Unbirthday Party - 7 (part 2)
Sabtu, 29 Oktober 2011
@10/29/2011 08:37:00 PM
- Ryokushoku o Obita punya para tuyul bersaudara.
- Kyoshiro Kitazawa punya gue as co-PM
- Fuji Amamiya punya Anna
- Dan beberapa chara yang di sebut punya PMnya masing-masing.
oOo
"Memangnya kalau tidak bisa bertemu, kenapa?"
“Umm… mungkin aku akan sedih, mu-mungkin aku juga akan cemas. Habis, kurasa Kyoshiro-san itu.. penting."
oOo
“Wow—kau memberiku cake coklat!! Asyik!!”
Menunduk menyembunyikan senyumannya saat aku berujar terima kasih berkali-kali, Fuji hanya bisa tersipu-sipu malu mendengarnya, sambil tetap melirikku sesekali. Aku sekilas melihatnya, tapi aku tidak terlalu ambil pusing karena aku terlalu senang dengan hadiah yang dia berikan kali ini meski pun terkadang aku ingin tertawa saat menyadari kalau rona pipi gadis itu lebih sering merona merah ketika melihat wajahku yang berseri-seri.
“Ma-maaf Kyoshiro-san, aku tidak bisa memberimu apa-apa selain ini…”
Aku mengibas-ngibaskan tanganku, memilih untuk tidak acuh sama sekali. “Ah, tak apa. Sudah lama juga aku tidak mendapatkan cake coklat darimu—terakhir kan saat kau kelas delapan dan itu juga masih ada kok, utuh.” Sahutku santai. Tentu saja masih utuh, sudah jelas aku ini hantu, jadi coklat itu tidak bisa aku makan, meski aku tidak bilang kalau coklat itu sudah basi dan yah, kalian bisa tahu sendirilah.
“Se-semoga kau menyukainya…”
Aku nyengir— “oh!! Aku jadi lupa.” Merogoh saku celana dengan tergesa-gesa, aku mengeluarkan satu helai bulu berwarna putih dan satu tangkai penuh bunga sakura berukuran kecil; langsung menyodorkannya pada gadis sakura itu. Fuji jelas kebingungan, tapi dia menerimanya dengan senyuman terukir jelas di wajahnya, senang. “Karena kau asrama sakura, jadi kemarin aku sempat memetiknya sebelum berganti musim, dan yah bunga sakura ini untukmu. Kalau bulu ini—eh, sebenarnya sih iseng saja tadi ada bulu-bulu burung yang jatuh sewaktu aku mau ke sini, terus aku ambil karena yaaah, sepertinya bagus juga kalau aku memberikannya untukmu. Aneh ya?”
Lagi-lagi, seperti rutinitas yang sudah sering kali terjadi selama tujuh tahun berturut-turut, Fuji tidak menjawab apa-apa sekali pun aku mencerocos terus dan berbicara panjang lebar tanpa jeda seperti itu. Dia hanya menerima hadiah yang aku berikan—meski sebatas bunga dan bulu, bahkan tamagotchi—dengan malu-malu, menunduk dalam-dalam, dan berujar terima kasih dengan nada suara yang teramat-sangat-pelan-luar-biasa.
Tapi karena sudah terbiasa, aku mengabaikannya dan tetap berseri-seri riang.
“A-aku senang, Kyoshiro-san memberiku dua hadiah…” ujar Fuji pelan, dia masih menunduk menyembunyikan wajahnya sedangkan aku langsung menoleh saat dengan wajah masih tetap berseri-seri. “Tidak, tidak, itu dianggap satu saja kok, Fuji-chan. Kan enggak sebanding sama hadiahmu.“ jawabku santai.
Fuji tersenyum, perlahan dia menengadahkan kepalanya, memandangku dengan rona pipi masih bersemu merah. Secara refleks, alisku terangkat tinggi dan ber-hmm kecil sewaktu mata hitam gadis itu dengan malu-malu menatapku, dan ber-hmm sekali lagi saat Fuji merogoh tas kecil yang dia bawa-bawa. “Sebenarnya… umm, a-aku punya satu hadiah lagi untuk Kyoshiro-san…”
“Ehh??”
