan Rumah Kopi yang dinding-dindingnya terbuat dari bata merah asli. Belum lagi tepat di sebelah kiri Malika ada sedikit halaman dengan hamparan rumput hijau dan lampu-lampu taman dengan pemandangan langit cerah penuh bintang. “Tempatnya asyik, kan? Ntar kapan-kapan gue ajak lu ke sini lagi deh,” sepertinya, J memang punya kemampuan membaca pikiran orang.

“Besok-besok juga boleh. Asal jangan ajak gue minum-minum.”

“Gue gak minum-minum! Dibilangin cuma formalitas aja!” J protes, gemas. Malika hanya cekikikan. “Well, gue boleh tanya sesuatu?” J menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan sembari meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kecil. Mata cokelatnya menatap lurus memandang Malika, dan gadis itu salah tingkah dibuatnya. Malika hanya bisa menghela nafas, menunduk menatap kopinya lagi. Ini bukan kali pertama dia mendapati J menatapnya diam-diam seperti itu. Ada sesuatu yang menggelitik di tatapannya, tapi Malika sendiri tidak tahu apa itu.

Setelah sekian menit menunggu, J bertanya pelan “Kita ini sebenarnya apa, sih?” 

“Manusia?”

“Bukaaaan!!!”

Malika terkikik geli, ingin rasanya dia kembali celetuk hal-hal lainnya, tapi entah kenapa mulutnya tidak terbuka sama sekali. “Maksud gue bukan itu!” J mendengus kesal tapi masih tersenyum geli. Untuk beberapa saat, gadis itu kembali terdiam; meneguk kopinya perlahan-lahan, mencoba menikmati sensasi rasa kopi yang sempat dituturkan oleh J. Tapi sebenarnya bukan itu, Malika sedang kembali jauh ke dalam pemikirannya yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun, memikirkan pertanyaan J yang sebenarnya sudah pernah ia ditanyakan dulu. Bagi Malika, kali ini jawabannya harus benar-benar pasti. Setidaknya, agar keduanya tidak merasa terbebani. “Mal?” J bertanya lagi, tidak sabar. Cangkir kopinya diletakan, dan gadis itu menatap mata cokelat di hadapannya.

“Menurut kamu?”  Itu tentu bukan jawaban, baik Malika mau pun J jelas tahu itu. Tapi dan setidaknya, J tahu apa maksud perkataan Malika, dan pemuda itu tertawa pelan. “Dasar tsundere.”

Label: , , ,



Alasannya sederhana, karena kita tidak pernah berbicara.
Jumat, 27 Juli 2012 @7/27/2012 10:46:00 PM




Alasannya sederhana, karena kita tidak pernah berbicara. 

Begini, ceritanya. Mungkin terbesit di pikiran, tidak pernah mengajariku berbicara seperti itu.  Memang, aku tidak pernah diajari seperti itu, tapi aku mempelajarinya di luar yang tidak pernah kau tanyakan apa-apa saja yang aku lalui di sana.  Mungkin kau tahu apa yang aku lalui di luar, tapi dari mulut orang lain. Mungkin kau percaya dengan apa yang aku lalui, kau percaya aku pasti akan baik-baik saja—memang, aku baik-baik saja, tapi hanya luarnya saja, urusan hati, siapa yang tahu? Aku tidak tahu seleramu, kau pun tidak tahu seleraku. Aku tidak pernah tahu keinginanmu, kau pun tidak tahu keinginanku. Aku tidak tahu urusanmu, kau pun tidak tahu urusanku. Alasannya sederhana, karena kita tidak pernah berbicara.

Atau kau bertanya kenapa bukan aku yang memulai pembicaraan? Coba, di era seperti ini psikologi anak itu banyak. PIkiran posisi anak yang sering kena marah karena kenakalannya, yang menjadi takut pada orang tua, dan berpikir bahwa segala sesuatunya pasti dianggap salah. Pernahkah mendengar bahwa hal sekecil itu membentuk kepribadian anak? Aku tidak menyalahimu, ini murni karena kenakalan anak kecil, yang murni salahku. Kau tidak salah, sungguh. Kau hanya bersikap sebagaimana mestinya orang tua yang mendidik anaknya, tapi siapa sangka hanya karena aku takut padamu sewaktu kecil, dan kau tidak pernah bertanya apa-apa tentang kehidupanku di luar, kita jadi tidak pernah saling bicara. Sesederhana itu, dan aku mempercayai itu.

