<body>
I'm in the wrong place to be real.
Kamis, 14 Agustus 2014 @8/14/2014 04:07:00 AM



Rei tidak pernah menyadari, bahkan mungkin sebenarnya enggan untuk mengakui bahwa belakangan ini orang-orang disekitarnya entah mengapa sering kali membicarakan tentang sosok gadis Bara yang sudah sangat Rei kenal. Pemuda ini jelas tahu betul tentang sosok Kazusa Araide—gadis yang tengah menjadi trending topic obrolan teman-temannya. Rei mengakui, dia tidak pernah mengerti bahkan mungkin tidak pernah tahu apa daya tarik dari Araide sehingga bisa membuat banyak laki-laki yang membicarakannya, setidaknya setiap kali Rei tengah berkumpul dengan teman-temannya yang lain, Araide sering kali menjadi topik pembicaraan. Dan Rei hanya mengernyit setiap kali mendengarnya.

“Berani taruhan, kau pasti sama sekali enggak memperhatikannya?” 

Watanabe tersenyum sinis saat Rei menengadahkan kepalanya. “Memperhatikan apa?” Tanya pemuda Kiku ini polos. Kedua alisnya saling bertautan—Watanabe harus membayar makan siangnya karena membuat Rei yang sedari tadi asyik menikmati donburi-nya kini harus merelakan fokusnya teralihkan hanya untuk pertanyaan Watanabe yang setengah-setengah. “Kenapa menyeringai seperti itu?” 

“Araide cewek,” ucap Matsuda yang duduk di sebelah Watanabe. Rei hanya memandang dua teman satu asramanya itu dengan ekspresi bingung—“Kau menyesal sudah bolos pelajaran mantra kemarin.” Lanjut Matsuda sambil melahap tempura. 

“Ise-sensei kemarin mengadakan kelas gabungan dengan kouhai, kita di pinta untuk membantunya mengajari para kouhai belajar mantra dasar. Sekalian mengukur sejauh mana kekuatan sihir kita,” Watanabe kembali berbicara sambil memangku dagu-nya di atas telapak tangan kanannya masih dengan senyumannya yang menyebalkan. Matanya menatap lurus ke arah Rei—tepat ke belakang tempat duduk Rei. “Dan saat itu, ada seorang kouhai yang mengeluarkan mantra kaze dengan kekuatan yang besar, enggak stabil—dan kau tahu? Rok Araide tersingkap…” 

“Kulitnya putih susu…”

“…kencang…” 

“…mulus.” 

“Hah?” Rei mengernyitkan dahinya. 

She is hot, dude.” Shibasaki muda ini hanya menggeleng pelan dan melanjutkan makan siangnya. “Masih perawan gak ya, dia?” ucap Watanabe random. “Kalau enggak, kira-kira, dia melakukannya dengan siapa ya? Senpai kita mungkin? Siapa tuh—err…” di dengarnya Matsuda tertawa pelan. “Sejak kemarin, aku enggak pernah bisa berhenti ngebayangin bisa mengusap pahanya yang mulus itu—bahkan kalau sampai bisa menyentuh hartanya, pastilah rasanya benar-benar surga duniawi.” Watanabe dan Matsuda tertawa, sedangkan Rei mendengus.

“Kalian membayangkan dengan Araide?” 

Rei tertawa meremehkan. 

“Aku bahkan enggak bisa melihat kenyataan kalau Araide perempuan.” 

Watanabe mengangkat bahunya sekilas. “Kau sudah terlalu lama mengenalnya sih—atau terlalu berteman dekatnya, Rei, jadi bisa saja kau jadi enggak menyadari kalau dia sudah dewasa.” Rei mencemooh ucapan Watanabe dengan berkata ‘dia bukan teman dekatku’ dan langsung ditimpali oleh Matsuda “Tapi di banding kita berdua, kau lebih banyak berinteraksi dengan Araide, kan?” Watanabe mengangguk pelan “Semua orang dewasa, pasti ingin merasakannya. Banyak juga laki-laki yang memandang penuh hasrat padanya, loh.” Rei mendengus lagi. “Mungkin, kalau kau berkesempatan untuk berduaan lagi dengan Araide, cobalah untuk memperhatikannya, Rei.” 

