Reason
Minggu, 10 Agustus 2014
@8/10/2014 04:52:00 PM
"Let's just forget about this, Zuko."
Zuko memejamkan matanya erat-erat, menghela nafas panjang berulang-ulang, menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu pada akhirnya kembali menatap langit-langit kamarnya dalam diam.
"We're never supposed to be, anyway"
★
I can't find the reasons
That my love won't disappear
★
Insomnia adalah kawan setianya selama ini, namun biasanya hal itu di picu dengan pikiran kalut dari sang Raja. Akan tetapi, malam ini Zuko tidak bisa tidur bukan karena urusan Negara, namun urusan hati yang tak biasa. Ucapan Katara beberapa hari yang lalu berhasil membuatnya resah tak karuan. Dilema menggeluti hati dan pikirannya. Zuko tahu, bukan hanya dirinya yang merasa demikian. Sang gadis bermata biru itu pastilah mengalami hal yang sama dengannya. Sayangnya, hanya Zuko yang merasa bimbang, merasa hati tak rela sekali pun kalimat dan kata yang pernah ia lontarkan berbeda dengan kenyataan--karena ternyata, ketika fakta berbicara, hati sekeras batu pun tak kuasa menahannya.
Sekali lagi, Zuko menyerah pada teman setianya.
Membuang nafas panjang, resah dengan apa yang mengganggu pikirannya, Zuko memilih untuk keluar dari kamarnya dan bergumam kesal pada para pengawal yang menggandrunginya dengan banyak pertanyaan. "Aku hanya ingin sendiri, mengerti?!" bentak Zuko dengan suara berbisik. Kediaman keluarga Morishita bukanlah rumahnya, dan ia adalah tamu. Maka, menjaga perdamaian dunia dan kehormatannya sebagai Raja Api, Zuko sebisa mungkin menjunjung tinggi sopan santun di tempat ini, meski sering kali ia kelepasan berteriak dan berbuat gegabah.
Langkahnya membawa tubuh Zuko kembali keluar dari rumah sang walikota di tengah malam, mengarah pada halaman luas sekali lagi, duduk di bebatuan pinggir air mancur, memandang bulan yang kini tak lagi nampak. Zuko menghela nafas lagi, resah sekaligus sedih.
"Tidak bisa tidur lagi?"
Zuko menoleh cepat saat suara Katara mengejutkannya. Dan mata keemasannya kini tampak lebih hidup ketimbang sebelumnya ketika sosok gadis berambut hitam bergelombang itu berdiri tak jauh darinya. Seulas senyum tipis secara refleks terpatri di wajah Zuko meski mungkin gadis itu tidak bisa melihatnya.
"Kau juga, biar kutebak."
Katara tertawa pelan.
"Aku mengganggumu?" Zuko menggeleng menjawab pertanyaan Katara, dan dilihatnya gadis itu tersenyum manis. "Keberatan kalau kali ini aku yang menemanimu, Fire Lord?" sang Raja tertawa pelan mendengar ucapan Katara. "Kuanggap tawamu itu sebagai kata 'ya' Zuko." gadis itu berjalan menghampiri Zuko dan duduk di samping sang Raja. Zuko, yang sedari tadi menatap Katara hanya bisa tersenyum saat sang pengendali air menengadahkan wajahnya ke langit.
"Tidak ada bulan"
"Ya."
"Jadi apa yang kau lakukan di sini?"
Zuko mengangkat bahunya sekilas. "Entahlah," jeda sebentar "aku hanya tidak bisa tidur, dan kupikir udara segar mungkin bisa membuat otakku jernih," pemuda itu menoleh, "bagaimana denganmu, Katara?"
Katara tersenyum. "Tidak penting." Lalu keduanya terdiam, membiarkan sunyi kembali menyelimuti mereka berdua sekali lagi. Zuko sendiri memilih untuk menatap langit gelap di atas sana, melamun akan banyak hal yang entah mengapa tak bisa hilang dari benaknya. "Kau tahu, Zuko?" pemuda itu menoleh lagi ketika namanya disebut, "aku tidak bermaksud untuk benar-benar menghindarimu, aku hanya tidak tahu harus bagaimana," Katara tampak muram. "Kau temanku, teman Aang, terlepas dari perasaanku--perasaan kita--hal seperti ini tidak seharusnya terjadi, tapi sulit sekali bagiku untuk bersikap normal lagi..."
"I know."