Karena waktu kecil aku takut padamu, takut kena amarahmu, aku memilih untuk diam sampai saat ini. Ah, tidak. Sampai usiaku sembilan belas tahun. Selama itu, aku tidak tahu caranya bercerita padamu, itulah kenapa aku selalu berdiam diri dan mengkeluh-kesah sendirian. Selama itu, aku tidak tahu caranya berkata-kata padamu, itulah kenapa aku selalu meluapkannya lewat tulisan, yang setiap kali kau temukan tulisanku, kau marah padaku. Selama itu, aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapimu, itulah kenapa aku selalu mengurung diriku di kamar, menangis sendirian yang setiap kali keluar kau mendapati mataku membekak dan kau marah padaku, bertanya kenapa tidak aku ceritakan masalahku padamu. Selama sembilan belas tahun aku tidak tahu bagaimana caranya, apakah kau percaya? Terdengar lucu, ya.

Percayakah kau bahwa setiap kepribadian anak itu berbeda-beda? Yang setiap anak harusnya memiliki cara yang berbeda-beda pula untuk dihadapi? Aku tidak sama dengan kakak-kakaku. Aku tidak sama dengan Janneth. Kadang aku iri pada Janneth. Sangat iri. Kau begitu dekat dengannya. Sekali pun kamarku dan kamar Janneth bersebelahan, dengan pintu yang sama-sama terbuka, kau lebih suka mampir ke kamar Janneth ketimbang kamarku, berlama-lama di sana. Ketika aku berbaur, kalian diam—mungkin, pembicaraan kalian tidak cocok untuk di dengar oleh anak kecil sepertiku, aku tahu—tapi ketika kalian diam disaat aku masuk, bisa kau bayangkan bagaimana rasanya? Aku iri dengan Janneth. Dia memang lebih dewasa, jauh lebih dewasa dari padaku, kau sering mengandalkannya, bukan aku yang selalu kau anggap anak kecil.  Ya, emang sih aku pemalas dan kerjaannya menyusahkan orang, tapi kenapa kau tidak mengajariku dari kecil tentang tanggung jawab agar aku jadi orang yang bisa terarah seperti Janneth? Satu rahasia yang tidak pernah aku katakan padamu: sekali pun kau bilang kau tidak pernah mengganggapku anak kecil, perilakumu mengatakan demikian. Dan aku tidak mau dianggap begitu, makanya aku tumbuh menjadi anak yang keras. Percayakah dengan itu? Seharusnya kau percaya dengan apa yang barusan saja terjadi : )

Malika kecilmu ini, berubah jadi orang yang keras. Aku tumbuh menjadi gadis yang berpikiran realistis. Aku pun tumbuh menjadi gadis yang menganggap segala sesuatu yang bersifat basa-basi adalah hal sia-sia. Yang menganggap kalimat kiasan-kiasan adalah kalimat-kalimat penjilat yang membuang-buang waktu. Aku tumbuh menjadi orang yang keras, yang berbicara, berperilaku, bersikap, dan memiliki sifat yang keras. Ketika orang mau berkata A, aku akan berkata B kalau memang pikiranku tidak sama dengan pendapat dari A itu. Aku tumbuh menjadi orang yang keras, yang berpikir bahwa yang namanya kebebasan dan keadilan itu omong kosong, yang dunia ini pun banyak orang keras sepertiku.

Tapi Malikamu masih punya hati. Dibalik sifat kerasku, aku sering ketakutan, aku sering menangis sendirian karena kesalahanku, yang aku tidak tahu harus berbicara kepada siapa karena kau tidak pernah mengetuk pintu kamarku untuk mengajakku bicara. Aku sering merasa sendirian, karena sifat kerasku yang menjengkelkan. Tapi kau tidak pernah duduk disampingku meski sekedar menemani. Aku juga masih punya rasa iba, yang setiap kali melihatmu kesusahan, sering kali berbuat sesuatu sebisaku—sebisa mungkin tidak kau tahu.

Sederhananya, aku ingin dekat denganmu, tapi tidak tahu caranya.

Ketika usiaku dua puluh tahun, aku mempelajari bagaimana caranya, memperhatikan gerak-gerik Janneth kepadamu. Ditambah Janneth yang sibuk bekerja, kau baru lari kepadaku karena tidak ingin mengganggu kesibukan Janneth atau Javier. Bagiku ini kesempatan, tentu. Tapi tidak bertahan lama karena yah, Janneth kembali mengambil perhatianmu dengan smartphone yang ia berikan. Tapi tak apa, kudekati kau perlahan meski masih bersikap tsundere (oh iya, percaya tidak aku ini tsundere? Hoho), kuceritakan pelan-pelan apa yang aku alami di kampus dengan suara bergetar karena takut salah berbicara, kuceritakan apa yang aku ketahui untuk sekedar membantumu memecahkan masalah meski aku tahu itu sama sekali tidak berguna.