Amamiya kecil itu menyerahkan beberapa post card dan beberapa foto kepadaku. Post card Tokyo, Yokohama, Hokkaido, dan beberapa kota di Jepang lainnya, dan foto-foto itu sepertinya menunjukkan bagian-bagian dari tiap kota satu persatu. Aku hanya bisa tertegun lama, memandang barang-barang itu dan memandang Fuji secara bergantian. Tidak mengerti apa maksudnya.
“Hmm, kan kemarin Kyoshiro-san bilang… ingin melihat kota-kota ini, kan? Jadi… yah, bagaimana menjelaskannya ya… kemarin aku bertanya pada teman-temanku apakah mereka punya postcard atau foto-foto dan mereka bilang punya, jadi aku memintanya dan mereka memberikannya… ya-yang ini dari Akira-san, i-ini dari Miura bersaudara, ini dari Aiko-san, ini dari Namikaze bersaudara, ini dari Renge-san, i-ini dari Sakuramichi-san juga Ritsu-chan… da-dan ada juga beberapa postcard Tokyo, Osaka, juga beberapa perfektur Jepang lainnya yang sengaja dikirim Tetsu-senpai, Matsushima-senpai, Izumi-senpai, juga Shibasaki-senpai tadi malam…” jawab Fuji panjang lebar meski agak terbata-bata sambil menunjuk-nunjuk.
Aku masih menggeleng-geleng pelan. “Aku tidak mengerti…?”
“Eeh.. anu, ma-maksudku… gimana ya…”
“Jadi maksudmu, karena aku tidak bisa pergi ke sana dan melihatnya secara langsung, setidaknya melalui foto aku juga bisa melihatnya?” Fuji menunduk sambil mengangguk kecil mengiyakan perkataanku. Secara refleks aku langsung bergerak memeluk gadis itu sepersekian detik dan langsung melepasnya; bergerak mundur sambil mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi, dengan mulut ber ah-eh-ah-eh kikuk. Sedangkan Fuji yang jelas kaget langsung menunduk lagi, lebih rendah dari sebelumnya.
Malu. Begitu juga denganku.
“Ma-maaf, a-aku refleks!” sahutku cepat. Fuji bergerak sangat pelan, dan aku tidak mengerti itu sebagai gerakan gelengan kepala, atau anggukan kepala, atau apakah dia menghendikkan bahu, aku tidak tahu, tidak jelas. “A-aku terlalu senang, jadi secara… engg, maaf sebenarnya tidak ada maksud untuk menyakitimu kok… benar-benar gerakan refleks. Aku benar-benar berterima kasih padamu—aduh gimana ya.” mulutku berkomat-kamit cepat, bergerak-gerak mencerocos dengan sangat kikuk. Pipiku terlihat merona merah dengan sangat jelas, bahkan lebih merah dari pipi gadis sakura itu.
Di luar dugaan, gadis itu malah terkekeh geli.
Aku jadi seperti orang bodoh. “Kau—kenapa ketawa?”
“Ehh—ti-tidak, habisnya Kyoshiro-san lucu sekali…” sahut Fuji pelan, wajahnya masih merah, dan dia masih terkikik geli. Tentu hal ini membuatku merasa lega kalau gadis itu tidak merasa keberatan—mungkin—akan perlakuanku tadi. Tapi selain itu, aku juga merasa geli sendiri, sekaligus membuatku manyun karena sebal. Meski tidak bisa aku pungkiri kalau aku juga sangat senang akhirnya dia tertawa.
“Kau ini tetap saja masih suka menertawakanku. Cih.” Fuji terkejut, refleks dia menggeleng cepat sambil memejamkan mata, menunduk, dan lagi-lagi berujar maaf. Kali ini justru giliranku yang tertawa. “Bercanda kok, aku hanya ingin kita impas saja. Kau menertawakanku, maka aku pun harus menertawakanmu juga—HAHAHAHA!!”
Fuji tersenyum, meredam tawanya sendiri.
Berdeham kecil dengan lagak sok, aku mulai memasang wajah serius, memandang Fuji yang masih terkekeh geli—membuatku ikut tersenyum-senyum, tidak jadi memasang ekspresi serius. “Yah—terima kasih Fuji-chan, aku benar-benar sangat bahagia mendapatkan semua ini, kau benar-benar memberiku banyak hadiah hari ini. Tapi yah, aku cuma memberimu satu hadiah saja rasanya jadi tidak adil. Hmmm… apa ya? Bagaimana kalau khusus hari ini saja, kau jadi tuan putri dan aku jadi pelayanmu? Semua permintaanmu akan aku penuhi,” dia mengerenyit, tidak mengerti. “Apakah ada sesuatu yang kau inginkan dariku?”