"Tapi..."
"Tapi aku tidak bisa menutupi perasaanku lagi, Katara." ucap Zuko lesu. Matanya memandang Katara tepat di kedua bola mata biru laut gadis itu. "Andai kata aku tidak pernah tahu perasaanmu, mungkin mudah bagiku untuk melupakanmu, merealisasikan ucapanku sebelumnya bahwa aku rela melepasmu," pemuda itu menghela nafas lemah. "Tapi kenyataannya kau pun sama, dan aku tak lagi bisa menekan perasaanku lagi padamu."
Katara menunduk. "I love you, Zuko." Zuko tidak menjawab apa-apa. Matanya terpejam erat ketika suara lembut Katara menyebut namanya. "Aku tahu aku berkata bahwa seharusnya kita melupakan ini tapi ternyata, sulit bagiku..." gadis itu menunduk semakin dalam, "I love you, Zuko. I really love you."
Zuko membuka matanya perlahan, tak bergeming sekali pun Katara sekali lagi berhasil meruntuhkan pertahanannya. "I love you too, Katara." ucap Zuko pelan. "But, we're never supposed to be," dia mengulang ucapan Katara dengan lesu. Nyeri di dadanya muncul setiap kali Zuko berkata demikian. "Dan aku tidak mau menyakitimu lagi."
Hening. Keduanya terdiam.
★
I can't find the reasons
Why I love you
★
Katara berdiri di pintu kamarnya dalam diam, menatap Zuko yang kini membungkuk sopan untuk berpamitan pada gadis itu. Malam ini, cukuplah sampai di sini. Bahkan kalau boleh, Zuko benar-benar ingin mengakhiri semuanya dan melanjutkan kehidupan masing-masing seperti dulu, seperti saat itu. Namun, keinginannya tertahan oleh dua hal. Satu adalah perasaannya, dan dua adalah Katara. "Ada satu hal yang membuatku penasaran." Katara bertanya pelan, masih memunggungi Zuko.
Sang raja hanya mengangkat alisnya.
"Apa alasanmu menyukaiku?"
Lalu Zuko tersenyum.
Dan berlalu.
---------- ★ ----------
@Firenationforum universe; Avatar: The Last Airbenders; Biaaulia.
© Michael DanteDiMartino and Bryan Konietzko
Earth, wind, and fire - Reason
---------- ★ ----------
Label: Fanfiction, Fire Nation, Katara, Net World, Zuko, Zutara
Moon and Sun
Sabtu, 26 Juli 2014
@7/26/2014 01:15:00 AM
---------- ★ ----------
@Firenationforum universe; Avatar: The Last Airbenders
© Michael Dante DiMartino and Bryan Konietzko
Crescendo - Fire Nation RPF
---------- ★ ----------
You rise with the moon—
“Bulannya indah, Katara.”
Dari
ekor matanya, Zuko tahu, gadis dari suku Air mengangguk dan sama-sama
memandang bulan yang seolah menyapa lembut dua anak manusia di bumi. Baik Zuko
mau pun Katara tidak ada yang berniat turun dari tempat duduknya—atap rumah
keluarga Morishita seolah menjadi pengganti bantal duduk yang empuk hanya dalam
satu malam. Sekali pun sebenarnya bagi Zuko mudah mengutarakan alasan kenapa dia
masih duduk manis di atas atap: adalah karena dia bergantung pada Katara. Gadis
itu yang membantunya untuk naik, berarti gadis itu pula yang nantinya membantu
Zuko untuk turun.
Meski
pun beberapa tahun silam, ketinggian seperti apa pun seolah bukan masalah bagi
Zuko.
Hanya
malam ini, Zuko takluk pada tinggi yang tidak seberapa.
“Yeah, menenangkan.” Gadis itu menimpali
ucapan Zuko dengan lembut. Sang raja api menarik nafas panjang, menenangkan
hatinya karena entah kenapa suara Katara seolah seperti udara yang berdesir
nyaman di gendang telinganya. Senyum terukir tipis di wajahnya yang kaku,
sembunyi-sembunyi agar Katara tidak melihatnya.
“Memang
seperti itulah bulan, Katara, kalau
kau menyadari.”
“Aku
menyadari, Zuko,” Katara terkekeh pelan. “Ah iya. Apa kabar Mai?” pertanyaan
sang pengendali air membuat Zuko terkejut, dia langsung menoleh menandang
Katara yang masih menatap bulan.