Aku tidak pernah bisa menjadi seperti dirimu yang sabar, yang tetap berdiri meski kakimu gemetar menahan amarah. Aku tidak pernah bisa menjadi seperti dirimu yang pengertian, yang tetap tersenyum meski hatimu sakit menahan keluhan. Aku juga tidak pernah bisa menjadi seperti dirimu yang penyayang, yang tetap mengulurkan tangan meski matamu perih menahan air mata karena kesedihan yang mendalam. Makanya, sekali pun kita tidak pernah sejalan, yang bisa kulakukan hanyalah mendekatimu, dan berdoa kepada Tuhan yang terbaik untukmu, menitipkan segala keluh-kesahmu kepada-Nya.

Maaf kalau aku sering kali berkeluh kesah padamu tapi tidak membantumu dan malah menyusahkanmu. Maaf kalau aku tidak bisa seperti Javier dan Janneth. Satu hal yang aku pinta (lagi), tolong untuk tidak menyepelekan lagi tulisanku, apa pun bentuknya. Aku hanya ingin berbicara kepadamu, mungkin memang bukan lewat lisan, tapi tidak ada salahnya kan kalau melalui tulisan? Seperti waktu aku kuliah tahun kedua, kau pernah menulis surat kepadaku, menanggapi keluhanku tentang perkuliahan. Kau tahu, tulisan itu masih aku simpan, menjadi penyemangatku di setiap hari-hariku di kampus. : )


Ibu, apa pun yang terjadi, aku sayang padamu.


Malika.

Label: , , , , ,



Thank you.
Sabtu, 07 Juli 2012 @7/07/2012 08:18:00 PM




Hai Matheo, apa kabar?

Sudah berapa lama ya sejak kejadian waktu itu? Aku tidak ingat, terus terang saja, tapi kalau untuk urusan aku terus mengingatmu, itu benar adanya. Mungkin sudah dua bulan, atau tiga bulan, atau empat atau berapa, sebenarnya bukan itu yang mau kuutarakan hari ini kepadamu, bukan. Hari ini, tujuh July duaribu duabelas, aku ingin berterima kasih kepadamu—oh, sekedar informasi, kau tahu, hari ini adalah hari terburuk bagiku untuk tahun ini. Semacam dewi fortuna tidak berpihak padaku—ah, ya ya ya, aku tahu, dewi fortuna memang tidak pernah berpihak pada siapa-siapa, tapi entahlah rasanya hari ini aku sama sekali tidak mendapatkan keberuntungannya.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, banyak sekali orang yang datang kepadaku. Lelaki. Dengan tujuan silahturahmi. Aku tahu, pada hakikatnya bukan itu yang mereka mau. Kau pernah bilang padaku, laki-laki sekali pun ia baik hati, hasrat yang paling jujur baginya adalah nafsu dan emosi. Kau memberiku peringatan secara tidak langsung agar aku bisa berhati-hati, agar aku bisa menjaga diri. Dan aku melakukannya, aku berusaha untuk menjaga diri dan hati, serta menjaga perasaan orang lain agar tidak menjadi iri dan dengki. Aku berterima kasih kepadamu.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, aku tidak tahu harus bagaimana ketika aku jatuh. Dulu, kau selalu mengulurkan bantuan untuk menolongku, tapi kini kau pergi dariku. Kau berkata aku harus mandiri, aku harus bisa berdiri sendiri. Dan begitu kau pergi, aku melakukan apa yang kau suruh waktu itu. Ya, Matheo. Aku berdiri sendiri, dengan kedua kakiku, menatap punggungmu yang semakin lama semakin jauh meninggalkanku. Dan aku berterima kasih kepadamu.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, aku tak tahu harus kepada siapa aku mengadu. Dulu, aku bergantung padamu, tapi dulu kau juga bilang padaku untuk melupakan niat itu. Kau mengajarkanku bagaimana menjadi orang yang sabar, yang selalu berpikir panjang dan tidak bertindak sembarangan. Kau melakukan itu dengan cara berada di tempat yang jauh dariku, menguji sejauh mana kesabaranku. Dengan cara itu, kini aku benar-benar menjadi orang yang sabar dan pengertian, meski pun kini aku berjuang dengan ujian yang lebih menyakitkan, yakni sebuah kenyataan kau tak lagi memberiku perhatian. Tapi aku berterima kasih kepadamu, sungguh.

Matheo, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terburuk bagiku. Sejak kau tak lagi bersamaku, aku tak tahu harus kemana aku mengalihkan pikiran dan perhatianku. Dulu, aku selalu memikirkanmu, tapi dulu kau juga bilang aku tak boleh seperti itu. Kau mengajarkanku bagaimana cara berpikir yang baik, penuh dengan inspirasi dan pandangan yang positif. Kau mengajarkanku bagaimana caranya berpikir dengan bijaksana, yang bisa mengalihkan pandangan mata dan dunia. Tahukah kau cara itu benar-benar mengubahku? Dengan cara itu, perhatianku benar-benar teralihkan darimu. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu.