Jangan gila.  


— @ —  


“Heh, budek ya, telingamu?” Rei mengangkat wajahnya ketika sosok primadona tahu-tahu kini berdiri dihadapannya. Gadis itu—Kazusa Araide—menatap Rei dengan ekspresinya yang menurut si Kiku sangat sombong dan belagu. Yah, sebenarnya ekspresi Araide sangat biasa, sih. Hanya Rei saja yang menganggapnya berlebihan. “Kemarin kau kemana sih?” Araide kembali bersuara; mungkin ia mengulang pertanyaan yang tadi tidak Rei dengar. 

“Tidur.” 

“Pelajaran mantra kemarin menyenangkan, loh.”  

Kedua alis Rei terangkat tinggi. “Lalu?” 

“…” 

Tidak ada tanggapan dari Araide untuk beberapa saat, dan bagi Rei yang sudah terbiasa beradu mulut dengan si Bara, mulai merasa ada yang aneh. Maka, diangkatnya lagi wajahnya, mengalihkan perhatiannya lagi dari deretan tulisan yang tengah ia baca dari buku novel klasik, Rei mengengadahkan kepalanya—dan terkejut ketika Araide ternyata sedang menatapnya lekat-lekat. Jaraknya pun tak seberapa, hanya berkisar sepuluh sentimeter.“A—apa?” 

Araide mengernyit. “Ah… kau pasti enggak yakin bisa ngalahin aku, ya?” gadis itu bersuara. “Jadi akhirnya enggak masuk ke kelas?” jeda sebentar. “Atau kau sudah menyerah dengan nilai-nilaiku dan membiarkanku menjadi pemenangnya, hmm?” Rei mendengus mendengarnya. Lihat? Tingkah Araide yang seperti ini, dari mananya terlihat seperti seorang perempuan? Tidak ada manis-manisnya sama sekali, kan?

Rei menggeleng mendengar ocehan gadis Bara itu dan berniat kembali membaca novelnya lagi. Namun entah karena kebetulan, atau masih terbawa obrolan dengan Watanabe dan Matsuda tadi siang, Rei mendapati hal yang aneh pada dirinya—sekilas, Rei terpaku melihat baju Araide. Gadis ini memakai kaus tanpa lengan dengan kerah rebah yang bermodel Sabrina, dengan lengkukan kerah yang sangat lebar sehingga mau tidak mau, disadari atau tidak, Rei bisa melihat belahan dada Araide—belum lagi pakaian dalam gadis itu yang berwarna solid sedikitnya bisa Rei lihat; dengan bantuan cahaya remang dari mantra hidarani-nya, Rei mampu membayangkan bentuk tubuh Araide tergambar jelas dibenaknya sekilas secara otomatis. 

Si Kiku menggeleng lagi. 

Dia mengumpat pada topik yang dibicarakan oleh dua teman seasramanya itu tadi siang. 

“Hari ini rasa-rasanya kau agak lebih pendiam deh, Shibasaki.” Araide kembali bersuara, sekali lagi membuyarkan kosentrasi Rei. Pemuda itu memejamkan matanya sekilas sambil menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lambat-lambat sembari membuka matanya; menatap Araide dengan kesal. Gadis itu juga sama-sama memandangnya. “Serius banget.” Rei memicingkan matanya. 

“Kau berharap aku berbuat apa, di tengah-tengah perpustakaan gelap seperti ini dan di jam segini?” ucap si Kiku sudah mulai kesal. Ditutupnya buku yang tengah ia baca, dan berhadap-hadapan dengan Araide, Rei memandang gadis itu dengan kedua alis terangkat, menanti jawaban si Bara yang sukses membuatnya kesal dan tidak lagi fokus untuk membaca. 

“Sudah berkali-kali kita di perpustakaan dan apa yang kau dapat, Shibasaki?” 

“Hmm—ocehanmu?” 

“Selain itu?” 

“Pengetahuan, tentu.” 