Gadis sakura itu masih terdiam lama memikirkan ucapanku, dengan tetap duduk manis di sebelahku tanpa bersuara. Aku sendiri hanya bisa memandangnya dan sabar menunggu, dengan mata bergerak sesekali melirik ke arah tangan kecil Fuji yang menempel pada lantai tatami teras Main House. Sepertinya dia mulai agak kedinginan seiring dengan bergeraknya waktu menuju malam. Entahlah, tapi tangannya, yang berada di sebelah tanganku sendiri tampak memucat meski samar. Tidak tahu juga sih sebenarnya meski jari-jari kecil Fuji hampir bersentuhan dengan jari-jariku.
“Kau kedinginan?” tanyaku pada akhirnya, memecah keheningan yang sudah entah berapa kali terjadi kalau aku dan Fuji bertemu. Gadis itu mendongkak kaget, lalu menggeleng sambil tersenyum. “Benar?” dia mengangguk kali ini, dan aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Apakah… aku benar-benar boleh meminta sesuatu?” tanya Fuji pelan, matanya memandangku meski tidak mengarah pada mataku. Aku dengan antusias langsung mengiyakannya, tersenyum lebar, dan dengan wajah sumringah aku mengangguk-ngangguk cepat. “Apapun itu?” aku mengangguk lagi, rasanya seperti burung pelatuk.
“Iya tuan putri, kan sudah aku bilang tadi.”
Dia terkekeh. “Kalau begitu, hmm… bisakah… err—bisakah Kyoshiro-san berjanji untuk tidak lagi berbohong?” Fuji menghela nafas berat sambil memejamkan mata, raut wajahnya tampak sedikit sedih. Dan aku, yang mendengarnya, yang berjanji akan memenuhinya hanya bisa tertegun lama. Firasatku mengatakan ada yang tidak beres—tidak enak hati. “Bisakah… bisakah Kyoshiro-san jujur padaku, tentang semua yang Kyoshiro-san rasakan, pikirkan, a-atau apa pun itu bentuknya?”
Aku tidak menjawab.
Dadaku seketika merasa sesak—permintaan sederhana dari Fuji yang seperti inilah yang paling aku takutkan, yang paling aku benci. Gadis itu, entah karena dia memang seorang manusia, yang memiliki perasaan peka luar biasa, seakan bisa membaca pikiranku, membaca setiap tindak-tandukku saat aku menyembunyikan sesuatu. Atau mungkin juga, dia sudah tahu apa yang aku pikirkan sedari dulu, dan sekarang permintaannya itu seolah-olah sebagai sebuah pernyataan bahwa dia minta kepastian.
“Kyoshiro-san?”
Kali ini giliranku yang menunduk rendah, mataku terpejam erat dengan kedua alis saling bertautan, gelisah. Sebenarnya yang paling aku takutkan bukanlah kejujuran—aku bisa saja menceritakan semua yang ada dibenakku, semua yang aku pikirkan. dan yang aku pikul sendirian selama ini secara gamblang. Tapi yang paling aku takutkan justru adalah kenyataan—aku takut, dan aku tidak mau melaluinya.
Menengadahkan kepalaku untuk memandang Fuji, aku menatap kedua matanya—dan dengan sangat di luar dugaan, gadis itu membalas tatapanku. Tegas dan pasti. Aku sempat terhenyak seketika melihatnya. Ah, ya. Aku baru sadar, dia sudah dewasa, dia bukan lagi gadis berusia sebaya denganku. Fuji dihadapanku ini bukan lagi anak perempuan yang aku temui tujuh tahun yang lalu—dia sudah menjadi Fuji yang lain, menjadi Fuji yang sudah beranjak dewasa.
Inilah salah satu kenyataan yang paling aku takutkan, yang paling aku tidak mau melaluinya, dan yang paling tidak mau aku akui—waktunya sudah berputar.
Entah kenapa, aku merasa kesepian.