Matheo, terima kasih.

Dewi fortuna mungkin tidak memberikan keberuntungannya hari ini kepadaku, tapi dulu ia memberimu kepadaku, dan keberuntungan bertemu denganmu masih melekat kepadaku meski kini kau jauh dariku. Mungkin aku memang tidak bisa memberimu keberuntungan seperti apa yang kau berikan padaku, tapi aku tidak tinggal diam, aku punya cara bagaimana bisa memberimu keberuntungan, aku punya cara bagaimana agar dewi fortuna mau membalas kebaikanmu—Matheo, aku ikhlas melepasmu.

Hari ini adalah hari terburukku, bukan?

Tapi tak apa, asal bisa membahagiakanmu dan membalas budimu, aku senang.

Terima kasih Matheo. Terima kasih.

Label: , , , ,



My heart draws a dream
Rabu, 11 April 2012 @4/11/2012 02:03:00 AM




Kamu punya mimpi?

Aku punya, dan mimpiku sederhana—selalu sama dari sejak aku taman kanak-kanak atau mungkin sejak pertama kali aku mengenal imajinasi, selalu sama setiap kali ibuku bertanya tentang apa cita-citaku, akan menjadi apa atau seperti apa kalau aku besar nanti. Selalu sama pula setiap kali ayahku bertanya hal yang sama, atau kakak-kakakku, atau bahkan keluarga besarku.

Mimpiku sederhana : aku ingin jadi apa pun, aku ingin dilihat.

Kalau kamu?



-----------------

"This chest is drawing a dream, towards to anywhere,
fly high towards to the freedom"

----------------- 



"Kalian kembaran ya? Duh manisnya~ tapi yang adiknya jangan cemberut gitu dong, jelek."

"Kakaknya cantik ya? Adiknya enggak terlalu sih ya..."

"Coba ya, kamu tuh liat kakak kamu, rapi, bersih, ini kenapa kamar berantakan mulu—kamu tuh perempuan, mau jadi apa kalau jorok gitu. Kakak kamu yang laki-laki aja rapi, masa kamu yang cewek enggak? Kan malu kalau di liat sama orang!!"


Malika hanya menghela nafas begitu memorinya tiba-tiba berputar pada kenangan masa kecilnya dulu, padahal dia yang memang sedang duduk termangu di tempat tidurnya berniat untuk berimajinasi seputar tugasnya yang memang membutuhkan banyak inspirasi. Dia tengah membuka-buka buku catatannya, tapi dia lupa kalau dia adalah orang yang sering kali mengeluarkan keluh-kesahnya dengan tulisan, dan parahnya dia juga lupa, kalau tulisan yang berisikan keluhannya ada dimana-mana—termasuk buku catatan kuliahnya.

Kedua ujung bibirnya ditarik, membuat seulas senyum samar yang tergambar di raut wajahnya yang sendu, menunduk untuk kembali membaca sederet tulisan tentang komentar-komentar yang ditulisnya, yang disisipkan catatan bahwa 'aku bukan seperti apa yang kalian kira' dengan tinta merah. Semua tulisannya selalu diawali dan diakhiri dengan tanda kutip, menyatakan bahwa itu adalah kalimat orang yang dia dengar, yang entah langsung atau tidak adalah tentang dirinya.

Hampir kebanyakan mereka berkata, Malika harus seperti kakak perempuannya, Janneth.

Baginya, kakak perempuannya itu memang segalanya. Dia bisa melakukan apa pun—memasak, membantu orang tua dengan lihai, rajin, cerdas, tekun, dan selalu ceria. Sosok gadis yang didambakan setiap Ibu baik sebagai anak kandung atau calon menantu. Selalu bisa mengendalikan suasana dan menjadi seorang starter yang hebat. Aktifitas segudang, banyak di kenal orang, selalu di nilai baik, dan semacamnya. Tidak hanya Janneth, sebenarnya. Kakak laki-lakinya, Javier dan Mike juga sama, hanya takarannya yang berbeda dan karena mereka laki-laki, bandingannya tidak akan sebesar dia dan Janneth.

Malika tahu, Janneth luar biasa. Wajar, kalau ibunya terus membanggakan dia, dan meminta dirinya untuk seperti Janneth—setidaknya sebagian kecil, seperti menjadi anak rajin dan rapi. Tapi Malika tidak pernah bisa, tidak akan bisa karena dia bukan Janneth. Namun, entah kenapa, Ibunya selalu menuntut Malika untuk seperti Janneth selama tujuh belas tahun penuh, dari dia kecil, hingga menginjak masa Sekolah Menengah Atas.