“Kau masih mau main rahasia-rahasiaan denganku, ya? Apa sih alasanmu selama ini? Karena perempuan?” Rei tidak menjawab, dan Araide tampak tidak peduli. “Ya ampun Shibasaki, kau ini kan katanya punya banyak penggemar, ngapain juga sih masih harus nguber-nguber satu cewek yang enggak mau sama kamu?” pemuda Kiku itu masih tidak berkomentar apa-apa, dia hanya memandang Araide dengan tatapan datar. “Sia-sia, tau.” 

“Kau sendiri, mengejar Kazuki-senpai, mau sampai kapan?”  

Gadis itu langsung gelagapan. 

“Enggak sia-sia, tuh?” 

“Kenapa aku yang jadi topik?” Araide menggerutu. “Tapi yah—kadang memang rasanya agak sedih sih kalau mengingat kayaknya udah lama banget ya…” ucapannya menggantung, dan gadis itu tetap menatap Rei dengan tatapan kosong. Rei mengangkat alisnya. “Jadi, posisi kita sama dong ya?” Araide nyengir; Rei masih diam. “Kenapa kita ga jadian aja, ya?” 

Pemuda Kiku itu terkekeh. “Mau coba denganku?” Jeda sebentar. “Aku sih, tak masalah,” Rei menyeringai.” Kau juga, belakangan ini sudah punya fans, loh,” Araide mengangkat alisnya—tidak percaya dengan ucapan Rei. “Beberapa orang mulai membicarakanmu—berkata bahwa penampilanmu sangat menggoda.” Si Kiku melangkah mendekati Araide. “Mereka bilang, kau sangat seksi di pelajaran mantra kemarin.” 

Araide menahan nafas. Gadis itu mulai dapat melihat sosok Reichi mendekat ke arahnya. “Aku? Seksi?” ucapnya sambil berusaha menjaga nada suaranya untuk tetap seperti biasa. Rei hanya tersenyum tipis, dan tetap berjalan mendekati Araide. Si Bara hanya bisa berjalan mundur perlahan—sampai akhirnya punggungnya menyentuh rak buku. “Kau mau apa, Shibasaki?“ Araide gugup. Dia mengigit bibirnya dan merasa kalau Reichi kini sedang memandangnya tajam. “Aku—aku rasa kita sudahi saja malam ini, ya?” 

“Lalu, mau kemana?” Rei tersenyum. 

“Kau mau apa, sih?” 

“Bukankah kau tadi berkata, kenapa kita enggak jadian, kan? Bagaimana kalau kita coba?” 

Dan Araide tidak sempat menyadari ketika Reichi dengan cepat maju ke arahnya—meraih tangan Araude dan menahannya di sekitar buku-buku tua yang tersusun rapi di rak buku di belakangnya. Rei mencengkram pergelangan tangan Araide dengan kuat, mengabaikan tongkat sihirnya yang terjatuh—menghilangkan satu-satunya sumber cahaya di perpustakaan. “A—apa yang kau lakukan?!” gertak Araide panik. Tangannya bergerak mencoba membebaskan diri dari cengkraman si Kiku meski cengkraman di tangannya itu justru semakin menguat. 

Berpacaran denganmu.” 

“Hah?” 

Rei mempererat cengkramannya. “Jangan berlagak polos, Araide—aku rasa kau menikmati semua tatapan laki-laki belakangan ini, kan? Seksi, menggairahkan, dan menimbulkan hasrat. Wanita mana yang tidak bangga dengan itu, hmmm?” Dia mendesak tubuh Araide dengan tubuhnya sendiri. “Mari kutebak—apakah malam ini kau juga ingin aku berpendapat begitu? Aku yang tidak pernah menganggapmu sebagai perempuan? Dan kini tampaknya usahamu berhasil? Hebat.” Rei menjilat bibirnya sendiri dan berbisik di telinga Araide. “Kau tampak seksi malam, ini, Kazusa.” 

Araide mengigil bukan karena dingin, tapi karena dia merasakan dirinya dalam bahaya—ketakutan. Tentu si Bara ingin berteriak, tapi kalau itu dilakukan, ia akan kena detensi karena tidak berada di dalam asrama dan berduaan dengan Reichi di tempat gelap. Berteriak tidak ada gunanya, bahkan mungkin bisa membawa malapetaka. Malam kian larut dan suasa sepi semakin menyelimuti ruangan. “Kau gila, Shibasaki!” seru Araide.

