Random is random.
Minggu, 26 Agustus 2012
@8/26/2012 05:44:00 PM
“J, aku mau bebek.”
J menoleh cepat, menatap Malika yang tahu-tahu saja mengutarakan keinginannya yang sangat tiba-tiba. Tapi Malika, yang biasanya membuang muka kalau J menatapnya, justru memandang balik pemuda itu lekat-lekat. “Aku mau bebek,” dia mengulang permintaannya seakan-akan J kehilangan fungsi indera pendengarannya. Tidak ada respon, tidak ada reaksi, baik J mau pun Malika terdiam untuk beberapa saat. Yang satu mencerna ucapan si gadis, yang satu menunggu reaksi si pemuda. Lalu di luar dugaan, J tertawa. “Seriusaaaan!!” Malika merengek manja, bibirnya manyun, dan pipinya menggelembung. Oke, Malika sadar, pastinya pemuda bermata sipit itu mengira dia ‘mau bebek’ artinya ‘memelihara bebek’. Gadis itu menggeleng cepet sedangkan si pemuda masih saja tertawa. “Aku mau makan bebek goreng, J.” ralat Malika cepat. Dan suara ‘O’ panjang keluar dari bibir J.
“Kenapa tiba-tiba?” Malika hanya menghendikkan bahunya sekilas. “Dari minggu lalu, kepengen bebek aja gitu,” jelas Malika pelan, dan J masih menatap gadis dihadapannya itu dengan ekspresi geli. “Tiba-tiba?” mengulang pertanyaannya, Malika merasa J mulai sedikit lemot dengan ucapannya dan dia kesal. Mungkin, berbicara dengan J harus menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar—dengan Ejaan Yang Disempurnakan. “Enggak tiba-tiba kok. Dari seminggu yang lalu kan, kubilang,” nah, kalau J masih membalikkan kalimat Malika, artinya memang ada yang salah dengan otak pemuda itu.
Di luar dugaan, pemuda itu mengangguk cepat. Kepalanya miring sedikit ke kanan, dan bola matanya menatap sekeliling seolah-olah jawaban yang pas untuk perkataan Malika ada di sudut ruangan terpencil di kamarnya. “Well—aku tahu sih bebek yang lumayan enak. Di depan Borromeus tuh kalau kamu sering pulang sore, belum buka aja pelanggan udah ngantri kayak apaan tau. Tapi kalau mau, paling baru besok bisa ke sana. Atau lusa, mungkin? Kamu maunya kapan?” Malika manyun. “Sekarang,” seketika, mereka tertawa. “Ya kali Mal,” J menggelengkan kepalanya meski dia masih menunjukkan cengiran lebarnya yang khas , setengah kesal, setengah gemas, mungkin. “Kenapa sih? Emang gak pernah makan bebek?”
Malika mengangguk polos.
“Seriusan?”
Pendengaran J mungkin bermasalah. Itulah pemikiran yang ada di otak Malika. “Sebenarnya dulu kakaknya Mama pernah bawain bebek goreng ke rumah, tapi aku gak makan, cuma Mama aja. Terus tahu-tahu pengen makan bebek aja, gitu. Penasaran,” lalu dia nyengir, tangannya sibuk menarik-narik kemeja J. “Mau makan bebek pokoknya.” Dan kepalanya di tepuk-tepuk secara refleks oleh J yang berujung membuat rambut hitamnya acak-acakan. “Oke, besok kita cari rumah makan yang ada bebek gorengnya kalau yang di Borromeus belum buka. Masih suasana liburan Mal, sabar ya.” Malika mengangguk seperti anak kecil. Ucapan J barusan memang tidak bisa di bantah. Lalu, J kembali sibuk dengan iPhone-nya.
“J,”
“Ya?”
“Aku mau salmon.”
Label: Cerpen, J, Malika, Real World