Mulutnya terus bungkam setiap kali Ibu atau keluarga besarnya terus membandingkannya dengan Janneth. Sekali pun Janneth juga tidak berkomentar apa-apa, Malika tahu, kakak perempuannya itu juga sama enggannya seperti dia, tidak mau dibandingkan. Tapi mungkin Janneth lebih paham, ini adalah hukum alam, bukan kemauannya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa—tapi Malika, yang memiliki satu keunggulan dibandingkan Janneth mulai memutar otak.

Keunggulannya hanya satu : Memberontak.

Ketika kakinya hendak menginjak pendidikan Universitas, Malika memutuskan untuk mengambil fakultas seni rupa ketimbang fakultas kedokteran seperti apa yang dibanggakan kedua orang tuanya. Ujian saringan masuk universitas ternama di Bandung yang fakultas kedokterannya sudah sangat dikenal berhasil Malika raih—tapi kalau dia ambil, dia akan dibayang-bayangi oleh kalimat 'kan kakak-kakaknya juga di situ'. Malika gundah gulana. Masa depannya sebagai seorang dokter pastilah jauh lebih terang benderang ketimbang menjadi seorang seniman—tapi artinya, dia harus menambah sekian tahun lagi untuk dibandingkan, untuk di cap sebagai adik yang suka mengekor.

Dia tidak mau, tujuh belas tahun lamanya sudah terlalu muak baginya.

Dan akhirnya Malika mengambil fakultas seni rupa.

Malika tahu, orang tuanya sebenarnya kecewa, tapi juga bangga. Dari keempat anaknya, akhirnya si bungsu yang dikenal manja dan tidak bisa mandiri tiba-tiba memutuskan untuk mengambil universitas yang sama sekali tidak ada satu pun sanak keluarga di situ meski masih sama-sama domisili Bandung. Si bungsu yang dikenal selalu mengekor tahu-tahu berdiri sendiri di atas tanah yang tidak pernah dijangkau oleh sanak keluarganya. Si bungsu yang dikenal tidak pernah bisa mengambil keputusan sendiri tahu-tahu berkata dengan mantap, bahwa seni rupa adalah jalannya. Adalah pembuktian bahwa emosi Ibunya dulu sewaktu kecil yang terus menerus memarahinya karena kebiasaannya menggambar adalah sebuah kesalahan, adalah sebuah bukti bahwa gambar dapat dijadikannya sebagai salah satu mata pencaharian uang.

Empat tahun lamanya Malika berada di Universitas ini. Empat tahun lamanya Malika membuktikan bahwa sekali pun kesulitan yang dia hadapi luar biasa, sekali pun masih ada omongan-omongan yang nyelekit, dia bisa berdiri sendiri. Dan empat tahun lamanya pembuktian Malika benar adanya. Tapi ini masih empat tahun awal dari masa hidupnya—dan Malika tahu itu.

Janneth pernah berkata, dia bangga padanya. Javier pun demikian, Mike juga. Orang tuanya belum pernah berujar bangga sekali pun padanya, tapi Malika tahu, tanpa ucapan, mereka pasti merasakan itu. Ada sebuah pepatah yang sampai sekarang diyakini Malika bahwa itu benar adanya, yakni 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian'—ketika kau ingin membuahkan hasil yang bagus, maka perjuangan yang dilakukan juga harus setimpal.



-----------------

"My heart draws a dream"

-----------------



Kau punya mimpi? Aku punya.

Mimpi sederhana yang sebenarnya siapa pun bisa melakukannya, yang sebenarnya tidak ada kata spesial dalam mimpi yang dia simpan. Sebuah mimpi yang selalu di simpan di dalam hati, jauh di dalam hati, tidak ada yang tahu, bahkan tidak boleh ada yang tahu selain dirinya dan Tuhan. Seolah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus membuktikannya dengan nyata bukan hanya sekedar kalimat kosong belaka.

Mimpi yang sederhana: Aku ingin membuat kalian semua bahagia.

Label: , , ,



—and I'm always just dreaming
Senin, 02 April 2012 @4/02/2012 09:40:00 PM





And when I slowly close my eyes, you come back to my memory
and disappear when I look back
 Even if you can't reach the place we were to meet at
I won't let go of your hand...


- 真夏の夜のユメ -






Suara dering handphone terdengar nyaring memecah keheningan kamar berukuran dua kali tiga meter berwarna putih itu. Ponsel berwarna merah yang sebelumnya tampak baik-baik saja di meja bundar kini terlihat bergetar-getar kecil, seiring dengan nada yang semakin lama semakin keras memekik telinga. Tergopoh-gopoh, Malika menyambar ponsel itu dan menekan tombol accept ketika melihat nama 'Matheo' di layar ponselnya.