“Kau pasti marah padaku, karena tidak pernah melihatmu, hmm?” Rei menatap Araide lama, merasakan nafas Araide yang pendek-pendek meski pemuda itu sama sekali tidak menghiraukannya. “Sampai-sampai berpenampilan seperti ini?” Araide menggeleng. “Aku sendiri tidak mengerti…” Rei terdiam sesaat. 

“Apa yang—“ 

Ucapan Araide terpotong. 

Bibir Rei mencapai bibir Araide. 

Si Bara terkejut. Tubuhnya terasa di desak oleh si Kiku sampai benar-benar terhimpit di antara rak buku dengan tubuh Rei. Araide nyaris ingin berteriak tapi usahanya sia-sia karena teriakannya teredam oleh mulutnya sendiri—oleh bibir Rei yang menguncinya. Perempuan itu memberontak, dan Rei dapat merasakan hembusan nafas Araide di kulitnya. Rei bergidik; mencengkram tangan Araide semakin erat. 

Rei melepaskan salah satu tangan Araide untuk mencengkram pipinya—memaksa Araide untuk menatap wajahnya dan agar mudah bagi Rei untuk menikmati bibir ranum si Bara yang sedari tadi berusaha membebaskan diri. Rei merasa ada yang mendorong dadanya meski hentakan yang ia rasakan terasa lemah dan tak berdaya. “Kau cantik, Kazusa,” bisik Rei sekali lagi meski Araide masih memberontak. 

Si Kiku menarik bibirnya. Keduanya menarik nafas dengan berat. 

Tidak ada dialog apa pun, baik Rei mau pun Araide terlihat sibuk dengan nafas masing-masing. Tangan Rei yang bebas perlahan bergerak mengelus pipi si Bara dengan lembut, mengabaikan tangan Araide yang masih terus mendorong Rei dengan tenaganya yang lemah. Entah karena belaian Rei atau karena gejolak aneh yang muncul secara abstrak di dalam diri Araide, gadis Bara itu kini hanya bisa memejamkan matanya, membiarkan bibir Rei kembali menyusuri rahangnya, lehernya, lalu kembali ke bibirnya. Kali ini, bibir Araide terbuka untuknya. 

Araide tampak menahan nafas dan tidak berbuat apa-apa ketika lidah Reichi dengan lembut menyusup masuk ke dalam mulutnya—menjelajahi, menikmati, dan mencari sensasi darinya. Perlahan kedua tangan Rei kini membebaskan tangan Araide dan bergerak menyelinap masuk menyusuri sisi tubuh gadis itu, menjelajahi punggung Araide senti demi senti.  

Dan Rei semakin memperdalam ciumannya ketika dirasakan bagian belakang lehernya disentuh oleh jemari mungil Araide, menyusup ke rambutnya, dan mencengkram pelan ketika lidah Rei masih bermain-main di dalam mulutnya. Gadis itu tampak enggan ketika Rei menarik diri. Manik hitamnya menatap wajah Araide dengan nafas yang masih beradu. “Aku tidak mengerti, Kazusa… Sudah lama aku mengakui kalau kau cantik… tapi…” si Kiku bergumam pelan, dan kembali mempertemukan bibir mereka sekali lagi. Tangan kanannya bergerak pelan, menyusuri punggung Araide, sedangkan tangan kirinya bergerak ke arah bawah, mengarahkan kaki kanan Araide untuk bergerak melingkari pinggangnya. Rei meraba paha Araide; mencengkramnya. 

Araide melenguh pelan. 

Rei merinding mendengarnya. 

