Different
Senin, 23 Maret 2015
@3/23/2015 03:48:00 PM
Kutatap deretan angka yang ada pada kalender di meja belajarku dengan tatapan kosong. Malah, mungkin dengan tatapan bego yang berada di perasaan antara percaya tak percaya. Berkali-kali kuperjapkan mataku, memastikan apa kah minus mataku bertambah, jadi aku bisa salah liat, atau bahkan sebenarnya, aku benar-benar memastikan bahwa apa yang aku lihat tidaklah salah.
Sudah tahun dua ribu lima belas. Artinya, meski belum bulan Agustus, sudah genap tiga tahun lamanya aku bersama dengan J, bersama dengan laki-laki bermata cokelat yang selalu berhasil membuatku tenang. Sungguh tidak bisa kupercaya, sebenernya. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama, tapi bukan berarti kenangan yang didapatkan hanya sedikit--malah, sangat banyak sampai-sampai aku harus mengorek-orek ingatanku tentang hari-hariku bersama J.
"Hei, kok bengong?" Suara J mengagetkanku, menarikku kembali dari awang-awang kenangan. "Dari tadi ngeliatin apa?" Tanyanya lagi.
"Ngeliatin kalender," jawabku pelan. J hanya tersenyum memaklumi. "Ga nyangka, sekarang udah tahun dua ribu lima belas," tambahku. "Menurut kamu, waktu terasa cepat, apa lama?"
"Kalau sama kamu, segalanya ga kerasa lama, bahkan waktu aja udah kayak lalat, terbang cepet banget, ga berasa," jawab J sambil tersenyum. Duh, ngegombal terus! Rasanya mau marah tapi senyumannya itu malah membuatku salah tingkah! "Tapi sekali pun buatku terasa seperti itu, tetap sangat berarti kok." Aku tidak menjawab apa-apa, hanya manyun. "Ga usah merah gitu dong, pipinya..." tambah J dengan tawa renyahnya. "Memang kenapa sama tahun ini?"
"Hmm... ga berasa ya, kalau kita udah mau tiga tahun? Aku kepikiran aja gitu, banyak yang berubah dari diriku sendiri," J menatapku lekat-lekat, memintaku untuk terus bercerita meski tidak berucap apa-apa. "Yah, kayak misalnya... dulu aku paling ga suka pegangan tangan karena risih, tapi sekarang kalau aku ga pegangan tangan sama kamu rasanya ada yang kurang... terus dulu aku suka sekali curhat lewat tulisan, entah lewat blog atau lewat buku diary, sekarang malah tiap kali aku curhat, pasti langsung aku utarakan, dan cuna ke kamu... dulu ingatanku parah banget, tapi sekarang aku masih bisa mengingat kejadian-kejadian yang kita alamin entah itu kejadian buruk atau kejadian yang baik."
Laki-laki bernama Daniswara itu tertawa pelan, bukan dengan nada mengejek, tapi seperti tertawa kemenangan, apa tertawa puas, aku tidak terlalu yakin. Tapi tawanya itu berhasil membuatku ikut tersenyum malu. "Kenapa ketawa? Aneh ya?" Tanyaku memastikan.
J menggeleng. "Kalau sekitar kamu, apa yang menurut kamu berubah?"
"Hmm, banyak. Teman-teman sekarang jadi pada jauh--bukan hubungannya tapi tempatnya, kayak Inggrid, Aina, Anggraeni, There, sekarang udah pada di Jakarta dan susah ketemu. Lalu Mira, Shafa, dan Bintang punya banyak kesibukan jadi susah sekali ketemu, Anna, Otriya, dan Vina juga..." kupangku daguku dengan telapak tangan kananku, sedangkan tangan kiriku sibuk memilin-milin ujung rambutku. "Terus, sekarang status kita udah jadi wanita-wanita kantoran, atau apalah, bukan lagi mahasiswa lagi. Yah, Mira dan Bintang masih sih, itu kan karena umur mereka jauh dibawah umurku," kuputar bola mataku, memandang ke segala arah, mencari-cari jawaban lain. "Lalu... yah, banyak hal. Seperti sekarang aja, ga nyangka kalau kita ngobrol harus lewat handphone, entah video call kayak gini, atau sekedar menelepon..."
J tersenyum, meski lewat layar handphone yang tidak terlalu besar, aku masih bisa melihat jelas kedua matanya yang sipit, tampak semakin sipit. Wajahnya tampak kucel, entah karena keringat atau karena debu. Mau tidak mau, aku pun ikut tersenyum, "Bukankah seharusnya kamu bersyukur, kalau ternyata hubungan kita bisa lebih baik? Bahkan jauh lebih baik?" Tanya J pelan. "Dan menurutku sih, kamu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, lebih manis, lebih nyebelin, lebih pengertian, lebih dewasa, lebih manja..." pemuda itu tertawa saat kutunjukkan ekspresi kesal sewaktu dia bilang aku lebih menyebalkan. Huh. "Hubungan itu bisa dibilang berhasil, bukan dengan menunjukkan kecocokkan, persamaan, apalagi sekedar perasaan, tapi juga apa yang dihasilkan satu sama lain, bisa saling membawa hubungan positif? Saling mengingatkan? Saling melengkapi?"
Kali ini, aku tersenyum. Malu-malu.
"Dan menurutmu, apa kita begitu?"
J tertawa, kali ini dia benar-benar terlihat bahagia.
Label: Drabbles, J, love, Malika, Random, Real World, Sylvester