"Ya? Hallo? Theo?" mulutnya seketika kaku sekali pun di seberang sana justru terdengar tawa renyah. "Apaan sih kenapa ketawa? Ada apa?" lanjut gadis berambut hitam itu. Kemudian keduanya malah terdiam untuk beberapa saat, tidak ada jawaban. "Halo? Theo? Masih di situ?" ujarnya memastikan. "Iya Mal, sibuk gak?" Theo akhirnya bersuara, pertanyaan basi setelah sekian lama mereka tidak bertegur sapa. "Kalau sibuk sih ya enggak usah."

"Hmmm, enggak juga sih" apa sih yang enggak buatmu "kenapa?" lagi-lagi pertanyaan Malika tidak di jawab dengan serius, tawa renyah Theo kembali ia dengar dengan jelas. Malika mau tidak mau tersenyum, rasa rindu yang meluap di hatinya membuat kedua ujung bibirnya tertarik ke samping. "Ketawa melulu, kau seperti orang gila." Malika bersuara lagi, canda tawa. Theo terkekeh. "Sialan kau" umpatnya.

Tidak tahu, mungkin karena rindu, Malika ikut tertawa. "Tapi aku memang gila sih, hampir gila tepatnya karena rasa-rasanya otakku mau meledak, kau tahu." Theo mendengus kecil, menghela nafas panjang ketika Malika bertanya lagi tentang kondisi pemuda berusia lima tahun diatasnya itu. "Tidak apa kok kalau kau sibuk, nanti saja aku cerita."

"EEEHH!!" Buru-buru menyangkal, Malika berteriak kecil, penolakannya secara gamblang ditunjukkan terang-terangan. Theo yang mendengarnya hanya bisa tertawa—seolah mengerti bahwa gadis berusia dua puluh satu tahun itu sedang ingin berbincang-bincang dengannya. Kangen, mungkin. "Eh tapi terserah kamu sih, kalau ingin cerita ya cerita saja. Enggak ya enggak apa-apa..." berpikir sebentar, Malika membiarkan ada sedikit jeda di tengah-tengah kalimatnya. "Tapi aku cuma bisa bilang kalau semuanya pasti baik-baik saja. Seperti biasa." lanjutnya.

Matheo tidak berkomentar apa-apa, tapi akhirnya dia memutuskan komunikasi singkat dengan ucapan sederhana— "tidak apa, nanti aku cerita deh, besok" katanya sembari menutup ponsel. Malika hanya bisa tertegun, menatap ponselnya agak lama lalu menghela nafas panjang. Antara lega bercampur cemas. Sekaligus dilema.

Tapi ternyata, Malika tidak harus menunggu dalam waktu yang lama karena belum saja waktu berputar selama dua puluh empat jam penuh, ponselnya berdering lagi; pertanda ada pesan singkat yang masuk. Entah memang sudah feeling atau apa, Malika yang memang dari tadi membawa ponselnya itu kemana-mana langsung membuka pesan singkat itu—dari Matheo.

Basa-basi, bertanya dia sedang apa. Gadis ini dengan cepat menggerakkan jemarinya, mengetik sederet tulisan dan langsung mengirim balasan  pada Matheo. Hatinya berteriak, setengah memaki, setengah memaklumi. Dia ringu—tidak bisa di pungkiri. Akan tetapi mungkin memang Malika telah melakukan kesalahan dan dia tidak bisa memikirkan dirinya sendiri, barang kali Tuhan sedang ingin mengingatkannya. Tidak tahu, tapi begitulah apa yang ada di benak Malika.

Satu pesan singkat kembali masuk ke memori ponselnya, pengirim yang sama seperti sebelumnya tapi isi pesannya jelas membuat Malika tertegun. Sederhana, tapi gadis itu dibuatnya membeku. Dia memejamkan matanya erat-erat, menahan nafas, dan sekuat tenaga menahan air matanya yang sudah membendung. Gadis itu duduk jongkok di kamarnya, menyembunyikan wajahnya untuk beberapa saat. Tidak, dia tidak menangis, hanya merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.  Menengadahkan kepalanya, menatap layar ponselnya, Malika segera mengetik balasan untuk Matheo dan tanpa membaca ulang, dia langsung menekan tombol send.



———

'bagaimana cara menembak cewek?'

'apa kau pernah menembakku?'