“Permintaanmu sesederhana itu? Tidak salah, Fuji-chan?” tanyaku pada akhirnya. Fuji menggeleng, menyatakan kalau memang itulah permintaannya, sebatas itu, hanya itu. “Aku harus jujur? Apapun itu? Yah, bisa saja sih… tapi justru aku ragu, apa kau memang benar-benar yakin mau mendengar semuanya?” Fuji tidak menjawab apa-apa untuk sepersekian menit, sampai pada akhirnya dia mengangguk.
“Umm—entahlah, tapi belakangan ini rasanya Kyoshiro-san aneh sekali… kemarin juga…” tutur Fuji lirih. “A-aku jadi kepikiran… yah, kalau Kyoshiro-san memintaku untuk menceritakan semuanya, a-aku tidak salahkan kalau aku meminta hal yang sama?”
Menghela nafas berat untuk kesekian kalinya, aku menoleh, memandang langit agak lama sebelum akhirnya menoleh memandang Fuji, tidak tersenyum, tidak juga cemberut. Sendu. “Sebenarnya, kemarin aku berbohong satu hal lagi.” Gadis itu mengangkat wajahnya, tidak berkomentar. “Kemarin—sampai sekarang, sebenarnya—memang ada yang aku pikirkan. Ada hal yang mengganjal dipikiranku dan membuatku tidak fokus, bahkan kemarin aku juga sempat berbicara jahat padamu, maafkan aku.”
Dia menggeleng, memaklumi. “Lalu, apa yang Kyoshiro-san pikirkan?” dengan takut-takut, dia mencoba bertanya dengan kedua bola mata hitamnya yang masih berusaha untuk tetap memandangku, menatapku yang juga memandangnya meski dengan tatapan kosong, dengan wajah suram yang sangat jelas terlihat.
“Kau.” Fuji membeku, sama sekali tidak bergeming. “Dan selalu saja kau.”
Tidak ada reaksi setelahnya; gadis itu tetap diam sambil menunduk malu-malu. Aku pun memilih untuk diam, membiarkan Fuji memikirkan kata-kataku barusan sekaligus memutar otak, mencari kata-kata dan kalimat seperti apa yang akan aku ucapkan selanjutnya, yang sama sekali tidak membuat Fuji tersinggung, atau resah, atau bahkan menyakitinya. Mungkin, aku juga harus mulai berpikir akan beberapa kemungkinan pertanyaan yang terlontar dari mulut Fuji, sekaligus jawabannya.
Hening, tidak ada suara sedikit pun.
“Bukankah sudah aku bilang, kalau aku menyukaimu?” ujarku pada akhirnya seraya menoleh memandang gadis berambut hitam legam disampingku meski dia tidak membalas menatapku. Fuji mengangguk kecil, lalu diam. “Alasan kenapa aku menyukaimu adalah kau gadis pertama—bukan, tapi kau adalah orang pertama yang mau berbicara banyak hal padaku, sekaligus memperhatikanku sekali pun aku sudah mati—tidak, bahkan saat aku masih hidup pun, tidak ada orang yang sepertimu.”
Perlahan, gadis itu menengadahkan kepalanya, memandangku dengan takut-takut, dengan pipi merona merah entah karena tersipu, atau malu, atau bahkan kedinginan. Aku sendiri masih terus memandangnya sejak tadi dan sama sekali tidak berkeinginan untuk mengalihkan pandanganku darinya. Fuji membuka mulutnya namun dia kembali mengatupkannya lagi, terus seperti itu. “Aku hanya ingin kau tahu itu. Lagi pula aku paham kok, pasti rasanya aneh di sukai oleh hantu, oleh orang yang sudah mati sepertiku. Tapi karena kau memintaku jujur, maka hari ini aku akan jujur padamu, semuanya, seperti yang kau pinta.”
Tersenyum tipis, aku menghela nafas berat.
“Aku sungguh menyukaimu.“
—mencintaimu.
“Aku selalu ingin bertemu denganmu. Selalu. Setiap hari, diam-diam, aku selalu menghampirimu di tempat-tempat yang ramai seperti kelas, kantin, ruang rekreasi, bahkan kegiatan klub. Sering kali pula mereka yang beraliran sihir Eastern memergokiku. Ada yang mengusirku, ada yang membiarkanku, ada juga yang mencemoohku, tapi aku tidak peduli, asal melihatmu sekali saja dan memastikan kau baik-baik saja, aku sudah senang.