Bola
mata kuning—atau sebut saja emas—milik Zuko menatap Katara dengan seksama; memandangi
paras gadis manis di sebelahnya. Zuko baru menyadari, Katara memiliki hidung
yang sedikit mancung untuk ukuran sukunya—dibandingkan dengan Sokka—dan tulang
pipinya tampak menonjol sedikit sehingga membuatnya terlihat agak tirus. Bibir
Katara lebih mungil dan lebih pucat dari pada bibir merah Mai yang ranum.
Manis,
adalah kesan Zuko untuk Katara.
Zuko
tersenyum.
“Baik,”
Zuko menggantungkan ucapannya, diam untuk beberapa lama. “Beberapa hari yang
lalu saat mengunjungi paman Iroh di Ba Sing Se, kami sempat berjalan-jalan di taman
kota—tak jauh dari kedai,” Zuko tidak melanjutkan apa-apa lagi, dan entah
kenapa Katara seolah mengerti, sang Raja sedang tidak ingin membicarakan Mai.
Namun hati gadis itu tergelitik, entah karena apa.
“Ada
apa?” tanya Katara lembut.
“Tidak,
tidak ada apa-apa, Katara.” Namun gadis itu bersikeras, kebiasaannya untuk
perhatian pada semua orang mulai berlaku juga pada Zuko, dan Zuko hanya
tersenyum tipis. “Kau sendiri bagaimana dengan Aang akhir-akhir ini? Masih oogies, kah?” dilihatnya Katara
cemberut. “Kenapa cemberut? Kupikir kau tidak bermasalah dengan keluhan-keluhan
Sokka selama ini, sweetie?”
“I don’t know…” Katara mengangkat tangan
kanannya, menggaruk belakang telinga kanannya sebentar, lalu perlahan menurunkan
tangannya sembari memilin kecil ujung rambutnya yang bergelombang. “Semuanya
tampak indah bagiku dan bagi Aang, Zuko, hanya saja belakangan ini aku merasa
ada satu hal yang tidak akan pernah bisa aku pahami—maksudku, mungkin aku bisa
memahaminya, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa membantunya.” Katara
menunduk, tangannya masih sibuk memilin rambutnya sendiri. Tidak ada tanggapan
dari Zuko, namun ketika Katara melirik, pemuda itu masih menatapnya dengan lembut,
sorot matanya yang hangat mencerminkan kepeduliannya—dan entah kenapa, hati
Katara terasa hangat.
“Aku
hanya merasa iri dengan klub-fans-Aang,” Katara berucap pelan, suaranya
bergetar. Dan entah atas dasar apa, Zuko kembali menggeser posisi duduknya,
menghadap gadis pengendali air itu dan menyentuh tangan kirinya yang bebas. Perlahan
dan dengan penuh kelembutan, Zuko mengusap-usap punggung tangan kiri Katara.
Menenangkannya—dan itu berhasil. Katara menghela nafas. “Aang merasa seperti
berada di rumah—Air Nomads—hanya
karena mereka berpenampilan seperti para pengendali udara. Awalnya Aang tampak
marah, namun sekarang, dia tampak senang,” Zuko mengamati Katara yang kini
tampak ringkih, mata birunya terlihat sendu. “Apakah aku harus berpenampilan
seperti itu agar aku bisa menjadi rumah bagi Aang?”
“Kurasa,
Aang memerlukan sebuah rumah baru, Katara.”
Zuko
menunduk, memandang tangan kiri Katara yang kini menggenggam erat tangannya. Senyum
terpatri di wajah Zuko. “Bagi Aang, para klub fans itu bukanlah rumahnya yang
sebenarnya. Dia hanya menjadi teringat tempat tinggalnya—dan itu tidaklah bagus
karena dia akan teringat dengan kenangan masa lalu yang buruk,” Zuko menghela
nafas, enggan mengucapkan kalimat ‘saat Negara api menyerang tempat tinggal
Aang’, namun sepertinya Katara dapat mengerti. “Yang dibutuhkan oleh Aang,
adalah sebuah rumah baru—masa depan,
Katara. Dan kau tidak perlu berpenampilan seperti para fans kalau kau mau
membuat masa depan baginya, membuat rumah untuknya. Percayalah.”
“Oh,
Zuko!”