——


Label: , , ,



Reflection
Rabu, 14 Maret 2012 @3/14/2012 08:30:00 PM






14 Maret 2012
Bandung, kantin kampus. 10:26




"Kamu masih mikirin Theo ya, Ka?" Malika menoleh cepat ketika suara kalem Tere mengejutkannya. Lamunan tentang sesosok lelaki berambut sedikit gondrong yang sedari tadi tergambar jelas di pandangannya kini buyar seketika, hilang entah kemana. "Eh? Apa Ter?" gadis bernama Malika itu akhirnya membuka suaranya, tersenyum polos ke arah Theresa. "Tadi ngomong apa?" tambah Malika cepat. Di lihatnya, Tere hanya menghela nafas panjang.

"Malika, kamu masih mikirin Theo, ya?" ujar Tere mengulang pertanyaannya dengan sabar. Tapi mungkin Tere harus menambah takaran sabarnya karena Malika hanya menjawab dengan seulas senyum tipis di wajahnya. Meski pun jawabannya hanya sebatas itu, Tere tahu, itu artinya adalah 'iya'. "Theo itu... sebegitunya banget ya buat kamu?" gadis berambut hitam setekuk itu kembali bertanya, kali ini pandangannya tertuju ke arah piring kosong di hadapannya. Kedua tangannya sibuk mencuil-cuil sisa keju dengan menggunakan garpu yang digerak-gerakan oleh tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menyangga kepalanya yang sedikit miring agar memudahkannya menatap Malika tanpa harus bersusah payah menoleh. "Apa sih, bagusnya dia?"

Sebenarnya, dari dulu hal yang paling di benci Malika adalah pertanyaan-pertanyaan seputar Theo. Orang-orang selalu bertanya apa bagusnya dia, apa menariknya dia, apa bijaksananya dia, dan lain-lainnya. Malika sendiri sebenarnya sudah berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sejelas mungkin, dengan kalimat bahwa baginya, takaran bagus, baik, menarik, atau bijaksana baru bisa di mengerti oleh setiap orang apabila orang tersebut sudah menjalaninya. Dan karena Malika pernah menjalani hubungan dengan Theo, Malika tahu Theo itu seperti apa, sedangkan Tere yang hanya sebatas teman belum tentu bisa mengerti seperti Malika mengerti Theo.

"Bagusnya—ya bagus saja," menjawab sekenanya, Malika hanya menghendikkan bahu. "Aku tuh udah sering denger pertanyaanmu yang ini, Ter, apa kamu ga bosen nanya dan denger jawaban yang sama terus-terusan? Aku aja yang di tanya bosen," tambahnya dengan bibir manyun pertanda sebal. "Ntar aku bikin buku 'Rumus Alasan Kenapa Malika Suka Theo' deh biar kamu hapal di luar kepala—hahaha."

Tere berdecak kecil, sebal mendengar jawaban dari sahabatnya itu. "Bukan gitu, aku juga inget kok jawaban kamu apaan, tapi ya aneh aja, sampai sekarang kamu masih aja mikirin Theo. Gak mau buka mata apa kamu Ka?" Malika terdiam, mendengarkan ucapan Tere yang mulai berceloteh panjang. Semacam mendengarkan ceramah di pagi hari, bedanya bukan tujuh menit, tapi lebih dari itu. "Cowok tuh banyak loh di sekeliling kamu, ada Eja, ada Raka, ada Bayu..."

"Tapi kan ngelupain orang itu enggak gampang toh Ter, apalagi kalau kamu udah kenal lama. Gak cuma sekedar kenal, tapi kamu tahu seluk beluk apa yang dia hadapain itu lebih susah." Malika menyanggah ucapan Tere cepat-cepat, mendengus pelan. "Tapi tenang aja kok Ter, aku mulai nyibukkin diri supaya bisa lupa sama Theo." gadis itu tertawa renyah, menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan lembut. Tapi Tere hanya menghela nafas, menggeleng lemas.

"Lupa bukan berarti ikhlas loh Ka."

Malika menoleh, tersenyum tipis. "Ikhlas pun bukan berarti lupa, Ter."

Label: , , , ,



When you want to die
Selasa, 13 Desember 2011 @12/13/2011 10:24:00 PM




When you want to die.



Gue mau mati.

Gue ulangin sekali lagi: Gue. Mau. Mati.

Iya, mati. Kenapa? Tidak tahu. Tiba-tiba saja ide gila itu muncul di kepala gue kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi. Sederhana, kan?