“Hingga pada suatu hari, aku melihatmu bersama dengan seorang pria. Berkali-kali memergoki kalian berdua sekali pun hanya sekedar duduk-duduk, makan, atau mengerjakan tugas membuatku kesal. Aku tidak tahu itu siapa, tapi aku tahu, lelaki itu menyukaimu seperti aku menyukaimu.”
Fuji terhentak kaget dan mengerjapkan matanya berkali-kali; langsung menoleh ke arahku dan cepat-cepat membuka mulutnya seakan ingin menjelaskan tentang siapa lelaki itu—tapi aku menggeleng, memintanya diam sampai semuanya selesai. Gadis itu menurut, dan karena dia menurut entah kenapa rasanya ada yang menusuk di dadaku.
“Tidak apa—sebenarnya aku memang ingin tahu siapa lelaki itu, tapi aku memilih untuk tidak mau tahu, Fuji-chan. Yang jelas, saat melihat kalian berdua aku sadar ada banyak kenyataan yang ada di hadapanku.” Jeda, aku menghela nafas. “Sejak aku mati, aku paling takut akan kenyataan. Yah, kau tahu, rasanya berat sekali menerima kenyataan bahwa aku sudah mati, atau kenyataan bahwa aku tidak lagi bisa makan, minum, atau melakukan hal-hal yang aku sukai. Dan melihat semua itu, aku mendapati kenyataan yang lainnya—kau sudah beranjak dewasa, dan aku benci itu.”
Aku terdiam lama, membiarkan ceritaku menggantung sebentar dan membiarkan Fuji memikirkan semuanya dengan sangat cermat. Mataku yang kosong kini bergulir memandang langit yang sudah gelap, tak berbintang dan juga tak berawan. “A-apakah… itu salah? Apakah, menjadi dewasa itu… salah?” tanya Fuji pada akhirnya, dan langsung menyita perhatianku secara penuh—menoleh memandangnya.
“Apa? Oh tentu tidak, bodoh.” Ujarku spontan. “Justru yang aku benci bukan kau—tapi aku. Yah, memang sih kadang aku juga merasa benci dengan kenyataan bahwa semakin kau dewasa, kau semakin tinggi,” —jujur, kan? Nah, ini jujur banget— “tapi maksud dari ucapanku adalah semakin kau dewasa, maka hal itu menyadarkanku bahwa suatu hari, kau akan pergi dari sini, dari Ryokubita, lulus, dan meneruskan hidupmu, meneruskan waktumu—meninggalkanku di sini.”
“A-aku tidak akan meninggalkanmu, Kyoshiro-san…”
Aku menggeleng.
“Lalu bagaimana dengan kehidupanmu, Fuji? Apakah kau mau di sini terus menerus? Mau dan menjadi apa memangnya?” tanyaku dengan nada sebisa mungkin di buat biasa saja, sekali pun sebenarnya aku bergetar menahan sedih juga marah. “Apakah kau tidak punya mimpi ingin memiliki keluarga kecil dan hidup bersama mereka? Aku saja yang sudah mati masih punya mimpi seperti itu, rasanya aneh saja kalau kau yang masih hidup tidak punya mimpi seperti itu. Atau kau mati bersamaku di sini?” ujarku secara gamblang.
Fuji memandangku kaget, begitu juga aku sebenarnya, tapi sebisa mungkin aku menutupinya. “Kau—aku tidak mau terus menerus egois, Fuji. Kau sudah menjadi milikku, menjadi waktuku selama tujuh tahun, dan sekarang kau harus meneruskan waktumu sendiri; akan lebih baik kalau semua itu di mulai dari sekarang.”
“Ma-maksud Kyoshiro-san?”
“Pergilah Fuji.”
“Ma-masih ada setahun, bukan?”
Aku menggeleng lagi. “Aku menyukaimu, dan aku ingin orang yang aku sukai bahagia. Kalau kau terus menerus di sini, kalau tahun depan kau menemuiku lagi, aku yakin kau—dan juga aku—pasti semakin berat untuk berpisah. Dan aku terus terang saja tidak akan sanggup menerima kenyataan itu, sebagaimana sampai sekarang aku masih tidak terima kalau aku sudah mati sekali pun sering kali aku bilang aku sudah mati.” Kali ini, Fuji yang menggeleng tegas. “Mengertilah Fuji-chan…”
“Kyoshiro-san…”
Tidak tahu harus berbicara apa lagi, tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi, aku hanya bisa terdiam memandang gadis sakura itu, menahan nafas dan mengerjapkan mata berkali-kali, menahan sedih yang menyeruak di dadaku. Aku hantu, aku sudah mati, seharusnya aku bisa melepas Fuji dengan mudah, seharusnya aku bisa meninggalkannya dengan mudah. Seharusnya.