Katara
secara spontan langsung memeluk Zuko dengan erat—membuat sang Raja terkejut bukan
main. Zuko menahan nafasnya untuk beberapa saat, menenangkan degup jantungnya
yang berdebar kencang tak karuan. Lalu perlahan dia menghela nafas, dan
menikmati aroma khas Katara yang mulai menguasai pikirannya. Zuko membalas
pelukan Katara dengan lembut; matanya terpejam.
Dan
setelah beberapa lama, Katara menarik diri, wajahnya merona merah—seperti Zuko.
“Kuharap
Mai juga bisa menjadi rumah baru untukmu, Zuko.”
Senyum
pahit tergambar jelas di wajah Zuko. “Kuharap demikian.” Ucap pemuda itu dengan
lemah. Katara mengernyit, kebingungan. Suara lembutnya kembali melontarkan
pertanyaan, dan Zuko masih enggan menjawab. Namun Katara mendesak, memaksa Zuko
untuk berucap jujur padanya sebagaimana Katara juga berbicara jujur perihal
Aang pada Zuko. Akhirnya Zuko menyerah, ditatapnya Katara dengan lembut tepat
di kedua matanya yang sebiru laut.
“Terlalu
banyak kemiripan antara aku dan Mai, Katara. Aku seperti melihat sebuah cermin—melihat
diriku yang lain. Sungguh, Mai adalah gadis paling cantik yang pernah kutemui,
yang paling pengertian dan dapat memahamiku luar-dalam,” Zuko tersenyum pahit, namun
mata kuning—emas—nya tetap memandang
mata Katara. “Dan karena mirip, justru tidak ada tempat yang nyaman bagiku,
serta untuk Mai sendiri. Tak jarang kami adu mulut, terlebih lagi hubungan kami
yang tak semulus dulu—ya, well, dulu
juga tidak mulus, tapi setidaknya dulu jauh lebih harmonis—dan suatu hari, Mai muak padaku. Pada rahasia-rahasiaku.”
Katara
menahan nafasnya. Seperti dugaan Zuko, gadis itu bisa menebak kemana akhir kisahnya.
Namun
mungkin hanya sebagian, karena Zuko masih menyimpan rahasianya yang lain.
Hatinya.
“Katara,”
suara berat Zuko terdengar pelan dan sangat lembut. Kedua tangannya kini
memegang tangan Katara dan secara tidak langsung menarik gadis itu untuk duduk
berhadap-hadapan dengannya. “Rumah yang kubutuhkan adalah rumah yang kecil dan hangat—tak
perlu besar untuk berbagi menyimpan rahasia denganku, tak perlu luas untuk bisa
kujelajahi. Aku tak perlu semua itu, aku hanya perlu tempat untuk bernaung.” Genggaman
Katara menguat, sedikitnya Zuko merasa telapak tangannya basah—entah siapa yang
berkeringat.
“Dan
kupikir… kupikir…” Zuko menatap Katara dengan lekat, lama, dan dalam. “Kaulah
rumah yang pantas untuk menjadi tempatku bernaung, Katara.” Katara tidak
berkomentar, namun matanya menyiratkan keterkejutan dan kebingungan yang
kentara. Gadis itu menahan nafasnya, mungkin
ia sedang menahan amarahnya.
“Kau
mengatakan itu—tapi kau menyarankan jalan yang baik untuk hubunganku dan Aang?”
Zuko
tersenyum. “Aku tidak memintamu untuk menjadi rumahku, Katara,” ucapnya telak,
dan Katara membisu. “Aku hanya mengatakan—kaulah rumah yang pantas bagiku,
namun aku tidak memintamu,” pemuda itu mengelus punggung tangan Katara dengan
jemarinya, pelan dan lembut penuh kasih. “Bagiku, kau dan Aang adalah
orang-orang yang paling berharga—Sokka, Toph, Appa, dan Momo juga—dan atas
dasar apa aku mengganggu kebahagiaan kalian? Keegoisanku tidak sebanding dengan
apa yang kalian berikan padaku, dan itu cukup ampuh untuk membuatku menahan diri.
Akan tetapi, tak tahan rasanya melihatmu sendu, Katara.”
Gadis
dihadapan Zuko menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah, entah malu,
entah marah. “Katara,” Zuko menyebut namanya, namun sang gadis enggan
mengangkat wajahnya lagi. Zuko tersenyum. “Berbahagialah, Katara,” tangan kanan
Zuko terangkat, dengan lembut ia mengangkat dagu Katara dengan
pelan, menginginkan gadis itu menatapnya—menginginkan Zuko melihat mata biru
lautnya sekali lagi.
“Bulannya indah, Katara.” Zuko berucap
lagi. “Selalu indah.”
Katara
tersenyum tipis mendengarnya.
Sedih.
—I rise with the sun.
Label: ATLA, Fanfiction, Fire Nation, Katara, Zuko, Zutara
A thousand year—a thousand more.
Kamis, 12 Juni 2014
@6/12/2014 11:20:00 AM
---------- ★ ----------
@Firenationforum universe; Avatar: The Last Airbenders
© Michael Dante DiMartino and Bryan Konietzko
Christina Perri - A Thousand Years
---------- ★ ----------
Banyak yang bilang, cinta membuatmu buta, membuatmu tak lagi bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar atau yang salah. Cinta juga membuatmu menjadi seorang kesatria secara tiba-tiba, memikirkan orang terkasih jauh lebih penting dibandingkan memikirkan diri sendiri, bahkan bertindak sesuatu yang seumur hidup takkan pernah kau temukan alasannya mengapa kau melakukan itu.
Banyak yang bilang cinta itu sederhana, namun juga tak sedikit yang berkata kalau cinta itu sulit di tebak. Urusan hati dan perasaan adalah rahasia Tuhan yang tak mungkin bisa kau tebak, seperti takdir, seperti cinta. Banyak yang bilang juga, kalau cinta itu menyakitkan. Indah pada awalnya, namun sakit rasanya. Dari sekian banyak cerita cinta yang kudapati, inilah yang paling menempel di benakku. Menurutku, cinta adalah hal yang tak pernah bisa aku pahami. Sampai sekarang aku bahkan masih berpendapat demikian. Namun lelaki itu, sang putra mahkota yang kini memiliki takhta diatas segalanya, yang kini menjadi Raja, menyadarkanku bahwa cinta itu ada. Tidak perlu kau mengerti kenapa, cukup kau rasakan dan kau jaga.
Aku bertemu dengannya di sebuah sudut taman Istana Negara. Usiaku saat itu masih kecil, begitu pun dengannya. Kami hanya terpaut dua tahun, akan tetapi sering kali kudapati dia murung seolah tak bahagia dengan masanya. Azula bilang dia anak yang payah, seorang aib keluarga raja, dan beruntunglah dia karena telah dilahirkan. Aku tidak pernah menyapanya, terlalu takut dengan wajah murungnya.
Namun aku tak pernah tega melihatnya seperti itu. Berdiri sendirian. Memunggungi orang-orang dibelakangnya dengan gagah--dengan wajah murung. Aku sungguh tak tega. Maka dengan berani, kuhampiri lelaki itu, memeluknya, dan menenangkannya.
—★—
"Jadi, kau benar-benar akan pergi?"
Zuko memalingkan wajahnya.
"Jika itu keputusanmu, maka tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan di sini. Aku akan menetap di koloni kerajaan bumi bersama orangtuaku."
Tak ada tanggapan.
"Tidak ada artinya bersikeras di sini tanpa adanya kau, Zuko."
—★—
Sudah lama aku mencintainya.
Punggungnya yang tegap akan menjadi ingatanku yang paling jelas kalau memoriku berputar tentangnya. Lalu kepalan tangannya yang mengeras, luka di wajahnya, dan mata keemasannya yang memancarkan amarah. Dan yang terakhir bisa aku ingat barulah wajahnya—parasnya yang kaku.
Saat pertama kali aku mendekatinya, lelaki itu menunjukkan ekspresi penolakan yang jelas. Tidak ada kata maaf mau pun sopan santun. Bertahun-tahun aku mendekatinya, menunjukkan sikap bersahabat padanya, menunjukkan kasih sayang untuknya. Sulit awalnya, tapi akhirnya lelaki itu luluh, sedikit demi sedikit mulai terbuka, atau entah terbiasa.
Tak apa.
Setidaknya aku menjadi satu langkah lebih dekat.
Namun satu langkah ku dekati, lelaki itu menjauh dua langkah. Selalu seperti itu. Dan puncaknya ketika dia memutuskan untuk mencari avatar—mencari jarum ditumpukkan jerami. Sang pangeran itu dibuang secara tidak langsung, dan hatiku hancur. Sampai kapan? Kapan kau akan kembali? Dengan siapa aku di sini? Bagaimana aku tahu kau baik-baik saja? Berbagai pertanyaan berlalulalang dibenakku, dan kuutarakan padamu, setidaknya agar kau bisa menenangkanku. Namun jawabanmu meruntuhkan dinding pertahananku.
Aku terluka.
Aku tidak pernah menangis.
Tak akan pernah.
—★—
"Maafkan aku, Mai."
—★—
Aku selalu mencintaimu, bahkan kubuktikan itu dengan selalu duduk termangu di jendela kamarku.
Menunggumu.
Jangan kau tanya sudah berapa lama. Dari kapan. Atau untuk apa. Aku pun tak tahu, bahkan mungkin tidak mau tahu. Keinginanku hanya ingin bertemu denganmu, merasakan lagi hangatnya dekapanmu, lembutnya bibirmu, dan menikmati sentuhan jemarimu. Tak pernah ada kabar tentangmu. Seluruh dunia seakan membungkammu. Namun tidak denganku.
Pulanglah.
Aku menunggumu.
—★—
"You're beautiful when you hate the world."
—★—
Kukira, kini kau milikku selamanya. Setelah semua itu, kau kembali. Semua orang memujamu. Semua orang tahu tentang dirimu. Dan kupikir, dengan takhta dan gelar yang kini melekat padamu, kau takan kembali lagi padaku. Namun aku salah. Gelar Raja Api tak merubah apapun darimu. Kau tetaplah Zuko yang dulu. Yang mampu meledakkan amarahku kapan saja, yang bisa kau padamkan seketika pula.
Namun semua itu indah pada awalnya.
Punggungmu adalah hal yang mutlak aku ingat seumur hidupku setiap kali memoriku berbicara tentangmu. Setiap hari, kudapati punggungmu menghadap kearahku. Setiap kali ku berbicara, kau sibuk dengan tugasmu. Aku tahu, memang sulit bagimu melaksanakan tugas kerajaan. Namun pernahkah terpikir olehmu, betapa sulitnya aku setiap harinya? Hingga pada akhirnya, punggungmu menyadarkanku. Matamu yang semakin hari semakin tampak lelah memperlihatkan sesuatu padaku. Kepalan tanganmu yang setiap hari mengeras pun demikian, dan rahangmu yang kaku menunjukkan satu hal padaku.
Aku memejamkan mata.
Hatiku terluka.
—★—
"You love your secret, more."
—★—
Kau berteriak padaku.
Aku tak berkomentar dan kubiarkan kau membentakku habis-habisan; kubiarkan kau meluapkan amarahmu. Aku memejamkan mataku lagi—mengingatmu bahwa dulu kau selalu mengetuk pintu kamarku di malam hari, bercerita tentang apa saja yang ingin kau ceritakan, meminta pendapatku dari apapun yang mengganggu pikiranmu. Bahkan kau pun berjanji untuk menceritakan semuanya padaku.
Mempercayaiku.
"Tidak ada artinya bersikeras di sini tanpa adanya kau, Zuko."
"Aku disini, Mai!! Lihat aku!!" Sang Raja Api kembali berteriak. Suaranya yang lantang menggelegar, memecah keheningan istana Negara Api yang agung. Tuhan, kuatkan hatiku. "Aku tahu—aku tahu Mai, aku tahu kalau aku sering kali berteriak padamu, membentakmu, tapi... Tapi..." Zuko berdecak "aku mencintaimu, Mai."
Kupejamkan mata sesaat.
Lalu kubuka perlahan dan kutatap Zuko.
Tatapanku beradu
—sama-sama terluka.
"Aku tahu, Zuko. Tapi aku pun tahu, dan menyadari, kalau kau lebih mencintai rahasiamu lebih dari kau mencintaiku." menghela nafas, kukumpulkan sisa-sisa keberanianku. "Dan kupikir, kau akan memiliki banyak waktu untuk memikirkan rahasiamu itu kalau kau sendirian."
Zuko menatapku tak percaya. Dia terluka.
Hatiku lebih terluka.
"Mai, tunggu!! Jangan pergi, aku mohon, kembali!!" suara Zuko bergetar. "Mai!! MAI !!! KUPERINTAHKAN KAU UNTUK KEMBALI!!"
Dan kujawab perintahnya dengan suara pintu yang tertutup keras.
—★—
"Good bye, Fire Lord."
—★—
Label: Fanfiction, Fire Nation, Mai, Zuko