Si Kiku menggerakkan dua kakinya perlahan—yang satu menyelinap masuk untuk menahan kaki kanan Araide yang masih melingkar di pinggang Reichi, sedangkan yang satu menahan kakinya yang lain. Rei membenamkan wajahnya di pundak si Bara, menghirup aroma tubuhnya yang entah mengapa membuat Rei mabuk bukan kepayang. Bibirnya bergerak menjelajahi leher jenjang Araide, mengigit pelan hingga tampak bekas merah di beberapa bagian. Gadis itu melenguh lagi. “Re—i” 

Mendengar namanya disebut, Rei semakin merasa hasratnya tak lagi terbentung. Terlebih lagi kini jemari mungil Araide bergerak bebas di dalam kemejanya—entah kapan gadis itu membuka satu persatu kancing baju Rei, atau bahkan membuka paksa, Rei tidak tahu. Namun, mendengar namanya disebut, Rei tidak bisa menahan diri lagi. Tangan kirinya bergerak mengusap paha Araide lebih dalam, sedangkan tangan kanannya menjelajahi pinggang gadis itu, memaksanya untuk semakin mendekat dengan tubuhnya. Bibir Rei bergerak mencari-cari bibir Araide lagi—menjelajahi mulut si Bara dengan lidahnya. Sesekali bibir gadis itu ia gigit, ia hisap, dan ia jilat. 

Rei menikmatinya. 

Dan tiba-tiba saja Araide tersentak kaget ketika ia merasakan sesuatu di tubuhnya—aliran listrik seakan menjalar begitu saja di tubuhnya. Entah kapan tangan Rei menarik kaus Araide keluar dari celana pendeknya dan entah sejak kapan pula, pemuda itu tak lagi mengenakan kemejanya. Dadanya terbuka—Araide menahan nafasnya. “Hentikan…—Reichi,” gadis itu berbicara dengan susah payah, sentuhan Rei membuat fokusnya terbagi. Dirasakannya tangan Rei semakin menjelajah, dan Araide langsung menyingkirkannya cepat-cepat. “Hen—ti—kan…” tangan itu kembali, dan Araide menyingkirkannya lagi dengan susah payah. “Tidak! Shibasaki!” 

Marganya disebut—gerakan Rei terhenti. 

Pemuda itu menunduk rendah, mendengus resah sembari bergerak mundur dengan sedikit terhuyung. Araide sendiri tampak lesu, ia menyandarkan tubuhnya ke rak buku di belakangnya, kedua tangannya mencari-cari pegangan agar ia tidak jatuh karena kedua kakinya gemetar hebat. Rei sendiri memilih untuk bersandar di rak buku satunya lagi. Keduanya sibuk mengatur nafas. Tidak ada percakapan apa-apa, hanya deru nafas yang berbicara. 

“Pergilah—“ Rei mengeluh, mengumpulan segala kesadarannya yang tersisa.

Tanpa di suruh dua kali, Araide segera berlari menuju pintu dengan perasaan kalut yang tidak bisa ia jelaskan. Rei merasakan kakinya gemetar tak dapat menompang tubuhnya. Ia terduduk membiarkan punggungnya bergesekan dengan rak buku di belakangnya—hatinya resah tak karuan. Kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya, lalu seiring dengan kepalanya yang semakin menunduk rendah, tangan Rei bergerak menjambak rambutnya sendiri. 

Apa yang ia lakukan? 

Rei menggeleng; antara frustasi tapi juga bertanya-tanya. 

Araide membalasnya.




— @ —  



Apa yang ada dipikiran gue? Gue juga ga tau. Waktu itu, gue lagi berbincang-bincang ngalor-ngidul sama Bia soal Zutara, dengan berbagai obrolan fanfic rate M. Dan waktu itu—oke, gue udah gede, loh ya—gue emang lagi excited banget sama fanfic berbau mature-thing dan bahkan diajak RC sama Bia aja gue mati-matian nahan diri buat ga menjerumus ke M-rate. Tapi ternyata, malah di suruh bikin fanfic M sama Bia (di dukung sih tepatnya, bukan di suruh)(krik). but overall, pada akhirnya ya... ga M banget sih. Seadanya ya. HAHAHAHA. Ending di buat ngegantung dan ga jelas karena kemampuan saya yang udah ga sanggup lagi *heh*

Fanfic ini tid ada kaitannya dengan plot masing-masing karakter ya. Disclaimer untuk PM masing-masing, dengan Watanabe dan Matuda sebagai NPC.

Label: , , , ,



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next