“Aku tidak tahu harus berbicara apa lagi, Fuji-chan… tolong mengertilah…”
“Bukankah masih ada satu tahun lagi?”
“Lalu apa?”
“Eh?”
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanyaku terus terang. Fuji tidak menjawab, dia membeku, memandangku dengan kedua matanya yang sudah berair, nyaris menangis. “Inilah kejujuran yang kau pinta, Tuan Putri,” ujarku sambil tersenyum tipis meski sang tuan putri tidak bereaksi membalasnya. “Terima kasih atas semua hadiah selama tujuh tahun ini. Aku sangat senang. Dan aku pun sungguh berterima kasih padamu karena sudah menganggapku masih hidup.”
“Kenapa? Kenapa?” Dia menggeleng, matanya memerah menahan tangis sambil terus merancau tidak jelas, bertanya-tanya padaku yang sama sekali tidak bisa aku jawab. Tubuhnya bergerak menubrukku, dan seketika aku tercenggang. Dia memelukku spontan, kedua tangannya merangkul pundakku dengan erat, dan kepalanya tenggelam di bahuku, menangis. Aku menahan nafas.
“Pergilah Fuji, sudah malam.” Dia menggeleng. “Pergilah, aku mohon, nanti kau bisa di detensi…” gadis itu tetap menggeleng, bersikukuh memelukku erat, sangat enggan melepaskan pelukannya. Aku membelai punggungnya dengan lembut, membiarkannya seperti ini terlebih dahulu sembari terus menerus menghela nafas berat, tetap berusaha menenangkannya, menenangkan hatiku. “Kalau begitu aku yang akan pergi duluan,” dia menunjukkan reaksi penolakkan yang sangat jelas, memelukku semakin erat dan menggeleng cepat meski wajahnya masih tenggelam di bahuku, masih menangis sedih.
Aku tersenyum hangat sambil terus membelai punggung Fuji, yang perlahan memejamkan mata, dan berangsur-angsur menghilangkan tubuhku meski sebenarnya aku tetap duduk di tempat yang sama, masih memperhatikan Fuji sampai dia kembali ke asrama seperti biasanya, hanya saja dengan cara yang berbeda. “Selamat tinggal, Fuji-chan.”
“Tidak—“
“—aku mencintaimu.”
Dan tubuhku menghilang sepenuhnya, membuat tubuh Fuji terjatuh menubruk lantai. Dia kembali duduk tegak, ekspresi kaget bercampur sedih kentara sekali di raut wajahnya. Berkali-kali dia menoleh dengan panik, pandangannya menelusuri tiap sudut yang bisa dia tangkap—mencariku. Aku tidak bergeming. “Kyoshiro-san?”
“…”
“Kyoshiro-san? Kau masih di sini, kan?”
Hening, aku sama sekali tidak menjawab meski aku masih bisa melihatnya. Fuji menoleh ke sana kemari, tangannya bergerak menggapai-gapai udara kosong seolah-olah bisa menggapaiku. “Kyoshiro-san?” dia memanggilku lagi, kali ini suaranya lebih bergetar hebat—dia menangis sambil terus memanggil-manggilku, masih tetap menggapai-gapai udara kosong di sekitarnya. “Kyoshiro-san dimana?”
Menahan nafas terus menerus, dadaku sakit melihatnya, seperti tercekik dengan teramat sangat keras. Mataku pedih sekaligus gatal—aku menangis tanpa suara, membiarkan butiran air mata terjatuh dengan sangat deras dari pelupuk mataku, menangis sambil merutuki kenyataan setiap kali gadis itu memanggil namaku, setiap kali gadis itu menangis karenaku.
“Kyoshiro-san jangan pergi, jangan tinggalkan aku …”
Aku tersenyum.
Aku akan selalu ada di sini. Untukmu.
Selamanya.
oOo
Kamis, 15 Juli 2010
Fuji Amamiya, 22 tahun - Kyoshiro Kitazawa, 16 tahun.
oOo
Label: Fanfiction, Fuji Amamiya, Kyoshiro Kitazawa, Ryokubita