Kalau di tanya lebih lanjut tentang alasan kenapa gue mau mati—selain kata lebay dan emang itu ide kepikir begitu aja—adalah mungkin karena gue enggak tahu mau hidup kayak gimana lagi. Pertama, gue seorang cowok yang berumur dua puluh lima tahun tepat tanggal sepuluh Agustus kemarin yang punya pacar, tapi long distance relationship dan sering banget bertengkar. Kedua  gue yatim piatu, sudah hampir satu tahun Bokap gue berpulang pada-Nya karena penyakit yang dia derita, menyusul Nyokap gue yang lebih dulu dipanggil karena perjuangan melahirkan adik gue. Mereka meninggalkan gue begitu saja di bumi ini dengan adik-adik gue, tiga adik—satu kandung, dua tiri—dengan hutang piutang segudang. Ketiga, seperti apa yang gue bilang pada point dua barusan, bokap gue meninggal dan sebagai anak, gue harus membayar hutang piutang beliau. Tapi untuk seorang anak laki-laki yang masih bau kencur, sekali pun orang bilang hutang itu enggak seberapa, buat gue justru itu luar biasa.

Dua puluh lima tahun, tanpa orang tua, punya tiga adik sebagai tanggungan, dan hutang yang harus dibayar, serta pacar yang terus marah-marah karena jarang ketemu—sedih banget ga sih hidup gue? Setiap kali gue bangun tidur , hal pertama yang gue lakuin bukanlah apa yang sering gue nyanyiin dulu: “bangun tidurku terus mandi” tapi “bangun tidurku terus ngaca”. Hahaha. Kagak, gue kagak ada niat buat narsis di pagi buta, atau berlagak seperti sang ratu dalam cerita putri salju yang terus bertanya siapa-wanita-tercantik-di-muka-bumi-ini setiap menitnya. Boro-boro mikir kayak gitu, yang ada setiap kali gue ngeliat bayangan gue di cermin, rasanya justru pengen gue tonjok sampai ancur.

Sebal. Sekaligus marah.

Tapi karena gue sayang sama adik-adik dan juga pacar gue, niat ajaib gue barusan gue pendam sendirian dan tetap memasang wajah santai seperti biasa—kalau kata temen gue, gue itu denial, alias pakai topeng. Cuma ya, yang namanya lama-lama mendem perasaan itu enggak enak. Biasanya, 70% dari survey yang gue perhatiin di sekeliling gue, dengan tingkat sok tau yang tinggi luar biasa, orang-orang yang mendem perasaan pasti ujung-ujungnya berakhir buruk. Misal, temen gue ada yang pacaran, mereka sok-sokan ga mau nyakitin perasaan pacarnya jadi segala keluh-kesah mereka di pendem, begitu sekalinya bertengkar, semuanya keluar dan yaah, putus deh. Terus misalnya lagi—apa ya, banyak deh pokoknya. Dan salah satunya ya kasus gue sekarang.

Mungkin ini udah masuk limit dari takaran sabar gue. Gue percaya kok kalau yang namanya manusia itu punya batas kesabaran—ya kali dikira Dewa apa bisa sabar sampai tua—dan sekarang rasanya gue udah ga bisa sabar lagi dengan apa yang gue jalanin, akhirnya—BOOM!!! Meledak deh. Dalam satu hari bahkan kalau mau lebay di bilang dalam satu waktu, semuanya makin berantakan. Hutang piutang yang gue tanggung makin banyak, adik gue kena kasus remaja yang paling fenomenal: nikah di usia muda karena ‘kecelakaan’, lalu masalah pendidikkan adik-adik gue yang lain, dan putus dengan pacar karena keluhannya yang udah gak bisa gue tahan.

Gue marah, gue teriak, gue maki-maki. Tapi enggak ada yang ngerti gue—enggak tau kenapa.

Ada sih yang ngerti gue—Tuhan. Kakek gue sering cerita, kalau yang namanya masalah itu, kalau lo ga dapet pemecahannya, minta sama Tuhan. Tapi enggak cuma sekedar minta alias kudu ada usaha. Gue udah sering banget curhat sama Tuhan sambil pelan-pelan gue berusaha buat nyelesain masalah gue, tapi mungkin karena gue bukan orang yang sabaran, atau emang gue terlalu naif, jadinya sampai sekarang semuanya tetap sama, enggak ada yang berubah.

Jadinya gue berpikir buat mati aja. Biar semuanya selesai.

Done.


oOo



Gue mau mati.

Iya, mati.

Kenapa? Tidak tahu. Tiba-tiba saja ide gila itu muncul di kepala gue kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi. Apa ini disebut lebay? Yah, enggak tahu juga sih ya tapi menurut gue yang namanya lebay itu emang udah jadi bagian hidup orang. Dan yah, karena gue adalah orang jadi wajar kalau gue lebay.

Salam sayang :


Matheo.


Di buat untuk mengikuti blog cerpen : http://writingsessionclub.blogspot.com dengan tema “Ide gila itu muncul di kepalaku kemarin”. 13 Desember 2011. Tapi karena enggak keterima, gue jadiini tugas aja ya =)) #ditimpuk

Label: , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //