Nur
Kamis, 11 Oktober 2012
@10/11/2012 09:00:00 PM
Malika, anakku.
Masih tersimpan bayangan wajah mungilmu dibenakku, tak pernah bisa kupercaya bahwa kau pernah sekecil itu. Tapi lihatlah, kini kau telah tumbuh besar dengan ambisi yang kuat, bergelora, dan tinggi untuk digapai. Namun aku tahu, kau juga rentan untuk jatuh dan terkapar.
Dulu, engkau selalu memerlukanku dalam segala hal, karena engkau pernah berkata bahwa aku, Nur, yang memiliki arti nama Cahaya adalah cahayamu. Aku adalah cahayamu, begitu katamu dulu. Namun kini engkau berdiri di atas kedua kakimu dan lakukan semua hal, tanpa bantuanku, tanpa cahayaku. Dulu, namaku selalu kau sebut saat kau meminta apapun, mengajakku kemana pun. Namun kini kau punya seluruh dunia yang siap membantu kapan pun, menemanimu kemana pun. Kau berpijak dengan kakimu sendiri, anakku. Kau benderang tanpa cahayaku.
Tapi ingatlah anakku, bila langitmu suatu saat runtuh, dan tiada siapa pun yang tersisa, tengoklah kebelakangmu, ada aku, cahayamu yang tetap menyala sekali pun pernah kau lupakan. Bersamaku engkau akan merasa aman, bersamaku engkau akan merasa utuh. Kemana pun kakimu melangkah, kemana pun arah tujuanmu, kemana pun kau berpijak, tengoklah kebelakangmu, anakku. Ada aku, yang selalu mengingatkanmu bahwa kau tidak sendirian. Aku selalu ada untukmu. Aku adalah cahayamu.
Engkau dapat melaju terbang setinggi langit anakku, sejauh yang mampu engkau pandang. Namun ingat, bumi akan selalu menarikmu datang. Ada satu masa engkau akan merasa bahwa dunia adalah milikmu seorang, namun ingatlah bahwa semua yang fana pasti akan hilang. Akan pula kau temukan masa dimana kau berjalan melawan arus dunia, diihempaskan arus kekejian, merasa putus dari karunia. Bila seakan tidak ada lagi harapan yang bisa kau saksikan, tengoklah dibalik punggungmu, anakku. Disanalah dirimu aku nantikan, disanalah cahaya yang kau butuhkan akan terus menyala untukmu. Sejauh apa pun kesalahanmu, tengoklah di balik punggungmu, anakku. Aku akan menerimamu dengan pelukkan terbaikku, akan menyinarimu dengan cahaya kasih sayangku.
Aku tidak bisa bersamamu selama-lamanya, ada waktunya aku akan pergi, atau engkau yang akan lebih dulu pergi. Aku tak bisa menahanmu dari mencintai, aku tak dapat menahanmu saat tiba waktu kau pergi, Aku akan berat melepasmu bila tiba masa itu. Tapi seperti katamu, Nur berarti cahaya, dan aku, ayahmu, akan terus menjadi cahaya bagimu, anakku.
Label: Cerpen, Real World